Pemira : Wahyu – Assad Perkasa di Ekonomi, Rival – Rifqy Berjaya di Unsyiah

Pemira : Wahyu – Assad Perkasa di Ekonomi, Rival – Rifqy Berjaya di Unsyiah (Foto: KPR Unsyiah)

Darussalam-Pemilihan Raya Calon Ketua BEM & Wakil Ketua BEM Universitas Syiah Kuala serta Calon Anggota DPM di lingkungan Fakultas Ekonomi telah dilaksanakan pada hari rabu (12/12). Pemungutan suara dilaksanakan di 3 TPS yang bertempat di Aula Ekonomi hingga pukul 15.00 WIB. Perhitungan suara kemudian dilakukan pada pukul 16.30 WIB.

Pada Pemira Mahasiswa Universitas Syiah Kuala tahun ini, terdapat 4 Pasang calon Capresma – Cawapresma (Calon Presiden Mahasiswa – Calon Wakil Presiden Mahasiswa). 4 pasang calon tersebut antara lain; Nomor urut 1, Agung Saputra (FT) dan M. Fadhel Decapri (FT). Nomor urut 2, Wahyu Rezky Annas (FEB) dan Moh. Assad (FH). Nomor urut 3, Muhammad Fikri (FKH) dan T. Rizky Saevic (FEB). Serta yang terakhir nomor urut 4, Rival Perwira (FP) dan Rifqi Ubay Sulthan (FEB). Sementara itu terdapat 6 Calon Anggota DPM yang berasal dari Fakultas Ekonomi.

Hingga penutupan penghitungan suara, terpantau pasangan nomor urut 2, Wahyu dan Moh. Assad unggul telak atas pesaing-pesaingnya. Paslon nomor 2 tercatat memperoleh 1139 suara. Kemudian disusul oleh pasangan nomor urut 4, Rival Perwira – Rifqy Ubai dengan perolehan 463 suara. Posisi berikutnya terdapat paslon nomor 1 Agung Saputra  – M. Fadhel Decapri dengan perolehan 57. Di urutan terakhir diisi oleh paslon nomor 3 dengan perolehan 36 suara. Sementara itu terdapat 12 surat suara yang dinyatakan rusak.

Hasil ini sesuai prediksi banyak mahasiswa ekonomi, bahwa paslon nomor urut 2 yang mengsung tagline #WAaja ini akan memenangkan mayoritas suara Pemira di Fakultas Ekonomi.

Namun, hal ini tidak berlanjut ke hasil suara pemira di tingkat kampus. Hasil akhir penghitungan suara yang dilakukan oleh tim KPR menempatkan paslon nomor 4 meraih suara terbanyak dengan 5066 suara. Disusul paslon nomor 2 dengan 4208 suara, paslon nomor 3 dengan 4178 suara, dan paslon nomor 4 dengan 421 suara. Hasil ini memastikan Paslon nomor 4 Rival Perwira – Rifqi Ubai yang mengusung tagline #Ber4niBed4, naik tahta menjadi Ketua BEM dan Wakil Ketua BEM untuk periode 2019.

Sementara itu, penghitungan suara untuk calon anggota DPM juga telah selesai. Hasil suara untuk calon anggota DPM yaitu Nabilla Masarrah dengan 408, Rizky Alfita 370, Angga Setiawan 374, T.M Shandoya 290, Irna Mardi Yati 195 dan Ita Nurjannah 55. Pada pemira calon anggota DPM ini terdapat 14 surat suara yang dinyatakan rusak oleh panitia.    

Dengan hasil perolehan suara ini, di harapkan para calon yang terpilih nantinya dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, serta mampu memperjuangkan aspirasi mahasiswa.(Abi)

 

Pemira 2018, Saatnya Warga Ekonomi Tentukan Pilihan

Pemira 2018, Saatnya Warga Ekonomi Tentukan Pilihan (Foto:Lutfi/Perspektif)

Darussalam- Rabu (12/12) Pemilihan Raya (Pemira) Mahasiswa di Universitas Syiah Kuala kini berlangsung, Saatnya warga ekonomi tentukan pilihan dengan ikut sumbangkan suaranya, di Fakultas Ekonomi & Bisnis sendiri, Pemira dilaksanakan di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Pada Pemira Mahasiswa Universitas Syiah Kuala tahun ini, terdapat 4 Pasang calon Capresma – Cawapresma (Calon Presiden Mahasiswa – Calon Wakil Presiden Mahasiswa). 4 pasang calon tersebut antara lain; Nomor urut 1, Agung Saputra (FT) dan M. Fadhel Decapri (FT). Nomor urut 2, Wahyu Rezky Annas (FEB) dan Moh. Assad (FH). Nomor urut 3, Muhammad Fikri (FKH) dan T. Rizky Saevic (FEB). Serta yang terakhir nomor urut 4, Rival Perwira (FP) dan Rifqi Ubay Sulthan (FEB), dan juga 58 namaa calon anggota DPM yang saling berebut suara terbanyak.

Kegiatan ini di jadwalkan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB dan di lanjutkan kembali pada pukul 13.00 WIB dan di tutup pukul 15.00 WIB. Namun terdapat kendala kecil yang terjadi sebelum dimulainya Pemira.

Pemira yang dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WIB, harus ditunda sekitar satu jam. Hal ini dikarenakan Daftar Pemilih Tetap (DPT) di FEB yang dikirimkan pihak pusat Komisi Pemilihan Raya ke Panitia Pemira di lingkungan FEB, terdapat beberapa masalah, diantaranya adalah daftar nama yang tidak disusun pihak KPR pusat per prodi yang ada di FEB. Hal ini menyulitkan panitia di lingkungan FEB untuk memisah-misahkan DPT sesuai prodi di FEB.

Pemira 2018, Saatnya Warga Ekonomi Tentukan Pilihan (Foto:Lutfi/Perspektif)

Ketua panitia Pemira di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dico Wiranto mengatakan Pemira ini sangat penting karena bertujuan mengedukasi mahasiswa. “Disinilah ajang untuk melatih para mahasiswa. Bagaimana mahasiswa menentukan pilihan serta ideologi mereka. Karena nantinya mahasiswa ekonomi akan menentukan arah dari fakultas ekonomi sendiri.” kata Dico Wiranto.

Pada pemira kali ini tampak lebih ramai dari pemira sebelumnya. Mahasiswa ekonomi tampak lebih antusias untuk ikut menyumbangkan suaranya untuk masa depan Unsyiah yang lebih baik.

“Semoga pemira kali ini berjalan sukses, dan membawa hasil yang positif bagi kampus kuning Ekonomi.” Tutup Dico, selaku ketua panitia pelaksa pemira. (Abi Rafdi / Febri)

 

Pemira : Maba ke Arah Mana?

Pemira : Maba ke Arah Mana? (Foto : Google)

Darussalam – Pemilihan Raya (Pemira) di lingkungan Universitas Syiah Kuala tinggal menghitung hari. Pemilihan Raya adalah agenda tahunan bertujuan untuk memilih Ketua BEM serta anggota DPM baru di tingkat Universitas maupun Fakultas yang ada di Universitas Syiah Kuala. Sesuai agenda tahun ini, Pemira akan dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2018.

Pemira Universitas pada tahun ini memunculkan 4 Pasang calon Capresma – Cawapresma (Calon Presiden Mahasiswa – Calon Wakil Presiden Mahasiswa). 4 pasang calon tersebut antara lain; Nomor urut 1, Agung Saputra (FT) dan M. Fadhel Decapri (FT). Nomor urut 2, Wahyu Rezky Annas (FEB) dan Moh. Assad (FH). Nomor urut 3, Muhammad Fikri (FKH) dan T. Rizky Saevic (FEB). Serta yang terakhir nomor urut 4, Rival Perwira (FP) dan Rifqi Ubay Sulthan (FEB).

Pemira kali ini juga memunculkan nama 58 calon anggota DPM yang saling merebut suara terbanyak. Pesta Demokrasi ini pun menarik minat dan keingintahuan khalayak Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, tak terkecuali para mahasiswa baru.

Mahasiswa baru adalah salah satu unsur terbesar yang dapat mempengaruhi hasil perolehan suara pasangan calon ketua – wakil ketua BEM maupun anggota DPM, maka tak jarang pihak – pihak yang akan bertarung di Pemira melakukan banyak cara untuk menarik dukungan dari para Maba. Hal ini juga tentunya berbanding lurus dengan tingginya antusias Maba untuk ikut berpartisipasi dalam Pemira, meskipun hanya sebagai pendukung.

Ditambah fakta bahwa pada Pemira Universitas tahun ini, ada tiga orang mahasiswa dari Fakultas Ekonomi yang akan meramaikan Pemira –dari tiga pasang calon yang berbdeda–. Hal itu tentunya semakin menambah minat Maba di Fakultas Ekonomi untuk mendukung jagoannya pada Pemira kali ini.

Komting (Komisaris Leting) angkatan 2018 dari berbagai jurusan di FEB pun ikut menyuarakan pendapatnya. Seperti Raja Aulia, yang kini menjabat sebagai komting jurusan Ekonomi Akuntansi angkatan 2018. Ia berpendapat, “Menurut saya persaingan nanti akan cukup alot, dimana dari FEB sendiri menghadirkan 3 nama yang akan bertarung di Pemira Universitas, satu sebagai capresma (Calon Presiden Mahasiswa), dan dua sebagai cawapresma (Calon Wakil Presiden Mahasiswa).”

“Besar harapan saya, untuk presma dan wapresma yang terpilih nanti mampu menegakkan tongkat kejayaan mahasiswa. Itulah yang akan memperindah pesta demokrasi itu sendiri.” lanjut Raja Aulia.

Senada dengan pendapat Raja Aulia, M. Rizky Ramadhan yang merupakan Komting jurusan Ekonomi Pembangunan angkatan 2018 turut menyuarakan aspirasinya. Ia menyampaikan, “Pemira kali ini dapat kita lihat Bersama-sama sudah berjalan sesuai prosedur yang ada. Semua berjalan transparan dari awal seleksi sampai pengambilan nomor urut. Semua berjalan tertib dan damai, ini tentunya turut mengedukasi Mahasiswa baru yang pada saatnya kelak, akan menjadi peserta Pemira.”

Berbicara tentang Pemira juga berarti apakah Komting para Maba siap untuk terjun ke Pemira nantinya. Karena mereka yang kini sedang menjadi pemimpin Maba di jurusannya, besar kemungkinan akan menjadi pemimpin dalam struktural formal dalam lingkungan Organisasi Mahasiswa Kampus. Ditanya mengenai apakah ada kemungkinan untuk berkecimpung di BEM maupun Pemira nantinya, Komting jurusan Ekonomi Islam angkatan 2018, M Lazuardi Firdaus, memberikan pendapatnya.

“Kalau arah kesana sepertinya belum muncul di pikiran saya. Jika suatu saat saya akan ikut serta dalam politik kampus, saya akan selalu berusaha pada pihak yang benar.” Katanya.

Firdaus sendiri menambahkan pendapatnya tentang kekhawatiran akan terjadinya perpecahan antar kubu di Lingkungan FEB terkait Pemira “Sisi negatif yang saya khawatirkan dari Pemira ini adalah terpecahnya kubu dari masing-masing capresma dan cawapresma. Ketika kubu yang ada saling mempertahankan ideologi dan pendapat dari calon yang didukung, sampai berakibat ketidakharmonisan yang terjadi pada lingkungan FEB tercinta.”

Tampaknya, pesta demokrasi di lingkungan kampus sangat memberikan antusiasme tersendiri bagi para Maba. Antusiasme ini tentunya merupakan sebuah hal unik dan berharga yang dapat diperoleh oleh mahasiswa yang masih berstatus Maba.

Ditemui pada kesempatan berbeda, Hadian Utama, yang kini menjabat sebagai ketua Forum Komting se-FEB angkatan 2018, memberikan pandangan pribadinya. “Pemira ini merupakan pembelajaran politik bagi mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa belajar bagaimana melaksanakan serta mengeksekusi sebuah perwujudan demokrasi yang sesungguhnya. Dalam ajang pemira ini mahasiswa dituntut untuk mengerti esensi dan makna dari demokrasi itu sendiri. Pemira ini merupakan sarana untuk mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi dan peduli pada kampus.”

Hadian yang sebelumnya juga menjabat sebagai sebagai Komting Jurusan Ekonomi Manajemen angkatan 2018, inipun ikut menyuarakan harapannya untuk pemira yang akan berlangsung.

“Semoga Pemira tahun ini berjalan lancar, aman dan sukses. Pemimpin mahasiswa yang terpilih nantinya akan menjadi nahkoda yang Tangguh dan berintegritas serta akan membawa perubahan yang lebih baik kedepannya, amin.” Tambahnya.

Puncak pesta demokrasi sendiri akan berlangsung pada tanggal 12 Desember 2018, dimana Pemira akan dilangsungkan. Saat ini pemira mulai memasuki masa tenang, setelah tanggal 4 – 9 Desember 2019 kemarin setiap peserta Pemira melakukan agenda kampanye untuk mencari dukungan suara sebanyak-banyaknya.
Kehidupan politik kampus sesungguhnya adalah ajang bagi para Mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya bagi Fakultas maupun Universitas lewat jalur organisasi. Semua berharap Pemira tahun ini berhasil menghasilkan kader-kader terbaik yang akan berjuang demi kepentingan Mahasiswa. Siapapun yang nantinya terpilih, semoga dapat mewakili aspirasi dan kepentingan seluruh mahasiswa Universitas Syiah Kuala. (Abi Rafdi)

Wahyu Nyatakan Siap Dedikasikan Diri sebagai Presma Unsyiah 2019

Wahyu Nyatakan Siap Dedikasikan Diri sebagai Presma Unsyiah 2019 (Foto : Ayu/Perspektif)

Darussalam – Pemilihan Raya merupakan Pesta Demokrasinya Mahasiswa setiap Univesitas yang ditunggu-tunggu di penghujung tahun.

Tak ketinggalan Unsyiah pun turut merayakannya. Berbagai nama pun andil dalam mewarnai pesta demokrasi mahasiswa terbesar di unsyiah ini.

Wahyu Rezky Annas merupakan salah satu nya, di usung oleh Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Ekonomi, Mahasiswa S1 Manajemen angkatan 2015 FEB ini, ikut mendaftarkan diri sebagai Presma Universitas Syiah Kuala.

Selain aktif di Akademik, wahyu juga merupakan mahasiswa yang aktif berorganisasi, ia pernah menjabat sebagai Sekbid Kesma (2016), Kabid Hual IMPKL (2017-2019), Anggota Komisi C DPMU Unsyiah 2017, dan Ketua MPM Unsyiah (2017).

Dalam pandangan nya, banyak Mahasiswa Unsyiah yang sudah tidak memiliki minat ‘mengetahui keadaan rumahnya’, atau yang biasa kita sebut ‘Mahasiswa Apatis’ dan tidak ada lagi niat tawar kepada para birokrat kampus dalam memperjuangkan hak-hak mahasiswa.

“BEM Unsyiah harus menjadi milik bersama, dan bisa bersinergi dengan 12 Fakultas lainnya agar terciptanya kondisi kampus sesuai dengan fitrah perguruan tinggi negeri.” Tutur Wahyu.

Menurutnya , kondisi mahasiswa di kampus Unsyiah saat ini sedang tidak baik-baik saja, banyak permasalahan yang muncul baik mengenai Transparansi Anggaran, Intervensi Biokrasi Kampus dan masih banyak lagi, dan point penting tujuannya  adalah banyaknya Pelayanan Kampus yang tidak mendukung aktifitas Mahasiswanya.

Kini, Wahyu Rezky Annas siap mencalonkan diri sebagai calon Ketua BEM Universitas Syiah  Kuala didampingi Wakilnya, Mohammad Assad yang berasal dari Fakultas Hukum.

Terlepas itu, Wahyu dan Assad mengharapkan Pemira tahun ini dapat berjalan dengan aman, damai dan pastinya saling menghargai perbedaan satu sama lain.

“Kami juga mengajak kepada seluruh mahasiswa Unsyiah untuk memilih pada hari pencoblosan. Karena partisipasi politik sangat mempengaruhi Iklim demokrasi dan demi pelaksanaan pemerintah BEM Unsyiah kedepan.” Tutup calon Ketua BEM Unsyiah nomor urut 2 tersebut. (Van-Nur)

Tasya Kamila, Mahasiswa Ekonomi yang Berprestasi

Tasya Kamila, Mahasiswa Ekonomi yang Berprestasi (foto : Panitia FIEL)

DarussalamMemulai karir keartisannya dari kecil sebagai bintang iklan dan penyanyi cilik, membuat Shafa Tasya Kamila atau yang lebih akrab disapa Tasya Kamila dikenal banyak orang. Terutama orang – orang yang sejak kecilnya sudah diisi oleh berbagai lagu anak dari Tasya. Namun siapa sangka ternyata Tasya sendiri adalah seorang mahasiswa berprestasi lulusan Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia, dan berhasil menyandang gelar Master of Public Administration  Columbia University, AS pada usianya yang ke 26 tahun.

Ketika diwawancarai pada Jum’at malam ( 30/11 ) di AAC DAYAN DAWOOD pada acara Fiel Gathering night & Talkshow, Tasya membagikan sedikit pengalamannya selama menjadi mahasiswa ekonomi di UI, juga beberapa cerita menarik kenapa ia bisa memilih dan tertarik kepada fakultas ekonomi.

Jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi UI merupakan pilihan Tasya untuk pendidikan sarjananya adalah karena influence dari Alm. Ayahnya yang ternyata seorang auditor dan memiliki kantor akuntan publik. Juga menurut Tasya, ilmu ekonomi adalah ilmu yang bisa diterapkan di banyak bidang dan related dengan berbagai hal. Sehingga ia bisa mengerti pemasalahan yang dihadapi negara dan dalam dunia bisnis.

Selama menjadi mahasiswa ekonomi, rupanya Tasya Kamila juga aktif di berbagai kegiatan di luar kampus, seperti bermain film, peluncuran album barunya beserta kegiatan promosi, juga menjadi Duta Lingkungan Hidup yang mengharuskannya untuk berkampanye di seluruh Indonesia. Sebab itu pula Tasya mengaku bahwa ia tidak punya cukup waktu untuk menjadi aktif juga di keorganisasian kampus, dan mungkin hanya sesekali bisa membantu temannya menjadi pengisi acara apabila ada event di kampus.

Tasya Kamila tidak ingin ilmunya hanya berbatas di dunia entertainment saja, karena menurutnya ia sudah cukup belajar dan mendapatkan pengalaman selama menjadi artis dengan bekerja bersama orang – orang profesional di bidang entertain. Oleh sebab itu ia memilih meluaskan pendidikan formalnya di luar dunia keartisan.

Kepintarannya dalam mengatur waktu antara belajar dan bersosialisasi memang patut diacungi jempol. Dan kegigihannya untuk memperjuangkan pendidikannya wajib dicontoh oleh mahasiswa – mahasiswa yang ada di seluruh Indonesia.

Dengan aktivitas seorang Tasya Kamila yang begitu padatnya, ia tetap bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi. Bahkan Tasya bisa mendapatkan beasiswa LPDP yang persaingannya sungguh ketat.

Beasiswa S2 LPDP ( Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ) yang ia dapatkan tidak datang begitu saja. Sudah tentu Tasya telah berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa tersebut hingga akhirnya usahanya membuahkan hasil dengan dia menjadi lulusan S2 di Columbia University dengan IPK di atas 3,7.

Tasya mengungkapkan bahwa begitu banyak rintangan yang di jalaninya sebagai mahasiswa di luar negeri,dan semua itu dapat diatasi dengan baik. Apalagi kehidupan mahasiswa S1 di Indonesia dan di luar negeri itu sangatlah berbeda. Metode belajar dan standar pendidikannya berbeda, dan rata – rata mahasiswa di sana adalah mahasiswa yang kompetitif, ambisius, rajin belajar, dan berani untuk mengutarakan pendapatnya.

“ Tapi selain itu, kualitas yang mungkin kalian perlu punya adalah rasa semangat nasionalisme dan gimana kalian memiliki visi juga untuk menggunakan ilmu yang nanti di dapat, baik itu S2 dan S3, di dalam ataupun luar negeri, untuk berkontribusi di Indonesia.” Ujar Tasya Kamila seorang penyanyi cilik yang kini meraih kesuksesannya di dunia pendidikan.(mola)

Kali Ke-3 iESA Selenggarakan Festival Ilmiah Ekonomi Islam (FIEL)

Kali Ke-3 iESA Selenggarakan Festival Ilmiah Ekonomi Islam (FIEL) (foto:Panitia FIEL)

Darussalam – Setelah sukses di selenggarakan beberapa kali, iESA (Islamic Economic Student Association) kembali mengadakan acara terbesarnya, Festival Ilmiah Ekonomi Islam (FIEL) pada 27-30 november kemarin di Aula FEB Unsyiah dan di buka secara langsung oleh Walikota Banda Aceh, H.Aminullah Usman, SE.Ak, MM. , Rektor Universitas Syiah Kuala,Prof.Dr.Ir.Samsul Rizal, M.Eng , dan Ketua Himpunan mahasiswa ekonomi islam Iesa, Abthal Aufar.

Ada beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan diantaranya Seminar Nasional, Workshop & training, Berbagai Perlombaan seperti Penulisan opini, Video Contest, dan Debat Revolusi Ekonomi Nasional, serta Gathering Night and Talkshow. Serta turut diramaikan oleh berbagai Bazar Expo stand makanan dan minuman serta askesoris lainnya.

Dalam Seminar Nasional FIEL 2018 mengusung tema yaitu “ Revolusi Industri 4.0 , kemana arah Ekonomi Syariah?” seminar ini di isi oleh pemateri dari penasehat mentri pertahanan RI yaitu Bapak Dr (H.C) Adnan Ganto, MBA serta Rektor Universitas Syiah Kuala, dan Bapak Ridwan Nurdin yang merupakan Pembina Iesa serta dosen FEB Unsyiah.

“Revolusi Industri 4.0 sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan dunia. Di satu sisi, Revolusi ke-4 ini dapat meningkatkan produktivitas dalam sebuah industri serta meningkatkan pendapatan dunia. Namun di sisi lain, juga bisa mendatangkan berbagai dampak negatif seperti hilangnya privasi seseorang akibat penyebaran data digital,kurangnya permintaan terhadap tenaga kerja,serta memperburuk hubungan antar manusia.” Ujar sang Penasehat Menteri Pertahanan, Adnan Ganto.

Pada akhir seminar nasional FIEL 2018 ini iESA juga membuat suatu gebrakan baru yaitu “1000 tanda tangan Hijrah menuju Ekonomi Syariah” yang di tanda-tangani oleh Para pemateri, Tamu undangan, Dosen FEB Unsyiah, Panitia, Peserta lomba, serta para pengunjung di acara FIEL 2018. Nantinya 1000 TTD ini akan dijadikan sebagai sebuah saksi nyata untuk aceh beralih ke ekonomi berbasis syariah.

Selain seminar nasional, Workshop and Training yang digelar turut mengundang berbagai pemateri nasional yaitu Raden Nanta Teguh Prakasa selaku Owner aplikasi SYARQ , Andry Wicaksono selaku Kepala Pasar Modal OJK Pusat, Kepala Bursa Efek Indonesia dan Bank Indonesia.  Serta hadirnya Tasya Kamila yang turut memeriahkan Gathering Night and Talkshow di penghujung acara  FIEL 2018 (Lal,Sin)

E-Learning : Siapkah digunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

E-Learning : Siapkah di Gunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

Darussalam – Pemanfaatan elektronik learning (e-learning) dalam pendidikan merupakan salah satu sarana penunjang dalam meningkatkan efektifitas proses pembelajaran di kelas. Pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran juga dapat meningkatkan keterampilan teknologi informasi, kedisiplinan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, dan memudahkan komunikasi dengan dosen matakuliah yang bersangkutan. Namun, bukan berarti pemanfaatan e-learning tak memiliki hambatan sama sekali, terutama pada saat pertama sekali menggunakannya. Hambatan-hambatan teknis merupakan hal yang pada umumnya dihadapi oleh mahasiswa selama menggunakan media elektronik learning. Hambatan ini menjadikan tantangan tersendiri bagi mereka dalam menggunakan media elektronik ini.

Penerapan e-learning dalam pendidikan mengikut-sertakan beberapa komponen. Komponen pertama adalah infrastruktur e-learning. Infrastuktur berupa personal komputer, jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia lainnya. Pada infrastruktur saat pembelajaran terjadi maka terkadang timbul kendala, yakni tidak semua pembelajaran efektif dalam menggunakan media komputer. Banyak pembelajaran yang lebih efektif bila dilakukan secara kooperatif atau pun kolaboratif.

Kendala lain juga muncul, yaitu ketersedian dan kelayakan infrastruktur e-learning itu sendiri. Dalam kenyataannya tidak semua mahasiswa memiliki perangkat yang memadai untuk menjalankan e-learning. Maksud dari perangkat yang memadai yaitu berupa android yang mudah untuk melakukan koneksi internet, dan tentunya tidak semua mahasiswa berada di tempat yang memiliki jangkauan mudah dalam penggunaan internet. Kendala terbesar adalah di zaman milenial seperti saat ini masih ada beberapa mahasiswa yang kurang pengetahuan dalam ilmu teknologi (gaptek).

Dalam penggunaan e-learning sangat dibutuhkan perhatian di mata kuliah manakah yang sesuai digunakan, banyak permasalahan seperti ada mata kuliah yang membutuhkan waktu lebih lama dalam penyelesaian tugasnya contohnya seperti pelajaran yang mencakup cara menghitung, pembuatan grafik atau tabel dan materi lainnya yang tidak sesuai. Tugas tersebut bisa saja diberikan apabila dalam jangka waktu yang lebih lama.

“e-learning itu tidak sesuai untuk beberapa orang karena tidak semua orang bisa belajar melalui media elektronik atupun otodidak, sebagian mahasiswa harus belajar secara langsung atau dalam bentuk visual” tutur Raihanum.

Disisi lain Wiwid berpendapat bahwa penggunaan e-learning berguna sesuai dengan jenis pelajaran yang akan dikerjakan, jika penggunaan dalam bentuk tulisan maka e-learning dapat bermanfaat namun jika dalam pelajaran seperti akuntansi dan matematika sepertinya lebih baik digunakan dengan secara langsung saja.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu ketika mahasiswa Jurusan Manajemen melakukan Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah akuntansi melalui e-learning, banyak dari mereka mengalami kegagalan dalam manajemen waktu untuk mengerjakan soal. Saat ditanya, salah satu mahasiswi bernama Ridha mengatakan bahwa kegiatan ujian tidak berlangsung efektif karena waktu banyak terbuang untuk membuat tabel. Mahasiswi lain bernama Dian turut mengalami kegagalan disebabkan oleh jaringan yang seketika terkendala karena kerusakan sehingga waktu yang tersedia untuk mengirim jawaban soal tersebut habis.

Beberapa pendapat tersebut memiliki alasan tertentu baik dari cara belajar maupun fasilitas e-learning itu tersendiri. Sebenarnya jika kendala itu disebabkan oleh jaringan maka cara terbaik adalah mencari tempat-tempat penyedia wi-fi, akan tetapi dosen juga harus menentukan waktu penugasan dengan sewajarnya dan tidak terlalu larut malam atau jam penugasan mahasiswa tersebut bentrok dengan mata kuliah lain. Permasalahan lain seperti kekurangan pengetahuan menggunakan teknologi dapat disiasati dengan pembelajaran atau belajar dengan teman terdekat. Seorang mahasiswa adalah jiwa yang dituntut belajar dan mengasah kemampuannya menuju jenjang kedewasaan dan kemandirian.(Anggi)

Parkiran Dosen diserobot Mahasiswa

Parkiran Dosen di Serobot Mahasiswa (foto : Perspektif)

Darussalam–  Parkiran mobil yang terletak dipekarangan antara gedung Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Masjid Al-Mizan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah merupakan parkiran yang diperuntukkan khusus bagi para dosen. Namun, belakangan ini terlihat parkiran tersebut sering ditempati oleh mahasiswa yang membawa kendaraan roda empat.

Hal ini tentu sangat mengganggu dosen apabila hendak memarkirkan kendaraannya, seperti yang disampaikan oleh Jalaludin, SE., Ak,, MBA selaku dosen FEB. Beliau menuturkan bahwa dosen dosen kerap merasa terganggu akibat ulah mahasiswa yang sering menyerobot lahan parkir mereka, padahal sudah jelas tertulis bahwa lahan tersebut diperuntukkan bagi dosen.

“Seharusnya mereka (mahasiswa) mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh kampus dan bagi yang melanggar agar dikenakan sanksi berupa pencabutan KTM. Apabila masih ada yang melanggar berarti mahasiswa tersebut tidak bisa membaca,” tambahnya.

Dilain sisi terdapat alasan tersendiri bagi mahasiswa mengapa memarkirkan kendaraan roda empatnya diparkiran dosen. Satu diantaranya ialah mereka waspada bahkan takut apabila harus memarkirkan mobilnya dibelakang gedung D III, karena tidak ada yang mengawasi dan menjaga kendaraan mereka. Selain karena merasa lebih aman, kendaraan yang berada dilingkungan kampus terus dipantau oleh satpam melalui cctv.

Menurut informasi yang telah didapatkan dari pihak Wakil Dekan II FEB untuk masalah parkiran dosen rencananya tahun depan akan diberikan stiker khusus untuk mobil para dosen. Hal ini pula dijadikan sebagai ‘tanda’ yang membedakan mobil dosen dengan mobil mahasiswa. Sehingga apabila ditemukan ada mobil yang terdapat diparkiran dosen tanpa stiker akan dikenakan sanksi berupa penarikan KTM.

Terkait parkiran yang berada di belakang gedung Diploma III, Wakil Dekan II juga berencana menugaskan satpam yang akan berjaga disana. Dengan adanya satpam maka mobil mahasiswa akan lebih aman. Tentu hal ini diharapkan agar mahasiswa tidak memarkirkan lagi mobilnya di parkiran dosen. (Aldi)

Pedang Bermata Dua di Era Digital, Back to Nature and IT Minded

Ilustrasi back to nature and IT minded (Foto:Google)

Darussalam – Berbicara mengenai perubahan dunia menuju digital memang tidak ada habisnya. Perubahan menuju era digitalisasi membawa pengaruh dan dampak yang besar bagi kehidupan. Sangat kentara jika melihat dari perilaku atau kebiasaan sehari-hari. Banyak kebiasaan baru bermunculan, seperti menggunakan gadget untuk berbagai urusan. Jika diawal kemunculannya hanya digunakan untuk berkomunikasi dan media hiburan, digitalisasi berubah fungsi menjadi ladang bisnis.

Digitalisasi memberikan banyak kemudahan untuk kehidupan manusia. Semua menjadi serba canggih dan efesien, kita menjadi lebih luang dalam memanfaatkan waktu dan mendapatkan beberapa hal dalam satu waktu sekaligus. Misalnya saat bekerja dan lapar, jika sebelumnya kita harus meninggalkan pekerjaan untuk sekedar memasak atau membeli makanan keluar, di era sekarang hanya bermodalkan gadget makanan datang tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakoni.

Dibalik kemudahan yang ditawarkan berdampak terhadap pola hidup manusia menjadi malas. Sehingga dari sikap inilah muncul beberapa dampak buruk bagi perilaku manusia. Manusia di era digital menjadi lebih individualis dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya adalah interaksi antara sesama menjadi kurang kuantitasnya terutama dengan orang yang dekat. Pola pikir saat ini berubah menjadi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, tentu saja kita sangat menyayangkan hal ini.

Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya dua perilaku yang membingungkan di bidang ekonomi yang dapat dikategorikan sebagai untung rugi. Pada kunjungannya ke Aceh minggu lalu, wakil menteri keuangan Indonesia Wardiasmo menyebutkan, The twin force of economic, back to Nature dan IT minded. Ini merupakan istilah bagi perekonomian saat ini khususnya Indonesia.

Serangan ganda perekonomian ini berkaitan dengan perilaku manusianya. Dimana masyarakat cenderung menyukai hal yang berbau alam sementara era semakin millennial. Saat musim atau masa liburan datang, kebanyakan dari masyarakat akan memilih tempat seperti laut, gunung, atau bahkan cagar alam untuk dikunjungi. Pada hari biasa pun, masyarakat akan memilih tempat nongkrong yang bernuansa alam.

Ini merupakan sebuah kesempatan yang bagus tentunya bagi pelaku ekonomi karena mereka dapat meng-upgrade usaha atau bisnisnya bertema alam atau nature. Selain itu, banyak bisnis baru bermunculan dan menggunakan alam terbuka sebagai daya tarik utamanya. Merupakan bisnis yang sehat karena menawarkan udara segar dari alam dan juga menyediakan tempat yang benar-benar cocok untuk menyegarkan pikiran.

Yang menjadi kekhawatiran di era digital dan juga bisnis alam adalah lingkungan yang semakin berkurang atau rusak. Hal ini disebabkan karena banyaknya pabrik atau industri yang bermunculan. Alam semakin digerus untuk pembangunan gedung dan berbagai tempat wisata. Maka seketika ini juga menjadi pedang bermata dua bagi Indonesia yang merupakan jantung dunia.

Mengutip dari Tribunnews.com, Leuser adalah jantung dunia yang berada di Indonesia. Namun Leuser terancam deforestrasi hutan dan meskipun berada di dalam lindungan hukum di Indonesia, tapi belum menjamin bahwa Leuser akan baik baik saja. Leuser terus saja dicacah untuk kepentingan industri dan bahkan pertambangan.

Selain itu, jika menilik dari beberapa peristiwa alam yang terjadi akhir akhir ini, telah banyak korban jiwa yang direnggut. Akan berapa banyak lagi jiwa yang kita korbankan dengan iming-iming perkembangan zaman?. Apakah kita akan tetap keukeuh untuk menjadi individualis dan tetap merasa hebat dengan pencapaian sehingga alam menjadi bukan masalah besar?. Ini adalah dampak dari sikap ketidak-pedulian kita terhadap lingkungan dan merupakan kelalaian kita sendiri.

Jika alam terus diusik, akankah kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Lantas jika melihat dari tingkah manusianya yang menjadi semakin careless terhadap lingkungannya, pantas dipertanyakan untuk ke depannya apakah ada yang masih memperdulikan alam sekitarnya?.

Perubahan menuju era digital tentu sangat baik dan bahkan merupakan keharusan untuk mengikuti perkembangan zaman. Karena sangat aneh jika menolak perubahan global sementara zaman terus berkembang. Namun, perubahan era bukan berarti merubah sikap menjadi acuh terhadap alam sekitar dan lingkungan sosial. Manusia memiliki hak dan tanggung jawab terhadap tempat tinggalnya. Maka secanggih apapun zaman yang kita tinggali, kita tidak boleh menutup hati untuk peduli.

Alam adalah tempat tinggal kita, rumah dan amanah yang harus kita jaga dengan baik. Bersama sama menuju era baru, kita juga harus menyatupadukan semnagat untuk menjaga kelestariaannya. Yang baru boleh terus muncul, namun yang lama tetap dipertahankan pesonanya. (Sul)

 

Unsyiah Fokus pada Publikasi Sitasi Ilmiah, FEB Adakan Kelas Riset Dunia (WCRP)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis adakan kelas riset dunia (WCRP). (Foto:Mevi)

Darussalam – Di era abad 21, urgensi pendidikan yang lebih baik dan ilmiah telah meningkat secara signifikan untuk mencapai tujuan transformasi masyarakat kepada pengetahuan dunia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah meningkatkan kebutuhan akan pendidikan tinggi yang memenuhi permintaan industri dan pembangunan bangsa.

Sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi, penelitian telah menjadi pendorong utama bagi perbaikan sistem itu sendiri. Proses penemuan masalah, pengumpulan data, pengolahan, dan pengambilan kesimpulan adalah kunci untuk siklus penelitian berkelanjutan yang perlu dipahami oleh semua peneliti terutama mahasiswa sebagai tokoh kunci pada program penelitian di masa depan.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami dengan baik tentang proses melakukan penelitian mulai dari menemukan masalah untuk menulis makalah yang menarik hingga mahir dalam menyimpulkan hasil dari permasalahan tersebut. Sejalan dengan tujuan untuk menjadi Universitas terkemuka di Asia Tenggara bahkan dunia, Universitas Syiah Kuala sedang dalam perjalanan untuk mencapai tujuan dengan meningkatkan beberapa sektor khususnya penelitian.

Saat ini, proses telah menunjukkan hasil yang baik. 1.025 makalah yang diindeks Scopus telah diterbitkan pada akhir tahun 2017, dibandingkan dengan 69 makalah pada tahun 2012. Universitas Syiah Kuala juga telah berhasil meraih peringkat ke-5 secara nasional dalam hal keunggulan jumlah publikasi Google Scholar oleh Webometrics.

Hal serupa juga berusaha digalakkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah melalui kelas internasional. Dimulai secara resmi pada 2011, International Businesses and Economic Program (IBEP) terus membuktikan diri sebagai program internasional terkemuka di Universitas Syiah Kuala dengan melanjutkan upayanya untuk mempromosikan standar pendidikan internasional kepada setiap mahasiswa. Salah satunya dengan melaksanakan suatu kegiatan yakni World Class Research Program (WCRP) yang telah diselenggarakan beberapa waktu lalu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

WCRP tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa internasional, namun juga kepada seluruh mahasiswa FEB Unsyiah baik Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, dan Ekonomi Islam yang tertarik pada penelitian ilmiah. Tujuan dari program ini diantaranya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya penelitian, meningkatkan kemampuan dalam melakukan riset serta melatih mahasiswa dalam kepenulisan akademik. Program ini akan dilaksanakan kembali di tahun-tahun berikutnya, dengan harapan output dari program ini dapat meningkatkan kualitas mahasiwa dan membantu mewujudkan tujuan Universitas Syiah Kuala dalam meningkatkan publikasi sitasi ilmiah di kancah Internasional. (Mev)