E-Learning : Siapkah digunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

E-Learning : Siapkah di Gunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

Darussalam – Pemanfaatan elektronik learning (e-learning) dalam pendidikan merupakan salah satu sarana penunjang dalam meningkatkan efektifitas proses pembelajaran di kelas. Pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran juga dapat meningkatkan keterampilan teknologi informasi, kedisiplinan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, dan memudahkan komunikasi dengan dosen matakuliah yang bersangkutan. Namun, bukan berarti pemanfaatan e-learning tak memiliki hambatan sama sekali, terutama pada saat pertama sekali menggunakannya. Hambatan-hambatan teknis merupakan hal yang pada umumnya dihadapi oleh mahasiswa selama menggunakan media elektronik learning. Hambatan ini menjadikan tantangan tersendiri bagi mereka dalam menggunakan media elektronik ini.

Penerapan e-learning dalam pendidikan mengikut-sertakan beberapa komponen. Komponen pertama adalah infrastruktur e-learning. Infrastuktur berupa personal komputer, jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia lainnya. Pada infrastruktur saat pembelajaran terjadi maka terkadang timbul kendala, yakni tidak semua pembelajaran efektif dalam menggunakan media komputer. Banyak pembelajaran yang lebih efektif bila dilakukan secara kooperatif atau pun kolaboratif.

Kendala lain juga muncul, yaitu ketersedian dan kelayakan infrastruktur e-learning itu sendiri. Dalam kenyataannya tidak semua mahasiswa memiliki perangkat yang memadai untuk menjalankan e-learning. Maksud dari perangkat yang memadai yaitu berupa android yang mudah untuk melakukan koneksi internet, dan tentunya tidak semua mahasiswa berada di tempat yang memiliki jangkauan mudah dalam penggunaan internet. Kendala terbesar adalah di zaman milenial seperti saat ini masih ada beberapa mahasiswa yang kurang pengetahuan dalam ilmu teknologi (gaptek).

Dalam penggunaan e-learning sangat dibutuhkan perhatian di mata kuliah manakah yang sesuai digunakan, banyak permasalahan seperti ada mata kuliah yang membutuhkan waktu lebih lama dalam penyelesaian tugasnya contohnya seperti pelajaran yang mencakup cara menghitung, pembuatan grafik atau tabel dan materi lainnya yang tidak sesuai. Tugas tersebut bisa saja diberikan apabila dalam jangka waktu yang lebih lama.

“e-learning itu tidak sesuai untuk beberapa orang karena tidak semua orang bisa belajar melalui media elektronik atupun otodidak, sebagian mahasiswa harus belajar secara langsung atau dalam bentuk visual” tutur Raihanum.

Disisi lain Wiwid berpendapat bahwa penggunaan e-learning berguna sesuai dengan jenis pelajaran yang akan dikerjakan, jika penggunaan dalam bentuk tulisan maka e-learning dapat bermanfaat namun jika dalam pelajaran seperti akuntansi dan matematika sepertinya lebih baik digunakan dengan secara langsung saja.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu ketika mahasiswa Jurusan Manajemen melakukan Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah akuntansi melalui e-learning, banyak dari mereka mengalami kegagalan dalam manajemen waktu untuk mengerjakan soal. Saat ditanya, salah satu mahasiswi bernama Ridha mengatakan bahwa kegiatan ujian tidak berlangsung efektif karena waktu banyak terbuang untuk membuat tabel. Mahasiswi lain bernama Dian turut mengalami kegagalan disebabkan oleh jaringan yang seketika terkendala karena kerusakan sehingga waktu yang tersedia untuk mengirim jawaban soal tersebut habis.

Beberapa pendapat tersebut memiliki alasan tertentu baik dari cara belajar maupun fasilitas e-learning itu tersendiri. Sebenarnya jika kendala itu disebabkan oleh jaringan maka cara terbaik adalah mencari tempat-tempat penyedia wi-fi, akan tetapi dosen juga harus menentukan waktu penugasan dengan sewajarnya dan tidak terlalu larut malam atau jam penugasan mahasiswa tersebut bentrok dengan mata kuliah lain. Permasalahan lain seperti kekurangan pengetahuan menggunakan teknologi dapat disiasati dengan pembelajaran atau belajar dengan teman terdekat. Seorang mahasiswa adalah jiwa yang dituntut belajar dan mengasah kemampuannya menuju jenjang kedewasaan dan kemandirian.(Anggi)

Parkiran Dosen diserobot Mahasiswa

Parkiran Dosen di Serobot Mahasiswa (foto : Perspektif)

Darussalam–  Parkiran mobil yang terletak dipekarangan antara gedung Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Masjid Al-Mizan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah merupakan parkiran yang diperuntukkan khusus bagi para dosen. Namun, belakangan ini terlihat parkiran tersebut sering ditempati oleh mahasiswa yang membawa kendaraan roda empat.

Hal ini tentu sangat mengganggu dosen apabila hendak memarkirkan kendaraannya, seperti yang disampaikan oleh Jalaludin, SE., Ak,, MBA selaku dosen FEB. Beliau menuturkan bahwa dosen dosen kerap merasa terganggu akibat ulah mahasiswa yang sering menyerobot lahan parkir mereka, padahal sudah jelas tertulis bahwa lahan tersebut diperuntukkan bagi dosen.

“Seharusnya mereka (mahasiswa) mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh kampus dan bagi yang melanggar agar dikenakan sanksi berupa pencabutan KTM. Apabila masih ada yang melanggar berarti mahasiswa tersebut tidak bisa membaca,” tambahnya.

Dilain sisi terdapat alasan tersendiri bagi mahasiswa mengapa memarkirkan kendaraan roda empatnya diparkiran dosen. Satu diantaranya ialah mereka waspada bahkan takut apabila harus memarkirkan mobilnya dibelakang gedung D III, karena tidak ada yang mengawasi dan menjaga kendaraan mereka. Selain karena merasa lebih aman, kendaraan yang berada dilingkungan kampus terus dipantau oleh satpam melalui cctv.

Menurut informasi yang telah didapatkan dari pihak Wakil Dekan II FEB untuk masalah parkiran dosen rencananya tahun depan akan diberikan stiker khusus untuk mobil para dosen. Hal ini pula dijadikan sebagai ‘tanda’ yang membedakan mobil dosen dengan mobil mahasiswa. Sehingga apabila ditemukan ada mobil yang terdapat diparkiran dosen tanpa stiker akan dikenakan sanksi berupa penarikan KTM.

Terkait parkiran yang berada di belakang gedung Diploma III, Wakil Dekan II juga berencana menugaskan satpam yang akan berjaga disana. Dengan adanya satpam maka mobil mahasiswa akan lebih aman. Tentu hal ini diharapkan agar mahasiswa tidak memarkirkan lagi mobilnya di parkiran dosen. (Aldi)

Pedang Bermata Dua di Era Digital, Back to Nature and IT Minded

Ilustrasi back to nature and IT minded (Foto:Google)

Darussalam – Berbicara mengenai perubahan dunia menuju digital memang tidak ada habisnya. Perubahan menuju era digitalisasi membawa pengaruh dan dampak yang besar bagi kehidupan. Sangat kentara jika melihat dari perilaku atau kebiasaan sehari-hari. Banyak kebiasaan baru bermunculan, seperti menggunakan gadget untuk berbagai urusan. Jika diawal kemunculannya hanya digunakan untuk berkomunikasi dan media hiburan, digitalisasi berubah fungsi menjadi ladang bisnis.

Digitalisasi memberikan banyak kemudahan untuk kehidupan manusia. Semua menjadi serba canggih dan efesien, kita menjadi lebih luang dalam memanfaatkan waktu dan mendapatkan beberapa hal dalam satu waktu sekaligus. Misalnya saat bekerja dan lapar, jika sebelumnya kita harus meninggalkan pekerjaan untuk sekedar memasak atau membeli makanan keluar, di era sekarang hanya bermodalkan gadget makanan datang tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakoni.

Dibalik kemudahan yang ditawarkan berdampak terhadap pola hidup manusia menjadi malas. Sehingga dari sikap inilah muncul beberapa dampak buruk bagi perilaku manusia. Manusia di era digital menjadi lebih individualis dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya adalah interaksi antara sesama menjadi kurang kuantitasnya terutama dengan orang yang dekat. Pola pikir saat ini berubah menjadi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, tentu saja kita sangat menyayangkan hal ini.

Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya dua perilaku yang membingungkan di bidang ekonomi yang dapat dikategorikan sebagai untung rugi. Pada kunjungannya ke Aceh minggu lalu, wakil menteri keuangan Indonesia Wardiasmo menyebutkan, The twin force of economic, back to Nature dan IT minded. Ini merupakan istilah bagi perekonomian saat ini khususnya Indonesia.

Serangan ganda perekonomian ini berkaitan dengan perilaku manusianya. Dimana masyarakat cenderung menyukai hal yang berbau alam sementara era semakin millennial. Saat musim atau masa liburan datang, kebanyakan dari masyarakat akan memilih tempat seperti laut, gunung, atau bahkan cagar alam untuk dikunjungi. Pada hari biasa pun, masyarakat akan memilih tempat nongkrong yang bernuansa alam.

Ini merupakan sebuah kesempatan yang bagus tentunya bagi pelaku ekonomi karena mereka dapat meng-upgrade usaha atau bisnisnya bertema alam atau nature. Selain itu, banyak bisnis baru bermunculan dan menggunakan alam terbuka sebagai daya tarik utamanya. Merupakan bisnis yang sehat karena menawarkan udara segar dari alam dan juga menyediakan tempat yang benar-benar cocok untuk menyegarkan pikiran.

Yang menjadi kekhawatiran di era digital dan juga bisnis alam adalah lingkungan yang semakin berkurang atau rusak. Hal ini disebabkan karena banyaknya pabrik atau industri yang bermunculan. Alam semakin digerus untuk pembangunan gedung dan berbagai tempat wisata. Maka seketika ini juga menjadi pedang bermata dua bagi Indonesia yang merupakan jantung dunia.

Mengutip dari Tribunnews.com, Leuser adalah jantung dunia yang berada di Indonesia. Namun Leuser terancam deforestrasi hutan dan meskipun berada di dalam lindungan hukum di Indonesia, tapi belum menjamin bahwa Leuser akan baik baik saja. Leuser terus saja dicacah untuk kepentingan industri dan bahkan pertambangan.

Selain itu, jika menilik dari beberapa peristiwa alam yang terjadi akhir akhir ini, telah banyak korban jiwa yang direnggut. Akan berapa banyak lagi jiwa yang kita korbankan dengan iming-iming perkembangan zaman?. Apakah kita akan tetap keukeuh untuk menjadi individualis dan tetap merasa hebat dengan pencapaian sehingga alam menjadi bukan masalah besar?. Ini adalah dampak dari sikap ketidak-pedulian kita terhadap lingkungan dan merupakan kelalaian kita sendiri.

Jika alam terus diusik, akankah kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Lantas jika melihat dari tingkah manusianya yang menjadi semakin careless terhadap lingkungannya, pantas dipertanyakan untuk ke depannya apakah ada yang masih memperdulikan alam sekitarnya?.

Perubahan menuju era digital tentu sangat baik dan bahkan merupakan keharusan untuk mengikuti perkembangan zaman. Karena sangat aneh jika menolak perubahan global sementara zaman terus berkembang. Namun, perubahan era bukan berarti merubah sikap menjadi acuh terhadap alam sekitar dan lingkungan sosial. Manusia memiliki hak dan tanggung jawab terhadap tempat tinggalnya. Maka secanggih apapun zaman yang kita tinggali, kita tidak boleh menutup hati untuk peduli.

Alam adalah tempat tinggal kita, rumah dan amanah yang harus kita jaga dengan baik. Bersama sama menuju era baru, kita juga harus menyatupadukan semnagat untuk menjaga kelestariaannya. Yang baru boleh terus muncul, namun yang lama tetap dipertahankan pesonanya. (Sul)

 

Unsyiah Fokus pada Publikasi Sitasi Ilmiah, FEB Adakan Kelas Riset Dunia (WCRP)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis adakan kelas riset dunia (WCRP). (Foto: Cut Meviantira)

Darussalam – Di era abad 21, urgensi pendidikan yang lebih baik dan ilmiah telah meningkat secara signifikan untuk mencapai tujuan transformasi masyarakat kepada pengetahuan dunia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah meningkatkan kebutuhan akan pendidikan tinggi yang memenuhi permintaan industri dan pembangunan bangsa.

Sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi, penelitian telah menjadi pendorong utama bagi perbaikan sistem itu sendiri. Proses penemuan masalah, pengumpulan data, pengolahan, dan pengambilan kesimpulan adalah kunci untuk siklus penelitian berkelanjutan yang perlu dipahami oleh semua peneliti terutama mahasiswa sebagai tokoh kunci pada program penelitian di masa depan.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami dengan baik tentang proses melakukan penelitian mulai dari menemukan masalah untuk menulis makalah yang menarik hingga mahir dalam menyimpulkan hasil dari permasalahan tersebut. Sejalan dengan tujuan untuk menjadi Universitas terkemuka di Asia Tenggara bahkan dunia, Universitas Syiah Kuala sedang dalam perjalanan untuk mencapai tujuan dengan meningkatkan beberapa sektor khususnya penelitian.

Saat ini, proses telah menunjukkan hasil yang baik. 1.025 makalah yang diindeks Scopus telah diterbitkan pada akhir tahun 2017, dibandingkan dengan 69 makalah pada tahun 2012. Universitas Syiah Kuala juga telah berhasil meraih peringkat ke-5 secara nasional dalam hal keunggulan jumlah publikasi Google Scholar oleh Webometrics.

Hal serupa juga berusaha digalakkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah melalui kelas internasional. Dimulai secara resmi pada 2011, International Businesses and Economic Program (IBEP) terus membuktikan diri sebagai program internasional terkemuka di Universitas Syiah Kuala dengan melanjutkan upayanya untuk mempromosikan standar pendidikan internasional kepada setiap mahasiswa. Salah satunya dengan melaksanakan suatu kegiatan yakni World Class Research Program (WCRP) yang telah diselenggarakan beberapa waktu lalu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

WCRP tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa internasional, namun juga kepada seluruh mahasiswa FEB Unsyiah baik Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, dan Ekonomi Islam yang tertarik pada penelitian ilmiah. Tujuan dari program ini diantaranya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya penelitian, meningkatkan kemampuan dalam melakukan riset serta melatih mahasiswa dalam kepenulisan akademik. Program ini akan dilaksanakan kembali di tahun-tahun berikutnya, dengan harapan output dari program ini dapat meningkatkan kualitas mahasiwa dan membantu mewujudkan tujuan Universitas Syiah Kuala dalam meningkatkan publikasi sitasi ilmiah di kancah Internasional. (Cut Mevi)

 

Tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” yang Tak Lagi Purna

Tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” yang tak lagi purna (foto:Abi)

Darussalam – Pemandangan yang kurang elok dilihat oleh Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah maupun orang yang berlalu-lalang di sekitar Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi hal yang biasa akhir-akhir ini. Penyebabnya ialah tulisan “Fakultas Ekonomi Dan Bisnis” yang terletak di pagar luar area kampus kuning yang terlihat mulai rusak.

Sejatinya, tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” ini seharusnya mampu memberikan citra positif bagi orang lain yang melihatnya. Namun dengan kondisi seperti ini, agaknya citra itu sedikit luntur.

Menurut pendapat beberapa mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis yang sempat diwawancarai oleh Perspektif, mereka cukup sedih dengan kondisi tersebut. Berbagai harapan terlontar sebagai bentuk keinginan akan adanya perbaikan secepatnya pada tulisan tersebut.

“Ya sebenarnya hal ini tidak enak dilihat ya . Apalagi kita ini kan fakultas tertua di Unsyiah,  seharusnya mampu memberikan contoh pada fakultas lain, setidaknya dari urusan tulisan nama saja.” tutur  M. Ayyash, salah satu mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan.

Ditemui terpisah, Midrar Yusya, salah seorang mahasiswa jurusan Manajemen juga menambahkan, “Kita berharap ada perbaikan pada tulisan itu. Semoga bisa dilakukan secepatnya.”

Penyebab dari rusaknya tulisan tersebut kemungkinan besar adalah karena faktor alam, seperti hujan deras dan terik matahari yang menyebabkan  beberapa huruf pada tulisan tersebut terlepas. Hal ini tentunya mengundang tanda tanya beberapa pihak, akankah ada perbaikan pada tulisan tersebut?

Menanggapi hal itu, Wakil Dekan 2 FEB Unsyiah, Dr. Ridwan Ibrahim, SE, MM pun memberikan tanggapan.

“Sudah ada rencana penataan ulang. Ini memang harus kita benahi, karena memang gak enak kalau dilihat ada tulisan yang rusak. Sebenarnya ini masalah besar juga, namun sepertinya sebelumnya kurang terpantau.” Imbuhnya.

Tentunya kita semua berharap bahwa tulisan tersebut dapat segera dibenahi. Karena bagaimanapun, Tulisan “Fakultas Ekonomi Dan Bisnis” yang terpampang anggun menghadap kemegahan gerbang Kopelma Darussalam adalah wajah dan citra dari Fakultas itu sendiri.(Abi)

 

UKM PA-LH Metalik Kembali Selenggarakan Pendidikan Dasar Untuk Angakatan Muda

Acara pelepasan peserta pendidikan dasar UKM PA-LH Metalik (Foto:Uzzla S)

Darussalam – UKM PA-LH Metalik (Mahasiswa Ekonomi Pencinta Alam dan Lingkungan) kembali mengadakan pendidikan dasar (diksar) untuk angkatan XXIX. Acara ini berlangsung selama enam hari dimulai dari tanggal 06 s/d 11 november 2018 yang berlokasi di Indrapuri, Aceh Besar.

Acara yang diikuti oleh lima belas orang peserta ini bertujuan untuk merekrut kader-kader baru guna berlangsungnya roda organisasi dan juga  meningkatkan minat pemuda-pemudi yang peduli terhadap lingkungan terutama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Sebelumnya UKM PA-LH metalik telah membuka open recruitment dari tanggal 5 september – 10 Oktober 2018. Jumlah total peserta yang mendaftar sebanyak 78 orang, dan yang sudah lulus tahap Adm sebanyak  48 orang. Setalah melalui serangkaian tahapan, seperti wawancara dan materi lokal, peserta yang lolos seleksi sebanyak 15 orang (6 orang laki-laki dan 9 orang perempuan).

Fikri ramadhana selaku ketua panitia berpesan semoga semua materi lokal yang telah diberikan dapat di aplikasikan di lapangan nantinya dan dapat berguna untuk para peserta.

Acara pelepasan yang dilaksanakan pada hari ini (06 November 2018) dihadiri oleh wakil dekan III, yaitu Murkhana, SE,MBA., Perwakilan UKM di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan juga seluruh anggota UKM PA-LH metalik.

“Harapan kedepan gak muluk-muluk, mungkin bisa membawa kembali nama metalik khususnya nama fakultas ekonomi keranah kompetisi tingkat nasional seperti yang terakhir kali kita lakukan di tahun 2014.” ujar ketua umum UKM PA-LH Metalik, Yoland Dirga Oktaviano. (Uz)

Mahasiswi FEB Raih Juara 3 Duta Wisata Aceh

 

Mahasiswi FEB Raih Juara 3 Duta Wisata Aceh ( Foto : Perspektif)

Darussalam – Cindy Alfirdausi, mahasiswi Program Studi Manajemen FEB Unsyiah berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Duta Wisata Aceh 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di gedung AAC Dayan Dawood pada (27/10) lalu. Gelar ini juga menjadikan ia dinobatkan sebagai Wakil II Duta Wisata Aceh tahun 2018.

Ia meraih gelar ini setelah melewati proses seleksi dimulai dari pemilihan di tingkat kota, hingga akhirnya bisa berkompetisi di tingkat provinsi dan bersaing dengan 23 duta wisata perwakilan dari berbagai kota/kabupaten di Provinsi Aceh.

“Awalnya saya mengikuti pemilihan Inong Banda Aceh dan alhamdulillah dapat juara 1, lalu dipercaya untuk mewakili Banda Aceh dalam pemilihan Duta Wisata Aceh. Alhamdulillah bisa diberi kesempatan menjadi juara 3.” ujarnya

Menurut penuturannya, sebelum dinobatkan menjadi Inong Banda Aceh, ia mengikuti serangkaian proses penilaian, seperti tes tulis, wawancara, serta banyak tahapan yang bertujuan untuk menggali potensi dan wawasan tentang pariwisata. Kemudian pada tahap pemilihan Duta Wisata Aceh, ia dan kontestan lainnya sempat bergabung dalam karantina selama 4 hari.
“Di karantina itu kami mendapat banyak ilmu. Masuk ke kelas ini dan kelas itu. Pokoknya seru deh. Hingga pada malam puncak juga banyak kegiatan yang kami lakukan, seperti pertunjukan budaya dan seni,” jelasnya.

Selain gelar, pengalaman ini memberikan banyak hal bagi Cindy. Berkat keikutsertaannya dalam kompetisi ini, ia dapat menjalin relasi dengan para duta wisata dari berbagai daerah dan mendengar cerita-cerita menarik tentang daerah mereka masing-masing.

Sebagai juara 3 Duta Wisata Aceh, ia pun ingin mengajak pemuda-pemudi Aceh khususnya di Banda Aceh untuk turut mengambil bagian menjadi duta wisata dengan caranya masing-masing dan memanfaatkan setiap media yang ada saat ini.

“Sebenarnya semua orang bisa menjadi duta wisata bagi daerahnya. Semua orang bisa mempromosikan pariwisata daerahnya. Aku sebenarnya sangat menginginkan pemuda-pemudi di Aceh sadar bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang penting bagi pembangunan daerah.” harapnya.

Meski dalam waktu dekat ia akan disibukkan dengan banyak kegiatan seputar promosi pariwisata Aceh, namun ia juga tak ingin melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia juga berpesan kepada mahasiswa lainnya agar lebih aktif dan bijak menggunakan waktu baik untuk kegiatan didalam maupun diluar kampus. (Abi)

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif (foto:Ayu)

Darussalam – Memasuki era revolusi industri 4.0, perkembangan teknologi semakin canggih dan terdepan. Menghadapi tantangan tersebut, dunia industri harus menjadi semakin kreatif. Menghadapi fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala mengusung tema, “Creative Industry in Digital Business Era” dalam seminar yang diselenggarakan pada acara Management Creativity Festival (MCF) 2018, Rabu (24//10).

Seminar yang diadakan di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah ini menghadirkan tiga tamu istimewa diantaranya  Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt.  sebagai Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Zainal Arifin Lubis sebagai Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, dan Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng yang merupakan Rektor Universitas Syiah Kuala.

Dalam kesempatannya, Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. selaku Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia menyampaikan materi tentang industri kreatif di Indonesia serta peran pemerintah untuk menyukseskan perekonomian dalam masyarakat. Ia mengharapkan dengan adanya kemajuan teknologi yang berkembang pesat dalam masyarakat dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri, dan juga pemikiran kreatif yang harus ditumbuhkan guna mendukung kemajuan industri di Indonesia.

“Kami sangat mendukung seminar ini, dan hasil dari seminar ini akan disampaikan ke DPR Aceh.” Ungkap Zainal Arifin pada pidato sambutannya. Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh tersebut mendukung penuh seminar yang diadakan oleh HMM FEB Unsyiah dengan harapan isu industri kreatif yang diangkat dalam seminar ini mampu membuka pikiran masyarakat perihal pentingnya peran industri kreatif dalam meningkatkan perekonomian bangsa kedepannya. (Mev)

 

Mewujudkan ekonomi enklusifness

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk 264 juta jiwa. Jumlah penduduk yang sedemikian banyak merupakan tantangan yang berat bagi perekonomian Indonesia.

Pada  Industri Digital saat ini, kehidupan kita menjadi lebih mudah dan serba computarized. Namun, kita yang berada di era ini harus teliti dalam menghadapi kompleksivitas yang dibawa serta. Dengan tantangan yang kompleks, kita harus menyelaraskan perekonomian dan menciptakan inovasi baru.

Kemiskinan adalah musuh yang patut diperangi. Masih ada keparahan dalam kemiskinan kita. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. menyampaikan bahwa, salah satu cara mengatasi kemiskinan adalah dengan mewujudkan ekonomi enklusifness melalui pengembangan ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif berdampak sangat luas bagi perekonomian, selain tidak membutuhkan modal yang besar, ekonomi kreatif juga tidak membutuhkan tenaga manusia yang terlalu banyak. Inovasi dan kreativitas paling dibutuhkan dalam ekonomi kreatif yang merupakan karakteristik utama di Revolusi Digital atau Digital Era. Menariknya, ekonomi kreatif ini ternyata di dominasi oleh perempuan sebagai pelaku utama sebanyak 54,96%.

Bapak Mardiasmo juga memaparkan  bahwa ada 16 subsektor ekonomi kreatif. Fashion, kuliner dan kriya menjadi tiga unggulan utama. Kuliner menjadi daya tarik utama karena menggambarkan peradaban dan kebudayaan Indonesia. Namun, ada tiga subsektor lainnya yang mulai menjadi perhatian. Aplikasi dan pengembangan permainan, film dan diikuti musik yang sedang dikembangkan. (Sul)

PIA : “Pengkajian Ulang Profesi Akuntasi Melalui Seminar Internasional”

PIA : “Pengkajian Ulang Profesi Akuntasi Melalui Seminar Internasional” (foto:Syawal)

Darussalam – Senin (15/10) Revolusi industri 4.0 sudah mengikis keberadaan manusia dalam ranah pekerjaan. Semua SDM sedikit demi sedikit sudah dapat tergantikan oleh adanya inovasi baru, yakni robot yang sejatinya juga merupakan rancangan tangan manusia. Melirik fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKA) kembali mengadakan Pekan Ilmiah Akuntansi (PIA) di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah terhitung dari tanggal 15-20 Oktober 2018. Kali ini PIA mengusung tema “The industrial revolution 4.0 : Revisiting the role of Accounting Profession” atau pengkajian ulang profesi akuntansi pada revolusi Industri  4.0

Dari tahun 1997 sampai sekarang, ini merupakan kali ke-21 HIMAKA menyelenggarakan acara PIA dan terbilang cukup banyak peminat yang mengincar seminar nasional dengan pembicara utama yaitu Prof. Ainun Na’im, PH.D. M.B.A yang merupakan Sekretaris jendral kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi Republik Indonesia. Dan diisi oleh pemateri internasional yaitu Prof. Azlam Amran selaku Dean graduate school of business university of sains malaysia, serta pak Dasrul Chaniago Co founder mayoris aset manajemen dan Teuku Munandar selaku Deputi dewan perwakilan Bank Indonesia cabang Aceh. Para pemateri memberikan gambaran mengenai Revolusi industri serta peran akuntansi kedepan.

 Acara ini merupakan acara terbesar se-Ekonomi Unsyiah, yang menawarkan seluruh kegiatan menyangkut dengan Akuntansi nantinya agar dapat berguna saat zaman sudah semakin didepan dan mendorong manusia lebih kreatif lagi. Acara ini meliputi, seminar internasional,  Accounting cycle, Debat bahasa Inggris, software training zahir, CC & LBAP, lomba presentasi, dan PPL.

 Proker terbesar di HIMAKA ini mendapatkan dukungan dari kalangan mahasiswa maupun dosen. Boby Fischer, selaku ketua panitia acara ini pun mengharapkan agar acara PIA yang ke-21 ini dapat berjalan lancar. “ Diadakan PIA ini agar mahasiswa dapat membuka wawasan mengenai hal baru yang terjadi di dunia ini, khususnya mahasiswa dapat memahami setidaknya salah satu  software akuntansi agar mahasiswa/i tidak gagap teknologi serta tidak terpaku pada mesin canggih saja” Pungkas boby dengan harapnya. (wal)

 

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital!

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital! (Gambar:Google)

Darussalam – Tak dapat dipungkiri, peradaban dunia semakin berkembang dengan pesat. Tanpa kita sadari, kini teknologi menjadi raja dari kehidupan. Semua pekerjaan yang dulunya sulit dijangkau kini menjadi mudah dan sangat cepat. Hal ini juga membawa banyak manfaat dan kebaikan. Salah satu yang paling terasa adalah terjalinnya hubungan internasional baik dari bidang pendidikan dan juga merambah hingga dunia bisnis. Lapangan kerja semakin terbuka lebar. Peluang untuk belajar ke luar negeri pun semakin terbuka.

Namun, digitalisasi juga melahirkan ancaman. Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi dengan basis cyber physical system. Dimana robot dengan kecerdasan buatan atau artifisial mulai menyebar dan merebut posisi manusia di kancah pekerjaan.

Menilik dari banyaknya tenaga robot atau mesin yang dipakai, menambah rumit kriteria karyawan yang dipekerjakan di perusahaan. Jika beberapa tahun yang lalu tenaga jasa masih berfokus pada soft skill yang biasa, pada era digital ini penguasaan software dan kemampuan pengolahan data serta kreativitas lebih dilirik oleh perusahaan industri.

Tentu saja perkembangan yang terjadi di dunia bisnis menjadi sorot utama bagi calon sarjana ekonomi. Tujuan utama dari calon sarjana adalah menemukan pekerjaan yang tepat untuk menunjang hidup di masa mendatang. Namun,  hanya menguasai ilmu ekonomi tidak cukup meskipun gelar sarjana pun sudah disandang.

Melirik Amazon dan Alibaba yang mulai membuka pusat perbelanjaan atau supermarket tanpa kasir dan pegawai. Bahkan mereka memiliki sistem warehouse yang fully-automated. Di Indonesia sendiri, konsep digital lounge mulai digalakkan oleh perusahaan perbankan. Tanpa harus berhadapan dengan teller, orang dapat membuka tabungan sendiri.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, kita akan menghadapi digitalisasi. Maka dari itu, meningkatkan potensi diri adalah tugas utama bagi seluruh calon sarjana. Pekerjaan dengan keterampilan tinggilah yang masih membutuhkan tenaga kerja manusia.

Bagi calon sarjana, wajib mengetahui dan menganalisis jenis pekerjaan yang akan di apply nantinya.  Hal ini dikarenakan oleh adanya beberapa jenis pekerjaan yang akan hilang seperti teller,  driver,  kasir,  resepsionis dan beberapa lainnya.  Menentukan target pekerjaan yang tidak dapat dijangkau oleh mesin adalah kunci utama menghadapi digitalisasi atau revolusi industri 4.0.

Selain itu,  mengetahui bakat sendiri juga penting.  Dengan mengenal bakat yang dimiliki, maka dapat membantu ke depannya yakni dengan mengasah skill ataupun menambah skill baru dengan mengikuti berbagai pelatihan terkait soft skill atau pekerjaan di era digital.

Dilansir dari okezone.com, Laporan World Economic Forum 2016 yang bertajuk The Future Job telah memaparkan bahwa ada 10 skill yang akan dibutuhkan pada tahun 2020 mendatang. Diantaranya adalah pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen sumber daya manusia, koordinasi, kecerdasan emosional, penilaian dan pengambilan keputusan.

Dari sepuluh skill tersebut, semuanya berorientasikan mental. Maka, untuk calon sarjana ekonomi mulai dari sekarang harus dapat meningkatkan potensi diri bertajuk mental. Dengan mengikuti berbagai organisasi dan menjadi pemikir kritis, maka persaingan di era digital menjadi lebih mudah. ( Sulthana )