Kembangkan Seni Menulis Dengan Sekolah Jurnalistik

Kembangkan Karya Tulis Dengan Sekolah Jurnalistik (Hasan/Perspektif)

Darussalam – Sabtu (04/03) untuk pertama kalinya ditahun 2018 LPM Perspektif FEB Unsyiah melaksanakan acara sekolah jurnalistik. Acara ini merupakan agenda dari bidang redaksi yang bertujuan sebagai upgrading internal dalam hal penulisan. Bertepatan di Zakir Kupi Darussalam, LPM Persepektif turut mengundang pembicara yang sangat berpengalaman didunia jurnalistik yaitu Zuhri Noviandi dan Dani Randi.

Zuhri Noviandi merupakan mantan pemimpin umum sumber post UIN Ar-Ranniry yang sekarang aktif menulis di kumparan.com dan beberapa media Aceh lainnya. Begitu juga dengan Dani, ia adalah salah satu penulis yang sangat berpengalaman khususnya dibidang travelista dan aktif menulis di Viva.co.id.

Dengan mengusung tema “Membangun Kreatifitas Melalui Tulisan Berkualitas” diharapkan pula seluruh anggota LPM Perspektif menjadi seorang penulis yang tidak hanya memberikan informasi namun dapat menyampaikan ruh dari isi berita kepada pembaca.

“Menulis yang baik dapat dimulai dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang kita lihat, sehingga ruhnya itu sampai kepada pembaca. Ketika mereka membacanya mereka dapat merasakan apa yang kita lihat atau bahkan sampai merinding,” papar zuhri.

Sepanjang berjalannya acara zuhri dan dani banyak memberikan tips, saran, teknik, referensi menulis hingga contoh tulisan dalam bentuk Feature News, Travelista. Anggotapun sangat aktif menanyakan hal-hal yang kurang jelas sampai yang belum mereka fahami.

“Ketika kita konsen dan fokus semua berhasil. Jangan takut untuk salah, terusin aja menulis. Setelah selesai baca beberapa kali tulisan yang sudah dibuat,” tambah zuhri. (t)

KTM Unsyiah Tak Lagi Sama Sejak 2016, Ini Alasannya

KTM Unsyiah Tak Lagi Sama Sejak 2016 (Mevi/Perspektif)

Darussalam – KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) Unsyiah merupakan kartu identitas elektronik bagi seluruh mahasiswa yang terdaftar di Universitas Syiah Kuala. Kebanggaan tersendiri bagi yang memiliki kartu tersebut karena menandakan bahwa dirinya telah terdaftar disuatu universitas dan fakultas yang diminatinya.

KTM Unsyiah dahulunya memiliki dua fungsi, pertama sebagai identitas dan kedua juga dapat digunakan sebagai ATM. Namun sejak tahun 2016 terjadi perubahan pada sisi desain dan fungsi dari KTM ini sendiri. Hal ini pula yang kerap dipertanyakan oleh mahasiswa unsyiah khususnya bagi angkatan tahun 2016 dan 2017.

Sebut saja Ani mahasiswa Jurusan Akuntansi, Ia mengatakan bahwa, “Seharusnya KTM yang seperti disebutkan sebelumnya harus tetap di terapkan. Karena begitu banyak manfaat yang didapatkan bagi mahasiswa sendiri. Juga zaman sudah canggih dan memudahkan mahasiswa itu sendiri.”

Menanggapi persoalan ini, Murkhana selaku Wakil Dekan III menyampaikan ada beberapa kemungkinan terjadinya perubahan fungsi pada KTM angkatan 2016. “Mungkin adanya kelemahan pada penggunanya sendiri yang membuat kartu tersebut tidak berfungsi dan dimanfaatkan dengan baik, akibat dari ketidakefektifan tersebut mungkin saja pihak Bank BNI tidak ingin bekerja sama dengan pihak Unsyiah lagi,” ujarnya.

Selain mahasiswa para alumni yang mengetahui perubahan fungsi KTM juga ikut berpendapat dan turut prihatin. “KTM yang berfungsi sebagai ATM tersebut sangatlah bagus dan menguntungkan. Pada saat kuliah KTM saya gunakan untuk tabungan, dan saat saya tamat KTM masih dapat digunakan serta pemotongan perbulannya hanya Rp 2.500 dan setiap penarikan tidak dikenakan pemotongan, penggunaannya sangat efektif dan sangat berguna untuk nantinya,” papar Yaskur yang juga merupakan alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Atas perubahan tersebut sangat disayangkan terutama kepada mahasiswa angkatan 2016 dan 2017 yang tidak merasakan KTM yang juga mempunyai fungsi sebagai ATM. Mereka hanya dapat merasakan KTM yang hanya sebuah identitas dan syarat masuk ke Perpustakaan Unsyiah.

“Bagusnya pada KTM terdapat ATM nya juga, agar lebih memudahkan mahasiswa. Akan tetapi, Pesan saya untuk Mahasiswa Angkatan Tahun 2016 dan 2017 Jangan risaukan hal itu karena ATM dimanapun dapat dibuat.” jelas Murkhana.(Wal, Ci)

Pererat Kebersamaan, HIMAKA adakan Acara Halal Bi Halal

Himaka adakan Halal bihalal (fariza/Perspektif)

Banda Aceh– Minggu (04/03) Himpunan Mahasiswa Akuntansi atau lebih akrabnya dengan sebutan HIMAKA kembali mengadakan acara Halal Bi Halal periode 2018. Halal Bi Halal merupakan acara tahunan yang diselenggarakan setelah periode kepengurusan baru dengan mengusung tema “Langkah Ngoen Ikhlas Tameusyedara Hana Gareh”. Acara yang berlangsung di pantai Tebing Lampuuk dibuka langsung oleh Ketua Umum Himaka 2018, Alfi Syahrin pada pukul 09.00 WIB. Kali ini Halal Bi Halal juga dihadiri oleh ketua HIMAKA periode sebelumnya.

Acara ini diwarnai dan diisi dengan penyelenggaraan game-game yang bersifat kebersamaan, seperti: Tarik tambang dan pancing botol. Maksud dari game tersebut ialah untuk menumbuhkan kekompakan dan kebersamaan antar anggota dalam tim. Tidak hanya game, acara ini  juga diselingi dengan obralan santai atau OBRAS dan  pertunjukan Akustik.

“Sesuai dengan temanya diatas dalam Bahasa Aceh acara ini bertujuan untuk mempererat silaturrahmi keluarga besar Akuntansi. Tidak hanya dari Sarjana tetapi juga Diploma,”  papar Qasmal Maulana selaku Ketua Panitia dalam kata sambutannya.

Selain itu dalam acara tersebut juga menginformasikan tentang acara dan kegiatan yang akan dilakukan oleh HIMAKA setahun kedepan dan pastinya sangat diharapkan kepada seluruh anggota dapat berpartisipasi. Acara Halal Bi halal berlangsung kurang lebih hingga pukul 16.00 WIB yang ditutup dengan pelepasan balon helium dan foto bersama. (Jun)

METALIK Lanjutkan Kembali Ekspedisi Gunung Kurik

METALIK lanjutkan kembali ekspedisi gunung kurik (Foto: Susilo/Perspektif)

 

Darussalam – Sabtu (03/03) UKM PA-LH metalik FEB Unsyiah kembali melanjutkan ekspedisi untuk sampai ke puncak Gunung Kurik, Aceh Timur.  Perjalanan ini merupakan perjalanan lanjutan setelah sempat dilaksanakan pada bulan Januari lalu. Tim ekspedisi akan memulai perjalanan terhitung 3 Maret 2018 dan di target kan selesai pada 25 Maret 2018.

Pada ekspedisi pertama tim tidak berhasil sampai ke puncak kurik setelah kurang lebih 18 hari perjalanan, melebihi target dari 14 hari. Tim yang terdiri dari 7 orang diantaranya Syahrial (baco), Fiki (rompak), Rahmat (bancil), Wais (baim), Harry gunawan (topan), Fahrian (kali), Novarian (Nopang). Empat orang merupakan tim inti dari angkatan 27 dan tiga orang lainnya senior sebagai pengawas dan pembimbing.

Selama perjalanan mereka banyak menemui kendala baik pada jalur yang tidak sesuai pada peta, kondisi hutan masih begitu rapat karena belum terlalu terjamah dan perbekalan yang menipis melewati target serta komunikasi yang terhambat.

Ketua Umum UKM PA-LH Metalik Yolan Dirga Oktaviano mengatakan “Banyak jalur yang tidak sesuai terutama yang kita gambarkan di peta, kondisi medan dan hutan yang begitu rapat karena hutannya memang belum terjamah dan banyak medan-medan perdu yang menjadi kendala tim.”

Yolan juga mengatakan bahwa Logistik yang di bawa oleh tim pada waktu itu hanya cukup untuk 14 hari di totalkan menjadi untuk 15 hari. Dan dikarenakan jalur yang sebegitu berat yang menghambat perjalanan tim hingga pada hari ke 14 tim memutuskan untuk kembali di karenakan perbekalan yang sudah menipis padahal posisi tim pada saat itu sudah sekitar 7 km lagi dari puncak.

“Jadi total perjalanan yang pertama sudah tidak lagi 14 hari, tapi 18 hari. Hampir mencapai 20 hari” tambah yolan alias kipen.

Dalam metalik sendiri Ekspedisi seperti layaknya sebuah final bagi angkatan muda setelah menjalani serangkaian macam pendidikan dasar dan lanjutan maka ekspedis merupakan ujian akhirnya. Membuka jalur baru di setiap perjalanan nya merupakan sebuah tradisi tersendiri bagi metalik dalam melaksanakan ekspedisi. Begitu juga dengan ekspedisi ini metalik mencoba membuka jalur baru dengan mencapai puncak gunung kurik dengan tim inti yang di isi oleh angkatan 27.

Pada ekspedisi kurik II kali ini tim metalik menarget kan waktu yang lebih lama lagi yakni 22 hari menuju puncak dan juga dengan memanfaatkan jalur yang sudah di buka pada tim yg pertama. Tim juga melakukan perombakan anggota yang berbeda dari sebelumnya novarian (nopang), Harry gunawan (topan), muhammmad achyar (udo), said mirza (gagok), musasi, arif rahman (bento). Dan pastinya mereka berharap dengan persiapan yang lebih matang  dari sebelumnya, mereka di harapkan dapat mencapai target sesuai rencana.

Novariad selaku ketua tim dalam ekspedisi ini juga menjelaskan “Kalau yang pertama itu (ekspedisi kurik I) selayaknya  final akhir bagi angkatan 27 dan yang kali kedua ini sudah bukan urusan angkatan tapi sudah urusan metalik.”

Gunung Kurik sendiri merupakan salah satu gunung dengan puncak tertinggi di Aceh Timur yakni 3065 mdpl dan juga merupakan bagian dari kawasan ekosistem leuser. Gunung dengan hutan yang masih begitu rapat dan belum terjamah oleh kehidupan manusia ini begitu sulit untuk di lewati. Sepanjang sejarah hingga kini Puncak Kurik belum pernah ada yang mendaki sampai puncak nya.

Jika nantinya Ekspedisi Gunung Kurik ini berhasil maka UKM PA-LH Metalik merupakan tim pertama yang berhasil mencapai puncak Gunung Kurik, Aceh Timur.

Namun tak hanya puncak gunung kurik yang ingin mereka taklukkan. Pada ekspedisi kali ini tim juga menambah puncak gunung lembu sebagai target keduanya. “Kalau di kurik I target nya hanya kurik, tapi kalo di kurik II ini target utamanya ada puncak satu lagi setelah kurik, namanya gunung lembu dan itu menjadi terget kedua kita di kurik II ini.” Tambah nopang (tuah)

Komentar BEM FEB terkait Polemik RAPBA aceh

Komentar BEM FEB terkait Polemik RAPBA aceh

Darussalam – Anggaran Pengeluaran Belanja Aceh (APBA) kembali menjadi perbincangan hangat dalam keseharian masyarakat Aceh. Selasa (20/2) mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)  kembali melakukan demo di Gedung DPRA. Terkait dengan RAPBA yang belum kunjung disahkan oleh DPRA dan Pemerintah Aceh sejak 31 desember 2017.

Rais Mukhayar selaku ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) turut memberikan komentar mengenai kelalaian pemerintah dalam menangani RAPBA.

“Ini adalah permasalahan yang sama kembali mecuat setiap tahunnya yaitu peresmian APBA yang berlarut-larut. Permasalahan ini memakan waktu cukup lama dan berdampak pada terhambatnya pembangunan sarana dan prasarana di Aceh,” Pungkas Rais.

Selain itu, game theory juga berlangsung didalam kasus ini. Tidak akan ada win win solution, akan terjadi lose lose solution. Kedua pihak akan saling dirugikan. Seharusnya pemerintah lebih mengutamakan rakyat. Tidak perlu mempertahankan prinsip dan kepentingan individu. Hal ini membuat seluruh masyarakat menjadi kecewa.

Rais berharap, pihak pemerintah Aceh dan DPRA dapat membangun komunikasi yang baik di masa mendatang. Karena berbicara mengenai RAPBA tentunya berkaitan dengan adanya konflik kepentingan yang berdampak pada kesejahteraan rakyat Aceh. Kesejahteraan dan keberhasilan pertumbuhan ekonomi Aceh sangat bergantung pada APBA.

“Mengenai demo yang dilakukan oleh mahasiswa Unsyiah sendiri, saya sedikit kecewa karena dari pihak BEM Unsyiah tidak ada koordinasi. Namun kami tetap memberikan apresiasi terhadap BEM Unsyiah yang menyuarakan hal baik untuk rakyat Aceh.” Komentar Rais ketika ditanyai tentang demo yang berlangsung di Gedung DPRA. (Sul, RJ)

Semarakkan Semangat Organisasi Melalui Economic Student Day

KBM Ekonomi adakan Economic Student Day (mevi/perspektif)

Darussalam – Senin (26/02) Tampak ada yang berbeda dari segi penampilan dari seluruh anggota UKM ataupun HMJ dilingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah (FEB). Tak seperti biasanya mereka tampil dengan memakai seragam PDH di luar kegiatan organisasi. Hal ini terjadi karena adanya Economic Student Day yang merupakan sebuah inovasi baru dari BEM yang mengharuskan memakai baju PDH pada setiap hari senin.

Pada dasarnya alasan dari Rais selaku Ketua BEM 2018 mengenai kebijakan yang dicetuskannya ialah agar mahasiswa mengenal organisasi yang ada dilingkungan FEB. Dan hal ini juga sudah disepakati bersama  dalam diskusi bersama KBM ( Keluarga Besar Mahasiswa ) Ekonomi.

“Sebenarnya ini bukan peraturan yang tertulis atau peraturan dari pihak ekonomi, tetapi ini hanya untuk mengenal isi ekonomi kita sendiri. Kebijakan ini juga bukan peraturan yang khusus , jadi tidak ada sanksi atau bentuk apapun, ini hanya suatu regenerasi untuk ekonomi kedepan,” Papar rais.

Besar harapan dari ketua BEM agar para mahasiwa dapat menerapkan kebijakan tersebut secara tidak apatis dan menjadi regenerasi yang baik.

Hal ini lantas mengundang banyak perhatian mahasiswa FEB. Mereka lebih cenderung menilai kebijakan ini sebagai suatu inovasi baru.

Dan bagi mahasiswa yang aktif dibeberapa ormawa FEB tidak perlu terlalu ambil pusing mengenai kebijakan yang dicetus. Mahasiswa tersebut diberi kebebasan untuk memilih baju PDH yang hendak dipakai. (Ghrin,Mi)

 

Mengenang Sosok Alm. M Yacob Abdi Semasa Hidupnya

Mengenang Sosok Alm. M Yacob Abdi Semasa Hidupnya

Darussalam – Innalillahi wainnailaihirajiun. Tepatnya hari Jumat, 23 Februari 2018 kabar duka datang dari Bapak M. Yacob Abdi yang merupakan mantan Wakil Dekan III periode 1991-1996. Beliau dikabarkan menghembuskan nafas terakhirnya di Medan dan dikebumikan di Banda Aceh Ajuen Jempit. Kabar yang beredar cepat tersebut menuai antusias para Mahasiswa FEB Unsyiah maupun alumni dengan memberikan belasungkawa melalui sosial media yang mereka miliki.

Tak hanya menjabat sebagai Wakil Dekan III saat periodenya. Ternyata Almarhum dulunya juga merupakan alumni FEB Unsyiah dari Jurusan Ekonomi Manajemen dan Beliau juga seorang dosen pada jurusan Akuntansi dan juga pada D3 Manajemen Pemasaran pada masanya.

Mengenang kembali sosok Alm. Yacob Abdi dimata WD III periode ini, Murkhana ingat betul saat dirinya mengikuti program seleksi beasiswa, bahwasanya yang menyeleksi tersebut adalah almarhum. Dan alhamdulillah Ia lulus pada program tersebut.

“Beliau adalah orang yang sangat Objektif sebagai seorang WD III saat periodenya, karena ia mampu menyesuaikan kebutuhan mahasiswa yang sangat Memerlukan beasiswa tersebut,” Ujar Murkhana.

Murkhana menyatakan bahwa semasa beliau WD III, beliau sangat memberikan perhatian serius kepada Mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi. Banyak Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ketika ia menjadi dosen di Fakultas Ekonomi.

Murkhana menyatakan bahwa beliau sangat memberikan perhatian serius kepada Mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi

Alm. Yacob Abdi dikenal ramah, pergaulan luas dan beliau orang yang peduli sekalipun ia sudah pensiun, beliau tetap mengunjungi Fakultas Ekonomi saat acara “Meugang” maupun buka puasa bersama. Beliau juga mendukung penuh aktifitas dikampus seperti UKM maupun HMJ.dan sering memberikan masukan serta nasihat kepada mahasiswa- mahasiswa.

Sosok M Yacob Abdi begitu dikenang saat kepergiannya terutama mahasiswa/i FEB Unsyiah. Beliau yang dulunya pernah mengukir sejarah di kampus kuning sekarang hanya dapat dikenang. Seperti bunyi pribahasa “Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang dan Manusia mati meninggalkan nama.”

Mari kita doakan bersama agar amal ibadah beliau diterima disisi-Nya amin yarabb.(WAL)

Sosok Baru Mawapres FEB 2018

 

Darussalam – Mahasiswa Berperstasi (Mawapres) 2018 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala hadir dengan sosok baru yaitu Nadia, mahasiswi S1 Akuntansi yang beruntung terpilih menjadi ikon Mawapres 2018 dengan IPK tertinggi.

Dijumpai Kamis (22/2) dilingkungan kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, Nadia menceritakan perihal dirinya terpilih menjadi Mawapres ditahun 2018. Mawapres ini sendiri memilih Mahasiswanya melalui Indeks Prestasi atau IP yang diraih oleh Mahasiswa yang ditunjuk langsung oleh ketua Prodi masing-masing serta Dekan Fakultas, dan Nadia salah satunya yang terpilih menjadi Mawapres 2018 mewakili Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala ditingkat Universitas seluruh Indonesia.

Mahasiswa yang terpilih dituntut mampu membuat essay serta fasih berbahasa inggris dalam berbicara maupun lainnya. Dalam hal pengadministrasian mahasiswa terpilih diwajibkan melampirkan dan melengkapi dokumen beserta sertifikat prestasi yang pernah dicapai baik tingkat Nasional maupun Internasional.

Ditingkat universitas, Nadia membagikan pengalamannya mengenai pembekalan apa saja yang diberikan Universitas kepadanya yakni diantaranya pengetahuan umum tentang pilmapres, pembentukkan karakter, interview, tata cara membuat karya ilmiah, metode efektif dalam presentasi, public speaking, serta bagaimana cara menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama.

“Kuliah bukanlah tentang kita menuntut ilmu saja atau melanjutkan pendidikan kita ke jenjang yang lebih tinggi. Didalam kuliah ini kita tidak hanya saja belajar mata kuliah dengan dosen saja dan pulang kembali kerumah. IPK adalah hal yang penting dalam perkuliahan. Namun jangan fokus terhadap satu hal saja, setelah lulus nanti tidak IPK saja yang kita andalkan, kita memperlukan skill dalam berorganisasi. Untuk itu diperlukan keaktifan kita atau Mahasiswa dalam Himpunan Mahasiswa maupun Unit Kegiatan Mahasiswa dilingkup fakultas maupun universitas, yang nantinya akan menambah wawasan serta pengalaman kita semasa kuliah,” ujar Nadia.

Nadia juga tidak lupa membagikan motivasinya selama ikut kompetisi di ajang mawapres ini “apapun yang kita ingin capai didalam kehidupan kita, sebisa mungkin kita menerapkan sikap tidak mau pantang menyerah agar kita bisa mencapai apa yang kita inginkan, serta membanggakan orangtua karena yang baik akan berbalik baik kepada kita sendiri,”. (VN,RZ)

Apa kabar almamater 2016?

Apa kabar almamater 2016? (mevi/perspektif)

Darussalam-Almamater merupakan identitas diri bagi mahasiswa. Indentitas tersebut menandakan pula dari mana mereka berasal serta menjadi suatu kebaanggan tersendiri terlebih saat menjadi Mahasiswa Baru disuatu universitas. Namun bagaimana jika almamater tak kunjung dibagikan? Apa penyebab dibalik keterlambatan tersebut? Lalu etiskah keterlambatan pembagian almameter ini terjadi?

Sangat disayangkan, namun faktanya hal ini yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala terkhusus bagi angkatan 2016. Keterlambatan tersebut bahkan sudah berjalan hingga semester keempat terhitung sejak awal masuk ditahun 2016.

Jika dikaji kembali, hal ini bukanlah kali pertama terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Pada tahun 2015 hal yang sama pernah terjadi, dimana angkatan 2015 tidak mendapat almamater diawal mula perkuliahan tetapi ditahun berikutnya.

Dilihat dari system pembagiannya, sebelum tahun 2015 pembagian Almamater dimulai dari Biro rektorat lalu diberikan kepada pihak Fakultas. Selanjutnya diambil alih oleh Wakil Dekan III dan kemudian diberikan kepada Pihak BEM FEB untuk meembagikan kepada Mahasiswa. Namun ditahun 2015 sistem pembagian almamater sedikit berbeda, dimana pembagiannya tak lagi ditangani oleh pihak BEM melainkan langsung oleh pihak Dekan Kemahasiswaan.

Sedangkan ditahun 2016 pembagian almamater kembali lagi pada system semula yaitu pengambilan almamater melalui pihak BEM FEB. jika ditinjau lebih lanjut pihak fakultas bahkan belum mempunyai ketetapan khusus mengenai almamater. Padahal hal ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi Fakultas, mengingat sudah pernah 2 (dua) kali terjadi “keterlambatan” pembagian almamater di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Pihak BEM FEB 2018 menyatakan “Almamater angkatan 2016 sudah tersedia. Tetapi hanya sebagian dari totalnya.” Sangat disayangkan hingga saat ini almamater tersebut sepenuhnya belum berada dipihak BEM, sedangkan almamater untuk angkatan 2017 sudah dibagikan. “Keterlambatan ini bisa terjadi karena faktor miss komunikasi antara pihak dekan dengan pihak BEM sebelumnya”  lanjutnya.

Apa sebenarnya yang menjadi faktor sampai keterlambatan ini terjadi.? (AH, LZ)

Rais Ikut Komentari Aksi Kartu Kuning Jokowi : Pemerintah Fokus Membangun Negeri atau Fokus Membangun Citra?

BEM ekonomi Ikut Komentari Aksi Kartu Kuning Jokowi (mevi/perspektif)

[Read more…]