Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah?

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah? (Foto : google)

Bercadar merupakan suatu hal yang sudah tidak asing lagi terutama di kalangan civitas akademika FEB Unsyiah. Tak sedikit pula dari jumlah mahasiswi yang menggunakan cadar. Tentunya bagi mereka yang menggunakan cadar punya alasan dan tujuan yang kuat.

Tujuan utama mereka bercadar ialah untuk menutup aurat. Melindungi diri dari tindak asusila serta terhindar dari fitnah. Jika ditinjau dari tujuannya menggunakan cadar merupakan suatu hal yang positif dan merupakan salah satu anjuran menurut agama Islam. Namun mengapa sebagian masyarakat masih saja beranggapan bahwa mereka yang bercadar tergolong kaum radikal.

Seperti halnya kejadian yang baru-baru ini terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dimana pihak kampus sendiri mengeluarkan peraturan yang melarang mahasiwanya untuk bercadar. Tentu hal  ini menuai banyak aksi protes dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi mahasiswa (Ormawa), organisasi masyarakat (Ormas), ulama, serta MUI.

Aturan yang dibuat ini dinilai sebagai bentuk tindakan preventif untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme, “Kami melihat gejala itu, kami ingin menyelamatkan mereka, jangan sampai mereka didoktrin sehingga mereka menjadi korban dari gerakan-gerakan radikal itu,” ujar Yudian Wahyudi selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga. (Sumber: BBCIndonesia)

Tak itu saja, selain alasan pencegahan dari radikalisme terdapat pula alasan lain, yaitu Pedagogis. Mahasiswi yang menggunakan cadar dianggap mempersulit kegiatan pengajaran di kampus, dosen pengajar mendapati kesulitan dalam mengenal identitas mereka karena wajah mereka yang tertutup.

Lantas bagaimana dengan universitas lain yang tidak melarang mahasiswinya untuk bercadar, bukankah sejauh ini tidak ada masalah yang muncul terkait penggunaan cadar?

Untuk Unsyiah khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri yang terletak jelas di provinsi yang merupakan mayoritasnya penduduk kaum muslim, tidak ada aturan khusus yang mengatur penggunaan cadar selagi itu tidak mengganggu kenyamanan bersama.

Menanggapi permasalahan larangan penggunaan cadar ini, pihak kampus sendiri tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga. Karena sadar bahwa bercadar merupakan salah satu bentuk dari menutup aurat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana dosen FEB  yang ikut berkomentar.

“Saya pribadi tidak pernah melarang mahasiswi untuk bercadar karena itu adalah hak mereka dan berkaitan dengan agama jadi sama sekali tidak bisa kita sentuh,” jelas salah satu Dosen Ekonomi Pembangunan, Fitriani,S.E.,M.Sc.

Sampai saat ini dosen FEB  mengaku tidak pernah mendapati kesulitan yang disebabkan oleh mahasiswi yang bercadar. Apalagi sampai kesulitan dalam hal berinteraksi serta tidak pernah menemukan salah satu dari mereka pengguna cadar yang menganut paham radikal,

Dapat dikatakan bahwa anggapan mereka yang memakai cadar adalah anggota teroris atau kelompok radikal merupakan suatu anggapan yang salah dan tidak mendasar.

“Jika tindakan pencegahan radikalisme dijadikan sebuah alasan maka kalau begitu kelompok radikal ini bisa dari siapa saja, tak hanya dari yang bercadar ini, dan juga saya mempunyai mahasiswa yang bercadar dan juga beberapa dosen lainnya, Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah dalam berkomunikasi maupun lainya, karena walaupun mereka bercadar saya tetap bisa mengenali mereka melalui suara,” tambahnya. (Sal, AH)

UU MD3 : Kriminalitas terhadap Demokrasikah?

UU MD3 :Kriminalitas terhadap Demokrasikah? (Mevi/Perspektif)

Darussalam- Rakyat Indonesia kembali dibuat bingung oleh pemerintahan. Hal ini terkait dengan pengesahan UU MD3 oleh Menteri Hukum dan HAM pada 14 Maret 2018 tanpa ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo. Dikarenakan adanya pasal yang mengarah kepada kriminalitas demokrasi.

UU MD3 ( Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD) merupakan undang-undang yang dibuat untuk melindungi anggota dewan dari upaya hukum yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). UU MD3 melindungi para anggota dewan dalam tiga tindak pidana khusus, yakni korupsi, terorisme, dan narkoba.

Undang-Undang nomor 17 tahun 2017 tentang  MPR, DPR, DPD, DPRD (UU MD3) ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) dan mendapatkan penomoran dalam lembaran negara pada tanggal 14 Maret 2018, seiring dengan batasan 30 hari presiden Jokowi tidak menandatangani surat tersebut. Hati bertanya, apakah presiden dan rakyat Indonesia ini sungguh setuju dengan pengesahan tersebut?.

UU MD3 sudah menuai polemik karena mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Anggota dewan kian dibuat tak tersentuh dan kebal hukum dari tindak pidana khusus. Ketidaksesuaian itu timbul dari tiga pasal, yakni: pasal 73, pasal 122 dan pasal 245.

Pasal 73 mengatur tentang tentang wajib menghadirkan seseorang dalam rapat di DPR atas bantuan aparat kepolisian. Pasal 122 huruf k, yang mengatur kewenangan MKD (Mahkamah kehormatan Dewan) menyeret siapa saja (perseorangan, kelompok, atau badan hukum)  ke ranah hukum jika melakukan perbuatan yang patut diduga merendahkan martabat DPR dan anggota DPR. Dan pasal  245 mengatur tentang anggota DPR tidak bisa dipanggil aparat hukum jika belum mendapat izin dari MKD dan izin tertulis dari presiden. Izin MKD diganti dengan frase “ Pertimbangan” (Revisi UU MD3).

Selain itu  dalam ayat 6 pasal pasal 73 , polisi berhak menyandera pihak yang menolak hadir diperiksa DPR paling lama 30 hari, ketentuan penyanderaan akan dibakukan dalam peraturan kapolri.

Dari isinya, UU MD3  dianggap sangat substantif karena bertentangan dengan UUD 1945.

Banyak Mahasiswa yang berdatangan mendatangi “tempat suci” negara hukum ini. Mahasiswa melakukan aksi demo sebagai tanda aksi penolakan. Bahkan beberapa pihak telah mengajukan gugatan mereka ke Mahkamah Konstitusi.

Lalu, apa yang mendorong mereka melakukan aksi penolakan terhadap kelola hukum di Negeri ini  ?.

Sesuai dengan kata mereka, negara yang hebat itu adalah negara yang mau mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ketika orang bebas berbicara, mengkritik, mengeluarkan pendapat, ini dapat dijadikan sebagai evaluasi apa yang dirasakan masyarakat terhadap kinerja DPR, sesuai dengan prinsip demokrasi ( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Pada saat kebebasan itu dibatasi, tidak ada lagi namanya evaluasi dan perbaikan sehingga negara ini hanya jalan ditempat saja.  Bahkan kembali ke masa dulu, pada zaman orde lama. Lantas, kemanakah makna demokrasi yang menjadi identitas negara ini?.

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan negara kita selama beberapa periode. Sungguh disayangkan jika kasus ini mengakibatkan ketidak adilan untuk rakyat dan membuat maknanya bobrok karena terserang kriminalitas secara tidak langsung. Demokrasi adalah pilihan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan sistem bernegara, sistem bermasyarakat yang lebih baik dan sejahtera. Jika ini terlampau terjadi, rakyat tentunya ingin pemerintah berkaca kembali.

Berbicara mengenai demokrasi, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) juga turut memberikan pendapat.

“Dari beberapa headline yang saya baca, jujur saya khawatir terhadap hal ini. Karena ada beberapa pasal yang membahayakan kebebasan berpendapat. Misalnya pemanggilan paksa karena dianggap melawan mereka. Tapi pemberitaannya cuma fokus ke yang buruk-buruk aja. Kita gak tau apakah ada yang bagus disitu,” ujarnya.

Namun, alangkah bagusnya jika pemerintah mempertimbangkan peraturan yang akan diberlakukan agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Sepatutnya pemerintah mereview kembali dari mana asal kedudukan yang mereka dapatkan. Jika tidak siap dikritik dan menerima pendapat dari rakyat, untuk apa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat yang pada hakikatnya menyuarakan rakyat.

Rakyat berhak berkomentar dan memberi pendapat. Toh pada faktanya rakyat hanya mengomentari kesalahan, keteledoran serta penyelewengan. Selama tidak melakukan hal tersebut, apa yang ditakutkan?.

“Seharusnya peraturan itu untuk mensejahterakan rakyat, bukan membatasi hak-hak rakyat. Dan juga DPR bertugas mendengarkan aspirasi rakyat bukan malah membungkam rakyat.” Tambah mahasiswa lainnya.

UU MD3 perlu direvisi kembali. Rakyat menginginkan hal itu terjadi. Harapan akan kebijakan dari Presiden Rakyat Indonesia untuk mengeluarkan Perpu pun dinantikan. Demokrasi negara kita adalah demokrasi pancasila, bukan demokrasi kriminalitas. (Sul,Frz)

Upgrading HMM 2018, Ciptakan Semangat Menuju Kejayaan

Upgrading HMM 2018, Membentuk Semangat Menuju Kejayaan (Foto: Fahmi/Perspektif)

Darussalam – (17/3) Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) FEB Unsyiah mengadakan Upgrading 2018 dengan mengusung tema “Bersatu Menuju Kejayaan”. Acara ini merupakan acara tahunan yang mempunyai tujuan untuk membuka cakrawala pemikiran aneuk manajemen. Bertempat di balai sidang FEB Unsyiah, acara ini juga turut dihadiri oleh pemateri – pemateri dari pendiri dan alumni HMM sebelumnya.

Irsyad Yusfiari selaku ketua panitia Upgrading HMM 2018 menjelaskan bahwa Upgrading ini adalah salah satu program dari HMM dan untuk membangun kapasitas anak manajemen dan membangun kebersamaan terhadap anggota.

“Acara upgrading tahun ini pun kita memberikan motivasi – motivasi agar mahasiswa kita ini dapat berorganisasi dan berbicara sedikinya lebih baik serta upgrading ditahun ini merupakan spesial karena ditahun kemaren upgrading tidak terlaksana dan ditahun ini mulai terlaksana kembali acara ini,” jelasnya.

Selain sebagai sebuah wadah untuk kepengurusan HMM 2018, acara juga diselingi diselingin dengan game – game menarik yang langsung dibuat oleh pemateri tersebut dan sesi tanyak jawab.

“Dampak dari terselenggaranya acara upgrading ini sangat banyak apalagi untuk anggota baru 2017 diharapkan agar lebih sering berkontribusi terhadap HMM,” tambah irsyad.

Salah satu pemateri dari upgrading HMM 2018 adalah bapak Ammar Fuad SE, MM yang juga merupakan mantan ketua HMM periode 2005 – 2006 dan pernah menjabat sebagai ketua BEM FEB Unsyiah di periode 2006-2007.

“Saya melihat ini adalah sekumpulan anak – anak muda yang notabene semangat muda yang membuat perubahan terutama dimahasiswa manajemen dan mahasiswa ekonomi keseluruhannya. saya melihat semangat baru dan harapan saya besar sekali kepada adik – adik untuk menjaga himpunan manajemen yang sebelumnya dibangun oleh pendahulu – pendahulunya,” pungkas Ammar. (Mi,La)

Menuju Glee Sijuk, Angkatan Muda Metalik Siap Ikuti Pendidikan Lanjutan

Angkatan Muda Metalik Siap Ikuti Pendidikan Lanjutan (Foto: oja/Perspektif)

Darussalam – Jumat (16/3) UKM PA-LH Metalik (Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam dan Lingkungan) menggelar acara pelepasan bagi anggota yang akan menjalankan pendidikan lanjutan (DIKJUT). Kegiatan ini merupakan program rutin tahunan yang diikuti oleh angkatan muda Metalik, dan untuk kali ini mereka akan menuju Glee sijuk di Desa Jantho Baroe, Aceh Besar mulai tanggal 16 hingga 26 Maret 2018. Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 8 orang, 4 diantara perempuan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah skill dan kemampuan dari angkatan muda Metalik.

Sejauh ini, persiapan yang dilakukan oleh tim tidak mengalami kendala dan berjalan dengan lancar. Sebelum pendidikan lanjut diadakan, pihak panitia melakukan latihan fisik untuk para peserta. Selama berlangsungnya kegiatan ini, angkatan muda Metalik akan belajar navigasi, bertahan hidup di alam bebas, manajemen perjalanan, manajemen logistik, dan juga mempelajari P3K.

“Persiapan untuk kegiatan ini dilakukan selama 2 bulan dari pertengahan bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan Maret dan dirancang dengan sangat matang yang akan selesai pada bulan April setelah tim dari lapangan turun kembali,” ujar maulana selaku ketua panitia.

Kegiatan ini tak hanya sekedar menjadi program tahunan untuk angkatan muda metalik, tetapi juga  memberi pengaruh terhadap  Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Hal ini dikarenakan pendidikan lanjutan Metalik memiliki nilai positif yang memberi efek bahwa Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis mampu melestarikan alam sekitar tak hanya di lingkungan fakultas saja tetapi juga menelusuri daerah-daerah yang ada di Aceh.

“Harapan untuk Kegiatan ini semoga dapat berjalan dengan lancar dan pendakian selama disana dapat dilaksanakan dengan mudah. Semoga para peserta yang mengikuti kegiatan ini sampai pada tujuan dengan selamat dan pulang kembali dalam keadaan sehat,” tutupnya  (RJ)

ASENeT 2018 : Berangkat dari Ekonomi Kreatif

ASENeT 2018 : Berangkat dari Ekonomi Kreatif (Foto: Susilo/Perspektif)

Darussalam – Asean Student Entrepreneurship Network (ASENeT) sukses dihelat di gedung AAC Dayan Dawood (15/3). Acara bertaraf Internasional yang diselenggarakan dua kali tersebut resmi dibuka oleh Dr. Iskandarsyah, S.E., MM. diikuti Rektor Universitas Syiah Kuala, dan Dr. Muhammad Dimyati.

“ASENeT adalah sebuah kegiatan dibidang kewirausahaan yang sudah kita mulai pada 2016 di Universitas Sains Malaysia dan di acara kedua kali ini kita berkesempatan menjadi tuan rumahnya,” ucap Iskandarsyah selaku ketua panitia ASENeT 2018.

Dalam pidato pembukaannya Rektor Universitas Syiah kuala menegaskan bahwa kita harus mendorong Entrepreneur agar menjadi bagian yang mempunyai kontribusi dalam membangun ekonomi. “Ekonomi Kreatif harus menjadi sorotan untuk ASEAN,” tambahnya.

“Pesan pak Jokowi kita harus menjadi pisat pendidikan teknologi dan peradaban di dunia, semua itu berangkat dari ekonomi kreatif”. Sambung Dr. Muhammad Dimyati, perwakilan dari Menristekdikti.

Acara pembukaan konferensi diikuti oleh mahasiswa baik lokal dan Internasional serta beberapa masyarakat lainnya. Di balik kegiatan tersebut, Expo yang telah dibuka terlebih dahulu (14/3) makin terlihat ramai oleh pengunjung. Deretan stan yang diisi oleh berbagai Universitas dan instansi seperti Inkubator, Universitas Sains Malaysia, Universitas Andalas, SOS children Village, BQ Darul Mizan, Universitas Negeri Riau, Universitas Teuku Umar, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret, dan lain-lain.

“ASENeT tahun ini sangat meriah, so boleh kenal negara orang di Aceh dan boleh kenal dekat lagi dengan usahawan-usahawan Indonesia. First impression saya, yang menarik yang buat saya kagum ialah dia punya sistem sangat cepat dalam tangani kebutuhan acara,” ucap Siti Nurul Aishah Awang yang merupakan delegasi dari Malaysia.

ASENet kedua tahun ini diharapkan dapat membawa pengaruh positif yang besar bagi semua kalangan dalam berwirausaha. Kini saatnya menjalin relasi dengan teman-teman internasional. (Mev, lo).

Mengintip Persiapan ASENeT 2018

Mengintip Persiapan ASENeT 2018 (foto:Perspektif)

Darussalam – Selasa (13/3) Perluas jaringan, itulah dua kata yang hendak diwujudkan dalam Asean Student Entrepreneurship Network (ASENeT) 2018. ASENeT merupakan suatu acara bertaraf Internasional Se-Asean dimana akan berkumpul para mahasiswa dengan mimpi yang sama untuk berwirausaha. Acara yang akan diselenggarakan pada 14-18 Maret 2018 di Universitas Syiah Kuala itu bertemakan ‘Creative Entrepreneur for Creative Economy’.

“Kenapa se-Asean? Karena kedepannya, tetangga kalian bukan lagi sebelah rumah tapi ASEAN. Perbanyak teman dan jaringan, paling kurang ASEAN. Kita juga mengkomunikasikan dengan perkembangan UMKM. Ini pertemuan kedua, setelah yang pertama di Universitas Sains Malaysia (USM),”. Ucap Dr. Iskandarsyah, S.E, M.M (10/3) selaku ketua panitia ASENeT 2018. ASENeT sendiri bertujuan untuk menciptakan relasi yang lebih luas bertaraf internasional dan juga mengajak mahasiswa serta masyarakat tergerak dalam berwirausaha.

ASENeT akan diisi dengan berbagai macam kegiatan seperti expo, konferensi, dan beberapa workshop.  Untuk expo akan ada booth pameran kuliner, fashion dan lain-lain. Selain itu acara ini juga turut diisi dengan berbagai perlombaan menarik lainnya seperti fotografi, perencanaan bisnis, akustik, stocklab, rangking 1 dan yang paling menarik adalah Mobile Legend (ML). “Jangan hanya melihat gamenya, tapi lihatlah alasan dibaliknya. Kita bermain dengan strategi itu kuncinya. Game ini memiliki potensi besar sebagai sumber devisa pemerintah, bisa menginspirasi mahasiswa maupun masyarakat untuk menciptakan suatu inovasi baru,” pungkasnya.

Dr. Iskandarsyah, S.E, M.M Saat Di Wawancarai Tim Perspektif (Foto:Perspektif)

Sedangkan untuk acara konferensi sendiri hanya akan diadakan satu hari yaitu di tanggal 15 Maret 2018 dengan mendatangkan enam pembicara utama  seperti Menteri Ristekdikti, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif dan banyak lainnya. International Entrepreneurship Conference ini terbuka untuk umum. “yang berbeda ditahun ini ialah kami lebih banyak mengadakan workshop, dengan beberapa pemateri handal dibidangnya,” tambahnya.

Dalam acara ASENeT juga akan mempersembahkan beberapa penampilan diantaranya tarian Aceh, vocal solo, akustik, dan International Performance. Sejauh ini persiapan yang dilakukan untuk acara ASENet sudah mencapai 80-90 persen. Dengan adanya acara ini semoga lahir ide-ide kreatif dan semangat untuk berwirausaha serta menambah jaringan kita semua. (Mev, sa)

iESA adakan Latihan Kepemimpinan Public Speaking & Keorganisasian

iESA adakan Latihan Kepemimpinan Public Speaking & Keorganisasian (foto; Ghrina/Perspektif)

Darussalam – Minggu (11/03) Islamic Economics Students Asossiation (iESA) mengadakan acara Pelatihan Kepemimpinan Public Speaking & Keorganisasian yang dilaksanakan di balai sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis ( FEB ) Unsyiah. Acara ini mengusung tema “ membentuk kader- kader pemimpin yang memiliki kualitas integrasi tinggi dalam mengemban tanggung jawab” dan diikuti oleh mahasiswa Ekonomi Islam. Tujuan dari acara ini ialah mengenai pelatihan kepemimpinan dalam berorganisasi.

“Tahun ini pelatihan yang diadakan lebih kepada tanggung jawab, karena tanggung jawab ini sudah pudar dikalangan mahasiswa. Oleh karena itu jagalah tanggung jawab yang sudah diberikan, jalankan amanah dengan sebaik- baiknya. Acara ini harus diikuti, karena mengajarkan hal- hal dasar tentang kepemimpinan dan keorganisasian yang susah untuk didapatkan ditempat yang lain,” sebut Muhammad Zuhdi selaku ketua panitia.

Kali ini iESA mengundang Nasrudin Hasan, SH., M.H. yang berasal dari KIP Provinsi Aceh. Nasrudin menjelaskan mengenai pentingnya pemimpin yang baik. Keberanian seorang pemimpin sangat penting dalam memimpin apapun. Baginya,pemimpin yang baik itu seperti Rasulullah SAW. “Ciri-ciri pemimpin yang baik adalah yang beriman, bertaqwa,adil,dan jujur. Itu semua terkandung pada sifat nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW,” paparnya.

Ammar Fuad SE., M.M. selaku mantan ketua BEM 2006 juga diundang sebagai pembicara dalam menyampaikan materi tentang keorganisasian, tanggung jawab, kerjasama dan sebaiganya. Beliau adalah ketua BEM yang sangat berpengalaman khususnya dalam bidang keorganisasian dan juga banyak berkecimpung diorganisasi- organisasi lainnya.

Selain Nasrudin Hasan dan Amar Fuad, acara ini juga dihadiri Haikal Saputra yang juga merupakan ketua umum iESA tahun 2014. Dalam penyampaian materi haikal menceritakan mengenai history iESA, yaitu dari awal terbentuknya iESA hingga sampai saat ini.

“Mengikuti organisasi itu, tidak ada ruginya, banyak sekali manfaat dalam mengikuti organisasi ini kedepannya dan selama di organisasi ambillah nilai- nilai kebaikan kehidupan moral dan etika untuk diterapkan,” pesan haikal.

Acara juga diselingi dengan pemaparan program kerja disetiap bidang- bidang  selama satu periode kedepan. “ jika kita tidak berani mengambil resiko,kita tidak akan berprestasi.maka jangan pernah takut untuk beresiko dan lakukan lah sesuatu yang dapat memberi manfaat kepada orang lain” tutup Abthal Aufar selaku ketua himpunan IESA 2018. (Ghr,la)

Sambut Kepengurusan Baru, HMM Adakan Welcoming Staff 2018

 

Sambut Kepengurusan Baru, HMM Adakan Welcoming Staff 2018 (foto: Fahmi/Perspektif)

Banda Aceh – (11/3) Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) FEB Unsyiah menggelar acara ‘Welcoming Staff 2018’ yang merupakan acara silaturahmi dan penyambutan kepengurusan 2018. Bertempat di Pantai Pulau Kapuk, Lhoknga. Acara ini juga turut dihadiri oleh pengurus HMM tahun 2015, 2016, 2017 dan 2018.

Alam Mufid selaku ketua umum HMM 2018 menjelaskan bahwa acara ini merupakan acara internal kebersamaan dan sebagai wadah silaturahmi bagi para anggota.

“Acara ini tujuan nya ingin mendekat kan setiap anggota agar tidak ada lagi rasa canggung dengan satu dan yang lain, dan membuat semuanya merasa memiliki HMM secara bersama,” ujarnya.

Acara dibuat sedemikian rupa agar tujuan untuk lebih menjadi akrab terjalin sesama anggota HMM. Tak hanya saling sharing acara juga diselingi dengan bakar-bakar ayam dan makan bersama, serta permainan-permainan seru yang ikut mengisi acara tersebut.

Acara Juga Diselingi dengan Berbagai Permainan Yang Seru (foto: Fahmi/Perspektif)

Suasana yang begitu ‘mesra’ turut menarik salah satu peserta untuk memberikan tanggapannya. Anggota baru PSDM HMM mengatakan acaranya terasa begitu asik karena tidak membedakan mana senior dan junior.

“Pengennya sih lebih ramai lagi, karena tidak semua anggota yang ikut dan juga semoga nggak cuma di sini aja solidaritas dan kebersamaan nya ada, tetapi untuk kedepannya juga tetap ada,” tutupnya. (Tuah)

HIMAKA Saweu Gampong, Bentuk Nyata Pengabdian Masyarakat

HIMAKA Saweu Gampong, sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (foto:Syawal/Perspektif)

Darussalam – Minggu (11/03) Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKA) adakan acara perdana yang sebelumnya belum pernah dilaksanakan. HIMAKA Saweu Gampong sebutannya. Acara ini merupakan program kerja terbaru ditahun 2018 dengan mengusung tema “Tapeurenoe aneuk nanggroe nyankeuh beut geutanyo.”

Program ini merupakan program usulan dari M.Fajar ikram yang merupakan kabid sosial HIMAKA. “Kami mengajukan program ini karena sesuai dengan Tridarma perguruan tinggi yang salah satunya adalah pengabdian. Tak hanya terpangku sebatas kampus saja, namun sebagai mahasiswa haruslah mengabdi kepada masyarakat. Menambah kepedulian akan sesama, serta program ini juga mendukung pemerintah untuk mencapai “sustinable devolepment goals” atau yang disebut pembagunan berkelanjutan,” jelasnya.

Acara yang berlangsung di Gp. Lambiheu Siem, Aceh besar ini disambut hangat oleh Geuchik yang juga dulunya merupakan Mahasiswa Ekonomi Unsyiah. Antusias anak anak sangat terpancar dari sikap yang diberikan. Hal ini pula dapat dinilai dari keikut sertaan 25 orang anak laki laki dan tiga orang anak perempuan yang juga ikut memeriahkan acara ini.

Tak hanya pemaparan materi, acara juga diisi dengan menampilkan video tentang ajakan menabung bersama, serta lomba menghias celengan dengan menggunakan Origami yang dapat mengasah keterampilan mereka dalam menghasilkan sebuah karya. Mereka juga diberikan bingkisan serta stiker sebagai kenang kenangan yang merupakan salah satu bentuk apresiasi.

“Alhamdulillah acara HIMAKA saweu gampong di desa lembiheu siem berjalan dengan lancar meskipun ada beberapa kendala yang dapat menjadi pembelajaran kami untuk kegiatan kedepannya, dan saya selaku ketua panitia sangat berterimakasih kepada seluruh panitia dan juga seluruh presidium HIMAKA  yang telah membantu sehingga acara ini berjalan dengan lancar,” ujar Muntasir selaku ketua panitia.

Acara ini akan kembali diselenggarakan untuk yang ke-dua kalinya di Gp.Mata ie, Montasik Aceh Besar  pada tanggal 17 Maret 2018.

M fajar ikram yang juga merupakan salah satu mahasiswa akuntansi angkatan 15  menyampaikan harapannya untuk acara ini bahwasanya semoga acara ini menjadi program kerja yang berkelanjutan dan dengan adanya acara ini mahasiswa dapat lebih mendekatkan diri kepada anak anak dan memberikan dampak positif bagi pengetahuan mereka. Semoga 2- 3 tahun kedepan HIMAKA dapat memiliki Desa Binaan. (Wal)

KBM Ekonomi Unsyiah Salurkan Bantuan Untuk Korban Sinabung

Penyerahan Secara Simbolis Bantuan Dari KBM FEB Unsyiah Untuk Disalurkan Kepada Korban Erupsi Sinabung (Foto: Hasan/Perspektif)

Darussalam – (9/3) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Ekonomi melalui perwakilan ketua lembaga mahasiswa serahkan bantuan kemanusian sinabung ke ACT (Aksi Cepat Tanggap) cabang banda aceh. Bantuan ini terdiri dari 10 sak beras, 10 Kotak mie instan, minyak goreng, gula, hingga beberapa kotak pakaian bekas  juga uang tunai sebesar Rp 6.903.000. Semua bantuan berasal dari mahasiswa, UKM dan HMJ serta dari pihak dekanan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Ketua BEM FEB Rais Mukhayar mengatakan bahwa penggalangan dana dilakukan sejak tanggal 24 februari sampai dengan 8 maret 2018.  Salah satu strategi penggalangan dana yang dilakukan ialah dengan mengadakan acara amal ‘Nonton Bareng Aceh Documentary Film’ pada sabtu (3/3) lalu di aula FEB Unsyiah.

“Untuk penggalangan dana sudah dilaksanakan sejak 24 Februari kemarin hingga sore tadi. Sebenarnya sampai pada acara nonton bareng kemarin sebagai malam puncaknya, namun kami masih membuka kesempatan untuk menyumbang hingga hari ini,” ungkapnya.

Belakangan ini gunung sinabung terus melakukan aktivitas vulkanik dan terjadi beberapa kali erupsi, namun pada senin pertengahan Februari lalu, sinabung kembali erupsi besar dan adanya luncuran awan panas dari kawah sinabung sehingga ribuan warga di sana harus mengungsi meninggalkan rumah dan ladang pertanian mereka. Hal tersebut tentu menjadi fokus keprihatinan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimana puluhan keluarga harus tinggal dalam camp-camp pengungsian.

“Kondisi sangat memperihatikan dimana mereka masih tinggal di dalam pengungsian dengan segala serba keterbatasan,  bahkan anak anaknya harus bersekolah di camp pengungsian. Bisa kita bayangkan sendiri bagaimana keterbatasan yang mereka miliki dan mata pencaharian yang hilang,” jelas Lisdayanti selaku perwakilan ACT  yang menyambut rombongan KBM FEB sore kemarin.

Atas segala bantuan yang di serahkan oleh pihak FEB sore tadi ia juga turut memberikan apresiasi yang besar atas keaktifan para mahasiswa dan anak muda dalam dunia kamanusiaan dan kepedulian sesama.

“Alhamdulillah apresiasi yang sangat besar untuk teman teman semuanya sebagai kaum muda, atas kemauan teman teman sebagai anak muda dan sebagai mahasiswa untuk ikut aktif dalam dunia kemanusian dan kepedulian terhadap sesama,” tambahnya.

Dana yang terkumpul kan ini juga akan di salurkan secepatnya di bulan ini, melalui ACT Medan hingga tersalurkan langsung ke lokasi, dan dapat segera di terima oleh pihak korban yang membutuhkan.

Rais mewakili KBM juga berharap bantuan yang telah terkumpulkan dapat bermanfaat untuk para korban Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Hal ini juga merupakan sebagai bentuk untuk menambahkan rasa kepedulian kita terhadap sesama.

“Kalau dulu tahun 2004 kita dibantu sama orang mungkin melalu kegiatan seperti ini kita dapat membantu orang, dan mungkin kedepan nya gak menutup kemungkinan kita akan di bantu kembali sama orang, karena kita makhluk sosial jadi saling membantu satu sama lain,” tutupnya. (Tuah)