Komentar BEM FEB terkait Polemik RAPBA aceh

Komentar BEM FEB terkait Polemik RAPBA aceh

Darussalam – Anggaran Pengeluaran Belanja Aceh (APBA) kembali menjadi perbincangan hangat dalam keseharian masyarakat Aceh. Selasa (20/2) mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)  kembali melakukan demo di Gedung DPRA. Terkait dengan RAPBA yang belum kunjung disahkan oleh DPRA dan Pemerintah Aceh sejak 31 desember 2017.

Rais Mukhayar selaku ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) turut memberikan komentar mengenai kelalaian pemerintah dalam menangani RAPBA.

“Ini adalah permasalahan yang sama kembali mecuat setiap tahunnya yaitu peresmian APBA yang berlarut-larut. Permasalahan ini memakan waktu cukup lama dan berdampak pada terhambatnya pembangunan sarana dan prasarana di Aceh,” Pungkas Rais.

Selain itu, game theory juga berlangsung didalam kasus ini. Tidak akan ada win win solution, akan terjadi lose lose solution. Kedua pihak akan saling dirugikan. Seharusnya pemerintah lebih mengutamakan rakyat. Tidak perlu mempertahankan prinsip dan kepentingan individu. Hal ini membuat seluruh masyarakat menjadi kecewa.

Rais berharap, pihak pemerintah Aceh dan DPRA dapat membangun komunikasi yang baik di masa mendatang. Karena berbicara mengenai RAPBA tentunya berkaitan dengan adanya konflik kepentingan yang berdampak pada kesejahteraan rakyat Aceh. Kesejahteraan dan keberhasilan pertumbuhan ekonomi Aceh sangat bergantung pada APBA.

“Mengenai demo yang dilakukan oleh mahasiswa Unsyiah sendiri, saya sedikit kecewa karena dari pihak BEM Unsyiah tidak ada koordinasi. Namun kami tetap memberikan apresiasi terhadap BEM Unsyiah yang menyuarakan hal baik untuk rakyat Aceh.” Komentar Rais ketika ditanyai tentang demo yang berlangsung di Gedung DPRA. (Sul, RJ)

Semarakkan Semangat Organisasi Melalui Economic Student Day

KBM Ekonomi adakan Economic Student Day (mevi/perspektif)

Darussalam – Senin (26/02) Tampak ada yang berbeda dari segi penampilan dari seluruh anggota UKM ataupun HMJ dilingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah (FEB). Tak seperti biasanya mereka tampil dengan memakai seragam PDH di luar kegiatan organisasi. Hal ini terjadi karena adanya Economic Student Day yang merupakan sebuah inovasi baru dari BEM yang mengharuskan memakai baju PDH pada setiap hari senin.

Pada dasarnya alasan dari Rais selaku Ketua BEM 2018 mengenai kebijakan yang dicetuskannya ialah agar mahasiswa mengenal organisasi yang ada dilingkungan FEB. Dan hal ini juga sudah disepakati bersama  dalam diskusi bersama KBM ( Keluarga Besar Mahasiswa ) Ekonomi.

“Sebenarnya ini bukan peraturan yang tertulis atau peraturan dari pihak ekonomi, tetapi ini hanya untuk mengenal isi ekonomi kita sendiri. Kebijakan ini juga bukan peraturan yang khusus , jadi tidak ada sanksi atau bentuk apapun, ini hanya suatu regenerasi untuk ekonomi kedepan,” Papar rais.

Besar harapan dari ketua BEM agar para mahasiwa dapat menerapkan kebijakan tersebut secara tidak apatis dan menjadi regenerasi yang baik.

Hal ini lantas mengundang banyak perhatian mahasiswa FEB. Mereka lebih cenderung menilai kebijakan ini sebagai suatu inovasi baru.

Dan bagi mahasiswa yang aktif dibeberapa ormawa FEB tidak perlu terlalu ambil pusing mengenai kebijakan yang dicetus. Mahasiswa tersebut diberi kebebasan untuk memilih baju PDH yang hendak dipakai. (Ghrin,Mi)

 

Mengenang Sosok Alm. M Yacob Abdi Semasa Hidupnya

Mengenang Sosok Alm. M Yacob Abdi Semasa Hidupnya

Darussalam – Innalillahi wainnailaihirajiun. Tepatnya hari Jumat, 23 Februari 2018 kabar duka datang dari Bapak M. Yacob Abdi yang merupakan mantan Wakil Dekan III periode 1991-1996. Beliau dikabarkan menghembuskan nafas terakhirnya di Medan dan dikebumikan di Banda Aceh Ajuen Jempit. Kabar yang beredar cepat tersebut menuai antusias para Mahasiswa FEB Unsyiah maupun alumni dengan memberikan belasungkawa melalui sosial media yang mereka miliki.

Tak hanya menjabat sebagai Wakil Dekan III saat periodenya. Ternyata Almarhum dulunya juga merupakan alumni FEB Unsyiah dari Jurusan Ekonomi Manajemen dan Beliau juga seorang dosen pada jurusan Akuntansi dan juga pada D3 Manajemen Pemasaran pada masanya.

Mengenang kembali sosok Alm. Yacob Abdi dimata WD III periode ini, Murkhana ingat betul saat dirinya mengikuti program seleksi beasiswa, bahwasanya yang menyeleksi tersebut adalah almarhum. Dan alhamdulillah Ia lulus pada program tersebut.

“Beliau adalah orang yang sangat Objektif sebagai seorang WD III saat periodenya, karena ia mampu menyesuaikan kebutuhan mahasiswa yang sangat Memerlukan beasiswa tersebut,” Ujar Murkhana.

Murkhana menyatakan bahwa semasa beliau WD III, beliau sangat memberikan perhatian serius kepada Mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi. Banyak Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ketika ia menjadi dosen di Fakultas Ekonomi.

Murkhana menyatakan bahwa beliau sangat memberikan perhatian serius kepada Mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi

Alm. Yacob Abdi dikenal ramah, pergaulan luas dan beliau orang yang peduli sekalipun ia sudah pensiun, beliau tetap mengunjungi Fakultas Ekonomi saat acara “Meugang” maupun buka puasa bersama. Beliau juga mendukung penuh aktifitas dikampus seperti UKM maupun HMJ.dan sering memberikan masukan serta nasihat kepada mahasiswa- mahasiswa.

Sosok M Yacob Abdi begitu dikenang saat kepergiannya terutama mahasiswa/i FEB Unsyiah. Beliau yang dulunya pernah mengukir sejarah di kampus kuning sekarang hanya dapat dikenang. Seperti bunyi pribahasa “Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang dan Manusia mati meninggalkan nama.”

Mari kita doakan bersama agar amal ibadah beliau diterima disisi-Nya amin yarabb.(WAL)

Sosok Baru Mawapres FEB 2018

 

Darussalam – Mahasiswa Berperstasi (Mawapres) 2018 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala hadir dengan sosok baru yaitu Nadia, mahasiswi S1 Akuntansi yang beruntung terpilih menjadi ikon Mawapres 2018 dengan IPK tertinggi.

Dijumpai Kamis (22/2) dilingkungan kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, Nadia menceritakan perihal dirinya terpilih menjadi Mawapres ditahun 2018. Mawapres ini sendiri memilih Mahasiswanya melalui Indeks Prestasi atau IP yang diraih oleh Mahasiswa yang ditunjuk langsung oleh ketua Prodi masing-masing serta Dekan Fakultas, dan Nadia salah satunya yang terpilih menjadi Mawapres 2018 mewakili Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala ditingkat Universitas seluruh Indonesia.

Mahasiswa yang terpilih dituntut mampu membuat essay serta fasih berbahasa inggris dalam berbicara maupun lainnya. Dalam hal pengadministrasian mahasiswa terpilih diwajibkan melampirkan dan melengkapi dokumen beserta sertifikat prestasi yang pernah dicapai baik tingkat Nasional maupun Internasional.

Ditingkat universitas, Nadia membagikan pengalamannya mengenai pembekalan apa saja yang diberikan Universitas kepadanya yakni diantaranya pengetahuan umum tentang pilmapres, pembentukkan karakter, interview, tata cara membuat karya ilmiah, metode efektif dalam presentasi, public speaking, serta bagaimana cara menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama.

“Kuliah bukanlah tentang kita menuntut ilmu saja atau melanjutkan pendidikan kita ke jenjang yang lebih tinggi. Didalam kuliah ini kita tidak hanya saja belajar mata kuliah dengan dosen saja dan pulang kembali kerumah. IPK adalah hal yang penting dalam perkuliahan. Namun jangan fokus terhadap satu hal saja, setelah lulus nanti tidak IPK saja yang kita andalkan, kita memperlukan skill dalam berorganisasi. Untuk itu diperlukan keaktifan kita atau Mahasiswa dalam Himpunan Mahasiswa maupun Unit Kegiatan Mahasiswa dilingkup fakultas maupun universitas, yang nantinya akan menambah wawasan serta pengalaman kita semasa kuliah,” ujar Nadia.

Nadia juga tidak lupa membagikan motivasinya selama ikut kompetisi di ajang mawapres ini “apapun yang kita ingin capai didalam kehidupan kita, sebisa mungkin kita menerapkan sikap tidak mau pantang menyerah agar kita bisa mencapai apa yang kita inginkan, serta membanggakan orangtua karena yang baik akan berbalik baik kepada kita sendiri,”. (VN,RZ)

Apa kabar almamater 2016?

Apa kabar almamater 2016? (mevi/perspektif)

Darussalam-Almamater merupakan identitas diri bagi mahasiswa. Indentitas tersebut menandakan pula dari mana mereka berasal serta menjadi suatu kebaanggan tersendiri terlebih saat menjadi Mahasiswa Baru disuatu universitas. Namun bagaimana jika almamater tak kunjung dibagikan? Apa penyebab dibalik keterlambatan tersebut? Lalu etiskah keterlambatan pembagian almameter ini terjadi?

Sangat disayangkan, namun faktanya hal ini yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala terkhusus bagi angkatan 2016. Keterlambatan tersebut bahkan sudah berjalan hingga semester keempat terhitung sejak awal masuk ditahun 2016.

Jika dikaji kembali, hal ini bukanlah kali pertama terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Pada tahun 2015 hal yang sama pernah terjadi, dimana angkatan 2015 tidak mendapat almamater diawal mula perkuliahan tetapi ditahun berikutnya.

Dilihat dari system pembagiannya, sebelum tahun 2015 pembagian Almamater dimulai dari Biro rektorat lalu diberikan kepada pihak Fakultas. Selanjutnya diambil alih oleh Wakil Dekan III dan kemudian diberikan kepada Pihak BEM FEB untuk meembagikan kepada Mahasiswa. Namun ditahun 2015 sistem pembagian almamater sedikit berbeda, dimana pembagiannya tak lagi ditangani oleh pihak BEM melainkan langsung oleh pihak Dekan Kemahasiswaan.

Sedangkan ditahun 2016 pembagian almamater kembali lagi pada system semula yaitu pengambilan almamater melalui pihak BEM FEB. jika ditinjau lebih lanjut pihak fakultas bahkan belum mempunyai ketetapan khusus mengenai almamater. Padahal hal ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi Fakultas, mengingat sudah pernah 2 (dua) kali terjadi “keterlambatan” pembagian almamater di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Pihak BEM FEB 2018 menyatakan “Almamater angkatan 2016 sudah tersedia. Tetapi hanya sebagian dari totalnya.” Sangat disayangkan hingga saat ini almamater tersebut sepenuhnya belum berada dipihak BEM, sedangkan almamater untuk angkatan 2017 sudah dibagikan. “Keterlambatan ini bisa terjadi karena faktor miss komunikasi antara pihak dekan dengan pihak BEM sebelumnya”  lanjutnya.

Apa sebenarnya yang menjadi faktor sampai keterlambatan ini terjadi.? (AH, LZ)

Rais Ikut Komentari Aksi Kartu Kuning Jokowi : Pemerintah Fokus Membangun Negeri atau Fokus Membangun Citra?

BEM ekonomi Ikut Komentari Aksi Kartu Kuning Jokowi (mevi/perspektif)

[Read more…]

Perlukah UP3AI Punya Ruangan Sendiri ??

Perlukah UP3AI Punya Ruangan Sendiri ?? (Mevi/Perspektif)

Darussalam-Fakultas Ekonomi dan Bisnis memiliki bangunan yang digunakan sebagai pusat kegiatan serta aktivitas mahasasiswa yang bernaung dalam organisasi mahasiswa baik UKM, HMJ maupun BEM dan DPM. Bangunan tersebut diberi nama Student Center, namun mahasiswa lebih sering menyebutnya Sekber (sekret bersama).

Student Center merupakan wahana pengembangan minat, bakat, dan aktivitas mahasiswa. Tidak hanya dijadikan sebagai tempat “nongkrong”, Sekber sudah selayaknya rumah kedua bagi setiap mahasiswa yang aktif berorganisasi, dengan kata lain sekber juga merupakan tempat bagi ormawa (organisasi mahasiswa) dalam menjalankan kehidupan organisasinya di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala.

Bicara mengenai Ormawa dan sekret nya, seperti yang kita ketahui bersama bahwa kepengurusan ormawa yang bernaung di fakultas ekonomi dan bisnis baru saja berjalan sekitar seminggu, sejak acara pelantikan kepengurusan yang baru. Semua ormawapun mulai menjalan kan program program kerja nya dalam setahun ini. Namun di sela-sela itu beredar kabar bahwa bakal ada “teman” baru yang akan ikut mengisi sebuah ruangan yang ada di sekber. Yakni UP3AI (Unit Pengembangan Program Pendamping Mata Kuliah Agama Islam). Namun apakah hal ini benar?  mengingat UP3AI bukan lah merupakan bagian dari sebuah Ormawa.

Mengenai hal ini Rais Mukhayar selaku ketua BEM memberi tanggapan bahwa tidak mengetahui hal ini karena tidak adanya konfirmasi dari pihak UP3AI sendiri namun sudah mendapat penjelasan dari pihak Wakil Dekan II Ridwan, S.E, MM bahwa hal ini merupakan tuntutan dari pihak UP3AI Universitas agar UP3AI memiliki ruangan sendiri.

“Mengenai hal ini tidak ada koordinasi juga, BEM baru tahu setelah orang-orang itu (UP3AI) bersih-bersih sekret di sebelah sana, padahal sekret tersebut sudah di tetapkan untuk menjadi sekret barunya DPM (Sekret kosong yang ada di sebelah BEM yang kini sudah di tetap kan menjadi sekret DPM)” jelas Rais.

Hal ini pula perlu dipertanyakan apakah berita tersebut  merupakan keputusan sepihak? Mengingat bahwa tidak adanya koordinasi maupun konfirmasi langsung kepada pihak mahasiswa.

Seberapa pentingkah UP3AI mendapatkan ruangan sendiri di pihak Student Center sedangkan di sisi lain masih ada ormawa yang lebih membutuhkan ruang gerak lebih luas untuk giat beraktivitas, dikarenakan ruang yang tidak layak ataupun akibat kekecilan. Mengingat UP3AI sendiri bukan lah merupakan sebuah ormawa, jika hal ini memang terjadi lalu apakah Student Center benar-benar dibangun sebagai pendukung, penunjang dalam kegiatan organisasi mahasiswa atau hanya sekedar nama.

Muhajir Paloh juga memberikan pendapatnya saat dijumpai oleh tim perspektif dan  menanyakan hal yang sedang hangat tersebut (14/02) ”Jadi sebaiknya pihak dekanan mengajak mahasiswa untuk berdiskusi, keputusan yang benar itu bagaimana. Jika memang student center kita ini luas dan sekret kita ada yang kosong, maka ini merupakan hal yang benar untuk di lakukan, namun mengingat kondisi kita ada ukm dan himpunan yang mungkin sekret nya masih sempit dan perlu perluasan, ini namanya sebuah diskriminasi. Dan terkait urgensi kenapa UP3AI ini perlu sekret, ini masih menjadi tanda tanya bagi mahasiswa.”

Jika  Student Center memang dibangun dan dimaksudkan untuk mahasiswa, lantas mengapa dijadikan tempat buangan bagi mereka yang membutuhkan ruangan. Tutuplah telinga dan mulailah mendengarkan satu suara bijak didalam. Apakah UP3AI perlu ruangan sendiri disini ?? (Sal, Frz)

Persatuan Jurnalis Kampus di Banda Aceh Adakan Workshop

Pembukaan workshop yang diselenggarakan oleh Persatuan Jurnalis Kampus (Sulthanah/Perspektif)

Banda Aceh – Maraknya konten hoax di media sosial maupun media online mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk dari kalangan Lembaga Pers Kampus dan Mahasiswa. Berangkat dari keprihatinan itu, Persatuan Jurnalis Kampus (PJK) Banda Aceh menggelar Workshop di Aula Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (15/2) dengan mengusung tema “Peran Pers Kampus dan Mahasiswa dalam Menghadapi Hoax”. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama dari Humas Aceh dan beberapa Lembaga Pers Mahasiswa diantaranya LPM Perspektif FEB UNSYIAH, LPM Lensa UNMUHA, UKPM Sumberpost UIN AR-RANIRY, dan UKM Pers Detak Unsyiah.

Ghifari Hafmar selaku ketua pelaksana menambahkan “Bahwa hoax tidak lagi jadi isu di daerah tapi sudah menjadi isu nasional. Hoax dibuat oleh orang pintar yang jahat dan yang menerima ialah orang baik yang bodoh, sehingga kita semua harus memberantasnya.”

Acara ini juga turut mengundang beberapa narasumber diantaranya Kurniawan S. SH., LL.M yang merupakan Dosen Fakultas Hukum Tata Negara Unsyiah, Sulaiman selaku Kabid Pengelola Informasi dan Dokumentasi dan juga Maimun Shaleh selaku Wartawan Senior.

“Hoax, ia menipu sesuatu seolah-olah sesuatu itu ada. Dalam perkembangannya hoax lebih banyak digunakan dalam aspek politisi, dimana banyak digunakan untuk menyerang atau menimbulkan luka dipihak tertentu. Jadi tujuan hoax itu sebagai alat propaganda atau alat pencitraan diri untuk menciptakan sesuatu yang tidak sebenarnya ada,” jelas Kurniawan S, SH., LL.M  kamis (15/2).

“Jika dilihat dari kacamata islam kita dapat melihat bahwa hoax selalu berisi tentang hal yang bersifat menyebarkan kebencian. Dalam surah Al-Hujurat ayat 6 yang maknanya jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Hoax ini musibah nasional yang apabila tidak diberantas akan menimbulkan masalah yang besar,” sambung Kurniawan.

Sedangkan menurut Maimun Shaleh mencegah hoax adalah salah satu cara menyelamatkan bangsa. “cara mengenali hoax dengan mudah ialah yang pertama lihat judul berita yang sudah pasti bombastis dan akhir berita pasti tertulis sebarkan atau viralkan, kurang lebih seperti itu. Kepalanya bikin panas dan di kakinya minta dipanaskan lagi. Itulah hoax,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Sulaiman Kabid Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Polda Aceh ikut menambahkan perihal hoax yang semakin membesar di masyarakat. “Pihak Polda Aceh telah mendapati beberapa kasus hoax yang beredar dan berhasil menyelesaikannya. Jadi tugas polisi adalah bagaimana kami dapat menangkis berita yang masuk ke media sosial yang ada, baik Internet, Youtube, WA, Instagram, Twitter, dan Facebook, kami setiap saat melakukan patroli untuk menjaga supaya Aceh ini aman. Maka disinilah kita harus berpikir kedepan bagaimana agar hoax ini tidak terjadi lagi, dengan kerja keras dari mahasiswa dan pihak-pihak lain,” tegasnya.

Acara yang dipandu oleh moderator Adi Warsidi, selaku ketua AJI Banda Aceh berlanjut dengan diskusi tanya jawab yang berlangsung selama 20 menit dan diakhiri dengan penandatanganan deklarasi bersama melawan hoax dari seluruh peserta yang hadir. (Mev)

Tahun 2018 untuk Kualitas Perspektif yang Lebih Baik

Darussalam – Rapat Kerja adalah acara pertama yang biasanya diselenggarakan setelah peralihan masa ke-pemimpinan. Minggu (11/2) LPM Perspektif menyelenggarakan acara pertamanya di Balai Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah yang dimulai pada pukul 09.30 WIB. Pada tahun ini Rapat Kerja Perspektif mengusung tema Estabilsh The Real Loyalty and Quality Work Program.

“Rapat Kerja tahun ini diharapkan sesuai dengan tema yang diangkat. Yakni, sikap Loyalitas atau Kesetiaan yang dapat ditumbuhkan oleh setiap anggota LPM Perspektif terhadap tanggungjawab mereka. Begitupula dengan adanya pergantian Pemimpin Umum yang baru diharapkan memunculkan Program Kerja yang bermutu demi meningkatkan kualitas kinerja anggota kedepannya.” Papar Ayu Khatijah selaku Ketua Panitia Raker.

Pada penyampaiannya Ayu berterimakasih kepada seluruh divisi Panitia Pelaksana terutama Sekretaris Panitianya Sulthanah Zulfika yang telah berkontribusi besar dalam acara Rapat Kerja yang dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

“Untuk tahun 2018 ada 9 Program Kerja yang nantinya akan diselenggrakan. Antara lain Rapat Kerja 2018 yang hari ini telah dilangsungkan, Sekolah Jurnalistik, Majalah Perspektif, Video Project, Mega Hunting, Pameran Foto dan Workshop, PJTD, City Tour dan Company Visit, dan Musyawarah Besar.” Sebut Jauhar pada pemaparannya

Acara juga diselingi dengan diskusi umum. Para Undangan Alumni dan Peserta begitu antusias memberikan pertanyaan serta saran mereka untuk penambahan sistem Program Kerja yang dipaparkan oleh Jauhar Ikhsan.

Jauhar Ikhsan, Mifta Septia Ningsih dan Wahyu Santoso berserta jajaran Presidium 2018 mengharapkan agar program kerja yang sudah diusung dapat berjalannya dengan lancar dan sukses. (Ayu K)

Dekan FEB Unsyiah Lantik Pengurus Organisasi Mahasiswa Periode 2018

 

Darussalam – Sabtu (10/18), Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala secara resmi melantik pengurus baru Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) serta pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala. Acara ini mengusung tema Intelektual Muda yang Berkarakter Religius dan Berjiwa Pemimpin untuk Kejayaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Dalam rangkaian acara tersebut, Dekan FEB Prof. Dr. Nasir Azis, S.E., M.B.A. menyampaikan sambutan yang pada intinya memberikan apresiasi bagi pengurus periode 2017, serta memberikan ucapan selamat bekerja bagi para kepengurus BEM, DPM, HMJ dan UKM 2018 agar berusaha lebih matang dan mantap sehingga diharapkan dapat membangun mahasiswa yang intelektual, berkarakter religius serta berjiwa.

“Didalam bidang keilmuan manajemen yang membahas tentang kepemimpinan sangat menekankan bukan hanya pada aspek planning akan tetapi lebih kepada aspek conclusion. Sehingga dalam menjalankannya perlu digaris bawahi mengenai pentingnya menjaga komunikasi. Hal ini diharapkan agar tidak adanya miss communication antar sesama lembaga dan juga pihak dekanan.” Jelasnya.

Adapun nama-nama ketua kelembagaan periode 2018: (1) Rais Mukhayar (BEM), (2) Reza Zulfianda (DPM), (3)  Hanafi (UKM BESTEK), (4) Yoland Dirga Oktaviano (UKM PA-LH METALIK), (5) Muhammad Jauhar Ihsan (UKM LPM Perspektif), (6) Zahlul Haykal (UKM LDF Al-Mizan), (7) Haykal Saputra (UKM EOC)  dan (8) Wahyu Sanjaya (UKM INKUBATOR).

Kevin Rizki Rayanda selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Pembangunan(HIMADIPA), Alfi Syahrin selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKA), Alam Mufid selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) dan Abthal Aufar selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam (IESA)

“Kepada seluruh pengurus terpilih agar dapat memajukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang lebih unggul dan mampu bersaing dikancah lokal maupun nasional, yaitu dengan cara berprestasi baik dibidang akademik maupun non- akademik. Dan hal yang lebih penting dari semuanya ialah tetap menjaga nama baik Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta nama baik institusi.” Tegas pak Murkhana diakhir pertemuan.(Sul)