KBM FEB Tegaskan Netral Dalam PEMIRA 2017

 

KBM FEB Tegaskan Netral Dalam PEMIRA 2017 (Jauhar/Perspektif)

Darussalam – Menutup akhir 2017, Unsyiah akan menyelenggarakan ajang pesta demokrasi bertajuk Pemilihan Raya (PEMIRA).  PEMIRA merupakan sebuah ajang praktik demokrasi mahasiswa, dan dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk memaknai arti demokrasi yang sesungguhnya dan juga melaksanakannya dan juga merupakan perwujudan demokrasi yang seutuhnya “dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa”.

Dalam ajang demokrasi tahunan kali ini, pihak Komisi Pemilihan Raya (KPR) Unsyiah menetapkan 5 calon yang akan maju dalam PEMIRA kali ini. Kelima calon tersebut adalah Ikhsan (FKIP),  Sakti arya dika(FKP), M Rizatul Fakhri (FKEP), Muhammad Yasir (Teknik) dan  Agam Rizky (FP).

Ditemui dalam Rapat Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Ekonomi, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB, Nasrul Anas menyatakan bahwa  KBM Ekonomi akan mendukung penuh pelaksanaan PEMIRA Unsyiah 2017.

Ia juga menyatakan bahwa Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah mempersilahkan setiap calon untuk melakukan kampanye dan juga pemasangan atribut di lingkungan FEB, asal tidak merusak fasilitas dan mengganggu ketertiban lingkungan kampus .

“Namun dalam hal ini, Saya menegaskan bahwa Pihak Ormawa selaku mewakili KBM Ekonomi tidak akan melakukan penyambutan terhadap Calon manapun” jelas Anas

Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk penegasan bahwa KBM FEB tidak melakukan keberpihakan terhadap salah satu Calon ketua BEM Unsyiah kedepannya.

“KBM ekonomi menyatakan tidak akan mendukung siapapun yang menjadi calon ketua BEM Unsyiah kedepannnya, Bukan berarti Golput, tetapi tidak akan menggiring massa dan tidak adanya bentuk dukungan apapun terhadap salah satu calon, tetapi kita tetap mendukung sepenuhnya Pemira Unysiah” Ujarnya.

Seperti yang di ketahui, PEMIRA Unsyiah 2017 akan di laksanakan pada Selasa, 19 desember 2017. Dengan waktu yang semakin dekat maka tensi dan gejolak politik mahasiswa akan semakin memanas. Ajang kampanye dan pengenalan calon juga disemarakkan oleh tim pemenangan tiap calon Presiden Mahasiswa di Kampus kebanggaan masyarakat Aceh ini.

Anas juga menambahkan bahwa tujuan diturunkannya pernyataan sikap dari KBM Ekonomi ini adalah untuk menghindari isu- isu yang beredar bahwa KBM Ekonomi mendukung dan berpihak kepada salah satu calon dalam permira Unsyiah 2017 ini (HT)

Mega Hunting 2017, Perspektif Akan Jajal Wilayah Barat Aceh

Foto Bersama Perwakilan ORMAWA setelah Pelepasan Mega Hunting 2017 (Indah/Perspektif)

Darussalam – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Perspektif kembali melaksanakan Mega Hunting untuk ke-tiga kalinya. Kali ini Perspektif akan menargetkan Lamno dan CRU Sampoiniet sebagai tujuan acara. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 1-3 Desember 2017.

Acara pelepasan siang tadi (30/11) dihadiri oleh Peserta Mega Hunting, Perwakilan Organisasi Mahasiswa dan Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Murkhana SE,MBA.

Dalam laporan ketua panitia Mega Hunting 2017, Mifta Septia Ningsih menjelaskan bahwa kegiatan Mega hunting  ini merupakan ajang untuk mengembangkan bakat  untuk anggota LPM Perspektif. Pengembangan bakat ini mencakup 3 aspek yaitu Videografi, Photografi, dan Jurnalis.

“Tujuan utama kami dalam acara ini adalah untuk mengeksplorasi kekayaan budaya dan sejarah di Aceh Jaya” Jelas Mifta.

Murkhana mengaku kegiatan Mega Hunting ini sangat didukung oleh pihak dekanan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

“Kegiatan ini bagus untuk anggota baru untuk mendalamkan jiwa jurnalistik agar kreativitas dari jurnalistik bisa mengarumkan nama mahasiswa/i unsyiah.” Tutupnya. (Rza)

Nazrul Anas: Calon Ketua BEM Diperkenalkan Setelah Sidang Umum DPM

Nazrul Anas: Calon Ketua BEM Diperkenalkan Setelah Sidang Umum DPM (Fahmi/Perspektif)

Ketua Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) merupakan pemimpin mahasiswa tertinggi di lingkup Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah. Namun, menuju detik-detik akhir periode ketua BEM FEB 2017, belum ada nama calon penerus organisasi tertinggi mahasiswa Ekonomi ini

Menurut Nazrul Anas, ketua BEM Ekonomi 2017, alasan mengapa calon ketua BEM belum diperkenalkan karena Komisi Pemilihan Raya (KPR) belum terbentuk dan tahap- tahapan mekanisme permiranya belum dilaksanakan “Dari segi pencalonan belum ada dan belum dibuka tahap pencalonan  calon ketua BEM oleh KPR.” Hal ini yang menjadi alasan calon ketua BEM belum diperkenalkan kepada mahasiswa.

Sesuai dengan peraturan Pemilihan Raya (PEMIRA), KPR dibentuk saat sidang umum DPM Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 17 Desember nanti .

”Setelah dilaksanakan sidang umum sekaligus penetapan Komisi Pemilihan Raya, KPR membuka mekanisme pemilihan raya, salah satunya pendaftaran calon ketua BEM, yang akan dilaksanakan di aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah, dimulai dari tes sampai penetapan ketua BEM baru nantinya,” Ucapnya.

Sementara itu, saat ditanya mengenai persiapan yang sudah dilakukan, Anas berkilah bahwa tidak ada intervensi untuk siapapun “Kita tidak mempempersiapkan orang,  siapa saja dapat menjadi ketua BEM. Siapapun yang menjadi ketua BEM akan kita dukung.” tambahnya.

Saya selaku ketua BEM saat ini tidak mempersiapkan siapapun  untuk menjadi pengganti saya kedepan, jadi seluruh mahasiswa FEB yang memiliki  syarat dan memenuhi menjadi ketua BEM, akan menjadi ketua BEM selanjutnya,” Jelas Anas.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh calon ketua BEM Ekonomi sesuai isi dalam AD/ART DPM. menurut penuturannya, Anas menjelaskan ada beberapa poin penting yaitu Bertaqwa Kepada Tuhan yang Maha Esa, minimal sudah menempuh 3 semester maksimal semester 7, dan tidak diperbolehkan berkegiatan aktif dalam partai politik.

Nazrul Anas selaku ketua BEM saat ini berharap,”Agar nantinya calon ketua BEM yang akan terpilih menjadi ketua BEM dapat menjaga marwah kampus pertama di Universitas Syiah Kuala ini.

“Kita bisa menjaga BEM dengan baik maka FEB akan baik, dan sebaliknya jika kita tidak dapat menjaga nama baik BEM maka isi dari FEB tidak baik.” tutupnya. (Ghr, Mik)

Hidupkan Semangat Literasi Lewat Islamic Book Fair

 

LDF Al Mizan Ajak Mahasiswa Gemar Membaca dan Menulis (Sulthanah/Perspektif)

Darussalam – Lembaga Dakwah Kampus Al Mizan kembali mengadakan event tahunan. Islamic Book Fair (IBF) diadakan untuk pertama kalinya menggantikan Mizan Fair yang dulunya sempat vakum selama tiga tahun. Acara ini berlangsung pada 27-30 November 2017.

Islamic Book Fair menghadirkan tema ‘Exploring Islamic Knowledge’. Dengan tema tersebut, ketua panitia Islamic Book Fair (IBF), Gaza Farhan menjelaskan bahwa target acara ini adalah membangkitkan semangat membaca & menulis.

“Kami berharap generasi Aceh saat ini kembali menggemari buku dan menulis” Ucap Gaza.

Islamic Book Fair (IBF) akan dilaksanakan selama tiga hari dengan berbagai rangkaian acara yang menarik, seperti Bedah buku nasional bersama Zaky Ahmad Rival (Penulis Buku Islam Gak Liberal), seminar ‘Ketika Islam Memuliakan Wanita’

Selain itu, juga diadakan beberapa lomba seperti Ranking 1 dan Hijab Competition. Pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai stand kuliner yang terdapat di sisi kanan aula Fakultas Ekonomi.

Meskipun peminat Islamic Book Fair tidak banyak seperti acara lainnya, panitia IBF sendiri tetap semangat dan mengambil sisi positifnya. “Sangat wajar jika acara yang belum marketable memiliki sedikit peminat. Selain itu, konsep acara yang berat juga menjadi salah satu faktor kurangnya peminat IBF.” Jelas Gaza (Sth)

 BEM Ekonomi Dalam Kacamata Mahasiswa

BEM Ekonomi Dalam Kacamata Mahasiswa (Ilustrasi)

Dalam Perguruan tinggi,khususnya fakultas kita pastinya tidak asing dengan istilah organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Organisasi mahasiswa dengan label “Eksekutif” ini menjadikan BEM FEB mempunyai pandangan tersendiri dari mahasiswa baik dari segi kinerjanya maupun kabinet-kabinet  didalamnya. Lalu,bagaimanakah pandangan mahasiswa terhadap BEM Kampus Kuning tersebut dan sejauh manakah organisasi ini dipandang oleh mahasiswa?

Mengingat salah satu misi dari BEM FEB 2017 adalah “Tumbuh bersama, maju bersama dengan seluruh mahasiswa yang ada diruang lingkup fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah”. Apakah misi tersebut sudah terealisasikan sesuai harapan?

Dari penilaian mahasiswa, banyak pendapat mengenai kinerja BEM di kampus kuning ini. Mulai dari eksistensi BEM dalam menjalankan programnya hingga sosialisasi kepada mahasiswa. Setelah tim faktanya yang sedikit mengejutkan. Bahwasanya ada mahasiswa yang tidak mengenal siapa ketua BEM FEB.

Seorang mahasiswa angkatan tahun 2016 yang tidak mau disebutkan namanya ini mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal siapa ketua BEM FEB Unsyiah dikarenakan kurangnya sosialisasi untuk civitas akademika di lingkungan kampus dan tidak adanya perihal struktur organisasi BEM FEB di tempat-tempat umum sekitaran Fakultas Ekonomi. Sehingga hal ini membuat mahasiswa sulit mengetahui tentang BEM.

Lantas  mengapa hal ini bisa terjadi? Namun, sebelumnya coba amati kembali mengingat kampus yang semakin lama semakin sepi menandakan banyaknya mahasiswa yang “Kupu-kupu” yakni mahasiswa yang kegiatannya hanya kuliah-pulang. Dan dari kacamata mahasiswa terlihat bahwa kantor BEM  FEB Unsyiah yang selalu kosong. Hal itu ditandai dengan pintu yang selalu digembok.  Apakah yang salah pada hal ini? Mahasiswa yang apatis atau sosialisasi yang tidak berjalan dengan baik? Pandangan andalah yang menentukan jawaban tersebut.

Terlepas dari itu semua, ada hal lain yang terbaca dari kacamata mahasiswa. Salah satunya pendapat yang datang dari ketua IMADEA, M. Ifaldi Phonna yang mengatakan “ BEM tahun ini (2017) lebih mudah diakses, khususnya ketua BEM nya dan lebih terbuka sehingga urusan yang bersangkut paut dengan BEM dapat lebih mudah diselesaikan”akunya.

Selain itu program-program kerja yang dijalankan dapat dikatakan sukses sebut saja EXCELLENT dan SAFE 2017 yang berhasil mengangkat nama Fakultas Ekonomi. Namun apakah “kemudahan akses” tersebut diperuntukkan untuk keseluruhan? Atau hanya untuk sebagian orang saja? Ini masih menjadi teka teki dalam kacamata mahasiswa.

Jadi, pada dasarnya kita kembali lagi pada fungsi BEM itu sendiri, bahwa BEM adalah organisasi intra kampus yang eksekutif dan menjadi tempat mahasiswa menyampaikan aspirasinya. Maka sudah saatnya BEM menjalankan fugsinya untuk menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa dengan civitas akademika di Kampus.

Sudah sepatutnya BEM dan mahasiswa itu harus saling berkolaborasi demi terwujudnya sebuah keselarasan dan tujuan bersama untuk Ekonomi yang lebih maju khususnya di lingkungan FEB Unsyiah. (AH, Syw)

 

 

Mahasiswa Perbankan Unsyiah Kembali Selenggarakan Siabank Cup 2017

Siabank Cup Jadi Ajang Silaturrahmi Mahasiswa (Nella/Perspektif)

Banda Aceh – Mahasiswa D-3 Perbankan kembali menyelenggarakan kompetisi futsal bertajuk Silaturrahmi Aneuk Perbankan (Siabank) Cup. Acara ini diadakan di fairplay futsal Stui pada 25-26 November 2017. Acara ini mengangkat tema “Sportivity Build Solidarity” yang memfokuskan pada silaturrahmi antara sesama mahasiswa.

Siabank Cup diselenggarakan selama 2 hari, antusias dari mahasiswa yang mengikuti pertandingan ini sangat Bagus dapat dilihat dengan banyaknya tim yg berpartisipasi.  Tidak hanya alumni, mahasiswa  manajemen, akuntansi, Ekonomi pembangunan dan beberapa tim gabungaan lainnya juga ikut serta dalam pertandingan futsal ini. Tercatat ada 19 tim yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.

“Tujuan diselenggarakan acara ini adalah terciptanya silaturrahmi antara sesama alumni dan mahasiswa agar saling mengenal satu sama lain. Perbedaan siabank cup tahun ini dengan tahun sebelumnya tidak berbeda jauh,  karena ini adalah acara tahunan silaturrahmi aneuk perbankan.” Ucap ketua panitia.

Himpunan Mahasiswa Manajemen keluar sebagai juara SIABANK Cup 2017 setelah berhasil mengalahkan tim HIMAKA dengan skor 3-1.  Maula cs berhasil mematahkan dominasi HIMAKA sepanjang pertandingan. Duet maut Rojal & Maula berhasil mencatatkan skor untuk HMM. Sedangkan skor untuk HIMAKA berasal dari sepakan kaki Miftahul Rizqa (Nel)

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi (Ilustrasi)

Slogan “kampus adalah rumah kedua bagi mahasiswa” bukanlah istilah yang asing terdengar di telinga setiap mahasiswa. Setiap kegiatan kampus sama layaknya kegiatan di rumah sendiri menurut mereka, entah kekeluargaan yang mereka dapatkan, pergaulan yang asik, atau sekedar menghiasi ruang kelas disaat jam kuliah yang dianggap sekedar tempat bertemu teman-temannya.

Kata ‘Kampus’ terkesan mulai kehilangan jiwa sebenarnya.  Kampus yang seharusnya diramaikan oleh aktivitas mahasiswa, entah kegiatan perkuliahan, diskusi kelompok, dan kegiatan organisasi. Kampus yang dulunya digunakan sebagai tempat bertukar ideologi, kini tak lagi terdengar suara-suara perubahan, semua hanya sibuk membaca teori-teori yang tertulis di buku tua nya.

Momentum pergantian dekan di awal tahun lalu, membuat kampus merubah beberapa regulasi dan menimbulkan atmosfir baru di lingkungan kampus tertua di Universitas Syiah Kuala ini.

Perubahan paling terasa terutama dibidang akademik disemester ganjil ini adalah tidak lagi diberlakukannya jam kuliah sore dan penambahan jam kuliah dihari Sabtu. Hal ini tentunya memberi dampak langsung bagi suasana kampus yang tak lagi seramai dulu. Faktanya,‘mahasiswa jaman now’ hanya datang saat ada jam kuliah saja.

Sebelumnya, keseharian mahasiswa bisa dilihat di perpustakaan, kantin, sekret UKM atau sekedar diskusi ringan di pekarangan kampus. Perpustakaan yang awalnya dipenuhi dengan mahasiswa yang sibuk dengan dentingan papan ketik persegi, lembaran huruf dan angka, atau hanya sekedar ‘berteduh’ dibawah sejuknya pendingin ruangan, mulai hilang satu persatu. Begitupun kantin yang mulai kehilangan pengunjung setianya.

Bagi mahasiswa yang baru mengenal dunia perkuliahan, hal ini bukan menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Penambahan jam mata kuliah di hari Sabtu bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam memilih jadwal atau mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) serta meningkatkan keefektifan kegiatan belajar. Memang benar, tidak semua mahasiswa mampu berkonsentrasi kuliah sore hari dengan 9 sks kuliah setiap hari.

Kegiatan belajar mengajar di hari sabtu juga menyebabkan kontak langsung antara mahasiswa yang satu dengan yang lain berkurang. Adanya jam perkuliahan yang di geser ke hari sabtu mempengaruhi kemungkinan mahasiswa memiliki jam yang berbeda lebih besar. Kuliah hari sabtu menyebabkan mahasiswa memiliki jam yang perkuliahan yang berbeda. Ketika satu mahasiswa datang, dua mahasiswa lagi hilang dan terus berlanjut.

Akibatnya suasana kampus yang digambarkan hidup menjadi tak terlihat lagi. Kampus yang seharusnya menjadi tempat penunjang mahasiswa, tempat terjadinya proses pembentukan diri, yang diramaikan dengan aktivitas mahasiswa sudah buram.

Kini, kampus terlihat seperti gambar dalam bingkai, nyata tapi diam. (Zla, Frz)

UKM-S Putroe Phang Rayakan Milad ke 22 Tahun

Artcoholic 9 dihiasi oleh berbagai penampilan seni oleh UKM-S Putroe Phang (Ayu/Perspektif)

Banda Aceh – UKM-S Putroe Phang Rayakan Milad-nya yang ke 22 tahun dengan mengadakan acara Pentas Seni yang dikemas dalam Artcoholic Exhibition 9 dengan mengangkat tema “Saboh Grak Keu Saboh Hase”. Acara ini merupakan acara tahunann dan diadakan untuk ke-9 kalinya yang bertempat di Taman Budaya pada 18 November 2017.

Dikutip dari ketua panitia Artcoholic Exhibition 9, Maulana, “Maksud dari ‘Saboh Grak Keu Saboh Hase’ ini adalah Persatuan. Jadi semua yang kami lakukan ini adalah untuk mencapai tujuan bersama, seperti dalam acara Artcoholic Exhibition 9 tahun ini, kami menampilkan karya-karya kami dan semua unsur didalamnya adalah persatuannya semua anggota UKM-S Putroe Phang” pungkasnya.

Ia berharap, kegiatan ini bisa mengenalkan kesenian UKM-S Putroe Phang kepada masyarakat  Aceh dan melestarikan tarian Aceh yang dikemas oleh UKM-S Putroe Phang.

Pentas Artcoholic dihiasi oleh berbagai penampilan, diantaranya Tari Gigeh, Givart Band, Tarian Kreasi Kolaborasi, dan Tarian Meusaraya.

Tarian Kreasi Kolaborasi & Tarian Meuseuraya menjadi daya tarik tersendiri dalam ajang ini. Tarian ini merupakan gabungan tiga Tarian Putroe Phang, yaitu Tarian Rampoeh, Meusaho dan Bungong. Ketiga tarian tersebut menyimpulkan ciri khas tarian UKM-S Putroe Phang.

Sedangkan Tarian Meuseraya dilakukan massal atau lebih dari 20 orang dan bekerja sama dengan Colour Guard Unsyiah. Maksud dari tarian ini adalah pesta rakyat, pesta persatuan dan pesta bersenang-senangnya masyarakat di Aceh dulu.

Maulana selaku Ketua Panitia Artcoholic Exhibition 9 berharap generasi selanjutnya dapat melestarikan tarian kesenian yang ada di Aceh. “Intinya mengembangkannya sesuai unsur kebudayaan asli Aceh dan tetap dalam Syariat Islam” tutupnya. (Ayu)

DPM FEB Unsyiah Kembali Adakan Latihan Kepemimpinan

Murkhana SE., MBA. Membuka Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) 2017 di Rindam Mata Ie (Jauhar/Perspektif)

Darussalam-Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis kembali mengadakan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM). Acara yang telah diadakan ke-8 kalinya ini mengangkat tema “Restropeksi Pergerakan Mahasiswa Menuju Kampus Ekonomi yang Masyhur dan Mondial” bertempat di Rindam Mata Ie pada 17-19 November 2017.

LKMM merupakan suatu pelatihan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan manajemen untuk mengelola suatu organisasi kemahasiswaan yang bertujuan untuk menciptakan pemimpin yang baik di masa depan yang diikuti oleh calon pengurus ORMAWA di lingkungan kampus Ekonomi.

Dikutip dari ketua paniia LKMM, Reza Zulfianda, setiap tema acara  yang diambil dari tahun ke tahun sesuai fakta keadaan mahasiswa disaat itu. Ia berharap, acara ini dapat membentuk karakter-karakter yang bermoral.

Jumlah peserta dalam kegiatan LKMM tahun ini mencapai 47 mahasiswa yang merupakan delegasi dari Himpunan dan UKM  yang ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Acara dibuka oleh Wakil Dekan III FEB, Murkhana SE, MBA pada tanggal 17 November dini hari. Ia menyampaikan bahwa pentingnya pergerakan mahasiswa dalam meningkatkan kualitas sebuah organisasi

Reza selaku Ketua Panitia LKMM berharap generasi pemimpin selanjutnya bisa menciptakan karakter-karakter yang baru dan bisa menjadi panutan bagi rakyat atau anggota nya (Lul)

Ketua Panitia Unsyiah Fair: “Dance Competition Diluar Kontrol”

Cuplikan Video Dance Competition dalam acara Unsyiah Fair 2017 (Ist)

Darussalam – Netizen media sosial Instagram dikejutkan dengan beredarnya video yang menampilkan cuplikan Dance Competition di acara terbesar mahasiswa Universitas Syiah Kuala (7/11) lalu yang dianggap kurang sesuai dengan Syariat Islam yang berlaku di Aceh. Menanggapi hal tersebut, pihak panitia Unsyiah Fair pun angkat bicara.

Dance Competition merupakan salah satu rangkaian acara dalam perhelatan akbar mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang memperlombakan penampilan tarian musical yang diangkat dari lagu-lagu kelompok band asal Korea Selatan

Namun dalam pelaksanaannya, netizen media sosial dikejutkan dengan tarian-tarian yang dinilai tidak Islami dan sesuai Syariat Islam yang berlaku di Aceh, apalagi mayoritas yang mengikuti lomba adalah perempuan

Video Klarifikasi Ketua Panitia Unsyiah Fair, Muhammad Suhail yang di unggah akun instagram @Unsyiahfair_12 (Sumber Instagram)

Dalam siaran pers, Andre Wardana Putra yang merupakan Penanggungjawab lomba pun menepis isu yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut tidak menghargai Syariat Islam

 

“Kita dari pihak panitia Unsyiah Fair menghargai Syariat Islam yang ada di Aceh, oleh karena itu kami meminta maaf untuk segenap masyarakat Aceh bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam acara ini” jelasnya.

Dalam persyaratan yang diberikan kepada peserta, terdapat 6 poin umum persyaratan dan tercantum jelas di poin ke-5 dikatakan bahwa setiap peserta wajib sopan sesuai Syariat Islam. Namun begitu disayangkan karena pihak panitia tidak memuat ketentuan khusus bahwa setiap aksi panggung harus sesuai dengan Syariat.

Ketua Panitia Unsyiah Fair, Muhammad Suhail. Mengakui bahwa panitia ingin setiap acara dijalankan dengan baik dan memberikan dampak yang baik pula. Namun dalam siaran pers yang dibagikan dalam akun Instagram @Unsyiahfair_12, panitia mengaku bahwa penampilan Dance Competition diluar control panitia.

“Oleh karena itu, kami meminta maaf atas kekhilafan panitia. semoga hal ini dapat menjadi pembelajaran untuk kita bersama” ucapnya dalam video yang dimuat akun Instagram @unsyiahfair_12

“Kita berharap Unsyiah Fair selanjutnya sukses dan jaya!” tutupnya. (Jr)