Kuliah Tak Gentar Bersama Beastudi Indonesia

Ima (tengah) sedang menerangkan materi (foto: dokumentasi Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa Aceh)

Banda Aceh | Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa Aceh menggelar Etos Expo 2014 Beastudi Indonesia di Gedung Multi Purpose Room (MPR) Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) selama 2 hari (Sabtu-Minggu, 26-27 April 2014). Kegiatan yang mengangkat tema “Kuliah Tak Gentar” itu dirangkai dengan beberapa kegiatan seperti bazar buku dan makanan, pentas seni dan budaya, lomba rangking satu, pembacaan puisi, lomba puzzle dan kreatifitas mahasiswa. Kegiatan yang turut dihadiri oleh Bapak Edi Nugroho sebagai Direktur Program Beasiswa Dompet Dhuafa Pusat itu merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung serentak di 13 kota dan di 15 perguruan tinggi di Indonesia.
Bapak Rahmat Fadhil, M.Sc selaku Koordinator Wilayah Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa Aceh dalam sambutan pembukaan berkata, “Kegiatan Etos Expo 2014 Beastudi Indonesia ini memang di peruntukkan bagi anak-anak dhuafa yang kesulitan untuk mendapatkan biaya pendidikan untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi. Salah satu kelebihan penerima beastudi di Dompet Dhuafa ini adalah selain mendapatkan biaya pendidikan dan uang saku, juga mendapatkan fasilitas asrama dan pembinaan selama 4 tahun.” (26/4).

TIGAEtos Expo 2014 Beastudi Indonesia ini selain dilaksanakan di Aceh (Universitas Syiah Kuala) juga berlangsung di Medan (Universitas Sumatera Utara), Padang (Universitas Andalas), Jakarta (Universitas Indonesia), Bogor (Institut Pertanian Bogor), Bandung (Universitas Padjajaran dan Institut Teknologi Bandung), Malang (Universitas Brawijaya ), Surabaya (Institut Teknologi Sepuluh November ), Semarang (Universitas Dipenegoro), Ambon (Universitas Pattimura), Samarinda (Universitas Mulawarman), Makassar (Universitas Hassanuddin), dan Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada).

“Jadi bagi anak-anak di Aceh yang kesulitan biaya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dapat mengajukan aplikasi pendaftaran dalam program Beastudi Indonesia ini melalui website www.beastudiindonesia.net, dengan syarat mereka adalah benar-benar dari keluarga yang kurang mampu.” (26/4) tambahnya.

Di hari kedua, Minggu (27/4) pagi harinya diisi dengan pemaparan program beasiswa dari Pemerintah Aceh melalui Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh. Hadir sebagai pembicara Ibu Ima Dwitawati, MBA (Koordinator Regional Asia Pasifik LPSDM Aceh). Dalam penjelasannya Ibu Ima memaparkan berbagai program beasiswa yang tersedia di Pemerintah Aceh melalui LPSDM. “Mau kuliah di dalam negeri, ke luar negeri, bidang pertanian, ekonomi, teknik dan lainnya, bahkan bidang agama dan hafalan qur’an pun tersedia biaya pendidikannya”(27/4) terang beliau. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 orang peserta baik dari kalangan SMU di Banda Aceh dan Aceh besar, juga beberapa perguruan tinggi lainnya yang ada di Aceh.

DUAMenurut Jaya Saputra selaku Ketua Panitia Pelaksana Etos Expo 2014 Beastudi Indonesia, melalui Humasnya Mira Elviani mengatakan bahwa kegiatan ini diakhiri dengan Training Motivasi yang menghadirkan motivator terbaik di Banda Aceh yaitu Bapak Ramadhanus, S.Ked dari Gradasi Aceh. Dalam Training Motivasi itu, diikuti oleh 200 orang peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar yang di undang di seputaran Banda Aceh dan sekitarnya (27/4). Menurut Mira, kegiatan Etos Expo 2014 ini adalah untuk lebih memberikan motivasi kepada pemuda-pemuda Aceh agar lebih siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif. Tanpa bekal ilmu dan pendidikan yang memadai, maka kita selalu akan kalah dalam persaingan global maupun regional. Harapannya tentu melalui program semacam ini akan semakin membuka wawasan generasi muda Aceh bahwa sesulit apapun masalah yang kita hadapi, kalau kita tetap punya semangat untk menuntut ilmu, insya Allah jalan-jalannya akan selalu kita dapatkan, asal tidak pernah berputus asa (27/4).

Kegiatan ini bekerjasama dengan LSPDM Aceh dan di dukung oleh Walikota Banda Aceh, BKKBN Aceh, Dekan di lingkungan Unsyiah, Career Development Centre (CDC) Unsyiah, Badan Eksekutif Mahasiswa Unsyiah (BEM) Unsyiah, Taufiqiyah, Bandar Publishing, Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC), LDK Al-Ihsan Faperta Unsyiah, Aceh TV, dan UKM Pramuka, UKM Resimen Mahasiswa dan UKM Teater Nol.  []

Mahasiswa FE UNSYIAH Ikuti Aceh Cloud and Mobile Gaming Bootcamp 2014

bootcamp

Poster Aceh Cloud & Mobile Gaming Bootcamp

Banda Aceh | Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, Wahyu Andhika Fatwa (s1 Manajemen) dan Muhammad Firdaus (D3 Pemasaran) mengikuti acara Aceh Cloud and Mobile Gaming Bootcamp yang di adakan di Gedung Balai Kota Banda Aceh pada hari Kamis (17/4) lalu. Acara yang berlangsung selama empat hari semenjak tanggal 17 – 20 April 2014 ini dimotori oleh komunitas Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Indonesia bekerja sama dengan Lembaga ICAIOS, Universitas Binus Internasional, Pemerintahan Kota Banda Aceh dan Internet Society, sebuah lembaga non profit di Switzerland yang mendanai kegiatan ini.  Acara ini bertujuan untuk menumbuh kembangkan industri ekonomi kreatif dan mensukseskan visi Kota Banda Aceh  menjadi Digital Madani City.

Di hari pertama ini para peserta di bimbing bagaimana membuat game ‘Flappy Bird’, game besutan developer Vietnam yang saat ini telah meraup ratusan juta US Dollar. Diharapkan untuk kedepan, para peserta dapat mengembangkan ide dan membangun sebuah game sendiri yang memasukan unsur kearifan lokal di Aceh.

wahyu-and-daus

Firdaus (kiri) dan Wahyu (kanan) dua mahasiswa ekonomi yang menjadi peserta .(sumber:fe.unsyiah.ac.id)

“Kegiatan ini bagus karena dapat mengembangkan industri baru yang dapat menghasilkan income, terlebih lagi game berbasis android ramai di unduh pengguna smartphone” ujar Wahyu (17/4) salah satu peserta pelatihan. “Hal ini dapat meningkatkan softskill dan kapasitas pemuda agar dapat bersaing di kancah nasional serta internasional”, papar mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala ini.

Dalam sambutan PLH Walikota yang di wakili oleh  M. Nurdin M. Sos. mengatakan, “Pemusatan latihan ini dilakukan agar masyarakat Aceh tidak hanya bisa bermain game saja, namun bisa membuat game dan menjadi developer-developer game yang handal dan berbudaya, sehingga akan lahir game berbasis lokal yang diterima global” ujarnya selaku staff ahli walikota bidang pembangunan. [sumber: fe.unsyiah.ac.id]

Cara Penulisan dan Penggunaan Gelar Akademik yang Benar

cara-penulisan-gelar

Ilustrasi: google.com

 

Simak cara penulisan gelar di bawah ini sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut:

1. Cara Penulisan Gelar Sarjana (S1)

S.P. (sarjana pertanian)
S.Pd. (sarjana pendidikan)
S.Pd.I. (sarjana pendidikan Islam)
S.Psi. (sarjana psikologi)
S.Pt. (sarjana peternakan)
S.E. (sarjana ekonomi)
S.Ag. (sarjana agama)
S.Fil. (sarjana filsafat)
S.Fil.I. (sarjana filsafat Islam)
S.H. (sarjana hukum)
S.H.I. (sarjana hukum Islam)
S.Hum. (sarjana humaniora)
S.I.P. (sarjana ilmu politik)
S.Kar. (sarjana karawitan)
S.Ked. (sarjana kedokteran
S.Kes. (sarjana kesehatan)
S.Kom. (sarjana komputer)
S.K.M. (sarjana kesehatan masyarakat)
S.S. (sarjana sastra)
S.Si. (sarjana sains)
S.Sn. (sarjana seni)
S.Sos. (sarjana sosial)
S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)
S.T. (sarjana teknik)
S.Th. (sarjana theologi)
S.Th.I. (sarjana theologi Islam)

2. Cara Penulisan Gelar Magister (S2)

M.Ag. (magister agama)
M.E. (magister ekonomi)
M.E.I. (magister ekonomi Islam)
M.Fil. (magister filsafat)
M.Fil.I. (magister filsafat Islam)
M.H. (magister hukum)
M.Hum. (magister humaniora)
M.H.I. (magister hukum Islam)
M.Kes. (magister kesehatan)
M.Kom. (magister komputer)
M.M. (magister manajemen)
M.P. (magister pertanian)
M.Pd. (magister pendidikan)
M.Pd.I. (magister pendidikan Islam)
M.Psi. (magister psikologi)
M.Si. (magister sains)
M.Sn. (magister seni)
M.T. (magister teknik)

3. Cara Penulisan Gelar Doktor (S3)

Dr (doktor)

4. Cara Penulisan Gelar Diploma

Diploma satu (D1), sebutan profesional ahli pratama, disingkat A.P.
Diploma dua (D2), sebutan profesional ahli muda, disingkat A.Ma.
Diploma tiga (D3), sebutan profesional ahli madya, disingkat A.Md.
Diploma empat (D4), sebutan profesional ahli, disingkat A.

Cara Penulisan Gelar Menurut EYD

Cara penulisan gelar akademik mengikuti aturan yang berlaku dalam EYD, yaitu pada aturan tentang penulisan singkatan, pemakaian tanda titik (.), dan pemakaian tanda koma (,). Ketentuan lengkapnya sebagai berikut:

  1. Setiap gelar ditulis dengan tanda titik sebagai antara antarhuruf pada singkatan gelar yang dimaksud.
  2. Gelar ditulis di belakang nama orang.
  3. Antara nama orang dan gelar yang disandangnya, dibubuhi tanda koma.
  4. Jika di belakang nama orang terdapat lebih dari satu gelar, maka di antara gelar-gelar tersebut disisipi tanda koma.

Contoh: Muhamad Ilyasa, S.H., S.E., M.M. Di antara nama dan gelar, terdapat tanda koma. Di antara ketiga gelar, juga terdapat tanda koma. Di antara huruf-huruf singkatan gelar, diberi tanda titik. Jika di antara nama dan gelar tidak dibubuhi tanda koma, maka penulisan gelar tersebut salah dan singkatan tersebut tidak bermakna gelar, melainkan bisa bermakna nama keluarga, marga, dan sebagainya. Jadi, Muhamad Ilyasa SH (tanpa koma di antara nama dan SH) bisa berarti Muhamad Ilyasa Sutan Harun atau Muhamad Ilyasa Saleh Hamid, dan sebagainya.

Penulisan gelar harus di belakang nama orang, cara penulisan gelar di depan nama orang adalah salah.

Makna Penulisan Gelar

Penulisan gelar dilakukan untuk mengesahkan bahwa seseorang telah mengenyam pendidikan tertentu dan berhasil menyelesaikan studinya pada jenjang pendidikan tersebut. Pengesahan tersebut dituliskan dalam berbagai keterangan resmi seperti ijazah, dokumen pendidikan, serta dokumen lain yang mewajibkan atau menganjurkan adanya penulisan gelar setelah penulisan nama yang bersangkutan.

Selain untuk pengesahan atas pendidikan yang telah dijalani oleh pihak yang bersangkutan, penulisan gelar juga memiliki makna dan fungsi bermacam-macam. Dalam urusan tertentu, penulisan gelar dilakukan berdasarkan fungsi untuk menghormati dan menghargai status sosial seseorang. Misalnya saja, penulisan gelar bagi orang yang diundang untuk mendatangi acara tertentu.

Penulisan terbut juga dilakukan karena seringkali ada pihak-pihak tertentu yang merasa tersinggung apabila gelarnya tidak dituliskan di dalam undangan. Padahal, secara etis, penulisan gelar yang dilakukan pada undangan tidaklah bersifat wajib karena tidak mengesankan makna tertentu selain makna status sosial.

Kasus lain yang juga membawa cara penulisan gelar adalah pada saat kita diminta untuk mengisi form aplikasi tertentu, seperti formulir saat melamar pekerjaan, atau saat mengajukan aplikasi tertentu kepada pihak atau instansi resmi yang bergerak di bidang pendidikan dan keuangan.

Misalnya saja, pada saat mengikuti seminar, mengajukan aplikasi beasiswa, mengajukan aplikasi pembuatan rekening Bank, atau aplikasi lainnya yang memang membutuhkan informasi aktual mengenai pendidikan dan pekerjaan seseorang yang mengajukan aplikasi tersebut.

Pada pengajuan aplikasi lamaran pekerjaan, penulisan gelar terkadang diperlukan sebagai bukti sah atau tidaknya orang tersebut dalam pencapaian gelarnya. Meskipun ada bukti lain yang lebih menjamin kebenaran fakta tersebut, namun penulisan gelar akademin kasus ini wajib untuk dilakukan.

Mitos Penulisan Gelar

Di Negara maju, penulisan gelar bukanlah hal yang wajib dilakukan. Apalagi jika gelar tersebut hanya dituliskan untuk kegiatan dan acara-acara kecil. Penulisan gelar hanya akan dilakukan apabila acara dan kegiatan yang digelar menyangkut urusan akademik dan jurusan yang sesuai dengan gelar yang didapatkan.

Akan tetapi, di Negara Indonesia, penulisan gelar seolah-olah menjadi hal penting yang patut diperhatikan ketika kita mengetik atau menulis nama seseorang. Padahal, tidak ada dalil atau keputusan pemerintah yang menyebutkan bahwa penulisan gelar merupakan kewajiban seluruh manusia dalam menghargai martabat seseorang. Fenomena seperti inilah yang patut dipertimbangkan oleh para pelaku akademik di Indonesia agar lebih memahami makna gelar yang didapatkan oleh seseorang.

Masyarakat Indonesia harus lebih memahami apa yang ada di balik gelar yang didapatkan seseorang itu, bukan justru menggadang-gadangkan gelar sebagai status yang perlu dihormati dan dihargai. Masyarakat Indonesia harus lebih belajar lagi memahami makna gelar yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan mitos kehormatan dan penghargaan yang selama ini dianggap sebagai bagian dari gelar yang didapatkan tersebut. Bahkan pada beberapa pelaku akademik sekalipun, penulisan gelar dalam judul dan penulis sebuah buku masih saja diikutsertakan sebagai bagian dari eksistensi yang wajib diketahui oleh pembaca umum.

Padahal, dalam daftar pustaka atau pustaka acuan suatu tulisan, gelar sepanjang apapun yang didapatkan oleh seseorang tidak akan pernah dituliskan di situ. Itulah sebabnya, mengapa masyarakat Indonesia masih saja menjadi Negara berkembang karena kehidupan yang dijalani masyarakatnya masih saja berpangku tangan pada mitos yang menyebar di lingkungan masyarakat tersebut.

Penulisan gelar yang bertumpuk, atau penulisan gelar pada konteks yang salah masih saja menjadi satu masalah remeh yang merebak di kalangan masyarakat akdemis Indonesia. Para pelaku akademik, terutama di bidang bahasa Indonesia, diharapkan mampu memberikan pengaruh dan pemahaman yang baik terhadap masyarakat pelaku akdemik lainnya agar memahami makna di balik gelar yang sudah dicapai banyak orang tersebut.

Penulisan gelar bukanlah hal utama dari apa yang harus kita dapatkan, melainkan hal apa yang harus dilakukan untuk bisa merealisasikan ilmu dan pengetahuan yang sudah didapatkan dari gelar yang kita capai tersebut. Dengan ilmu tersebutlah seseorang bisa dihargai dan menghargai sesamanya tanpa memandang gelar atau tinggi rendahnya status sosial dan pendidikan seseorang dibandingkan dengan dirinya.

Dengan pengetahuan dan wawasan yang luaslah manusia bisa menjadikan sistem masyarakat menjadi tertata rapi, meskipun tidak ada penulisan gelar di dalamnya. Karena sejatinya, penulisan gelar hanyalah cangkang dari apa yang telah kita capai sebelumnya. Kebenarannya adalah segala tingkah laku dan upaya yang kita lakukanlah yang menjadi gelar kita sebenarnya. Percuma mendapatkan gelar professor jika ia tidak bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan umat manusia.

Oleh karena itu, hindarilah memaknai gelar sebagai sesuatu yang tinggi secara artifisial. Cara penulisan gelar hanyalah sebuah cara semu untuk membuktikan bahwa kita telah mengenyam pendidikan tertentu, yang pada kenyataannya harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan nyata dan upaya yang juga bermanfaat bagi kehidupan.

Sumber: http://www.anneahira.com/cara-penulisan-gelar.htm

 

Dosen Fakultas Ekonomi UNSYIAH Launching Buku

launching-520x265

Banda Aceh | Said Munirudin, SE,. M.Sc selaku Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala menerbitkan buku bertajuk Bintang Arasy. Buku yang diterbitkan oleh Unsyiah Press ini berisi tentang Tafsir Filosofis-Gnostik tujuan HMI. Berdasarkan pantauan, acara peluncuran yang berlangsung di Aula ACC Sultan Selim ,Banda Aceh, Selasa (18/03/13) di hadiri juga Rektor Universitas Syiah Kuala Prof Dr. Ir Syamsul Rizal M.Eng. yang juga memberikan sambutan mewakili Unsyiah Press. Dalam sambutannya beliau sangat mengapresiasi dan berterimakasih atas launching tersebut. Beliau juga berpesan agar Unsyiah selalu mengapresiasi penulis yang bertujuan untuk membangun generasi penulis muda Aceh. “Jangan Aceh hanya dikenal sebagai daerah konflik dan ganja.” ujarnya.

Dalam peluncuran buku tersebut juga hadir tokoh nasional Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D. yang memberikan orasi kebangsaan, pandangan dan arahan terkait buku Bintang Arasy, acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan makan siang bersama para tamu yang hadir. [fe.unsyiah.ac.id]

HIMAKA Unsyiah adakan Talk Show Pasar Modal

Thasrif Murhadi, S.E. (tengah) dan Martoenoes (kanan) sedang memaparkan kondisi pasar modal saat ini dengan Dzakiyy Hadiyan (kiri) sebagai moderator.. (Thasya/HIMAKA)

Thasrif Murhadi, S.E. (tengah) dan Martoenoes (kanan) sedang memaparkan kondisi pasar modal saat ini dengan Dzakiyy Hadiyan (kiri) sebagai moderator. (Thasya/HIMAKA)

Darussalam | Setelah sukses mengadakan Eksibisi Pasar Modal beberapa waktu yang lalu, kembali Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKA) Unsyiah mengadakan acara serupa bertema Talk Show Pasar Modal yang menghadirkan pemateri Kepala Indonesia Stock Exchange (IDX) Cabang Banda Aceh Thasrif Murhadi, S.E. dan Martoenoes sebagai salah satu investor pasar modal yang juga memiliki pengalaman kerja lintas negara seperti di beberapa program kegiatan Food and Agriculture United Nations dan American Red Cross, serta Dzakiyy Hadiyan Achyar mahasiswa dari International Accounting Program sebagai moderator untuk memberikan pemahaman tentang dunia pasar modal kepada para peserta.

Acara yang dihadiri oleh 90 peserta dan Thasrif Murhadi mengatakan “Kurang dari 1% dari masyarakat yang telah berpartisipasi dalam pasar modal di Indonesia. Angka ini sungguh sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia (35%) dan Singapura (50%). Seandainya hari ini ada 1% dari masyarakat Indonesia aktif dalam perdagangan pasar modal, hal tersebut akan membuat kondisi Bursa Efek Indonesia jauh lebih stabil sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan terkena dampak buruk ketika investasi asing meninggalkan Indonesia.” dalam pemaparannya mengenai kondisi pasar modal saat ini.

Ketua panitia acara, Haris Munandar Rahman bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rangkaian acara seminar pasar modal yang merupakan agenda Bidang I HIMAKA Unsyiah. “Pasar modal ini menjadi peluang bagi mahasiswa kedepannya, karena peluang kerja semakin sempit.” katanya. (13/03/2014). Fathur Rafi selaku Ketua Umum HIMAKA Unsyiah mengatakan, “Acara ini merupakan acara kedua yang bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Aceh, dan untuk selanjutnya HIMAKA akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga lainnya dalam menyelenggarakan acara-acara selanjutnya.” (13/03/2014) Tambahnya kepada tim Perspektif .

Talkshow Pasar Modal ini juga melibatkan Economic Student Investor Club (ESIC) yang dibina oleh Mandiri Sekuritas atas kerjasama dengan BEM FE Unsyiah. [dimas]

Berikut 30 Finalis Agam Inong Duta Wisata Banda Aceh 2014

agam inong

Darussalam | DINAS Kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR) Kota Banda Aceh kembali menggelar pemilihan Agam Inong Banda Aceh tahun 2014. Proses pendaftaran acara ini sudah dibuka sejak 12-28 Februari 2014 lalu. Sedangkan proses audisinya berlangsung pada 2-22 Maret 2014 dan berikut adalah para finalis Agam Inong Duta Wisata Banda Aceh 2014 yang lulus audisi tahap I:

Agam

1. Aris Munandar | Mahasiswa Kedokteran Gigi Unsyiah

2. Doni Ihsan Wijaya | Sarjana Bisnis Sunway University Malaysia

3. Fadil | Mahasiswa FKIP B. Inggris Universitas Serambi Mekkah

4. Fathur Maulana | Mahasiswa Psikologi Unsyiah

5. Furqan Maudhudy | Mahasiswa Ekonomi Unsyiah

6. Haikal Al-Hafisz | Lulusan SMKN Penerbangan Banda Aceh

7. Inal Akhyar | Mahasiswa Kelautan Unsyiah

8. Khairul Fajri | Mahasiswa FKIP Unsyiah

9. Mizwan Fachry | Coas Dokter Gigi

10. Muhammad Edly Fachrurozy | Mahasiswa Ekonomi Unsyiah

11. Muhammad Fauzan | Lulusan SMAN6 Banda Aceh

12. Muhammad Iwan Kurniawan | Mahasiswa FKIP Biologi Unsyiah

13. Muhammad Rahmatul Qadri | Mahasiswa FISIP Unsyiah

14. Ridha Ul Fahmi | Mahasiswa FKIP UIN

15. Riyadi | Mahasiswa LIPIA Aceh

 Cadangan Finalis Agam:

1. Dony Prasetyo | Mahasiswa FISIP Unsyiah

2. Maulana | Mahasiswa

 

Inong

1. Anggi Mustika | Sarjana Ekonomi Islam STEI Tazkia Bogor

2. Chairunnissa | Mahasiswi FKIP B. Inggris Unsyiah

3. Cut Nanda Keusuma | Mahasiswi Ekonomi Unsyiah

4. Cut Sannas Saskia | Mahasiswi Teknik Unsyiah

5. Ella Yuzar | Sarjana Ten UIN

6. Liza Ade Justicia | Mahasiswi Hukum Unsyiah

7. Mira Humaira | Mahasiswi Ten UIN

8. Mutia Balkis | Mahasiswi FKIP Unsyiah

9. Riska Nanda | Mahasiswi FKIP Unsyiah

10. Syarifah Fitrianda | Mahasiswi Kedokteran Gigi Unsyiah

11. Tiara Fatimah | Penyiar Radio

12. Ulfa Khaliqa | Mahasiswi FKIP Unsyiah

13. Yuliana Tanjung | Sarjana Teknik USU

14. Zahratul Fajri | Dokter Muda

15. Ziyan Zarena Mukhtiqal | Mahasiswi Psikologi Unsyiah

Cadangan Inong:

1. Yuza Humaira Lubis | Mahasiswi Akbid Muhammadiyah

2. Nazirah | Mahasiswi FKIP Unsyiah

 

Agenda selanjutnya bagi para finalis yang lolos pada seleksi ini adalah proses pembuatan video, karantina, dan malam penobatan. []

Finalis Inong Duta Wisata Banda Aceh 2014

Finalis Inong Duta Wisata Banda Aceh 2014

Finalis Agam Duta Wisata Banda Aceh 2014

Finalis Agam Duta Wisata Banda Aceh 2014

 

 

Perspektif Photography Competition – Lomba Fotografi Tingkat Mahasiswa

interest resize

Halo mahasiswa! Hobi fotografi? suka fotografi? atau sekedar punya kamera cuma buat gaya? Hari gini punya kamera tapi nggak dapat duit, buat apa!?

Yuk daftar di Photography Competition Perspektif! Lomba foto kali ini bertema Campus Life, Jurnalistic in Campus, dan Human Interest. Total hadiah hingga Rp.1.000.000,-!!

Ketentuan:
– Foto diambil dalam jangka waktu 1 January – 15 Maret 2014.
– Pengiriman foto paling lambat diterima Pihak Panitia tanggal 15 Maret 2014 (pkl.24.00) ke alamat email redaksi.persfe@gmail.com
– Pendaftaran tidak dipungut biaya (FREE)
– Pengumuman pemenang diumumkan paling lambat 18 Maret 2014 di web www.persfe.com
– 3 Pemenang perkategori (tema) akan ditampilkan pada acara Pameran Foto di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala
– Pengambilan hadiah tidak dapat diwakilkan
– Foto yang menang akan menjadi milik pihak panitia dan pihak panitia berhak mempublikasikannya di media-media.
– Persyaratan dan ketentuan lainnya dapat dilihat di web dan poster.

Ajak kawan-kawan yang lain, sebarkan ke sanak saudara, share ke para pecinta fotografi!

Contact Persons:
Amar (0853 6003 2867)
Ika (0852 6195 8370)

Socmed:
Facebook – http://www.facebook.com/perspektif.crew
Twitter – @persFE
Web – www.persFE.com

Menulis Fiksi, Mengasah Kreativitas

admin_1-asset-502ba7d510930Fiksi adalah prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubunganhubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.

Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia. (Altenbernd dan Lewis, 1966 : 14). Fiksi atau prosa dapat berbentuk roman, novel, cerita pendek (cerpen), drama, ataupun film. Oleh karena itu, karya fiksi juga merupakan bagian dari dunia sastra.

Dalam penulisannya, tokoh, watak maupun alur yang ada didalam tulisan hanyalah sebuah rekaan, khayalan atau hasil imajinasi sang penulis. Namun  bukan berarti karya fiksi hanyalah sebagai hasil kerja lamunan belaka. Segi kreativitas atau imaji yang ada didalamnya sepenuhnya masihdapat dipertanggungjawabkan sebagai salah satu karya seni.

Ketika menulis fiksi, kita dituntut untuk mengembangkan daya kreativitas, menembus batas pemikiran imaji, dan mengasah daya nalar kita secara bebas. Kepekaan pemikiran kita diasah dengan polesan pilihan kata-kata yang baik sehingga membuat kalimat yang baik pula. Kita dapat menulis fiksi dengan mengambil kisah pribadi maupun kisah orang lain.

Proses kreativitas ataupun imajinasi digunakan untuk mendramatisasikan hubungan- hubungan yang terjadi dalam kehidupan nyata. Cerita atau kejadian apa saja yang dapat dirasakan oleh indera dapat kita tuliskan sebagai bagian dari tulisan fiksi. Lagipula dalam penulisan fiksi tidak ada aturan baku atau kaidah yang ketat seperti tulisan nonfiksi maupun tulisan ilmiah.

Kemudian untuk menarik minat pembaca, penulis diharapkan tidak hanya sekedar memberikan informasi nyata, tetapi juga dapat memasukkan unsur seni ataupun hiburan sebagai sarana komunikasi, pembangkit emosi, ataupun sebagai penambah motivasi. Sehingga dengan adanya unsur-unsur tersebut, kegairahan pembaca untuk menyimak hasil tuliaan fiksi diharapkan bisa muncul.

Pada dewasa ini cukup banyak fiksi dalam bentuk cerpen ataupun novel yang berbasis islami. Misalnya seperti menggunakan contoh negara-negara  Timur Tengah sebagai latar belakang cerita, kemudian mencontohkan gaya hidup remaja islami, menggunakan istilah atau kata yang bernuansa Arab, ataupun banyak hal lainnya yang berbau agama. Lalu tak sedikit pula para remaja yang tersentuh setelah membaca tulisan-tulisan fiksi tersebut. Maka tidak mengherankan kalau tulisan fiksi dalam bentuk novel yang demikian menjadi bestseller!

Bahkan beberapa diantar novel terlaris tersebut disajikan juga melalui layar kaca alias difilmkan. Dari hal tersebut, disamping menandakan tingginya minat terhadap bacaan fiksi, disinilah tanda-tanda bahwa menulis fiksi itu merupakan cara mudah untuk memikat para pembacanya dengan tulisan-tulisan ringan. Ide didalam tulisan fiksi dapat dikreasikan semenarik mungkin dengan olahan kata-kata yang mampu memancing minat pembacanya, serta makna yang terkandung didalam tulisan pun dapat lebih mudah dihayati serta dipahami.

Contoh tulisan fiksi dalam bentuk cerpen adalah ceritapendek “Dajjal” karya Nazar Shah Alam yang dimuat harian Serambi Indonesia (8/9/2013).  Pengarang memainkan kreativitasnya dengan memadukan unsur pendidikan, yakni bagaimana ciri Dajjal, denganunsur hiburan seperti halnya yang dilakukan oleh pemeran utama di dalam cerita pendek tersebut. Sehingga karya fiksi tersebut tidak hanya memberikan informasi nyata tentang Dajjal itu sendiri, tetapi juga ada unsur hiburan yang diselipkan melalui humor. Atau contoh fiksi lain dalam bentuk teater, seperti teater “Dum”, yang dipentaskan oleh kalangan remaja Aceh di Sultan II Selim Banda Aceh (14/12/13) yang diprakarsai oleh Komunitas Tikar Pandan kerja sama dengan sejumlah lembaga dan komunitas dalam memperingati sembilan tahun bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami Aceh.

Dalam pementasan teater yang disutradarai oleh Agus Pmtoh tidak hanya terpaku pada pemaparan bagaimana kejadian bencana alam kala itu tetapi juga diselingi beberapa humor yang dilakoni oleh pemeran dalam teater tersebut. Alhasil gelak tawa dari para penonton yang menikmati gelaran teater tersebut pun bermunculan.

Screenshot_55

 

Oleh Muhammad Fauzan,

Anggota LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Perspektif Unsyiah

IAP Students Visit Rector Syamsul Rizal

iap-visit-rector-520x265DARUSSALAM | One of Syiah Kuala University achievement for a couple of decades is to prepare student to compete in an international market. Therefore, several international program using international curriculum has been developed to meet international standard. One of it is International Accounting Program (IAP) from Department of Accounting Faculty of Economics which established in 2011. Since then, this program already has three generations up to now with 53 students in total including 5 students from Tajikistan, Turkmenistan, and Kazakhstan.

Considering the importance of this program, IAP student’s approached the Syiah Kuala University Rector, Prof. Dr. Samsul Rizal office’s on Friday February 21st 2014  to bind the relationship and strengthen the vision and mission for a better program development. This meeting with theme of “IAP meets leaders” has given chance for the Rector and these international class students to share feeling and ideas about recent conditions and designing for future.

In the beginning of conversation, the Rector explained the soul of Unsyiah as ‘lovely heart of Acehnese’ so then every elements of this campus is supposed to be the pride of Acehnese by gaining achievements not only students but also lecturers. The students must have winner mentality for every academic process and competition followed and the lecturers should be more proactive in transferring their knowledge through many media available such as World Economic Forum in Switzerland etc. therefore this university will have enormous intelligent professors.

He concerns also on setting up scholarship scheme for under poverty line students so then they have similar opportunity to have qualified education including in international class in order to raise the student’s capacity. Without a doubt, next year in 2015, the ASEAN & China Free Trade Agreement with 600 million workers inside will demand high capacity human resources. Hence, the challenge is big for this university to prepare the students who will enter this global arena.

One student explained how he enjoys being a student in this international accounting program for every opportunities and facilities provided that really makes the learning environment become effective and alive. Another student expressed her desire to produce many international journals so then she will be able to attend many international forum to show the quality of Acehnese on international stage.

The Rector responded by opening opportunities for every program development through proposals submitted by students and lecturers that will be financed by university or other donor like government and non profit organizations. Rector also insisted the students and lecturers to create his or her own masterpiece amid existing limitations since no reason to give up on these limitations as he stated he was inaugurated as one of the youngest professor in Japan where he studied and worked and in Indonesia as well since he never see limitations as obstacles.

“The international program is not mine but ours”, Rector stated. He explained the vision and mission to raise Unsyiah in international level  without leaving constant and significant contribution for the surrounding environment. Rector reminds everyone that this internationalisation program is not built to diminish local identity such as Islamic sharia values, attitude, culture, etc. Therefore he commits to strengthening these local values in university and building inter-faculty network relation. This visit was ended up by having a photography session and handling a placard to the Rector.

(Reported by: Dzakiyy Hadiyan Achyar, IAP 2011)

Green Campus: Faculty of Economics, Syiah Kuala University

FACULTY OF ECONOMICS

MAIN BUILDING AND GREEN PARK

IMG_5165IMG_5168

“HOW GREEN IS YOUR CAMPUS?”