Himaka Saweu Gampong (HSG) Menyapa Anak-anak Gampong Lambiheu Siem

 

Foto : Abi

Darussalam – Sebagai salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sering kali mahasiswa melakukan kegiatan yang bersifat memberi manfaat kepada masyarakat. Tak terkecuali Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himaka) FEB Unsyiah. Pada hari sabtu (10/3), Himaka kembali melaksanakan kegiatan Himaka Saweu Gampong (HSG) ke Gp. Lambiheu Siem, Darussalam. Kegiatan Himaka Saweu Gampong adalah kegiatan tahunan Himaka dalam memberi edukasi tentang keuangan kepada anak-anak di salah satu gampong.

Pada kegiatan Himaka Saweu Gampong kali ini, tema yang diusung adalah “Tajak Saweu Gampong, Tabina Bijeh Nanggroe.” Kegiatan ini dihadiri perwakilan geuchik Gp. Lambiheu Siem, Presidium aktif Himaka, dan Panitia HSG sendiri.

Tidak terlalu jauh berbeda dengan kegiatan HSG tahun ini juga memiliki tujuan agar anak-anak di gampong tujuan memiliki pengetahuan tentang keuangan. Tim Panitia HSG memberikan presentasi singkat tentang menabung, dengan menampilkan beberapa video animasi tentang menabung. Anak-anak yang mengikuti kegiatan ini terlihat antusias dan bersemangat.

“Alhamdulillah, HSG kemarin merupakan HSG tahun kedua yg telah diselanggarakan oleh Himaka. Kami sangat bersyukur HSG kemarin bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan dan diterima dengan baik oleh masyarakat gampung.” jelas Said Raihan Maulana selaku ketua panitia pelaksanaan HSG 2019.

Selain itu, tim panitia juga mengadakan permainan Menghias Celengan yang diikuti seluruh peserta. Pada sesi permainan ini, seluruh peserta dibagi menjadi lima kelompok. Tujuannya adalah agar peserta yang didominasi oleh siswa yang duduk di bangku sekolah dasar ini mempunyai karakter kerjasama dan kelak mempunyai hobi menabung.

Selanjutnya, Umar Said Meldego selaku Ketua Umum Himaka yang turut hadir pada kegiatan tersebut berharap “Semoga pada kegiatan HSG selanjutnya, kita bisa berkonstribusi lebih baik lagi dalam bidang sosial pada masyarakat. Semoga kegiatan ini lebih efektif dan lebih baik kedepannya. Harapan Himaka pada acara ini, ialah untuk menyadarkan mahasiswa betapa pentingnya kepedulian kita semua terhadap masyarakat sekitar, selain menjadi bakti amal, juga menambah ilmu dan pengalaman.” tutur Ketua Umum Himaka tersebut.

HSG sendiri pada tahun ini akan dilaksanakan dua kali. Setelah ini, jadwal HSG berikutnya adalah tanggal (17/3) di Gp. Mata Ie, Montasik. (Abi)

Dua Mahasiswa Ekonomi Islam FEB Unsyiah, Lomba Tahfidz MTQ Unsyiah 2019

Foto Dua Mahasiswa/i Ekonomi Islam FEB Unsyiah raih juara MTQ Unsyiah, Rais (kiri) dan Safrah (kanan) Mahasiswa/i aktif 2018

Darussalam– Dua Mahasiwa/i jurusan Ekonomi Islam FEB Unsyiah berhasil meraih juara 2 dan juara harapan 3 pada pergelaran MTQ  tingkat Universitas Syiah Kuala, yang digelar sejak 25-28 februari lalu, bertempat di Masjid Jami’ Unsyiah, kamis(28/02).
Rais Akmal, dalam perlombaan MTQ tingkah Universitas Syiah Kuala, dirinya berhasil meraih juara 2 cabang Tahfidz Quran 5 juz putra.

Rais pun mengakui bahwa ia ingin terus mengasah kemampuannya dalam membaca Al-Quran, menurutnya keberanianlah yang membuatnya berani mendaftarkan diri pada perlombaan itu. “sistem penilaian lomba tersebut dilihat dari adabnya, kelancaran dalam membaca, dan mental”. Ujarnya

Tak hanya Rais, juara harapan  Tahfidz Putri juga diraih oleh Safrah Ulya , Mahasiswi Ekonomi Islam, Safrah berhasil meraih juara harapan 3 cabang Tahfidz Quran 5 juz, dalam MTQ tingakat Universitas Syiah Kuala tersebut.

Faktanya, selain menjadi Mahasiswi aktif Ekonomi Islam, Safrah juga seorang pengajar Tahfidz pada salah satu dayah di Aceh besar.Tidak heran, jika safrah mampu meraih juara dalam perlombaan tersebut.

Motivasi keduanya untuk mengikuti ajang lomba ini selain ingin mendapat pahala dan membahagiakan orang tua, mereka sama-sama ingin mengharumkan nama ekonomi islam dalam lomba MTQ tingkat Unsyiah.

Hal ini tentunya, menjadi sebuah kehormatan dan kebanggan bagi Keluarga besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah sendiri, melihat para Mahasiswa dan Mahasiswi yang tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik, namun juga dapat berprestasi dalam bidang keagaaman. (La)

UKM PA-LH METALIK Berhasil Menjajaki Gunung Tertinggi Ke-3 di Aceh

foto : istimewa

 

Darussalam – Tim ekspedisi UKM PA-LH METALIK FEB Unsyiah yang terdiri dari 8 orang, berhasil menaklukkan puncak gunung Krueng Sibubung Hulu yang berada di Aceh Tenggara, pada Rabu 6/3 Pukul 14.50 WIB.

Gunung tersebut merupakan gunung tanpa nama yang juga merupakan salah satu yang tertinggi di Aceh, yang kemudian berhasil ditaklukkan oleh UKM PA-LH METALIK dan diberi nama Puncak METALIK.

Pendakian ini dimulai sejak tanggal 15 februari 2019 lalu. Dengan jarak tempuh kurang lebih 28.5 km dan ketinggian 3383 MDPL.

Tim Ekspedisi sempat mengalami beberapa kendala dalam proses menuju puncak, namun akhirnya berhasil menjajaki puncak pada Rabu 6/3 dan telah kita resmikan menjadi puncak METALIK , Alhamdulillah tim dalam keadaan sehat, dan akan turun esok hari, Kamis 7/3 dengan target 5 hari menuju Pintu Rimba, Aceh Selatan. Novarian Putra ketua tim ekspedisi mengabarkan melalui Telpon Satelit.

Pendakian ini telah direncanakan sejak awal pendirian metalik, dan merupakan salah satu program kerja terbesar tahun 2019, juga dalam rangka milad ke 30 tahun nya metalik. Kini, pendakian ini tidak lagi menjadi rencana namun telah terbukti dengan diresmikannya Puncak Metalik yang berada di kawasan Krueng Sibubu Hulu, Aceh Tenggara. (al)

Ada Apa dengan Dunia Pendidikan?

Ilustrasi by Vannadisme

Darussalam – Berbicara mengenai dunia Pendidikan memang tidak ada habisnya, mulai dari sistem Kurikulum hingga Kedisiplinan oleh Guru yang berujung pada Jeruji besi. Lantas bagaimana dalam kacamata para Mahasiswa? Apakah seharusnya Pendidikan yang berhasil dinilai hanya dari ilmu pengetahuan saja tanpa memerdulikan ilmu tata krama serta etika? Kini Pendidikan menjadi ulasan utama dalam menilai sebuah keberhasilan.

“Dulu saya kalau dimarahi guru terus mengadu pada orangtua saya malah dimarahi balik, ataupun saya bilang sama guru saya kalau abis dimarahi sama orangtua disuruh taat balik. Kalau sekarang beda.” kata salah satu Mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya itu.

Mahasiswa yang sebelumnya pernah menyandang status ‘siswa’ itu pun mengatakan cukup Miris ketika hendak berdiskusi mengenai Pendidikan sekarang yang semakin lama nilai Moral di Indonesia semakin merosot saja.

Hal ini terbukti dengan viralnya Video tentang Kekerasan di dunia pendidikan dimulai dari Guru yang memukuli Siswanya dikarenakan memanggil nama tanpa sebutan ‘Pak’, Ataupun Video seorang Siswa yang melontarkan kata yang ‘tidak pantas’ kepada gurunya, hingga Siswa yang tak terima ditegur ketika merokok didalam kelas oleh Gurunya dan akhirnya melawan, seolah menjadi bukti merosotnya dunia pendidikan saat ini.

“Para orangtua maupun guru memiliki anggapan bahwa mendidik dan mendisiplinkan anak harus dilakukan dengan kekerasan. Apapun alasannya, tindakkan kekerasan tidak dibenarkan.” ujar Sekjen FSGI, Heru Purnono, seperti dilansir Antara, di Jakarta, Minggu (22/4).

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,, Muhajir. Baginya  Pendidikan keras bisa membentuk siswa yang tahan banting, tentu saja pernyataan yang ia kemukakan banyak menuai kritikan.

“Saya tanya apa yang kalian dapat dari kekerasan itu? Kalian ingat tidak kalian dipukul karena apa? Tidak kan? Karena yang kalian ingat itu seberapa keras pukulannya dan sesakit apa rasanya.” tulis akun Jefri dalam Facebook BBC Indonesia.

Dalam Pasal 54 UU 35/2014 Ayat 1 yang berbunyi, “Anak didalam dan dilingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak Kekerasan Fisik, Psikis, Kejahatan Seksual, dan Kejahatan lainnya yang dilakukan oleh Pendidik, Tenaga Kependidikan, sesama Peserta Didik, dan/atau Pihak lain”.

Bagaimana jika sebaliknya? Murid menjadi pemain utamanya dalam kekerasan terhadap Guru. Apakah ada hukum untuk ini?

Ditegaskan kembali pada Pasal 41, Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak Kekerasan, Ancaman, Perlakuan Diskriminatif, Intimidasi, atau Perlakuan tidak adil dari pihak Peserta didik, Orangtua peserta didik, Masyarakat, Birokrasi, atau pihak lain. Tapi mengapa kebanyakkan kasus apabila Guru menjadi ‘Korban’ berakhir dengan ‘Damai’? sedangkan Murid menjadi ‘Korban’ berakhir dengan ‘BUI’ (Penjara) Bukankah ini yang dikatakan ‘Adil’ tidak ‘tumpang tindih’dalam Hukum di Indonesia ?

Tentu kita tidak bisa menilai sesuatu dari ‘Cover’ suatu permasalahan, tentu apabila kita ingin berkomentar, lebih baik dan bijak membaca terlebih dahulu lebih dalam suatu permasalahan yang dimana kita bisa mengambil sudut pandang masing-masing.

“Tidak tumpah tindih sih ya menurut saya, toh kan yang satu kasus memang gurunya yang udah hilang akal sampe memukuli siswanya hingga masuk rumah sakit cuman karena tidak dipanggil sebutan ‘Pak’, dan satu lagikan memang siswanya aja yang kurang ajar, sekolah memang bukan tempat untuk merokok – padahal teguran baik untuk dia.” sahut lili mahasiswi tingkat akhir Unsyiah.

Tindakan hukuman disiplin yang dilakukan oleh guru, yang dulu dianggap wajar, kini dinilai melanggar HAM. Alih-alih melindungi diri, sebetulnya khawatir  dikriminalisasi oleh orangtua atau LSM Pembela Anak atas tuduhan melakukan kekerasan terhadap anak.

Untuk mengakhiri Drama Pendidikan saat ini, baiknya jangan hanya mendengar penjelasan sepihak – ada baiknya kita meminta Klarifikasi dari Sekolah. Win-win solution apabila memungkinkan kasusnya tidak menyebabkan trauma yang parah dan bisa diselesaikan secara damai, namun ada kasus yang tidak bisa ditoleransi dan harus dibawa ke ranah hokum.

Serta yang paling utama adalah tidak akan terulang lagi kejadiannya. Karena hukum yang paling menyakitkan adalah Hukuman Masyarakat yang akan memberi label ‘Penjahat Kekerasan’ pada Pelaku dan terkadang berujung bunuh diri atau Kematian.

Pemerintah bisa memberikan berupa sesi Konseling pada Korban maupun Pelakunya, dan perlu adanya tes Kejiwaan agar dapat diketahui penyebab dibelakang ini semua terjadi. Lingkungan terdekat, Keluarga, terkadang menjadi faktor utama.

Benahi mulai dari diri sendiri terlebih dahulu, baru mulai kepada lingkungan sosial diluarnya. Kekerasan takkan menyelesaikan masalah. Tapi hanya akan menambah masalah. (Vanna)

Bang Ojan, Pedagang Mie Legendaries FEB Unsyiah Tutup Usia

Foto by Vanna

DarussalamInnalilaahi wa inna ilaihi raaj’iuun Kabar duka menyelimuti  Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah. Pedagang Mie Aceh legendaris  Faizal Effendi atau kerap disapa ‘Bang  Ojan’ meninggal dunia pada kamis (28/2/2019) pukul 19.15  WIB di RSUD Zainal Abidin, Banda Aceh.

Kabarnya, Jenazah Almarhum akan disemayamkan di rumah duka yang bertempat di Sibreh, Aceh Besar, dan dimakamkan di pemakaman setempat sebelum shalat Jum’at hari ini (1/3)

Terkait informasi yang diberikan oleh tetangganya, Rescia vhonna mengatakan bahwa Almarhum Pernah menimba Ilmu di Manajemen FEB Unsyiah, dan bergabung di Mapala Leuser Unsyiah.

Alumni FEB Unsyiah sekaligus pedagang Mie Legendaris ini meninggal dunia akibat penyakit kista di ginjal. Yang diketahui sudah di iidap selama 6 Bulan lebih, namun baru dirawat secara rutin selama satu pada 1 (satu) bulan belakangan. “Sebelum dibawa ke Rumah Sakit, Almarhum sempat tak sadarkan diri (koma)”. Ungkap Ibunya Rescia Vhonna.

Semasa hidupnya, Almarhum adalah tulang punggung keluarga sekaligus yang merawat kedua orang tuanya. Belakangan diketahui ibunda almarhum sudah sakit-sakitan dan tidak dapat berbicara akibat penyakit stroke. Almarhum diketahui belum menikah, sebelum akhirnya menutup Usia. Tidak banyak pihak keluarga yang mengetahui sakit yang di derita almarhum, karena sifat almarhum yang tidak ingin menyusahkan keluarga.

Bang Ojan sapaan ramahnya, kini sudah berpulang lebih dulu pada pangkuan yang Maha Kuasa, Semoga amal dan ibadah Almarhum di terima disisi Allah SWT. (Wal/Al/Sul)

Ruang (Ny)aman : Teror di Ruang Kerja

Darussalam – Istilah pelecehan seksual saat kini kian berbunga mekar, dengan sodoran berita pelik pelecehan pada mahasiswi salah satu Universitas percontohan yang berakhir damai. Lembar hitam akan tercetak dalam  kehidupan para korban pelecehan seksual, komentar dan bisik-bisik berbau seksual pastinya menghujani tiap garis pertahanan mereka.

Pelecehan seksual (Sexual Harrasment) sejatinya merupakan segala tindakan bermuatan seksual yang tak diinginkan. Perbuatan ini dapat membuat korban merasa tersinggung, dipermalukan, dan terintimidasi sehingga memengaruhi kondisi psikisnya.

Lingkungan kerja menjadi salah satu tempat yang rawan atas pelecehan seksual. Pelecehan seksual di tempat kerja masih menjadi masalah yang tak terpecahkan khususnya di Indonesia karena kebanyakan perusahaan tidak memiliki mekanisme yang jelas untuk menyelesaikan isu tersebut. Relasi kuasa yang timpang antara korban dan pelaku menjadi salah satu pemicu timbulnya pelecehan seksual di tempat kerja.

Hasil penelitian Perempuan Mahardhika menemukan bahwa 56,5 persen dari 773 buruh perempuan di Indonesia menjadi korban pelecehan seksual. (Sumber : survey cosmopolitan dan perempuan Mahardika). Tapi ini jelas tak mencakup pekerja kerah putih yang kasusnya amat mungkin tak sedikit.

Pelecehan seksual dapat terjadi kepada siapa saja, tanpa memandang gender. Namun, menurut penelitian yang dilakukan TUC, pusat serikat pekerja di Inggris, perempuan menempati urutan utama sebagai korban pelecehan seksual di tempat kerja dibanding laki-laki.

Masyarakat umum kerap belum paham sepenuhnya soal bentuk-bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Padahal, perilaku sesimpel siulan atau komentar bermuatan seksual pun sebenarnya dapat menjadi bentuk pelecehan seksual. Namun banyak orang menoleransi tindakan-tindakan tersebut, karena tak semua orang punya pandangan serupa atasnya. Ini jugalah yang menyebabkan batas kategori pelecehan seksual di lingkungan kerja menjadi kabur.

Pelaku pelecehan seksual juga dapat digugat melalui Pasal 285 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Instrumen hukum paling mutakhir adalah Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor SE.03/MEN/ IV/2011 tentang Pedoman Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja.

Jadi sesungguhnya, dasar dan payung hukum terkait pelecehan seksual di tempat kerja, telah tersedia dalam ranah hukum Indonesia.

“Pelecehan seksual biasanya susah untuk diproses. Paling nice penanganannya ya kayak mediasi gitu. Pakai aturan di kantor seperti ada pemberhentian permanen, dan skors atau pemberhentian sementara. Umumnya gitu sih” kata salah satu narasumber anonim.

Dalam merespon pelecehan seksual, mayoritas korban cenderung berusaha menghindari situasi kerja tertentu yang kadang terjebak dengan kondisi finansial. Selain itu, juga terdapat pola dampak psikologis yang dialami korban pelecehan seksual di tempat kerja, seperti rasa tidak percaya diri hingga depresi.

Upaya penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kerja Indonesia tak lepas dari pemahaman masyarakat akan kesetaraan gender, dan sikap atasan di perusahaan terkait. Mereka yang menjadi korban, tak mesti menanggung segala beban sendiri. Mana ruang (Ny)aman untuk mereka (pekerja perempuan), bukannya kita pernah sepakat atau malah tidak pernah? (Nanda)

Ada Apa dengan Akuntansi Keuangan?

 

Foto : Vanna

Darussalam – Setelah lulus sekolah menengah atas ataupun setingkatnya, selanjutnya setiap orang akan dipusingkan dengan memilih jurusan saat akan masuk ke perguruan tinggi. Ternyata tak hanya sampai disitu, bahkan setelah menentukan jurusan yang ingin dipilih pun, seseorang akan dipusingkan kembali karena harus memilih konsentrasi atau pemusatan jurusan yang akan ia ambil.

Seperti halnya Program Studi  Akuntansi FEB Unsyiah, yang mempunyai lima konsentrasi antara lain ialah Akuntansi Keuangan, Akuntansi Sektor Publik, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Syariah dan konsentrasi Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Dari kelima Konsentrasi tersebut nantinya Mahasiswa (i) S1 jurusan Akuntansi harus memilih salah satu  dari lima konsentrasi yang telah disediakan

Namun terdapat satu tanda tanya besar terkait dengan salah satu konsentrasi jurusan akuntansi yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu konsentrasi Akuntansi Keuangan. Pasalnya tidak banyak mahasswa yang memilih konsentrasi ini,. Mahasiswa Akuntansi lebih memilih konsentrasi lainnya dibanding memilih konsentrasi Akuntansi Keuangan ini.

Berdasarkan informasi dari salah seorang dosen Prodi Akuntansi FEB Unsyiah menyebutkan, bahwa mahasiswa S1 Akuntansi yang mengambil konsentrasi Akuntansi Keuangan pada suatu tahun hanya mencapai lima orang mahasiswa saja. Mengapa demikian?

Ketika ditanyakan mengenai hal ini, Mahasiswa Akuntansi yang berasal dari semester enam dan delapan yang akan, sedang ataupun telah mengambil mata kuliah konsentrasi, menuturkan alasan mereka mengapa Mata kuliah tersebut bukan menjadi pilihan dalam konsentrasinya karena kurangnya minat dan kompetensi di bidang tersebut.

Apabila mengambil konsentrasi Akuntansi Keuangan, mata kuliah yang akan diambil antara lain Standar Akuntansi Keuangan, Tata Kelola Perusahaan, serta Akuntansi Forensik dan Audit Investigasi. Mata kuliah ini nantinya akan lebih banyak mempelajari pencatatan laporan keuangan yang sesuai dengan SAK (Standar Akuntansi Keuangan) dan Analisis keuangan.

Mereka menjelaskan bahwa mata kuliah akuntansi seperti Akuntansi Keuangan Menengah (Intermediate Accounting) dan Akuntansi Keuangan Lanjutan (Advance Accounting) saja dirasa cukup menyulitkan bagi mereka, bahkan ada mahasiswa harus sampai mengulang hanya untuk menyelesaikan mata kuliah ini. Oleh sebab itu mereka enggan mengambil matakuliah konsentrasi Akuntansi Keuangan.

Lain halnya dengan mahasiswa akuntansi reguler yang bebas menentukan sendiri matakuliah konsentrasi yang diingkinkannya, Mahasiswa IAP (International Accounting Program) sudah secara otomatis akan mengarah kepada konsentrasi Akuntansi Keuangan.

” Jumlah mahasiswa satu angkatan kami (Mahasiswa IAP) kan sedikit, sedangkan untuk dapat membuka kelas terdapat beberapa ketentuan seperti jumlah minimal mahasiswanya, dan mempertimbangkan dosen yang mengajar, apakah dosen tersebut mengajar di program internasional atau tidak. karena beberapa pertimbangan tadi akhirnya pihak jurusan memutuskan agar kami mengambil satu kelas konsentrasi yang sama yaitu konsentrasi Akuntansi Keuangan ” jelas Cut Nada Nabila, salah seorang Mahasiswi IAP.

Mahasiswi IAP semester Akhir ini kembali menjelaskan bahwa penetapan pengambilan konsentrasi Akuntansi Keuangan secara bersama ini bukan pertama kalinya ditetapkan oleh pihak jurusan, sebelumnya pada angkatan 2013 dan 2014 hal serupa juga diterapkan. Menurutnya juga tidak ada konsentrasi yang benar-benar sulit dan konsentrasi yang mudah, semua konsentrasi ada kemudahan dan kesulitannya masing-masing.

Maka dari itu, dalam menentukan suatu konsentrasi yang akan diambil kedepannya merupakan suatu hal yang membutuhkan pertimbangan yang besar. Untuk itu haruslah dipikirkan dengan matang, dan sesuai dengan kemampuan pada diri masing-masing. (Sal)

FEB Unsyiah Kini Miliki LIFT

Foto : Vanna

Darussalam –  Lift yang umumnya digunakan di gedung-gedung bertingkat tinggi; biasanya lebih dari tiga atau empat lantai; (Wikipedia Bahasa Indonesia), kini sudah dimiliki oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Setelah masa pembangunan yang dimulai sejak pertengahan semester lalu, kini lift yang terletak di Gedung Ekonomi Pembangunan ini, sudah resmi di operasikan terhitung sejak tanggal 15 februari 2019 lalu. Akan tetapi, lift ini masih dalam masa percobaan, sehingga untuk sementara waktu lift hanya dapat digunakan oleh Dosen, Staff, dan tamu.

Dalam pengoperasiannya, pengguna harus menggunakan sidik jari (sebagai alat sensor) setelah itu lift akan tertutup dan bergerak. Untuk para tamu dan pengunjung,  pihak kampus juga telah menyediakan kartu pengunjung, yang nantinya dapat berfungsi saat menggunakn lift, total keseluruhan kartu pengunjung saat ini yaitu 30 kartu. Namun, sangat disayangkan, lift ini belum dapat diberlakukan bagi mahasiswa yang tidak memiliki kedua akses tersebut. Sehingga, tak sedikit mahasiswa maupun dosen yang merespon kenyataan tersebut.

M. Yazid yang merupakan salah satu dosen FEB Unsyiah, juga ikut bersuara dalam hal ini “Teruntuk Mahasiswa, diharapkan sabar menunggu sampai masa percobaan selesai, yang kurang lebih akan berakhir dalam tiga bulan ke depan”, tutur beliau.

Beliau juga menjelaskan bahwa rencana ke depannya ketika masa percobaan telah usai, mahasiswa juga dapat menggunakan lift tersebut. Akan tetapi, karena sistem penggunaannya yang memakai sensor sidik jari, maka akan sedikit rumit dalam pendataan sidik jari mahasiswa FEB Unsyiah nantinya, mengingat mahasiswa FEB Unsyiah yang tak sedikit bahkan berjumlah ribuan orang.

Oleh sebab itu, ada kemungkinan sistem penggunaannya akan diganti ketika lift benar – benar telah siap digunakan,  pihak gedung EKP nantinya akan mengontrol setiap mahasiswa yang belajar di gedung tersebut, agar penggunaan lift tidak sembarangan dan tidak melebihi bobot yang hanya sekitar empat ratus kilogram.

Jadi, apapun langkah yang diambil oleh pihak kampus, diharapkan juga berdampak bagi mahasiswa, sehingga inovasi yang telah tercipta dapat dirasakan oleh semua pihak, dan  menjadi suatu keefektifan dalam berkegiatan. (Mol)

 

Angkatan 2016 FEB, Angkatan Yang Hilang?

 

Foto by Vannadisme

Darussalam – Kekecewaan dirasakan oleh mahasiwa angkatan 2016 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah, “lagi”. Kekecewaan ini bermula ketika sebuah bukti mereka menjadi bagian dari sebuah universitas telat didapatkan, yaitu Almamater. Mereka sangat menyayangkan hal ini beberapa waktu lalu. Meskipun sudah dibagikan, Tetapi masih ada beberapa yang mahasiswa belum mendapatkannya. Sangat disayangkan, sejatinya Almamater adalah sebuah simbol penting bagi mahasiswa.

Tidak terlepas dari kata penting, kejadian ini terulang kembali bagi mahasiwa angkatan 2016. Mahasiswa 2016 belum menerima sertifikat PAKARMARU. PAKARMARU (Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru) merupakan salah satu kegiatan menyambut mahasiswa baru Unsyiah yang dilaksanakan setiap tahunnya bersifat edukatif dan wajib bagi seluruh mahasiswa, dan menjadi salah satu syarat sidang.

Hal ini tentunya menjadi buah bibir bagi mahasiswa FEB saat ini,  terutama bagi mahasiswa yang belum mendapatkan sertifikat tersebut. Pertanyaan besar terus timbul, dikarenakan mahasiswa angkatan 2017 FEB sudah lebih dulu mendapatkan Sertifikat PAKARMARU tersebut, sama halnya yang terjadi pada masalah Almamater.  Seharusnya, mahasiswa angkatan 2016 terlebih dahulu yang menerima Sertifikat tersebut. Mengingat kegiatan ini  sudah terselenggara hampir 3 tahun lalu lamanya. Bak bait syair lagu Raisa “Apalah arti aku menunggu” angkatan 2016 FEB Unsyiah harus menunggu terus entah sampai kapan.

Terkait ketidakadilan didalam pembagian Sertifikat dan almamater tersebut, kabar berita terkait hal tersebut pun juga tidak terdengar di telinga para Mahasiswa hingga saat ini. Kelihatan sangat tidak adil bukan? Apakah alasan dibalik keterlambatan tersebut? Di mana posisi angkatan ini? Mahasiswa 2016 terus mempertayakan itu. Mahasiswa tidak mendapatkan kejelasan sedangkan angkatan dibawah mereka terus mengalami kemajuan dan terlebih dulu mendapatkan keduanya.

Fakta ini terus terjadi terhadap angkatan 2016, disamping kekecewaan yang muncul. Harapan masih terus diberikan oleh mereka,“ Saya merasa tidak ada kejelasan saja walaupun belum ada masalah. Kenapa semua telat? Almamater dan sertifikat. Harapan kami, semoga angkatan 2016 cepat mendapatkan hal tersebut dan dapat menimalisir keterlambatan,  minimal diberi kabar,” ungkap salah satu mahasiswa. (Jun/Rez)

Mesjid AL-MIZAN FEB Unsyiah Rencanakan Renovasi

Foto : Syafira

Darussalam – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah melakukan perencanaan perluasan Mesjid Al-Mizan. Hal ini tampak dari spanduk yang ada disekitaran kampus dengan memperlihatkan rancangan Mesjid Al-Mizan nantinya. Ridwan Ibrahim selaku Wakil Dekan II FEB membenarkan rencana perluasaan ini ketika ditemui di ruangannya pada Selasa (19/2). “Tahun ini diadakannya reuni akbar alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah dan salah satu agenda ingin melakukan perluasan Mesjid Al-Mizan. Pada awal ini baru membuat persiapan desain dan berapa biaya yang dihabiskan serta mengumpulkan biaya”, ujar beliau.

Adapun alasan perluasan Mesjid Al-Mizan ini dikarenakan tidak cukupnya tempat beribadah bagi putri sehingga diperlukan perluasan. Seperti yang kita ketahui selama ini bahwa tempat beribadah putra berbeda bangunan dengan putri. Maka dari  itu, perlu adanya perluasan masjid agar tidak ada perbedaan antara putra dan putri.

Untuk saat ini sumber biaya berasal dari dosen dan staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Namun diharapkan juga adanya partisipasi alumni serta mahasiswa. Rencana akan ada penggalangan dana saat reuni akbar yang bersamaan dengan ulang tahun Fakultas Ekonomi dan Bisnis ke-60.

Dengan adanya perluasan Mesjid Al-Mizan, beliau mengharapkan masjid ini dapat menampung mahasiswa/i untuk beribadah serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan seperti pengajian atau UP3AI. (rezi&syaf)