Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus

Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus (Foto:Syawal/Perspektif)

Darussalam – Manusia pada dasarnya menginginkan hidup bersih dan bebas dari semaknya tumpukan sampah.  Sebab “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”. Begitulah kalimat yang menjadi motivasi manusia untuk terus hidup sehat dengan lingkungan yang bersih.

Berbicara mengenai kebersihan, minggu (08/04) UKM PA-LH METALIK FEB Unsyiah mengadakan kegiatan yang bernama “DARLING” atau Sadar Lingkungan”.  Acara ini merupakan agenda runtin, untuk tahun ini acara tersebut dilaksanakan diseputaran kampus Ekonomi dan Gedung PDPK. Pada pukul 10.00 WIB acara resmi dibuka oleh Bapak Murkhana,SE.,MBA selaku wakil dekan III FEB Unsyiah.

“Kegiatan ini yang penting dilakukan secara beretika dan bermoral dan tidak melakukan sesuatu yang mencemari kampus ini, Kami bangga dan kami dukung kegiatan ini,” papar beliau dalam sambutannya.

Dengan mengusung tema “Menjadikan FEB Unsyiah Bersih dan bebas sampah” turut mengundang keluarga besar FEB yang berasal dari UKM dan HMJ serta DPM dan BEM. Darling merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan pada kegiatan Economic Student Day.

Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus (Foto:Syawal/Perspektif)

Kegiatan ini bertujuan untuk menyambung silahturahmi antar seluruh keluarga besar FEB Unsyiah serta menumbuhkan rasa peduli lingkungan pada kampus tercinta ini. Dikarenakan terlalu banyak sampah yang berserakan di kampus kuning. Hal tersebut pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mahasiswa/i dan civitas akademik yang juga berada dilingkungan kampus. Diyakini bahwa Darling merupakan wadah yang tepat dalam mewujudkan kampus yang lebih bersih, rapi, dan nyaman.

“Dengan keadaan kampus seperti ini, Kami sebagai UKM pecinta alam tidak nyaman. Karena kampus ini bukan hanya tempat belajar saja, Juga tempat kita tinggal apalagi kami mapalanya. Yang sering beraktifitas dengan alam maka kami juga harus menjaga alam kami,” pungkas syahrial selaku ketua panitia.

Dalam harapnnya, Ia mengatakan setelah berlangsungnya kegiatan Darling ini, mahasiswa-mahasiswa lebih sadar akan lingkungannya. Sebab jika bukan kita yang menjaga siapa lain. Jika lingkungan kotor akan menghambat terhadap keberlangsungan proses belajar dan akan terciptanya kondisi tidak nyaman.

Sadar lingkungan kuncinya. Mulai dari kita dan untuk kita. Sampah harus diminimalisir. Karena sanpah bukan warisan anak cucu kita. (Wal,Spm)

Tim Metalik, MAPALA Pertama Capai Puncak Kurik

    Tim Ekspedisi Metalik Catat Nama Sebagai Manusia Pertama Sampai Di Puncak Kurik (Hasan/Perspektif)

Darussalam – Tim Ekspedisi UKM PA-LH Metalik FEB Unsyiah pastikan menjadi yang pertama mencapai puncak Guning Kurik dengan ketinggian 3085 mdpl pada hari ke 14 pendakian, senin 19 maret lalu.

Hal ini baru diketahui  setelah adanya laporan yang di terima dari tim yang berada dilapangan melalui tim diposko kesekretariatan metalik pada siang tadi (28/3). Keterlambatan informasi ini dikarenakan tidak adanya sinyal komunikasi yang tersedia.

Untuk saat ini dapat dipastikan kondisi tim dilapangan dalam keadaan yang baik dan sehat.

“Akhirnya setelah mencapai hari pendakian ke-14. Tim berhasil menginjakkan kaki nya di puncak Gunung Kurik dengan keadaan mereka alhamdulillah sehat,” ujar Yolan Dirga alias kipen selaku ketua umum metalik.

Seperti diketahui sebelumnya pada ekspedisi yang pertama, tim kurik I sempat gagal mencapai puncak. Namun kali ini tim kurik II yang terdiri dari 6 orang memastikan dirinya sebagai manusia pertama yang berhasil mencapai puncak Gunung Kurik.

Saat ini posisi tim sedang dalam perjalanan pulang, menuju pintu rimba yang ada di Desa Kute Reje, Linge Aceh Tengah.

“Tim sedang dalam perjalanan pulang saat ini, mungkin bisa dipastikan akan sampai dipintu rimba pada hari ke 26, dan saat ini juga kami sedang mempersiapkan diri untuk penjemputan mereka,” tutup kipen. (Hb)

Bersama BEI dan RHB Sekuritas, FEB Unsyiah Hadirkan Kembali Galeri Investasi

 

Bersama BEI dan RHB Sekuritas, FEB Unsyiah Hadirkan Kembali Galeri Investasi (Foto: Perspektif)

Darussalam – Rabu (21/3) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah bersama Bursa Efek Indonesia dan PT RHB Sekuritas Indonesia adakan Re-launching Galeri investasi BEI FEB Unsyiah Di Balai sidang Fakultas ekonomi dan bisnis Unsyiah.

Turut hadir pula Rektor Unsyiah Prof Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prof. Dr. Nasir Azis, SE., MBA, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan, Direktur PT RHB Sekuritas Indonesia Hendy Salim. Beserta jajaran civitas akademika FEB Unsyiah.

Sebelumnya pada tahun 2011 dan 2014 FEB Unsyiah pernah memiliki galeri investasi namun sempat vakum. Kali ini dengan menggandeng perusaan sekuritas yang baru yakni RHB sekuritas FEB Unsyiah bersama BEI adakan Re-launching Galeri Investasi BEI FEB Unsyiah.

Direktur Pengembangan Bursa Efek indonesia menjelaskan bahwa galeri investasi ini merupakan bentuk kerja sama antara bursa efek indonesia, perusahaan sekuritas dan perguruan tinggi yang bertujuan mendorong agar masyarakat kampus bisa belajar mengenai investasi bahkan hingga menjadi investor.

Saat ini ada di seluruh Indonesia sudah berdiri 353 galeri investasi dan untuk wilayah aceh sendiri sudah tersebar 10 galeri investasi. Namun untuk lingkungan Unsyiah sendiri, Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi kampus pertama yang mempunyai galeri investasi. Nicky Hogan juga menjelaskan bahwa Tak ada kriteria khusus bagi perguruan tinggi yang ingin mendirikan galeri investasi. “terbuka bagi semua fakultas tak hanya FEB saja, Yang paling utama adalah tekad dari kampus untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa,” ujarnya.

Dengan adanya realunching ini di harapkan dapat menimbulkan kerjasama yang baik antar pihak kampus, BEI dan perusahaan sekuritas untuk dapat meningkatkan kembali investasi di pasar modal Banda Aceh.

Juanda SE, M.Sc selaku ketua dari galeri investasi FEB Unsyiah mengatakan dengan aktif kembali galeri investasi ini bahwa selain sebagai tempat untuk investasi juga akan mengadakan edukasi mengenai pasar modal kepada civitas akademika dan masyarakat umumnya.

Beliau juga mengatakan hal ini dapat menjadi aplikasi dan wadah terhadap ilmu yang sudah di dapat kan di kampus. ”Saya berharap ilmu yang sudah kita dapatkan di bangku kuliah terutama ilmu investasi saham dapat di aplikasikan di galeri investasi ini,” ucapnya.

Selain acara simbolis pemotongan pita dan penandatanganan piagam kerjasama galeri investasi untuk pertama kalinya mengadakan seminar pasar modal. Dengan mengusung tema ‘Investasi Cerdas di Pasar Modal’ diharapkan agar mahasiswa unsyiah yang nantinya serius mempelajari ilmu ini dapat bersaing secara cerdas baik itu lokal ataupun level nasional. Selain itu seminar ini juga berefek terhadap terbukanya wawasan mahasiswa dalam dunia pasar modal. Tak tanggung- tanggung seminar juga diisi langsung oleh Nikcy Hogan direktur BEI dan juga Hendy Salim direktur PT RHB sekuritas indonesia sebagai pembicara.

Mahasiswa yang mengikuti rangkaian acara sangat antusias. Hal ini dapat dinilai dari keikut sertaan mereka dan aktif bertanya yang juga berhadiah tabungan modal senilai ratusan ribu rupiah. (Hb)

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah?

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah? (Foto : google)

Bercadar merupakan suatu hal yang sudah tidak asing lagi terutama di kalangan civitas akademika FEB Unsyiah. Tak sedikit pula dari jumlah mahasiswi yang menggunakan cadar. Tentunya bagi mereka yang menggunakan cadar punya alasan dan tujuan yang kuat.

Tujuan utama mereka bercadar ialah untuk menutup aurat. Melindungi diri dari tindak asusila serta terhindar dari fitnah. Jika ditinjau dari tujuannya menggunakan cadar merupakan suatu hal yang positif dan merupakan salah satu anjuran menurut agama Islam. Namun mengapa sebagian masyarakat masih saja beranggapan bahwa mereka yang bercadar tergolong kaum radikal.

Seperti halnya kejadian yang baru-baru ini terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dimana pihak kampus sendiri mengeluarkan peraturan yang melarang mahasiwanya untuk bercadar. Tentu hal  ini menuai banyak aksi protes dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi mahasiswa (Ormawa), organisasi masyarakat (Ormas), ulama, serta MUI.

Aturan yang dibuat ini dinilai sebagai bentuk tindakan preventif untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme, “Kami melihat gejala itu, kami ingin menyelamatkan mereka, jangan sampai mereka didoktrin sehingga mereka menjadi korban dari gerakan-gerakan radikal itu,” ujar Yudian Wahyudi selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga. (Sumber: BBCIndonesia)

Tak itu saja, selain alasan pencegahan dari radikalisme terdapat pula alasan lain, yaitu Pedagogis. Mahasiswi yang menggunakan cadar dianggap mempersulit kegiatan pengajaran di kampus, dosen pengajar mendapati kesulitan dalam mengenal identitas mereka karena wajah mereka yang tertutup.

Lantas bagaimana dengan universitas lain yang tidak melarang mahasiswinya untuk bercadar, bukankah sejauh ini tidak ada masalah yang muncul terkait penggunaan cadar?

Untuk Unsyiah khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri yang terletak jelas di provinsi yang merupakan mayoritasnya penduduk kaum muslim, tidak ada aturan khusus yang mengatur penggunaan cadar selagi itu tidak mengganggu kenyamanan bersama.

Menanggapi permasalahan larangan penggunaan cadar ini, pihak kampus sendiri tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga. Karena sadar bahwa bercadar merupakan salah satu bentuk dari menutup aurat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana dosen FEB  yang ikut berkomentar.

“Saya pribadi tidak pernah melarang mahasiswi untuk bercadar karena itu adalah hak mereka dan berkaitan dengan agama jadi sama sekali tidak bisa kita sentuh,” jelas salah satu Dosen Ekonomi Pembangunan, Fitriani,S.E.,M.Sc.

Sampai saat ini dosen FEB  mengaku tidak pernah mendapati kesulitan yang disebabkan oleh mahasiswi yang bercadar. Apalagi sampai kesulitan dalam hal berinteraksi serta tidak pernah menemukan salah satu dari mereka pengguna cadar yang menganut paham radikal,

Dapat dikatakan bahwa anggapan mereka yang memakai cadar adalah anggota teroris atau kelompok radikal merupakan suatu anggapan yang salah dan tidak mendasar.

“Jika tindakan pencegahan radikalisme dijadikan sebuah alasan maka kalau begitu kelompok radikal ini bisa dari siapa saja, tak hanya dari yang bercadar ini, dan juga saya mempunyai mahasiswa yang bercadar dan juga beberapa dosen lainnya, Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah dalam berkomunikasi maupun lainya, karena walaupun mereka bercadar saya tetap bisa mengenali mereka melalui suara,” tambahnya. (Sal, AH)

UU MD3 : Kriminalitas terhadap Demokrasikah?

UU MD3 :Kriminalitas terhadap Demokrasikah? (Mevi/Perspektif)

Darussalam- Rakyat Indonesia kembali dibuat bingung oleh pemerintahan. Hal ini terkait dengan pengesahan UU MD3 oleh Menteri Hukum dan HAM pada 14 Maret 2018 tanpa ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo. Dikarenakan adanya pasal yang mengarah kepada kriminalitas demokrasi.

UU MD3 ( Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD) merupakan undang-undang yang dibuat untuk melindungi anggota dewan dari upaya hukum yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). UU MD3 melindungi para anggota dewan dalam tiga tindak pidana khusus, yakni korupsi, terorisme, dan narkoba.

Undang-Undang nomor 17 tahun 2017 tentang  MPR, DPR, DPD, DPRD (UU MD3) ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) dan mendapatkan penomoran dalam lembaran negara pada tanggal 14 Maret 2018, seiring dengan batasan 30 hari presiden Jokowi tidak menandatangani surat tersebut. Hati bertanya, apakah presiden dan rakyat Indonesia ini sungguh setuju dengan pengesahan tersebut?.

UU MD3 sudah menuai polemik karena mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Anggota dewan kian dibuat tak tersentuh dan kebal hukum dari tindak pidana khusus. Ketidaksesuaian itu timbul dari tiga pasal, yakni: pasal 73, pasal 122 dan pasal 245.

Pasal 73 mengatur tentang tentang wajib menghadirkan seseorang dalam rapat di DPR atas bantuan aparat kepolisian. Pasal 122 huruf k, yang mengatur kewenangan MKD (Mahkamah kehormatan Dewan) menyeret siapa saja (perseorangan, kelompok, atau badan hukum)  ke ranah hukum jika melakukan perbuatan yang patut diduga merendahkan martabat DPR dan anggota DPR. Dan pasal  245 mengatur tentang anggota DPR tidak bisa dipanggil aparat hukum jika belum mendapat izin dari MKD dan izin tertulis dari presiden. Izin MKD diganti dengan frase “ Pertimbangan” (Revisi UU MD3).

Selain itu  dalam ayat 6 pasal pasal 73 , polisi berhak menyandera pihak yang menolak hadir diperiksa DPR paling lama 30 hari, ketentuan penyanderaan akan dibakukan dalam peraturan kapolri.

Dari isinya, UU MD3  dianggap sangat substantif karena bertentangan dengan UUD 1945.

Banyak Mahasiswa yang berdatangan mendatangi “tempat suci” negara hukum ini. Mahasiswa melakukan aksi demo sebagai tanda aksi penolakan. Bahkan beberapa pihak telah mengajukan gugatan mereka ke Mahkamah Konstitusi.

Lalu, apa yang mendorong mereka melakukan aksi penolakan terhadap kelola hukum di Negeri ini  ?.

Sesuai dengan kata mereka, negara yang hebat itu adalah negara yang mau mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ketika orang bebas berbicara, mengkritik, mengeluarkan pendapat, ini dapat dijadikan sebagai evaluasi apa yang dirasakan masyarakat terhadap kinerja DPR, sesuai dengan prinsip demokrasi ( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Pada saat kebebasan itu dibatasi, tidak ada lagi namanya evaluasi dan perbaikan sehingga negara ini hanya jalan ditempat saja.  Bahkan kembali ke masa dulu, pada zaman orde lama. Lantas, kemanakah makna demokrasi yang menjadi identitas negara ini?.

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan negara kita selama beberapa periode. Sungguh disayangkan jika kasus ini mengakibatkan ketidak adilan untuk rakyat dan membuat maknanya bobrok karena terserang kriminalitas secara tidak langsung. Demokrasi adalah pilihan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan sistem bernegara, sistem bermasyarakat yang lebih baik dan sejahtera. Jika ini terlampau terjadi, rakyat tentunya ingin pemerintah berkaca kembali.

Berbicara mengenai demokrasi, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) juga turut memberikan pendapat.

“Dari beberapa headline yang saya baca, jujur saya khawatir terhadap hal ini. Karena ada beberapa pasal yang membahayakan kebebasan berpendapat. Misalnya pemanggilan paksa karena dianggap melawan mereka. Tapi pemberitaannya cuma fokus ke yang buruk-buruk aja. Kita gak tau apakah ada yang bagus disitu,” ujarnya.

Namun, alangkah bagusnya jika pemerintah mempertimbangkan peraturan yang akan diberlakukan agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Sepatutnya pemerintah mereview kembali dari mana asal kedudukan yang mereka dapatkan. Jika tidak siap dikritik dan menerima pendapat dari rakyat, untuk apa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat yang pada hakikatnya menyuarakan rakyat.

Rakyat berhak berkomentar dan memberi pendapat. Toh pada faktanya rakyat hanya mengomentari kesalahan, keteledoran serta penyelewengan. Selama tidak melakukan hal tersebut, apa yang ditakutkan?.

“Seharusnya peraturan itu untuk mensejahterakan rakyat, bukan membatasi hak-hak rakyat. Dan juga DPR bertugas mendengarkan aspirasi rakyat bukan malah membungkam rakyat.” Tambah mahasiswa lainnya.

UU MD3 perlu direvisi kembali. Rakyat menginginkan hal itu terjadi. Harapan akan kebijakan dari Presiden Rakyat Indonesia untuk mengeluarkan Perpu pun dinantikan. Demokrasi negara kita adalah demokrasi pancasila, bukan demokrasi kriminalitas. (Sul,Frz)

Menuju Glee Sijuk, Angkatan Muda Metalik Siap Ikuti Pendidikan Lanjutan

Angkatan Muda Metalik Siap Ikuti Pendidikan Lanjutan (Foto: oja/Perspektif)

Darussalam – Jumat (16/3) UKM PA-LH Metalik (Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam dan Lingkungan) menggelar acara pelepasan bagi anggota yang akan menjalankan pendidikan lanjutan (DIKJUT). Kegiatan ini merupakan program rutin tahunan yang diikuti oleh angkatan muda Metalik, dan untuk kali ini mereka akan menuju Glee sijuk di Desa Jantho Baroe, Aceh Besar mulai tanggal 16 hingga 26 Maret 2018. Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 8 orang, 4 diantara perempuan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah skill dan kemampuan dari angkatan muda Metalik.

Sejauh ini, persiapan yang dilakukan oleh tim tidak mengalami kendala dan berjalan dengan lancar. Sebelum pendidikan lanjut diadakan, pihak panitia melakukan latihan fisik untuk para peserta. Selama berlangsungnya kegiatan ini, angkatan muda Metalik akan belajar navigasi, bertahan hidup di alam bebas, manajemen perjalanan, manajemen logistik, dan juga mempelajari P3K.

“Persiapan untuk kegiatan ini dilakukan selama 2 bulan dari pertengahan bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan Maret dan dirancang dengan sangat matang yang akan selesai pada bulan April setelah tim dari lapangan turun kembali,” ujar maulana selaku ketua panitia.

Kegiatan ini tak hanya sekedar menjadi program tahunan untuk angkatan muda metalik, tetapi juga  memberi pengaruh terhadap  Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Hal ini dikarenakan pendidikan lanjutan Metalik memiliki nilai positif yang memberi efek bahwa Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis mampu melestarikan alam sekitar tak hanya di lingkungan fakultas saja tetapi juga menelusuri daerah-daerah yang ada di Aceh.

“Harapan untuk Kegiatan ini semoga dapat berjalan dengan lancar dan pendakian selama disana dapat dilaksanakan dengan mudah. Semoga para peserta yang mengikuti kegiatan ini sampai pada tujuan dengan selamat dan pulang kembali dalam keadaan sehat,” tutupnya  (RJ)

iESA adakan Latihan Kepemimpinan Public Speaking & Keorganisasian

iESA adakan Latihan Kepemimpinan Public Speaking & Keorganisasian (foto; Ghrina/Perspektif)

Darussalam – Minggu (11/03) Islamic Economics Students Asossiation (iESA) mengadakan acara Pelatihan Kepemimpinan Public Speaking & Keorganisasian yang dilaksanakan di balai sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis ( FEB ) Unsyiah. Acara ini mengusung tema “ membentuk kader- kader pemimpin yang memiliki kualitas integrasi tinggi dalam mengemban tanggung jawab” dan diikuti oleh mahasiswa Ekonomi Islam. Tujuan dari acara ini ialah mengenai pelatihan kepemimpinan dalam berorganisasi.

“Tahun ini pelatihan yang diadakan lebih kepada tanggung jawab, karena tanggung jawab ini sudah pudar dikalangan mahasiswa. Oleh karena itu jagalah tanggung jawab yang sudah diberikan, jalankan amanah dengan sebaik- baiknya. Acara ini harus diikuti, karena mengajarkan hal- hal dasar tentang kepemimpinan dan keorganisasian yang susah untuk didapatkan ditempat yang lain,” sebut Muhammad Zuhdi selaku ketua panitia.

Kali ini iESA mengundang Nasrudin Hasan, SH., M.H. yang berasal dari KIP Provinsi Aceh. Nasrudin menjelaskan mengenai pentingnya pemimpin yang baik. Keberanian seorang pemimpin sangat penting dalam memimpin apapun. Baginya,pemimpin yang baik itu seperti Rasulullah SAW. “Ciri-ciri pemimpin yang baik adalah yang beriman, bertaqwa,adil,dan jujur. Itu semua terkandung pada sifat nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW,” paparnya.

Ammar Fuad SE., M.M. selaku mantan ketua BEM 2006 juga diundang sebagai pembicara dalam menyampaikan materi tentang keorganisasian, tanggung jawab, kerjasama dan sebaiganya. Beliau adalah ketua BEM yang sangat berpengalaman khususnya dalam bidang keorganisasian dan juga banyak berkecimpung diorganisasi- organisasi lainnya.

Selain Nasrudin Hasan dan Amar Fuad, acara ini juga dihadiri Haikal Saputra yang juga merupakan ketua umum iESA tahun 2014. Dalam penyampaian materi haikal menceritakan mengenai history iESA, yaitu dari awal terbentuknya iESA hingga sampai saat ini.

“Mengikuti organisasi itu, tidak ada ruginya, banyak sekali manfaat dalam mengikuti organisasi ini kedepannya dan selama di organisasi ambillah nilai- nilai kebaikan kehidupan moral dan etika untuk diterapkan,” pesan haikal.

Acara juga diselingi dengan pemaparan program kerja disetiap bidang- bidang  selama satu periode kedepan. “ jika kita tidak berani mengambil resiko,kita tidak akan berprestasi.maka jangan pernah takut untuk beresiko dan lakukan lah sesuatu yang dapat memberi manfaat kepada orang lain” tutup Abthal Aufar selaku ketua himpunan IESA 2018. (Ghr,la)

Sambut Kepengurusan Baru, HMM Adakan Welcoming Staff 2018

 

Sambut Kepengurusan Baru, HMM Adakan Welcoming Staff 2018 (foto: Fahmi/Perspektif)

Banda Aceh – (11/3) Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) FEB Unsyiah menggelar acara ‘Welcoming Staff 2018’ yang merupakan acara silaturahmi dan penyambutan kepengurusan 2018. Bertempat di Pantai Pulau Kapuk, Lhoknga. Acara ini juga turut dihadiri oleh pengurus HMM tahun 2015, 2016, 2017 dan 2018.

Alam Mufid selaku ketua umum HMM 2018 menjelaskan bahwa acara ini merupakan acara internal kebersamaan dan sebagai wadah silaturahmi bagi para anggota.

“Acara ini tujuan nya ingin mendekat kan setiap anggota agar tidak ada lagi rasa canggung dengan satu dan yang lain, dan membuat semuanya merasa memiliki HMM secara bersama,” ujarnya.

Acara dibuat sedemikian rupa agar tujuan untuk lebih menjadi akrab terjalin sesama anggota HMM. Tak hanya saling sharing acara juga diselingi dengan bakar-bakar ayam dan makan bersama, serta permainan-permainan seru yang ikut mengisi acara tersebut.

Acara Juga Diselingi dengan Berbagai Permainan Yang Seru (foto: Fahmi/Perspektif)

Suasana yang begitu ‘mesra’ turut menarik salah satu peserta untuk memberikan tanggapannya. Anggota baru PSDM HMM mengatakan acaranya terasa begitu asik karena tidak membedakan mana senior dan junior.

“Pengennya sih lebih ramai lagi, karena tidak semua anggota yang ikut dan juga semoga nggak cuma di sini aja solidaritas dan kebersamaan nya ada, tetapi untuk kedepannya juga tetap ada,” tutupnya. (Tuah)

HIMAKA Saweu Gampong, Bentuk Nyata Pengabdian Masyarakat

HIMAKA Saweu Gampong, sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (foto:Syawal/Perspektif)

Darussalam – Minggu (11/03) Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKA) adakan acara perdana yang sebelumnya belum pernah dilaksanakan. HIMAKA Saweu Gampong sebutannya. Acara ini merupakan program kerja terbaru ditahun 2018 dengan mengusung tema “Tapeurenoe aneuk nanggroe nyankeuh beut geutanyo.”

Program ini merupakan program usulan dari M.Fajar ikram yang merupakan kabid sosial HIMAKA. “Kami mengajukan program ini karena sesuai dengan Tridarma perguruan tinggi yang salah satunya adalah pengabdian. Tak hanya terpangku sebatas kampus saja, namun sebagai mahasiswa haruslah mengabdi kepada masyarakat. Menambah kepedulian akan sesama, serta program ini juga mendukung pemerintah untuk mencapai “sustinable devolepment goals” atau yang disebut pembagunan berkelanjutan,” jelasnya.

Acara yang berlangsung di Gp. Lambiheu Siem, Aceh besar ini disambut hangat oleh Geuchik yang juga dulunya merupakan Mahasiswa Ekonomi Unsyiah. Antusias anak anak sangat terpancar dari sikap yang diberikan. Hal ini pula dapat dinilai dari keikut sertaan 25 orang anak laki laki dan tiga orang anak perempuan yang juga ikut memeriahkan acara ini.

Tak hanya pemaparan materi, acara juga diisi dengan menampilkan video tentang ajakan menabung bersama, serta lomba menghias celengan dengan menggunakan Origami yang dapat mengasah keterampilan mereka dalam menghasilkan sebuah karya. Mereka juga diberikan bingkisan serta stiker sebagai kenang kenangan yang merupakan salah satu bentuk apresiasi.

“Alhamdulillah acara HIMAKA saweu gampong di desa lembiheu siem berjalan dengan lancar meskipun ada beberapa kendala yang dapat menjadi pembelajaran kami untuk kegiatan kedepannya, dan saya selaku ketua panitia sangat berterimakasih kepada seluruh panitia dan juga seluruh presidium HIMAKA  yang telah membantu sehingga acara ini berjalan dengan lancar,” ujar Muntasir selaku ketua panitia.

Acara ini akan kembali diselenggarakan untuk yang ke-dua kalinya di Gp.Mata ie, Montasik Aceh Besar  pada tanggal 17 Maret 2018.

M fajar ikram yang juga merupakan salah satu mahasiswa akuntansi angkatan 15  menyampaikan harapannya untuk acara ini bahwasanya semoga acara ini menjadi program kerja yang berkelanjutan dan dengan adanya acara ini mahasiswa dapat lebih mendekatkan diri kepada anak anak dan memberikan dampak positif bagi pengetahuan mereka. Semoga 2- 3 tahun kedepan HIMAKA dapat memiliki Desa Binaan. (Wal)

Dibawa Kemana Sertifikat UP3AI dan Almamater 2016?

Dibawa kemana sertifikat UP3AI dan almamater 2016? (mevi/perspektif)

Darussalam-UP3AI atau Unit Pengembangan Program Pendamping Mata kuliah Agama Islam adalah program pendamping mata kuliah Agama Islam selama dua semester dan wajib diikuti oleh semua mahasiswa Unsyiah yang beragama Islam. Program ini juga merupakan prasyarat untuk bisa mengambil mata kuliah Agama Islam. Jika salah satu program tidak diikuti maka mahasiswa yang bersangkutan tidak akan lulus. Pada akhir masa program mahasiswa juga akan diberikan sertifikat  sebagai tanda bahwa telah lulus dari program tersebut.

Sertifikat ini juga merupakan salah satu syarat sidang dan sebagai pendukung nilai SKPI. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sertifikat ini begitu diperlukan bagi mahasiswa untuk menunjang perkulihannya. Namun apa yang terjadi bila sertifikat tersebut tak kunjung dibagi? Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?.

Fakta ini yang tengah terjadi di kampus Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Khususnya bagi mahasiswa angkatan 2016. Hingga kini mereka belum mendapatkan kabar pasti mengenai kapan sertifikat tersebut dibagikan.

“Hal ini merupakan sebuah keterlambatan dan pertama kali terjadi selama kepengurusan UP3AI FEB,” ucap salah seorang pengurus UP3AI FEB 2016. Menurutnya hal ini disebabkan oleh  beberapa hal diantaranya adanya missed communication antara pihak mentor baru dengan mentor 2016. Sedangkan sebagian besar mentor 2016 telah lulus, hal inilah yang menyulitkan pihak UP3AI untuk berkomunikasi.

Banyak mahasiswa yang menyayangkan hal ini dan tentunya banyak pihak yang dirugikan. Mengingat program ini merupakan sesuatu kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa Unsyiah.

“Sebenarnya, pada bulan April sampai Mei UP3AI sudah selesai dilaksanakan. Lalu, pengisian data untuk sertifikat dilakukan saat bulan Agustus, dan perkuliahan dimulai kembali pada bulan September 2017,” tambahnya,

Keterlambatan yang dirasakan mahasiswa 2016 tidak hanya terjadi pada sertifikat tetapi juga dalam segi pembagian almamater yang masih simpang siur hingga saat ini. Melihat hal ini sudah sebaiknya para pemegang kebijakan tertinggi memperbaiki sistem atau aturan-aturan yang banyak merugikan mahasiswa. Semua ini juga diharapkan agar nantinya semua  relevan dan sejalan. Keterbukaan merupakan faktor terpenting untuk menunjang keselarasan antara pihak-pihak yang bersangkutan. (AH,Uz)