Cara Penulisan dan Penggunaan Gelar Akademik yang Benar

cara-penulisan-gelar

Ilustrasi: google.com

 

Simak cara penulisan gelar di bawah ini sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut:

1. Cara Penulisan Gelar Sarjana (S1)

S.P. (sarjana pertanian)
S.Pd. (sarjana pendidikan)
S.Pd.I. (sarjana pendidikan Islam)
S.Psi. (sarjana psikologi)
S.Pt. (sarjana peternakan)
S.E. (sarjana ekonomi)
S.Ag. (sarjana agama)
S.Fil. (sarjana filsafat)
S.Fil.I. (sarjana filsafat Islam)
S.H. (sarjana hukum)
S.H.I. (sarjana hukum Islam)
S.Hum. (sarjana humaniora)
S.I.P. (sarjana ilmu politik)
S.Kar. (sarjana karawitan)
S.Ked. (sarjana kedokteran
S.Kes. (sarjana kesehatan)
S.Kom. (sarjana komputer)
S.K.M. (sarjana kesehatan masyarakat)
S.S. (sarjana sastra)
S.Si. (sarjana sains)
S.Sn. (sarjana seni)
S.Sos. (sarjana sosial)
S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)
S.T. (sarjana teknik)
S.Th. (sarjana theologi)
S.Th.I. (sarjana theologi Islam)

2. Cara Penulisan Gelar Magister (S2)

M.Ag. (magister agama)
M.E. (magister ekonomi)
M.E.I. (magister ekonomi Islam)
M.Fil. (magister filsafat)
M.Fil.I. (magister filsafat Islam)
M.H. (magister hukum)
M.Hum. (magister humaniora)
M.H.I. (magister hukum Islam)
M.Kes. (magister kesehatan)
M.Kom. (magister komputer)
M.M. (magister manajemen)
M.P. (magister pertanian)
M.Pd. (magister pendidikan)
M.Pd.I. (magister pendidikan Islam)
M.Psi. (magister psikologi)
M.Si. (magister sains)
M.Sn. (magister seni)
M.T. (magister teknik)

3. Cara Penulisan Gelar Doktor (S3)

Dr (doktor)

4. Cara Penulisan Gelar Diploma

Diploma satu (D1), sebutan profesional ahli pratama, disingkat A.P.
Diploma dua (D2), sebutan profesional ahli muda, disingkat A.Ma.
Diploma tiga (D3), sebutan profesional ahli madya, disingkat A.Md.
Diploma empat (D4), sebutan profesional ahli, disingkat A.

Cara Penulisan Gelar Menurut EYD

Cara penulisan gelar akademik mengikuti aturan yang berlaku dalam EYD, yaitu pada aturan tentang penulisan singkatan, pemakaian tanda titik (.), dan pemakaian tanda koma (,). Ketentuan lengkapnya sebagai berikut:

  1. Setiap gelar ditulis dengan tanda titik sebagai antara antarhuruf pada singkatan gelar yang dimaksud.
  2. Gelar ditulis di belakang nama orang.
  3. Antara nama orang dan gelar yang disandangnya, dibubuhi tanda koma.
  4. Jika di belakang nama orang terdapat lebih dari satu gelar, maka di antara gelar-gelar tersebut disisipi tanda koma.

Contoh: Muhamad Ilyasa, S.H., S.E., M.M. Di antara nama dan gelar, terdapat tanda koma. Di antara ketiga gelar, juga terdapat tanda koma. Di antara huruf-huruf singkatan gelar, diberi tanda titik. Jika di antara nama dan gelar tidak dibubuhi tanda koma, maka penulisan gelar tersebut salah dan singkatan tersebut tidak bermakna gelar, melainkan bisa bermakna nama keluarga, marga, dan sebagainya. Jadi, Muhamad Ilyasa SH (tanpa koma di antara nama dan SH) bisa berarti Muhamad Ilyasa Sutan Harun atau Muhamad Ilyasa Saleh Hamid, dan sebagainya.

Penulisan gelar harus di belakang nama orang, cara penulisan gelar di depan nama orang adalah salah.

Makna Penulisan Gelar

Penulisan gelar dilakukan untuk mengesahkan bahwa seseorang telah mengenyam pendidikan tertentu dan berhasil menyelesaikan studinya pada jenjang pendidikan tersebut. Pengesahan tersebut dituliskan dalam berbagai keterangan resmi seperti ijazah, dokumen pendidikan, serta dokumen lain yang mewajibkan atau menganjurkan adanya penulisan gelar setelah penulisan nama yang bersangkutan.

Selain untuk pengesahan atas pendidikan yang telah dijalani oleh pihak yang bersangkutan, penulisan gelar juga memiliki makna dan fungsi bermacam-macam. Dalam urusan tertentu, penulisan gelar dilakukan berdasarkan fungsi untuk menghormati dan menghargai status sosial seseorang. Misalnya saja, penulisan gelar bagi orang yang diundang untuk mendatangi acara tertentu.

Penulisan terbut juga dilakukan karena seringkali ada pihak-pihak tertentu yang merasa tersinggung apabila gelarnya tidak dituliskan di dalam undangan. Padahal, secara etis, penulisan gelar yang dilakukan pada undangan tidaklah bersifat wajib karena tidak mengesankan makna tertentu selain makna status sosial.

Kasus lain yang juga membawa cara penulisan gelar adalah pada saat kita diminta untuk mengisi form aplikasi tertentu, seperti formulir saat melamar pekerjaan, atau saat mengajukan aplikasi tertentu kepada pihak atau instansi resmi yang bergerak di bidang pendidikan dan keuangan.

Misalnya saja, pada saat mengikuti seminar, mengajukan aplikasi beasiswa, mengajukan aplikasi pembuatan rekening Bank, atau aplikasi lainnya yang memang membutuhkan informasi aktual mengenai pendidikan dan pekerjaan seseorang yang mengajukan aplikasi tersebut.

Pada pengajuan aplikasi lamaran pekerjaan, penulisan gelar terkadang diperlukan sebagai bukti sah atau tidaknya orang tersebut dalam pencapaian gelarnya. Meskipun ada bukti lain yang lebih menjamin kebenaran fakta tersebut, namun penulisan gelar akademin kasus ini wajib untuk dilakukan.

Mitos Penulisan Gelar

Di Negara maju, penulisan gelar bukanlah hal yang wajib dilakukan. Apalagi jika gelar tersebut hanya dituliskan untuk kegiatan dan acara-acara kecil. Penulisan gelar hanya akan dilakukan apabila acara dan kegiatan yang digelar menyangkut urusan akademik dan jurusan yang sesuai dengan gelar yang didapatkan.

Akan tetapi, di Negara Indonesia, penulisan gelar seolah-olah menjadi hal penting yang patut diperhatikan ketika kita mengetik atau menulis nama seseorang. Padahal, tidak ada dalil atau keputusan pemerintah yang menyebutkan bahwa penulisan gelar merupakan kewajiban seluruh manusia dalam menghargai martabat seseorang. Fenomena seperti inilah yang patut dipertimbangkan oleh para pelaku akademik di Indonesia agar lebih memahami makna gelar yang didapatkan oleh seseorang.

Masyarakat Indonesia harus lebih memahami apa yang ada di balik gelar yang didapatkan seseorang itu, bukan justru menggadang-gadangkan gelar sebagai status yang perlu dihormati dan dihargai. Masyarakat Indonesia harus lebih belajar lagi memahami makna gelar yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan mitos kehormatan dan penghargaan yang selama ini dianggap sebagai bagian dari gelar yang didapatkan tersebut. Bahkan pada beberapa pelaku akademik sekalipun, penulisan gelar dalam judul dan penulis sebuah buku masih saja diikutsertakan sebagai bagian dari eksistensi yang wajib diketahui oleh pembaca umum.

Padahal, dalam daftar pustaka atau pustaka acuan suatu tulisan, gelar sepanjang apapun yang didapatkan oleh seseorang tidak akan pernah dituliskan di situ. Itulah sebabnya, mengapa masyarakat Indonesia masih saja menjadi Negara berkembang karena kehidupan yang dijalani masyarakatnya masih saja berpangku tangan pada mitos yang menyebar di lingkungan masyarakat tersebut.

Penulisan gelar yang bertumpuk, atau penulisan gelar pada konteks yang salah masih saja menjadi satu masalah remeh yang merebak di kalangan masyarakat akdemis Indonesia. Para pelaku akademik, terutama di bidang bahasa Indonesia, diharapkan mampu memberikan pengaruh dan pemahaman yang baik terhadap masyarakat pelaku akdemik lainnya agar memahami makna di balik gelar yang sudah dicapai banyak orang tersebut.

Penulisan gelar bukanlah hal utama dari apa yang harus kita dapatkan, melainkan hal apa yang harus dilakukan untuk bisa merealisasikan ilmu dan pengetahuan yang sudah didapatkan dari gelar yang kita capai tersebut. Dengan ilmu tersebutlah seseorang bisa dihargai dan menghargai sesamanya tanpa memandang gelar atau tinggi rendahnya status sosial dan pendidikan seseorang dibandingkan dengan dirinya.

Dengan pengetahuan dan wawasan yang luaslah manusia bisa menjadikan sistem masyarakat menjadi tertata rapi, meskipun tidak ada penulisan gelar di dalamnya. Karena sejatinya, penulisan gelar hanyalah cangkang dari apa yang telah kita capai sebelumnya. Kebenarannya adalah segala tingkah laku dan upaya yang kita lakukanlah yang menjadi gelar kita sebenarnya. Percuma mendapatkan gelar professor jika ia tidak bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan umat manusia.

Oleh karena itu, hindarilah memaknai gelar sebagai sesuatu yang tinggi secara artifisial. Cara penulisan gelar hanyalah sebuah cara semu untuk membuktikan bahwa kita telah mengenyam pendidikan tertentu, yang pada kenyataannya harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan nyata dan upaya yang juga bermanfaat bagi kehidupan.

Sumber: http://www.anneahira.com/cara-penulisan-gelar.htm

 

Tips Jurnalistik Dasar Bagi Wartawan Pemula: Bagaimana Menulis Berita yang Baik Untuk Koran

jurnalistik

(Sumber foto: wallpapercraft.com)

#1: Menulis dengan jujur. Fakta tidak boleh dipelintir. Opini dan penafsiran harus ditulis dalam alinea yang berbeda. Boleh tidak netral, tapi harus independen.

Jika harus menulis interpretasi atas sebuah fakta, tuliskanlah di paragraf terpisah, dan tunjukkan secara jelas kepada pembaca supaya mereka tahu mana yang fakta dan mana opini atau penafsiran si wartawan.

Reporter yang meliput berita di lapangan harus bersikap independen terhadap semua pihak yang terkait dengan topik tulisannya. Berikan kesempatan yang sama bagi semua narasumber untuk menjelaskan versi mereka, jangan memvonis kebenaran. Wartawan boleh tidak netral, misalnya kalau harus memihak pada rakyat yang jadi korban penindasan penguasa, namun harus selalu independen dengan memberikan kesempatan pada penguasa untuk berbicara.

#2: Tanda Baca koma dan pola piramida terbalik.

Berhati-hatilah menggunakan tanda baca koma. Bila salah penempatan, maka redaktur di kantor redaksi bisa salah memahami laporan anda. Menulis berita biasa haruslah dalam format piramida terbalik. Yang paling penting di bagian paling atas; alinea-alinea di bawahnya semakin kurang penting. Saya sering membaca berita koran daerah yang memuat nama-nama pejabat yang menghadiri sebuah acara seremonial pada alinea kedua atau ketiga, padahal inti beritanya justru di alinea kelima atau bahkan menjelang akhir.

#3: Catat dengan detail. Dengarkan dengan cermat. Rekam, jangan andalkan ingatan.

Kalau narasumber mengucapkan kalimat dengan makna ganda atau kurang jelas, tanyakan kembali dan tegaskan. Jangan sampai yang dia maksud adalah “Polisi belum akan memeriksa dia” tapi anda tulis dalam berita sebagai “Polisi tidak akan memeriksa dia”.

#4: Tulis dalam kalimat yang jelas, lengkap, dan jernih.

Redaktur koran harian akan membiarkan naskah berita reporter yang ditulis dengan kalimat yang membingungkan, karena dia dikejar tenggat menyelesaikan halamannya. Kalau anda menulis berita kriminal tentang mencuri, maka sebutkan sejelas-jelasnya SIAPA yang mencuri, SIAPA yang menjadi korban, dan APA yang dicuri. Jangan anda malah asyik menulis BAGAIMANA pencurian itu terjadi, atau ajakan kapolsek agar warga melakukan ronda malam.

Yang paling mendasar dalam sebuah berita biasa ialah APA dan SIAPA, baru kemudian DI MANA, KAPAN dan yang lainnya. Jangan tulis “Menurut Amir, bla-bla-bla…” tanpa anda jelaskan siapa itu si Amir; apakah dia demonstran, penonton aksi demo, atau pendukung pihak yang didemo.

#5: Fokus pada topik berita. Jangan melebar ke sana-sini.

Sejak meliput dan wawancara di lapangan, reporter koran sudah harus tahu apa topik atau sudut pandang laporannya. Bila memilih “nasib guru honorer berupah kecil”, maka temuilah pihak-pihak yang terkait dengan isu tersebut. Selain wawancara dengan guru, tanyai juga kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan, anggota DPRD dari komisi yang membidangi pendidikan, pensiunan guru, dll. Jangan malah anda hanya mengutip komentar aktivis LSM karena dia punya saudara yang baru diputus-kontrak sebagai guru honorer.

#6: Tulis dengan proporsional, jangan berlebihan.

Ini kelemahan banyak reporter koran di daerah. Fakta yang diaperoleh dari narasumbernya, katakanlah kejaksaan, adalah bahwa Kabag Umum sedang diselidiki terkait kasus dugaan penggelembungan dana pembelian seprai dan gorden rumah dinas bupati. Tapi kemudian ditulisnya dalam berita “Tapanuli Utara sarang korupsi”. Jika anda ingin menulis berita Tapanuli Utara sebagai sarang korupsi, maka beberkanlah sekian banyak data kasus korupsi di daerah itu.

Ada wartawan koran menulis berita “Dengan arogannya Camat menjawab via telepon bahwa…” hanya karena si narasumber berbicara ketus-ketus.

Sebaliknya reporter lain yang baru mendapat amplop tebal dari pejabat mengirim naskah berita ke redaksinya “Bupati yang sangat dicintai rakyatnya ini mengatakan…,” padahal si bupati baru saja ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan beberapa kali didemo warga.

#7: Periksa kalimat kutipan, pernyataan off the record, konfirmasi, dan “ucapan di kedai kopi”.

Jangan biarkan beritamu memiliki celah untuk digugat ke pengadilan. Jika harus menulis kalimat langsung, maka tulislah seperti apa adanya diucapkan oleh narasumber. Bila dia mengucapkan kalimat dalam bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, telitilah saat menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Saat melihat catatan atau mendengar rekaman wawancara, jika anda bingung atau lupa mana bagian informasi yang merupakan pernyataan off the record (tidak untuk ditulis) dan mana yang bukan, tunda dulu menuliskan bagian itu sebelum berhasil mempertanyakan kembali pada narasumber berita.

Si A menuding si B. Apakah anda sudah melakukan konfirmasi pada si B? Jika belum, jangan dulu menulis berita itu. Kalaupun harus, karena alasan-alasan tertentu, seperti deadline atau faktor kemenarikan topik berita, maka samarkanlah secara total identitas si B. Kalau si A menuding si B dalam tiga hal, maka konfirmasinya tidak boleh hanya menyangkut satu hal.

Wartawan koran duduk-duduk santai bersama pejabat dan politikus di kedai kopi, lalu ada seorang pejabat yang melontarkan pernyataan menarik, kemudian si reporter mengutip kalimat tadi dalam beritanya dengan menuliskan nama si pejabat. Jangan lakukan yang begini. Anda harus kembali menemui si pejabat untuk meminta izin apakah kalimatnya itu boleh anda kutipkan ke dalam berita.

#8: Yang terakhir, dan ini sangat mendasar: Patuhilah kode etik jurnalistik yang melarang wartawan melakukan plagiat atau menjiplak.

Jangan kira jika anda mengutip beberapa kalimat berita dari koran lain, atau menyadur bahan dari Internet, maka hal itu tidak akan ketahuan. Percayalah, cepat atau lambat akan ada pembaca yang komplain dan menyampaikannya kepada redaksi anda di kantor. Jika begitu, karir kewartawanan anda sudah sedang di ujung tanduk. Redaktur anda akan wanti-wanti untuk menerbitkan berita yang anda laporkan, dan koran lain pun akan berpikir keras untuk menerima lamaran dari wartawan tukang jiplak.

 Sumber: http://www.facebook.com/notes/komunitas-orang-jember/inilah-cara-menulis-berita-bagi-jurnalis-pemula/

Menulis Fiksi, Mengasah Kreativitas

admin_1-asset-502ba7d510930Fiksi adalah prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubunganhubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.

Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia. (Altenbernd dan Lewis, 1966 : 14). Fiksi atau prosa dapat berbentuk roman, novel, cerita pendek (cerpen), drama, ataupun film. Oleh karena itu, karya fiksi juga merupakan bagian dari dunia sastra.

Dalam penulisannya, tokoh, watak maupun alur yang ada didalam tulisan hanyalah sebuah rekaan, khayalan atau hasil imajinasi sang penulis. Namun  bukan berarti karya fiksi hanyalah sebagai hasil kerja lamunan belaka. Segi kreativitas atau imaji yang ada didalamnya sepenuhnya masihdapat dipertanggungjawabkan sebagai salah satu karya seni.

Ketika menulis fiksi, kita dituntut untuk mengembangkan daya kreativitas, menembus batas pemikiran imaji, dan mengasah daya nalar kita secara bebas. Kepekaan pemikiran kita diasah dengan polesan pilihan kata-kata yang baik sehingga membuat kalimat yang baik pula. Kita dapat menulis fiksi dengan mengambil kisah pribadi maupun kisah orang lain.

Proses kreativitas ataupun imajinasi digunakan untuk mendramatisasikan hubungan- hubungan yang terjadi dalam kehidupan nyata. Cerita atau kejadian apa saja yang dapat dirasakan oleh indera dapat kita tuliskan sebagai bagian dari tulisan fiksi. Lagipula dalam penulisan fiksi tidak ada aturan baku atau kaidah yang ketat seperti tulisan nonfiksi maupun tulisan ilmiah.

Kemudian untuk menarik minat pembaca, penulis diharapkan tidak hanya sekedar memberikan informasi nyata, tetapi juga dapat memasukkan unsur seni ataupun hiburan sebagai sarana komunikasi, pembangkit emosi, ataupun sebagai penambah motivasi. Sehingga dengan adanya unsur-unsur tersebut, kegairahan pembaca untuk menyimak hasil tuliaan fiksi diharapkan bisa muncul.

Pada dewasa ini cukup banyak fiksi dalam bentuk cerpen ataupun novel yang berbasis islami. Misalnya seperti menggunakan contoh negara-negara  Timur Tengah sebagai latar belakang cerita, kemudian mencontohkan gaya hidup remaja islami, menggunakan istilah atau kata yang bernuansa Arab, ataupun banyak hal lainnya yang berbau agama. Lalu tak sedikit pula para remaja yang tersentuh setelah membaca tulisan-tulisan fiksi tersebut. Maka tidak mengherankan kalau tulisan fiksi dalam bentuk novel yang demikian menjadi bestseller!

Bahkan beberapa diantar novel terlaris tersebut disajikan juga melalui layar kaca alias difilmkan. Dari hal tersebut, disamping menandakan tingginya minat terhadap bacaan fiksi, disinilah tanda-tanda bahwa menulis fiksi itu merupakan cara mudah untuk memikat para pembacanya dengan tulisan-tulisan ringan. Ide didalam tulisan fiksi dapat dikreasikan semenarik mungkin dengan olahan kata-kata yang mampu memancing minat pembacanya, serta makna yang terkandung didalam tulisan pun dapat lebih mudah dihayati serta dipahami.

Contoh tulisan fiksi dalam bentuk cerpen adalah ceritapendek “Dajjal” karya Nazar Shah Alam yang dimuat harian Serambi Indonesia (8/9/2013).  Pengarang memainkan kreativitasnya dengan memadukan unsur pendidikan, yakni bagaimana ciri Dajjal, denganunsur hiburan seperti halnya yang dilakukan oleh pemeran utama di dalam cerita pendek tersebut. Sehingga karya fiksi tersebut tidak hanya memberikan informasi nyata tentang Dajjal itu sendiri, tetapi juga ada unsur hiburan yang diselipkan melalui humor. Atau contoh fiksi lain dalam bentuk teater, seperti teater “Dum”, yang dipentaskan oleh kalangan remaja Aceh di Sultan II Selim Banda Aceh (14/12/13) yang diprakarsai oleh Komunitas Tikar Pandan kerja sama dengan sejumlah lembaga dan komunitas dalam memperingati sembilan tahun bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami Aceh.

Dalam pementasan teater yang disutradarai oleh Agus Pmtoh tidak hanya terpaku pada pemaparan bagaimana kejadian bencana alam kala itu tetapi juga diselingi beberapa humor yang dilakoni oleh pemeran dalam teater tersebut. Alhasil gelak tawa dari para penonton yang menikmati gelaran teater tersebut pun bermunculan.

Screenshot_55

 

Oleh Muhammad Fauzan,

Anggota LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Perspektif Unsyiah

Tips Merawat Jeans

Masalah utama dari pakaian berbahan denim atau yang akrab kita sebut jeans, pastinya lama-kelamaan warnanya akan menjadi pudar. Nah para pencinta denim tidak perlu khawatir lagi, berikut ini ada beberapa cara merawat pakaian berbahan denim. Selamat mencoba!
  • PENCUCIAN

Sebaiknya pencucian jangan melalui proses perendaman karena sifat dari pada kain Jeans (Denim) adalah mudah luntur. Jika pencucian dengan perendaman, hindari air panas dan sebaiknya proses perendaman dengan air dingin yang telah dilarutkan dahulu dengan detergen. Setelah homogen (merata) baru kemudian Jeans dimasukkan kedalam air yang sudah mengandung detergen, lama perendaman tidak lebih dari 2 jam. Hindari pencucian dengan pemutih (Sodium Hipoclorid) yang akan mengakibatkan terjadinya bercak-bercak putih pada kain. Sebaiknya pencucian Jeans (Denim) harus terpisah, jangan dicampur dengan pakaian lain yang bukan jeans karena akan mengakibatkan warna pakaian lain menyerap kandungan warna biru sisa air cucian Jeans. Untuk jenis kain non Denim, (Corduroy, Permanent Press) sebaiknya pencucian jangan disikat karena akan mengakibatkan serat menjadi berbulu.

  • PENGERINGAN

Hindari pengeringan langsung dengan matahari yang akan mengakibatkan warna cepat pudar.
Sebaiknya pengeringan dilakukan dengan cara membalik Jeans terlebih dahulu agar yang terkena sinar matahari adalah bagian dalam Jeans.

  • PENYETRIKAAN

Jangan melakukan penyetrikaan pada Jeans yang sedang dalam kondisi lembab, karena akan mengakibatkan terjadinya jamur berwarna biru yang akan membuat kain menjadi cepat lapuk.
Suhu pada saat menyetrika Jeans sebaiknya jangan terlalu panas karena akan menyebabkan terjadinya stainning (bercak-bercak putih). Suhu yang dianjurkan adalah 60 C.
Untuk Permanent Press tidak dianjurkan dengan suhu diatas 60 C kaena akan mengakibatkan melelehnya Permanent Press. Suhu yang dianjurkan adalah dibawah 40 C.

  •  PENYIMPANAN

Jangan terlalu lama menyimpan Jeans dalam kondisi terlipat karena akan mengakibatkan terbentuknya garis kuning pada batas lipatan. Menyimpan Jeans sebaiknya dengan cara digantung dengan hanger agar tidak terjadi perubahan warna