Angkatan 2016 FEB, Angkatan Yang Hilang?

 

Foto by Vannadisme

Darussalam – Kekecewaan dirasakan oleh mahasiwa angkatan 2016 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah, “lagi”. Kekecewaan ini bermula ketika sebuah bukti mereka menjadi bagian dari sebuah universitas telat didapatkan, yaitu Almamater. Mereka sangat menyayangkan hal ini beberapa waktu lalu. Meskipun sudah dibagikan, Tetapi masih ada beberapa yang mahasiswa belum mendapatkannya. Sangat disayangkan, sejatinya Almamater adalah sebuah simbol penting bagi mahasiswa.

Tidak terlepas dari kata penting, kejadian ini terulang kembali bagi mahasiwa angkatan 2016. Mahasiswa 2016 belum menerima sertifikat PAKARMARU. PAKARMARU (Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru) merupakan salah satu kegiatan menyambut mahasiswa baru Unsyiah yang dilaksanakan setiap tahunnya bersifat edukatif dan wajib bagi seluruh mahasiswa, dan menjadi salah satu syarat sidang.

Hal ini tentunya menjadi buah bibir bagi mahasiswa FEB saat ini,  terutama bagi mahasiswa yang belum mendapatkan sertifikat tersebut. Pertanyaan besar terus timbul, dikarenakan mahasiswa angkatan 2017 FEB sudah lebih dulu mendapatkan Sertifikat PAKARMARU tersebut, sama halnya yang terjadi pada masalah Almamater.  Seharusnya, mahasiswa angkatan 2016 terlebih dahulu yang menerima Sertifikat tersebut. Mengingat kegiatan ini  sudah terselenggara hampir 3 tahun lalu lamanya. Bak bait syair lagu Raisa “Apalah arti aku menunggu” angkatan 2016 FEB Unsyiah harus menunggu terus entah sampai kapan.

Terkait ketidakadilan didalam pembagian Sertifikat dan almamater tersebut, kabar berita terkait hal tersebut pun juga tidak terdengar di telinga para Mahasiswa hingga saat ini. Kelihatan sangat tidak adil bukan? Apakah alasan dibalik keterlambatan tersebut? Di mana posisi angkatan ini? Mahasiswa 2016 terus mempertayakan itu. Mahasiswa tidak mendapatkan kejelasan sedangkan angkatan dibawah mereka terus mengalami kemajuan dan terlebih dulu mendapatkan keduanya.

Fakta ini terus terjadi terhadap angkatan 2016, disamping kekecewaan yang muncul. Harapan masih terus diberikan oleh mereka,“ Saya merasa tidak ada kejelasan saja walaupun belum ada masalah. Kenapa semua telat? Almamater dan sertifikat. Harapan kami, semoga angkatan 2016 cepat mendapatkan hal tersebut dan dapat menimalisir keterlambatan,  minimal diberi kabar,” ungkap salah satu mahasiswa. (Jun/Rez)

Body Shaming, ‘Bayang Hitam’ Krisis Kepercayaan Diri

Ilustrasi by Vanna

Darussalam- Semakin berkembangnya zaman,  semakin banyak pula kemajuan dalam bersuara. Kemajuan bersuara ini kerap kali menjadikan seseorang bercakap secara frontal, seperti candaan “sekarang udah kurusan ya? Udah sama kaya sapu lidi nih badan” ataupun  “kayanya kamu sekarang gendutan deh? Ngapain aja dirumah”  ataupun sapaan basa basi “lama gak jumpa, kok makin hitam sekarang?” Atau ucapan frontal lainnya. Tapi, tahukah sobat, segala ucapan yang dilontarkan tersebut merupakan bentuk dari tindakan “Body Shaming” di era millennial ini.

Menurut kamus Oxford, Body Shaming merupakan tindakan atau praktik mempermalukan seseorang dengan membuat komentar mengejek atau kritis tentang bentuk tubuh atau ukurannya. Body Shaming kerap dilontarkan sebagai sapaan namun menyinggung bentuk fisik seseorang baik wajah, bentuk tubuh, warna kulit, dan lainnya, yang tanpa sadar sering menyinggung perasaan seseorang.

Persepsi kecantikan yang putih, langsing, dan cantik, salah satu pemicu tindakan body shaming, persepsi ini kerap kali menjadi acuan perbandingan bagi seseorang dalam menilai diri orang lain, sehingga tanpa sadar menjadi suatu tindakan body shaming.

Nah,  Tanpa kita sadari, hal ini sering terjadi di lingkungan kita loh sobat, yang kita anggap sebagai sapaan ternyata boomerang bagi orang lain, tak  jarang korban body shaming  menjadi minder, depresi hingga bunuh diri. Duh, serem ya sobat. Lalu, apa saja yang perlu kita pahami untuk menghindari body shaming? Dan apa saja konsekuensi dari body shaming itu sendiri ? yuk, silahkan disimak ya sobat.

Kecantikan bukan hanya dari fisik  Nah, yang satu ini Perlu sobat pahami, segala sesuatu tidak hanya dinilai dari fisik, begitupun dalam hal kecantikan, rupa, kulit, dan badan bukanlah menjadi suatu ukuran yang menajamin bahwa seseorang itu cantik.

Persepsi kecantikan yang sempurna perlahan-lahan perlu dirubah, sejatinya segala sesuatunya tidak ada yang sempurna, cantik fisik belum tentu  menjamin hati seseorang. Ia dapat dinilai ketika mempunyai akhlak yang baik, yang merupakan cerminan hatinya yang Tulus. Tidak ada tolak ukur dalam kecantikan, sehingga tidak yang namanya cantik dan buruk. Semuanya kembali dalam penilaian sikap, prilaku, dan wawasan seseorang.

Body Shaming juga punya Hukuman. Point yang satu ini juga perlu sobat pahami, seiring banyaknya kasus tentang body shaming, ternyata  body shaming juga mempunyai hukuman yang diatur dalam Undang-undang.

Tak  tanggung-tanggung Aturan ini juga ikut dalam ranah media social, dikabarkan bahwa perlakuan menyudutkan, menjatuhkan serta menjelekkan satu pihak (Body Shaming) dalam social media dapat dijerat Hukum dengan pasal 27 ayat 3 (jo), pasal 45 ayat 3 (jo) UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang kini menjadi UU No 19 Tahun 2016. Ancaman hukumannya bukanlah hal yang biasa  yaitu dapat di penjara paling lama 4 tahun atau denda paling banyak Rp 750 juta.

Tercatat ada 966 kasus  Body Shaming yang terjadi di sepanjang tahun 2018, sebanyak 347 kasus selesai (via detik.com). Hal ini menjadi bukti sobat, bahwa body shaming kini bukanlah Sesuatu yang dianggap sepele, bahkan diatur dalam perundangan-undangan.

Tidak sedikit kasus ini terjadi di Indonesia, hal ini menjadi gambaran bahwa belum ter-edukasinya masyarakat dalam bahayanya prilaku body shaming, bahkan kasusnya pun hampir mencapai angka 1000. Ditambah, media social yang semakin marak, menjadikan masyarakat sering melakukan tindakan body shaming, baik disengaja maupun tidak disengaja.

Untuk itu sudah sepatutnya kita sebagai kaum millenial, untuk menyebarkan pengaruh positif kepada sekeliling  kita sobat, terutama dalam berprilaku dan perkataan. Body Shaming bukanlah suatu prilaku terpuji, sehingga tidak patut di contoh apalagi diikuti ya sobat. Lisan yang sejatinya sebagai anugrah dari yang Maha Kuasa kita gunakan dengan sebaik-baiknya janganlah jadikan sebagai cemoohan apalagi mendatangkan kerugian bagi orang lain. (wal)

 

 

 

 

Inovasi Baru Unsyiah, Ciptakan Sistem Absensi Online

    Ilustrasi by Vanna

Darussalam– Mengawali semester baru tahun 2019, Unsyiah kini berinovasi pada sistem absensi Mahasiswa. Senin (04/02/19) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah kini disibukkan dengan Sistem Absensi Online.  Penggunaan Sistem ini cukup mudah,  hanya dengan login pada laman simkuliah.unsyiah.ac.id melalui smartphone pribadi dan melakukan absensi sesuai dengan mata kuliah yang akan diikuti. Hal ini dilakukan setiap masuk dan berakhirnya kelas, sesuai dengan jadwal yang tertera.

Namun,  sistem ini masih mengalami beberapa kendala dalam penggunaannya, dapat dilihat dari  laman yang error saat hendak log in ke situs tersebut atau bahkan mata kuliah yang disajikan tidak sesuai dengan mata kuliah yang akan berlangsung yang berakibat tidak efesiennya sebuah sistem.

Berdasarkan informasi yang didapat dari salah satu Dosen FEB Unsyiah, sistem ini masih dalam tahap percobaan yang dilakukan di 3 Fakultas Unsyiah yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas MIPA, dan Fakultas Kedokteran.

Absensi online ini tentunya menjadi kejutan baru di awal perkuliahan semester genap ini, bahwasanya hal ini pertama kalinya terjadi dalam sistem perkulihan khususnya di lingkungan FEB Unsyiah. Tak heran jika masih banyak pihak yang belum sepenuhnya mengetahui tentang keberadaan dan penggunaan sistem absensi berbasis online ini.

Terlepas dari itu, hal ini tentunya selaras dengan pencapaian prestasi Unsyiah sendiri, dimana seperti yang kita ketahui Universitas Syiah Kuala berhasil masuk dalam kategori 10 Besar Ranking Universitas Di Indonesia dan menduduki posisi ke 9 versi IDN Times. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kampus Unsyiah dapat terus meningkatkan kualitas infrastruktur dan teknologi ke arah yang lebih maju, salah satunya dengan menerapkan sistem absensi online. (AH)

Hati-Hati Millenials, Media Sosial Bisa Jadi Pemicu Depresi

Illustrasi oleh Tematem.co

Banda Aceh – Di zaman serba teknologi ini, perubahan dapat terjadi begitu cepat. Media sosial berperan penting dalam proses penyebaran informasi, tapi juga bisa berdampak sebagai pemicu depresi yang kebanyakan dirasakan oleh generasi millenial.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), menunjukkan bahwa media sosial ternyata dapat menjadi bumerang bagi penggunanya dan menyebabkan gangguan mental hingga depresi. Penyebaran informasi tanpa batas membuka ruang bagi segala jenis konten tersebar luas di dunia maya.

“Kalau terlalu banyak informasi yang masuk tanpa difilter, ini adalah salah satu yang menyebabkan stress,” jelas Prof. Siswanto Agus Wilopo, seorang pakar kesehatan masyarakat UGM.

Ia juga menjelaskan bahwa tekanan yang terjadi di media sosial adalah tentang persepsi yang dibangun di dunia maya seperti standar kecantikan, gaya hidup dan hal yang secara tidak langsung menyebabkan ketidakpercayaan diri bagi orang lain.

Media sosial seringkali dijadikan sebagai sarana memunculkan foto diri untuk dipamerkan kepada pengikutnya di dunia maya. Namun sifat narsistik yang timbul dengan penggunaan media sosial secara berlebihan, tentu akan mudah mengganggu kesehatan mental penggunanya.

Tidak jarang, pengguna media sosial akan terus dihantui dengan kecemasan seperti ‘bagaimana jika tidak ada yang menyukai postingan saya?’ atau ‘bagaimana saya tau kabar orang lain jika tidak membuka medsos?’.

Namun Prof. Siswanto juga memiliki kiat untuk tidak mudah terpengaruh pada efek negatif yang ditimbulkan media sosial.

“Dalam hal ini kuncinya adalah ketahanan dari masing-masing individu, bagaimana kita menghadapi informasi yang buruk dan tidak membiarkannya mempengaruhi diri kita,” jelasnya.

Prof. Sofia Retnowati, ahli psikologi klinis mengatakan bahwa gejala depresi yang disebabkan oleh media sosial dapat dilihat dari perubahan perilaku seperti sulit konsentrasi dan lebih menutup diri.

“Saat ini orang bisa duduk bersama tapi sibuk dengan gadget. Hal ini yang seharusnya dihindari,” kata Sofia. (Jauhar/Dikutip dari artikel ugm.ac.id)

Tingkatkan Kepatuhan dalam Pajak, Wajib Pajak Harus Sadar dan Patuh

ilustrasi : Vanna

Kesuksesan suatu bangsa bisa tercerminkan dari pemerataannya kesejahteraan masyarakat dan pembangunan. Untuk menjalankan pemerataan tersebut pemerintah membutuhkan dana yang tentu jumlahnya tidak sedikit pula. Dana dikumpulkan dari berbagai sektor sumber daya yang dimiliki. Sumber daya meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia dan iuran dari masyarakat. Salah satu bentuk iuran dari masyarakat ialah pajak. Pajak adalah iuran wajib masyarakat indonesia yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang tanpa mendapatkan imbalan secara langsung semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat (Resmi, 2017: 2)

Pajak merupakan sumber dana terbesar di Indonesia yang sangat berperan penting bagi pembangunan. Melalui penerapan sistem self assesment pemerintah memberikan wewenang penuh bagi wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya dalam bidang perpajakan. Artinya wajib pajak dituntut untuk berperan aktif dalam melaksanakan kewajibannya mulai dari mendaftarkan diri, menghitung, melunasi pajak yang terutang hingga melaporkan pajak menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) dengan benar, jujur dan lengkap.

Wewenang penuh tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap sadar akan kewajiban perpajakan dan sikap patuh akan peraturan perpajakan yang berlaku didiri wajib pajak itu sendiri. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mencapai pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Namun pada kenyataannya kesadaran dan kepatuhan untuk melaksanakan kewajiban peerpajakan tidak tumbuh secara instan didalam diri wajib pajak. Dewasa ini pajak merupakan sesuatu hal yang harus dipahami dengan baik. Mengingat semua transaksi yang terjadi berkaitan erat dengan pajak. Pajak merupakan bagian inti dalam perekonomian. Sehingga tidak hanya wajib pajak melainkan semua msayarakat Indonesia secara tidak langsung maupun langsung akan selalu berurusan dengan administrasi perpajakan. Kesadaran dan pemahaman akan pajak begitu penting untuk menciptakan wajib pajak yang patuh.

Dalam pelaksanaan manajemen perpajakan dibidang bisnis, umumnya para pengusaha berusaha untuk meminimalkan beban pajak untuk mengoptimalkan laba. Guna terciptanya hal tersebut sebuah perusahaan harus memiliki sumber daya manusia yang selanjutnya disebut sebagai wajib pajak yang memiliki sikap sadar, patuh dan paham akan kewajiban dan peraturan-peraturan dibidang perpajakan. Hanya wajib pajak yang memiliki sikap tersebutlah yang dapat memanfaatkan celah didalam peraturan perpajakan untuk meringankan beban pajak. Pemanfaatan celah pajak yang dimaksud tentunya tidak melanggar undang-undang perpajakan. (Mifta Septia Ningsih/ Institut STIAMI)

Rupiah Makin Perkasa di Awal Pekan 2019

                           Ilustrasi : Mev

Darussalam – Mengawali sepekan di tahun 2019, Indonesia disambut dengan nilai tukar rupiah yang semakin menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Hal ini menempati trending teratas di jagad Twitter Indonesia, Senin (7/1/2019) pukul 15.00 WIB.

Dilansir dari Reuters, dollar AS sempat tercatat di level Rp13.990. Ini merupakan level terendah rupiah terhadap dollar setelah sebelumnya stagnan di level sekitar Rp14.000. Namun, angka tersebut tak berlangsung lama. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Senin (7/1/2019), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dibuka pada level Rp14.177,8.

“Mungkin akibat dari shutdown-nya pemerintah AS yang membuat pelaku pasar beralih ke emerging market, ini bisa jadi berita bagus untuk para investor” pungkas Muammar Iqram, mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan Unsyiah saat ditanyai pendapatnya.

“Kalau dari segi impor, hal positifnya bisa memikat para investor, barang yang kita beli relative murah. Kalau dari segi ekspor, pengusaha lebih baik mengurangi ekspor dan menjual produknya di dalam negeri.” Tambah Iqram.

Bank Indonesia menyebut penguatan ini terjadi karena mulai meningkatnya kepercayan pelaku pasar terhadap perekonomian di Indonesia. Selain itu juga karena mulai bekerjanya mekanisme pasar keuangan Indonesia.

Mengutip Kontan.co.id, kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan bahwa penguatan rupiah merupakan kelanjutan dari pertahanan rupiah yang sudah berlangsung sejak minggu lalu. Selain itu, saat ini keadaan pasar Negara maju, seperti Amerika Serikat, sedang mengalami masa sulit. Negosisasi dagang antara China dan Amerika Serikat juga menjadi faktor eksternal lainnya. Hal ini tentu turut mendorong penguatan rupiah di Indonesia. (Mev)

Raker 2019 LPM Perspektif ; Jadikan Keluarga jurnalis satu dalam Cita dan Cinta

foto : perspektif

Darusalam – “Seribu langkah besar dimulai dari satu langkah kecil”, begitu ujar Hasan Basri selaku Pemimpin Umum LPM Perspektif ketika membuka Rapat Kerja (Raker) periode 2019 di Ruang Seminar EKP, Sabtu (5/1/2018). Rapat Kerja merupakan agenda tahunan yang membahas rencana program kerja setahun yang akan datang. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh anggota aktif dan beberapa alumni LPM Perspektif. Raker tahun ini mengusung tema “To Be United In One Ideals, be United In one Love “.

Inti dari Rapat Kerja ini sendiri adalah pemaparan rencana program kerja oleh Presidium LPM Perspektif; Hasan Basri selaku Pemimpin Umum, Alma Hidayah selaku Pimpinan Redaksi, dan Fahmi Farabi selaku Pimpinan Perusahaan. Masing-masing dari mereka menjelaskan secara rinci program kerja serta target yang ingin dicapai setahun kedepan.

Pemaparan program kerja diawali oleh Pemimpin Umum. Ia menjelaskan bahwa terdapat 8 program kerja yang akan dituntaskan oleh LPM Perspektif periode 2019. Sementara itu menurutnya, program kerja yang dianggap cukup krusial adalah Pekan Jurnalistik yang kemungkinan akan diadakan pada September-Oktober 2019 yang terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2015. Sehingga ini merupakan kesempatan emas bagi LPM Perspektif untuk kembali menghidupkan semangat jiwa Jurnalistik di lingkungan kampus. Berjalannya program kerja ini juga tentunya merupakan tolok ukur kesuksesan LPM Perspektif periode 2019.

Pemaparan program kerja kemudian dilanjutkan oleh Alma Hidayah selaku Pimpinan Redaksi. Ia memaparkan apa saja tugas dari keredaksian serta menyampaikan harapannya agar keredaksian LPM Perspektif menjadi lebih baik dari sebelumnya. Harapan ini akan coba digapai dengan pemberlakuan beberapa kebijakan baru dari Pimpinan Redaksi, seperti : dibentuknya Tim Redaksi Khusus, Piket Peliputan, Surat Penugasan, serta Absensi Tulisan. Ia menargetkan agar keredaksian tahun ini berjalan lebih terstruktur dan terorganisir.

Terakhir, terdapat pemaparan program kerja dari Fahmi Farabbi selaku Pimpinan Perusahaan. Disamping menjelaskan fungsi dan tugas dari tiap posisi yang ada di dalam struktur perusahaan, ia menjelaskan bahwa pada periode kali ini menargetkan dapat menggaet tiga sponsor untuk tiga program  kerja utama LPM Perspektif, yaitu : Mega Hunting, Pekan  Jurnalistik dan Majalah Perspektif. Selain itu, Fahmi juga menambahkan bahwa  ia ingin menjaga keharmonisan dari sisi eksternal LPM Perspektif, terlebih lagi dari sisi internalnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga kekompakan dan kesolidan.

Raker kemudian ditutup  dengan diskusi umum sebagai sesi masukan dan saran dari para peserta Raker dan Alumni. Semoga Raker ini mampu memunculkan semangat baru LPM Perspektif dalam menyambut periode kepengurusan tahun 2019, Aamiin. (Abi Rafdi)

Pedang Bermata Dua di Era Digital, Back to Nature and IT Minded

Ilustrasi back to nature and IT minded (Foto:Google)

Darussalam – Berbicara mengenai perubahan dunia menuju digital memang tidak ada habisnya. Perubahan menuju era digitalisasi membawa pengaruh dan dampak yang besar bagi kehidupan. Sangat kentara jika melihat dari perilaku atau kebiasaan sehari-hari. Banyak kebiasaan baru bermunculan, seperti menggunakan gadget untuk berbagai urusan. Jika diawal kemunculannya hanya digunakan untuk berkomunikasi dan media hiburan, digitalisasi berubah fungsi menjadi ladang bisnis.

Digitalisasi memberikan banyak kemudahan untuk kehidupan manusia. Semua menjadi serba canggih dan efesien, kita menjadi lebih luang dalam memanfaatkan waktu dan mendapatkan beberapa hal dalam satu waktu sekaligus. Misalnya saat bekerja dan lapar, jika sebelumnya kita harus meninggalkan pekerjaan untuk sekedar memasak atau membeli makanan keluar, di era sekarang hanya bermodalkan gadget makanan datang tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakoni.

Dibalik kemudahan yang ditawarkan berdampak terhadap pola hidup manusia menjadi malas. Sehingga dari sikap inilah muncul beberapa dampak buruk bagi perilaku manusia. Manusia di era digital menjadi lebih individualis dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya adalah interaksi antara sesama menjadi kurang kuantitasnya terutama dengan orang yang dekat. Pola pikir saat ini berubah menjadi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, tentu saja kita sangat menyayangkan hal ini.

Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya dua perilaku yang membingungkan di bidang ekonomi yang dapat dikategorikan sebagai untung rugi. Pada kunjungannya ke Aceh minggu lalu, wakil menteri keuangan Indonesia Wardiasmo menyebutkan, The twin force of economic, back to Nature dan IT minded. Ini merupakan istilah bagi perekonomian saat ini khususnya Indonesia.

Serangan ganda perekonomian ini berkaitan dengan perilaku manusianya. Dimana masyarakat cenderung menyukai hal yang berbau alam sementara era semakin millennial. Saat musim atau masa liburan datang, kebanyakan dari masyarakat akan memilih tempat seperti laut, gunung, atau bahkan cagar alam untuk dikunjungi. Pada hari biasa pun, masyarakat akan memilih tempat nongkrong yang bernuansa alam.

Ini merupakan sebuah kesempatan yang bagus tentunya bagi pelaku ekonomi karena mereka dapat meng-upgrade usaha atau bisnisnya bertema alam atau nature. Selain itu, banyak bisnis baru bermunculan dan menggunakan alam terbuka sebagai daya tarik utamanya. Merupakan bisnis yang sehat karena menawarkan udara segar dari alam dan juga menyediakan tempat yang benar-benar cocok untuk menyegarkan pikiran.

Yang menjadi kekhawatiran di era digital dan juga bisnis alam adalah lingkungan yang semakin berkurang atau rusak. Hal ini disebabkan karena banyaknya pabrik atau industri yang bermunculan. Alam semakin digerus untuk pembangunan gedung dan berbagai tempat wisata. Maka seketika ini juga menjadi pedang bermata dua bagi Indonesia yang merupakan jantung dunia.

Mengutip dari Tribunnews.com, Leuser adalah jantung dunia yang berada di Indonesia. Namun Leuser terancam deforestrasi hutan dan meskipun berada di dalam lindungan hukum di Indonesia, tapi belum menjamin bahwa Leuser akan baik baik saja. Leuser terus saja dicacah untuk kepentingan industri dan bahkan pertambangan.

Selain itu, jika menilik dari beberapa peristiwa alam yang terjadi akhir akhir ini, telah banyak korban jiwa yang direnggut. Akan berapa banyak lagi jiwa yang kita korbankan dengan iming-iming perkembangan zaman?. Apakah kita akan tetap keukeuh untuk menjadi individualis dan tetap merasa hebat dengan pencapaian sehingga alam menjadi bukan masalah besar?. Ini adalah dampak dari sikap ketidak-pedulian kita terhadap lingkungan dan merupakan kelalaian kita sendiri.

Jika alam terus diusik, akankah kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Lantas jika melihat dari tingkah manusianya yang menjadi semakin careless terhadap lingkungannya, pantas dipertanyakan untuk ke depannya apakah ada yang masih memperdulikan alam sekitarnya?.

Perubahan menuju era digital tentu sangat baik dan bahkan merupakan keharusan untuk mengikuti perkembangan zaman. Karena sangat aneh jika menolak perubahan global sementara zaman terus berkembang. Namun, perubahan era bukan berarti merubah sikap menjadi acuh terhadap alam sekitar dan lingkungan sosial. Manusia memiliki hak dan tanggung jawab terhadap tempat tinggalnya. Maka secanggih apapun zaman yang kita tinggali, kita tidak boleh menutup hati untuk peduli.

Alam adalah tempat tinggal kita, rumah dan amanah yang harus kita jaga dengan baik. Bersama sama menuju era baru, kita juga harus menyatupadukan semnagat untuk menjaga kelestariaannya. Yang baru boleh terus muncul, namun yang lama tetap dipertahankan pesonanya. (Sul)

 

Unsyiah Fokus pada Publikasi Sitasi Ilmiah, FEB Adakan Kelas Riset Dunia (WCRP)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis adakan kelas riset dunia (WCRP). (Foto: Cut Meviantira)

Darussalam – Di era abad 21, urgensi pendidikan yang lebih baik dan ilmiah telah meningkat secara signifikan untuk mencapai tujuan transformasi masyarakat kepada pengetahuan dunia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah meningkatkan kebutuhan akan pendidikan tinggi yang memenuhi permintaan industri dan pembangunan bangsa.

Sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi, penelitian telah menjadi pendorong utama bagi perbaikan sistem itu sendiri. Proses penemuan masalah, pengumpulan data, pengolahan, dan pengambilan kesimpulan adalah kunci untuk siklus penelitian berkelanjutan yang perlu dipahami oleh semua peneliti terutama mahasiswa sebagai tokoh kunci pada program penelitian di masa depan.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami dengan baik tentang proses melakukan penelitian mulai dari menemukan masalah untuk menulis makalah yang menarik hingga mahir dalam menyimpulkan hasil dari permasalahan tersebut. Sejalan dengan tujuan untuk menjadi Universitas terkemuka di Asia Tenggara bahkan dunia, Universitas Syiah Kuala sedang dalam perjalanan untuk mencapai tujuan dengan meningkatkan beberapa sektor khususnya penelitian.

Saat ini, proses telah menunjukkan hasil yang baik. 1.025 makalah yang diindeks Scopus telah diterbitkan pada akhir tahun 2017, dibandingkan dengan 69 makalah pada tahun 2012. Universitas Syiah Kuala juga telah berhasil meraih peringkat ke-5 secara nasional dalam hal keunggulan jumlah publikasi Google Scholar oleh Webometrics.

Hal serupa juga berusaha digalakkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah melalui kelas internasional. Dimulai secara resmi pada 2011, International Businesses and Economic Program (IBEP) terus membuktikan diri sebagai program internasional terkemuka di Universitas Syiah Kuala dengan melanjutkan upayanya untuk mempromosikan standar pendidikan internasional kepada setiap mahasiswa. Salah satunya dengan melaksanakan suatu kegiatan yakni World Class Research Program (WCRP) yang telah diselenggarakan beberapa waktu lalu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

WCRP tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa internasional, namun juga kepada seluruh mahasiswa FEB Unsyiah baik Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, dan Ekonomi Islam yang tertarik pada penelitian ilmiah. Tujuan dari program ini diantaranya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya penelitian, meningkatkan kemampuan dalam melakukan riset serta melatih mahasiswa dalam kepenulisan akademik. Program ini akan dilaksanakan kembali di tahun-tahun berikutnya, dengan harapan output dari program ini dapat meningkatkan kualitas mahasiwa dan membantu mewujudkan tujuan Universitas Syiah Kuala dalam meningkatkan publikasi sitasi ilmiah di kancah Internasional. (Cut Mevi)

 

Tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” yang Tak Lagi Purna

Tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” yang tak lagi purna (foto:Abi)

Darussalam – Pemandangan yang kurang elok dilihat oleh Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah maupun orang yang berlalu-lalang di sekitar Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi hal yang biasa akhir-akhir ini. Penyebabnya ialah tulisan “Fakultas Ekonomi Dan Bisnis” yang terletak di pagar luar area kampus kuning yang terlihat mulai rusak.

Sejatinya, tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” ini seharusnya mampu memberikan citra positif bagi orang lain yang melihatnya. Namun dengan kondisi seperti ini, agaknya citra itu sedikit luntur.

Menurut pendapat beberapa mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis yang sempat diwawancarai oleh Perspektif, mereka cukup sedih dengan kondisi tersebut. Berbagai harapan terlontar sebagai bentuk keinginan akan adanya perbaikan secepatnya pada tulisan tersebut.

“Ya sebenarnya hal ini tidak enak dilihat ya . Apalagi kita ini kan fakultas tertua di Unsyiah,  seharusnya mampu memberikan contoh pada fakultas lain, setidaknya dari urusan tulisan nama saja.” tutur  M. Ayyash, salah satu mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan.

Ditemui terpisah, Midrar Yusya, salah seorang mahasiswa jurusan Manajemen juga menambahkan, “Kita berharap ada perbaikan pada tulisan itu. Semoga bisa dilakukan secepatnya.”

Penyebab dari rusaknya tulisan tersebut kemungkinan besar adalah karena faktor alam, seperti hujan deras dan terik matahari yang menyebabkan  beberapa huruf pada tulisan tersebut terlepas. Hal ini tentunya mengundang tanda tanya beberapa pihak, akankah ada perbaikan pada tulisan tersebut?

Menanggapi hal itu, Wakil Dekan 2 FEB Unsyiah, Dr. Ridwan Ibrahim, SE, MM pun memberikan tanggapan.

“Sudah ada rencana penataan ulang. Ini memang harus kita benahi, karena memang gak enak kalau dilihat ada tulisan yang rusak. Sebenarnya ini masalah besar juga, namun sepertinya sebelumnya kurang terpantau.” Imbuhnya.

Tentunya kita semua berharap bahwa tulisan tersebut dapat segera dibenahi. Karena bagaimanapun, Tulisan “Fakultas Ekonomi Dan Bisnis” yang terpampang anggun menghadap kemegahan gerbang Kopelma Darussalam adalah wajah dan citra dari Fakultas itu sendiri.(Abi)