Pesta Demokrasi di Ekonomi, Kok Begini?

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Pesta Demokrasi Kampus memang sudah berakhir sepekan yang lalu, mahasiswa masih dalam euforia kemenangan, bersorak menunggu gebrakan dari “sang Presiden” yang baru lahir di ujung Syiah Kuala. Mahasiswa seakan tak pernah matinya menyuarakan suara-suara perubahan untuk negeri. Ideologi perjuangan masih kuat di benak setiap suara yang keluar. Hati kian tergetar mendengar suara lantang dari mahasiswa, beraksi nyata dengan semangat yang kian membara.

3.165 mahasiswa Ekonomi diberi hak suara untuk memilih pemimpin mereka. Di setiap sudut kampus terdengar semangat berkobar untuk ikut andil dalam pesta demokrasi tahunan kampus. Siapa yang tak ingin bersuara untuk kampus, mereka dicap apatis tak ingin bergabung dengan suara-suara perubahan lainnya.

Kini sang Presiden baru telah lahir, mereka lahir dari suara-suara mahasiswa yang berharap perjuangan mereka didengarkan. 1000-an suara berlabuh pada sang calon tunggal. Hanya 1531 suara yang digunakan dalam event krusial mahasiswa tahunan ini.

Ironi memang, hanya 43% suara yang digunakan dalam panggung pesta demokrasi tahunan syiah kuala tahun ini. Tak banyak memang yang mempersoalkan hal ini, ‘yang penting menang sajalah’ pikiran utamanya. Panggung demokrasi yang berjalan diprediksi akan berjalan meriah, hanya diisi oleh 1531 suara, tak sampai separuh dari total 3.165 total mahasiswa yang punya hak bersuara.

Kemanakah ideologi mahasiswa yang selama ini mereka bawa? Sebelum hari pemilihan, suara mereka yang terdengar begitu lantang di langit kampus hilang entah kemana. Pesta demokrasi tahun ini seakan ternodai oleh 57% suara yang lebih memilih untuk menjadi golongan putih.

Siapa yang bisa disalahkan dibalik realita kampus tua ini? Kampus yang telah melahirkan banyak tokoh pioneer pemerintah, ribuan aktivis lahir dari gedung tua yang elok ini. Kini, semangat untuk bersuara saja tak lagi ada, semua hilang bak ditelan masa.

Apatiskah mereka dalam bersuara? Benarkah mahasiswa kini lebih men-dewa-kan akademis mereka ketimbang menjadi aktivis? Sedikit dari mereka yang bisa mengartikan kata ‘mahasiswa’ saat ini, seakan terlena di ruang penuh apatisme. Berkhayal tentang istilah-istilah ekonomi yang mereeka pelajari tanpa tahu kemana akan digunakan nanti. Mereka yang tak ingin diganggu, selalu bertanya “indeks prestasiku semester ini, masih tinggikah angkamu”.

Entah kapan bencana moral ini hilang, hanya Mahasiswa yang dapat berikan titik terang. Semoga doa rakyat jelata dapat menyadarkan mereka, ada hak yang harus diperjuangkan, tahu kemana suara lantang mereka seharusnya. Hidup Mahasiswa! (Jr)

Mahasiswa KKN – PPM 10 Unsyiah dan LPN Gelar Saweu Nusa

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

Aceh Besar – Sebanyak 37 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Program Pengabdian Masyarakat 10 (KKN-PPM 10) periode 11 tahun 2016 Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan acara promosi potensi wisata Gampong Nusa yang bertajuk “Saweu Nusa” bersama Lembaga Pariwisata Nusa (LPN). Acara ini dilaksanakan pada hari minggu, 28 Agustus, di Gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar.

Saweu Nusa ini diselenggarakan untuk mempromosikan Gampong Nusa yang memiliki banyak potensi wisata di dalamnya. Beberapa diantaranya adalah ekowisata, wisata kreatif berupa pengolahan sampah organik dan non-organik, dan wisata budaya serta kuliner khas Aceh.

“Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan wisata Gampong Nusa melalui program – program yang telah dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM 10 di Gampong Nusa selama satu bulan,” Kata Muhammad Furqan, ketua KKN PPM 10.
Furqan berharap semoga kedepan Gampong Nusa ini lebih sukses dan berkembang dalam hal wisata.

Adapun pelaksanaan Saweu Nusa dimulai dengan presentasi promosi potensi desa oleh LPN dan pemutaran video promosi wisata yang dibuat oleh mahasiswa KKN-PPM 10 Unsyiah. Selanjutnya, acara dilaksanakan dengan kegiatan ‘Wet-Wet Gampong’, yaitu mengunjungi bank sampah, pengolahan barang bekas oleh Nusa Creation Community (NCC), dan keliling kampong. Selain itu, even ini dimeriahkan dengan penampilan seni yang terdiri dari Rapa’i Geleng, Laweut, dan Ranup Lampuan dari komunitas seni Al – Hayah dan simulasi 3 macam permainan tradisional, serta pengumuman lomba photo booth Instagram.

Acara tersebut dihadiri oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Duta Wisata, Agen Travel yang berada di kawasan Banda Aceh, dan juga stakeholder yang terkait dengan pariwisata. Selain itu, Beberapa komunitas yang tergabung dalam Forum Kolaborasi Komunitas (FKK) Banda Aceh, jajaran pemerintah Kabupaten Aceh Besar, dan awak media juga turut diundang dalam acara ini.(Rio/DeTak)

BEM Unsyiah Dukung Kebijakan Plt Gubernur Riau Terkait Pemukulan Mahasiswa

BEM Unsyiah 2016

BEM Unsyiah 2016

Darussalam – Sangat baik kebijakan Plt Gubernur Riau menonaktifkan pejabat terkait pemukulan mahasiswa, dalam aksi yang terjadi Rabu (13/4/2016) lalu. Namun kami menolak tindakan kekerasan apapun dalam menyikapi persoalan. Pergerakan mahasiswa tidak bisa dibungkam hanya dengan tindak kekerasan, kami akan terus mengawal kebijakan yang tidak sesuai dengan rakyat walau apapun yang terjadi.

Tindakan represif yang dilakukan oknum pihak keamanan yaitu protokoler pemprov Riau merupakan tindak pidana murni dan wajib untuk di tindak lanjuti melalui proses hukum. Tidak hanya menciderai semangat demokrasi mahasiswa tapi hal ini merupakan indikasi pemerintahan yang kembali pada masa orde baru yang anti dari pergerakan mahasiswa.

BEM Unsyiah Mengecam tindakan kekerasan dalam hal apapun. Ketika gerakan mahasiswa dibungkam pemerintah akan menjadi diktator.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat!

Kastrat dan Propaganda
KEMENTERIAN POLHUKAM

BEM UNSYIAH 2016

#kabinetaksi

“Tak Sempurna Hanya Tanpa Jendela”

Ilustrasi/Kompasiana (kfk.kompas.com/Uling Sumbogo)

“Gubuk ini baru saja tegak berdiri 3 tahun lalu dan kita telah membangunnya bersama selama lebih dari 6 tahun, memang terkadang bocor ketika hujan, panas ketika terik, bahkan beberapa tiang mulai roboh ketika badai, mungkin kita juga sudah sangat “lelah” menghadapi perubahan cuaca tak menentu ini. Wajar, sangat manusiawi, sekali-sekali, tebersit di hati ingin gubuk yang lebih baik, mudah-mudahan saja kita tak mencari gubuk yang lain hanya karena ia tak sesempurna seperti gubuk lainnya yang terlihat sempurna dari luar…..

terlebih kini terdapat lubang besar menganga di dindingnya sehingga menggoyahkan tiang penyangga utamanya. Kita harus tenang. Jika bersabar, mungkin, kita akan mampu memperbaiki segalanya. Memang akan lama… namun jika kita melakukannya bersama, kuyakin akan indah walau sangat lelah. Karena kita bersama namun jika sudah tak ingin bersama di gubuk ini. Sudahlah… tak apa, jangan memaksakan diri dan jangan sekali-sekali mengajakku meninggalkannya, gubuk ini, gubuk kita ini karena aku kan tetap di sini.

walau sendiri… akan kuperbaiki, akan kupegang erat tiang penyangganga utamanya agar gubuk ini berdiri kembali. Akan kuperbaiki atap- atap bocornya, akan kuperbaiki semuanya walau tak sempurna di mata mereka. Dan yang terpenting akan kuperbaiki lubang dindingnya… menjadi sebuah jendela. Takkan kubiarkan siapa pun memasuki gubuk ini hingga kau kembali… membuka jendela ini… bersama… karena gubuk ini sedari dulu kita bangun bersama.

Ya, bersama kita akan melihat kesempurnaan dalam kekurangan di gubuk ini, melihat taman-taman indah nan menawan di pelataran melalui jendela ini… bersama melihat kesempurnaan gubuk ini dari dalam. Bukan seperti orang-orang yang selalu melihat ketidaksempurnaan di sini hanya karena mereka melihatnya dari luar….

Dari Luar Jendela..

Banda Aceh, 3 Oktober 2008

Jadi Begini, Kota Banda Aceh

M0tDFaV

Jadi begini, 22 April 2014 lalu, Kota Banda Aceh berulang tahun yang ke-809 tahun. Artinya, kota yang merupakan ibukota dari Provinsi Aceh ini telah berdiri sejak tahun 1205. Pada masa lampau, masa dimana masih adanya kesultanan di Aceh, nama awal Kota Banda Aceh adalah Koetaradja.

***

Jadi begini, di Dubai, ada sebuah gedung pencakar langit dimana gedung tersebut merupakan gedung tertinggi di dunia. Rasanya hampir semua orang tahu gedung tersebut Burj Khalifa namanya. Lama pembangunan gedung tersebut memakan waktu lebih kurang enam tahun. Jika diasumsikan Kota Banda Aceh memiliki faktor produksi sejak 809 tahun silam seperti Negara Dubai yang sekarang, maka di kota ini telah terbangun sekurangnya 134 gedung yang setara dengan Burj Khalifa! Apa ada 134 atau satu sajalah gedung yang seperti itu di Banda Aceh?

Jadi begini, di Provinsi Shandong, China, ada sebuah jembatan yang dinamai Danyang-Kunshan Grand Bridge. Itu adalah jembatan terpanjang di dunia. Lama pembangunan jembatan tersebut adalah empat tahun. Jika diasumsikan Kota Banda Aceh memiliki faktor produksi sejak 809 tahun silam seperti Negara China sekarang, maka di kota ini seharusnya telah terbangun setidaknya 202 lebih jembatan yang setara dengan Danyang-Kunshan Grand Bridge! Apa ada 202 atau satu sajalah jembatan yang seperti itu di banda Aceh?

Jadi begini, masih di Negara yang sama, China, tepatnya di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan,  ada sebuah bangunan yang bernama New Century Global Center. Itu adalah gedung terbesar didunia. Saking besarnya, gedung ini kira-kira bisa menampung 3 gedung Pentagon, 4 Kota Vatikan atau 20 Rumah Opera Sydney! Bagi China, butuh waktu tiga tahun untuk membuat gedung yang demikian. Jika diasumsikan Kota Banda Aceh memiliki faktor produksi sejak 809 tahun silam seperti negara China sekarang, maka di kota ini seharusnya telah terbangun setidaknya 269 lebih bangunan yang setara dengan New Century Global Center! Apa ada 269 atau satu sajalah gedung yang seperti itu di Banda Aceh?

***

Jadi begini, sebagai salah kota yang pernah diluluhlantakkan oleh gempa bumi dan tsunami beberapa tahun silam kini sudah mulai berbenah diri. Tak tanggungnya, pada tahun ke-8 paska bencana dahsyat tersebut, pemerintah kota ini mencanangkan Visit Banda Aceh Year 2012! Lantas pertanyaannya adalah, di Banda Aceh ini ada apa saja? Kira-kira hal apa sajakah yang bisa membuat para wisatawan tergerak hati dan langkahnya untuk berkunjung ke ibukota Provinsi Seuramoe Mekkah ini?

Jadi begini, untuk mempersingkat tulisan ini, saya ingin memberitahukan apa saja tempat wisata yang ada di Kota Banda Aceh ini. Pertama, Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Mesjid ini memang bukan mesjid yang terbesar dan termegah di dunia. Tapi, mesjid ini adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Betapi tidak, mesjid ini adalah salah satu saksi bisu atas apa yang terjadi di Aceh pada masa peperangan melawan Belanda. Sebagai info tambahan, Aceh adalah salah satu daerah yang tak pernah dan tak bisa ditaklukkan oleh Belanda!

Jadi begini, yang kedua adalah Pintu Khop dan Gunongan. Pinto Khop merupakan pintu penghubung antara Istana dan Taman Putroe Phang. Sedangkan Gunongan adalah simbol dan kekuatan cinta Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya yang cantik jelita, Putri Phang (Putroe Phang) yang berasal dari Pahang, Malaysia. Kedua bangunan ini dibangun pada masa Raja Sultan Iskandar Muda, dimana pada masa kepemimpinan beliau Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya.

Jadi begini, yang ketiga, di Banda Aceh ada tiga tempat wisata dengan julukan wisata tsunami. Kenapa? Karena tempat-tempat wisata ini adalah “hadiah” dari bencana alam gempa bumi dan tsunami tahun 2004 silam. Ketiga tempat wisata tersebut adalah Kapal Lampulo, Kapal PLTD Apung, dan Museum Tsunami Aceh. Kapal Lampulo adalah salah satu bukti sejarah musibah di Aceh tahun 2004 yakni sebuah kapal nelayan yang terbawa gelombang tsunami dan kemudian “parkir” dengan mantapnya tepat diatas rumah penduduk di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam. Kemudian Kapal PLTD Apung. Kapal yang sejatinya sebagai pembangkit tenaga listrik bertenaga diesel berubah fungsi menjadi tempat wisata terunik. Kenapa? Coba bayangkan, bagaimana mungkin kapal dengan bobot 2600 Ton ini terdampar lebih kurang 50 kilometer pada saat musibah tsunami dari pelabuhan Ulee Lheue ke daerah Punge Blang Cut. Sedangkan Museum Tsunami Aceh adalah tempat wisata dimana didalam museum tersebut terdapat berbagai macam artefak, foto, dan buku-buku yang menyediakan informasi tentang gempa bumi dan tsunami. Lebih serunya lagi, ada beberapa ruangan yang didesain khusus untuk bisa menyamai suasana atau momen saat bencana sedasawarsa lalu tersebut terjadi. Selain sebagai sarana wisata dan edukasi, tempat ini juga berfungsi sebagai escape building alias gedung evakuasi!

Jadi begini, yang keempat, di kota yang baru saja berulang tahun ke-101 windu plus 1 tahun ini terdapat tempat wisata yang bernama Lapangan Blang Padang. Lapangan dengan luas lebih kurang 8 hektar ini merupakan sarana olahraga dan juga tempat pelaksanaan event-event besar di Aceh. Tapi sebenarnya yang ingin saya “lukiskan” adalah di lapangan ini terdapat sebuah pesawat terbang pertama Indonesia! Namanya Pesawat Seulawah RI-001. Kemudian pesawat inilah sebagai cikal bakal adanya maskapai Garuda Indonesia!

Jadi begini, tempat wisata selanjutnya yang ada di kota ini adalah Museum Aceh. Tak jauh halnya dengan Museum Tsunami Aceh, tempat ini juga menampilkan beberapa peninggalan bersejarah. Artefak, foto, dan buku-buku tentang sejarah Aceh ada disini. Kemudian sebagai tambahan, pada halaman museum ini didirikan, terdapat sebuah lonceng besar, Lonceng Cakra Donya namanya (Cakra: kabar; Donya: dunia). Menurut sejarah, lonceng ini adalah hadiah pemberian dari kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho kepada Kerajaan Aceh, dan ini menunjukkan bahwa adanya hubungan diplomatik antara bangsa China dengan bangsa Aceh pada masa lampau.

Jadi begini, selain dari itu, masih banyak lagi tempat wisata yang wajib diketahui dan dikunjungi. Beberapa diantaranya yaitu Makam Sultan Iskandar Muda, Gerbang Peutjoet Kerkoff, Taman Sari, Pelabuhan dan Taman Kuliner Ulee Lheu, dan Hutan Kota Banda Aceh.

***

Jadi begini, dalam kaidah kepariwisataan, ada tujuh hal penting yang harus dimiliki oleh tempat wisata agar memiliki pesona yang baik. Ketujuh hal tersebut atau yang biasa disebut Sapta Pesona adalah aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramai, dan punya kenangan. Lantas apa kurangnya tempat-tempat wisata di Banda Aceh yang saya sebutkan sebelumnya dari sapta pesona tersebut?

Jadi begini, terlepas dari tempat-tempat wisata tersebut, apapun yang telah dimiliki oleh Kota Banda Aceh patutlah disyukuri oleh siapapun. Ada pepatah yang bunyinya begini, “Burung di tangan lebih baik daripada burung di udara“. Maka bukanlah hal yang salah jika salah satu tempat wisata itu bukan yang terbesar, bukan yang termegah, ataupun bukan yang terindah jika diukur dalam skala. Pernahkah terbayang hal terburuk jika ada suatu daerah yang sama sekali tak memiliki nilai pariwisata?

***

Dikutip dari: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2014/05/18/jadi-begini-kota-banda-aceh-657415.html

Menulis Fiksi, Mengasah Kreativitas

admin_1-asset-502ba7d510930Fiksi adalah prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubunganhubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.

Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia. (Altenbernd dan Lewis, 1966 : 14). Fiksi atau prosa dapat berbentuk roman, novel, cerita pendek (cerpen), drama, ataupun film. Oleh karena itu, karya fiksi juga merupakan bagian dari dunia sastra.

Dalam penulisannya, tokoh, watak maupun alur yang ada didalam tulisan hanyalah sebuah rekaan, khayalan atau hasil imajinasi sang penulis. Namun  bukan berarti karya fiksi hanyalah sebagai hasil kerja lamunan belaka. Segi kreativitas atau imaji yang ada didalamnya sepenuhnya masihdapat dipertanggungjawabkan sebagai salah satu karya seni.

Ketika menulis fiksi, kita dituntut untuk mengembangkan daya kreativitas, menembus batas pemikiran imaji, dan mengasah daya nalar kita secara bebas. Kepekaan pemikiran kita diasah dengan polesan pilihan kata-kata yang baik sehingga membuat kalimat yang baik pula. Kita dapat menulis fiksi dengan mengambil kisah pribadi maupun kisah orang lain.

Proses kreativitas ataupun imajinasi digunakan untuk mendramatisasikan hubungan- hubungan yang terjadi dalam kehidupan nyata. Cerita atau kejadian apa saja yang dapat dirasakan oleh indera dapat kita tuliskan sebagai bagian dari tulisan fiksi. Lagipula dalam penulisan fiksi tidak ada aturan baku atau kaidah yang ketat seperti tulisan nonfiksi maupun tulisan ilmiah.

Kemudian untuk menarik minat pembaca, penulis diharapkan tidak hanya sekedar memberikan informasi nyata, tetapi juga dapat memasukkan unsur seni ataupun hiburan sebagai sarana komunikasi, pembangkit emosi, ataupun sebagai penambah motivasi. Sehingga dengan adanya unsur-unsur tersebut, kegairahan pembaca untuk menyimak hasil tuliaan fiksi diharapkan bisa muncul.

Pada dewasa ini cukup banyak fiksi dalam bentuk cerpen ataupun novel yang berbasis islami. Misalnya seperti menggunakan contoh negara-negara  Timur Tengah sebagai latar belakang cerita, kemudian mencontohkan gaya hidup remaja islami, menggunakan istilah atau kata yang bernuansa Arab, ataupun banyak hal lainnya yang berbau agama. Lalu tak sedikit pula para remaja yang tersentuh setelah membaca tulisan-tulisan fiksi tersebut. Maka tidak mengherankan kalau tulisan fiksi dalam bentuk novel yang demikian menjadi bestseller!

Bahkan beberapa diantar novel terlaris tersebut disajikan juga melalui layar kaca alias difilmkan. Dari hal tersebut, disamping menandakan tingginya minat terhadap bacaan fiksi, disinilah tanda-tanda bahwa menulis fiksi itu merupakan cara mudah untuk memikat para pembacanya dengan tulisan-tulisan ringan. Ide didalam tulisan fiksi dapat dikreasikan semenarik mungkin dengan olahan kata-kata yang mampu memancing minat pembacanya, serta makna yang terkandung didalam tulisan pun dapat lebih mudah dihayati serta dipahami.

Contoh tulisan fiksi dalam bentuk cerpen adalah ceritapendek “Dajjal” karya Nazar Shah Alam yang dimuat harian Serambi Indonesia (8/9/2013).  Pengarang memainkan kreativitasnya dengan memadukan unsur pendidikan, yakni bagaimana ciri Dajjal, denganunsur hiburan seperti halnya yang dilakukan oleh pemeran utama di dalam cerita pendek tersebut. Sehingga karya fiksi tersebut tidak hanya memberikan informasi nyata tentang Dajjal itu sendiri, tetapi juga ada unsur hiburan yang diselipkan melalui humor. Atau contoh fiksi lain dalam bentuk teater, seperti teater “Dum”, yang dipentaskan oleh kalangan remaja Aceh di Sultan II Selim Banda Aceh (14/12/13) yang diprakarsai oleh Komunitas Tikar Pandan kerja sama dengan sejumlah lembaga dan komunitas dalam memperingati sembilan tahun bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami Aceh.

Dalam pementasan teater yang disutradarai oleh Agus Pmtoh tidak hanya terpaku pada pemaparan bagaimana kejadian bencana alam kala itu tetapi juga diselingi beberapa humor yang dilakoni oleh pemeran dalam teater tersebut. Alhasil gelak tawa dari para penonton yang menikmati gelaran teater tersebut pun bermunculan.

Screenshot_55

 

Oleh Muhammad Fauzan,

Anggota LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Perspektif Unsyiah

Kepemimpinan Transformasional Antara Harapan Dan Kenyataan

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa, setiap dari kita adalah pemimpin dan kepemimpinan yang paling kecil tanggung jawabnya adalah ketika kita memimpin diri sendiri. Namun terdapat beberapa manusia pilihan yang diberikan amanah tanggung jawab dan kepercayaan yang lebih besar yaitu berupa memimpin suatu organisasi/institusi atau bahkan negara. Sehingga mereka memperoleh kuasa dalam menentukan kebijakan dan kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya yang keputusannya akan sangat mempengaruhi keberlangsungan dan perkembangan dari organisasi tersebut.

Para  pemimpin diharapakan dapat menjalankan fungsinya untuk mempermudah berbagai keperluan dan kepentingan mereka orang-orang yang dipimpinnya sehingga mereka merasa, bahwa kehadiran sosok pemimpin tersebut tepat sebagai suatu solusi dari permasalan yang mereka hadapi dalam mengembangkan organisasi bukannya menambah permasalahan didalam organisasi. Serta sosok seorang pemimpin harus dapat memberikan gambaran tujuan utama yang jelas mengenai apa yang akan dicapainya untuk perkembangan organisasi kepada seluruh anggota organisasi sehingga para anggotanya dapat bersatu dalam mencapai tujuan bersama dan mengesampingkan berbagai tujuan individu yang bertolak belakang dengan tujuan organisasi.

Tentunya dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya tersebut, pemimpin sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan para pemimpin sangat tergantung dari kebutuhan organisasi dan situasi yang dihadapinya, di era serba individual dan iklim organisasi yang dinamis seperti saat ini sangat dibutuhkan sosok seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan  yang mampu memotivasi anggotanya  dan membangkitkan kesadaran terhadap tujuan atau misi kelompok serta mampu mengajak anggotanya melihat jauh ke depan melebihi kepentingan pribadi demi kebaikan kelompok. Kepemimpinan seperti inilah  yang di sebut dengan gaya kepemimpinan transformasional menurut Bass dan Avolio (1994).

Kepemimpinan Transformasional

Seorang yang dapat dikatakan sebagai pemimpin dengan gaya transformasional akan mengarahkan pengikutnya ke nilai moral yang baik, dapat mengarahkan pengikutnya untuk dapat berkomitmen pada nilai – nilai organisasi, dapat menghargai pengikutnya, mendorong pengikutnya bersikap kreatif dan menginspirasi pengikutnya untuk mencapai tujuan (Politis, 2004). Karenanya, sesungguhnya seorang pemimpin harus dapat meramalkan masa depan suatu organisasi, mengarahkan anggotanya untuk dapat berkomitmen dan mencapai tujuan  organisasi  Barbuto (1997)

Menurut teori perilaku kepemimpinan yang di ungkapkan oleh  Bass dan Avolio (1994). terdapat 4 karakterisik utama dari gaya kepemimpinan transformasional yaitu 1. Pengaruh ideal karismatik adalah kepemimpinan yang mampu mengkomunikasikan visi organisasi, menumbuhkan dan memberikan kepercayaan serta mendapat rasa hormat dari para anggotanya. 2. Memberikan stimulus intelektual adalah pemimpin yang mampu menghasilkan dan menghargai ide-ide serta melibatkan anggotanya  dalam pemecahan masalah. 3. Perhatian terhadap  individu adalah seorang pemimpin yang dapat memberikan perhatian secara pribadi serta memberikan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan oleh para anggotanya. 4. Memunculkan motivasi inspirasional adalah kepemimpinan yang mampu memberikan dan menciptakan semangat bagi para anggotanya dalam bekerja.

Antara Harapan Dan Kenyataan

Sosok seorang pemimpin transformasional sangat diharapkan kehadirannya di dalam sebuah orgasnisasi. Sebagaimana  fakta yang terjadi, masih banyak terdapat berbagai sosok-sosok yang memimpin suatu institusi/organisasi bahkan negara sekalipun menerapkan gaya kepemimpinannya secara otoriter, semena-mena dan tidak bijak sana bukannya menjadi solusi bagi suatu permasalahan agar organisasi berkembang dan maju,  bahkan banyak diantara mereka  malah menghambat perkembangan organisasi dengan cara pengambilan kebijakan yang merugikan anggota organisasinya dan sangat birokratif.

Bukannya memotivasi anggotanya agar lebih kreatif, inovatif dan produktif namun malah menghina serta menjatuhkan mental oganisasi  denga cara kebijakan “tangan besi”. Hal ini menyebabkan anggota organisasi merasa terkekang  sehingga terciptanya lingkungan organisasi yang tidak kondusif dan tidak inovatif yang berdampak pada  perkembangan organisasi yang semakin menurun. Namun inilah kenyataanya, terlepas dari hal diatas semua  kita masih menyimpan harapan, bahwa suatu hari nanti disetiap organisasi/institusi/negara akan muncul sosok seorang pemimpin yang sangat mengerti anggotanya, yaitu pemimpin yang akan menyelesaikan masalah anggotanya dengan  jawaban/solusi ber-akhiran  tanda tik (.) bukan jawaban yang ber-akhiran  tanda tanya ?

Jarjis Fadri

Mahasiswa Manajemen dari Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala

Otsus Aceh Tanpa Mata Uang Sendiri

Belum Waktunya Mata Uang Sendiri

Jika ada pertanyaan sebagaimana judul opini di harian Serambi Indonesia pada Kamis (29/11/2012) lalu, “Dinar dan Dirham, Mengapa tidak?” [versi daring dapat dilihat di: http://aceh.tribunnews.com/2012/11/29/dinar-dan-dirham-mengapa-tidak], jelas jawabannya “Tidak, untuk saat ini”. Kedua opini dari penulis yang berbeda pada hari yang bersamaan di media itu sama-sama berkonklusi agar Aceh dapat menerapkan mata uang sendiri dalam transaksi, yaitu dinar dan dirham. Tulisan “Dinar dan Dirham, Mengapa tidak?” yang pada bagian awalnya bercerita sejarah penggunaan uang dinar dan dirham sayangnya tidak komprehensif karena tidak menyertakan sejarah uang emas yang pernah berlaku di Aceh tempo dulu yaitu mata uang emas kerajaan-kerajaan di Aceh yang lazim disebut Derham Pasai atau Derham Aceh sebagaimana ditulis oleh Alfian (1979) dalam Mata Uang Emas Kerajaan-Kerajaan di Aceh.

Pada tulisan ini saya akan mengemukakan alasan-alasan mengapa penerapan mata uang sendiri menjadi tidak relevan dan bahkan inkonstitusional. Sebelumnya, ada hal yang wajib dipahami jika berwacana tentang inovasi dalam bingkai otonomi daerah dan/atau otonomi khusus Aceh. Secara hierarki undang-undang, desentralisasi atau otonomi daerah di Indonesia diatur UUD 1945 dalam BAB VI tentang Pemerintahan Daerah (Pasal 18, 18A, dan 18B). UUD ini kemudian menjadi dasar dari pembentukan aturan lain di bawahnya seperti UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. UU No. 22 Tahun 1999 direvisi menjadi UU No. 32 Tahun 2004 dan perubahan keduanya yaitu UU No. 12 Tahun 2008, sedangkan UU No. 24 Tahun 1999 diubah menjadi UU No. 33 Tahun 2004. Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Pasal 1 ayat 5 UU No. 32 Tahun 2004). Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem NKRI (Pasal 1 ayat 7 UU No. 32 Tahun 2004). Daerah diberikan otonomi seluas-luasnya sebagaimana mandat UUD 1945 yaitu pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 18 ayat 2) serta pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat (Pasal 18 ayat 5). Dalam hal ini, setiap wacana inovasi dalam pengelolaan otonomi daerah, tidak boleh mengambil urusan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat. Ada enam urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yaitu meliputi politik luar negeri; pertahanan; keamanan; yustisi; moneter dan fiskal nasional; dan agama (Pasal 10 ayat 3 UU No. 32 Tahun 2004).

Kembali ke opini “Dinar dan Dirham, Mengapa tidak?” yang saya kutip di awal tulisan ini khususnya di bagian tentang Mata Uang Sendiri, gagasan penggunaan mata uang sendiri ini jelas tidak relevan, bahkan inkonstitusional. Mengapa? Pertama, saya sudah menguraikan di atas tentang apa saja urusan Pemerintah Pusat yang tidak boleh menjadi wewenang daerah. Aceh jelas tidak boleh menerapkan mata uang sendiri saat ini. Persoalan moneter, dalam hal ini penerbitan mata uang tidak menjadi wewenang Pemerintah Aceh. Hal ini jika ditilik lebih dalam dapat dilihat pada BAB IV tentang Kewenangan Pemerintahan Aceh dan Kabupaten Kota dalam UUPA. Pemerintahan Aceh dan kabupaten/kota berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam semua sektor kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat (Pasal 7 ayat 1 UUPA). Kewenangan Pemerintah Pusat yang diperjelas di Pasal 7 ayat 2 UUPA merujuk ke aturan sebelumnya yaitu Pasal 10 ayat 3 UU No. 32 Tahun 2004. Jadi jelas Aceh dapat berkreativitas dan berinovasi dalam menjalankan roda pemerintahannya, tapi persoalan yang bersifat nasional, politik luar negeri; pertahanan; keamanan; yustisi; moneter dan fiskal nasional; dan agama masih menjadi wewenang Pemerintah Pusat. Jadi jelas keliru jika menulis “Aceh sebagai provinsi syariat Islam, selanjutnya sesuai dengan semangat UUPA yang mendukung pemberlakuan nilai mata uang tersendiri di Aceh.”

Jikapun ide tentang mata uang sendiri dirujuk ke butir MoU Helsinki yaitu pada poin 1.3.1. dapat dilihat bahwa tidak ada kewenangan tentang penerapan dan penerbitan mata uang sendiri, tapi yang tertulis di MoU adalah Aceh berhak memperoleh dana melalui hutang luar negeri dan Aceh berhak untuk menetapkan tingkat suku bunga berbeda dengan yang ditetapkan oleh Bank Sentral Republik Indonesia (Bank Indonesia). Wacana tentang mata uang sendiri juga semakin inkonstitusional karena bertentangan dengan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang yang menyebutkan bahwa mata uang di NKRI adalah Rupiah (Pasal 2 ayat 1).

Kedua, Syaukani (2009) menuliskan beberapa kesalahpahaman tentang otonomi daerah, salah satunya dan yang pertama adalah otonomi dikaitkan semata-mata dengan uang. Hal ini muncul karena ada ungkapan yang dimunculkan oleh J Wayong (1956), bahwa otonomi identik dengan automoney. Dalam Qanun No. 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh, pada pasal 2 termaktub ruang lingkup keuangan Aceh yang meliputi: hak Aceh untuk memungut pajak Aceh, retribusi Aceh dan zakat serta dapat memperoleh pinjaman; kewajiban Aceh untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan Aceh dan membayar tagihan pihak ketiga; penerimaan Aceh; pengeluaran Aceh; kekayaan Aceh yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan Aceh; kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah Aceh dalam rangka penyelenggaraan tugas Pemerintahan Aceh dan/atau kepentingan umum. Jelas dan terang tidak ada hal-ihwal tentang penerapan mata uang sendiri di qanun ini.

Pentingnya Inovasi Tata Kelola Keuangan di Aceh

Gagasan penggunaan mata uang sendiri, dalam hal ini dinar dan dirham tidak secara otomatis meningkatkan kondisi perekonomian suatu daerah. Walaupun uang emas lebih stabil, risiko volatilitas yang rendah, sangat tangguh, dan dapat diandalkan daripada mata uang yang berlaku saat ini (fiat money), tapi uang emas tidak serta merta dapat dijadikan mata uang baru. Ada persoalan terkait penggunaan mata uang emas ini yaitu aspek fleksibilitas dan kepraktisan, asas keadilan, dan tingkat penerimaan (Hamidi, 2007). Menerbitkan mata uang sendiri juga memiliki biaya yang tinggi mulai dari pelembagaan dan manajemen bank sentral, infrastruktur keuangannya, sumber daya manusia, dan biaya lainnya. Secara internasional juga, dari beberapa negara Islam, hanya Iran dan Malaysia yang secara progresif terlibat dalam rencana penggunaan emas sebagai alat tukar perdagangan. Sedangkan Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya memilih tetap “setia” menggunakan dolar sebagai alat pembayaran minyaknya. Hamidi lebih lanjut menjelaskan bahwa saat ini ada hal yang bisa diterapkan dan realistis ketimbang ide penerapan dinar emas, dalam konteks Aceh hal ini juga relevan dan dapat digagas yaitu pembayaran zakat dengan emas, penggunaan emas sebagai alat pembayaran dan media investasi haji, dan investasi emas.

Hal yang mesti dipikirkan oleh pemerintah daerah terkait desentralisasi fiskal saat ini yaitu bagaimana menerapkan tata kelola keuangan daerah dengan baik dan meminimalisir korupsi dalam pengelolaan keuangan daerah. Elemen tata kelola keuangan daerah meliputi antara lain penerapan sistem manajemen keuangan daerah, sistem akuntansi keuangan daerah, pengawasan dan audit keuangan daerah, kelembagaan pengelolaan keuangan daerah, regulasi dan sumber daya manusia yang memiliki standar kompetensi, profesionalisme, dan standar etika dalam pengelolaan keuangan daerah (Mardiasmo, 2009). Sistem manajemen keuangan daerah terdiri dari manajemen pendapatan daerah, belanja daerah, kas dan anggaran kas, aset daerah, utang dan investasi daerah, dan kemitraan pemerintahan daerah (Mahmudi, 2010). Shah (2007) menambahkan unsur sistem manajemen keuangan daerah yaitu akuntansi dan pelaporan keuangan; pengadaan di pemerintah daerah; pengendalian internal dan audit pemerintah daerah; dan audit eksternal dan evaluasi kinerja.

Dalam hal tata kelola keuangan daerah Aceh, Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota di Aceh akan menghadapi dua perubahan yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini, yaitu tentang pertambahan penerimaan yang bersumber dari pajak daerah dan retribusi daerah (sesuai UU No. 28 Tahun 2009) dan perubahan Standar Akuntansi Pemerintahan (sesuai dengan PP No. 71 tahun 2010) yaitu SAP berbasis akrual. UU tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang berlaku secara efektif sejak tanggal 1 Januari 2010 mensyaratkan adanya peraturan daerah agar daerah dapat menarik pajak dan retribusi daerah itu. Beberapa daerah belum membuat perda (qanun) ini sehingga hal ini dapat membuat potensi penerimaan daerah hilang. UU No. 28 Tahun 2009 juga telah menambah jenis pajak baru untuk provinsi yaitu pajak rokok, dan pajak baru untuk kabupaten/kota yaitu pajak air tanah; pajak sarang burung walet; Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2); dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sedangkan untuk retribusi daerah terdiri dari tiga kategori objek yaitu jasa umum; jasa usaha; dan perizinan tertentu yang akan diuraikan ke berbagai cakupan retribusinya. Daerah dilarang berinovasi dengan menambahkan jenis pajak baru selain yang diterapkan UU, tapi daerah dapat berinovasi dengan menambahkan jenis retribusi baru selain yang diatur dalam UU. Daerah juga mesti optimal dan efektif dalam merencanakan dan membelanjakan pengeluarannya, serta memastikan semua proses dari uang masuk, uang yang ada, dan uang yang keluar dapat bebas dari korupsi.

Tulisan ini pengembangan dari draf awal dan telah diperbarui pada 10 Juli 2013.

Rizki Alfi Syahril

Master of Accounting dari Universitas Gajah Mada