Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital!

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital! (Gambar:Google)

Darussalam – Tak dapat dipungkiri, peradaban dunia semakin berkembang dengan pesat. Tanpa kita sadari, kini teknologi menjadi raja dari kehidupan. Semua pekerjaan yang dulunya sulit dijangkau kini menjadi mudah dan sangat cepat. Hal ini juga membawa banyak manfaat dan kebaikan. Salah satu yang paling terasa adalah terjalinnya hubungan internasional baik dari bidang pendidikan dan juga merambah hingga dunia bisnis. Lapangan kerja semakin terbuka lebar. Peluang untuk belajar ke luar negeri pun semakin terbuka.

Namun, digitalisasi juga melahirkan ancaman. Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi dengan basis cyber physical system. Dimana robot dengan kecerdasan buatan atau artifisial mulai menyebar dan merebut posisi manusia di kancah pekerjaan.

Menilik dari banyaknya tenaga robot atau mesin yang dipakai, menambah rumit kriteria karyawan yang dipekerjakan di perusahaan. Jika beberapa tahun yang lalu tenaga jasa masih berfokus pada soft skill yang biasa, pada era digital ini penguasaan software dan kemampuan pengolahan data serta kreativitas lebih dilirik oleh perusahaan industri.

Tentu saja perkembangan yang terjadi di dunia bisnis menjadi sorot utama bagi calon sarjana ekonomi. Tujuan utama dari calon sarjana adalah menemukan pekerjaan yang tepat untuk menunjang hidup di masa mendatang. Namun,  hanya menguasai ilmu ekonomi tidak cukup meskipun gelar sarjana pun sudah disandang.

Melirik Amazon dan Alibaba yang mulai membuka pusat perbelanjaan atau supermarket tanpa kasir dan pegawai. Bahkan mereka memiliki sistem warehouse yang fully-automated. Di Indonesia sendiri, konsep digital lounge mulai digalakkan oleh perusahaan perbankan. Tanpa harus berhadapan dengan teller, orang dapat membuka tabungan sendiri.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, kita akan menghadapi digitalisasi. Maka dari itu, meningkatkan potensi diri adalah tugas utama bagi seluruh calon sarjana. Pekerjaan dengan keterampilan tinggilah yang masih membutuhkan tenaga kerja manusia.

Bagi calon sarjana, wajib mengetahui dan menganalisis jenis pekerjaan yang akan di apply nantinya.  Hal ini dikarenakan oleh adanya beberapa jenis pekerjaan yang akan hilang seperti teller,  driver,  kasir,  resepsionis dan beberapa lainnya.  Menentukan target pekerjaan yang tidak dapat dijangkau oleh mesin adalah kunci utama menghadapi digitalisasi atau revolusi industri 4.0.

Selain itu,  mengetahui bakat sendiri juga penting.  Dengan mengenal bakat yang dimiliki, maka dapat membantu ke depannya yakni dengan mengasah skill ataupun menambah skill baru dengan mengikuti berbagai pelatihan terkait soft skill atau pekerjaan di era digital.

Dilansir dari okezone.com, Laporan World Economic Forum 2016 yang bertajuk The Future Job telah memaparkan bahwa ada 10 skill yang akan dibutuhkan pada tahun 2020 mendatang. Diantaranya adalah pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen sumber daya manusia, koordinasi, kecerdasan emosional, penilaian dan pengambilan keputusan.

Dari sepuluh skill tersebut, semuanya berorientasikan mental. Maka, untuk calon sarjana ekonomi mulai dari sekarang harus dapat meningkatkan potensi diri bertajuk mental. Dengan mengikuti berbagai organisasi dan menjadi pemikir kritis, maka persaingan di era digital menjadi lebih mudah. ( Sulthana )

UU MD3 : Kriminalitas terhadap Demokrasikah?

UU MD3 :Kriminalitas terhadap Demokrasikah? (Mevi/Perspektif)

Darussalam- Rakyat Indonesia kembali dibuat bingung oleh pemerintahan. Hal ini terkait dengan pengesahan UU MD3 oleh Menteri Hukum dan HAM pada 14 Maret 2018 tanpa ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo. Dikarenakan adanya pasal yang mengarah kepada kriminalitas demokrasi.

UU MD3 ( Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD) merupakan undang-undang yang dibuat untuk melindungi anggota dewan dari upaya hukum yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). UU MD3 melindungi para anggota dewan dalam tiga tindak pidana khusus, yakni korupsi, terorisme, dan narkoba.

Undang-Undang nomor 17 tahun 2017 tentang  MPR, DPR, DPD, DPRD (UU MD3) ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) dan mendapatkan penomoran dalam lembaran negara pada tanggal 14 Maret 2018, seiring dengan batasan 30 hari presiden Jokowi tidak menandatangani surat tersebut. Hati bertanya, apakah presiden dan rakyat Indonesia ini sungguh setuju dengan pengesahan tersebut?.

UU MD3 sudah menuai polemik karena mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Anggota dewan kian dibuat tak tersentuh dan kebal hukum dari tindak pidana khusus. Ketidaksesuaian itu timbul dari tiga pasal, yakni: pasal 73, pasal 122 dan pasal 245.

Pasal 73 mengatur tentang tentang wajib menghadirkan seseorang dalam rapat di DPR atas bantuan aparat kepolisian. Pasal 122 huruf k, yang mengatur kewenangan MKD (Mahkamah kehormatan Dewan) menyeret siapa saja (perseorangan, kelompok, atau badan hukum)  ke ranah hukum jika melakukan perbuatan yang patut diduga merendahkan martabat DPR dan anggota DPR. Dan pasal  245 mengatur tentang anggota DPR tidak bisa dipanggil aparat hukum jika belum mendapat izin dari MKD dan izin tertulis dari presiden. Izin MKD diganti dengan frase “ Pertimbangan” (Revisi UU MD3).

Selain itu  dalam ayat 6 pasal pasal 73 , polisi berhak menyandera pihak yang menolak hadir diperiksa DPR paling lama 30 hari, ketentuan penyanderaan akan dibakukan dalam peraturan kapolri.

Dari isinya, UU MD3  dianggap sangat substantif karena bertentangan dengan UUD 1945.

Banyak Mahasiswa yang berdatangan mendatangi “tempat suci” negara hukum ini. Mahasiswa melakukan aksi demo sebagai tanda aksi penolakan. Bahkan beberapa pihak telah mengajukan gugatan mereka ke Mahkamah Konstitusi.

Lalu, apa yang mendorong mereka melakukan aksi penolakan terhadap kelola hukum di Negeri ini  ?.

Sesuai dengan kata mereka, negara yang hebat itu adalah negara yang mau mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ketika orang bebas berbicara, mengkritik, mengeluarkan pendapat, ini dapat dijadikan sebagai evaluasi apa yang dirasakan masyarakat terhadap kinerja DPR, sesuai dengan prinsip demokrasi ( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Pada saat kebebasan itu dibatasi, tidak ada lagi namanya evaluasi dan perbaikan sehingga negara ini hanya jalan ditempat saja.  Bahkan kembali ke masa dulu, pada zaman orde lama. Lantas, kemanakah makna demokrasi yang menjadi identitas negara ini?.

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan negara kita selama beberapa periode. Sungguh disayangkan jika kasus ini mengakibatkan ketidak adilan untuk rakyat dan membuat maknanya bobrok karena terserang kriminalitas secara tidak langsung. Demokrasi adalah pilihan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan sistem bernegara, sistem bermasyarakat yang lebih baik dan sejahtera. Jika ini terlampau terjadi, rakyat tentunya ingin pemerintah berkaca kembali.

Berbicara mengenai demokrasi, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) juga turut memberikan pendapat.

“Dari beberapa headline yang saya baca, jujur saya khawatir terhadap hal ini. Karena ada beberapa pasal yang membahayakan kebebasan berpendapat. Misalnya pemanggilan paksa karena dianggap melawan mereka. Tapi pemberitaannya cuma fokus ke yang buruk-buruk aja. Kita gak tau apakah ada yang bagus disitu,” ujarnya.

Namun, alangkah bagusnya jika pemerintah mempertimbangkan peraturan yang akan diberlakukan agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Sepatutnya pemerintah mereview kembali dari mana asal kedudukan yang mereka dapatkan. Jika tidak siap dikritik dan menerima pendapat dari rakyat, untuk apa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat yang pada hakikatnya menyuarakan rakyat.

Rakyat berhak berkomentar dan memberi pendapat. Toh pada faktanya rakyat hanya mengomentari kesalahan, keteledoran serta penyelewengan. Selama tidak melakukan hal tersebut, apa yang ditakutkan?.

“Seharusnya peraturan itu untuk mensejahterakan rakyat, bukan membatasi hak-hak rakyat. Dan juga DPR bertugas mendengarkan aspirasi rakyat bukan malah membungkam rakyat.” Tambah mahasiswa lainnya.

UU MD3 perlu direvisi kembali. Rakyat menginginkan hal itu terjadi. Harapan akan kebijakan dari Presiden Rakyat Indonesia untuk mengeluarkan Perpu pun dinantikan. Demokrasi negara kita adalah demokrasi pancasila, bukan demokrasi kriminalitas. (Sul,Frz)

Apa Kabar Kantin Pojok Ekonomi?

Apa Kabar Kantin Pojok Ekonomi? (ayu/Perspektif)

Darussalam – Fakultas Ekonomi dan Bisnis adalah salah satu fakultas tertua di Universitas Syiah Kuala dengan Akreditasi A. Gedung dan ruang kuliah yang dimiliki fakultas inipun sudah menunjang kebutuhan perkuliahan mahasiswanya. Begitu juga dengan tempat mahasiswa beristirahat dari sibuknya aktivitas perkuliahan atau yang biasa disebut kantin.

Ditahun 2018 ini, ketika kita berkunjung ke lingkungan FEB, maka kita akan melihat sebuah kantin yang berada persis ditengah antara Gedung KPMG yang merupakan Gedung untuk Jurusan Akuntansi, DIII Perbankan, Musholla Al-Mizhan, dan gedung Kesekretariatan Mahasiswa dengan beberapa penjual dan makanan serta minuman yang dijual.

Namun siapa tahu FEB Unsyiah tidak hanya mempunyai kantin tengah ini. Gedung kesekretariatan mahasiswa sendiri ternyata mempunyai kantin juga, yang dahulunya ramai akan mahasiswa dan penjual juga, yakni kantin pojok ekonomi.

Sangat disayangkan, sudah beberapa waktu belakangan kantin belakang ini dalam keadaan terbengkalai. Terlihat dari tidak adanya penjual disana yang berada, bahkan mahasiswa hanya melintas melewati kantin tersebut karena menuju ruang kuliah mereka.

sudah beberapa waktu belakangan kantin belakang ini dalam keadaan terbengkalai (Ayu/Perspektif)

Wakil Dekan III, Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Murkhana mengungkapkan bahwa sudah ada rencana mengenai kantin belakang bawah kesektariatan mahasiswa akan dikembalikan fungsinya. Dinyatakan bahwasannya akan ada kerjasama dengan KOPERASI Alumni FEB, yang dimana Koperasi Alumni ini sendiri bersedia membuat kantin itu menjadi kantin modern dalam hal Infrastruktur.

“Koperasi Alumni FEB nantinya akan mengajukan proposal kepada pengelola kantin mengenai kantin modern yang direncanakan serta mengenai penjual yang nantinya akan mengisi kantin tersebut. Penjualnya bisa saja dari luar ataupun mahasiswa sendiri, itu tergantung dari kesepakatan pengelola kantin maupun Koperasi Alumni.” terang Murkhana saat diwawancari (01/3).

Mengingat tujuan mahasiswa disini untuk berkuliah, Wakil Dekan III itu tidak keberatan apabila mahasiswa berjualan, namun dengan catatan tidak terlalu larut dalam berjualan dan melupakan kuliah sehingga berakibat menurunnya IPK. “Tapi untuk hal praktek bisnis boleh saja atau apapun itu, yang pentingkan saling menguntungkan bagi dua pihak nantinya,” tambahnya.

Alasan mengapa kantin bawah belakang gedung kesekretariatan mahasiswa terbengkalai adalah karena sang pengelola kantin ingin memusatkan kegiatan berjualan hanya disatu pusat saja, yakni kantin tengah yang saat ini dinilai lebih mudah dalam pengontrolan semua aktifitas yang ada. (VN)

Sosok Baru Mawapres FEB 2018

 

Darussalam – Mahasiswa Berperstasi (Mawapres) 2018 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala hadir dengan sosok baru yaitu Nadia, mahasiswi S1 Akuntansi yang beruntung terpilih menjadi ikon Mawapres 2018 dengan IPK tertinggi.

Dijumpai Kamis (22/2) dilingkungan kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, Nadia menceritakan perihal dirinya terpilih menjadi Mawapres ditahun 2018. Mawapres ini sendiri memilih Mahasiswanya melalui Indeks Prestasi atau IP yang diraih oleh Mahasiswa yang ditunjuk langsung oleh ketua Prodi masing-masing serta Dekan Fakultas, dan Nadia salah satunya yang terpilih menjadi Mawapres 2018 mewakili Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala ditingkat Universitas seluruh Indonesia.

Mahasiswa yang terpilih dituntut mampu membuat essay serta fasih berbahasa inggris dalam berbicara maupun lainnya. Dalam hal pengadministrasian mahasiswa terpilih diwajibkan melampirkan dan melengkapi dokumen beserta sertifikat prestasi yang pernah dicapai baik tingkat Nasional maupun Internasional.

Ditingkat universitas, Nadia membagikan pengalamannya mengenai pembekalan apa saja yang diberikan Universitas kepadanya yakni diantaranya pengetahuan umum tentang pilmapres, pembentukkan karakter, interview, tata cara membuat karya ilmiah, metode efektif dalam presentasi, public speaking, serta bagaimana cara menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama.

“Kuliah bukanlah tentang kita menuntut ilmu saja atau melanjutkan pendidikan kita ke jenjang yang lebih tinggi. Didalam kuliah ini kita tidak hanya saja belajar mata kuliah dengan dosen saja dan pulang kembali kerumah. IPK adalah hal yang penting dalam perkuliahan. Namun jangan fokus terhadap satu hal saja, setelah lulus nanti tidak IPK saja yang kita andalkan, kita memperlukan skill dalam berorganisasi. Untuk itu diperlukan keaktifan kita atau Mahasiswa dalam Himpunan Mahasiswa maupun Unit Kegiatan Mahasiswa dilingkup fakultas maupun universitas, yang nantinya akan menambah wawasan serta pengalaman kita semasa kuliah,” ujar Nadia.

Nadia juga tidak lupa membagikan motivasinya selama ikut kompetisi di ajang mawapres ini “apapun yang kita ingin capai didalam kehidupan kita, sebisa mungkin kita menerapkan sikap tidak mau pantang menyerah agar kita bisa mencapai apa yang kita inginkan, serta membanggakan orangtua karena yang baik akan berbalik baik kepada kita sendiri,”. (VN,RZ)

Persatuan Jurnalis Kampus di Banda Aceh Adakan Workshop

Pembukaan workshop yang diselenggarakan oleh Persatuan Jurnalis Kampus (Sulthanah/Perspektif)

Banda Aceh – Maraknya konten hoax di media sosial maupun media online mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk dari kalangan Lembaga Pers Kampus dan Mahasiswa. Berangkat dari keprihatinan itu, Persatuan Jurnalis Kampus (PJK) Banda Aceh menggelar Workshop di Aula Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (15/2) dengan mengusung tema “Peran Pers Kampus dan Mahasiswa dalam Menghadapi Hoax”. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama dari Humas Aceh dan beberapa Lembaga Pers Mahasiswa diantaranya LPM Perspektif FEB UNSYIAH, LPM Lensa UNMUHA, UKPM Sumberpost UIN AR-RANIRY, dan UKM Pers Detak Unsyiah.

Ghifari Hafmar selaku ketua pelaksana menambahkan “Bahwa hoax tidak lagi jadi isu di daerah tapi sudah menjadi isu nasional. Hoax dibuat oleh orang pintar yang jahat dan yang menerima ialah orang baik yang bodoh, sehingga kita semua harus memberantasnya.”

Acara ini juga turut mengundang beberapa narasumber diantaranya Kurniawan S. SH., LL.M yang merupakan Dosen Fakultas Hukum Tata Negara Unsyiah, Sulaiman selaku Kabid Pengelola Informasi dan Dokumentasi dan juga Maimun Shaleh selaku Wartawan Senior.

“Hoax, ia menipu sesuatu seolah-olah sesuatu itu ada. Dalam perkembangannya hoax lebih banyak digunakan dalam aspek politisi, dimana banyak digunakan untuk menyerang atau menimbulkan luka dipihak tertentu. Jadi tujuan hoax itu sebagai alat propaganda atau alat pencitraan diri untuk menciptakan sesuatu yang tidak sebenarnya ada,” jelas Kurniawan S, SH., LL.M  kamis (15/2).

“Jika dilihat dari kacamata islam kita dapat melihat bahwa hoax selalu berisi tentang hal yang bersifat menyebarkan kebencian. Dalam surah Al-Hujurat ayat 6 yang maknanya jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Hoax ini musibah nasional yang apabila tidak diberantas akan menimbulkan masalah yang besar,” sambung Kurniawan.

Sedangkan menurut Maimun Shaleh mencegah hoax adalah salah satu cara menyelamatkan bangsa. “cara mengenali hoax dengan mudah ialah yang pertama lihat judul berita yang sudah pasti bombastis dan akhir berita pasti tertulis sebarkan atau viralkan, kurang lebih seperti itu. Kepalanya bikin panas dan di kakinya minta dipanaskan lagi. Itulah hoax,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Sulaiman Kabid Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Polda Aceh ikut menambahkan perihal hoax yang semakin membesar di masyarakat. “Pihak Polda Aceh telah mendapati beberapa kasus hoax yang beredar dan berhasil menyelesaikannya. Jadi tugas polisi adalah bagaimana kami dapat menangkis berita yang masuk ke media sosial yang ada, baik Internet, Youtube, WA, Instagram, Twitter, dan Facebook, kami setiap saat melakukan patroli untuk menjaga supaya Aceh ini aman. Maka disinilah kita harus berpikir kedepan bagaimana agar hoax ini tidak terjadi lagi, dengan kerja keras dari mahasiswa dan pihak-pihak lain,” tegasnya.

Acara yang dipandu oleh moderator Adi Warsidi, selaku ketua AJI Banda Aceh berlanjut dengan diskusi tanya jawab yang berlangsung selama 20 menit dan diakhiri dengan penandatanganan deklarasi bersama melawan hoax dari seluruh peserta yang hadir. (Mev)

 BEM Ekonomi Dalam Kacamata Mahasiswa

BEM Ekonomi Dalam Kacamata Mahasiswa (Ilustrasi)

Dalam Perguruan tinggi,khususnya fakultas kita pastinya tidak asing dengan istilah organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Organisasi mahasiswa dengan label “Eksekutif” ini menjadikan BEM FEB mempunyai pandangan tersendiri dari mahasiswa baik dari segi kinerjanya maupun kabinet-kabinet  didalamnya. Lalu,bagaimanakah pandangan mahasiswa terhadap BEM Kampus Kuning tersebut dan sejauh manakah organisasi ini dipandang oleh mahasiswa?

Mengingat salah satu misi dari BEM FEB 2017 adalah “Tumbuh bersama, maju bersama dengan seluruh mahasiswa yang ada diruang lingkup fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah”. Apakah misi tersebut sudah terealisasikan sesuai harapan?

Dari penilaian mahasiswa, banyak pendapat mengenai kinerja BEM di kampus kuning ini. Mulai dari eksistensi BEM dalam menjalankan programnya hingga sosialisasi kepada mahasiswa. Setelah tim faktanya yang sedikit mengejutkan. Bahwasanya ada mahasiswa yang tidak mengenal siapa ketua BEM FEB.

Seorang mahasiswa angkatan tahun 2016 yang tidak mau disebutkan namanya ini mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal siapa ketua BEM FEB Unsyiah dikarenakan kurangnya sosialisasi untuk civitas akademika di lingkungan kampus dan tidak adanya perihal struktur organisasi BEM FEB di tempat-tempat umum sekitaran Fakultas Ekonomi. Sehingga hal ini membuat mahasiswa sulit mengetahui tentang BEM.

Lantas  mengapa hal ini bisa terjadi? Namun, sebelumnya coba amati kembali mengingat kampus yang semakin lama semakin sepi menandakan banyaknya mahasiswa yang “Kupu-kupu” yakni mahasiswa yang kegiatannya hanya kuliah-pulang. Dan dari kacamata mahasiswa terlihat bahwa kantor BEM  FEB Unsyiah yang selalu kosong. Hal itu ditandai dengan pintu yang selalu digembok.  Apakah yang salah pada hal ini? Mahasiswa yang apatis atau sosialisasi yang tidak berjalan dengan baik? Pandangan andalah yang menentukan jawaban tersebut.

Terlepas dari itu semua, ada hal lain yang terbaca dari kacamata mahasiswa. Salah satunya pendapat yang datang dari ketua IMADEA, M. Ifaldi Phonna yang mengatakan “ BEM tahun ini (2017) lebih mudah diakses, khususnya ketua BEM nya dan lebih terbuka sehingga urusan yang bersangkut paut dengan BEM dapat lebih mudah diselesaikan”akunya.

Selain itu program-program kerja yang dijalankan dapat dikatakan sukses sebut saja EXCELLENT dan SAFE 2017 yang berhasil mengangkat nama Fakultas Ekonomi. Namun apakah “kemudahan akses” tersebut diperuntukkan untuk keseluruhan? Atau hanya untuk sebagian orang saja? Ini masih menjadi teka teki dalam kacamata mahasiswa.

Jadi, pada dasarnya kita kembali lagi pada fungsi BEM itu sendiri, bahwa BEM adalah organisasi intra kampus yang eksekutif dan menjadi tempat mahasiswa menyampaikan aspirasinya. Maka sudah saatnya BEM menjalankan fugsinya untuk menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa dengan civitas akademika di Kampus.

Sudah sepatutnya BEM dan mahasiswa itu harus saling berkolaborasi demi terwujudnya sebuah keselarasan dan tujuan bersama untuk Ekonomi yang lebih maju khususnya di lingkungan FEB Unsyiah. (AH, Syw)

 

 

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi (Ilustrasi)

Slogan “kampus adalah rumah kedua bagi mahasiswa” bukanlah istilah yang asing terdengar di telinga setiap mahasiswa. Setiap kegiatan kampus sama layaknya kegiatan di rumah sendiri menurut mereka, entah kekeluargaan yang mereka dapatkan, pergaulan yang asik, atau sekedar menghiasi ruang kelas disaat jam kuliah yang dianggap sekedar tempat bertemu teman-temannya.

Kata ‘Kampus’ terkesan mulai kehilangan jiwa sebenarnya.  Kampus yang seharusnya diramaikan oleh aktivitas mahasiswa, entah kegiatan perkuliahan, diskusi kelompok, dan kegiatan organisasi. Kampus yang dulunya digunakan sebagai tempat bertukar ideologi, kini tak lagi terdengar suara-suara perubahan, semua hanya sibuk membaca teori-teori yang tertulis di buku tua nya.

Momentum pergantian dekan di awal tahun lalu, membuat kampus merubah beberapa regulasi dan menimbulkan atmosfir baru di lingkungan kampus tertua di Universitas Syiah Kuala ini.

Perubahan paling terasa terutama dibidang akademik disemester ganjil ini adalah tidak lagi diberlakukannya jam kuliah sore dan penambahan jam kuliah dihari Sabtu. Hal ini tentunya memberi dampak langsung bagi suasana kampus yang tak lagi seramai dulu. Faktanya,‘mahasiswa jaman now’ hanya datang saat ada jam kuliah saja.

Sebelumnya, keseharian mahasiswa bisa dilihat di perpustakaan, kantin, sekret UKM atau sekedar diskusi ringan di pekarangan kampus. Perpustakaan yang awalnya dipenuhi dengan mahasiswa yang sibuk dengan dentingan papan ketik persegi, lembaran huruf dan angka, atau hanya sekedar ‘berteduh’ dibawah sejuknya pendingin ruangan, mulai hilang satu persatu. Begitupun kantin yang mulai kehilangan pengunjung setianya.

Bagi mahasiswa yang baru mengenal dunia perkuliahan, hal ini bukan menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Penambahan jam mata kuliah di hari Sabtu bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam memilih jadwal atau mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) serta meningkatkan keefektifan kegiatan belajar. Memang benar, tidak semua mahasiswa mampu berkonsentrasi kuliah sore hari dengan 9 sks kuliah setiap hari.

Kegiatan belajar mengajar di hari sabtu juga menyebabkan kontak langsung antara mahasiswa yang satu dengan yang lain berkurang. Adanya jam perkuliahan yang di geser ke hari sabtu mempengaruhi kemungkinan mahasiswa memiliki jam yang berbeda lebih besar. Kuliah hari sabtu menyebabkan mahasiswa memiliki jam yang perkuliahan yang berbeda. Ketika satu mahasiswa datang, dua mahasiswa lagi hilang dan terus berlanjut.

Akibatnya suasana kampus yang digambarkan hidup menjadi tak terlihat lagi. Kampus yang seharusnya menjadi tempat penunjang mahasiswa, tempat terjadinya proses pembentukan diri, yang diramaikan dengan aktivitas mahasiswa sudah buram.

Kini, kampus terlihat seperti gambar dalam bingkai, nyata tapi diam. (Zla, Frz)

Pesta Demokrasi di Ekonomi, Kok Begini?

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Pesta Demokrasi Kampus memang sudah berakhir sepekan yang lalu, mahasiswa masih dalam euforia kemenangan, bersorak menunggu gebrakan dari “sang Presiden” yang baru lahir di ujung Syiah Kuala. Mahasiswa seakan tak pernah matinya menyuarakan suara-suara perubahan untuk negeri. Ideologi perjuangan masih kuat di benak setiap suara yang keluar. Hati kian tergetar mendengar suara lantang dari mahasiswa, beraksi nyata dengan semangat yang kian membara.

3.165 mahasiswa Ekonomi diberi hak suara untuk memilih pemimpin mereka. Di setiap sudut kampus terdengar semangat berkobar untuk ikut andil dalam pesta demokrasi tahunan kampus. Siapa yang tak ingin bersuara untuk kampus, mereka dicap apatis tak ingin bergabung dengan suara-suara perubahan lainnya.

Kini sang Presiden baru telah lahir, mereka lahir dari suara-suara mahasiswa yang berharap perjuangan mereka didengarkan. 1000-an suara berlabuh pada sang calon tunggal. Hanya 1531 suara yang digunakan dalam event krusial mahasiswa tahunan ini.

Ironi memang, hanya 43% suara yang digunakan dalam panggung pesta demokrasi tahunan syiah kuala tahun ini. Tak banyak memang yang mempersoalkan hal ini, ‘yang penting menang sajalah’ pikiran utamanya. Panggung demokrasi yang berjalan diprediksi akan berjalan meriah, hanya diisi oleh 1531 suara, tak sampai separuh dari total 3.165 total mahasiswa yang punya hak bersuara.

Kemanakah ideologi mahasiswa yang selama ini mereka bawa? Sebelum hari pemilihan, suara mereka yang terdengar begitu lantang di langit kampus hilang entah kemana. Pesta demokrasi tahun ini seakan ternodai oleh 57% suara yang lebih memilih untuk menjadi golongan putih.

Siapa yang bisa disalahkan dibalik realita kampus tua ini? Kampus yang telah melahirkan banyak tokoh pioneer pemerintah, ribuan aktivis lahir dari gedung tua yang elok ini. Kini, semangat untuk bersuara saja tak lagi ada, semua hilang bak ditelan masa.

Apatiskah mereka dalam bersuara? Benarkah mahasiswa kini lebih men-dewa-kan akademis mereka ketimbang menjadi aktivis? Sedikit dari mereka yang bisa mengartikan kata ‘mahasiswa’ saat ini, seakan terlena di ruang penuh apatisme. Berkhayal tentang istilah-istilah ekonomi yang mereeka pelajari tanpa tahu kemana akan digunakan nanti. Mereka yang tak ingin diganggu, selalu bertanya “indeks prestasiku semester ini, masih tinggikah angkamu”.

Entah kapan bencana moral ini hilang, hanya Mahasiswa yang dapat berikan titik terang. Semoga doa rakyat jelata dapat menyadarkan mereka, ada hak yang harus diperjuangkan, tahu kemana suara lantang mereka seharusnya. Hidup Mahasiswa! (Jr)

Mahasiswa KKN – PPM 10 Unsyiah dan LPN Gelar Saweu Nusa

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

Aceh Besar – Sebanyak 37 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Program Pengabdian Masyarakat 10 (KKN-PPM 10) periode 11 tahun 2016 Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan acara promosi potensi wisata Gampong Nusa yang bertajuk “Saweu Nusa” bersama Lembaga Pariwisata Nusa (LPN). Acara ini dilaksanakan pada hari minggu, 28 Agustus, di Gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar.

Saweu Nusa ini diselenggarakan untuk mempromosikan Gampong Nusa yang memiliki banyak potensi wisata di dalamnya. Beberapa diantaranya adalah ekowisata, wisata kreatif berupa pengolahan sampah organik dan non-organik, dan wisata budaya serta kuliner khas Aceh.

“Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan wisata Gampong Nusa melalui program – program yang telah dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM 10 di Gampong Nusa selama satu bulan,” Kata Muhammad Furqan, ketua KKN PPM 10.
Furqan berharap semoga kedepan Gampong Nusa ini lebih sukses dan berkembang dalam hal wisata.

Adapun pelaksanaan Saweu Nusa dimulai dengan presentasi promosi potensi desa oleh LPN dan pemutaran video promosi wisata yang dibuat oleh mahasiswa KKN-PPM 10 Unsyiah. Selanjutnya, acara dilaksanakan dengan kegiatan ‘Wet-Wet Gampong’, yaitu mengunjungi bank sampah, pengolahan barang bekas oleh Nusa Creation Community (NCC), dan keliling kampong. Selain itu, even ini dimeriahkan dengan penampilan seni yang terdiri dari Rapa’i Geleng, Laweut, dan Ranup Lampuan dari komunitas seni Al – Hayah dan simulasi 3 macam permainan tradisional, serta pengumuman lomba photo booth Instagram.

Acara tersebut dihadiri oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Duta Wisata, Agen Travel yang berada di kawasan Banda Aceh, dan juga stakeholder yang terkait dengan pariwisata. Selain itu, Beberapa komunitas yang tergabung dalam Forum Kolaborasi Komunitas (FKK) Banda Aceh, jajaran pemerintah Kabupaten Aceh Besar, dan awak media juga turut diundang dalam acara ini.(Rio/DeTak)

BEM Unsyiah Dukung Kebijakan Plt Gubernur Riau Terkait Pemukulan Mahasiswa

BEM Unsyiah 2016

BEM Unsyiah 2016

Darussalam – Sangat baik kebijakan Plt Gubernur Riau menonaktifkan pejabat terkait pemukulan mahasiswa, dalam aksi yang terjadi Rabu (13/4/2016) lalu. Namun kami menolak tindakan kekerasan apapun dalam menyikapi persoalan. Pergerakan mahasiswa tidak bisa dibungkam hanya dengan tindak kekerasan, kami akan terus mengawal kebijakan yang tidak sesuai dengan rakyat walau apapun yang terjadi.

Tindakan represif yang dilakukan oknum pihak keamanan yaitu protokoler pemprov Riau merupakan tindak pidana murni dan wajib untuk di tindak lanjuti melalui proses hukum. Tidak hanya menciderai semangat demokrasi mahasiswa tapi hal ini merupakan indikasi pemerintahan yang kembali pada masa orde baru yang anti dari pergerakan mahasiswa.

BEM Unsyiah Mengecam tindakan kekerasan dalam hal apapun. Ketika gerakan mahasiswa dibungkam pemerintah akan menjadi diktator.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat!

Kastrat dan Propaganda
KEMENTERIAN POLHUKAM

BEM UNSYIAH 2016

#kabinetaksi