Persatuan Jurnalis Kampus di Banda Aceh Adakan Workshop

Pembukaan workshop yang diselenggarakan oleh Persatuan Jurnalis Kampus (Sulthanah/Perspektif)

Banda Aceh – Maraknya konten hoax di media sosial maupun media online mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk dari kalangan Lembaga Pers Kampus dan Mahasiswa. Berangkat dari keprihatinan itu, Persatuan Jurnalis Kampus (PJK) Banda Aceh menggelar Workshop di Aula Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (15/2) dengan mengusung tema “Peran Pers Kampus dan Mahasiswa dalam Menghadapi Hoax”. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama dari Humas Aceh dan beberapa Lembaga Pers Mahasiswa diantaranya LPM Perspektif FEB UNSYIAH, LPM Lensa UNMUHA, UKPM Sumberpost UIN AR-RANIRY, dan UKM Pers Detak Unsyiah.

Ghifari Hafmar selaku ketua pelaksana menambahkan “Bahwa hoax tidak lagi jadi isu di daerah tapi sudah menjadi isu nasional. Hoax dibuat oleh orang pintar yang jahat dan yang menerima ialah orang baik yang bodoh, sehingga kita semua harus memberantasnya.”

Acara ini juga turut mengundang beberapa narasumber diantaranya Kurniawan S. SH., LL.M yang merupakan Dosen Fakultas Hukum Tata Negara Unsyiah, Sulaiman selaku Kabid Pengelola Informasi dan Dokumentasi dan juga Maimun Shaleh selaku Wartawan Senior.

“Hoax, ia menipu sesuatu seolah-olah sesuatu itu ada. Dalam perkembangannya hoax lebih banyak digunakan dalam aspek politisi, dimana banyak digunakan untuk menyerang atau menimbulkan luka dipihak tertentu. Jadi tujuan hoax itu sebagai alat propaganda atau alat pencitraan diri untuk menciptakan sesuatu yang tidak sebenarnya ada,” jelas Kurniawan S, SH., LL.M  kamis (15/2).

“Jika dilihat dari kacamata islam kita dapat melihat bahwa hoax selalu berisi tentang hal yang bersifat menyebarkan kebencian. Dalam surah Al-Hujurat ayat 6 yang maknanya jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Hoax ini musibah nasional yang apabila tidak diberantas akan menimbulkan masalah yang besar,” sambung Kurniawan.

Sedangkan menurut Maimun Shaleh mencegah hoax adalah salah satu cara menyelamatkan bangsa. “cara mengenali hoax dengan mudah ialah yang pertama lihat judul berita yang sudah pasti bombastis dan akhir berita pasti tertulis sebarkan atau viralkan, kurang lebih seperti itu. Kepalanya bikin panas dan di kakinya minta dipanaskan lagi. Itulah hoax,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Sulaiman Kabid Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Polda Aceh ikut menambahkan perihal hoax yang semakin membesar di masyarakat. “Pihak Polda Aceh telah mendapati beberapa kasus hoax yang beredar dan berhasil menyelesaikannya. Jadi tugas polisi adalah bagaimana kami dapat menangkis berita yang masuk ke media sosial yang ada, baik Internet, Youtube, WA, Instagram, Twitter, dan Facebook, kami setiap saat melakukan patroli untuk menjaga supaya Aceh ini aman. Maka disinilah kita harus berpikir kedepan bagaimana agar hoax ini tidak terjadi lagi, dengan kerja keras dari mahasiswa dan pihak-pihak lain,” tegasnya.

Acara yang dipandu oleh moderator Adi Warsidi, selaku ketua AJI Banda Aceh berlanjut dengan diskusi tanya jawab yang berlangsung selama 20 menit dan diakhiri dengan penandatanganan deklarasi bersama melawan hoax dari seluruh peserta yang hadir. (Mev)

 BEM Ekonomi Dalam Kacamata Mahasiswa

BEM Ekonomi Dalam Kacamata Mahasiswa (Ilustrasi)

Dalam Perguruan tinggi,khususnya fakultas kita pastinya tidak asing dengan istilah organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Organisasi mahasiswa dengan label “Eksekutif” ini menjadikan BEM FEB mempunyai pandangan tersendiri dari mahasiswa baik dari segi kinerjanya maupun kabinet-kabinet  didalamnya. Lalu,bagaimanakah pandangan mahasiswa terhadap BEM Kampus Kuning tersebut dan sejauh manakah organisasi ini dipandang oleh mahasiswa?

Mengingat salah satu misi dari BEM FEB 2017 adalah “Tumbuh bersama, maju bersama dengan seluruh mahasiswa yang ada diruang lingkup fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah”. Apakah misi tersebut sudah terealisasikan sesuai harapan?

Dari penilaian mahasiswa, banyak pendapat mengenai kinerja BEM di kampus kuning ini. Mulai dari eksistensi BEM dalam menjalankan programnya hingga sosialisasi kepada mahasiswa. Setelah tim faktanya yang sedikit mengejutkan. Bahwasanya ada mahasiswa yang tidak mengenal siapa ketua BEM FEB.

Seorang mahasiswa angkatan tahun 2016 yang tidak mau disebutkan namanya ini mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal siapa ketua BEM FEB Unsyiah dikarenakan kurangnya sosialisasi untuk civitas akademika di lingkungan kampus dan tidak adanya perihal struktur organisasi BEM FEB di tempat-tempat umum sekitaran Fakultas Ekonomi. Sehingga hal ini membuat mahasiswa sulit mengetahui tentang BEM.

Lantas  mengapa hal ini bisa terjadi? Namun, sebelumnya coba amati kembali mengingat kampus yang semakin lama semakin sepi menandakan banyaknya mahasiswa yang “Kupu-kupu” yakni mahasiswa yang kegiatannya hanya kuliah-pulang. Dan dari kacamata mahasiswa terlihat bahwa kantor BEM  FEB Unsyiah yang selalu kosong. Hal itu ditandai dengan pintu yang selalu digembok.  Apakah yang salah pada hal ini? Mahasiswa yang apatis atau sosialisasi yang tidak berjalan dengan baik? Pandangan andalah yang menentukan jawaban tersebut.

Terlepas dari itu semua, ada hal lain yang terbaca dari kacamata mahasiswa. Salah satunya pendapat yang datang dari ketua IMADEA, M. Ifaldi Phonna yang mengatakan “ BEM tahun ini (2017) lebih mudah diakses, khususnya ketua BEM nya dan lebih terbuka sehingga urusan yang bersangkut paut dengan BEM dapat lebih mudah diselesaikan”akunya.

Selain itu program-program kerja yang dijalankan dapat dikatakan sukses sebut saja EXCELLENT dan SAFE 2017 yang berhasil mengangkat nama Fakultas Ekonomi. Namun apakah “kemudahan akses” tersebut diperuntukkan untuk keseluruhan? Atau hanya untuk sebagian orang saja? Ini masih menjadi teka teki dalam kacamata mahasiswa.

Jadi, pada dasarnya kita kembali lagi pada fungsi BEM itu sendiri, bahwa BEM adalah organisasi intra kampus yang eksekutif dan menjadi tempat mahasiswa menyampaikan aspirasinya. Maka sudah saatnya BEM menjalankan fugsinya untuk menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa dengan civitas akademika di Kampus.

Sudah sepatutnya BEM dan mahasiswa itu harus saling berkolaborasi demi terwujudnya sebuah keselarasan dan tujuan bersama untuk Ekonomi yang lebih maju khususnya di lingkungan FEB Unsyiah. (AH, Syw)

 

 

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi (Ilustrasi)

Slogan “kampus adalah rumah kedua bagi mahasiswa” bukanlah istilah yang asing terdengar di telinga setiap mahasiswa. Setiap kegiatan kampus sama layaknya kegiatan di rumah sendiri menurut mereka, entah kekeluargaan yang mereka dapatkan, pergaulan yang asik, atau sekedar menghiasi ruang kelas disaat jam kuliah yang dianggap sekedar tempat bertemu teman-temannya.

Kata ‘Kampus’ terkesan mulai kehilangan jiwa sebenarnya.  Kampus yang seharusnya diramaikan oleh aktivitas mahasiswa, entah kegiatan perkuliahan, diskusi kelompok, dan kegiatan organisasi. Kampus yang dulunya digunakan sebagai tempat bertukar ideologi, kini tak lagi terdengar suara-suara perubahan, semua hanya sibuk membaca teori-teori yang tertulis di buku tua nya.

Momentum pergantian dekan di awal tahun lalu, membuat kampus merubah beberapa regulasi dan menimbulkan atmosfir baru di lingkungan kampus tertua di Universitas Syiah Kuala ini.

Perubahan paling terasa terutama dibidang akademik disemester ganjil ini adalah tidak lagi diberlakukannya jam kuliah sore dan penambahan jam kuliah dihari Sabtu. Hal ini tentunya memberi dampak langsung bagi suasana kampus yang tak lagi seramai dulu. Faktanya,‘mahasiswa jaman now’ hanya datang saat ada jam kuliah saja.

Sebelumnya, keseharian mahasiswa bisa dilihat di perpustakaan, kantin, sekret UKM atau sekedar diskusi ringan di pekarangan kampus. Perpustakaan yang awalnya dipenuhi dengan mahasiswa yang sibuk dengan dentingan papan ketik persegi, lembaran huruf dan angka, atau hanya sekedar ‘berteduh’ dibawah sejuknya pendingin ruangan, mulai hilang satu persatu. Begitupun kantin yang mulai kehilangan pengunjung setianya.

Bagi mahasiswa yang baru mengenal dunia perkuliahan, hal ini bukan menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Penambahan jam mata kuliah di hari Sabtu bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam memilih jadwal atau mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) serta meningkatkan keefektifan kegiatan belajar. Memang benar, tidak semua mahasiswa mampu berkonsentrasi kuliah sore hari dengan 9 sks kuliah setiap hari.

Kegiatan belajar mengajar di hari sabtu juga menyebabkan kontak langsung antara mahasiswa yang satu dengan yang lain berkurang. Adanya jam perkuliahan yang di geser ke hari sabtu mempengaruhi kemungkinan mahasiswa memiliki jam yang berbeda lebih besar. Kuliah hari sabtu menyebabkan mahasiswa memiliki jam yang perkuliahan yang berbeda. Ketika satu mahasiswa datang, dua mahasiswa lagi hilang dan terus berlanjut.

Akibatnya suasana kampus yang digambarkan hidup menjadi tak terlihat lagi. Kampus yang seharusnya menjadi tempat penunjang mahasiswa, tempat terjadinya proses pembentukan diri, yang diramaikan dengan aktivitas mahasiswa sudah buram.

Kini, kampus terlihat seperti gambar dalam bingkai, nyata tapi diam. (Zla, Frz)

Pesta Demokrasi di Ekonomi, Kok Begini?

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Pesta Demokrasi Kampus memang sudah berakhir sepekan yang lalu, mahasiswa masih dalam euforia kemenangan, bersorak menunggu gebrakan dari “sang Presiden” yang baru lahir di ujung Syiah Kuala. Mahasiswa seakan tak pernah matinya menyuarakan suara-suara perubahan untuk negeri. Ideologi perjuangan masih kuat di benak setiap suara yang keluar. Hati kian tergetar mendengar suara lantang dari mahasiswa, beraksi nyata dengan semangat yang kian membara.

3.165 mahasiswa Ekonomi diberi hak suara untuk memilih pemimpin mereka. Di setiap sudut kampus terdengar semangat berkobar untuk ikut andil dalam pesta demokrasi tahunan kampus. Siapa yang tak ingin bersuara untuk kampus, mereka dicap apatis tak ingin bergabung dengan suara-suara perubahan lainnya.

Kini sang Presiden baru telah lahir, mereka lahir dari suara-suara mahasiswa yang berharap perjuangan mereka didengarkan. 1000-an suara berlabuh pada sang calon tunggal. Hanya 1531 suara yang digunakan dalam event krusial mahasiswa tahunan ini.

Ironi memang, hanya 43% suara yang digunakan dalam panggung pesta demokrasi tahunan syiah kuala tahun ini. Tak banyak memang yang mempersoalkan hal ini, ‘yang penting menang sajalah’ pikiran utamanya. Panggung demokrasi yang berjalan diprediksi akan berjalan meriah, hanya diisi oleh 1531 suara, tak sampai separuh dari total 3.165 total mahasiswa yang punya hak bersuara.

Kemanakah ideologi mahasiswa yang selama ini mereka bawa? Sebelum hari pemilihan, suara mereka yang terdengar begitu lantang di langit kampus hilang entah kemana. Pesta demokrasi tahun ini seakan ternodai oleh 57% suara yang lebih memilih untuk menjadi golongan putih.

Siapa yang bisa disalahkan dibalik realita kampus tua ini? Kampus yang telah melahirkan banyak tokoh pioneer pemerintah, ribuan aktivis lahir dari gedung tua yang elok ini. Kini, semangat untuk bersuara saja tak lagi ada, semua hilang bak ditelan masa.

Apatiskah mereka dalam bersuara? Benarkah mahasiswa kini lebih men-dewa-kan akademis mereka ketimbang menjadi aktivis? Sedikit dari mereka yang bisa mengartikan kata ‘mahasiswa’ saat ini, seakan terlena di ruang penuh apatisme. Berkhayal tentang istilah-istilah ekonomi yang mereeka pelajari tanpa tahu kemana akan digunakan nanti. Mereka yang tak ingin diganggu, selalu bertanya “indeks prestasiku semester ini, masih tinggikah angkamu”.

Entah kapan bencana moral ini hilang, hanya Mahasiswa yang dapat berikan titik terang. Semoga doa rakyat jelata dapat menyadarkan mereka, ada hak yang harus diperjuangkan, tahu kemana suara lantang mereka seharusnya. Hidup Mahasiswa! (Jr)

Mahasiswa KKN – PPM 10 Unsyiah dan LPN Gelar Saweu Nusa

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

Aceh Besar – Sebanyak 37 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Program Pengabdian Masyarakat 10 (KKN-PPM 10) periode 11 tahun 2016 Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan acara promosi potensi wisata Gampong Nusa yang bertajuk “Saweu Nusa” bersama Lembaga Pariwisata Nusa (LPN). Acara ini dilaksanakan pada hari minggu, 28 Agustus, di Gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar.

Saweu Nusa ini diselenggarakan untuk mempromosikan Gampong Nusa yang memiliki banyak potensi wisata di dalamnya. Beberapa diantaranya adalah ekowisata, wisata kreatif berupa pengolahan sampah organik dan non-organik, dan wisata budaya serta kuliner khas Aceh.

“Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan wisata Gampong Nusa melalui program – program yang telah dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM 10 di Gampong Nusa selama satu bulan,” Kata Muhammad Furqan, ketua KKN PPM 10.
Furqan berharap semoga kedepan Gampong Nusa ini lebih sukses dan berkembang dalam hal wisata.

Adapun pelaksanaan Saweu Nusa dimulai dengan presentasi promosi potensi desa oleh LPN dan pemutaran video promosi wisata yang dibuat oleh mahasiswa KKN-PPM 10 Unsyiah. Selanjutnya, acara dilaksanakan dengan kegiatan ‘Wet-Wet Gampong’, yaitu mengunjungi bank sampah, pengolahan barang bekas oleh Nusa Creation Community (NCC), dan keliling kampong. Selain itu, even ini dimeriahkan dengan penampilan seni yang terdiri dari Rapa’i Geleng, Laweut, dan Ranup Lampuan dari komunitas seni Al – Hayah dan simulasi 3 macam permainan tradisional, serta pengumuman lomba photo booth Instagram.

Acara tersebut dihadiri oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Duta Wisata, Agen Travel yang berada di kawasan Banda Aceh, dan juga stakeholder yang terkait dengan pariwisata. Selain itu, Beberapa komunitas yang tergabung dalam Forum Kolaborasi Komunitas (FKK) Banda Aceh, jajaran pemerintah Kabupaten Aceh Besar, dan awak media juga turut diundang dalam acara ini.(Rio/DeTak)

BEM Unsyiah Dukung Kebijakan Plt Gubernur Riau Terkait Pemukulan Mahasiswa

BEM Unsyiah 2016

BEM Unsyiah 2016

Darussalam – Sangat baik kebijakan Plt Gubernur Riau menonaktifkan pejabat terkait pemukulan mahasiswa, dalam aksi yang terjadi Rabu (13/4/2016) lalu. Namun kami menolak tindakan kekerasan apapun dalam menyikapi persoalan. Pergerakan mahasiswa tidak bisa dibungkam hanya dengan tindak kekerasan, kami akan terus mengawal kebijakan yang tidak sesuai dengan rakyat walau apapun yang terjadi.

Tindakan represif yang dilakukan oknum pihak keamanan yaitu protokoler pemprov Riau merupakan tindak pidana murni dan wajib untuk di tindak lanjuti melalui proses hukum. Tidak hanya menciderai semangat demokrasi mahasiswa tapi hal ini merupakan indikasi pemerintahan yang kembali pada masa orde baru yang anti dari pergerakan mahasiswa.

BEM Unsyiah Mengecam tindakan kekerasan dalam hal apapun. Ketika gerakan mahasiswa dibungkam pemerintah akan menjadi diktator.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat!

Kastrat dan Propaganda
KEMENTERIAN POLHUKAM

BEM UNSYIAH 2016

#kabinetaksi

“Tak Sempurna Hanya Tanpa Jendela”

Ilustrasi/Kompasiana (kfk.kompas.com/Uling Sumbogo)

“Gubuk ini baru saja tegak berdiri 3 tahun lalu dan kita telah membangunnya bersama selama lebih dari 6 tahun, memang terkadang bocor ketika hujan, panas ketika terik, bahkan beberapa tiang mulai roboh ketika badai, mungkin kita juga sudah sangat “lelah” menghadapi perubahan cuaca tak menentu ini. Wajar, sangat manusiawi, sekali-sekali, tebersit di hati ingin gubuk yang lebih baik, mudah-mudahan saja kita tak mencari gubuk yang lain hanya karena ia tak sesempurna seperti gubuk lainnya yang terlihat sempurna dari luar…..

terlebih kini terdapat lubang besar menganga di dindingnya sehingga menggoyahkan tiang penyangga utamanya. Kita harus tenang. Jika bersabar, mungkin, kita akan mampu memperbaiki segalanya. Memang akan lama… namun jika kita melakukannya bersama, kuyakin akan indah walau sangat lelah. Karena kita bersama namun jika sudah tak ingin bersama di gubuk ini. Sudahlah… tak apa, jangan memaksakan diri dan jangan sekali-sekali mengajakku meninggalkannya, gubuk ini, gubuk kita ini karena aku kan tetap di sini.

walau sendiri… akan kuperbaiki, akan kupegang erat tiang penyangganga utamanya agar gubuk ini berdiri kembali. Akan kuperbaiki atap- atap bocornya, akan kuperbaiki semuanya walau tak sempurna di mata mereka. Dan yang terpenting akan kuperbaiki lubang dindingnya… menjadi sebuah jendela. Takkan kubiarkan siapa pun memasuki gubuk ini hingga kau kembali… membuka jendela ini… bersama… karena gubuk ini sedari dulu kita bangun bersama.

Ya, bersama kita akan melihat kesempurnaan dalam kekurangan di gubuk ini, melihat taman-taman indah nan menawan di pelataran melalui jendela ini… bersama melihat kesempurnaan gubuk ini dari dalam. Bukan seperti orang-orang yang selalu melihat ketidaksempurnaan di sini hanya karena mereka melihatnya dari luar….

Dari Luar Jendela..

Banda Aceh, 3 Oktober 2008

Jadi Begini, Kota Banda Aceh

M0tDFaV

Jadi begini, 22 April 2014 lalu, Kota Banda Aceh berulang tahun yang ke-809 tahun. Artinya, kota yang merupakan ibukota dari Provinsi Aceh ini telah berdiri sejak tahun 1205. Pada masa lampau, masa dimana masih adanya kesultanan di Aceh, nama awal Kota Banda Aceh adalah Koetaradja.

***

Jadi begini, di Dubai, ada sebuah gedung pencakar langit dimana gedung tersebut merupakan gedung tertinggi di dunia. Rasanya hampir semua orang tahu gedung tersebut Burj Khalifa namanya. Lama pembangunan gedung tersebut memakan waktu lebih kurang enam tahun. Jika diasumsikan Kota Banda Aceh memiliki faktor produksi sejak 809 tahun silam seperti Negara Dubai yang sekarang, maka di kota ini telah terbangun sekurangnya 134 gedung yang setara dengan Burj Khalifa! Apa ada 134 atau satu sajalah gedung yang seperti itu di Banda Aceh?

Jadi begini, di Provinsi Shandong, China, ada sebuah jembatan yang dinamai Danyang-Kunshan Grand Bridge. Itu adalah jembatan terpanjang di dunia. Lama pembangunan jembatan tersebut adalah empat tahun. Jika diasumsikan Kota Banda Aceh memiliki faktor produksi sejak 809 tahun silam seperti Negara China sekarang, maka di kota ini seharusnya telah terbangun setidaknya 202 lebih jembatan yang setara dengan Danyang-Kunshan Grand Bridge! Apa ada 202 atau satu sajalah jembatan yang seperti itu di banda Aceh?

Jadi begini, masih di Negara yang sama, China, tepatnya di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan,  ada sebuah bangunan yang bernama New Century Global Center. Itu adalah gedung terbesar didunia. Saking besarnya, gedung ini kira-kira bisa menampung 3 gedung Pentagon, 4 Kota Vatikan atau 20 Rumah Opera Sydney! Bagi China, butuh waktu tiga tahun untuk membuat gedung yang demikian. Jika diasumsikan Kota Banda Aceh memiliki faktor produksi sejak 809 tahun silam seperti negara China sekarang, maka di kota ini seharusnya telah terbangun setidaknya 269 lebih bangunan yang setara dengan New Century Global Center! Apa ada 269 atau satu sajalah gedung yang seperti itu di Banda Aceh?

***

Jadi begini, sebagai salah kota yang pernah diluluhlantakkan oleh gempa bumi dan tsunami beberapa tahun silam kini sudah mulai berbenah diri. Tak tanggungnya, pada tahun ke-8 paska bencana dahsyat tersebut, pemerintah kota ini mencanangkan Visit Banda Aceh Year 2012! Lantas pertanyaannya adalah, di Banda Aceh ini ada apa saja? Kira-kira hal apa sajakah yang bisa membuat para wisatawan tergerak hati dan langkahnya untuk berkunjung ke ibukota Provinsi Seuramoe Mekkah ini?

Jadi begini, untuk mempersingkat tulisan ini, saya ingin memberitahukan apa saja tempat wisata yang ada di Kota Banda Aceh ini. Pertama, Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Mesjid ini memang bukan mesjid yang terbesar dan termegah di dunia. Tapi, mesjid ini adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Betapi tidak, mesjid ini adalah salah satu saksi bisu atas apa yang terjadi di Aceh pada masa peperangan melawan Belanda. Sebagai info tambahan, Aceh adalah salah satu daerah yang tak pernah dan tak bisa ditaklukkan oleh Belanda!

Jadi begini, yang kedua adalah Pintu Khop dan Gunongan. Pinto Khop merupakan pintu penghubung antara Istana dan Taman Putroe Phang. Sedangkan Gunongan adalah simbol dan kekuatan cinta Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya yang cantik jelita, Putri Phang (Putroe Phang) yang berasal dari Pahang, Malaysia. Kedua bangunan ini dibangun pada masa Raja Sultan Iskandar Muda, dimana pada masa kepemimpinan beliau Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya.

Jadi begini, yang ketiga, di Banda Aceh ada tiga tempat wisata dengan julukan wisata tsunami. Kenapa? Karena tempat-tempat wisata ini adalah “hadiah” dari bencana alam gempa bumi dan tsunami tahun 2004 silam. Ketiga tempat wisata tersebut adalah Kapal Lampulo, Kapal PLTD Apung, dan Museum Tsunami Aceh. Kapal Lampulo adalah salah satu bukti sejarah musibah di Aceh tahun 2004 yakni sebuah kapal nelayan yang terbawa gelombang tsunami dan kemudian “parkir” dengan mantapnya tepat diatas rumah penduduk di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam. Kemudian Kapal PLTD Apung. Kapal yang sejatinya sebagai pembangkit tenaga listrik bertenaga diesel berubah fungsi menjadi tempat wisata terunik. Kenapa? Coba bayangkan, bagaimana mungkin kapal dengan bobot 2600 Ton ini terdampar lebih kurang 50 kilometer pada saat musibah tsunami dari pelabuhan Ulee Lheue ke daerah Punge Blang Cut. Sedangkan Museum Tsunami Aceh adalah tempat wisata dimana didalam museum tersebut terdapat berbagai macam artefak, foto, dan buku-buku yang menyediakan informasi tentang gempa bumi dan tsunami. Lebih serunya lagi, ada beberapa ruangan yang didesain khusus untuk bisa menyamai suasana atau momen saat bencana sedasawarsa lalu tersebut terjadi. Selain sebagai sarana wisata dan edukasi, tempat ini juga berfungsi sebagai escape building alias gedung evakuasi!

Jadi begini, yang keempat, di kota yang baru saja berulang tahun ke-101 windu plus 1 tahun ini terdapat tempat wisata yang bernama Lapangan Blang Padang. Lapangan dengan luas lebih kurang 8 hektar ini merupakan sarana olahraga dan juga tempat pelaksanaan event-event besar di Aceh. Tapi sebenarnya yang ingin saya “lukiskan” adalah di lapangan ini terdapat sebuah pesawat terbang pertama Indonesia! Namanya Pesawat Seulawah RI-001. Kemudian pesawat inilah sebagai cikal bakal adanya maskapai Garuda Indonesia!

Jadi begini, tempat wisata selanjutnya yang ada di kota ini adalah Museum Aceh. Tak jauh halnya dengan Museum Tsunami Aceh, tempat ini juga menampilkan beberapa peninggalan bersejarah. Artefak, foto, dan buku-buku tentang sejarah Aceh ada disini. Kemudian sebagai tambahan, pada halaman museum ini didirikan, terdapat sebuah lonceng besar, Lonceng Cakra Donya namanya (Cakra: kabar; Donya: dunia). Menurut sejarah, lonceng ini adalah hadiah pemberian dari kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho kepada Kerajaan Aceh, dan ini menunjukkan bahwa adanya hubungan diplomatik antara bangsa China dengan bangsa Aceh pada masa lampau.

Jadi begini, selain dari itu, masih banyak lagi tempat wisata yang wajib diketahui dan dikunjungi. Beberapa diantaranya yaitu Makam Sultan Iskandar Muda, Gerbang Peutjoet Kerkoff, Taman Sari, Pelabuhan dan Taman Kuliner Ulee Lheu, dan Hutan Kota Banda Aceh.

***

Jadi begini, dalam kaidah kepariwisataan, ada tujuh hal penting yang harus dimiliki oleh tempat wisata agar memiliki pesona yang baik. Ketujuh hal tersebut atau yang biasa disebut Sapta Pesona adalah aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramai, dan punya kenangan. Lantas apa kurangnya tempat-tempat wisata di Banda Aceh yang saya sebutkan sebelumnya dari sapta pesona tersebut?

Jadi begini, terlepas dari tempat-tempat wisata tersebut, apapun yang telah dimiliki oleh Kota Banda Aceh patutlah disyukuri oleh siapapun. Ada pepatah yang bunyinya begini, “Burung di tangan lebih baik daripada burung di udara“. Maka bukanlah hal yang salah jika salah satu tempat wisata itu bukan yang terbesar, bukan yang termegah, ataupun bukan yang terindah jika diukur dalam skala. Pernahkah terbayang hal terburuk jika ada suatu daerah yang sama sekali tak memiliki nilai pariwisata?

***

Dikutip dari: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2014/05/18/jadi-begini-kota-banda-aceh-657415.html

Menulis Fiksi, Mengasah Kreativitas

admin_1-asset-502ba7d510930Fiksi adalah prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubunganhubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.

Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia. (Altenbernd dan Lewis, 1966 : 14). Fiksi atau prosa dapat berbentuk roman, novel, cerita pendek (cerpen), drama, ataupun film. Oleh karena itu, karya fiksi juga merupakan bagian dari dunia sastra.

Dalam penulisannya, tokoh, watak maupun alur yang ada didalam tulisan hanyalah sebuah rekaan, khayalan atau hasil imajinasi sang penulis. Namun  bukan berarti karya fiksi hanyalah sebagai hasil kerja lamunan belaka. Segi kreativitas atau imaji yang ada didalamnya sepenuhnya masihdapat dipertanggungjawabkan sebagai salah satu karya seni.

Ketika menulis fiksi, kita dituntut untuk mengembangkan daya kreativitas, menembus batas pemikiran imaji, dan mengasah daya nalar kita secara bebas. Kepekaan pemikiran kita diasah dengan polesan pilihan kata-kata yang baik sehingga membuat kalimat yang baik pula. Kita dapat menulis fiksi dengan mengambil kisah pribadi maupun kisah orang lain.

Proses kreativitas ataupun imajinasi digunakan untuk mendramatisasikan hubungan- hubungan yang terjadi dalam kehidupan nyata. Cerita atau kejadian apa saja yang dapat dirasakan oleh indera dapat kita tuliskan sebagai bagian dari tulisan fiksi. Lagipula dalam penulisan fiksi tidak ada aturan baku atau kaidah yang ketat seperti tulisan nonfiksi maupun tulisan ilmiah.

Kemudian untuk menarik minat pembaca, penulis diharapkan tidak hanya sekedar memberikan informasi nyata, tetapi juga dapat memasukkan unsur seni ataupun hiburan sebagai sarana komunikasi, pembangkit emosi, ataupun sebagai penambah motivasi. Sehingga dengan adanya unsur-unsur tersebut, kegairahan pembaca untuk menyimak hasil tuliaan fiksi diharapkan bisa muncul.

Pada dewasa ini cukup banyak fiksi dalam bentuk cerpen ataupun novel yang berbasis islami. Misalnya seperti menggunakan contoh negara-negara  Timur Tengah sebagai latar belakang cerita, kemudian mencontohkan gaya hidup remaja islami, menggunakan istilah atau kata yang bernuansa Arab, ataupun banyak hal lainnya yang berbau agama. Lalu tak sedikit pula para remaja yang tersentuh setelah membaca tulisan-tulisan fiksi tersebut. Maka tidak mengherankan kalau tulisan fiksi dalam bentuk novel yang demikian menjadi bestseller!

Bahkan beberapa diantar novel terlaris tersebut disajikan juga melalui layar kaca alias difilmkan. Dari hal tersebut, disamping menandakan tingginya minat terhadap bacaan fiksi, disinilah tanda-tanda bahwa menulis fiksi itu merupakan cara mudah untuk memikat para pembacanya dengan tulisan-tulisan ringan. Ide didalam tulisan fiksi dapat dikreasikan semenarik mungkin dengan olahan kata-kata yang mampu memancing minat pembacanya, serta makna yang terkandung didalam tulisan pun dapat lebih mudah dihayati serta dipahami.

Contoh tulisan fiksi dalam bentuk cerpen adalah ceritapendek “Dajjal” karya Nazar Shah Alam yang dimuat harian Serambi Indonesia (8/9/2013).  Pengarang memainkan kreativitasnya dengan memadukan unsur pendidikan, yakni bagaimana ciri Dajjal, denganunsur hiburan seperti halnya yang dilakukan oleh pemeran utama di dalam cerita pendek tersebut. Sehingga karya fiksi tersebut tidak hanya memberikan informasi nyata tentang Dajjal itu sendiri, tetapi juga ada unsur hiburan yang diselipkan melalui humor. Atau contoh fiksi lain dalam bentuk teater, seperti teater “Dum”, yang dipentaskan oleh kalangan remaja Aceh di Sultan II Selim Banda Aceh (14/12/13) yang diprakarsai oleh Komunitas Tikar Pandan kerja sama dengan sejumlah lembaga dan komunitas dalam memperingati sembilan tahun bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami Aceh.

Dalam pementasan teater yang disutradarai oleh Agus Pmtoh tidak hanya terpaku pada pemaparan bagaimana kejadian bencana alam kala itu tetapi juga diselingi beberapa humor yang dilakoni oleh pemeran dalam teater tersebut. Alhasil gelak tawa dari para penonton yang menikmati gelaran teater tersebut pun bermunculan.

Screenshot_55

 

Oleh Muhammad Fauzan,

Anggota LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Perspektif Unsyiah

Kepemimpinan Transformasional Antara Harapan Dan Kenyataan

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa, setiap dari kita adalah pemimpin dan kepemimpinan yang paling kecil tanggung jawabnya adalah ketika kita memimpin diri sendiri. Namun terdapat beberapa manusia pilihan yang diberikan amanah tanggung jawab dan kepercayaan yang lebih besar yaitu berupa memimpin suatu organisasi/institusi atau bahkan negara. Sehingga mereka memperoleh kuasa dalam menentukan kebijakan dan kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya yang keputusannya akan sangat mempengaruhi keberlangsungan dan perkembangan dari organisasi tersebut.

Para  pemimpin diharapakan dapat menjalankan fungsinya untuk mempermudah berbagai keperluan dan kepentingan mereka orang-orang yang dipimpinnya sehingga mereka merasa, bahwa kehadiran sosok pemimpin tersebut tepat sebagai suatu solusi dari permasalan yang mereka hadapi dalam mengembangkan organisasi bukannya menambah permasalahan didalam organisasi. Serta sosok seorang pemimpin harus dapat memberikan gambaran tujuan utama yang jelas mengenai apa yang akan dicapainya untuk perkembangan organisasi kepada seluruh anggota organisasi sehingga para anggotanya dapat bersatu dalam mencapai tujuan bersama dan mengesampingkan berbagai tujuan individu yang bertolak belakang dengan tujuan organisasi.

Tentunya dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya tersebut, pemimpin sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan para pemimpin sangat tergantung dari kebutuhan organisasi dan situasi yang dihadapinya, di era serba individual dan iklim organisasi yang dinamis seperti saat ini sangat dibutuhkan sosok seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan  yang mampu memotivasi anggotanya  dan membangkitkan kesadaran terhadap tujuan atau misi kelompok serta mampu mengajak anggotanya melihat jauh ke depan melebihi kepentingan pribadi demi kebaikan kelompok. Kepemimpinan seperti inilah  yang di sebut dengan gaya kepemimpinan transformasional menurut Bass dan Avolio (1994).

Kepemimpinan Transformasional

Seorang yang dapat dikatakan sebagai pemimpin dengan gaya transformasional akan mengarahkan pengikutnya ke nilai moral yang baik, dapat mengarahkan pengikutnya untuk dapat berkomitmen pada nilai – nilai organisasi, dapat menghargai pengikutnya, mendorong pengikutnya bersikap kreatif dan menginspirasi pengikutnya untuk mencapai tujuan (Politis, 2004). Karenanya, sesungguhnya seorang pemimpin harus dapat meramalkan masa depan suatu organisasi, mengarahkan anggotanya untuk dapat berkomitmen dan mencapai tujuan  organisasi  Barbuto (1997)

Menurut teori perilaku kepemimpinan yang di ungkapkan oleh  Bass dan Avolio (1994). terdapat 4 karakterisik utama dari gaya kepemimpinan transformasional yaitu 1. Pengaruh ideal karismatik adalah kepemimpinan yang mampu mengkomunikasikan visi organisasi, menumbuhkan dan memberikan kepercayaan serta mendapat rasa hormat dari para anggotanya. 2. Memberikan stimulus intelektual adalah pemimpin yang mampu menghasilkan dan menghargai ide-ide serta melibatkan anggotanya  dalam pemecahan masalah. 3. Perhatian terhadap  individu adalah seorang pemimpin yang dapat memberikan perhatian secara pribadi serta memberikan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan oleh para anggotanya. 4. Memunculkan motivasi inspirasional adalah kepemimpinan yang mampu memberikan dan menciptakan semangat bagi para anggotanya dalam bekerja.

Antara Harapan Dan Kenyataan

Sosok seorang pemimpin transformasional sangat diharapkan kehadirannya di dalam sebuah orgasnisasi. Sebagaimana  fakta yang terjadi, masih banyak terdapat berbagai sosok-sosok yang memimpin suatu institusi/organisasi bahkan negara sekalipun menerapkan gaya kepemimpinannya secara otoriter, semena-mena dan tidak bijak sana bukannya menjadi solusi bagi suatu permasalahan agar organisasi berkembang dan maju,  bahkan banyak diantara mereka  malah menghambat perkembangan organisasi dengan cara pengambilan kebijakan yang merugikan anggota organisasinya dan sangat birokratif.

Bukannya memotivasi anggotanya agar lebih kreatif, inovatif dan produktif namun malah menghina serta menjatuhkan mental oganisasi  denga cara kebijakan “tangan besi”. Hal ini menyebabkan anggota organisasi merasa terkekang  sehingga terciptanya lingkungan organisasi yang tidak kondusif dan tidak inovatif yang berdampak pada  perkembangan organisasi yang semakin menurun. Namun inilah kenyataanya, terlepas dari hal diatas semua  kita masih menyimpan harapan, bahwa suatu hari nanti disetiap organisasi/institusi/negara akan muncul sosok seorang pemimpin yang sangat mengerti anggotanya, yaitu pemimpin yang akan menyelesaikan masalah anggotanya dengan  jawaban/solusi ber-akhiran  tanda tik (.) bukan jawaban yang ber-akhiran  tanda tanya ?

Jarjis Fadri

Mahasiswa Manajemen dari Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala