Tingkatkan Kepatuhan dalam Pajak, Wajib Pajak Harus Sadar dan Patuh

ilustrasi : Vanna

Kesuksesan suatu bangsa bisa tercerminkan dari pemerataannya kesejahteraan masyarakat dan pembangunan. Untuk menjalankan pemerataan tersebut pemerintah membutuhkan dana yang tentu jumlahnya tidak sedikit pula. Dana dikumpulkan dari berbagai sektor sumber daya yang dimiliki. Sumber daya meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia dan iuran dari masyarakat. Salah satu bentuk iuran dari masyarakat ialah pajak. Pajak adalah iuran wajib masyarakat indonesia yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang tanpa mendapatkan imbalan secara langsung semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat (Resmi, 2017: 2)

Pajak merupakan sumber dana terbesar di Indonesia yang sangat berperan penting bagi pembangunan. Melalui penerapan sistem self assesment pemerintah memberikan wewenang penuh bagi wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya dalam bidang perpajakan. Artinya wajib pajak dituntut untuk berperan aktif dalam melaksanakan kewajibannya mulai dari mendaftarkan diri, menghitung, melunasi pajak yang terutang hingga melaporkan pajak menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) dengan benar, jujur dan lengkap.

Wewenang penuh tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap sadar akan kewajiban perpajakan dan sikap patuh akan peraturan perpajakan yang berlaku didiri wajib pajak itu sendiri. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mencapai pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Namun pada kenyataannya kesadaran dan kepatuhan untuk melaksanakan kewajiban peerpajakan tidak tumbuh secara instan didalam diri wajib pajak. Dewasa ini pajak merupakan sesuatu hal yang harus dipahami dengan baik. Mengingat semua transaksi yang terjadi berkaitan erat dengan pajak. Pajak merupakan bagian inti dalam perekonomian. Sehingga tidak hanya wajib pajak melainkan semua msayarakat Indonesia secara tidak langsung maupun langsung akan selalu berurusan dengan administrasi perpajakan. Kesadaran dan pemahaman akan pajak begitu penting untuk menciptakan wajib pajak yang patuh.

Dalam pelaksanaan manajemen perpajakan dibidang bisnis, umumnya para pengusaha berusaha untuk meminimalkan beban pajak untuk mengoptimalkan laba. Guna terciptanya hal tersebut sebuah perusahaan harus memiliki sumber daya manusia yang selanjutnya disebut sebagai wajib pajak yang memiliki sikap sadar, patuh dan paham akan kewajiban dan peraturan-peraturan dibidang perpajakan. Hanya wajib pajak yang memiliki sikap tersebutlah yang dapat memanfaatkan celah didalam peraturan perpajakan untuk meringankan beban pajak. Pemanfaatan celah pajak yang dimaksud tentunya tidak melanggar undang-undang perpajakan. (Mifta Septia Ningsih/ Institut STIAMI)

Rupiah Makin Perkasa di Awal Pekan 2019

                           Ilustrasi : Mev

Darussalam – Mengawali sepekan di tahun 2019, Indonesia disambut dengan nilai tukar rupiah yang semakin menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Hal ini menempati trending teratas di jagad Twitter Indonesia, Senin (7/1/2019) pukul 15.00 WIB.

Dilansir dari Reuters, dollar AS sempat tercatat di level Rp13.990. Ini merupakan level terendah rupiah terhadap dollar setelah sebelumnya stagnan di level sekitar Rp14.000. Namun, angka tersebut tak berlangsung lama. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Senin (7/1/2019), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dibuka pada level Rp14.177,8.

“Mungkin akibat dari shutdown-nya pemerintah AS yang membuat pelaku pasar beralih ke emerging market, ini bisa jadi berita bagus untuk para investor” pungkas Muammar Iqram, mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan Unsyiah saat ditanyai pendapatnya.

“Kalau dari segi impor, hal positifnya bisa memikat para investor, barang yang kita beli relative murah. Kalau dari segi ekspor, pengusaha lebih baik mengurangi ekspor dan menjual produknya di dalam negeri.” Tambah Iqram.

Bank Indonesia menyebut penguatan ini terjadi karena mulai meningkatnya kepercayan pelaku pasar terhadap perekonomian di Indonesia. Selain itu juga karena mulai bekerjanya mekanisme pasar keuangan Indonesia.

Mengutip Kontan.co.id, kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan bahwa penguatan rupiah merupakan kelanjutan dari pertahanan rupiah yang sudah berlangsung sejak minggu lalu. Selain itu, saat ini keadaan pasar Negara maju, seperti Amerika Serikat, sedang mengalami masa sulit. Negosisasi dagang antara China dan Amerika Serikat juga menjadi faktor eksternal lainnya. Hal ini tentu turut mendorong penguatan rupiah di Indonesia. (Mev)

Raker 2019 LPM Perspektif ; Jadikan Keluarga jurnalis satu dalam Cita dan Cinta

foto : perspektif

Darusalam – “Seribu langkah besar dimulai dari satu langkah kecil”, begitu ujar Hasan Basri selaku Pemimpin Umum LPM Perspektif ketika membuka Rapat Kerja (Raker) periode 2019 di Ruang Seminar EKP, Sabtu (5/1/2018). Rapat Kerja merupakan agenda tahunan yang membahas rencana program kerja setahun yang akan datang. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh anggota aktif dan beberapa alumni LPM Perspektif. Raker tahun ini mengusung tema “To Be United In One Ideals, be United In one Love “.

Inti dari Rapat Kerja ini sendiri adalah pemaparan rencana program kerja oleh Presidium LPM Perspektif; Hasan Basri selaku Pemimpin Umum, Alma Hidayah selaku Pimpinan Redaksi, dan Fahmi Farabi selaku Pimpinan Perusahaan. Masing-masing dari mereka menjelaskan secara rinci program kerja serta target yang ingin dicapai setahun kedepan.

Pemaparan program kerja diawali oleh Pemimpin Umum. Ia menjelaskan bahwa terdapat 8 program kerja yang akan dituntaskan oleh LPM Perspektif periode 2019. Sementara itu menurutnya, program kerja yang dianggap cukup krusial adalah Pekan Jurnalistik yang kemungkinan akan diadakan pada September-Oktober 2019 yang terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2015. Sehingga ini merupakan kesempatan emas bagi LPM Perspektif untuk kembali menghidupkan semangat jiwa Jurnalistik di lingkungan kampus. Berjalannya program kerja ini juga tentunya merupakan tolok ukur kesuksesan LPM Perspektif periode 2019.

Pemaparan program kerja kemudian dilanjutkan oleh Alma Hidayah selaku Pimpinan Redaksi. Ia memaparkan apa saja tugas dari keredaksian serta menyampaikan harapannya agar keredaksian LPM Perspektif menjadi lebih baik dari sebelumnya. Harapan ini akan coba digapai dengan pemberlakuan beberapa kebijakan baru dari Pimpinan Redaksi, seperti : dibentuknya Tim Redaksi Khusus, Piket Peliputan, Surat Penugasan, serta Absensi Tulisan. Ia menargetkan agar keredaksian tahun ini berjalan lebih terstruktur dan terorganisir.

Terakhir, terdapat pemaparan program kerja dari Fahmi Farabbi selaku Pimpinan Perusahaan. Disamping menjelaskan fungsi dan tugas dari tiap posisi yang ada di dalam struktur perusahaan, ia menjelaskan bahwa pada periode kali ini menargetkan dapat menggaet tiga sponsor untuk tiga program  kerja utama LPM Perspektif, yaitu : Mega Hunting, Pekan  Jurnalistik dan Majalah Perspektif. Selain itu, Fahmi juga menambahkan bahwa  ia ingin menjaga keharmonisan dari sisi eksternal LPM Perspektif, terlebih lagi dari sisi internalnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga kekompakan dan kesolidan.

Raker kemudian ditutup  dengan diskusi umum sebagai sesi masukan dan saran dari para peserta Raker dan Alumni. Semoga Raker ini mampu memunculkan semangat baru LPM Perspektif dalam menyambut periode kepengurusan tahun 2019, Aamiin. (Abi Rafdi)

Pedang Bermata Dua di Era Digital, Back to Nature and IT Minded

Ilustrasi back to nature and IT minded (Foto:Google)

Darussalam – Berbicara mengenai perubahan dunia menuju digital memang tidak ada habisnya. Perubahan menuju era digitalisasi membawa pengaruh dan dampak yang besar bagi kehidupan. Sangat kentara jika melihat dari perilaku atau kebiasaan sehari-hari. Banyak kebiasaan baru bermunculan, seperti menggunakan gadget untuk berbagai urusan. Jika diawal kemunculannya hanya digunakan untuk berkomunikasi dan media hiburan, digitalisasi berubah fungsi menjadi ladang bisnis.

Digitalisasi memberikan banyak kemudahan untuk kehidupan manusia. Semua menjadi serba canggih dan efesien, kita menjadi lebih luang dalam memanfaatkan waktu dan mendapatkan beberapa hal dalam satu waktu sekaligus. Misalnya saat bekerja dan lapar, jika sebelumnya kita harus meninggalkan pekerjaan untuk sekedar memasak atau membeli makanan keluar, di era sekarang hanya bermodalkan gadget makanan datang tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakoni.

Dibalik kemudahan yang ditawarkan berdampak terhadap pola hidup manusia menjadi malas. Sehingga dari sikap inilah muncul beberapa dampak buruk bagi perilaku manusia. Manusia di era digital menjadi lebih individualis dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya adalah interaksi antara sesama menjadi kurang kuantitasnya terutama dengan orang yang dekat. Pola pikir saat ini berubah menjadi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, tentu saja kita sangat menyayangkan hal ini.

Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya dua perilaku yang membingungkan di bidang ekonomi yang dapat dikategorikan sebagai untung rugi. Pada kunjungannya ke Aceh minggu lalu, wakil menteri keuangan Indonesia Wardiasmo menyebutkan, The twin force of economic, back to Nature dan IT minded. Ini merupakan istilah bagi perekonomian saat ini khususnya Indonesia.

Serangan ganda perekonomian ini berkaitan dengan perilaku manusianya. Dimana masyarakat cenderung menyukai hal yang berbau alam sementara era semakin millennial. Saat musim atau masa liburan datang, kebanyakan dari masyarakat akan memilih tempat seperti laut, gunung, atau bahkan cagar alam untuk dikunjungi. Pada hari biasa pun, masyarakat akan memilih tempat nongkrong yang bernuansa alam.

Ini merupakan sebuah kesempatan yang bagus tentunya bagi pelaku ekonomi karena mereka dapat meng-upgrade usaha atau bisnisnya bertema alam atau nature. Selain itu, banyak bisnis baru bermunculan dan menggunakan alam terbuka sebagai daya tarik utamanya. Merupakan bisnis yang sehat karena menawarkan udara segar dari alam dan juga menyediakan tempat yang benar-benar cocok untuk menyegarkan pikiran.

Yang menjadi kekhawatiran di era digital dan juga bisnis alam adalah lingkungan yang semakin berkurang atau rusak. Hal ini disebabkan karena banyaknya pabrik atau industri yang bermunculan. Alam semakin digerus untuk pembangunan gedung dan berbagai tempat wisata. Maka seketika ini juga menjadi pedang bermata dua bagi Indonesia yang merupakan jantung dunia.

Mengutip dari Tribunnews.com, Leuser adalah jantung dunia yang berada di Indonesia. Namun Leuser terancam deforestrasi hutan dan meskipun berada di dalam lindungan hukum di Indonesia, tapi belum menjamin bahwa Leuser akan baik baik saja. Leuser terus saja dicacah untuk kepentingan industri dan bahkan pertambangan.

Selain itu, jika menilik dari beberapa peristiwa alam yang terjadi akhir akhir ini, telah banyak korban jiwa yang direnggut. Akan berapa banyak lagi jiwa yang kita korbankan dengan iming-iming perkembangan zaman?. Apakah kita akan tetap keukeuh untuk menjadi individualis dan tetap merasa hebat dengan pencapaian sehingga alam menjadi bukan masalah besar?. Ini adalah dampak dari sikap ketidak-pedulian kita terhadap lingkungan dan merupakan kelalaian kita sendiri.

Jika alam terus diusik, akankah kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Lantas jika melihat dari tingkah manusianya yang menjadi semakin careless terhadap lingkungannya, pantas dipertanyakan untuk ke depannya apakah ada yang masih memperdulikan alam sekitarnya?.

Perubahan menuju era digital tentu sangat baik dan bahkan merupakan keharusan untuk mengikuti perkembangan zaman. Karena sangat aneh jika menolak perubahan global sementara zaman terus berkembang. Namun, perubahan era bukan berarti merubah sikap menjadi acuh terhadap alam sekitar dan lingkungan sosial. Manusia memiliki hak dan tanggung jawab terhadap tempat tinggalnya. Maka secanggih apapun zaman yang kita tinggali, kita tidak boleh menutup hati untuk peduli.

Alam adalah tempat tinggal kita, rumah dan amanah yang harus kita jaga dengan baik. Bersama sama menuju era baru, kita juga harus menyatupadukan semnagat untuk menjaga kelestariaannya. Yang baru boleh terus muncul, namun yang lama tetap dipertahankan pesonanya. (Sul)

 

Unsyiah Fokus pada Publikasi Sitasi Ilmiah, FEB Adakan Kelas Riset Dunia (WCRP)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis adakan kelas riset dunia (WCRP). (Foto: Cut Meviantira)

Darussalam – Di era abad 21, urgensi pendidikan yang lebih baik dan ilmiah telah meningkat secara signifikan untuk mencapai tujuan transformasi masyarakat kepada pengetahuan dunia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah meningkatkan kebutuhan akan pendidikan tinggi yang memenuhi permintaan industri dan pembangunan bangsa.

Sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi, penelitian telah menjadi pendorong utama bagi perbaikan sistem itu sendiri. Proses penemuan masalah, pengumpulan data, pengolahan, dan pengambilan kesimpulan adalah kunci untuk siklus penelitian berkelanjutan yang perlu dipahami oleh semua peneliti terutama mahasiswa sebagai tokoh kunci pada program penelitian di masa depan.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami dengan baik tentang proses melakukan penelitian mulai dari menemukan masalah untuk menulis makalah yang menarik hingga mahir dalam menyimpulkan hasil dari permasalahan tersebut. Sejalan dengan tujuan untuk menjadi Universitas terkemuka di Asia Tenggara bahkan dunia, Universitas Syiah Kuala sedang dalam perjalanan untuk mencapai tujuan dengan meningkatkan beberapa sektor khususnya penelitian.

Saat ini, proses telah menunjukkan hasil yang baik. 1.025 makalah yang diindeks Scopus telah diterbitkan pada akhir tahun 2017, dibandingkan dengan 69 makalah pada tahun 2012. Universitas Syiah Kuala juga telah berhasil meraih peringkat ke-5 secara nasional dalam hal keunggulan jumlah publikasi Google Scholar oleh Webometrics.

Hal serupa juga berusaha digalakkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah melalui kelas internasional. Dimulai secara resmi pada 2011, International Businesses and Economic Program (IBEP) terus membuktikan diri sebagai program internasional terkemuka di Universitas Syiah Kuala dengan melanjutkan upayanya untuk mempromosikan standar pendidikan internasional kepada setiap mahasiswa. Salah satunya dengan melaksanakan suatu kegiatan yakni World Class Research Program (WCRP) yang telah diselenggarakan beberapa waktu lalu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

WCRP tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa internasional, namun juga kepada seluruh mahasiswa FEB Unsyiah baik Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, dan Ekonomi Islam yang tertarik pada penelitian ilmiah. Tujuan dari program ini diantaranya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya penelitian, meningkatkan kemampuan dalam melakukan riset serta melatih mahasiswa dalam kepenulisan akademik. Program ini akan dilaksanakan kembali di tahun-tahun berikutnya, dengan harapan output dari program ini dapat meningkatkan kualitas mahasiwa dan membantu mewujudkan tujuan Universitas Syiah Kuala dalam meningkatkan publikasi sitasi ilmiah di kancah Internasional. (Cut Mevi)

 

Tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” yang Tak Lagi Purna

Tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” yang tak lagi purna (foto:Abi)

Darussalam – Pemandangan yang kurang elok dilihat oleh Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah maupun orang yang berlalu-lalang di sekitar Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi hal yang biasa akhir-akhir ini. Penyebabnya ialah tulisan “Fakultas Ekonomi Dan Bisnis” yang terletak di pagar luar area kampus kuning yang terlihat mulai rusak.

Sejatinya, tulisan “Fakultas Ekonomi dan Bisnis” ini seharusnya mampu memberikan citra positif bagi orang lain yang melihatnya. Namun dengan kondisi seperti ini, agaknya citra itu sedikit luntur.

Menurut pendapat beberapa mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis yang sempat diwawancarai oleh Perspektif, mereka cukup sedih dengan kondisi tersebut. Berbagai harapan terlontar sebagai bentuk keinginan akan adanya perbaikan secepatnya pada tulisan tersebut.

“Ya sebenarnya hal ini tidak enak dilihat ya . Apalagi kita ini kan fakultas tertua di Unsyiah,  seharusnya mampu memberikan contoh pada fakultas lain, setidaknya dari urusan tulisan nama saja.” tutur  M. Ayyash, salah satu mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan.

Ditemui terpisah, Midrar Yusya, salah seorang mahasiswa jurusan Manajemen juga menambahkan, “Kita berharap ada perbaikan pada tulisan itu. Semoga bisa dilakukan secepatnya.”

Penyebab dari rusaknya tulisan tersebut kemungkinan besar adalah karena faktor alam, seperti hujan deras dan terik matahari yang menyebabkan  beberapa huruf pada tulisan tersebut terlepas. Hal ini tentunya mengundang tanda tanya beberapa pihak, akankah ada perbaikan pada tulisan tersebut?

Menanggapi hal itu, Wakil Dekan 2 FEB Unsyiah, Dr. Ridwan Ibrahim, SE, MM pun memberikan tanggapan.

“Sudah ada rencana penataan ulang. Ini memang harus kita benahi, karena memang gak enak kalau dilihat ada tulisan yang rusak. Sebenarnya ini masalah besar juga, namun sepertinya sebelumnya kurang terpantau.” Imbuhnya.

Tentunya kita semua berharap bahwa tulisan tersebut dapat segera dibenahi. Karena bagaimanapun, Tulisan “Fakultas Ekonomi Dan Bisnis” yang terpampang anggun menghadap kemegahan gerbang Kopelma Darussalam adalah wajah dan citra dari Fakultas itu sendiri.(Abi)

 

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif (foto:Ayu)

Darussalam – Memasuki era revolusi industri 4.0, perkembangan teknologi semakin canggih dan terdepan. Menghadapi tantangan tersebut, dunia industri harus menjadi semakin kreatif. Menghadapi fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala mengusung tema, “Creative Industry in Digital Business Era” dalam seminar yang diselenggarakan pada acara Management Creativity Festival (MCF) 2018, Rabu (24//10).

Seminar yang diadakan di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah ini menghadirkan tiga tamu istimewa diantaranya  Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt.  sebagai Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Zainal Arifin Lubis sebagai Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, dan Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng yang merupakan Rektor Universitas Syiah Kuala.

Dalam kesempatannya, Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. selaku Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia menyampaikan materi tentang industri kreatif di Indonesia serta peran pemerintah untuk menyukseskan perekonomian dalam masyarakat. Ia mengharapkan dengan adanya kemajuan teknologi yang berkembang pesat dalam masyarakat dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri, dan juga pemikiran kreatif yang harus ditumbuhkan guna mendukung kemajuan industri di Indonesia.

“Kami sangat mendukung seminar ini, dan hasil dari seminar ini akan disampaikan ke DPR Aceh.” Ungkap Zainal Arifin pada pidato sambutannya. Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh tersebut mendukung penuh seminar yang diadakan oleh HMM FEB Unsyiah dengan harapan isu industri kreatif yang diangkat dalam seminar ini mampu membuka pikiran masyarakat perihal pentingnya peran industri kreatif dalam meningkatkan perekonomian bangsa kedepannya. (Mev)

 

Mewujudkan ekonomi enklusifness

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk 264 juta jiwa. Jumlah penduduk yang sedemikian banyak merupakan tantangan yang berat bagi perekonomian Indonesia.

Pada  Industri Digital saat ini, kehidupan kita menjadi lebih mudah dan serba computarized. Namun, kita yang berada di era ini harus teliti dalam menghadapi kompleksivitas yang dibawa serta. Dengan tantangan yang kompleks, kita harus menyelaraskan perekonomian dan menciptakan inovasi baru.

Kemiskinan adalah musuh yang patut diperangi. Masih ada keparahan dalam kemiskinan kita. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. menyampaikan bahwa, salah satu cara mengatasi kemiskinan adalah dengan mewujudkan ekonomi enklusifness melalui pengembangan ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif berdampak sangat luas bagi perekonomian, selain tidak membutuhkan modal yang besar, ekonomi kreatif juga tidak membutuhkan tenaga manusia yang terlalu banyak. Inovasi dan kreativitas paling dibutuhkan dalam ekonomi kreatif yang merupakan karakteristik utama di Revolusi Digital atau Digital Era. Menariknya, ekonomi kreatif ini ternyata di dominasi oleh perempuan sebagai pelaku utama sebanyak 54,96%.

Bapak Mardiasmo juga memaparkan  bahwa ada 16 subsektor ekonomi kreatif. Fashion, kuliner dan kriya menjadi tiga unggulan utama. Kuliner menjadi daya tarik utama karena menggambarkan peradaban dan kebudayaan Indonesia. Namun, ada tiga subsektor lainnya yang mulai menjadi perhatian. Aplikasi dan pengembangan permainan, film dan diikuti musik yang sedang dikembangkan. (Sul)

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital!

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital! (Gambar:Google)

Darussalam – Tak dapat dipungkiri, peradaban dunia semakin berkembang dengan pesat. Tanpa kita sadari, kini teknologi menjadi raja dari kehidupan. Semua pekerjaan yang dulunya sulit dijangkau kini menjadi mudah dan sangat cepat. Hal ini juga membawa banyak manfaat dan kebaikan. Salah satu yang paling terasa adalah terjalinnya hubungan internasional baik dari bidang pendidikan dan juga merambah hingga dunia bisnis. Lapangan kerja semakin terbuka lebar. Peluang untuk belajar ke luar negeri pun semakin terbuka.

Namun, digitalisasi juga melahirkan ancaman. Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi dengan basis cyber physical system. Dimana robot dengan kecerdasan buatan atau artifisial mulai menyebar dan merebut posisi manusia di kancah pekerjaan.

Menilik dari banyaknya tenaga robot atau mesin yang dipakai, menambah rumit kriteria karyawan yang dipekerjakan di perusahaan. Jika beberapa tahun yang lalu tenaga jasa masih berfokus pada soft skill yang biasa, pada era digital ini penguasaan software dan kemampuan pengolahan data serta kreativitas lebih dilirik oleh perusahaan industri.

Tentu saja perkembangan yang terjadi di dunia bisnis menjadi sorot utama bagi calon sarjana ekonomi. Tujuan utama dari calon sarjana adalah menemukan pekerjaan yang tepat untuk menunjang hidup di masa mendatang. Namun,  hanya menguasai ilmu ekonomi tidak cukup meskipun gelar sarjana pun sudah disandang.

Melirik Amazon dan Alibaba yang mulai membuka pusat perbelanjaan atau supermarket tanpa kasir dan pegawai. Bahkan mereka memiliki sistem warehouse yang fully-automated. Di Indonesia sendiri, konsep digital lounge mulai digalakkan oleh perusahaan perbankan. Tanpa harus berhadapan dengan teller, orang dapat membuka tabungan sendiri.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, kita akan menghadapi digitalisasi. Maka dari itu, meningkatkan potensi diri adalah tugas utama bagi seluruh calon sarjana. Pekerjaan dengan keterampilan tinggilah yang masih membutuhkan tenaga kerja manusia.

Bagi calon sarjana, wajib mengetahui dan menganalisis jenis pekerjaan yang akan di apply nantinya.  Hal ini dikarenakan oleh adanya beberapa jenis pekerjaan yang akan hilang seperti teller,  driver,  kasir,  resepsionis dan beberapa lainnya.  Menentukan target pekerjaan yang tidak dapat dijangkau oleh mesin adalah kunci utama menghadapi digitalisasi atau revolusi industri 4.0.

Selain itu,  mengetahui bakat sendiri juga penting.  Dengan mengenal bakat yang dimiliki, maka dapat membantu ke depannya yakni dengan mengasah skill ataupun menambah skill baru dengan mengikuti berbagai pelatihan terkait soft skill atau pekerjaan di era digital.

Dilansir dari okezone.com, Laporan World Economic Forum 2016 yang bertajuk The Future Job telah memaparkan bahwa ada 10 skill yang akan dibutuhkan pada tahun 2020 mendatang. Diantaranya adalah pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen sumber daya manusia, koordinasi, kecerdasan emosional, penilaian dan pengambilan keputusan.

Dari sepuluh skill tersebut, semuanya berorientasikan mental. Maka, untuk calon sarjana ekonomi mulai dari sekarang harus dapat meningkatkan potensi diri bertajuk mental. Dengan mengikuti berbagai organisasi dan menjadi pemikir kritis, maka persaingan di era digital menjadi lebih mudah. ( Sulthana )

UU MD3 : Kriminalitas terhadap Demokrasikah?

UU MD3 :Kriminalitas terhadap Demokrasikah? (Mevi/Perspektif)

Darussalam- Rakyat Indonesia kembali dibuat bingung oleh pemerintahan. Hal ini terkait dengan pengesahan UU MD3 oleh Menteri Hukum dan HAM pada 14 Maret 2018 tanpa ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo. Dikarenakan adanya pasal yang mengarah kepada kriminalitas demokrasi.

UU MD3 ( Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD) merupakan undang-undang yang dibuat untuk melindungi anggota dewan dari upaya hukum yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). UU MD3 melindungi para anggota dewan dalam tiga tindak pidana khusus, yakni korupsi, terorisme, dan narkoba.

Undang-Undang nomor 17 tahun 2017 tentang  MPR, DPR, DPD, DPRD (UU MD3) ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) dan mendapatkan penomoran dalam lembaran negara pada tanggal 14 Maret 2018, seiring dengan batasan 30 hari presiden Jokowi tidak menandatangani surat tersebut. Hati bertanya, apakah presiden dan rakyat Indonesia ini sungguh setuju dengan pengesahan tersebut?.

UU MD3 sudah menuai polemik karena mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Anggota dewan kian dibuat tak tersentuh dan kebal hukum dari tindak pidana khusus. Ketidaksesuaian itu timbul dari tiga pasal, yakni: pasal 73, pasal 122 dan pasal 245.

Pasal 73 mengatur tentang tentang wajib menghadirkan seseorang dalam rapat di DPR atas bantuan aparat kepolisian. Pasal 122 huruf k, yang mengatur kewenangan MKD (Mahkamah kehormatan Dewan) menyeret siapa saja (perseorangan, kelompok, atau badan hukum)  ke ranah hukum jika melakukan perbuatan yang patut diduga merendahkan martabat DPR dan anggota DPR. Dan pasal  245 mengatur tentang anggota DPR tidak bisa dipanggil aparat hukum jika belum mendapat izin dari MKD dan izin tertulis dari presiden. Izin MKD diganti dengan frase “ Pertimbangan” (Revisi UU MD3).

Selain itu  dalam ayat 6 pasal pasal 73 , polisi berhak menyandera pihak yang menolak hadir diperiksa DPR paling lama 30 hari, ketentuan penyanderaan akan dibakukan dalam peraturan kapolri.

Dari isinya, UU MD3  dianggap sangat substantif karena bertentangan dengan UUD 1945.

Banyak Mahasiswa yang berdatangan mendatangi “tempat suci” negara hukum ini. Mahasiswa melakukan aksi demo sebagai tanda aksi penolakan. Bahkan beberapa pihak telah mengajukan gugatan mereka ke Mahkamah Konstitusi.

Lalu, apa yang mendorong mereka melakukan aksi penolakan terhadap kelola hukum di Negeri ini  ?.

Sesuai dengan kata mereka, negara yang hebat itu adalah negara yang mau mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ketika orang bebas berbicara, mengkritik, mengeluarkan pendapat, ini dapat dijadikan sebagai evaluasi apa yang dirasakan masyarakat terhadap kinerja DPR, sesuai dengan prinsip demokrasi ( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Pada saat kebebasan itu dibatasi, tidak ada lagi namanya evaluasi dan perbaikan sehingga negara ini hanya jalan ditempat saja.  Bahkan kembali ke masa dulu, pada zaman orde lama. Lantas, kemanakah makna demokrasi yang menjadi identitas negara ini?.

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan negara kita selama beberapa periode. Sungguh disayangkan jika kasus ini mengakibatkan ketidak adilan untuk rakyat dan membuat maknanya bobrok karena terserang kriminalitas secara tidak langsung. Demokrasi adalah pilihan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan sistem bernegara, sistem bermasyarakat yang lebih baik dan sejahtera. Jika ini terlampau terjadi, rakyat tentunya ingin pemerintah berkaca kembali.

Berbicara mengenai demokrasi, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) juga turut memberikan pendapat.

“Dari beberapa headline yang saya baca, jujur saya khawatir terhadap hal ini. Karena ada beberapa pasal yang membahayakan kebebasan berpendapat. Misalnya pemanggilan paksa karena dianggap melawan mereka. Tapi pemberitaannya cuma fokus ke yang buruk-buruk aja. Kita gak tau apakah ada yang bagus disitu,” ujarnya.

Namun, alangkah bagusnya jika pemerintah mempertimbangkan peraturan yang akan diberlakukan agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Sepatutnya pemerintah mereview kembali dari mana asal kedudukan yang mereka dapatkan. Jika tidak siap dikritik dan menerima pendapat dari rakyat, untuk apa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat yang pada hakikatnya menyuarakan rakyat.

Rakyat berhak berkomentar dan memberi pendapat. Toh pada faktanya rakyat hanya mengomentari kesalahan, keteledoran serta penyelewengan. Selama tidak melakukan hal tersebut, apa yang ditakutkan?.

“Seharusnya peraturan itu untuk mensejahterakan rakyat, bukan membatasi hak-hak rakyat. Dan juga DPR bertugas mendengarkan aspirasi rakyat bukan malah membungkam rakyat.” Tambah mahasiswa lainnya.

UU MD3 perlu direvisi kembali. Rakyat menginginkan hal itu terjadi. Harapan akan kebijakan dari Presiden Rakyat Indonesia untuk mengeluarkan Perpu pun dinantikan. Demokrasi negara kita adalah demokrasi pancasila, bukan demokrasi kriminalitas. (Sul,Frz)

Apa Kabar Kantin Pojok Ekonomi?

Apa Kabar Kantin Pojok Ekonomi? (ayu/Perspektif)

Darussalam – Fakultas Ekonomi dan Bisnis adalah salah satu fakultas tertua di Universitas Syiah Kuala dengan Akreditasi A. Gedung dan ruang kuliah yang dimiliki fakultas inipun sudah menunjang kebutuhan perkuliahan mahasiswanya. Begitu juga dengan tempat mahasiswa beristirahat dari sibuknya aktivitas perkuliahan atau yang biasa disebut kantin.

Ditahun 2018 ini, ketika kita berkunjung ke lingkungan FEB, maka kita akan melihat sebuah kantin yang berada persis ditengah antara Gedung KPMG yang merupakan Gedung untuk Jurusan Akuntansi, DIII Perbankan, Musholla Al-Mizhan, dan gedung Kesekretariatan Mahasiswa dengan beberapa penjual dan makanan serta minuman yang dijual.

Namun siapa tahu FEB Unsyiah tidak hanya mempunyai kantin tengah ini. Gedung kesekretariatan mahasiswa sendiri ternyata mempunyai kantin juga, yang dahulunya ramai akan mahasiswa dan penjual juga, yakni kantin pojok ekonomi.

Sangat disayangkan, sudah beberapa waktu belakangan kantin belakang ini dalam keadaan terbengkalai. Terlihat dari tidak adanya penjual disana yang berada, bahkan mahasiswa hanya melintas melewati kantin tersebut karena menuju ruang kuliah mereka.

sudah beberapa waktu belakangan kantin belakang ini dalam keadaan terbengkalai (Ayu/Perspektif)

Wakil Dekan III, Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Murkhana mengungkapkan bahwa sudah ada rencana mengenai kantin belakang bawah kesektariatan mahasiswa akan dikembalikan fungsinya. Dinyatakan bahwasannya akan ada kerjasama dengan KOPERASI Alumni FEB, yang dimana Koperasi Alumni ini sendiri bersedia membuat kantin itu menjadi kantin modern dalam hal Infrastruktur.

“Koperasi Alumni FEB nantinya akan mengajukan proposal kepada pengelola kantin mengenai kantin modern yang direncanakan serta mengenai penjual yang nantinya akan mengisi kantin tersebut. Penjualnya bisa saja dari luar ataupun mahasiswa sendiri, itu tergantung dari kesepakatan pengelola kantin maupun Koperasi Alumni.” terang Murkhana saat diwawancari (01/3).

Mengingat tujuan mahasiswa disini untuk berkuliah, Wakil Dekan III itu tidak keberatan apabila mahasiswa berjualan, namun dengan catatan tidak terlalu larut dalam berjualan dan melupakan kuliah sehingga berakibat menurunnya IPK. “Tapi untuk hal praktek bisnis boleh saja atau apapun itu, yang pentingkan saling menguntungkan bagi dua pihak nantinya,” tambahnya.

Alasan mengapa kantin bawah belakang gedung kesekretariatan mahasiswa terbengkalai adalah karena sang pengelola kantin ingin memusatkan kegiatan berjualan hanya disatu pusat saja, yakni kantin tengah yang saat ini dinilai lebih mudah dalam pengontrolan semua aktifitas yang ada. (VN)