Kepemimpinan Transformasional Antara Harapan Dan Kenyataan

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa, setiap dari kita adalah pemimpin dan kepemimpinan yang paling kecil tanggung jawabnya adalah ketika kita memimpin diri sendiri. Namun terdapat beberapa manusia pilihan yang diberikan amanah tanggung jawab dan kepercayaan yang lebih besar yaitu berupa memimpin suatu organisasi/institusi atau bahkan negara. Sehingga mereka memperoleh kuasa dalam menentukan kebijakan dan kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya yang keputusannya akan sangat mempengaruhi keberlangsungan dan perkembangan dari organisasi tersebut.

Para  pemimpin diharapakan dapat menjalankan fungsinya untuk mempermudah berbagai keperluan dan kepentingan mereka orang-orang yang dipimpinnya sehingga mereka merasa, bahwa kehadiran sosok pemimpin tersebut tepat sebagai suatu solusi dari permasalan yang mereka hadapi dalam mengembangkan organisasi bukannya menambah permasalahan didalam organisasi. Serta sosok seorang pemimpin harus dapat memberikan gambaran tujuan utama yang jelas mengenai apa yang akan dicapainya untuk perkembangan organisasi kepada seluruh anggota organisasi sehingga para anggotanya dapat bersatu dalam mencapai tujuan bersama dan mengesampingkan berbagai tujuan individu yang bertolak belakang dengan tujuan organisasi.

Tentunya dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya tersebut, pemimpin sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan para pemimpin sangat tergantung dari kebutuhan organisasi dan situasi yang dihadapinya, di era serba individual dan iklim organisasi yang dinamis seperti saat ini sangat dibutuhkan sosok seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan  yang mampu memotivasi anggotanya  dan membangkitkan kesadaran terhadap tujuan atau misi kelompok serta mampu mengajak anggotanya melihat jauh ke depan melebihi kepentingan pribadi demi kebaikan kelompok. Kepemimpinan seperti inilah  yang di sebut dengan gaya kepemimpinan transformasional menurut Bass dan Avolio (1994).

Kepemimpinan Transformasional

Seorang yang dapat dikatakan sebagai pemimpin dengan gaya transformasional akan mengarahkan pengikutnya ke nilai moral yang baik, dapat mengarahkan pengikutnya untuk dapat berkomitmen pada nilai – nilai organisasi, dapat menghargai pengikutnya, mendorong pengikutnya bersikap kreatif dan menginspirasi pengikutnya untuk mencapai tujuan (Politis, 2004). Karenanya, sesungguhnya seorang pemimpin harus dapat meramalkan masa depan suatu organisasi, mengarahkan anggotanya untuk dapat berkomitmen dan mencapai tujuan  organisasi  Barbuto (1997)

Menurut teori perilaku kepemimpinan yang di ungkapkan oleh  Bass dan Avolio (1994). terdapat 4 karakterisik utama dari gaya kepemimpinan transformasional yaitu 1. Pengaruh ideal karismatik adalah kepemimpinan yang mampu mengkomunikasikan visi organisasi, menumbuhkan dan memberikan kepercayaan serta mendapat rasa hormat dari para anggotanya. 2. Memberikan stimulus intelektual adalah pemimpin yang mampu menghasilkan dan menghargai ide-ide serta melibatkan anggotanya  dalam pemecahan masalah. 3. Perhatian terhadap  individu adalah seorang pemimpin yang dapat memberikan perhatian secara pribadi serta memberikan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan oleh para anggotanya. 4. Memunculkan motivasi inspirasional adalah kepemimpinan yang mampu memberikan dan menciptakan semangat bagi para anggotanya dalam bekerja.

Antara Harapan Dan Kenyataan

Sosok seorang pemimpin transformasional sangat diharapkan kehadirannya di dalam sebuah orgasnisasi. Sebagaimana  fakta yang terjadi, masih banyak terdapat berbagai sosok-sosok yang memimpin suatu institusi/organisasi bahkan negara sekalipun menerapkan gaya kepemimpinannya secara otoriter, semena-mena dan tidak bijak sana bukannya menjadi solusi bagi suatu permasalahan agar organisasi berkembang dan maju,  bahkan banyak diantara mereka  malah menghambat perkembangan organisasi dengan cara pengambilan kebijakan yang merugikan anggota organisasinya dan sangat birokratif.

Bukannya memotivasi anggotanya agar lebih kreatif, inovatif dan produktif namun malah menghina serta menjatuhkan mental oganisasi  denga cara kebijakan “tangan besi”. Hal ini menyebabkan anggota organisasi merasa terkekang  sehingga terciptanya lingkungan organisasi yang tidak kondusif dan tidak inovatif yang berdampak pada  perkembangan organisasi yang semakin menurun. Namun inilah kenyataanya, terlepas dari hal diatas semua  kita masih menyimpan harapan, bahwa suatu hari nanti disetiap organisasi/institusi/negara akan muncul sosok seorang pemimpin yang sangat mengerti anggotanya, yaitu pemimpin yang akan menyelesaikan masalah anggotanya dengan  jawaban/solusi ber-akhiran  tanda tik (.) bukan jawaban yang ber-akhiran  tanda tanya ?

Jarjis Fadri

Mahasiswa Manajemen dari Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala