Mengenal Lebih Dekat Perpustakaan FEB Unsyiah

Mengenal lebih dekat Perpustakaan FEB Unsyiah (Mevi/Perspektif)

Siang itu di perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, aku duduk dan mengamati benda mati yang sangat berarti. Tumpukan benda itu tersusun rapi sesuai genrenya. Udara yang mulanya panas seketika menjadi sejuk saat aku masuk kedalam ruangan itu. Mungkin dalam benak sebagian orang perpustakaan adalah tempat titik equilibrium berada,  dimana buku dan pengetahuan bersemayam untuk dibedah oleh orang-orang pemecah kehampaan. Sampai kapan buku tebal mampu bertahan, sebelum maut menjemputnya untuk tidur dalam keabadian tanpa disentuh sedikitpun oleh tangan-tangan pemecah kehampaan.?

Berlari dari rumor kuno tersebut, perpustakaan masa kini tampil dengan suasana baru.

Perpustakaan FEB Unsyiah menjadi salah satu tempat favorit yang nyaman bagi seluruh mahasiswa ekonomi untuk menyejukkan badan atau mereka sering menyebutnya ngadem. Efek negative rumah kaca yang semakin menyebabkan suhu di bumi naik drastis sehingga semua orang merasa kepanasan dimana-mana. Namun panas bumi masih belum bisa menandingi panasnya api cemburu bagi mereka yang bersemangat  menuntut ilmu dan rajin membaca buku diperpustakaan untuk sumber referensi.

Terlepas dari fungsi utama perpustakaan, banyak juga mahasiswa ekonomi yang datang ke perpustakaan tidak hanya untuk ngadem tapi untuk meminjam buku, kerja kelompok, membuat skripsi dan semacamnya.

Perpustakaan memainkan peranan penting dalam menciptakan budaya membaca para mahasiswa. Oleh sebab itu, seiring berkembangnya jaman sarana dan prasarana perpustakaan sudah banyak berbenah. Dimulai dari penyediaan Wi-Fi, Air Conditioner, tempat duduk nyaman, meja diskusi, stop contact, kualitas pelayanan yang baik, dan sebagainya. Fasilitas seperti ini telah tersedia di perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala.

Vania Amanda Mahasiswa D3 Akuntansi 2016 (19/3) turut berbagi buah pikir saat ditanyai pendapat mengenai perpustakaan. “Bersih, buku pelajarannya lengkap, dan adem. Itu yang membuat saya betah berlama-lama di dalam perpustakaan,” tuturnya.

Mahasiswa yang aktif mengunjungi perpustakaan FEB Unsyiah ini mengatakan bahwa fasilitas yang telah tersedia di perpustakaan tersebut sudah sangat memadai, buku-buku pelajaran juga lengkap walaupun umumnya berbahasa Inggris.

“Kalau soal fasilitas sudah baik dan nyaman, tapi mungkin untuk kursi jumlahnya kurang banyak, soalnya di beberapa waktu tertentu perpustakaan sering ramai. Kalau udah ramai perpustakaan jadi penuh banget, ga ada lagi tempat duduk. Lokasinya mungkin juga kurang strategis apalagi bagi orang-orang yang baru datang ke FEB dan untuk variasi bukunya mungkin bisa ditambah lagi, hehe,” ucap Fariza Junina yang merupakan salah satu mahasiswa Akuntansi 2017 yang juga sering mengunjungi perpustakaan.

Bila berbicara detail tentang suatu hal maka akan tersimpul kekurangan dan kelebihannya, sama halnya dengan perpustakaan. Semakin hari semua hal pasti akan berbenah menjadi lebih baik, kritik dan saran menjadi kunci utama untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada.

Sri Maryanova Selaku pustakawan perpustakaan FEB Unsyiah mengatakan bahwa selama berjalannya pelayanan terhadap perpustakaan belum ada kendala yang berarti, semua masih bisa diatasi dengan alternatif lain. Seperti saat perpustakaan sedang ramai sekali sehingga terkadang loker tempat mahasiswa menyimpan tas penuh, buku yang telah tersusun sesuai tempatnya kadang terpindah, dan stopcontact di tiap-tiap meja kurang.

Namun hal tersebut cepat teratasi dengan solusi alternatif yang sangat baik. “Kedepannya kita punya program untuk mahasiswa baru yaitu pengenalan perpustakaan dimana seluruh mahasiswa baru 2018 wajib mengikutinya sebagai syarat menjadi anggota perpustakaan. Tujuan program ini agar mahasiswa baru dapat lebih tertib dan mengikuti aturan yang telah berlaku di perpustakaan FEB Unsyiah, tapi nanti akan kita bicarakan lagi,” (23/3) tambahnya.

Melihat banyak perbenahan berarti yang dilakukan untuk tempat sejuk dengan aroma buku-bukunya yang khas itu, membuat diriku tersipu malu bila hanya duduk termenung dan masih menjadikan malas menetap dibenakku yang menghalangi diriku untuk rajin membaca. Apalagi yang insan kini inginkan, Semua sudah ada dan nyaman, lantas kenapa masih duduk diam disana. (Mev)