Menulis Fiksi, Mengasah Kreativitas

admin_1-asset-502ba7d510930Fiksi adalah prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubunganhubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.

Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia. (Altenbernd dan Lewis, 1966 : 14). Fiksi atau prosa dapat berbentuk roman, novel, cerita pendek (cerpen), drama, ataupun film. Oleh karena itu, karya fiksi juga merupakan bagian dari dunia sastra.

Dalam penulisannya, tokoh, watak maupun alur yang ada didalam tulisan hanyalah sebuah rekaan, khayalan atau hasil imajinasi sang penulis. Namun  bukan berarti karya fiksi hanyalah sebagai hasil kerja lamunan belaka. Segi kreativitas atau imaji yang ada didalamnya sepenuhnya masihdapat dipertanggungjawabkan sebagai salah satu karya seni.

Ketika menulis fiksi, kita dituntut untuk mengembangkan daya kreativitas, menembus batas pemikiran imaji, dan mengasah daya nalar kita secara bebas. Kepekaan pemikiran kita diasah dengan polesan pilihan kata-kata yang baik sehingga membuat kalimat yang baik pula. Kita dapat menulis fiksi dengan mengambil kisah pribadi maupun kisah orang lain.

Proses kreativitas ataupun imajinasi digunakan untuk mendramatisasikan hubungan- hubungan yang terjadi dalam kehidupan nyata. Cerita atau kejadian apa saja yang dapat dirasakan oleh indera dapat kita tuliskan sebagai bagian dari tulisan fiksi. Lagipula dalam penulisan fiksi tidak ada aturan baku atau kaidah yang ketat seperti tulisan nonfiksi maupun tulisan ilmiah.

Kemudian untuk menarik minat pembaca, penulis diharapkan tidak hanya sekedar memberikan informasi nyata, tetapi juga dapat memasukkan unsur seni ataupun hiburan sebagai sarana komunikasi, pembangkit emosi, ataupun sebagai penambah motivasi. Sehingga dengan adanya unsur-unsur tersebut, kegairahan pembaca untuk menyimak hasil tuliaan fiksi diharapkan bisa muncul.

Pada dewasa ini cukup banyak fiksi dalam bentuk cerpen ataupun novel yang berbasis islami. Misalnya seperti menggunakan contoh negara-negara  Timur Tengah sebagai latar belakang cerita, kemudian mencontohkan gaya hidup remaja islami, menggunakan istilah atau kata yang bernuansa Arab, ataupun banyak hal lainnya yang berbau agama. Lalu tak sedikit pula para remaja yang tersentuh setelah membaca tulisan-tulisan fiksi tersebut. Maka tidak mengherankan kalau tulisan fiksi dalam bentuk novel yang demikian menjadi bestseller!

Bahkan beberapa diantar novel terlaris tersebut disajikan juga melalui layar kaca alias difilmkan. Dari hal tersebut, disamping menandakan tingginya minat terhadap bacaan fiksi, disinilah tanda-tanda bahwa menulis fiksi itu merupakan cara mudah untuk memikat para pembacanya dengan tulisan-tulisan ringan. Ide didalam tulisan fiksi dapat dikreasikan semenarik mungkin dengan olahan kata-kata yang mampu memancing minat pembacanya, serta makna yang terkandung didalam tulisan pun dapat lebih mudah dihayati serta dipahami.

Contoh tulisan fiksi dalam bentuk cerpen adalah ceritapendek “Dajjal” karya Nazar Shah Alam yang dimuat harian Serambi Indonesia (8/9/2013).  Pengarang memainkan kreativitasnya dengan memadukan unsur pendidikan, yakni bagaimana ciri Dajjal, denganunsur hiburan seperti halnya yang dilakukan oleh pemeran utama di dalam cerita pendek tersebut. Sehingga karya fiksi tersebut tidak hanya memberikan informasi nyata tentang Dajjal itu sendiri, tetapi juga ada unsur hiburan yang diselipkan melalui humor. Atau contoh fiksi lain dalam bentuk teater, seperti teater “Dum”, yang dipentaskan oleh kalangan remaja Aceh di Sultan II Selim Banda Aceh (14/12/13) yang diprakarsai oleh Komunitas Tikar Pandan kerja sama dengan sejumlah lembaga dan komunitas dalam memperingati sembilan tahun bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami Aceh.

Dalam pementasan teater yang disutradarai oleh Agus Pmtoh tidak hanya terpaku pada pemaparan bagaimana kejadian bencana alam kala itu tetapi juga diselingi beberapa humor yang dilakoni oleh pemeran dalam teater tersebut. Alhasil gelak tawa dari para penonton yang menikmati gelaran teater tersebut pun bermunculan.

Screenshot_55

 

Oleh Muhammad Fauzan,

Anggota LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Perspektif Unsyiah