Pesta Demokrasi di Ekonomi, Kok Begini?

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Pesta Demokrasi Kampus memang sudah berakhir sepekan yang lalu, mahasiswa masih dalam euforia kemenangan, bersorak menunggu gebrakan dari “sang Presiden” yang baru lahir di ujung Syiah Kuala. Mahasiswa seakan tak pernah matinya menyuarakan suara-suara perubahan untuk negeri. Ideologi perjuangan masih kuat di benak setiap suara yang keluar. Hati kian tergetar mendengar suara lantang dari mahasiswa, beraksi nyata dengan semangat yang kian membara.

3.165 mahasiswa Ekonomi diberi hak suara untuk memilih pemimpin mereka. Di setiap sudut kampus terdengar semangat berkobar untuk ikut andil dalam pesta demokrasi tahunan kampus. Siapa yang tak ingin bersuara untuk kampus, mereka dicap apatis tak ingin bergabung dengan suara-suara perubahan lainnya.

Kini sang Presiden baru telah lahir, mereka lahir dari suara-suara mahasiswa yang berharap perjuangan mereka didengarkan. 1000-an suara berlabuh pada sang calon tunggal. Hanya 1531 suara yang digunakan dalam event krusial mahasiswa tahunan ini.

Ironi memang, hanya 43% suara yang digunakan dalam panggung pesta demokrasi tahunan syiah kuala tahun ini. Tak banyak memang yang mempersoalkan hal ini, ‘yang penting menang sajalah’ pikiran utamanya. Panggung demokrasi yang berjalan diprediksi akan berjalan meriah, hanya diisi oleh 1531 suara, tak sampai separuh dari total 3.165 total mahasiswa yang punya hak bersuara.

Kemanakah ideologi mahasiswa yang selama ini mereka bawa? Sebelum hari pemilihan, suara mereka yang terdengar begitu lantang di langit kampus hilang entah kemana. Pesta demokrasi tahun ini seakan ternodai oleh 57% suara yang lebih memilih untuk menjadi golongan putih.

Siapa yang bisa disalahkan dibalik realita kampus tua ini? Kampus yang telah melahirkan banyak tokoh pioneer pemerintah, ribuan aktivis lahir dari gedung tua yang elok ini. Kini, semangat untuk bersuara saja tak lagi ada, semua hilang bak ditelan masa.

Apatiskah mereka dalam bersuara? Benarkah mahasiswa kini lebih men-dewa-kan akademis mereka ketimbang menjadi aktivis? Sedikit dari mereka yang bisa mengartikan kata ‘mahasiswa’ saat ini, seakan terlena di ruang penuh apatisme. Berkhayal tentang istilah-istilah ekonomi yang mereeka pelajari tanpa tahu kemana akan digunakan nanti. Mereka yang tak ingin diganggu, selalu bertanya “indeks prestasiku semester ini, masih tinggikah angkamu”.

Entah kapan bencana moral ini hilang, hanya Mahasiswa yang dapat berikan titik terang. Semoga doa rakyat jelata dapat menyadarkan mereka, ada hak yang harus diperjuangkan, tahu kemana suara lantang mereka seharusnya. Hidup Mahasiswa! (Jr)