IDX Berikan Sosialisasi Pasar Modal Kepada Mahasiswa

IMG_20151211_104457_HDR

Kepala Divisi Edukasi IDX Indonesia, Djoko Saptono memaparkan perbandingan investasi saham dengan investasi lainnya. (11/12/2015) (Dimas/Perspektif)

Darussalam – Jumat (11/12/2015) IDX kembali melakukan Sosialisasi Pasar Modal yang menyediakan sarana bagi mahasiswa untuk lebih mengenal mengenai bagaimana pasar modal di Indonesia di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Menghadirkan Djoko Saptono (Kepala Divisi Edukasi IDX Indonesia) dan Ananta Wiyogo (Presiden Direktur BNI Securities), sosialisasi kali ini memberikan pemaparan mengenai bagaimana investasi pasar modal di Indonesia.

Menariknya, tidak hanya para peserta yang hadir saja yang semangat, namun Said Musnadi, selaku moderator juga tak kalah semangat menanggapi soal pasar modal yang ada di Indonesia saat ini. Sembari menunjukkan tabel perbandingan investasi saham dengan investasi lainnya, Djoko Saptono mengatakan, “Pemahaman yang kurang pada masyarakat, membuat potensi investasi saham di Indonesia saat ini masih tergolong sedikit dibandingkan dengan negara lain meski sudah mulai berkembang. Namun ini tidak menjadi pengahalang untuk berkembangnya potensi bertambahnya investor-investor yang ada di Indonesia.”

Menyambung paparan Djoko, Presiden Direktur BNI Securities Ananta Wiyogo menambahkan mengenai menjadi investor saham, “sebagai investor, yang sangat dibutuhkan adalah informasi mengenai saham-saham yang beredar, serta kendali penuh akan informasi saham perusahaan yang kita miliki. Jika kita tidak tahu laporan resmi transaksi keluar masuknya saham dan dana sebagaimana fakta yang terjadi. Bisa saja ada transaksi-transaksi yang menguntungkan investor, tapi tidak dilaporkan oleh perusahaan sekuritas. Dan hal itu tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Dengan kartu AKSes inilah hak dan kepentingan investor dilindungi,” umbarnya.

Mahasiswa yang hadir sangatlah antusias, sebanyak lima pertanyaan terlontar untuk pemateri yang memberikan edukasi bagi mahasiswa-mahasiswa mengenai pasar modal di Indonesia. (DA)

Membangun Gampong melalui KKN PPM

Banda Aceh | Dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN), ada banyak yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk membangun masyarakat sekitar untuk menuju keadaan gampong yang lebih baik dan lebih maju ketika sedang ditempati ataupun sudah ditinggalkan oleh mahasiswa KKN itu sendiri. KKN itu sendiri hakikatnya adalah program pengabdian mahasiswa/I kepada masyarakat, karena setelah mahasiswa telah selesai melaksanakan pendidikannya, maka disitulah mereka mulai akan memasuki dunia yang benar-benar nyata di masyarakat, bagaimana untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, maupun lama, dan bagaimana berkomunikasi yang baik dengan masyarakat agar terjalinnya silaturahmi yang kuat. 

Mahasiswa KKN PPM Gampong Lampulo

Mahasiswa KKN PPM Gampong Lampulo

Selain bagi masyarakat, KKN ini juga berfungsi untuk membentuk karakter dari setiap peserta KKN itu sendiri, mengapa? Karena ketika KKN para peserta dituntut untuk bekerja bersama masyarakat, bagaimana jadi pemimpin dalam suatu kegiatan atau kelompok. Tentu saja, dalam memimpin beberapa orang diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik, kemampuan bersosial yang tinggi antar individu sehingga tidak adanya permasalahan dalam berkomunikasi. Dan mengatur suatu hal dengan tepat itu juga dapat menjadi pembelajaran kedepannya. perencanaan tanpa tindakan tidak akan berguna. Tetapi tindakan pasti yang sangat dibutuhkan di lingkungan masyarakat yang masih butuh pengembangan SDM mereka sendiri dalam berbagai hal yang dapat dibantu oleh peserta KKN.

Mengajar Mengaji

Mengajar Mengaji

KKN reguler maupun KKN-PPM tidak lah berbeda satu sama lain. Tujuan setiap KKN sama, memberdayakan masyarakat. Kebiasaan masyarakat hanya melihat suatu permasalahan dari sisi luar saja, di kota besar pun masih ada sisi lainnya dari kemewahan kota. Jadi, meskipun ada KKN-PPM di kota bukan berarti tidak adanya program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan. Tidak semua penduduk kota sudah mampu secara ekonomi dan penggunaan SDA yang baik. Lampulo, tepatnya di dusun III Tgk Disayang para pembuat ikan kayu atau disebut keumamah dalam bahasa Aceh ini masih kurang dalam produktivitasnya dibandingkan dengan produsen ikan kayu di dusun lainnya dalam gampong Lampulo juga. Di dusun ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana cara membuat keumamah.

Mengajar Membaca Anak-anak

Mendidik Anak-anak utk Membaca

Hal ini juga disebabkan karena kurangnya minat masyarakat untuk membuat keumamah, banyak lasan yang menyebabkan masyarakat kurang minat, dari kesibukan mengurusi rumah tangga sampai kurangnya pengetahuan mereka terhadap proses mengolah dan pengemasan ikan kayu dengan baik dan benar. Hal ini yang harus peserta KKN bantu masyarakat, agar masyarakat di dusun ini menjadi lebih bagus produktivitasnya, semakin bagus kualitas yang dihasilkan dan dapat bersaing dengan ikan kayu yang sudah terlebih dahulu merajai pasar dari dusun lain.

Harapan yang sangat besar terletak di dusun ini agar setelah mahasiswa KKN kembali ke kampus, dusun ini lebih mandiri dalam membangun perekonomian mereka selain dari profesi nelayan saja. Dan diharapkan dusun ini juga menjadi pedoman bagi dusun lain,maupun gamong lain dalam mengola ikan kayu yang baik dan benar agar dapat bersaing di pasar makanan olahan seperti produk-produk makanan olahan lainnya yang berasal dari luar gampong maupun dari luar Aceh sendiri. (Fadlan)

Mahasiswa Ideal di Mata Pak Sakir

Darussalam –  A. Sakir, dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah sejak Desember 2002 ini telah mempunyai pengalaman dalam mengajar mahasiswa. Menurutnya terdapat berbagai model mahasiswa, ada yang acuh tak acuh, ada juga yang terkadang hanya asal kuliah. Namun sebagian besar mahasiswa sangat antusias dalam belajar di Fakultas Ekonomi, terutama mahasiswa-mahasiswa yang aktif. Mahasiswa tersebut  biasanya mahasiswa-mahasiswa yang lulus murni dari seleksi masuk Unsyiah. Bagi mahasiswa, sebagian besar ketertarikan terhadap mata kuliah sangatlah tergantung pada metode dosen mengajar, yang pertama adalah bagaimana dosen memotivasi mereka terhadap mata kuliah tersebut. Misalnya memberitahukan tujuan dan manfaat dari matakuliah tersebut pada saat mereka bekerja nanti sehingga mahasiswa menganggap mata kuliah tersebut penting dan membuat mereka menjadi tertarik mempelajarinya.

Ketika ditanya mengenai kriteria mahasiswa ideal beliau menjawab, “Menurut saya, mahasiswa ideal merupakan mahasiswa yang benar-benar kuliah dan memiliki target kuliah, serta planning dalam kuliah karena dalam manajemen, planning itu sangat diperlukan. Belajar kelompok itu perlu disamping belajar sendiri, karena ada kalanya kita tidak tahu tetapi orang lain tahu, disitulah menjadi tempat sharing dan berbagi. Kemudian bagi mahasiswa, mencatat itu perlu karena tidak mungkin mengingat semua yang diberikan oleh dosen. Jadi, mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang kreatif di kelas, kritis, dan ia peduli terhadap apa yang diberikan oleh dosen dan ada kemauan besar untuk belajar di luar kelas serta menggunakan perpustakaan sebagai media belajar.”

Menurut beliau, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh mahasiswa. Yang pertama adalah kelas yang terlalu besar, kemudian sebagian mahasiswa mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan di rumah tetapi malah mengerjakannya di dalam kelas. Lalu kendala yang dihadapi dosen itu sendiri adalah terlalu banyak mata kuliah yang harus diajarkan, misalkan dalam sehari ada tiga mata kuliah sehingga tidak efektif lagi dalam mengajar. Dosen juga harus meningkatkan kompetensinya, terutama dengan membaca buku, hal-hal baru, dan harus meningkatkan pendidikannya sampai ke jenjang doktor. Kendala lainnya yaitu mahasiswa tidak memahami betul tentang perencanaan KRS yang diambil dan itu  akan memperlambat masa studi. Menurut beliau, bagi fakultas, perpustakaan harus lengkap, kemudian distribusi mata kuliah bagi dosen harus seimbang, karena ada sebagian dosen yang beban kerjanya sangat tinggi dan ada dosen lain yang rendah. (Fadlan Nur Muharram)