Kampus Kuning Yang Mulai Sepi

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi (Ilustrasi)

Slogan “kampus adalah rumah kedua bagi mahasiswa” bukanlah istilah yang asing terdengar di telinga setiap mahasiswa. Setiap kegiatan kampus sama layaknya kegiatan di rumah sendiri menurut mereka, entah kekeluargaan yang mereka dapatkan, pergaulan yang asik, atau sekedar menghiasi ruang kelas disaat jam kuliah yang dianggap sekedar tempat bertemu teman-temannya.

Kata ‘Kampus’ terkesan mulai kehilangan jiwa sebenarnya.  Kampus yang seharusnya diramaikan oleh aktivitas mahasiswa, entah kegiatan perkuliahan, diskusi kelompok, dan kegiatan organisasi. Kampus yang dulunya digunakan sebagai tempat bertukar ideologi, kini tak lagi terdengar suara-suara perubahan, semua hanya sibuk membaca teori-teori yang tertulis di buku tua nya.

Momentum pergantian dekan di awal tahun lalu, membuat kampus merubah beberapa regulasi dan menimbulkan atmosfir baru di lingkungan kampus tertua di Universitas Syiah Kuala ini.

Perubahan paling terasa terutama dibidang akademik disemester ganjil ini adalah tidak lagi diberlakukannya jam kuliah sore dan penambahan jam kuliah dihari Sabtu. Hal ini tentunya memberi dampak langsung bagi suasana kampus yang tak lagi seramai dulu. Faktanya,‘mahasiswa jaman now’ hanya datang saat ada jam kuliah saja.

Sebelumnya, keseharian mahasiswa bisa dilihat di perpustakaan, kantin, sekret UKM atau sekedar diskusi ringan di pekarangan kampus. Perpustakaan yang awalnya dipenuhi dengan mahasiswa yang sibuk dengan dentingan papan ketik persegi, lembaran huruf dan angka, atau hanya sekedar ‘berteduh’ dibawah sejuknya pendingin ruangan, mulai hilang satu persatu. Begitupun kantin yang mulai kehilangan pengunjung setianya.

Bagi mahasiswa yang baru mengenal dunia perkuliahan, hal ini bukan menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Penambahan jam mata kuliah di hari Sabtu bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam memilih jadwal atau mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) serta meningkatkan keefektifan kegiatan belajar. Memang benar, tidak semua mahasiswa mampu berkonsentrasi kuliah sore hari dengan 9 sks kuliah setiap hari.

Kegiatan belajar mengajar di hari sabtu juga menyebabkan kontak langsung antara mahasiswa yang satu dengan yang lain berkurang. Adanya jam perkuliahan yang di geser ke hari sabtu mempengaruhi kemungkinan mahasiswa memiliki jam yang berbeda lebih besar. Kuliah hari sabtu menyebabkan mahasiswa memiliki jam yang perkuliahan yang berbeda. Ketika satu mahasiswa datang, dua mahasiswa lagi hilang dan terus berlanjut.

Akibatnya suasana kampus yang digambarkan hidup menjadi tak terlihat lagi. Kampus yang seharusnya menjadi tempat penunjang mahasiswa, tempat terjadinya proses pembentukan diri, yang diramaikan dengan aktivitas mahasiswa sudah buram.

Kini, kampus terlihat seperti gambar dalam bingkai, nyata tapi diam. (Zla, Frz)