Film Dokumenter Aceh Akan Diputar di Jakarta

Lanskap Poster

Jakarta – Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Museum HAM Aceh dan didukung oleh Galeri Indonesia Kaya, akan melaksanakan peringatan dan refleksi 10 tahun gempa dan tsunami Aceh. Acara yang dikemas dalam program Festival Film Smong Aceh ini akan dilaksanakan pada hari Kamis (4/12), sejak pukul 16.00-21.00 WIB, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia West Mall, Lantai 8, Jln. M. H. Thamrin, No. 1, Jakarta. Acara ini gratis dan pengunjung dapat mendaftar via www.indonesiakaya.com.

Manajer Festival, Mirisa Hasfaria, menjelaskan bahwa smong adalah istilah dan pengetahuan lokal di Kabupaten Simeulue, Aceh, untuk menyebut tsunami. Smong pernah melanda pulau ini pada 1907. Pada smong 2004 lalu, hanya sedikit penduduk pulau ini yang menjadi korban karena mereka telah memiliki pengetahuan yang bersumber dari kearifan lokal kebencanaan yang diwariskan secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelamatkan diri.

Lebih lanjut, Mirisa menambahkan bahwa tujuan dari Festival Film Smong Aceh ini yaitu untuk membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap bencana dan membuka ruang dialog dengan berbagai pemangku kepentingan yang bekerja dalam isu penanganan bencana.

Festival ini sudah memasuki tahun kedua, setelah sebelumnya pada tahun 2013, dinamakan Festival Film Bencana Aceh dan dilaksanakan di Aceh saja. Pada tahun ini, terjadi transformasi nama dan penambahan tempat pemutaran yang menjangkau daerah lain di luar Aceh. Tema yang diusung di tahun 2014 ini adalah “Semua Terekam Tak Pernah Mati”. Tema ini diinspirasi dari lirik lagu musisi The Upstairs.

Poster Pemutaran FilmKiki, mewakili Kurator Program Festival Film Smong Aceh, menuturkan bahwa tema ini diangkat untuk menggambarkan bagaimana pengetahuan kebencanaan disimpan, diingat, dipelajari, dan disebarluaskan dengan beragam media, misalnya lukisan; tulisan, salah satunya adalah melalui syair hikayat; foto; dan film, yang bertahan hingga ke beberapa generasi.

Pada program ini, akan ada pemutaran film dan pertunjukan seni tradisi “Penutur Aceh Moderen” oleh seniman Agus Nur Amal (Agus PMTOH) dan Muda Balia. Mereka akan berkolaborasi membawakan “Hikayat Negeri Bencana”. Film yang akan diputar pada sesi ini adalah: Sejarah Negeri Yang Karam (2005); Hikayat dari Ujung Pesisir (2013); Nyanyian Tsunami (The Tsunami Song) (2005); dan Sabang, The Spiritual Journey (2013).

Pada sesi Fokus, untuk tahun ini, Kurator Program Festival Film Smong Aceh memilih karya Fauzan Santa. Fauzan bergiat sebagai sutradara dan ko-sutradara berbagai film dokumenter. Hasil produksi filmnya di antaranya adalah: Pena-Pena Patah (Banda Aceh, 2001), Abrakadabra (Jakarta, 2003), Suak Timah (Banda Aceh, 2006), Meudiwana (Banda Aceh, 2007), Danau Tak Beriak (Banda Aceh, 2007), dan Memahat Perahu (Banda Aceh, 2013). Fauzan juga periset dan penulis skrip dokumenter dan film pendek dengan hasil karya: Anak Negeri Matahari (Jakarta, 2005), Tarian Penabuh Tubuh (2003), Api Membakar Kupi-Kupi (2004), dan Hana Gata Hana Saka (2004). Sutradara film yang meniti awal karir sebagai jurnalis ini juga telah menghasilkan tulisan esai dalam kumpulan Takdir-Takdir Fansuri (Banda Aceh, 2000). Sekarang Fauzan mengajar dan berkhidmat sebagai Rektor di Sekolah Menulis Dokarim. Pada kesempatan ini, film karya Fauzan Santa yang diputar adalah Suak Timah (2005), dan Memahat Perahu (2013).

Cuplikan dari film dokumenter "Hikayat Dari Ujung Pesisir".

Cuplikan dari film dokumenter “Hikayat Dari Ujung Pesisir”.

Rangkaian Festival Film Smong Aceh akan dilaksanakan di Jakarta, Aceh, dan kota lainnya. Pemutaran di Kineforum, Taman Ismail Marzuki (12-14/12); ruangrupa (20-21/12); GoetheHaus (23/12), dan Paviliun 28 (26-27/12). Untuk informasi: Mirisa (08126992983).

Program ini dilaksanakan bersama dan didukung oleh: Komunitas Tikar Pandan; Museum HAM Aceh, Galeri Indonesia Kaya, Episentrum Ulee Kareng; Sekolah Menulis Dokarim; Aneuk Mulieng Publishing; Kedai Buku Dokarim; Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment; TV Eng Ong Penutur Aceh Modern; Japan Foundation; Goethe Institut Indonesia; Erasmus Huis; Kedutaan Besar Kerajaan Belanda; Institut Français Indonesia; Ruangrupa; Forum Lenteng;  Kineforum; Paviliun 28; In-Docs (Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia); Forum Jurnalis Aceh Peduli Bencana; Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh; Muharram Journalism College; LPM Perspektif Unsyiah; IloveAceh; Polyglot Indonesia Chapter Aceh; Yayasan Yap Thiam Hien; Graha Budaya Indonesia; Unimoto Studio; Karya Kita Kreatif; Aceh Media Art; Persatuan Alumni Jerman (PAJ)-Aceh; Infoscreening; Komunitas Kanot Bu; Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS); Miles Films; Christine Hakim Films,  Beujroh. []

Cang-pilem! Warisan Audio-Visual Melawan Kekerasan dan Kemiskinan

3 in 1 alternatif 2

Banda Aceh – Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia, In-Docs, dan Forum Lenteng, dalam seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan Oktober ini akan memutarkan satu film cerita Jerman dan dua film dokumenter Indonesia. Program ini akan dilaksanakan selama dua hari yaitu pada hari Kamis dan Jumat (23/24) Oktober, yaitu pada sore dan malam hari.

Tema yang diusung di bulan ini adalah film-film yang berkaitan dengan “Warisan Audio-Visual Melawan Kekerasan dan Kemiskinan”. Film yang akan diputar adalah Die Brücke am Ibar” (Jerman) dan Masked Monkey: The Evolution of Darwin’s Theory” dan “Dongeng Rangkas(Indonesia).

MY BEAUTIFUL COUNTRY - Trailer german deutsch [HD] - YouTube.MKV_snapshot_01.10_[2014.10.15_11.19.00]Film Jerman, Die Brücke am Ibarmengangkat isu konflik di Kosovo yang melibatkan bentrokan bersenjata antara orang Serbia dan orang Albania. Melalui rangkaian gambar indah yang memilukan, sutradara Michaele Kleze menampilkan situasi perang, di mana jembatan menjadi pemisah, bukan penghubung, dan tidak ada yang menang. Film ini meraih Penghargaan Film Bavaria 2013–Penghargaan Bakat Muda dan Penghargaan Audiens di Festival Film Biberach 2012.

Pemutaran film Dokumenter “Masked Monkey: The Evolution of Darwin’s Theory” adalah rangkaian pemutaran bulanan dalam program ScreenDocs Regular. ScreenDocs Regular adalah program yang diinisiasi oleh In-Docs, yang bersama mitra lokal di beberapa daerah di Indonesia, melaksanakan pemutaran film dokumenter Indonesia dan luar negeri, disertai diskusi tentang topik tertentu dari film yang diputar. Program ini telah dilaksanakan oleh In-Docs dan Komunitas Tikar Pandan sejak tahun 2009 silam.

Film Masked Monkey karya Ismail Fahmi Lubish merupakan salah satu film dokumenter bermutu tinggi yang membuat kita mengalami sesuatu yang luhur–pemahaman bahwa pengalaman yang didapat dari perjalanan tersebut memberi kenikmatan mata laksana musik bagi telinga, tapi sekaligus bercampur kengerian, dan sering kali kesedihan. Film ini telah diikutsertakan dan diputar di Rotterdam International Film Festival 2014 dan Chopshots Documentary Film Festival 2014. Setelah pemutaran film Masked Monkey, akan ada diskusi membahas isu antikekerasan dan kemiskinan.

Masked Monkey - The Evolution of Darwin's Theory - trailer.mp4_snapshot_01.22_[2014.10.15_11.07.08]Di sesi malam hari, akan ada pemutaran film kerja sama dengan Forum Lenteng yang berjudul “Dongeng Rangkas”. Film ini adalah Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Dokumenter 2011 (Yogyakarta). Film ini juga telah diikutsertakan dan diputar di 3rd DMZ-Docs Korean International Documentary Festival 2011 dan Copenhagen International Documentary Film Festival 2011 (CPH:DOX) di Denmark.

Pemutaran film bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Acara ini tanpa karcis. Pendaftaran penonton di situs www.tikarpandan.org. Informasi: Ramol (085260034932).

Program ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Indonesia, In-Docs, Forum Lenteng, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Persatuan Alumni Jerman (PAJ)-Aceh, Suarakomunikasi.com, Infoscreening. []

Sumber: http://www.tikarpandan.org/2014/10/cang-pilem-warisan-audio-visual-melawan.html

Tikar Pandan Raih Penghargaan AFI 2014

fauzan santa

Fauzan Santa dalam sambutan pada malam AFI 2014

“Komunitas film bukan hanya orang-orang yang suka nonton film, akan tetapi juga orang-orang yang juga berkomitmen untuk berkontribusi pada dunia perfilman. Betul, komunitas film inilah yang sebenarnya disebut Die Hard fans Film” kata Tamara Tiyasmara bersama Fachri Albar yang menjadi host untuk mengumumkan pemenang nominasi kategori Komunitas Film pada minggu (14/9/2014).

Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh adalah penerima penghargaan dari Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2014 ini. Acara Apresiasi yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama bersama dengan Badan Perfilman Indonesia ini diadakan di Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara.

Piagam Penghargaan untuk Liga Kebudayaan Tikar Pandan diterima langsung oleh Fauzan Santa, salah seorang Praktisi Senior Film Aceh yang berada lingkaran komunitas tersebut. Dalam kata sambutannya, Fauzan Santa yang juga Kepala Sekolah Menulis Dokarim ini mengucapkan “Alhamdulillah, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ini sebuah hasil dari perjuangan panjang komunitas kami di Aceh, untuk memperebutkan yang namanya ruang gelap. Kami memberi makna ruang gelap itu kemudian dengan memutar film-film Indonesia yang bermutu dan kemudian sepuluh tahun. Terimakasih banyak atas apresiasi besar yang diberikan oleh AFI pada tahun ini. Ada satu pepatah dari orang tua kami; jika ditanya orang kita berapa perkara rukun pintar, maka jawab rukun pintar hanya satu perkara,  nonton film yang baik budi dan bermutu manikam. Terimakasih assamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Mendapatkan penghargaan kategori Komunitas tingkat nasional di tahun 2014 ini, Liga Kebudayaan Tikar Pandan berhasil menyisihkan empat nominator lain dari berbagai daerah di Indonesia, yaitu Forum Lenteng dari Jakarta, Komunitas Godong Gedang dari Banjarnegara, Komunitas Sarueh dari Padang Panjang, dan Komunitas Sangkanparan dari Cilacap.

Direktur Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan Azhari Aiyub kepada acehkita.co menyebutkan, penghargaan ini didedikasikan kepada mereka yang menjadi penonton setiap film yang diputar di Komunitas Tikar Pandan. “Ini kebanggaan bagi Aceh,” kata Azhari Aiyub pada Senin (15/9/2014).

Seperti yang diketahui, Komunitas Tikar adalah salah satu komunitas yang selama sepuluh tahun terakhir telah aktif memfasilitasi berbagai diskusi tentang film maupun Festival Film baik Nasional dan International. Pasca tsunami, komunitas ini telah membentuk Episentrum Ulee Kareng sebagai ruang yang menangani pemutaran film independen berkualitas. []

Sumber berita: http://www.acehmediart.com/2014/09/tikar-pandan-raih-penghargaan-afi-2014.html

Film Terbaik Jerman akan Diputar pada Festival Film German Cinema 2014 di Aceh

Untuk pertama kalinya, tahun ini Aceh menjadi salah satu tempat pemutaran Festival Film GERMAN CINEMA 2014. Aceh bersama dengan delapan kota besar lainnya di Indonesia yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Denpasar, Palu dan Balikpapan, akan menggelar festival ini.

Tahun 2014 ini menjadi tahun ketiga Goethe-Institut di Indonesia membawa film-film terbaik berbahasa Jerman ke layar-layar besar untuk penonton di Indonesia. Setelah debutnya pada tahun 2012 yang kemudian diikuti dengan kesuksesan pada tahun 2013 dengan jumlah penonton yang mencapai lebih dari 8.000 penonton, Festival Film GERMAN CINEMA telah  menjadi salah  satu  agenda kebudayaan Jerman terpenting di Indonesia. Festival ini akan dilaksanakan mulai tanggal 22 sampai dengan 31 Agustus 2014.

GermanCinema_Poster_A2_Layout_BANDAACEH_001 (1)

Poster German Cinema 2014

Festival tahun ini sangat akan sangat spesial dengan kedatangan tiga orang tamu kehormatan yaitu dua bintang perfilman Jerman  saat ini Nina Hoss dan Fritzi Haberlandt serta  Noėl Dernesch, sutradara film dokumenter  “Journey to Jah” yang yang telah mendapat  banyak penghargaan di festival internasional. Program tahun ini terdiri dari 14 film yang telah diseleksi dengan cermat dan merupakan produksi-produksi baru yang sudah  diakui kualitasnya di tingkat internasional.

Katrin Sohns, Kepala Bagian Program Budaya, Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara/ Australia/Selandia  Baru, berharap dengan adanya Festival Film GERMAN CINEMA 2014, penonton Indonesia dapat mengapresiasi emosi-emosi kontras yang ditampilkan dalam film-film ini. Lebih lanjut, Katrin menambahkan bahwa untuk program tahun ini, GERMAN CINEMA bertujuan untuk menggambarkan lanskap perfilman Jerman saat ini selain tentunya berusaha untuk menginspirasi penonton Indonesia dan membangkitkan minat terhadap film-film Jerman.

“Kami yakin film Jerman masa kini memiliki begitu banyak perkembangan yang menggembirakan antara lain perspektif yang segar, sutradara-sutradara muda dan aktris  serta aktor berbakat. Kami berharap semua  film akan dapat diakses oleh khalayak luas dengan adanya teks terjemahan bahasa Inggris,” ujar Katrin.

Pemutaran di Aceh akan dilaksanakan pada Minggu, 24 Agustus 2014 dengan menggandeng mitra lokal yaitu Komunitas Tikar Pandan dan Episentrum Ulee Kareng. Ada tiga film cerita dari Jerman yang akan diputar di Aceh yaitu Kaddisch für einen Freund (pukul 14.00 WIB), Das merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat) (pukul 16.30 WIB), dan Was bleibt (Home for the Weekend) (pukul 20.00 WIB).

Putra Hidayatullah, dari Komunitas Tikar Pandan (KTP), mengatakan bahwa program Festival Film GERMAN CINEMA 2014, adalah momen penting untuk menonton film Jerman berkualitas dalam rentang waktu produksi yang relatif masih baru. “Sejak tahun 2013 hingga sekarang, KTP dan Goethe-Institut juga telah bekerja sama melaksanakan pemutaran film Jerman tiap bulannya di Aceh,” tambah Putra.

Seluruh pemutaran terbuka untuk  umum dan gratis. Khusus bagi penonton di Aceh, bagi yang tertarik menonton untuk dapat mendaftarkan diri di formulir pendaftaran online di situs www.tikarpandan.org. Tempat terbatas. Bagi yang sudah mendaftar dan dikonfirmasi panitia, tiket nantinya dapat diambil sejak satu jam sebelum pemutaran. Tiket on the spot hanya disediakan dan dibuka jika masih tersedia kursi penonton. Semua film dalam terjemahan bahasa Inggris, kategori Dewasa (D).

Pemutaran berlangsung di Episentrum Ulee Kareng: Jl. Tgk. Meunara VIII, No. 8. Garot. Aceh Besar (masuk melalui jalan depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini terlaksana berkat kerja sama Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Episentrum Ulee Kareng, dan mitra pendukung lokal yaitu Sekolah Menulis Dokarim, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, IloveAceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net

Untuk informasi program dapat menghubungi Putra (085262673007) dan melihat lini massa @pustakaTP, situs www.tikarpandan.org, dan laman Facebook Liga Kebudayaan Tikar pandan.

====================================

Sinopsis film yang diputar adalah sebagai berikut.

1. Sesi 1, 14.00 WIB, Kaddisch für einen Freund

Film cerita // 94 menit // Jerman, 2011

Sutradara: Leo Khasin // Pemeran: Ryszard Ronczewski, Neil Belakhdar, Neil Malik Abdullah, Sanam Afrashteh, Kida Khodr Ramadan

Kaddisch-fn075038_pic_08-628x295Tumbuh di tengah kamp pengungsi, remaja berusia 14 tahun Ali Messalam (Neil Belakhdar) sudah belajar membenci “Yahudi“ dari kecil. Setelah berhasil keluar dari Lebanon, akhirnya keluarganya mendapat tempat tinggal di daerah Kreuzberg, di Berlin, Jerman. Ali segera mencoba berteman dan masuk lingkungan permainan anak-anak muda di lingkungannya. Namun, hal itu ternyata tidak mudah. Ia harus membuktikan dulu keberaniannya. Sebagai ujian, ia diminta oleh teman-temannya mendobrak flat tempat tinggal seorang Yahudi-Rusia pensiunan tentara, Alexander (Ryszard Ronczewski). Bersama-sama mereka merengsek masuk dan mengobrak-abrik segala perabotan dalam flat itu. Sialnya, Alexander pulang lebih awal dari yang mereka perkirakan dan berhasil mengenali Ali sebagai salah satu penjahat cilik yang masuk ke rumahnya. Alexander melaporkan Ali ke polisi. Untuk dapat melepaskan diri dari tuntutan termasuk ancaman deportasi yang mengikutinya, hanya ada satu cara, Ali harus mendekati dan meminta dukungan dari orang tua yang dibencinya itu.

Penulis skenario dan sutradara Leo Khasin menceritakan dalam film debutnya mengenai konflik antara bangsa Arab dan Yahudi, yang kali ini mengambil tempat di sebuah gedung tempat tinggal di Berlin, tempat dua keluarga menjadi tetangga di dua lantai yang bersinggungan. Filmnya adalah sebuah pernyataan untuk melawan kebencian antarmanusia, baik dalam konteks lokal maupun global, yang diceritakan dengan penuh kehati-hatian namun hidup dan dinamis.

Laman resmi film (http://www.xn--kaddischfreinenfreund-derfilm-tbd.de/)

Leo Khasin lahir pada 1973 di Moskwa, telah tinggal di Jerman sejak berusia sembilan tahun. Setelah menyelesaikan kuliah kedokteran gigi, awalnya ia bekerja sebagai dokter gigi di Berlin. Pada 2000 sampai 2001 Khasin belajar di Kaskeline Filmakademie Berlin. Film yang menjadi tugas akhirnya di sana, Liebe Mutter, ditampilkan di festival film Wismar dan mendapat penghargaan khusus Film Pilihan Penonton. Khasin mengerjakan cerita untuk film pertamanya Kaddisch für einen Freund sejak 2006. Selama beberapa tahun ia pernah bekerja sebagai dokter gigi di Berliner Mehringplatz, lingkungan yang menjadi latar belakang terjadinya kisah dalam film ini.

 

2. Sesi 2, 16.30 WIB, Das merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat)

Film cerita // 72 menit // Jerman, 2013

Sutradara: Ramon Zürcher // Pemeran: Jenny Schily, Anjorka Strechel,

Mia Kasalo, Luk Pfaff, Matthias Dittmer, Armin Marewski, Leon Alan Beiersdorf, Sabine Werner, Kathleen Morgeneyer, Monika Hetterle, Gustav Körner, Lea Draeger

dasmerkwuerdigekaetzchen3Karin (Anjorka Strechel) dan Simon (Luk Pfaff) mengunjungi orangtua dan adik mereka Clara. Malam itu mereka berencana makan malam bersama, beberapa kerabat lain juga diundang. Setiap orang ambil bagian mempersiapkan berbagai macam hal, sesuatu yang pasti bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari keluarga pada umumnya. Ada ipar yang memperbaiki mesin cuci, Clara yang menulis daftar belanja, Ibu (Jenny Schily) mempersiapkan makanan dan dua hewan peliharaan berkeliaran di dalam rumah.

Namun, situasi yang agresif terasa melingkupi semua orang. Tidak ada satu pun dari mereka tampak bahagia sepenuhnya, terutama sang Ibu. Tetapi, ketidakharmonisan laten itu tidak sampai meledak menjadi pertengkaran. Ada kedekatan di antara semua orang, ada percakapan, meski kata-kata yang diucapkan mereka cenderung berakhir menjadi monolog atau malah menggantung buntu. The Strange Little Cat adalah sebuah eksperimen seorang sutradara muda yang mendekonstruksi kejadian sehari-hari sebuah keluarga.

Laman resmi film (http://www.peripherfilm.de/dasmerkwuerdigekaetzchen/)

Ramon Zürcher lahir pada 1982 di Aarberg, Swiss. Ia belajar seni di Hochschule der Künste Bern (HKB) di Swiss antara tahun 2002 sampai 2005 dengan pengkhususan Video. Pada 2005 ia mendapat penghargaan seni rupa Kiefer Hablitzel Preis untuk karya-karya video seninya. Sejak 2006 ia belajar penyutradaraan di Deutsche Film- und Fernsehakademie Berlin (DFFB). The Strange Little Cat adalah film panjang pertamanya.

 

3. Sesi 3, Pukul 20.00 WIB, Was bleibt (Home for the Weekend)

Film cerita // 88 menit // Jerman, 2012

Sutradara: Hans-Christian Schmid // Pemeran: Lars Eidinger, Corinna Harfouch, Sebastian Zimmler,

Ernst Stötzner, Picco von Groote, Egon Merten, Birge Schade, Eva Meckbach

home_for_the_weekend_was_bleibtGünter (Ernst Stötzner) dan Gitte (Corinna Harfouch) tinggal di satu villa indah di tengah alam dan senang sekali ketika Marko (Lars Eidinger), anak lelaki mereka yang telah lama tinggal di Berlin, datang mengunjungi mereka bersama si Zowie, cucu tercinta. Anak-anaknya sudah mapan. Marko sedang ada di awal karirnya sebagai seorang penulis; adiknya Jakob (Sebastian Zimmler) membuka tempat praktek dokter gigi yang modern di daerah sekitar situ. Semuanya tampak lancar dan stabil. Sampai satu hari Gitte, yang selama ini berada di bawah pengobatan karena depresi, mengatakan bahwa dia merasa sudah sembuh dan tak perlu makan obat lagi. Anggota keluarga yang lain melihat hal ini sebagai satu sinyal bahaya. Keluarga ini pun pecah.

Dengan sekumpulan aktor dan aktris kelas atas Jerman, sutradara Hans-Christian Schmid dalam karyanya Home for the Weekend menyuguhkan tercerai berainya satu keluarga dalam beberapa hari saja, namun juga bagaimana mereka berusaha saling menemukan kembali. Setelah film-film sukses seperti Requiem (2006) dan Sturm (2009), film Home for the Weekend adalah kerja sama ketiga antara Schmid dan penulis skenario Bernd Lange. Film Home for the Weekend ditampilkan perdana dalam kesempatan Festival Film Internasional Berlin Ke-62 pada 2012.

Laman resmi film (http://was-bleibt.pandorafilm.de/credits.html)

Hans-Christian Schmid lahir pada 1965 di daerah wisata di Bayern, Altötting. Dia belajar film di Hochschule für Fernsehen und Film di Munich. Pada 1989 ia membuat film pertamanya Sekt oder Selters, yang mendapat penghargaan di Festival Film Independen di Osnabrück. Terobosan dibuatnya dengan film Nach Fünf im Urwald yang merupakan film bioskop pertamanya. Untuk skenario film Nur Für eine Nacht dia, bersama dengan Michael Gutmann, mendapat Penghargaan Singa Emas Televisi RTL 1997 dan Adolf-Grimme-Preis.

Cang-pilem! “Mari Berbahasa Sambil Berpuasa ” – Die Fremde

Die Fremde LandscapePADA seri pemutaran film edisi Ramadhan ini, Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bertema “Mari Berbahasa Sambil Berpuasa (wir sprechen während des Fastens)” akan memutarkan film Jerman-Turki berjudul Die Fremde.

Die Fremde adalah film drama Jerman-Turki yang diproduksi tahun 2010 yang disutradarai oleh pembuat film Austria, Feo Aladag. Film berdurasi 119 menit ini bercerita tentang seorang ibu keturunan Turki, Umay (diperankan oleh Sibel Kekili), yang berjuang menentukan nasib di antara benturan dua nilai budaya yang berbeda. Kisah ini menggangkat tema tentang kehormatan, intoleransi, dan keharmonisan dalam hidup bersama.

Film ini telah mendapat banyak penghargaan di festival dunia. Untuk perannya yang luar biasa sebagai Umay dalam film ini, Sibel Kekili meraih penghargaan Aktris Terbaik Film Jerman 2010. Film ini merupakan karya debut sang sutradara Feo Aladag dan di tahun yang sama juga menerima tujuh nominasi dalam ajang penghargaan versi Persatuan Kritikus Film Jerman. Di kancah internasional “Die Fremde“ meraih penghargaan LUX dari Parlemen Eropa sebagai karya terbaik seni film di Eropa. Pada tahun 2010, Komite Seleksi Film Jerman resmi memilih Die Fremde masuk ke kompetisi Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Die Fremde akan diputar pada Minggu (13 Juli 2014), pukul 15.00 WIB dan diikuti dengan diskusi. Diskusi menghadirkan pembicara dari komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh yaitu Baiquni Hasbi dan Azhar Ilyas.

Komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh adalah wadah bagi semua penggemar bahasa yang sudah menguasai atau sedang belajar bahasa asing. Kegiatan utamanya adalah pertukaran bahasa. Dalam setiap pertemuan rutin tiap dua-mingguannya, peserta dan peminat umum dapat belajar, diskusi, praktik, serta bertukar info dan pengalaman dalam menekuni bahasa Asing. Beberapa bahasa yang selama ini menjadi peminatan di antaranya adalah bahasa Jerman, Turki, Jepang, Spanyol, Inggris, Italia, Arab, Esperanto, dsb.

Pemutaran film untuk kategori penonton dewasa ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini terbuka untuk publik dan tanpa karcis. Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (085262673007). Acara ini juga disertai buka puasa bersama. Bagi peserta yang ingin berbuka puasa bersama, dapat membawa makanan dan minuman sendiri atau dapat memesan pada panitia: Azhar Ilyas (081262554864).

Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) Aceh, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net. []

Situs Web: http://www.tikarpandan.org/2014/07/cang-pilem-mari-berbahasa-sambil.html

64 Tahun Hari Film Nasional, Komunitas Tikar Pandan & Pic[k]lock Production adakan Screening Film di Aceh

64 Tahun Perfilman Indonesia

DALAM rangka memperingati 64 Tahun Hari Film Nasional, Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Pic[k]lock Production akan melakukan pemutaran dua film nasional. Film yang akan diputar berjudul Minggu Pagi Di Victoria Park (2010) dan Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012).

Film Minggu Pagi di Victoria Park disutradarai oleh Lola Amaria. Film berdurasi 101 menit ini berkisah dari realitas TKW di Hongkong. Cerita bermula ketika seorang ayah menginginkan tokoh utama, Mayang, untuk mencari kakaknya (Sekar) yang telah lama berprofesi sebagai TKW di Hongkong. Di luar pengetahuan banyak orang, Sekar terlilit hutang dan tergiring ke dunia gelap. Akankah Sekar berhasil kembali?

Film Minggu Pagi di Victoria Park ini telah meraih banyak penghargaan misalnya di Festival Film Bandung, Indonesian Movie Awards, Bali International Film Festival, Jakarta International Film Festival, dan Festival Film Indonesia.

Film Rayya disutradarai oleh Viva Westi. Film berdurasi 114 menit ini bercerita tentang seorang diva, Rayya (Titi Sjuman). Keberhasilan Rayya didukung oleh tim suksesnya, yang sedang merencanakan menerbitkan biografi beserta album foto Rayya. Padahal Rayya sedang galau menyangkut hubungan asmaranya yang tidak menentu. Arya (Tio Pakusadewo) dipilih untuk melanjutkan rencana perjalanan untuk pemotretan. Sebetulnya Arya juga sedang dalam kemelut rumah tangga. Selama perjalanan, Rayya banyak mendapat pelajaran hidup. Apa saja pelajaran hidup itu?

Film ini telah diikutsertakan dalam beberapa festival di dalam dan luar negeri. Beberapa penghargaan adalah Best Director of Photography ASEAN International Film Festival and Awards 2013; Nominate Best Director, Best Picture-Drama, Best Actor, Best Actress, Best Screenplay di ajang yang sama. Film ini adalah salah satu film perjalanan yang diproduksi di Indonesia. Dialog dalam film ini juga sarat makna dan puitis karena skenario film ini ditulis oleh sastrawan Emha Ainun Nadjib bersama dengan Viva Westi.

Program ini akan dilaksanakan pada Ahad (30 Maret 2014). Sesi film satu
(Minggu Pagi Di Victoria Park) pukul 13.45 WIB dan sesi film dua (Rayya, Cahaya di Atas Cahaya) pada pukul 16.00 WIB. Pemutaran bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Biaya donasi karcis Rp10.000 per sesi/judul film.

Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (0852 6267 3007).
Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Pic[k]lock Production, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Banda Aceh Membaca, Geuroebee, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, Gemasastrin Unsyiah, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, dan Radio Flamboyant. []