KBM Ekonomi Unsyiah Salurkan Bantuan Untuk Korban Sinabung

Penyerahan Secara Simbolis Bantuan Dari KBM FEB Unsyiah Untuk Disalurkan Kepada Korban Erupsi Sinabung (Foto: Hasan/Perspektif)

Darussalam – (9/3) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Ekonomi melalui perwakilan ketua lembaga mahasiswa serahkan bantuan kemanusian sinabung ke ACT (Aksi Cepat Tanggap) cabang banda aceh. Bantuan ini terdiri dari 10 sak beras, 10 Kotak mie instan, minyak goreng, gula, hingga beberapa kotak pakaian bekas  juga uang tunai sebesar Rp 6.903.000. Semua bantuan berasal dari mahasiswa, UKM dan HMJ serta dari pihak dekanan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Ketua BEM FEB Rais Mukhayar mengatakan bahwa penggalangan dana dilakukan sejak tanggal 24 februari sampai dengan 8 maret 2018.  Salah satu strategi penggalangan dana yang dilakukan ialah dengan mengadakan acara amal ‘Nonton Bareng Aceh Documentary Film’ pada sabtu (3/3) lalu di aula FEB Unsyiah.

“Untuk penggalangan dana sudah dilaksanakan sejak 24 Februari kemarin hingga sore tadi. Sebenarnya sampai pada acara nonton bareng kemarin sebagai malam puncaknya, namun kami masih membuka kesempatan untuk menyumbang hingga hari ini,” ungkapnya.

Belakangan ini gunung sinabung terus melakukan aktivitas vulkanik dan terjadi beberapa kali erupsi, namun pada senin pertengahan Februari lalu, sinabung kembali erupsi besar dan adanya luncuran awan panas dari kawah sinabung sehingga ribuan warga di sana harus mengungsi meninggalkan rumah dan ladang pertanian mereka. Hal tersebut tentu menjadi fokus keprihatinan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimana puluhan keluarga harus tinggal dalam camp-camp pengungsian.

“Kondisi sangat memperihatikan dimana mereka masih tinggal di dalam pengungsian dengan segala serba keterbatasan,  bahkan anak anaknya harus bersekolah di camp pengungsian. Bisa kita bayangkan sendiri bagaimana keterbatasan yang mereka miliki dan mata pencaharian yang hilang,” jelas Lisdayanti selaku perwakilan ACT  yang menyambut rombongan KBM FEB sore kemarin.

Atas segala bantuan yang di serahkan oleh pihak FEB sore tadi ia juga turut memberikan apresiasi yang besar atas keaktifan para mahasiswa dan anak muda dalam dunia kamanusiaan dan kepedulian sesama.

“Alhamdulillah apresiasi yang sangat besar untuk teman teman semuanya sebagai kaum muda, atas kemauan teman teman sebagai anak muda dan sebagai mahasiswa untuk ikut aktif dalam dunia kemanusian dan kepedulian terhadap sesama,” tambahnya.

Dana yang terkumpul kan ini juga akan di salurkan secepatnya di bulan ini, melalui ACT Medan hingga tersalurkan langsung ke lokasi, dan dapat segera di terima oleh pihak korban yang membutuhkan.

Rais mewakili KBM juga berharap bantuan yang telah terkumpulkan dapat bermanfaat untuk para korban Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Hal ini juga merupakan sebagai bentuk untuk menambahkan rasa kepedulian kita terhadap sesama.

“Kalau dulu tahun 2004 kita dibantu sama orang mungkin melalu kegiatan seperti ini kita dapat membantu orang, dan mungkin kedepan nya gak menutup kemungkinan kita akan di bantu kembali sama orang, karena kita makhluk sosial jadi saling membantu satu sama lain,” tutupnya. (Tuah)

Rais Daftarkan Diri di Detik Terakhir Pencalonan 

 

 

Rais Daftarkan Diri di Detik Terakhir Pencalonan (Adina Felyanda/Perspektif)

Darussalam- Setelah berakhirnya pesta demokrasi yang diselenggarakan dua hari yang lalu, kini waktunya mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah menentukan siapa yang lebih pantas untuk menjadi pemimpin mahasiswa setahun mendatang. Hingga saat ini pembicaraan mengenai penerus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Unsyiah tahun 2018 masih sangat hangat diperbincangkan oleh kalangan mahasiswa ekonomi.

Sore tadi salah satu kandidat ketua BEM FEB Unsyiah, Rais Mukhayar telah menyerahkan berkas kepada DPM didampingi oleh beberapa ketua lembaga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Untuk Visi dan Misi yang lebih konkritnya masih dibicarakan. Namun dari saya pribadi, saya  ingin mewujudkan BEM yang dapat mendengar aspirasi mahasiswa yakni responsif, aktif, inovatif, demokratif, dan solutif.” Ujarnya ketika ditanyai tentang visi dan misi menjadi ketua BEM FEB Unsyiah.

Saat ditemui selain mengungkapkan visi dan misinya Rais juga mengungkapkan bahwa ketika nantinya terpilih menjadi ketua BEM FEB ia akan mencoba untuk membangun Fakultas Ekonomi menjadi kampus yang digemari dan dikenal seperti dahulu. Mengembalikan suasana ramai yang menjadi ciri khas kampus kuning. Salah satu strategi untuk mencapainya ialah dengan meningkatkan kreatifitas dan motivasi agar mahasiswa ekonomi kembali aktif dalam berorganisasi.

“Saya rasa tidak ada yang perlu diperbaiki dari BEM tahun lalu, dari tahun ke tahun baik.” Ujar Rais tentang Kepengurusan BEM tahun lalu. “Namun tentu saja, setiap tahunnya kita akan mencoba menjadi lebih baik lagi.” Sambungnya.

Namun untuk saat ini belum adanya tanda-tanda kandidat lain yang akan menyerahkan berkas. Atas tidak adanya calon kandidat lain patut dipertanyakan dan juga pastinya menjadi pertanyaan besar dikalangan mahasiswa ekonomi.

Apakah untuk kesekian kalinya Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB akan melalui jalur aklamasi lagi atau tidak?. (Sul)

PEMIRA di FEB Berlangsung Kondusif

PEMIRA di FEB Berlangsung Kondusif (Ghrina Zikran/Perspektif)

Darussalam- Masih dalam suasana demokrasi selasa 19 Desember 2017 Komisi Pemilihan Raya (KPR) Unsyiah serentak mengadakan pemilihan ketua BEM dan DPM untuk tingkat universitas. Ajang perhelatan demokrasi terbesar untuk tingkat mahasiswa ini dilakukan di 12 Fakultas diantaranya.  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam keluarga besar kampus kuning begitu antusias menyalurkan hak suaranya dalam Pemira ditahun 2017.

Teruntuk fakultas ekonomi sendiri pemira berlangsung sejak pukul 09.00 sampai 15.00 WIB. “Sepanjang ini, pemira di FEB Unsyiah berjalan lancar dengan pengawasan dari pihak KPPS. Walaupun ada sedikit kendala mengenai saksi yang terlambat dan beberapa miskomunikasi antara panitia KPR dan WD III mengenai jam dimulainya kembali pemira usai ishoma.”  Ujar yohanes selaku ketua KPPS FEB

Pemira dilaksanakan di aula FEB dan difasilitasi tiga Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dimana di setiap TPS dibagi kedalam beberapa program studi. TPS 1 untuk mahasiswa program studi S1 Akuntansi dan S1 Ekonomi Pembangunan, TPS 2 untuk mahasiswa program studi S1 Manajemen, S1 Ekonomi Islam, dan D3 manajemen pemasaran, sedangkan TPS 3 untuk program studi D3 perbankan, D3 perpajakan, D3 kesekretariatan, dan D3 akuntansi. Hal tersebut diyakini oleh panitia dapat mendukung kestabilan selama acara berlangsung dan membantu mahasiswa agar tidak kebingungan ketika hendak melakukan pemilihan.

Terlepas dari serangkaian kegiatan pemira ada terbesit secercah kekecewaan dimana kurangnya keikut sertaan dan antusiasme mahasiswa Ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan mahasiswa yang ikut andil mayoritasnya berasal dari mahasiswa tahun 2017 sedangkan dari mahasiswa letting diatas 2017 kurang berpastisipasi dalam permira kali ini. Padahal sebagaimana kita ketahui baik tidaknya hasil setahun mendatang dimulai pada hari ini.

Diakhir pertemuan yohanes menambahkan untuk kedepannya semua panitia yang bertugas menjalankan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab dan menghindari adanya masalah miskomunikasi agar pemira selanjutnya dapat berjalan sesuai dengan rencana.

Siapapun yang nantinya akan terpilih dan menyandang gelar sebagai pemimpin mahasiswa diharapkan agar dapat melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan menuju arah yang lebih baik. Dapat membawa perubahan untuk kampus kebanggaan rakyat aceh serta bertanggung jawab penuh atas jabatan yang telah disandangnya. (Mev,Zla)

PEMIRA Unsyiah, Demi Masa Depan Bersama

PEMIRA Unsyiah, Demi Masa Depan Bersama (Abu/Perspektif)

Kampus memang tak hanya jadi tempat generasi muda menimba ilmu dan membangun karakter. Kampus juga menjadi tempat mahasiswa mengenal dan belajar tentang demokrasi. Idealisme yang lebih tinggi bahkan menegaskan bahwa kampus merupakan arena memupuk jiwa kepemimpinan menyemai calon-calon pemimpin baru masa depan. Namun di masa-masa regenerasi seperti ini biasanya penuh dengan propaganda politik.

Pemilihan Raya Mahasiswa atau yang populer dengan sebutan PEMIRA adalah ajang perhelatan yang digelar setiap tahunnya merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan mahasiswa yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur. PEMIRA ini pula menjadi ajang pertarungan idealisme yang dikemas seperti halnya PEMILU di Indonesia. Lewat PEMIRA, pemimpin mahasiswa dipilih.

Seperti halnya di Universitas Syiah Kuala esok hari tanggal 19 Desember 2017 ajang perhelatan terbesar untuk lingkup mahasiswa diselenggarakan. Besok mahasiswa dari berbagai fakultas yang berada dibawah payung Universitas Syiah Kuala akan menentukan siapa ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan DPM (Depan Perwakilan Mahasiwa) yang layak untuk membawa citra dan eksitensi yang lebih baik setahun mendatang.

Proses pemungutan suara dilakukan dimasing-masing Tempat Pemilihan Suara (TPS) yang tersebar disetiap fakultas. Mahasiswa yang dikategorikan sebagai pemilih dalam Pemira adalah mahasiswa yang terdaftar aktif. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kartu identitas mahasiswa yang masih berlaku.

Kali ini ada 5 calon kandidat Ketua BEM Unsyiah yang akan memperebutkan kursi nomor satu dalam kelembagaan mahasiswa unsyiah. Diantaranya Ikhsan dari FKIP, Sakti Arya Duta dari FKP, M.Rijalul Fakhri dari FKEP, Muhammad Yasir dari FT, dan Agam Rizky dari FP. Namun hal ini sangat disayangkan karena tidak ada calon Ketua BEM Unsyiah yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Sedangkan untuk DPMU sendiri fakultas ekonomi mengusung 5 kandidat diantaranya  Armi Karmila, Agusriadi, Ainal Fadilla S.Y, Rifqi Ubai Sultan, dan Muhammad Zuddi.

Namun ada kegelisahan dibalik semua itu. Terutama untuk keluarga besar mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis. Disaat fakultas lain sedang sibuk melalukan Pemira serentak untuk memilih Ketua BEM Unsyiah, DPM Unsyiah, BEM dan DPM fakultas masing masing.  Komisi Pemilihan Raya (KPR) baru saja membuka pendaftaran dari tanggal 18-20 desember 2017 untuk para calon ketua lembaga eksekutif. Atas keterlambatan tersebut masih menjadi pertanyaan besar. Hal apa yang menjadi dasar bahwa sanya Pemira FEB tidak dilakukan sekaligus.

Terlepas dari hal tersebut Pemira merupakan sebuah wahana bagi mahasiswa khususnya Universitas Syiah Kuala dalam menggunakan hak suaranya untuk memilih siapa yang dianggapnya layak dan pantas untuk membawa nama “Unsyiah” berlayar di lautan lepas. Lantas, Pemira kali ini masih ada yang ingin Golput?. Bukankah peran mahasiswa itu sendiri sebagai Agent of change  yang  diharapkan dapat membawa perubahan. Jangan mau berdiam diri untuk tidak menyuarakan suara demokrasi, karena hari ini merupakan cerminan untuk setahun mendatang.

Golput bukanlah solusi yang tepat. Ayo sama sama menyuarakan hak Demokrasi. Salam Mahasiswa! (KZ)