Peluncuran Komik Mitigasi Bencana Untuk Remaja “Sadar Dini”

Sadar Dini

Banda Aceh – Komunitas Tikar Pandan bekerjasama dengan Japan Foundation akan menggelar acara diskusi dan peluncuran komik mitigasi bencana untuk remaja.

Proses penulisan komik ini melibatkan siswa dari tiga sekolah di daerah bencana di Aceh. Mereka adalah korban tsunami, tanah longsor, dan gempa bumi. Mereka berbagi pengalaman dan nilai-nilai dari mitigasi mereka dalam bentuk komik.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari workshop yang melibatkan wartawan mitigasi bencana dari Jepang, Yuka Matsumoto. Yuka juga berbagi informasi mengenai mitigasi bencana di Jepang. Chun seorang mahasiswa yang menjadi korban dari bencana tsunami Fukushima dikirim komik bekerja untuk memotivasi dan menginspirasi anak-anak di Aceh.
Yulfan, sebagai koordinator acara, menyebutkan bahwa komik ini digambarkan sebagai media serta sumber pengetahuan untuk berbagi pengalaman bagi orang lain. Dalam program ini juga melibatkan beberapa seniman lokal, ahli bencana, dan lembaga pemerintah. Hasil akhir dari program ini adalah buku komik oleh anak-anak/korban bencana yang berisi pengalaman dan pengetahuan mitigasi versi mereka.
Acara diskusi dan peluncuran ini akan berlangsung pada Sabtu 21 Maret 2015 pukul 16.00-18.00 di Komunitas Tikar Pandan, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Putra: 0852 6267 3007.

Cang Pilem! Politik Adalah Musim

Negeri di bawah kabut
Banda Aceh  – Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan In-Docs dalam seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan Januari ini akan memutarkan dua film dokumenter Indonesia. Program ini akan dilaksanakan pada Sabtu 17 Januari 2015 dengan tema Politik Adalah Musim. Film yang akan diputar adalah “Negeri Di Bawah Kabut” (Land Beneath The Fog) dan “Children of A Nation”
Film “Negeri Di Bawah Kabut” disutradarai oleh Shalahuddin Siregar dengan durasi 105 menit. Film ini mengangkat isu perubahan iklim. Di sebuah desa di lereng gunung, sekumpulan petani menghadapi perubahan tanpa mengerti alasannya. Sebagai komunitas petani yang mengandalkan sistem kalender tradisional Jawa dalam membaca musim, mereka dibuat bingung oleh musim yang sedang berubah. Muryati (30 th) dan Sudardi (32 th), berusaha memahami kenapa hujan turun lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Gagal panen dan harga jual yang terlalu murah menjadi ancaman. Sementara itu Arifin (12 th) dihadapkan pada pertanyaan; masa depan seperti apa yang ditawarkan kepadanya? Pada usia yang masih sangat muda, dia harus berhadapan dengan sistem sekolah negeri yang kompleks. Melalui kehidupan sehari-hari dua keluarga petani, Negeri di Bawah Kabut membawa kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lain. Film ini akan diputar jam 16.00.
Film Children of A Nation berkisah tentang sebuah negara menjadi pusat perhatian demokrasi dunia pada tahun 2009. Indonesia, negara yang baru menapakkan kakinya dalam kehidupan ber-demokrasi mendapatkan sebutan sebagai salah satu negara terbaik yang dapat menyelenggarakan pemilihan umum secara demokratis. Demam demokrasi dan “pilpres” terekam dalam setiap nafas bangsa ini. Kondisi ini juga semakin dihangatkan dengan pemberitaan media dan kampanye politik yang semakin agresif. Baru saja 10 tahun lalu, dunia menyaksikan kejatuhan Suharto yang dipicu oleh gerakan reformasi mahasiswa. Sekarang, bangsa ini menjadi saksi mata pertarungan ‘orang-orang kuat’ untuk memperebutkan tampuk kekuasaan yang juga melibatkan beberapa mantan Jendral dengan jejak rekam khusus dalam hal pelanggaran Hak Asasi Manusia. Film ini disutradarai oleh Sakti Parantean dengan durasi 77 menit. Film akan diputar pada pukul 20.00.
Pemutaran film bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Acara ini tanpa karcis. Informasi: Putra (085262673007).
Program ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Indonesia,In-Docs, Forum Lenteng, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, AJI Banda Aceh, IloveAceh, Banda Aceh Info, Persatuan Alumni Jerman (PAJ)-Aceh, AJI Banda Aceh, Suarakomunikasi.com, Infoscreening. []

Film Dokumenter Aceh Akan Diputar di Jakarta

Lanskap Poster

Jakarta – Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Museum HAM Aceh dan didukung oleh Galeri Indonesia Kaya, akan melaksanakan peringatan dan refleksi 10 tahun gempa dan tsunami Aceh. Acara yang dikemas dalam program Festival Film Smong Aceh ini akan dilaksanakan pada hari Kamis (4/12), sejak pukul 16.00-21.00 WIB, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia West Mall, Lantai 8, Jln. M. H. Thamrin, No. 1, Jakarta. Acara ini gratis dan pengunjung dapat mendaftar via www.indonesiakaya.com.

Manajer Festival, Mirisa Hasfaria, menjelaskan bahwa smong adalah istilah dan pengetahuan lokal di Kabupaten Simeulue, Aceh, untuk menyebut tsunami. Smong pernah melanda pulau ini pada 1907. Pada smong 2004 lalu, hanya sedikit penduduk pulau ini yang menjadi korban karena mereka telah memiliki pengetahuan yang bersumber dari kearifan lokal kebencanaan yang diwariskan secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelamatkan diri.

Lebih lanjut, Mirisa menambahkan bahwa tujuan dari Festival Film Smong Aceh ini yaitu untuk membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap bencana dan membuka ruang dialog dengan berbagai pemangku kepentingan yang bekerja dalam isu penanganan bencana.

Festival ini sudah memasuki tahun kedua, setelah sebelumnya pada tahun 2013, dinamakan Festival Film Bencana Aceh dan dilaksanakan di Aceh saja. Pada tahun ini, terjadi transformasi nama dan penambahan tempat pemutaran yang menjangkau daerah lain di luar Aceh. Tema yang diusung di tahun 2014 ini adalah “Semua Terekam Tak Pernah Mati”. Tema ini diinspirasi dari lirik lagu musisi The Upstairs.

Poster Pemutaran FilmKiki, mewakili Kurator Program Festival Film Smong Aceh, menuturkan bahwa tema ini diangkat untuk menggambarkan bagaimana pengetahuan kebencanaan disimpan, diingat, dipelajari, dan disebarluaskan dengan beragam media, misalnya lukisan; tulisan, salah satunya adalah melalui syair hikayat; foto; dan film, yang bertahan hingga ke beberapa generasi.

Pada program ini, akan ada pemutaran film dan pertunjukan seni tradisi “Penutur Aceh Moderen” oleh seniman Agus Nur Amal (Agus PMTOH) dan Muda Balia. Mereka akan berkolaborasi membawakan “Hikayat Negeri Bencana”. Film yang akan diputar pada sesi ini adalah: Sejarah Negeri Yang Karam (2005); Hikayat dari Ujung Pesisir (2013); Nyanyian Tsunami (The Tsunami Song) (2005); dan Sabang, The Spiritual Journey (2013).

Pada sesi Fokus, untuk tahun ini, Kurator Program Festival Film Smong Aceh memilih karya Fauzan Santa. Fauzan bergiat sebagai sutradara dan ko-sutradara berbagai film dokumenter. Hasil produksi filmnya di antaranya adalah: Pena-Pena Patah (Banda Aceh, 2001), Abrakadabra (Jakarta, 2003), Suak Timah (Banda Aceh, 2006), Meudiwana (Banda Aceh, 2007), Danau Tak Beriak (Banda Aceh, 2007), dan Memahat Perahu (Banda Aceh, 2013). Fauzan juga periset dan penulis skrip dokumenter dan film pendek dengan hasil karya: Anak Negeri Matahari (Jakarta, 2005), Tarian Penabuh Tubuh (2003), Api Membakar Kupi-Kupi (2004), dan Hana Gata Hana Saka (2004). Sutradara film yang meniti awal karir sebagai jurnalis ini juga telah menghasilkan tulisan esai dalam kumpulan Takdir-Takdir Fansuri (Banda Aceh, 2000). Sekarang Fauzan mengajar dan berkhidmat sebagai Rektor di Sekolah Menulis Dokarim. Pada kesempatan ini, film karya Fauzan Santa yang diputar adalah Suak Timah (2005), dan Memahat Perahu (2013).

Cuplikan dari film dokumenter "Hikayat Dari Ujung Pesisir".

Cuplikan dari film dokumenter “Hikayat Dari Ujung Pesisir”.

Rangkaian Festival Film Smong Aceh akan dilaksanakan di Jakarta, Aceh, dan kota lainnya. Pemutaran di Kineforum, Taman Ismail Marzuki (12-14/12); ruangrupa (20-21/12); GoetheHaus (23/12), dan Paviliun 28 (26-27/12). Untuk informasi: Mirisa (08126992983).

Program ini dilaksanakan bersama dan didukung oleh: Komunitas Tikar Pandan; Museum HAM Aceh, Galeri Indonesia Kaya, Episentrum Ulee Kareng; Sekolah Menulis Dokarim; Aneuk Mulieng Publishing; Kedai Buku Dokarim; Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment; TV Eng Ong Penutur Aceh Modern; Japan Foundation; Goethe Institut Indonesia; Erasmus Huis; Kedutaan Besar Kerajaan Belanda; Institut Français Indonesia; Ruangrupa; Forum Lenteng;  Kineforum; Paviliun 28; In-Docs (Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia); Forum Jurnalis Aceh Peduli Bencana; Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh; Muharram Journalism College; LPM Perspektif Unsyiah; IloveAceh; Polyglot Indonesia Chapter Aceh; Yayasan Yap Thiam Hien; Graha Budaya Indonesia; Unimoto Studio; Karya Kita Kreatif; Aceh Media Art; Persatuan Alumni Jerman (PAJ)-Aceh; Infoscreening; Komunitas Kanot Bu; Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS); Miles Films; Christine Hakim Films,  Beujroh. []

Cang-pilem! Warisan Audio-Visual Melawan Kekerasan dan Kemiskinan

3 in 1 alternatif 2

Banda Aceh – Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia, In-Docs, dan Forum Lenteng, dalam seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan Oktober ini akan memutarkan satu film cerita Jerman dan dua film dokumenter Indonesia. Program ini akan dilaksanakan selama dua hari yaitu pada hari Kamis dan Jumat (23/24) Oktober, yaitu pada sore dan malam hari.

Tema yang diusung di bulan ini adalah film-film yang berkaitan dengan “Warisan Audio-Visual Melawan Kekerasan dan Kemiskinan”. Film yang akan diputar adalah Die Brücke am Ibar” (Jerman) dan Masked Monkey: The Evolution of Darwin’s Theory” dan “Dongeng Rangkas(Indonesia).

MY BEAUTIFUL COUNTRY - Trailer german deutsch [HD] - YouTube.MKV_snapshot_01.10_[2014.10.15_11.19.00]Film Jerman, Die Brücke am Ibarmengangkat isu konflik di Kosovo yang melibatkan bentrokan bersenjata antara orang Serbia dan orang Albania. Melalui rangkaian gambar indah yang memilukan, sutradara Michaele Kleze menampilkan situasi perang, di mana jembatan menjadi pemisah, bukan penghubung, dan tidak ada yang menang. Film ini meraih Penghargaan Film Bavaria 2013–Penghargaan Bakat Muda dan Penghargaan Audiens di Festival Film Biberach 2012.

Pemutaran film Dokumenter “Masked Monkey: The Evolution of Darwin’s Theory” adalah rangkaian pemutaran bulanan dalam program ScreenDocs Regular. ScreenDocs Regular adalah program yang diinisiasi oleh In-Docs, yang bersama mitra lokal di beberapa daerah di Indonesia, melaksanakan pemutaran film dokumenter Indonesia dan luar negeri, disertai diskusi tentang topik tertentu dari film yang diputar. Program ini telah dilaksanakan oleh In-Docs dan Komunitas Tikar Pandan sejak tahun 2009 silam.

Film Masked Monkey karya Ismail Fahmi Lubish merupakan salah satu film dokumenter bermutu tinggi yang membuat kita mengalami sesuatu yang luhur–pemahaman bahwa pengalaman yang didapat dari perjalanan tersebut memberi kenikmatan mata laksana musik bagi telinga, tapi sekaligus bercampur kengerian, dan sering kali kesedihan. Film ini telah diikutsertakan dan diputar di Rotterdam International Film Festival 2014 dan Chopshots Documentary Film Festival 2014. Setelah pemutaran film Masked Monkey, akan ada diskusi membahas isu antikekerasan dan kemiskinan.

Masked Monkey - The Evolution of Darwin's Theory - trailer.mp4_snapshot_01.22_[2014.10.15_11.07.08]Di sesi malam hari, akan ada pemutaran film kerja sama dengan Forum Lenteng yang berjudul “Dongeng Rangkas”. Film ini adalah Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Dokumenter 2011 (Yogyakarta). Film ini juga telah diikutsertakan dan diputar di 3rd DMZ-Docs Korean International Documentary Festival 2011 dan Copenhagen International Documentary Film Festival 2011 (CPH:DOX) di Denmark.

Pemutaran film bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Acara ini tanpa karcis. Pendaftaran penonton di situs www.tikarpandan.org. Informasi: Ramol (085260034932).

Program ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Indonesia, In-Docs, Forum Lenteng, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Persatuan Alumni Jerman (PAJ)-Aceh, Suarakomunikasi.com, Infoscreening. []

Sumber: http://www.tikarpandan.org/2014/10/cang-pilem-warisan-audio-visual-melawan.html

Cang-pilem! Pemutaran dan Diskusi Film Perancis “A Visit to Ali Farka Toure”

Poster Cang-pilem! Musik

Banda Aceh – Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI),dalam seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan September ini akan memutarkan film “A Visit to Ali Farka Toure“. Film dokumenter berjudul asli “Ali Farka Touré-Le miel n’est jamais bon dans une seule bouche” ini diproduksi tahun 2002 dan disutradarai oleh Marc Huraux.

Film dokumenter ini mengikuti perjalanan penyanyi dan gitaris legendaris dari Afrika, Ali Farka Touré (yang meninggal pada 2006 silam) saat dia kembali ke rumahnya dan akar musiknya di Niafunké, Mali. Dia lahir dengan nama lahir Ali Ibrahim Touré. Alipernah memenangkan Grammy Award dua kali. Ali melihat sosoknya sekarang sebagai petani dan pecinta keluarga, yang mencoba meningkatkan kondisi agrikultur dan sosial di Timbuktu. Tempat ini sangat berkekurangan. Ali dikenal sebagai legenda terutama dalam menghubungkan musik blues Amerika dan musik gitar asli di Mali. Dia akhirnya memopulerkan aliran yang dikenal sebagai Blues Mali.Martin Scorsese, salah seorang sutradara film Amerika Serikat menyebut gaya musik Ali sebagai “DNA-nya musik blues”.

Pemutaran dan diskusi film ini akan dilaksanakan pada hari Rabu (24/9), pukul 16.00 WIB. Pembicara diskusi adalah Moritza Thaher, pendiri dan Kepala Sekolah Musik Moritza. Pemutaran film ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).Acara ini tanpa karcis. Kategori film: Remaja. Pendaftaran penonton di situs www.tikarpandan.org. Informasi: Ramol (085260034932).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Institut Français Indonesia, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Infoscreening. []


Link Pendaftaran:

http://www.tikarpandan.org/2014/09/pendaftaran-penonton-cang-pilem-musik.html

Tikar Pandan Raih Penghargaan AFI 2014

fauzan santa

Fauzan Santa dalam sambutan pada malam AFI 2014

“Komunitas film bukan hanya orang-orang yang suka nonton film, akan tetapi juga orang-orang yang juga berkomitmen untuk berkontribusi pada dunia perfilman. Betul, komunitas film inilah yang sebenarnya disebut Die Hard fans Film” kata Tamara Tiyasmara bersama Fachri Albar yang menjadi host untuk mengumumkan pemenang nominasi kategori Komunitas Film pada minggu (14/9/2014).

Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh adalah penerima penghargaan dari Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2014 ini. Acara Apresiasi yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama bersama dengan Badan Perfilman Indonesia ini diadakan di Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara.

Piagam Penghargaan untuk Liga Kebudayaan Tikar Pandan diterima langsung oleh Fauzan Santa, salah seorang Praktisi Senior Film Aceh yang berada lingkaran komunitas tersebut. Dalam kata sambutannya, Fauzan Santa yang juga Kepala Sekolah Menulis Dokarim ini mengucapkan “Alhamdulillah, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ini sebuah hasil dari perjuangan panjang komunitas kami di Aceh, untuk memperebutkan yang namanya ruang gelap. Kami memberi makna ruang gelap itu kemudian dengan memutar film-film Indonesia yang bermutu dan kemudian sepuluh tahun. Terimakasih banyak atas apresiasi besar yang diberikan oleh AFI pada tahun ini. Ada satu pepatah dari orang tua kami; jika ditanya orang kita berapa perkara rukun pintar, maka jawab rukun pintar hanya satu perkara,  nonton film yang baik budi dan bermutu manikam. Terimakasih assamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Mendapatkan penghargaan kategori Komunitas tingkat nasional di tahun 2014 ini, Liga Kebudayaan Tikar Pandan berhasil menyisihkan empat nominator lain dari berbagai daerah di Indonesia, yaitu Forum Lenteng dari Jakarta, Komunitas Godong Gedang dari Banjarnegara, Komunitas Sarueh dari Padang Panjang, dan Komunitas Sangkanparan dari Cilacap.

Direktur Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan Azhari Aiyub kepada acehkita.co menyebutkan, penghargaan ini didedikasikan kepada mereka yang menjadi penonton setiap film yang diputar di Komunitas Tikar Pandan. “Ini kebanggaan bagi Aceh,” kata Azhari Aiyub pada Senin (15/9/2014).

Seperti yang diketahui, Komunitas Tikar adalah salah satu komunitas yang selama sepuluh tahun terakhir telah aktif memfasilitasi berbagai diskusi tentang film maupun Festival Film baik Nasional dan International. Pasca tsunami, komunitas ini telah membentuk Episentrum Ulee Kareng sebagai ruang yang menangani pemutaran film independen berkualitas. []

Sumber berita: http://www.acehmediart.com/2014/09/tikar-pandan-raih-penghargaan-afi-2014.html

Kompetisi Penulisan Resensi Film German Cinema 2014 – Cinema Poetica – Aceh

13216736-STANDARD

Bagi peminat film di Aceh, selain dapat menonton film-filrm Jerman berkualitas yang akan diputar pada Festival Film German Cinema 2014, para penonton juga dapat mengikuti kompetisi penulisan resensi film.

German Cinema adalah festival film yang menghadirkan film-film Jerman aktual dan berkualitas ke khalayak penonton di Indonesia. Tahun ini adalah edisi ketiga German Cinema. Festival akan berlangsung di sembilan kota di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Balikpapan, Denpasar, Banda Aceh dan Palu, mulai 22 Agustus sampai 31 Agustus 2014. Di Banda Aceh, festival ini berlangsung pada hari Minggu (24/8), di Episentrum Ulee Kareng,

Dalam rangka festival ini Goethe-Institut bekerja sama dengan Cinema Poetica menggelar kompetisi penulisan resensi film dengan memanfaatkan blog sebagai platform utamanya. Blog dipilih karena ia merupakan media yang kegiatan menulis dan membacanya sangatlah demokratis. Siapa pun bisa menulis apa saja, siapa pun bisa membaca apa saja. Bebas.

Perwakilan Goethe-Institut dan Cinema Poetica akan memilih lima karya terbaik. Tulisan terbaik pertama, kedua dan ketiga akan mendapat hadiah berupa paket DVD film Jerman, sementara terbaik keempat dan kelima akan mendapat tanda mata dari Goethe-Institut. Kelima karya tulisan akan dipublikasikan di Cinema Poetica.

Persyaratan dan cara mengikuti lomba sangat mudah:

  1. Peserta lomba berusia minimal 18 tahun dan memiliki blog
  2. Peserta lomba harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris karena film-film yang akan diputar dan nantinya diresensi hanya dilengkapi dengan teks bahasa Inggris, tidak dengan bahasa Indonesia.
  3. Cek jadwal pemutaran film di German Cinema 2014 di kotamu (di Banda Aceh, pada hari Minggu (24/8), di Episentrum Ulee Kareng).
  4. Ada lima film yang harus kamu pilih untuk kamu resensi: Journey to JahOh BoyDas merkwürdige KätzchenLove Steaks dan Kohlhaas oder die Verhältnismäßigkeit der Mittel. [Catatan: di Banda Aceh, salah satu film yang diputar adalah Das merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat)].
  5. Silakan pilih salah salah satu dari lima film tersebut untuk kamu tonton dan resensi. Mau mereview lebih dari satu film? Boleh! Tapi, kirimkan tulisan yang berbeda untuk setiap film ya!
  6. Upload tulisan di blog kamu. Blog tidak harus berupa WordPress atau Tumblr, kamu yang tidak punya blog juga bisa memakai fitur Facebook Note di akun Facebook kamu. Review maksimum sepanjang 1300 kata.
  7. Bagi kamu yang butuh gambar (still film) dari film yang kamu review, bisa meminta gambar film yang kamu inginkan ke germancinema@jakarta.goethe.org
  8. Kirim link url review, scan kartu identitas (KTP/SIM/Paspor) dan data diri (nama, alamat, no telpon yang bisa dihubungi, biografi singkat) ke email panitia di germancinema@jakarta.goethe.org. Tulisan kamu ditunggu sejak tanggal 23 Agustus sampai tanggal 30 Agustus 2014 pukul 23.59 WIB.
  9. Para pemenang akan dimumkan tanggal 31 Agustus pada sesi penutupan German Cinema 2014 di Epicentrum XXI Jakarta.
  10. Pemenang akan dikabari oleh panitia, terkait hadiah maupun publikasi tulisannya di CinemaPoetica.com.
  11. Para pemenang bersedia jika tulisannya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Jerman dan dipergunakan oleh Goethe-Institut di kemudian hari (tentu saja dengan mencantumkan nama kamu sebagai penulisnya, karena hak cipta atas tulisan sepenuhnya berada di tangan kamu!)

Mereka yang menilai tulisan kamu:

Lanny Tanulihardja

Dengan pengalaman hampir 30 tahun ia adalah salah satu pegawai Goethe-Institut bagian program budaya paling senior di Goethe-Institut. Sejak lama ia telah menjadikan film, khususnya film produksi negara-negara berbahasa Jerman, sebagai fokus pekerjaannya. Tentu saja ia juga menikmati film-film dari negara lain di waktu senggang sebagai salah satu hobinya.

Makbul Mubarak

Kritikus film. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di beberapa media seperti The Jakarta Post, FIPRESCI (The International Federation of Film Critics) dan kuratorial Udine Far East Film Festival. Ia adalah programmer Festival Film Solo dan tim editor CinemaPoetica.com, juga menghabiskan hari-hari mengajar film di Universitas Multimedia Nusantara.

 

Sumber: Goethe

Film Terbaik Jerman akan Diputar pada Festival Film German Cinema 2014 di Aceh

Untuk pertama kalinya, tahun ini Aceh menjadi salah satu tempat pemutaran Festival Film GERMAN CINEMA 2014. Aceh bersama dengan delapan kota besar lainnya di Indonesia yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Denpasar, Palu dan Balikpapan, akan menggelar festival ini.

Tahun 2014 ini menjadi tahun ketiga Goethe-Institut di Indonesia membawa film-film terbaik berbahasa Jerman ke layar-layar besar untuk penonton di Indonesia. Setelah debutnya pada tahun 2012 yang kemudian diikuti dengan kesuksesan pada tahun 2013 dengan jumlah penonton yang mencapai lebih dari 8.000 penonton, Festival Film GERMAN CINEMA telah  menjadi salah  satu  agenda kebudayaan Jerman terpenting di Indonesia. Festival ini akan dilaksanakan mulai tanggal 22 sampai dengan 31 Agustus 2014.

GermanCinema_Poster_A2_Layout_BANDAACEH_001 (1)

Poster German Cinema 2014

Festival tahun ini sangat akan sangat spesial dengan kedatangan tiga orang tamu kehormatan yaitu dua bintang perfilman Jerman  saat ini Nina Hoss dan Fritzi Haberlandt serta  Noėl Dernesch, sutradara film dokumenter  “Journey to Jah” yang yang telah mendapat  banyak penghargaan di festival internasional. Program tahun ini terdiri dari 14 film yang telah diseleksi dengan cermat dan merupakan produksi-produksi baru yang sudah  diakui kualitasnya di tingkat internasional.

Katrin Sohns, Kepala Bagian Program Budaya, Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara/ Australia/Selandia  Baru, berharap dengan adanya Festival Film GERMAN CINEMA 2014, penonton Indonesia dapat mengapresiasi emosi-emosi kontras yang ditampilkan dalam film-film ini. Lebih lanjut, Katrin menambahkan bahwa untuk program tahun ini, GERMAN CINEMA bertujuan untuk menggambarkan lanskap perfilman Jerman saat ini selain tentunya berusaha untuk menginspirasi penonton Indonesia dan membangkitkan minat terhadap film-film Jerman.

“Kami yakin film Jerman masa kini memiliki begitu banyak perkembangan yang menggembirakan antara lain perspektif yang segar, sutradara-sutradara muda dan aktris  serta aktor berbakat. Kami berharap semua  film akan dapat diakses oleh khalayak luas dengan adanya teks terjemahan bahasa Inggris,” ujar Katrin.

Pemutaran di Aceh akan dilaksanakan pada Minggu, 24 Agustus 2014 dengan menggandeng mitra lokal yaitu Komunitas Tikar Pandan dan Episentrum Ulee Kareng. Ada tiga film cerita dari Jerman yang akan diputar di Aceh yaitu Kaddisch für einen Freund (pukul 14.00 WIB), Das merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat) (pukul 16.30 WIB), dan Was bleibt (Home for the Weekend) (pukul 20.00 WIB).

Putra Hidayatullah, dari Komunitas Tikar Pandan (KTP), mengatakan bahwa program Festival Film GERMAN CINEMA 2014, adalah momen penting untuk menonton film Jerman berkualitas dalam rentang waktu produksi yang relatif masih baru. “Sejak tahun 2013 hingga sekarang, KTP dan Goethe-Institut juga telah bekerja sama melaksanakan pemutaran film Jerman tiap bulannya di Aceh,” tambah Putra.

Seluruh pemutaran terbuka untuk  umum dan gratis. Khusus bagi penonton di Aceh, bagi yang tertarik menonton untuk dapat mendaftarkan diri di formulir pendaftaran online di situs www.tikarpandan.org. Tempat terbatas. Bagi yang sudah mendaftar dan dikonfirmasi panitia, tiket nantinya dapat diambil sejak satu jam sebelum pemutaran. Tiket on the spot hanya disediakan dan dibuka jika masih tersedia kursi penonton. Semua film dalam terjemahan bahasa Inggris, kategori Dewasa (D).

Pemutaran berlangsung di Episentrum Ulee Kareng: Jl. Tgk. Meunara VIII, No. 8. Garot. Aceh Besar (masuk melalui jalan depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini terlaksana berkat kerja sama Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Episentrum Ulee Kareng, dan mitra pendukung lokal yaitu Sekolah Menulis Dokarim, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, IloveAceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net

Untuk informasi program dapat menghubungi Putra (085262673007) dan melihat lini massa @pustakaTP, situs www.tikarpandan.org, dan laman Facebook Liga Kebudayaan Tikar pandan.

====================================

Sinopsis film yang diputar adalah sebagai berikut.

1. Sesi 1, 14.00 WIB, Kaddisch für einen Freund

Film cerita // 94 menit // Jerman, 2011

Sutradara: Leo Khasin // Pemeran: Ryszard Ronczewski, Neil Belakhdar, Neil Malik Abdullah, Sanam Afrashteh, Kida Khodr Ramadan

Kaddisch-fn075038_pic_08-628x295Tumbuh di tengah kamp pengungsi, remaja berusia 14 tahun Ali Messalam (Neil Belakhdar) sudah belajar membenci “Yahudi“ dari kecil. Setelah berhasil keluar dari Lebanon, akhirnya keluarganya mendapat tempat tinggal di daerah Kreuzberg, di Berlin, Jerman. Ali segera mencoba berteman dan masuk lingkungan permainan anak-anak muda di lingkungannya. Namun, hal itu ternyata tidak mudah. Ia harus membuktikan dulu keberaniannya. Sebagai ujian, ia diminta oleh teman-temannya mendobrak flat tempat tinggal seorang Yahudi-Rusia pensiunan tentara, Alexander (Ryszard Ronczewski). Bersama-sama mereka merengsek masuk dan mengobrak-abrik segala perabotan dalam flat itu. Sialnya, Alexander pulang lebih awal dari yang mereka perkirakan dan berhasil mengenali Ali sebagai salah satu penjahat cilik yang masuk ke rumahnya. Alexander melaporkan Ali ke polisi. Untuk dapat melepaskan diri dari tuntutan termasuk ancaman deportasi yang mengikutinya, hanya ada satu cara, Ali harus mendekati dan meminta dukungan dari orang tua yang dibencinya itu.

Penulis skenario dan sutradara Leo Khasin menceritakan dalam film debutnya mengenai konflik antara bangsa Arab dan Yahudi, yang kali ini mengambil tempat di sebuah gedung tempat tinggal di Berlin, tempat dua keluarga menjadi tetangga di dua lantai yang bersinggungan. Filmnya adalah sebuah pernyataan untuk melawan kebencian antarmanusia, baik dalam konteks lokal maupun global, yang diceritakan dengan penuh kehati-hatian namun hidup dan dinamis.

Laman resmi film (http://www.xn--kaddischfreinenfreund-derfilm-tbd.de/)

Leo Khasin lahir pada 1973 di Moskwa, telah tinggal di Jerman sejak berusia sembilan tahun. Setelah menyelesaikan kuliah kedokteran gigi, awalnya ia bekerja sebagai dokter gigi di Berlin. Pada 2000 sampai 2001 Khasin belajar di Kaskeline Filmakademie Berlin. Film yang menjadi tugas akhirnya di sana, Liebe Mutter, ditampilkan di festival film Wismar dan mendapat penghargaan khusus Film Pilihan Penonton. Khasin mengerjakan cerita untuk film pertamanya Kaddisch für einen Freund sejak 2006. Selama beberapa tahun ia pernah bekerja sebagai dokter gigi di Berliner Mehringplatz, lingkungan yang menjadi latar belakang terjadinya kisah dalam film ini.

 

2. Sesi 2, 16.30 WIB, Das merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat)

Film cerita // 72 menit // Jerman, 2013

Sutradara: Ramon Zürcher // Pemeran: Jenny Schily, Anjorka Strechel,

Mia Kasalo, Luk Pfaff, Matthias Dittmer, Armin Marewski, Leon Alan Beiersdorf, Sabine Werner, Kathleen Morgeneyer, Monika Hetterle, Gustav Körner, Lea Draeger

dasmerkwuerdigekaetzchen3Karin (Anjorka Strechel) dan Simon (Luk Pfaff) mengunjungi orangtua dan adik mereka Clara. Malam itu mereka berencana makan malam bersama, beberapa kerabat lain juga diundang. Setiap orang ambil bagian mempersiapkan berbagai macam hal, sesuatu yang pasti bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari keluarga pada umumnya. Ada ipar yang memperbaiki mesin cuci, Clara yang menulis daftar belanja, Ibu (Jenny Schily) mempersiapkan makanan dan dua hewan peliharaan berkeliaran di dalam rumah.

Namun, situasi yang agresif terasa melingkupi semua orang. Tidak ada satu pun dari mereka tampak bahagia sepenuhnya, terutama sang Ibu. Tetapi, ketidakharmonisan laten itu tidak sampai meledak menjadi pertengkaran. Ada kedekatan di antara semua orang, ada percakapan, meski kata-kata yang diucapkan mereka cenderung berakhir menjadi monolog atau malah menggantung buntu. The Strange Little Cat adalah sebuah eksperimen seorang sutradara muda yang mendekonstruksi kejadian sehari-hari sebuah keluarga.

Laman resmi film (http://www.peripherfilm.de/dasmerkwuerdigekaetzchen/)

Ramon Zürcher lahir pada 1982 di Aarberg, Swiss. Ia belajar seni di Hochschule der Künste Bern (HKB) di Swiss antara tahun 2002 sampai 2005 dengan pengkhususan Video. Pada 2005 ia mendapat penghargaan seni rupa Kiefer Hablitzel Preis untuk karya-karya video seninya. Sejak 2006 ia belajar penyutradaraan di Deutsche Film- und Fernsehakademie Berlin (DFFB). The Strange Little Cat adalah film panjang pertamanya.

 

3. Sesi 3, Pukul 20.00 WIB, Was bleibt (Home for the Weekend)

Film cerita // 88 menit // Jerman, 2012

Sutradara: Hans-Christian Schmid // Pemeran: Lars Eidinger, Corinna Harfouch, Sebastian Zimmler,

Ernst Stötzner, Picco von Groote, Egon Merten, Birge Schade, Eva Meckbach

home_for_the_weekend_was_bleibtGünter (Ernst Stötzner) dan Gitte (Corinna Harfouch) tinggal di satu villa indah di tengah alam dan senang sekali ketika Marko (Lars Eidinger), anak lelaki mereka yang telah lama tinggal di Berlin, datang mengunjungi mereka bersama si Zowie, cucu tercinta. Anak-anaknya sudah mapan. Marko sedang ada di awal karirnya sebagai seorang penulis; adiknya Jakob (Sebastian Zimmler) membuka tempat praktek dokter gigi yang modern di daerah sekitar situ. Semuanya tampak lancar dan stabil. Sampai satu hari Gitte, yang selama ini berada di bawah pengobatan karena depresi, mengatakan bahwa dia merasa sudah sembuh dan tak perlu makan obat lagi. Anggota keluarga yang lain melihat hal ini sebagai satu sinyal bahaya. Keluarga ini pun pecah.

Dengan sekumpulan aktor dan aktris kelas atas Jerman, sutradara Hans-Christian Schmid dalam karyanya Home for the Weekend menyuguhkan tercerai berainya satu keluarga dalam beberapa hari saja, namun juga bagaimana mereka berusaha saling menemukan kembali. Setelah film-film sukses seperti Requiem (2006) dan Sturm (2009), film Home for the Weekend adalah kerja sama ketiga antara Schmid dan penulis skenario Bernd Lange. Film Home for the Weekend ditampilkan perdana dalam kesempatan Festival Film Internasional Berlin Ke-62 pada 2012.

Laman resmi film (http://was-bleibt.pandorafilm.de/credits.html)

Hans-Christian Schmid lahir pada 1965 di daerah wisata di Bayern, Altötting. Dia belajar film di Hochschule für Fernsehen und Film di Munich. Pada 1989 ia membuat film pertamanya Sekt oder Selters, yang mendapat penghargaan di Festival Film Independen di Osnabrück. Terobosan dibuatnya dengan film Nach Fünf im Urwald yang merupakan film bioskop pertamanya. Untuk skenario film Nur Für eine Nacht dia, bersama dengan Michael Gutmann, mendapat Penghargaan Singa Emas Televisi RTL 1997 dan Adolf-Grimme-Preis.

Cang-pilem! “Mari Berbahasa Sambil Berpuasa ” – Die Fremde

Die Fremde LandscapePADA seri pemutaran film edisi Ramadhan ini, Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bertema “Mari Berbahasa Sambil Berpuasa (wir sprechen während des Fastens)” akan memutarkan film Jerman-Turki berjudul Die Fremde.

Die Fremde adalah film drama Jerman-Turki yang diproduksi tahun 2010 yang disutradarai oleh pembuat film Austria, Feo Aladag. Film berdurasi 119 menit ini bercerita tentang seorang ibu keturunan Turki, Umay (diperankan oleh Sibel Kekili), yang berjuang menentukan nasib di antara benturan dua nilai budaya yang berbeda. Kisah ini menggangkat tema tentang kehormatan, intoleransi, dan keharmonisan dalam hidup bersama.

Film ini telah mendapat banyak penghargaan di festival dunia. Untuk perannya yang luar biasa sebagai Umay dalam film ini, Sibel Kekili meraih penghargaan Aktris Terbaik Film Jerman 2010. Film ini merupakan karya debut sang sutradara Feo Aladag dan di tahun yang sama juga menerima tujuh nominasi dalam ajang penghargaan versi Persatuan Kritikus Film Jerman. Di kancah internasional “Die Fremde“ meraih penghargaan LUX dari Parlemen Eropa sebagai karya terbaik seni film di Eropa. Pada tahun 2010, Komite Seleksi Film Jerman resmi memilih Die Fremde masuk ke kompetisi Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Die Fremde akan diputar pada Minggu (13 Juli 2014), pukul 15.00 WIB dan diikuti dengan diskusi. Diskusi menghadirkan pembicara dari komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh yaitu Baiquni Hasbi dan Azhar Ilyas.

Komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh adalah wadah bagi semua penggemar bahasa yang sudah menguasai atau sedang belajar bahasa asing. Kegiatan utamanya adalah pertukaran bahasa. Dalam setiap pertemuan rutin tiap dua-mingguannya, peserta dan peminat umum dapat belajar, diskusi, praktik, serta bertukar info dan pengalaman dalam menekuni bahasa Asing. Beberapa bahasa yang selama ini menjadi peminatan di antaranya adalah bahasa Jerman, Turki, Jepang, Spanyol, Inggris, Italia, Arab, Esperanto, dsb.

Pemutaran film untuk kategori penonton dewasa ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini terbuka untuk publik dan tanpa karcis. Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (085262673007). Acara ini juga disertai buka puasa bersama. Bagi peserta yang ingin berbuka puasa bersama, dapat membawa makanan dan minuman sendiri atau dapat memesan pada panitia: Azhar Ilyas (081262554864).

Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) Aceh, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net. []

Situs Web: http://www.tikarpandan.org/2014/07/cang-pilem-mari-berbahasa-sambil.html

Cang Pilem! Sejarah, Politik, dan Anak Muda

Sonnenallee Resize

Banda Aceh – Pada seri bulan Juni ini Cang Pilem akan memutarkan film Jerman berjudul Sonnenallee. Film ini diangkat dari sebuah novel karya Thomas Brussig, “Helden Wie Wir”.

Sonnenallee dengan humoris menggambarkan kehidupan anak muda di Berlin Timur dan di perbatasan pada tahun 1973. Film ini tidak selalu setia pada fakta dan sesekali berlebihan (sebagian dengan ekstrim) dalam menyikapi masalah-masalah khas rakyat Deutsche Demokratische Republik (DDR) atau German Democratic Republic (GDR) dengan tujuan untuk membuat sebuah film yang bisa dipahami oleh setiap orang tanpa harus mengalaminya sendiri atau memiliki pengetahuan tentang sejarah. Film ini diproduksi pada 1998-1999 dan disutradarai oleh Leander Haußmann dengan durasi 94 menit.

Film akan diputar pada Rabu (25 Juni 2014), pukul 14.00. Pemutaran film ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Acara ini tanpa karcis.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Putra (0852 6267 3007).

Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Banda Aceh Membaca, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, Radio Flamboyant dan Polyglot Indonesia Chapter Aceh. []

INFORMASI: WWW.TIKARPANDAN.ORG