Berani Menertawakan Diri Sendiri

Dok: Psychopathic Writing (Istimewa)

Dewasa ini sebagian orang lebih senang menertawakan orang lain dan enggan untuk menertawakan dirinya sendiri. Entah karena takut dianggap gila atau mungkin menganggap hidupnya terlalu serius untuk ditertawakan. Padahal, menghindar untuk menertawakan diri sendiri justru dapat menghambat perkembangan.

Banyak  yang mengatakan ‘jika tertawa dapat menyehatkan pikiran dan menyingkirkan emosi negatif,’ namun hal tersebut dilakukan tidak untuk menertawakan orang lain karena terdapat emosi negatif didalamnya. Menertawakan orang lain nantinya akan menjadikan seseorang terlihat sombong karena merasa lebih baik dari orang lain.

Oleh karena itu menertawakan diri sendiri lebih baik daripada menertawakan orang lain. Dengan menertawakan diri sendiri, seseorang tak perlu khawatir akan munculnya emosi negatif karena yang ditertawakan adalah diri sendiri. Menertawakan diri sendiri juga dapat membantu seseorang mengintrospeksi diri dan menemukan kesalahan yang perlu diperbaiki tanpa harus tersinggung oleh komentar orang lain.

Hal ini juga didukung oleh sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences yang menyatakan bahwa salah satu indikator individu yang memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi adalah dengan sering menjadikan dirinya sendiri sebagai lelucon.

Menjadikan diri sendiri sebagai lelucon juga termasuk ke dalam kriteria individu yang telah mengaktualisasikan diri dari teori yang dikemukakan oleh Abraham H. Maslow, yaitu rasa humor yang filosofis. Dikatakan bahwa individu yang telah mengaktualisasikan diri akan lebih sering menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan candaan.

Mereka menjadikan setiap kebodohan dan kekurangan mereka sebagai candaan yang disampaikan secara filosofis agar orang lain berpikir terlebih dahulu, baru kemudian bisa mendapatkan joke dari humornya dan tertawa untuk membantu mereka menjadi lebih cerdas dalam berpikir dan menyampaikan sesuatu.

Selain dapat mengintrospeksi diri dan menyingkirkan emosi negatif, menertawakan diri sendiri juga dapat menjernihkan pikiran, membantu diri berdamai dengan masa lalu, dan membuat orang disekeliling kita bahagia.

Suksesnya seseorang menertawakan dirinya sendiri akan merubah sudut pandang dan cara seseorang melihat dunia. Seseorang tak lagi fokus kepada hal-hal negatif tetapi pada hal-hal positif yang bisa didapatkan meski hari yang dilalui kurang menyenangkan. Dengan begitu, seseorang akan terhindar dari perasaan stres. (Sulthanul Y)

Tempo Goes to Campus, Ajak Masyarakat Melawan Hoax

Ajak Masyarakat Awam Melawan Hoax (San/Perspektif)

Sigli – Kemajuan media informasi dan komunikasi memang memudahkan aktivitas manusia. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan informasi dan pengetahuan yang terus meningkat. Namun dengan banyaknya informasi yang beredar luas di masyarakat, kita semakin sulit untuk memahami apakah informasi yang beredar merupakan hal yang benar atau tidak. informasi yang tidak benar ini biasa di sebut hoax.

Untuk menanggulangi hal tersebut Tempo Institute mengadakan seminar dan talkshow dalam agenda Tempo Goes to Campus 2018 di Universitas Jabal Ghafur Sigli, Kabupaten Pidie (03/05/18). Dengan mengusung tema “#lawankabarkibul”, acara ini berlangsung sukses dan dibuka langsung oleh Rektor Uniga, Perwakilan dari Bupati Pidie, yang diisi langsung oleh beberapa pembicara dari pihak Tempo Institute, ICT Watch, dan Yukepo.co.

Agenda ini juga dilaksanakan secara berkala di 10 kota besar di indonesia. Serta turut mengundang lembaga pers mahasiswa, mahasiswa dan lapisan masyarakat lainnya yang ada di wilayah Aceh.

Dengan menggunakan hastag #lawankabarkibul tempo institute dan seluruh peserta seminar dituntut untuk mampu mendeteksi dan melawan kabar kibul yang mudah beredar di masyarakat.

Ajak Masyarakat Awam Melawan Hoax (Sul/Perspektif)

“Untuk mengetahui berita itu hoax atau bukan,kita harus analisis adanya unsur 5W+1H. Nah tapi bukan berarti semua berita yang ada 5W+1H itu benar, kita tetap harus berhati-hati” ujar Reza Maulana pembicara dari tempo.

Dalam menanggulangi berita hoax kita perlu jeli untuk mengetahui berita yang beredar itu benar atau tidak. Tak cukup sekedar berita yang mengandung unsur jurnalistik yang lengkap namun kita juga perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya; perhatikan judul yang bombastis, isi berita dan sumber yang tidak jelas, dan pada akhir berita terdapat perintah untuk menyebarkan atau viralkan. Jika ketiga unsur itu terdapat didalam berita maka jelaslah berita tersebut adalah hoax.

Bukan hanya itu, di era millenial ini kita juga harus meningkatkan kewaspadaan dan sikap tidak mudah percaya terhadap berita-berita yang hadir. “Untuk selamat dari berita hoax kita harus membangun sikap anti hoax yaitu skeptis, curious, dan critival,” sambung Frenavit dari ICT Watch.

Dalam penjelasannya thalita dari yukepo.com bahwa ada beberapa acara agar tidak mudah tertipu hoax, diantaranya mengenali sumber informasi yang valid, cermati alamat situs, periksa kembali faktanya, cek keaslian fotonya, dan juga ikut serta dalam komuniitas anti hoax.

Mengatasi berita hoax membutuhkan usaha yang lebih. Kita tidak cukup dengan hanya dengan meneliti dan mengetahui fakta dari berita. Dikatakan teratasi saat berita tersebut benar-benar sudah ditarik dari media dan masyarakat juga telah mengetahuinya. Maka dari itu, Tempo juga mencari Mr and Mrs Smart dalam acara Tempo Goes to Campus dari penilaian forum diskusi. Nantinya kepada Mr dan Mrs Smart diharapkan mampu mengatasi berita hoax yang ada di provinsinya masing-masing.

Dengan diadakannya acara ini, diharapkan agar masyarakat aceh khususnya untuk anak muda kabupaten sigli dapat lebih mampu memilah dan meminimalisir terhadap ramainya berita hoax yang tersebar. Terapkan budaya membaca isi berita terlebih dahulu, agar berita yang kita sebar tidak meresahkan orang lain. (Mev,Sul,Ta)