Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital!

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital! (Gambar:Google)

Darussalam – Tak dapat dipungkiri, peradaban dunia semakin berkembang dengan pesat. Tanpa kita sadari, kini teknologi menjadi raja dari kehidupan. Semua pekerjaan yang dulunya sulit dijangkau kini menjadi mudah dan sangat cepat. Hal ini juga membawa banyak manfaat dan kebaikan. Salah satu yang paling terasa adalah terjalinnya hubungan internasional baik dari bidang pendidikan dan juga merambah hingga dunia bisnis. Lapangan kerja semakin terbuka lebar. Peluang untuk belajar ke luar negeri pun semakin terbuka.

Namun, digitalisasi juga melahirkan ancaman. Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi dengan basis cyber physical system. Dimana robot dengan kecerdasan buatan atau artifisial mulai menyebar dan merebut posisi manusia di kancah pekerjaan.

Menilik dari banyaknya tenaga robot atau mesin yang dipakai, menambah rumit kriteria karyawan yang dipekerjakan di perusahaan. Jika beberapa tahun yang lalu tenaga jasa masih berfokus pada soft skill yang biasa, pada era digital ini penguasaan software dan kemampuan pengolahan data serta kreativitas lebih dilirik oleh perusahaan industri.

Tentu saja perkembangan yang terjadi di dunia bisnis menjadi sorot utama bagi calon sarjana ekonomi. Tujuan utama dari calon sarjana adalah menemukan pekerjaan yang tepat untuk menunjang hidup di masa mendatang. Namun,  hanya menguasai ilmu ekonomi tidak cukup meskipun gelar sarjana pun sudah disandang.

Melirik Amazon dan Alibaba yang mulai membuka pusat perbelanjaan atau supermarket tanpa kasir dan pegawai. Bahkan mereka memiliki sistem warehouse yang fully-automated. Di Indonesia sendiri, konsep digital lounge mulai digalakkan oleh perusahaan perbankan. Tanpa harus berhadapan dengan teller, orang dapat membuka tabungan sendiri.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, kita akan menghadapi digitalisasi. Maka dari itu, meningkatkan potensi diri adalah tugas utama bagi seluruh calon sarjana. Pekerjaan dengan keterampilan tinggilah yang masih membutuhkan tenaga kerja manusia.

Bagi calon sarjana, wajib mengetahui dan menganalisis jenis pekerjaan yang akan di apply nantinya.  Hal ini dikarenakan oleh adanya beberapa jenis pekerjaan yang akan hilang seperti teller,  driver,  kasir,  resepsionis dan beberapa lainnya.  Menentukan target pekerjaan yang tidak dapat dijangkau oleh mesin adalah kunci utama menghadapi digitalisasi atau revolusi industri 4.0.

Selain itu,  mengetahui bakat sendiri juga penting.  Dengan mengenal bakat yang dimiliki, maka dapat membantu ke depannya yakni dengan mengasah skill ataupun menambah skill baru dengan mengikuti berbagai pelatihan terkait soft skill atau pekerjaan di era digital.

Dilansir dari okezone.com, Laporan World Economic Forum 2016 yang bertajuk The Future Job telah memaparkan bahwa ada 10 skill yang akan dibutuhkan pada tahun 2020 mendatang. Diantaranya adalah pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen sumber daya manusia, koordinasi, kecerdasan emosional, penilaian dan pengambilan keputusan.

Dari sepuluh skill tersebut, semuanya berorientasikan mental. Maka, untuk calon sarjana ekonomi mulai dari sekarang harus dapat meningkatkan potensi diri bertajuk mental. Dengan mengikuti berbagai organisasi dan menjadi pemikir kritis, maka persaingan di era digital menjadi lebih mudah. ( Sulthana )

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’

 

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’ (foto: google)

Banda Aceh – “Lebih asik ngomong di warung kopi ketimbang kampus ekonomi”

Mungkin kalimat di atas begitu menggambarkan dengan jelas tentang kondisi terkini di kampus tertua di universitas Syiah Kuala ini.

Menyedihkan memang, melihat kampus yang diisi oleh ratusan akademisi dan digadang-gadang punya segudang prestasi, bahkan tidak menyediakan ruang diskusi bagaimana kondisi terkini ekonomi nasional.

Seingat saya, terakhir kali kampus membuka diskusi tentang ekonomi adalah di awal tahun 2018 ketika sedang marak-maraknya isu dana Otsus begitu menggema di Aceh.

Dalam sesi diskusi yang diberi nama Komunitas Pemikir Ekonomi (KOPI), mereka turut menghadirkan Dr. Chenny S.E. M.Si. yang merupakan Sekretaris Jurusan Program Studi Ekonomi Pembangunan Unsyiah.

Namun begitu disayangkan, hasil diskusi yang telah dilaksanakan di Balai Sidang Ekonomi ternyata hanya bergema dalam ruangan saja, tidak ada publikasi lebih lanjut.

Poin-poin pernyataan hasil diskusi (notulensi) mungkin hanya sekedar pertanggal bagi mereka pernah melakukan diskusi ilmiah yang pertama setelah sekian tahun lamanya.

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’ (foto: google)

Dan di pertengahan 2018, ketika nilai tukar dolar menyentuh Rp. 15.047 (data grafik kurs dollar.net), kampus tetangga yang berslogan “kampus pejuang rakyat” bergerak cepat untuk membuka ruang pendapat untuk membahas isu ini pada Minggu di pelataran masjid Jami’ Unsyiah (9/9).

Seakan berbanding terbalik, kampus yang punya kapasitas terbesar untuk membahas kurs rupiah terlihat adem ayem tanpa pergerakan.

Lantas kemanakah mahasiswa? Kemana para pemikir ekonomi? Mari kita doakan semoga mereka dapat kembali ‘pulang’ ke kampus ini.

M. Jauhar Ihsan (Pemimpin Umum LPM Perspektif FEB Unsyiah)

Economic Student Market, akan Terealisasi Semester Depan

Economic Student Market, akan Terealisasi Semester Depan (Foto : Ayu/Perspektif)

Darussalam – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah memiliki beberapa kantin yang menjadi tempat tongkrongan bagi mahasiswa/i di sela-sela jadwal perkuliahan. Beberapa kantin itu tersebar di dua sisi fakultas ekonomi yakni pada Gedung EKP, bagian samping gedung KPMG dan bagian belakang gedung Student Center.

Namun beberapa waktu belakangan ini Kantin Pojok Ekonomi yang berposisi di bagian belakang gedung Student Center tampak terbengkalai. Tak ada kegiatan aktivitas yang tampak seperti beberapa waktu sebelumnya.

Sejak awal semester kemarin sudah ada wacana bahwa akan ada pembaharuan tentang kantin pojok ekonomi ini, yaitu “Economic Student Entrepreneur Market” Yang dipelopori oleh BEM FEB-Unsyiah dan UKM Inkubator serta di dukung penuh oleh pihak dekanan. Namun sampai saat ini rencana ini masih belum terealisasi.

Dijumpai Rabu (2/05/18) Rais, ketua BEM FEB Unsyiah mengakui memang sedang gempar dalam mewujudkan Economic Student Entrepreneur Market, yang mendapat dukungan penuh dari Dekanan yang mengharapkan agenda ini dapat menghidupkan kembali kantin belakang kesekretariatan mahasiswa yang sudah tidak terpakai dan tampak terbengkalai.

Namun untuk saat ini Rais mengatakan bahwa Ia dan pihak UKM Inkubator masih terkendala dalam pemilihan konsep apa yang nantinya akan diwujudkan di Economic Student Entrepreneur Market ini.

“Saat ini masih terkendala dikonsepnya, tapi dari pihak Inkubator sendiri sudah berusaha membicarakannya ke beberapa alumni Inkubator dan beberapa dosen dalam hal menentukan konsep. Pihak dekanan hanya tinggal menunggu konfirmasi konsep dari kitanya aja, dengan begitu baru bisa kembali berjalan agenda ini.” terang Rais.

Economic Student Market, akan Terealisasi Semester Depan (Foto : Ayu/Perspektif)

Agenda Economic Student Entrepreneur Market ini nantinya akan dilaksanakan pada semester depan dan pihak dekanan juga mempunyai harapan yang sama, “Kami juga mengatakan kepada pihak Dekan yang dimana bahwasannya program ini bentuknya jangka panjang, dan diharapkan akan berjalan seterusnya dikepengurusan selanjutnya.”

Dari pihak dekanan sendiri mengharapkan nantinya para mahasiswa yang berpartisipasi didalamnya menjual barang asli buatan sendiri, semacam Handmade, Creating Product dan Merchandise  atas nama mereka sendiri dalam brand.

“ini mengambil contoh disalah satu universitas di Malaysia, seperti mahasiswa disana yang memproduksi air mineral dengan label mereka sendiri. Diharapkan tidak cuman membeli barang dari luar lalu dijual kembali, karena dekanan mengharapkan mahasiswa sekarang bisa lebih berinovasi dan mampu bersaing dalam berbisnis.” tegas Qamarul sebagai Direktur Inkubator.

Pihak dekanan juga menginginkan mahasiswa dapat memproduksi barang sendiri dikarenakan dilingkungan Unsyiah ini juga ada UPT.Kewirausahawan yang dimana banyak kegiatannya disortir langsung oleh KEMENRISTEKDIKTI, hal ini juga di harapkan dapat menambah minat mahasiswa di lingkungan FEB dalam melakukan kegiatan bisnis tanpa mengganggu jadwal perkuliahan.(ijah)

“Dari Kita untuk Kita”, FEB Unsyiah Jadikan Meugang Sebagai Momen Menjaga Silaturahmi

“Dari Kita untuk Kita”, FEB Unsyiah Jadikan Momen Meugang Untuk Menjaga Silaturahmi (La/Perspektif)

[Read more…]

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah?

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah? (Foto : google)

Bercadar merupakan suatu hal yang sudah tidak asing lagi terutama di kalangan civitas akademika FEB Unsyiah. Tak sedikit pula dari jumlah mahasiswi yang menggunakan cadar. Tentunya bagi mereka yang menggunakan cadar punya alasan dan tujuan yang kuat.

Tujuan utama mereka bercadar ialah untuk menutup aurat. Melindungi diri dari tindak asusila serta terhindar dari fitnah. Jika ditinjau dari tujuannya menggunakan cadar merupakan suatu hal yang positif dan merupakan salah satu anjuran menurut agama Islam. Namun mengapa sebagian masyarakat masih saja beranggapan bahwa mereka yang bercadar tergolong kaum radikal.

Seperti halnya kejadian yang baru-baru ini terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dimana pihak kampus sendiri mengeluarkan peraturan yang melarang mahasiwanya untuk bercadar. Tentu hal  ini menuai banyak aksi protes dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi mahasiswa (Ormawa), organisasi masyarakat (Ormas), ulama, serta MUI.

Aturan yang dibuat ini dinilai sebagai bentuk tindakan preventif untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme, “Kami melihat gejala itu, kami ingin menyelamatkan mereka, jangan sampai mereka didoktrin sehingga mereka menjadi korban dari gerakan-gerakan radikal itu,” ujar Yudian Wahyudi selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga. (Sumber: BBCIndonesia)

Tak itu saja, selain alasan pencegahan dari radikalisme terdapat pula alasan lain, yaitu Pedagogis. Mahasiswi yang menggunakan cadar dianggap mempersulit kegiatan pengajaran di kampus, dosen pengajar mendapati kesulitan dalam mengenal identitas mereka karena wajah mereka yang tertutup.

Lantas bagaimana dengan universitas lain yang tidak melarang mahasiswinya untuk bercadar, bukankah sejauh ini tidak ada masalah yang muncul terkait penggunaan cadar?

Untuk Unsyiah khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri yang terletak jelas di provinsi yang merupakan mayoritasnya penduduk kaum muslim, tidak ada aturan khusus yang mengatur penggunaan cadar selagi itu tidak mengganggu kenyamanan bersama.

Menanggapi permasalahan larangan penggunaan cadar ini, pihak kampus sendiri tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga. Karena sadar bahwa bercadar merupakan salah satu bentuk dari menutup aurat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana dosen FEB  yang ikut berkomentar.

“Saya pribadi tidak pernah melarang mahasiswi untuk bercadar karena itu adalah hak mereka dan berkaitan dengan agama jadi sama sekali tidak bisa kita sentuh,” jelas salah satu Dosen Ekonomi Pembangunan, Fitriani,S.E.,M.Sc.

Sampai saat ini dosen FEB  mengaku tidak pernah mendapati kesulitan yang disebabkan oleh mahasiswi yang bercadar. Apalagi sampai kesulitan dalam hal berinteraksi serta tidak pernah menemukan salah satu dari mereka pengguna cadar yang menganut paham radikal,

Dapat dikatakan bahwa anggapan mereka yang memakai cadar adalah anggota teroris atau kelompok radikal merupakan suatu anggapan yang salah dan tidak mendasar.

“Jika tindakan pencegahan radikalisme dijadikan sebuah alasan maka kalau begitu kelompok radikal ini bisa dari siapa saja, tak hanya dari yang bercadar ini, dan juga saya mempunyai mahasiswa yang bercadar dan juga beberapa dosen lainnya, Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah dalam berkomunikasi maupun lainya, karena walaupun mereka bercadar saya tetap bisa mengenali mereka melalui suara,” tambahnya. (Sal, AH)

Dekan Fakultas Ekonomi Lantik Pengurus Organisasi Mahasiswa

Pelantikan Ketua Baru Organisasi Mahasiswa di Fakultas Ekonomi (Toso/Persektif)

Pelantikan Ketua Baru Organisasi Mahasiswa di Fakultas Ekonomi (Toso/Persektif)

Darussalam – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala melantik pengurus baru Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di lingkungan FEB Unsyiah. Acara pelantikan dihadiri oleh Kapolresta Kota Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin SH dan Wakil Rektor III bagian Kemahasiswaan, Dr.Ir. Alfiansyah Yulianur BC. Acara Pelantikan berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Terpilih Ketua Umum BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah periode 2017 Nazrul Anas menggantikan Ketua Umum BEM FEB sebelumnya, Ade Aulia. Nazrul Anas terpilih menjadi Ketua BEM FEB yang baru setelah mendapat 1057 suara pada Pemilihan Raya (PEMIRA) Fakultas Ekonomi akhir Desember tahun lalu.

Pelantikan pengurus baru Organisasi Mahasiswa tahun ini sedikit berbeda dari pelantikan di tahun-tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, organisasi mahasiwa Diploma 3 tak lagi dilantik di Fakultas Ekonomi. Hal ini sesuai dengan seruan Wakil Rektor III terkait program studi Diploma 3  yang akan digabungkan menjadi program Sekolah Vokasi.

Dalam Kesempatannya, Wakil Rektor III Universitas Syiah Kuala berpesan agar kedepannya pengurus Organisasi Mahasiswa di lingkungan Kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis dapat lebih aktif dan efektif dalam merancang acara agar tepat sasaran dan dapat mengajak Mahasiswa FEB lainnya agar berperan aktif  dalam Organisasi-Organisasi Kampus.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr Mirza Tabrani SE MBA menandatangani Surat Keputusan Pelantikan Penngurus Organisasi Mahasiswa periode 2017 (Toso/Perspektif)

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr Mirza Tabrani SE MBA menandatangani Surat Keputusan Pelantikan Penngurus Organisasi Mahasiswa periode 2017 (Toso/Perspektif)

“Saya berharap agar Ketua-Ketua Organisasi Mahasiswa Ekonomi ini bisa mengajak teman-temannya dalam bergabung dan sama-sama mengasah soft skill kalian di bidang organisasi” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolresta Kota Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin SH juga menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam mengawal kebijakan pemerintah dan menumbuhkan semangat wirausaha. “Selama saya menjabat sebagai Kapolresta Kota Banda Aceh, saya selalu mendukung kegiatan mahasiswa Unsyiah, terutama kegiatan mahasiswa Fakultas Ekonomi. Saya sering memantau mahasiswa yang turun ke jalan. Dan saya bangga dengan sikap kalian yang kooperatif dengan pihak aparat keamanan. Oleh karena itu saya selalu mendukung setiap kegiatan kalian” Jelasnya.

“saya juga punya harapan, semoga kedepannya ketua-ketua terpilih ini juga bisa menumbuhkan semangat Wirausaha. Karena pemimpin butuh jiwa yang kuat, semangat pantang menyerah, dan focus terhadap kewajiban. Karena kalian mahasiswa Ekonomi, saya yakin kalian bisa memulainya dengan mudah dan sesuai dengan teori yang kalian pelajari di bangku kuliah” Tambahnya.

Pemira 2016, Faisyal Jawara di Ekonomi

Pemira 2016 di Fakultas Ekonomi berjalan lancar (Ilo/Perspektif)

Pemira 2016 di Fakultas Ekonomi berjalan lancar (Ilo/Perspektif)

Darussalam – Pesta demokrasi tahunan mahasiswa yang dilaksanakan untuk memilih ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Unsyiah berhasil dilaksanakan kemarin (15/12). Pemira tahun 2016 ini berjalan lancar dan disambut antusiasme yang tinggi dari mahasiswa di seluruh Fakultas yang ada di Unsyiah.

Di Fakultas Ekonomi, Pemira tahun ini dilaksanakan untuk memilih Ketua BEM yang baru, baik untuk Fakultas Ekonomi maupun Unsyiah. Tempat Pemungutan Suara (TPS) Fakultas Ekonomi yang berada di Aula Fakultas Ekonomi mengalami sedikit keterlambatan dalam dibukanya TPS.

Hal ini disebabkan oleh keterlambatan distribusi surat suara dari pihak Komisi Pemilihan Raya (KPR) Unsyiah, TPS Ekonomi yang dijadwalkan buka 8.30 baru bisa dibuka puluk 9.30 akibat keterlambatan dari KPR Unsyiah.
Tercatat ada 3.165 mahasiswa Unsyiah yang terdaftar sebagai pemilih dalam Pemira 2016 dan terbagi dalam 2 TPS. Setiap TPS terpantau aman dan penuh penjagaan dari pihak paitia Pemira 2016.

Pemilihan BEM Fakultas Ekonomi yang hanya terdapat 1 calon mengakibatkan pihak KPR FEB harus tetap melaksanakan pemilihan. “Untuk BEM Fakultas Ekonomi tetap diadakan Pemira, hal ini harus dilakukan mengikuti instruksi dari Wakil Dekan 3 FEB yang tidak mau mengangkat ketua BEM baru secara Aklamasi” jelas ketua KPR FEB, Ferdy Joely.

Hal ini membuat KPR FEB tetap mencetak surat suara dengan format setuju/tidak setuju. Hingga akhir pemilihan suara, dipastikan calon tunggal BEM FEB, Nazrul Anas terpilih sebagai Ketua BEM Fakultas Ekonomi dengan perolehan 1057 suara dari 1351 suara pemilih.

Untuk Pemilihan Ketua BEM Unsyiah, Calon nomor urut 2, Rachmad Faisyal (FT) berhasil memenangkan suara di Fakultas Ekonomi dengan perolehan 982 Suara, mengalahkan 2 pesaing lainnya, Fathur Hadyan (FKIP) 268 Suara dan Raja Muda Cik (FEB) 101 suara.

Kemenangan Faisyal sendiri memang telah di prediksi oleh Mahasiswa Ekonomi debat kandidat calon ketua BEM Unsyiah “Saya memang sudah yakin dari awal kalo bang Faisyal menang, soalnya beliau calon yang paling kompeten dibandingkan yang lain” sebut mahasiswa yang enggan disebutkan namanya.

Terhitung hingga pukul 18.00 kemarin (15/12) Rachmad Faisyal juga berhasil memenangkan suara di 5 Fakultas di Unsyiah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Teknik. Hingga quick count ditutup, Faisyal berhasil meraih 6509 suara, mengalahkan pesaingnya, Fathur Hadyan (4367 Suara) dan Raja Muda Cik (421 Suara).

Persaingan suara pada quick count kemarin sempat memanas di pukul 17.45 WIB, dimana Fathur Hadyan dan Rachmad Faisyal hanya terpaut 0.52% Suara. Namun hingga quick count ditutup pukul 18.00, Rachmad Faisyal berhasil memenangkan cuick count Pemira 2016. (Jo, Ilo)

Mahasiswa Ekonomi Unsyiah Gelar Bakti Sosial Untuk Korban Gempa Pidie Jaya

Mahasiswa Ekonomi Gelar Bakti Sosial Ke Pijay (Dok. Panitia)

Mahasiswa Ekonomi Gelar Bakti Sosial Ke Pijay (Dok. Panitia)

Meuredu – Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah berhasil menggelar Bakti Sosial untuk korban gempa di Mukim Peuduek, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya. Kegiatan difokuskan ke 2 Desa, yaitu Gampong Tuha dan Gampong Panton Raya

Kegiatan ini merupakan serangkaian kegiatan amal yang dilakukan oleh KBM FEB Unsyiah. Sebelumnya juga telah dilakukan konser amal yang berlangsung di Aula FEB Unsyiah sabtu malam.

Total dana sumbangan yang terkumpul sebesar Rp15.106.000, seluruhnya digunakan untuk membeli keperluan sembako dan perlengapan tidur untuk pengungsi disana.

Tim Relawan FEB Unsyiah bergerak dari Kampus pukul 15.00 WIB, tim relawan yang terdiri dari 57 mahasiswa FEB Unsyiah berangkat menggunakan motor dengan sistem touring yang dipandu langsung oleh anggota UKM Economic Otomotif Club (EOC).

Mahasiswa Ekonomi Membagikan Sembako dan Pakaian Anak (Dok. Panitia)

Mahasiswa Ekonomi Membagikan Sembako dan Pakaian Anak (Dok. Panitia)

Tim Relawan FEB berfokus memberikan bantuan di 2 Desa, yaitu Gampong Tuha dan Gampong Dayah Raya, keduanya berlokasi di Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya.

Kondisi getak geografis kedua desa yang jauh dari jalan raya dan merupakan desa buntu, pengungsi di kedua desa ini pun kekurangan kebutuhan pangan dan pakaian anak.

Menurut pantauan tim relawan, setidaknya 70% dari rumah penduduk di kedua desa tersebut mengalami kerusakan, rumah milik Bapak Adnan yang tak jauh dari Meunasah Gampong Tuha misalnya, rumahnya kini tak lagi bisa dihuni, ruang tamu dan kamar tidurnya hancur setelah dihentak Gempa 7 Desember lalu.

Kini separuh dari penduduk kedua desa terpaksa mengungsi di halaman meunasah dan halaman rumah penduduk yang cukup untuk didirikan tenda. Mereka masih shock dengan bencana gempa bumi Rabu lalu, mereka kini berharap agar cepat dating bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak akibat Gempa Bumi.

Proses distribusi bantuan pun berjalan dengan lancar, bantuan sembako dan pakaian anak diterima langsung oleh Geuchik dari kedua desa tersebut. Setelah proses penyerahan bantuan, anak-anak dari kedua Desa pun diajak untuk bermain bersama untuk memulihkan psikis anak-anak korban gempa dari trauma. (Jo, Abu)

Talkshow Inkubator 2016 Hadirkan Pengusaha Muda Kreatif

Talkshow Wirausaha Inkubator 2016 hadirkan Usahawan Muda Kreatif (Toso/Perspektif)

Darussalam – Keunggulan media dalam dunia bisnis dalam berwirausaha di era Globalisasi semakin gencarnya disuarakan di berbagai seminar Kewirausahaan dewasa ini. Mudahnya memulai usaha dari dunia digital membuat para pebisnis melirik peluang usaha dari media sosial dan memulai startup melalui dunia maya. Hal ini dianggap menjadi peluang usaha kreatif oleh UKM Inkubator FEB Unsyiah dengan mengadakan Talkshow Wirausaha dengan Tema “Berwirausaha Kreatif di Era Digital”

Talkshow Wirausaha yang diadakan oleh UKM Inkubator merupakan puncak dari serangkaian acara Expo Inkubator 2016. Dalam talkshow kali ini, Inkubator mengundang beberapa Usahawan Muda Inspiratif seperti Muhammad Sadad (CEO Erigo Store), Iqbal (CEO Hadrah Group), Furqan Firmandez (Ketua HIPMI Aceh), dan JNE.

 

Muhammad Sadad yang merupakan CEO Erigo Store sedang memberikan materi (Toso/Perspektif)

Muhammad Sadad yang merupakan CEO Erigo Store sedang memberikan materi (Toso/Perspektif)

Dalam talksow Wirausaha ini, Muhammad Sadad mengajak peserta talkshow untuk memulai startup bisnis dengan memanfaatkan keunggulan di media sosial. Sadad merupakan CEO Erigo Store yang bergerak di usaha pakaian yang sukses dari media sosial Instagram, kini usaha fashion yang menargetkan pasar anak muda ini pun telah melayani ribuan konsumen setiap bulannya. “Erigo merupakan hasil jatuh bangun kami di dunia usaha, awalnya kami bergerak di pasar batik namun kebutuhan pasar di sector fashion anak muda yang meyakinkan membuat kami merubah haluan menjadi salah satu Brand fashion yang diperhitungkan saat ini, semuanya berasal dati kerja keras dan inovasi” jelas pemuda asli Lhokseumawe ini.

 

“Inovasi merupakan hal yang sangat penting dalam berwirausaha di era digital ini, kebutuhan pasar yang terus berubah menuntut agar pengusaha terus berinovasi demi menjaga eksistensi dalam dunia bisnis” tambah CEO Erigo ini. Dalam kesempatan yang sama, Iqbal yang merupakan Founder dan CEO Hadrah Group juga memotivasi peserta talkshow untuk menjaga mental wirausaha agar dapat bersaing di era globalisasi. Alumni Fakultasi Ekonomi dan Bisnis Unsyiah ini juga mengajak peserta untuk mengembangkan bisnisnya di daerah sendiri ketimbang membuka usaha di daerah lain.

Seorang peserta sedang bertanya dalam Talkshow Inkubator 2016 (Toso/Perspektif)

Seorang peserta sedang bertanya dalam Talkshow Inkubator 2016 (Toso/Perspektif)

“Peluang usaha di Aceh begitu besar, namun sayangnya hanya sedikit pengusaha asli daerah yang membuka usahanya disini. Mulai saja bisnis dari yang kecil-kecilan dulu, agar anda dapat mengetahui seluk beluk berwirausaha sejak dini, usaha yang unik dibutuhkan di era digital seperti saat ini” ujar pemuda yang telah mulai berwirausaha sejak SMA ini.

Wirausaha di era digital juga mendapat perhatian khusus bagi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Furqan Firmandez yang juga merupakan ketua HIPMI Aceh menyebutkan bahwa Wirausaha di era digital merupakan peluang usaha yang sedang menjadi tren bisnis saat ini. Usaha kecil maupun besar pun bisa memasarkan produknya di dunia maya tanpa batas. Usaha yang kreatif, inovatif dan unik merupakan kunci dari bisnis di era Digital jelasnya.

Dengan diadakan talkshow wirausaha ini, diharapkan dapat menumbuhkan minat dan semangat wirausaha bagi mahasiswa dan peserta dengan mendorong terciptanya usahawan kreatif yang mampu bersaing di era digital dan siap menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). (Jo)

UKM FEB BUKA STAND OPEN RECRUITMENT DI AREA HIJAU KAMPUS

UKM FEB Buka Stand Open Recruitment di Area Hijau Kampus (Jauhar/Perspektif)

UKM FEB Buka Stand Open Recruitment di Area Hijau Kampus (Jauhar/Perspektif)

Darrusalam – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah mengadakan Open Recruitment (OR) bagi mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan memnbuka stand bagi yang ingin bergabung di UKM sesuai bidang yang diminati. OR diadakan di Area Hijau Fakulats Ekonomi dan Bisnis selama 10 hari, dimulai pada tanggal 5 s.d 15 September 2016.

Setiap stand memiliki daya tarik tersendiri. Fakultas Ekonomi dan Bisnis merupakan fakultas dengan Unit Kegiatan Mahasiswa yang lebih banyak dibandingkan Fakultas lain yang ada di Universitas Syiah Kuala. Diantaranya yaitu UKM Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif, UKM Inkubator Usahawan Muda, UKM Lembaga Dakwah Fakultas Al-Mizan, UKM Economict Otomotif Club (EOC), UKM Bengkel Seni dan Teater (BESTEK), dan UKM Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup METALIK.

Dibukanya stand UKM sendiri merupakan salah satu inisiatif dari hasil rapat KBM sebelumnya yang bertujuan untuk menumbuhkan minat mahasiswa dalam pengembangan soft skill melalui Organisasi Mahasiswa.

Open Recruitment yang diadakan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. PAKARMARU (Pendidikan Karakter Mahasiswa Baru) tidak melibatkan pihak Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Fakultas. Tapi kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan oleh Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala. (Ftrdafya)