Sering Homesick? Yuk Simak Tips Berikut Ini

Ilustrasi : Vannadisme

Darussalam- Homesick merupakan keadaan manusia yang perasaanya dalam keadaan rindu akan keluarga, teman, adik maupun suasana dirumah. Hal ini bisa dianggap sebagai salah satu ujian bagi anak kost atau rantau yang dapat berakibat pada galau yang berlebihan.

Biasanya Homesick lebih sering dialami oleh perempuan. Tapi tak menutup kemungkinan juga bisa dialami oleh Laki-laki. Perasaan ini muncul tanpa perencanaan dan tak bisa dihindari.

Namun, apakah Homesick ada obat peredanya apabila tidak bisa dihindari? Agar kamu tetap kuat di perantauan, ikuti cara-cara berikut ini untuk mengatasi homesick!

1. Menyibukkan diri

Kalau kamu mempunyai waktu kosong yang tidak jelas, otomatis kamu akan sering bengong dan berakibat kepada Homesick karena bosan. Namun, orang yang sibuk melakukan kegiatan pasti lupa terhadap hal lain, termasuk Homesick. Sebagai Mahasiwa, selain dapat menyibukkan diri dengan belajar dan mengerjakan tugas, kamu dapat mengikuti organisasi di kampus. Sehingga waktumu tidak terbuang sia-sia karena kegalauan pada kampung halaman.

2. Hangout bersama teman

Selain belajar dan organisasi. Kamu dapat mengisi waktumu dengan hangout  dengan teman-teman. Ini berfungsi juga untuk menghilangkan stress karena belajar.  Kamu dapat mengobrol atau curhat, olahraga, atau mengunjungi tempat terdekat yang belum pernah dikunjungi untuk menghilangkan penat sejenak.

3. Jauhi kamar kost

Hal ini meruapakan salah satu tempat berbahaya bagi orang yang sudah mendapatkan tanda-tanda homesick. Keadaan kamar kost yang seadanya, suasana tanpa keributan dan fasilitas yang ada mungkin jauh berbeda sekali dengan keadaan dirumah. Jadi hindari kamar kost, ini salah satu faktor yang membuat kamu kangen rumah atau lebih tumbuhkan sikap mandiri kamu kalau kamu tidak bisa jauh-jauh dari kamar kost kamu.

4. Telepon orang rumah

Zaman yang canggih membuat semua serba Praktis. Dari Handphone bermerek Blackberry sampai Iphone X pun sudah tersebar dimana mana. Apalagi dilengkapi dengan fitur yang mendukung kamu untuk video call dengan orang yang jauh dari kamu. Coba hubungi orang rumah secara berkala. Semoga ini mampu meredakan homesick kamu.

5. Pulang

Tidak dapat dipungkiri, hal yang paling manjur dalam mengobati homesick adalah pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Menghabiskan waktu Bersama dengan hal-hal yang menyenangkan serta bermanfaat mungkin menjadi sasaran saat pulang ke rumah. Mencicipi masakan rumah serta tidur di tempat ternyaman juga hal yang sangat dinantikan saat pulang, Jadi, manfaatkanlah waktu bersama keluarga kamu sebaik mungkin. Jangan merasa kangen saat jauh. (Jun)

Pelatihan dan Leveling Relawan Pajak 2019 : Menyadarkan Wajib Pajak demi Pembangunan Negara

Foto : Nurfadhilla

Darussalam – Di tengah kemajuan teknologi dan industri, tak jarang memunculkan sikap apatis dari para wajib pajak untuk menunaikan kewajibannya. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya jumlah SDM yang mumpuni di lingkungan Direktorat Jendral Pajak (DJP) untuk mendata para wajib pajak. Sehingga hal ini menyebabkan sedikitnya para wajib pajak untuk sadar akan kewajibannya. Padahal, salah satu pemasukan terbesar negara berasal dari pajak.

Untuk menutupi kekurangan SDM tersebut, Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Aceh mengadakan kegiatan “Pelatihan dan Leveling Relawan Pajak 2019”. Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Prodi Perpajakan & Tax Center FEB Unsyiah, dengan target kegiatan adalah mahasiswa tingkat akhir prodi tersebut. Pelatihan dan Leveling Relawan Pajak 2019 ini akan dilaksanakan selama lima hari, sejak 18 Februari hingga 22 Februari. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Dekan II FEB Unsyiah, Prof. Dr. Ridwan Ibrahim di Balai Sidang FEB. Selanjutnya akan diadakan kegiatan sejenis workshop dan pelatihan yang dipandu oleh tim DJP Aceh. Para peserta terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Ketua Prodi Perpajakan FEB Unsyiah sekaligus Ketua Tax Center FEB Unsyiah  Dr. Nuraini A, SE., M.Si, Ak, CA ini sangat berdampak positif. “Melalui program ini, kita menggaet mahasiswa tingkat akhir dari prodi perpajakan untuk menjadi relawan pajak. Mereka ini diharapkan mampu membantu para wajib pajak untuk melaporkan SPT Tahunan.”

Sementara itu menurut Humas Kanwil DJP Aceh sekaligus ketua pelaksana kegiatan ini, diharapkan bahwa kegiatan ini terus berlangsung setiap tahun. “Kita berharap dari wajib pajak dan masyarakat pada umumnya untuk sadar akan pajak. Nah dengan kegiatan ini, kami berharap bahwa relawan-relawan pajak dapat menjadi jembatan yang mampu mendekatkan DJP dengan para wajib pajak. Kedepannya kita harapkan masyarakat Aceh akan semakin peduli dengan permasalahan pembayaran pajak.” (Abi)

UKM PA-LH METALIK Jajal Gunung Tertinggi Ke-3 di Aceh

Foto : Nurfadhillah

Darussalam-UKM PA-LH METALIK (Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam dan Lingkungan) melakukan pelepasan (16/02) untuk ekspedisi ke gunung Krung Sibubung Hulu yang berada di Aceh Selatan. Ini merupakan kali pertama pembukaan jalur menuju puncak gunung tersebut. Ekspedisi kali ini berlangsung kurang lebih selama lima belas hari mulai dari tanggal 15 Februari s.d 12 Maret 2019 dengan jarak tempuh 28.5 km dan 3383 MDPL yang di ikuti sebanyak 8 orang ( 3 anggota aktif dan 5 anggota tetap ).

Ekspedisi ini sendiri telah direncanakan sejak tahun 1989, namun baru terlaksana pada tahun 2019 dibawah kepemimpinan Rizqi Maulana sebagai ketua umum UKM PA-LH METALIK. Gunung ini merupakan salah satu gunung tertinggi di Aceh. Dengan melewati jalur Kuta Cane Desa Tanjong Baro Kecamatan Nurul Hasanah yang membutuhkan 13 hari untuk mendaki dan 3 hari untuk turun.

Ini merupakan salah satu proker (program kerja) terbesar yang telah direncanakan pada tahun ini.
Namun, ada dua proker lagi yang telah direncanakan tetapi masih di rahasiakan.

Perihal risiko, pihak panitia sudah meminimalisir dengan kesiapan mereka sebelum ekspedisi
berlangsung seperti latihan fisik yang diadakan selama 9 kali pertemuan, berbagai materi, logistik,
kesehatan (P3K) dan komunikasi menggunakan hp, satelit, HT, dan smartphone biasa.

“Dengan mendaki gunung ini, tak ada lagi gunung tertinggi di Aceh yang dapat kita didaki,” ungkap Rizqi Maulana, ketua umum UKM PA-LH METALIK. (Dil)

UU MD3 : Kriminalitas terhadap Demokrasikah?

UU MD3 :Kriminalitas terhadap Demokrasikah? (Mevi/Perspektif)

Darussalam- Rakyat Indonesia kembali dibuat bingung oleh pemerintahan. Hal ini terkait dengan pengesahan UU MD3 oleh Menteri Hukum dan HAM pada 14 Maret 2018 tanpa ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo. Dikarenakan adanya pasal yang mengarah kepada kriminalitas demokrasi.

UU MD3 ( Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD) merupakan undang-undang yang dibuat untuk melindungi anggota dewan dari upaya hukum yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). UU MD3 melindungi para anggota dewan dalam tiga tindak pidana khusus, yakni korupsi, terorisme, dan narkoba.

Undang-Undang nomor 17 tahun 2017 tentang  MPR, DPR, DPD, DPRD (UU MD3) ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) dan mendapatkan penomoran dalam lembaran negara pada tanggal 14 Maret 2018, seiring dengan batasan 30 hari presiden Jokowi tidak menandatangani surat tersebut. Hati bertanya, apakah presiden dan rakyat Indonesia ini sungguh setuju dengan pengesahan tersebut?.

UU MD3 sudah menuai polemik karena mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Anggota dewan kian dibuat tak tersentuh dan kebal hukum dari tindak pidana khusus. Ketidaksesuaian itu timbul dari tiga pasal, yakni: pasal 73, pasal 122 dan pasal 245.

Pasal 73 mengatur tentang tentang wajib menghadirkan seseorang dalam rapat di DPR atas bantuan aparat kepolisian. Pasal 122 huruf k, yang mengatur kewenangan MKD (Mahkamah kehormatan Dewan) menyeret siapa saja (perseorangan, kelompok, atau badan hukum)  ke ranah hukum jika melakukan perbuatan yang patut diduga merendahkan martabat DPR dan anggota DPR. Dan pasal  245 mengatur tentang anggota DPR tidak bisa dipanggil aparat hukum jika belum mendapat izin dari MKD dan izin tertulis dari presiden. Izin MKD diganti dengan frase “ Pertimbangan” (Revisi UU MD3).

Selain itu  dalam ayat 6 pasal pasal 73 , polisi berhak menyandera pihak yang menolak hadir diperiksa DPR paling lama 30 hari, ketentuan penyanderaan akan dibakukan dalam peraturan kapolri.

Dari isinya, UU MD3  dianggap sangat substantif karena bertentangan dengan UUD 1945.

Banyak Mahasiswa yang berdatangan mendatangi “tempat suci” negara hukum ini. Mahasiswa melakukan aksi demo sebagai tanda aksi penolakan. Bahkan beberapa pihak telah mengajukan gugatan mereka ke Mahkamah Konstitusi.

Lalu, apa yang mendorong mereka melakukan aksi penolakan terhadap kelola hukum di Negeri ini  ?.

Sesuai dengan kata mereka, negara yang hebat itu adalah negara yang mau mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ketika orang bebas berbicara, mengkritik, mengeluarkan pendapat, ini dapat dijadikan sebagai evaluasi apa yang dirasakan masyarakat terhadap kinerja DPR, sesuai dengan prinsip demokrasi ( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Pada saat kebebasan itu dibatasi, tidak ada lagi namanya evaluasi dan perbaikan sehingga negara ini hanya jalan ditempat saja.  Bahkan kembali ke masa dulu, pada zaman orde lama. Lantas, kemanakah makna demokrasi yang menjadi identitas negara ini?.

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan negara kita selama beberapa periode. Sungguh disayangkan jika kasus ini mengakibatkan ketidak adilan untuk rakyat dan membuat maknanya bobrok karena terserang kriminalitas secara tidak langsung. Demokrasi adalah pilihan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan sistem bernegara, sistem bermasyarakat yang lebih baik dan sejahtera. Jika ini terlampau terjadi, rakyat tentunya ingin pemerintah berkaca kembali.

Berbicara mengenai demokrasi, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) juga turut memberikan pendapat.

“Dari beberapa headline yang saya baca, jujur saya khawatir terhadap hal ini. Karena ada beberapa pasal yang membahayakan kebebasan berpendapat. Misalnya pemanggilan paksa karena dianggap melawan mereka. Tapi pemberitaannya cuma fokus ke yang buruk-buruk aja. Kita gak tau apakah ada yang bagus disitu,” ujarnya.

Namun, alangkah bagusnya jika pemerintah mempertimbangkan peraturan yang akan diberlakukan agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Sepatutnya pemerintah mereview kembali dari mana asal kedudukan yang mereka dapatkan. Jika tidak siap dikritik dan menerima pendapat dari rakyat, untuk apa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat yang pada hakikatnya menyuarakan rakyat.

Rakyat berhak berkomentar dan memberi pendapat. Toh pada faktanya rakyat hanya mengomentari kesalahan, keteledoran serta penyelewengan. Selama tidak melakukan hal tersebut, apa yang ditakutkan?.

“Seharusnya peraturan itu untuk mensejahterakan rakyat, bukan membatasi hak-hak rakyat. Dan juga DPR bertugas mendengarkan aspirasi rakyat bukan malah membungkam rakyat.” Tambah mahasiswa lainnya.

UU MD3 perlu direvisi kembali. Rakyat menginginkan hal itu terjadi. Harapan akan kebijakan dari Presiden Rakyat Indonesia untuk mengeluarkan Perpu pun dinantikan. Demokrasi negara kita adalah demokrasi pancasila, bukan demokrasi kriminalitas. (Sul,Frz)

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi

Kampus Kuning Yang Mulai Sepi (Ilustrasi)

Slogan “kampus adalah rumah kedua bagi mahasiswa” bukanlah istilah yang asing terdengar di telinga setiap mahasiswa. Setiap kegiatan kampus sama layaknya kegiatan di rumah sendiri menurut mereka, entah kekeluargaan yang mereka dapatkan, pergaulan yang asik, atau sekedar menghiasi ruang kelas disaat jam kuliah yang dianggap sekedar tempat bertemu teman-temannya.

Kata ‘Kampus’ terkesan mulai kehilangan jiwa sebenarnya.  Kampus yang seharusnya diramaikan oleh aktivitas mahasiswa, entah kegiatan perkuliahan, diskusi kelompok, dan kegiatan organisasi. Kampus yang dulunya digunakan sebagai tempat bertukar ideologi, kini tak lagi terdengar suara-suara perubahan, semua hanya sibuk membaca teori-teori yang tertulis di buku tua nya.

Momentum pergantian dekan di awal tahun lalu, membuat kampus merubah beberapa regulasi dan menimbulkan atmosfir baru di lingkungan kampus tertua di Universitas Syiah Kuala ini.

Perubahan paling terasa terutama dibidang akademik disemester ganjil ini adalah tidak lagi diberlakukannya jam kuliah sore dan penambahan jam kuliah dihari Sabtu. Hal ini tentunya memberi dampak langsung bagi suasana kampus yang tak lagi seramai dulu. Faktanya,‘mahasiswa jaman now’ hanya datang saat ada jam kuliah saja.

Sebelumnya, keseharian mahasiswa bisa dilihat di perpustakaan, kantin, sekret UKM atau sekedar diskusi ringan di pekarangan kampus. Perpustakaan yang awalnya dipenuhi dengan mahasiswa yang sibuk dengan dentingan papan ketik persegi, lembaran huruf dan angka, atau hanya sekedar ‘berteduh’ dibawah sejuknya pendingin ruangan, mulai hilang satu persatu. Begitupun kantin yang mulai kehilangan pengunjung setianya.

Bagi mahasiswa yang baru mengenal dunia perkuliahan, hal ini bukan menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Penambahan jam mata kuliah di hari Sabtu bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam memilih jadwal atau mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) serta meningkatkan keefektifan kegiatan belajar. Memang benar, tidak semua mahasiswa mampu berkonsentrasi kuliah sore hari dengan 9 sks kuliah setiap hari.

Kegiatan belajar mengajar di hari sabtu juga menyebabkan kontak langsung antara mahasiswa yang satu dengan yang lain berkurang. Adanya jam perkuliahan yang di geser ke hari sabtu mempengaruhi kemungkinan mahasiswa memiliki jam yang berbeda lebih besar. Kuliah hari sabtu menyebabkan mahasiswa memiliki jam yang perkuliahan yang berbeda. Ketika satu mahasiswa datang, dua mahasiswa lagi hilang dan terus berlanjut.

Akibatnya suasana kampus yang digambarkan hidup menjadi tak terlihat lagi. Kampus yang seharusnya menjadi tempat penunjang mahasiswa, tempat terjadinya proses pembentukan diri, yang diramaikan dengan aktivitas mahasiswa sudah buram.

Kini, kampus terlihat seperti gambar dalam bingkai, nyata tapi diam. (Zla, Frz)

Pesta Demokrasi di Ekonomi, Kok Begini?

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Matinya demokrasi kampus (Ilustrasi)

Pesta Demokrasi Kampus memang sudah berakhir sepekan yang lalu, mahasiswa masih dalam euforia kemenangan, bersorak menunggu gebrakan dari “sang Presiden” yang baru lahir di ujung Syiah Kuala. Mahasiswa seakan tak pernah matinya menyuarakan suara-suara perubahan untuk negeri. Ideologi perjuangan masih kuat di benak setiap suara yang keluar. Hati kian tergetar mendengar suara lantang dari mahasiswa, beraksi nyata dengan semangat yang kian membara.

3.165 mahasiswa Ekonomi diberi hak suara untuk memilih pemimpin mereka. Di setiap sudut kampus terdengar semangat berkobar untuk ikut andil dalam pesta demokrasi tahunan kampus. Siapa yang tak ingin bersuara untuk kampus, mereka dicap apatis tak ingin bergabung dengan suara-suara perubahan lainnya.

Kini sang Presiden baru telah lahir, mereka lahir dari suara-suara mahasiswa yang berharap perjuangan mereka didengarkan. 1000-an suara berlabuh pada sang calon tunggal. Hanya 1531 suara yang digunakan dalam event krusial mahasiswa tahunan ini.

Ironi memang, hanya 43% suara yang digunakan dalam panggung pesta demokrasi tahunan syiah kuala tahun ini. Tak banyak memang yang mempersoalkan hal ini, ‘yang penting menang sajalah’ pikiran utamanya. Panggung demokrasi yang berjalan diprediksi akan berjalan meriah, hanya diisi oleh 1531 suara, tak sampai separuh dari total 3.165 total mahasiswa yang punya hak bersuara.

Kemanakah ideologi mahasiswa yang selama ini mereka bawa? Sebelum hari pemilihan, suara mereka yang terdengar begitu lantang di langit kampus hilang entah kemana. Pesta demokrasi tahun ini seakan ternodai oleh 57% suara yang lebih memilih untuk menjadi golongan putih.

Siapa yang bisa disalahkan dibalik realita kampus tua ini? Kampus yang telah melahirkan banyak tokoh pioneer pemerintah, ribuan aktivis lahir dari gedung tua yang elok ini. Kini, semangat untuk bersuara saja tak lagi ada, semua hilang bak ditelan masa.

Apatiskah mereka dalam bersuara? Benarkah mahasiswa kini lebih men-dewa-kan akademis mereka ketimbang menjadi aktivis? Sedikit dari mereka yang bisa mengartikan kata ‘mahasiswa’ saat ini, seakan terlena di ruang penuh apatisme. Berkhayal tentang istilah-istilah ekonomi yang mereeka pelajari tanpa tahu kemana akan digunakan nanti. Mereka yang tak ingin diganggu, selalu bertanya “indeks prestasiku semester ini, masih tinggikah angkamu”.

Entah kapan bencana moral ini hilang, hanya Mahasiswa yang dapat berikan titik terang. Semoga doa rakyat jelata dapat menyadarkan mereka, ada hak yang harus diperjuangkan, tahu kemana suara lantang mereka seharusnya. Hidup Mahasiswa! (Jr)

Menciptakan Mahasiswa Berprestasi Melalui Karya Tulis Ilmiah

Mirna Indriani S.E.,M.Si.,A.k. sedang memberikan pelatihan penulisan Karya Tulis Ilmiah (Syura/Perspektif)

Mirna Indriani S.E.,M.Si.,A.k. sedang memberikan pelatihan penulisan Karya Tulis Ilmiah (Syura/Perspektif)

Darussalam – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah, Sabtu (9/4/2016) menggelar Pelatihan Karya Tulis Ilmiah sebagaiacara tahunan dengan mengusung tema “Menciptakan Mahasiswa Berprestasi Melalui Karya Tulis Ilmiah”,di Balai Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Acara yang dibuka secara resmi oleh ketua BEM FEB Unsyiah, Ade Aulia pada pukul 09.00 WIB ini berlangsung secara khidmat. Perwakilan undangan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) juga turut berpartisipasi pada acara ini. Peserta pelatihan berjumlah 50 orang.

Pemateri menyampaikan materi mulai dari pengenalan, apa itu karya tulis ilmiah, bagaimana susunannya, serta tips dan trik untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang baik. Para peserta sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Hal ini bisa dilihat ketika memasuki sesi tanya jawab, banyak peserta yang begitu bersemangat mengajukan berbagai pertanyaan seputar penulisan karya tulis ilmiah.

Melalui acara ini, para pemateri dan khususnya panitia berharap agar acara yang diselenggarakan bukan hanyalah bualan semata, akan tetapi setelah diadakannya pelatihan karya ilmiah diharapkan bisa memotivasi mahasiswa untuk menulis karya tulis ilmiah dan juga menghasilkan output yang berkualitas dan dapat dilombakan ke tingkat nasional yang nantinya dapat mengharumkan nama baik Jurusan, Fakultas, dan Universitas.(Tata)

Editor: Fitri

Ini Jadwal Pengambilan Almamater 2014 di Fakultas Ekonomi

Almamater Mahasiswa (Ilustrasi/ Dok. Perspektif)

Darussalam – Akhirnya, setelah menunggu hampir 2 tahun kini almamater angkatan 2014 siap dibagikan kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala. Pengambilan almamater akan mulai di lakukan pada besok Senin (7/3/2016) di Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Unsyiah.

Adapun jadwal pengambilan almamater adalah sebagai berikut :

No

Hari / tanggal

Jurusan

1

Senin , 7 Maret 2016

Ekonomi Islam

Ekonomi Pembangunan

2

Selasa , 8 Maret 2016

         S1 Akuntansi

         D3 Akuntansi

         D3 Perpajakan

 

3

Kamis s/d Jumat 2016

          S1 Manajemen

          D3 Perbankan

          D3 Pemasaran

        D3 Perusahaan

          D3 Sekertaris

Adapun syarat untuk pengambilan almamater ini adalah mahasiswa harus membawa KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) ataupun Slip SPP. Untuk mahasiswa penerima bidikmisi cukup dengan membawa KTM saja.

Pembagian almamater angkatan 2014 ini tergolong lama dalam produksinya. Banyak mahasiswa yang mengeluh akan lamanya almamater ini dibagikan, sehingga mereka terpaksa meminjam almamater pada kegiatan-kegiatan kampus.

“Semoga untuk pembagian almamater tahun berikutnya tidak mengalami keterlambatan seperti tahun ini.” ujar Lilis  salah satu mahasiswa leting 2014 yang belum mendapatkan almamater. (Lis)

Editor: Dimas

Kementrian Keuangan Republik Indonesia Adakan Kuliah Umum

Kemenkeu Adakan Kuliah Umum

Kemenkeu Adakan Kuliah Umum (foto: Fitri/Perspektif)

Darussalam – Kementrian Keuangan Republik Indonesia beberapa waktu lalu (3/3/2016) mengadakan kuliah umum yang bekerja sama dengan Unsyiah kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB Unsyiah). Kuliah umum ini bertema “Pengelolaan Sukuk sebagai Sumber Pembiayaan Bangunan” yang diselenggarakan di Aula FEB Unsyiah, dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa S1, dosen, dan juga staff Kemenkeu.

Acara ini diisi oleh dua pemateri yaitu Eri Haryanto, S.E., M.SI. (Direktur Pembiayaan Syari’ah Kementrian Keuangan Republik Indonesia) yang memaparkan tentang Pengelolaan Sukuk di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Dr.M.Shabri Abd.Majid, S.E., M.Ec. (Ketua Program Studi Ekonomi Islam FEB Unsyiah) yang membahas terkait Pengelolaan Sukuk dari Sudut Pandang Islam dan Teori tentang Sukuk.

Mewakili Dekan FEB Unsyiah, Dr.Aliasuddin, S.E., M.Si. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dalam pembukaannya menyampaikan bahwa “Kuliah Umum ini merupakan kerja sama yang sangat dibutuhkan mahasiswa dan menjadi point dari Akreditasi. Salah satu kelemahan Indonesia saat ini adalah terlalu banyaknya uang deposito yang disebut uang mati dan bagi perekonomian sangat merusak. Karena uang tidak produktif berarti dia tidak bisa menunjang proses produksi, kalau dibeli ke Sukuk bisa merubah fungsinya menjadi lebih produktif.

“Di mata Internasional, Indonesia merupakan negara dengan penerbit Sukuk paling banyak, tapi Sukuk Korporasi di Indonesia tergolong sangat lambat dibandingkan dengan negara lainnya seperti Malaysia, Afrika Utara, dan Inggris. Juga masih banyaknya hambatan investor untuk berinvestasi, seperti permasalahan birokrasi dan infrastruktur” ujar Heri Aryanto dalam materinya.

Shabri Abd.Majid juga menjelaskan “Sukuk merupakan investasi yang sudah sesuai dengan prinsip syariah, karena dia bukan merupakan surat hutang. Bisnis dan Investasi haruslah terbebas dari unsur-unsur MAGRIB, yaitu: Maysir, Aniaya, Gharar, Haram, Riba, Iktinaz, Ikhtikar dan Batil. Karena semua unsur tersebut tidak sesuai syari’ah.
Pada acara kuliah umum ini, juga Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Kementrian Keuangan Indonesia diberikan kesempatan untuk memberikan pemaparan mengenai proses dan prosedur untuk mendapatkan peluang kerja di lingkungan Kemenkeu dan juga menyediakan booth khusus untuk para mahasiswa yang ingin bertanya lebih jauh, salah satunya mengenai program beasiswa dari pemerintah Indonesia yakni Kementrian Keuangan Indonesia, yaitu beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) (FAA).

Editor: Dimas

Fakultas Ekonomi Unsyiah Siap Distribusikan Jas Almamater Untuk Mahasiswanya

Almamater Mahasiswa Unysiah (Ilustrasi)

Almamater Mahasiswa Unsyiah (Ilustrasi)

Darussalam – Jas almamater Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) untuk angkatan 2014 yang sempat mengalami kendala akhirnya sudah didistribusikan ke fakultas-fakultas yang ada di Unsyiah, Rabu (24/2). Jumlah jas almamater yang diterima oleh pihak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah sebanyak 5400 jas yang kemudian didistribusikan ke fakultas-fakultas yang ada di Unsyiah.

Pihak BEM Fakultas Ekonomi (FE) juga telah menerima almamater yang didistribusikan melalui BEM Unsyiah. Pembagian jas almamater di Fakultas Ekonomi sendiri juga tidak lepas dari peran pihak Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) untuk mendata ukuran dan jumlah jas almamater. Selanjutnya, pihak BEM FE akan langsung membagikan jas almamater kepada mahasiswa.

Walaupun pihak BEM FE belum mengklarifikasi kapan tepatnya jas almamater akan didistribusikan langsung ke mahasiswa angkatan 2014, namun kabar pendistribusian jas almamater ini tetap membawa suka cita bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2014 yang aktif maupun non-aktif berorganisasi dalam kampus, mengingat betapa pentingnya peran jas almamater untuk mengikuti acara-acara di kampus yang dirasakan oleh mahasiswa angkatan 2014 yang aktif dalam organisasi.

BEM FE Unsyiah dalam kesempatan ini berharap agar kedepannya pihak rektorat Unsyiah dapat menyelesaikan jas almamater untuk untuk angkatan 2015, dapat dilakukan secepatnya, supaya kesalahan kesalahan yang terjadi tahun 2014 tidak terjadi lagi. (Feb/Lis)

Editor: Dimas