Hati-Hati Millenials, Media Sosial Bisa Jadi Pemicu Depresi

Illustrasi oleh Tematem.co

Banda Aceh – Di zaman serba teknologi ini, perubahan dapat terjadi begitu cepat. Media sosial berperan penting dalam proses penyebaran informasi, tapi juga bisa berdampak sebagai pemicu depresi yang kebanyakan dirasakan oleh generasi millenial.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), menunjukkan bahwa media sosial ternyata dapat menjadi bumerang bagi penggunanya dan menyebabkan gangguan mental hingga depresi. Penyebaran informasi tanpa batas membuka ruang bagi segala jenis konten tersebar luas di dunia maya.

“Kalau terlalu banyak informasi yang masuk tanpa difilter, ini adalah salah satu yang menyebabkan stress,” jelas Prof. Siswanto Agus Wilopo, seorang pakar kesehatan masyarakat UGM.

Ia juga menjelaskan bahwa tekanan yang terjadi di media sosial adalah tentang persepsi yang dibangun di dunia maya seperti standar kecantikan, gaya hidup dan hal yang secara tidak langsung menyebabkan ketidakpercayaan diri bagi orang lain.

Media sosial seringkali dijadikan sebagai sarana memunculkan foto diri untuk dipamerkan kepada pengikutnya di dunia maya. Namun sifat narsistik yang timbul dengan penggunaan media sosial secara berlebihan, tentu akan mudah mengganggu kesehatan mental penggunanya.

Tidak jarang, pengguna media sosial akan terus dihantui dengan kecemasan seperti ‘bagaimana jika tidak ada yang menyukai postingan saya?’ atau ‘bagaimana saya tau kabar orang lain jika tidak membuka medsos?’.

Namun Prof. Siswanto juga memiliki kiat untuk tidak mudah terpengaruh pada efek negatif yang ditimbulkan media sosial.

“Dalam hal ini kuncinya adalah ketahanan dari masing-masing individu, bagaimana kita menghadapi informasi yang buruk dan tidak membiarkannya mempengaruhi diri kita,” jelasnya.

Prof. Sofia Retnowati, ahli psikologi klinis mengatakan bahwa gejala depresi yang disebabkan oleh media sosial dapat dilihat dari perubahan perilaku seperti sulit konsentrasi dan lebih menutup diri.

“Saat ini orang bisa duduk bersama tapi sibuk dengan gadget. Hal ini yang seharusnya dihindari,” kata Sofia. (Jauhar/Dikutip dari artikel ugm.ac.id)