Bingung Lapor SPT melalui e-Filling? Kini Tax Center Hadir di Prodi Perpajakan

 

Para Wajib Pajak melakukan Registrasi di Tax Center Prodi DIII Perpajakan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Unsyiah (Kamis, 21/03)

Darussalam– Nyatanya, segala inovasi terus berkembang di negara milenial ini buat segala kecanggihan terus  bergerak dalam lingkup masyarakat maupun kampus. Sama seperti halnya yang dijalankan oleh prodi Perpajakan FEB Unsyiah yang kini miliki Tax Center yang berada langsung di dalam Gedung prodi perpajakan.  Terhitung sejak Rabu (20/03) kemarin tempat tersebut  ramai dikunjungi para WP  (Wajib Pajak) dari berbagai kalangan, mulai dari dosen FEB, dosen Unsyiah, Mahasiswa/i dari berbagai Fakultas, hingga masyarakat umum yang ingin menuntaskan kewajiban pajak sebelum masa SPT tahunannya berakhir.

Bedanya lagi, tahun lalu Tax Center ini hanya dibuka untuk para Wajib Pajak (WP) dilingkup Unsyiah saja, namun tidak dengan tahun ini yang bekerja sama langsung dengan Direktor Jendral Pajak (DJP).  Pojok-pojok tempat pembayaran pajak pun banyak tersebar disekitaran Banda Aceh sampai ke Aceh Besar, sehingga mahasiswa yang dibutuhkan sebagai relawan pajak pun makin banyak. Tercatat tahun ini 51 mahasiswa dari berbagai jurusan menjadi tenaga asistensi, yang tentunya sudah disaring dan melewati tes leveling.

Dr. Nuraini A, S.E., M.Si., Ak., CA  selaku ketua Prodi D3 Perpajakan juga mengharapkan penuh atas adanya Tax center ini. “Harapannya mahasiswa dapat meningkatkan kompetensi praktis dalam perpajakan sehingga mereka sudah tau bagaimana memberikan asistensi untuk penyampaian SPT melalui E-filling” Pungkasnya.

Sudah sepatutnya warga Indonesia wajib menyampaikan dan melaporkan SPT melalui e-Filling agar inovasi yang sudah dibangun dapat terealisasikan dengan seefektif dan efesien mungkin. Untuk itu, silahkan luangkan waktu anda untuk  datang ke Tax center FEB Unsyiah karena hanya dibuka selama 3 hari terhitung mulai 20 s.d 22 maret 2019. Wajib pajak harus sadar pajak. (lut)

Tingkatkan Kepatuhan dalam Pajak, Wajib Pajak Harus Sadar dan Patuh

ilustrasi : Vanna

Kesuksesan suatu bangsa bisa tercerminkan dari pemerataannya kesejahteraan masyarakat dan pembangunan. Untuk menjalankan pemerataan tersebut pemerintah membutuhkan dana yang tentu jumlahnya tidak sedikit pula. Dana dikumpulkan dari berbagai sektor sumber daya yang dimiliki. Sumber daya meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia dan iuran dari masyarakat. Salah satu bentuk iuran dari masyarakat ialah pajak. Pajak adalah iuran wajib masyarakat indonesia yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang tanpa mendapatkan imbalan secara langsung semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat (Resmi, 2017: 2)

Pajak merupakan sumber dana terbesar di Indonesia yang sangat berperan penting bagi pembangunan. Melalui penerapan sistem self assesment pemerintah memberikan wewenang penuh bagi wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya dalam bidang perpajakan. Artinya wajib pajak dituntut untuk berperan aktif dalam melaksanakan kewajibannya mulai dari mendaftarkan diri, menghitung, melunasi pajak yang terutang hingga melaporkan pajak menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) dengan benar, jujur dan lengkap.

Wewenang penuh tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap sadar akan kewajiban perpajakan dan sikap patuh akan peraturan perpajakan yang berlaku didiri wajib pajak itu sendiri. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mencapai pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Namun pada kenyataannya kesadaran dan kepatuhan untuk melaksanakan kewajiban peerpajakan tidak tumbuh secara instan didalam diri wajib pajak. Dewasa ini pajak merupakan sesuatu hal yang harus dipahami dengan baik. Mengingat semua transaksi yang terjadi berkaitan erat dengan pajak. Pajak merupakan bagian inti dalam perekonomian. Sehingga tidak hanya wajib pajak melainkan semua msayarakat Indonesia secara tidak langsung maupun langsung akan selalu berurusan dengan administrasi perpajakan. Kesadaran dan pemahaman akan pajak begitu penting untuk menciptakan wajib pajak yang patuh.

Dalam pelaksanaan manajemen perpajakan dibidang bisnis, umumnya para pengusaha berusaha untuk meminimalkan beban pajak untuk mengoptimalkan laba. Guna terciptanya hal tersebut sebuah perusahaan harus memiliki sumber daya manusia yang selanjutnya disebut sebagai wajib pajak yang memiliki sikap sadar, patuh dan paham akan kewajiban dan peraturan-peraturan dibidang perpajakan. Hanya wajib pajak yang memiliki sikap tersebutlah yang dapat memanfaatkan celah didalam peraturan perpajakan untuk meringankan beban pajak. Pemanfaatan celah pajak yang dimaksud tentunya tidak melanggar undang-undang perpajakan. (Mifta Septia Ningsih/ Institut STIAMI)