Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus

Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus (Foto:Syawal/Perspektif)

Darussalam – Manusia pada dasarnya menginginkan hidup bersih dan bebas dari semaknya tumpukan sampah.  Sebab “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”. Begitulah kalimat yang menjadi motivasi manusia untuk terus hidup sehat dengan lingkungan yang bersih.

Berbicara mengenai kebersihan, minggu (08/04) UKM PA-LH METALIK FEB Unsyiah mengadakan kegiatan yang bernama “DARLING” atau Sadar Lingkungan”.  Acara ini merupakan agenda runtin, untuk tahun ini acara tersebut dilaksanakan diseputaran kampus Ekonomi dan Gedung PDPK. Pada pukul 10.00 WIB acara resmi dibuka oleh Bapak Murkhana,SE.,MBA selaku wakil dekan III FEB Unsyiah.

“Kegiatan ini yang penting dilakukan secara beretika dan bermoral dan tidak melakukan sesuatu yang mencemari kampus ini, Kami bangga dan kami dukung kegiatan ini,” papar beliau dalam sambutannya.

Dengan mengusung tema “Menjadikan FEB Unsyiah Bersih dan bebas sampah” turut mengundang keluarga besar FEB yang berasal dari UKM dan HMJ serta DPM dan BEM. Darling merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan pada kegiatan Economic Student Day.

Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus (Foto:Syawal/Perspektif)

Kegiatan ini bertujuan untuk menyambung silahturahmi antar seluruh keluarga besar FEB Unsyiah serta menumbuhkan rasa peduli lingkungan pada kampus tercinta ini. Dikarenakan terlalu banyak sampah yang berserakan di kampus kuning. Hal tersebut pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mahasiswa/i dan civitas akademik yang juga berada dilingkungan kampus. Diyakini bahwa Darling merupakan wadah yang tepat dalam mewujudkan kampus yang lebih bersih, rapi, dan nyaman.

“Dengan keadaan kampus seperti ini, Kami sebagai UKM pecinta alam tidak nyaman. Karena kampus ini bukan hanya tempat belajar saja, Juga tempat kita tinggal apalagi kami mapalanya. Yang sering beraktifitas dengan alam maka kami juga harus menjaga alam kami,” pungkas syahrial selaku ketua panitia.

Dalam harapnnya, Ia mengatakan setelah berlangsungnya kegiatan Darling ini, mahasiswa-mahasiswa lebih sadar akan lingkungannya. Sebab jika bukan kita yang menjaga siapa lain. Jika lingkungan kotor akan menghambat terhadap keberlangsungan proses belajar dan akan terciptanya kondisi tidak nyaman.

Sadar lingkungan kuncinya. Mulai dari kita dan untuk kita. Sampah harus diminimalisir. Karena sanpah bukan warisan anak cucu kita. (Wal,Spm)

Bersama BEI dan RHB Sekuritas, FEB Unsyiah Hadirkan Kembali Galeri Investasi

 

Bersama BEI dan RHB Sekuritas, FEB Unsyiah Hadirkan Kembali Galeri Investasi (Foto: Perspektif)

Darussalam – Rabu (21/3) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah bersama Bursa Efek Indonesia dan PT RHB Sekuritas Indonesia adakan Re-launching Galeri investasi BEI FEB Unsyiah Di Balai sidang Fakultas ekonomi dan bisnis Unsyiah.

Turut hadir pula Rektor Unsyiah Prof Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prof. Dr. Nasir Azis, SE., MBA, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan, Direktur PT RHB Sekuritas Indonesia Hendy Salim. Beserta jajaran civitas akademika FEB Unsyiah.

Sebelumnya pada tahun 2011 dan 2014 FEB Unsyiah pernah memiliki galeri investasi namun sempat vakum. Kali ini dengan menggandeng perusaan sekuritas yang baru yakni RHB sekuritas FEB Unsyiah bersama BEI adakan Re-launching Galeri Investasi BEI FEB Unsyiah.

Direktur Pengembangan Bursa Efek indonesia menjelaskan bahwa galeri investasi ini merupakan bentuk kerja sama antara bursa efek indonesia, perusahaan sekuritas dan perguruan tinggi yang bertujuan mendorong agar masyarakat kampus bisa belajar mengenai investasi bahkan hingga menjadi investor.

Saat ini ada di seluruh Indonesia sudah berdiri 353 galeri investasi dan untuk wilayah aceh sendiri sudah tersebar 10 galeri investasi. Namun untuk lingkungan Unsyiah sendiri, Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi kampus pertama yang mempunyai galeri investasi. Nicky Hogan juga menjelaskan bahwa Tak ada kriteria khusus bagi perguruan tinggi yang ingin mendirikan galeri investasi. “terbuka bagi semua fakultas tak hanya FEB saja, Yang paling utama adalah tekad dari kampus untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa,” ujarnya.

Dengan adanya realunching ini di harapkan dapat menimbulkan kerjasama yang baik antar pihak kampus, BEI dan perusahaan sekuritas untuk dapat meningkatkan kembali investasi di pasar modal Banda Aceh.

Juanda SE, M.Sc selaku ketua dari galeri investasi FEB Unsyiah mengatakan dengan aktif kembali galeri investasi ini bahwa selain sebagai tempat untuk investasi juga akan mengadakan edukasi mengenai pasar modal kepada civitas akademika dan masyarakat umumnya.

Beliau juga mengatakan hal ini dapat menjadi aplikasi dan wadah terhadap ilmu yang sudah di dapat kan di kampus. ”Saya berharap ilmu yang sudah kita dapatkan di bangku kuliah terutama ilmu investasi saham dapat di aplikasikan di galeri investasi ini,” ucapnya.

Selain acara simbolis pemotongan pita dan penandatanganan piagam kerjasama galeri investasi untuk pertama kalinya mengadakan seminar pasar modal. Dengan mengusung tema ‘Investasi Cerdas di Pasar Modal’ diharapkan agar mahasiswa unsyiah yang nantinya serius mempelajari ilmu ini dapat bersaing secara cerdas baik itu lokal ataupun level nasional. Selain itu seminar ini juga berefek terhadap terbukanya wawasan mahasiswa dalam dunia pasar modal. Tak tanggung- tanggung seminar juga diisi langsung oleh Nikcy Hogan direktur BEI dan juga Hendy Salim direktur PT RHB sekuritas indonesia sebagai pembicara.

Mahasiswa yang mengikuti rangkaian acara sangat antusias. Hal ini dapat dinilai dari keikut sertaan mereka dan aktif bertanya yang juga berhadiah tabungan modal senilai ratusan ribu rupiah. (Hb)

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah?

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah? (Foto : google)

Bercadar merupakan suatu hal yang sudah tidak asing lagi terutama di kalangan civitas akademika FEB Unsyiah. Tak sedikit pula dari jumlah mahasiswi yang menggunakan cadar. Tentunya bagi mereka yang menggunakan cadar punya alasan dan tujuan yang kuat.

Tujuan utama mereka bercadar ialah untuk menutup aurat. Melindungi diri dari tindak asusila serta terhindar dari fitnah. Jika ditinjau dari tujuannya menggunakan cadar merupakan suatu hal yang positif dan merupakan salah satu anjuran menurut agama Islam. Namun mengapa sebagian masyarakat masih saja beranggapan bahwa mereka yang bercadar tergolong kaum radikal.

Seperti halnya kejadian yang baru-baru ini terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dimana pihak kampus sendiri mengeluarkan peraturan yang melarang mahasiwanya untuk bercadar. Tentu hal  ini menuai banyak aksi protes dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi mahasiswa (Ormawa), organisasi masyarakat (Ormas), ulama, serta MUI.

Aturan yang dibuat ini dinilai sebagai bentuk tindakan preventif untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme, “Kami melihat gejala itu, kami ingin menyelamatkan mereka, jangan sampai mereka didoktrin sehingga mereka menjadi korban dari gerakan-gerakan radikal itu,” ujar Yudian Wahyudi selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga. (Sumber: BBCIndonesia)

Tak itu saja, selain alasan pencegahan dari radikalisme terdapat pula alasan lain, yaitu Pedagogis. Mahasiswi yang menggunakan cadar dianggap mempersulit kegiatan pengajaran di kampus, dosen pengajar mendapati kesulitan dalam mengenal identitas mereka karena wajah mereka yang tertutup.

Lantas bagaimana dengan universitas lain yang tidak melarang mahasiswinya untuk bercadar, bukankah sejauh ini tidak ada masalah yang muncul terkait penggunaan cadar?

Untuk Unsyiah khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri yang terletak jelas di provinsi yang merupakan mayoritasnya penduduk kaum muslim, tidak ada aturan khusus yang mengatur penggunaan cadar selagi itu tidak mengganggu kenyamanan bersama.

Menanggapi permasalahan larangan penggunaan cadar ini, pihak kampus sendiri tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga. Karena sadar bahwa bercadar merupakan salah satu bentuk dari menutup aurat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana dosen FEB  yang ikut berkomentar.

“Saya pribadi tidak pernah melarang mahasiswi untuk bercadar karena itu adalah hak mereka dan berkaitan dengan agama jadi sama sekali tidak bisa kita sentuh,” jelas salah satu Dosen Ekonomi Pembangunan, Fitriani,S.E.,M.Sc.

Sampai saat ini dosen FEB  mengaku tidak pernah mendapati kesulitan yang disebabkan oleh mahasiswi yang bercadar. Apalagi sampai kesulitan dalam hal berinteraksi serta tidak pernah menemukan salah satu dari mereka pengguna cadar yang menganut paham radikal,

Dapat dikatakan bahwa anggapan mereka yang memakai cadar adalah anggota teroris atau kelompok radikal merupakan suatu anggapan yang salah dan tidak mendasar.

“Jika tindakan pencegahan radikalisme dijadikan sebuah alasan maka kalau begitu kelompok radikal ini bisa dari siapa saja, tak hanya dari yang bercadar ini, dan juga saya mempunyai mahasiswa yang bercadar dan juga beberapa dosen lainnya, Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah dalam berkomunikasi maupun lainya, karena walaupun mereka bercadar saya tetap bisa mengenali mereka melalui suara,” tambahnya. (Sal, AH)

UU MD3 : Kriminalitas terhadap Demokrasikah?

UU MD3 :Kriminalitas terhadap Demokrasikah? (Mevi/Perspektif)

Darussalam- Rakyat Indonesia kembali dibuat bingung oleh pemerintahan. Hal ini terkait dengan pengesahan UU MD3 oleh Menteri Hukum dan HAM pada 14 Maret 2018 tanpa ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo. Dikarenakan adanya pasal yang mengarah kepada kriminalitas demokrasi.

UU MD3 ( Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD) merupakan undang-undang yang dibuat untuk melindungi anggota dewan dari upaya hukum yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). UU MD3 melindungi para anggota dewan dalam tiga tindak pidana khusus, yakni korupsi, terorisme, dan narkoba.

Undang-Undang nomor 17 tahun 2017 tentang  MPR, DPR, DPD, DPRD (UU MD3) ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) dan mendapatkan penomoran dalam lembaran negara pada tanggal 14 Maret 2018, seiring dengan batasan 30 hari presiden Jokowi tidak menandatangani surat tersebut. Hati bertanya, apakah presiden dan rakyat Indonesia ini sungguh setuju dengan pengesahan tersebut?.

UU MD3 sudah menuai polemik karena mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Anggota dewan kian dibuat tak tersentuh dan kebal hukum dari tindak pidana khusus. Ketidaksesuaian itu timbul dari tiga pasal, yakni: pasal 73, pasal 122 dan pasal 245.

Pasal 73 mengatur tentang tentang wajib menghadirkan seseorang dalam rapat di DPR atas bantuan aparat kepolisian. Pasal 122 huruf k, yang mengatur kewenangan MKD (Mahkamah kehormatan Dewan) menyeret siapa saja (perseorangan, kelompok, atau badan hukum)  ke ranah hukum jika melakukan perbuatan yang patut diduga merendahkan martabat DPR dan anggota DPR. Dan pasal  245 mengatur tentang anggota DPR tidak bisa dipanggil aparat hukum jika belum mendapat izin dari MKD dan izin tertulis dari presiden. Izin MKD diganti dengan frase “ Pertimbangan” (Revisi UU MD3).

Selain itu  dalam ayat 6 pasal pasal 73 , polisi berhak menyandera pihak yang menolak hadir diperiksa DPR paling lama 30 hari, ketentuan penyanderaan akan dibakukan dalam peraturan kapolri.

Dari isinya, UU MD3  dianggap sangat substantif karena bertentangan dengan UUD 1945.

Banyak Mahasiswa yang berdatangan mendatangi “tempat suci” negara hukum ini. Mahasiswa melakukan aksi demo sebagai tanda aksi penolakan. Bahkan beberapa pihak telah mengajukan gugatan mereka ke Mahkamah Konstitusi.

Lalu, apa yang mendorong mereka melakukan aksi penolakan terhadap kelola hukum di Negeri ini  ?.

Sesuai dengan kata mereka, negara yang hebat itu adalah negara yang mau mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ketika orang bebas berbicara, mengkritik, mengeluarkan pendapat, ini dapat dijadikan sebagai evaluasi apa yang dirasakan masyarakat terhadap kinerja DPR, sesuai dengan prinsip demokrasi ( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Pada saat kebebasan itu dibatasi, tidak ada lagi namanya evaluasi dan perbaikan sehingga negara ini hanya jalan ditempat saja.  Bahkan kembali ke masa dulu, pada zaman orde lama. Lantas, kemanakah makna demokrasi yang menjadi identitas negara ini?.

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan negara kita selama beberapa periode. Sungguh disayangkan jika kasus ini mengakibatkan ketidak adilan untuk rakyat dan membuat maknanya bobrok karena terserang kriminalitas secara tidak langsung. Demokrasi adalah pilihan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan sistem bernegara, sistem bermasyarakat yang lebih baik dan sejahtera. Jika ini terlampau terjadi, rakyat tentunya ingin pemerintah berkaca kembali.

Berbicara mengenai demokrasi, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) juga turut memberikan pendapat.

“Dari beberapa headline yang saya baca, jujur saya khawatir terhadap hal ini. Karena ada beberapa pasal yang membahayakan kebebasan berpendapat. Misalnya pemanggilan paksa karena dianggap melawan mereka. Tapi pemberitaannya cuma fokus ke yang buruk-buruk aja. Kita gak tau apakah ada yang bagus disitu,” ujarnya.

Namun, alangkah bagusnya jika pemerintah mempertimbangkan peraturan yang akan diberlakukan agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Sepatutnya pemerintah mereview kembali dari mana asal kedudukan yang mereka dapatkan. Jika tidak siap dikritik dan menerima pendapat dari rakyat, untuk apa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat yang pada hakikatnya menyuarakan rakyat.

Rakyat berhak berkomentar dan memberi pendapat. Toh pada faktanya rakyat hanya mengomentari kesalahan, keteledoran serta penyelewengan. Selama tidak melakukan hal tersebut, apa yang ditakutkan?.

“Seharusnya peraturan itu untuk mensejahterakan rakyat, bukan membatasi hak-hak rakyat. Dan juga DPR bertugas mendengarkan aspirasi rakyat bukan malah membungkam rakyat.” Tambah mahasiswa lainnya.

UU MD3 perlu direvisi kembali. Rakyat menginginkan hal itu terjadi. Harapan akan kebijakan dari Presiden Rakyat Indonesia untuk mengeluarkan Perpu pun dinantikan. Demokrasi negara kita adalah demokrasi pancasila, bukan demokrasi kriminalitas. (Sul,Frz)

Upgrading HMM 2018, Ciptakan Semangat Menuju Kejayaan

Upgrading HMM 2018, Membentuk Semangat Menuju Kejayaan (Foto: Fahmi/Perspektif)

Darussalam – (17/3) Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) FEB Unsyiah mengadakan Upgrading 2018 dengan mengusung tema “Bersatu Menuju Kejayaan”. Acara ini merupakan acara tahunan yang mempunyai tujuan untuk membuka cakrawala pemikiran aneuk manajemen. Bertempat di balai sidang FEB Unsyiah, acara ini juga turut dihadiri oleh pemateri – pemateri dari pendiri dan alumni HMM sebelumnya.

Irsyad Yusfiari selaku ketua panitia Upgrading HMM 2018 menjelaskan bahwa Upgrading ini adalah salah satu program dari HMM dan untuk membangun kapasitas anak manajemen dan membangun kebersamaan terhadap anggota.

“Acara upgrading tahun ini pun kita memberikan motivasi – motivasi agar mahasiswa kita ini dapat berorganisasi dan berbicara sedikinya lebih baik serta upgrading ditahun ini merupakan spesial karena ditahun kemaren upgrading tidak terlaksana dan ditahun ini mulai terlaksana kembali acara ini,” jelasnya.

Selain sebagai sebuah wadah untuk kepengurusan HMM 2018, acara juga diselingi diselingin dengan game – game menarik yang langsung dibuat oleh pemateri tersebut dan sesi tanyak jawab.

“Dampak dari terselenggaranya acara upgrading ini sangat banyak apalagi untuk anggota baru 2017 diharapkan agar lebih sering berkontribusi terhadap HMM,” tambah irsyad.

Salah satu pemateri dari upgrading HMM 2018 adalah bapak Ammar Fuad SE, MM yang juga merupakan mantan ketua HMM periode 2005 – 2006 dan pernah menjabat sebagai ketua BEM FEB Unsyiah di periode 2006-2007.

“Saya melihat ini adalah sekumpulan anak – anak muda yang notabene semangat muda yang membuat perubahan terutama dimahasiswa manajemen dan mahasiswa ekonomi keseluruhannya. saya melihat semangat baru dan harapan saya besar sekali kepada adik – adik untuk menjaga himpunan manajemen yang sebelumnya dibangun oleh pendahulu – pendahulunya,” pungkas Ammar. (Mi,La)

ASENeT 2018 : Berangkat dari Ekonomi Kreatif

ASENeT 2018 : Berangkat dari Ekonomi Kreatif (Foto: Susilo/Perspektif)

Darussalam – Asean Student Entrepreneurship Network (ASENeT) sukses dihelat di gedung AAC Dayan Dawood (15/3). Acara bertaraf Internasional yang diselenggarakan dua kali tersebut resmi dibuka oleh Dr. Iskandarsyah, S.E., MM. diikuti Rektor Universitas Syiah Kuala, dan Dr. Muhammad Dimyati.

“ASENeT adalah sebuah kegiatan dibidang kewirausahaan yang sudah kita mulai pada 2016 di Universitas Sains Malaysia dan di acara kedua kali ini kita berkesempatan menjadi tuan rumahnya,” ucap Iskandarsyah selaku ketua panitia ASENeT 2018.

Dalam pidato pembukaannya Rektor Universitas Syiah kuala menegaskan bahwa kita harus mendorong Entrepreneur agar menjadi bagian yang mempunyai kontribusi dalam membangun ekonomi. “Ekonomi Kreatif harus menjadi sorotan untuk ASEAN,” tambahnya.

“Pesan pak Jokowi kita harus menjadi pisat pendidikan teknologi dan peradaban di dunia, semua itu berangkat dari ekonomi kreatif”. Sambung Dr. Muhammad Dimyati, perwakilan dari Menristekdikti.

Acara pembukaan konferensi diikuti oleh mahasiswa baik lokal dan Internasional serta beberapa masyarakat lainnya. Di balik kegiatan tersebut, Expo yang telah dibuka terlebih dahulu (14/3) makin terlihat ramai oleh pengunjung. Deretan stan yang diisi oleh berbagai Universitas dan instansi seperti Inkubator, Universitas Sains Malaysia, Universitas Andalas, SOS children Village, BQ Darul Mizan, Universitas Negeri Riau, Universitas Teuku Umar, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret, dan lain-lain.

“ASENeT tahun ini sangat meriah, so boleh kenal negara orang di Aceh dan boleh kenal dekat lagi dengan usahawan-usahawan Indonesia. First impression saya, yang menarik yang buat saya kagum ialah dia punya sistem sangat cepat dalam tangani kebutuhan acara,” ucap Siti Nurul Aishah Awang yang merupakan delegasi dari Malaysia.

ASENet kedua tahun ini diharapkan dapat membawa pengaruh positif yang besar bagi semua kalangan dalam berwirausaha. Kini saatnya menjalin relasi dengan teman-teman internasional. (Mev, lo).

Band Indie Ibukota Meriahkan Acara LOZCAFEST 2017

Band Indie Ibukota Meriahkan Acara LOZCAFEST 2017 (Iqbal/Perspektif)

 

Darussalam – LOZCAFEST 2017 berhasil digelar di Pantai Cemara Lampuuk (24/4). Acara yang merupakan acara puncak perayaan anniversary OZ Radio Banda Aceh ini dihadiri oleh berbagai kalangan muda kota Madani.

LOZCAFEST merupakan event festifal musik indie yang pertama kali digelar di Banda Aceh. OZ Radio Banda Aceh berkolaborasi dengan Go Ahead People Banda Aceh ini menggabungkan seni dan alam bebas menjadi satu.

Dalam acara yang digelar di tepi pantai ini mengundang sejumlah band Indie terbaik Ibukota. Sebut saja Kelompok Penerbang Roket, Elephant Kind hingga DJ Dipha Barus turut memeriahkan rangkaian acara LOZCAFEST 2017.

“(Acara) ini adalah acara yang luar biasa dengan konsep seni dan alam bebas pertama di Aceh. Senang bisa ikut dalam acara ini” sebut salah seorang penonton.

Band Indie Ibukota meriahkan acara LOZCAFEST 2017 (Jauhar/Perspektif)

Selain band Indie Ibukota, acara ini turut diisi oleh sejumlah band hits di Banda Aceh seperti Threemore, Killa The Phia dan sejumlah band asli bentukan anak Aceh turut memeriahkan acara ini.

LOZCAFEST 2017 juga diisi oleh sejumlah stand makanan, games hingga brand pakaian lokal pun turut hadir untuk memanjakan pengunjung yang datang.

Pengunjung juga dapat mencoba berkreasi dengan *face painting* oleh komunitas lukis Akar Imaji. Selain itu, pengunjung juga bisa mendapatkan merchandise band-band yang tampil di stand OZ Radio Banda Aceh (Jr)

Mahasiswa KKN – PPM 10 Unsyiah dan LPN Gelar Saweu Nusa

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

KKN PPM 10 Unsyiah Gelar Saweu Nusa (Dokumentasi KKN PPM 10)

Aceh Besar – Sebanyak 37 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Program Pengabdian Masyarakat 10 (KKN-PPM 10) periode 11 tahun 2016 Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan acara promosi potensi wisata Gampong Nusa yang bertajuk “Saweu Nusa” bersama Lembaga Pariwisata Nusa (LPN). Acara ini dilaksanakan pada hari minggu, 28 Agustus, di Gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar.

Saweu Nusa ini diselenggarakan untuk mempromosikan Gampong Nusa yang memiliki banyak potensi wisata di dalamnya. Beberapa diantaranya adalah ekowisata, wisata kreatif berupa pengolahan sampah organik dan non-organik, dan wisata budaya serta kuliner khas Aceh.

“Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan wisata Gampong Nusa melalui program – program yang telah dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM 10 di Gampong Nusa selama satu bulan,” Kata Muhammad Furqan, ketua KKN PPM 10.
Furqan berharap semoga kedepan Gampong Nusa ini lebih sukses dan berkembang dalam hal wisata.

Adapun pelaksanaan Saweu Nusa dimulai dengan presentasi promosi potensi desa oleh LPN dan pemutaran video promosi wisata yang dibuat oleh mahasiswa KKN-PPM 10 Unsyiah. Selanjutnya, acara dilaksanakan dengan kegiatan ‘Wet-Wet Gampong’, yaitu mengunjungi bank sampah, pengolahan barang bekas oleh Nusa Creation Community (NCC), dan keliling kampong. Selain itu, even ini dimeriahkan dengan penampilan seni yang terdiri dari Rapa’i Geleng, Laweut, dan Ranup Lampuan dari komunitas seni Al – Hayah dan simulasi 3 macam permainan tradisional, serta pengumuman lomba photo booth Instagram.

Acara tersebut dihadiri oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Duta Wisata, Agen Travel yang berada di kawasan Banda Aceh, dan juga stakeholder yang terkait dengan pariwisata. Selain itu, Beberapa komunitas yang tergabung dalam Forum Kolaborasi Komunitas (FKK) Banda Aceh, jajaran pemerintah Kabupaten Aceh Besar, dan awak media juga turut diundang dalam acara ini.(Rio/DeTak)

Menggerakkan Perubahan Mahasiswa, iESA Gelar Pelatihan Penulisan Essai

Acara Workshop Penulisan Essai iESA (Fitri/Perspektif)

Darussalam – Islamic Economics Students Association (iESA) sebagai Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) termuda di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah menyelenggarakan acara Pelatihan Penulisan Essai (PPE) sebagai program kerja pertama tahun ini pada Sabtu, (23/4/2016) di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala. Acara yang bertema “Menuangkan Idealisme melalui Penulisan Esai untuk Menciptakan Perubahan” ini diikuti oleh 60 peserta internal. Dihadiri oleh delegasi dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Unit Kegiatan Mahasiswa FEB Unsyiah dan Aminullah Usman, S.E.,A.k.,MM selaku ketua MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) Aceh.

Laporan Ketua Panitia sekaligus kata sambutan disampaikan oleh Haikal Saputra selaku Ketua Umum iESA, ia sangat berharap agar acara ini mampu membuat mahasiswa lebih aktif. “Acara PPE ini dibuat agar mahasiswa mampu lebih aktif melalui tulisan, terpenting mahasiswa dari Ekonomi Islam agar mampu menulis dan menggerakkan perubahan Ekonomi Islam”, katanya.

Dr. M. Shabri Abd.Majid, M.Ec selaku Ketua Jurusan Ekonomi Islam mengatakan, beliau dikenal oleh Rektor Universitas Syiah Kuala saat menjadi mahasiswa karena menulis. Besar harapannya agar mahasiswanya mampu menulis dan tulisannya dimuat di media untuk ajang promosi jurusan Ekonomi Islam yang baru berjalan 2 tahun lebih. Sebagai bukti kerjasama antara MES Aceh dan iESA, Ketua Jurusan Ekonomi Islam, Shabri memberikan jurnal Ekonomi Islam kepada Aminullah serta penandatangan MoU.

“Jika dulu mahasiswa mampu menurunkan Presiden dengan menduduki gedung DPR setelah satu dekade lewat, mahasiswa sekarang tentu berbeda dalam penyampaian aspirasinya. Salah satunya dengan tulisan, mahasiswa mampu menuangkan ide dan pendapatnya. Semoga salah satu cara agar itu bisa terwujud yaitu dengan dilaksanakannya acara PPE ini”, tambah ketua devisi Litbang, Ilham. (Ftrdafya)

Editor: FAA

Demisioner Hantam EKA 12 Dengan Skor 2-0

S__13844844

Tim Demisioner Himaka sebelum bertanding melawan EKA 12 (12/4/2016) (Foto: Dok. Panitia)

Darussalam – Pada cabang bola kaki Himaka Sport Olympics (HISO)2016, hari ini (12/4/2016) tim Demisioner berhadapan dengan tim EKA 12. Ada yang tak biasa pada bertandingan hari ini, yakni tim dari Demisioner diperkuat oleh Aminullah Usman (Mantan Direktur Utama PT. Bank Aceh dan Alumni Akuntansi). HISO 2016 sendiri telah berlangsung selama  10 hari sejak resmi dibuka di Zidane Futsal (2/4/2016) lalu.

Pertandingan berlangsung alot pada babak pertama, hingga peluit babak pertama skor masih menunjukkan telur bebek. Diperkuat dengan anggota demisioner antar leting lainnya, serangan demi serangan dilancarkan. Skor 1-0 dicetak oleh Khairizal (Wak Jal) melalui tendangan pinalti, Demisioner unggul satu angka. Pada babak kedua, Aminullah barulah memasuki lapangan dengan mengenakan seragam tim Demisioner berwarna merah muda.

230609a

Aminullah saat bermain memperkuat tim Demisioner (12/4/2016) (Dimas/Perspektif)

Bermain satu babak, Aminullah kerap melakukan crossing-crossing handal. “Meskipun usia sudah lanjut, namun tenaga tendangan pak Amin masih kuat. Ini sama seperti yang dikatakan abang leting dulu, kalau pak Amin pas kuliah itu Roberto Carlos nya EKA”, ucap mahasiswa yang menonton.

Belum genap 10 menit bermain, Mufied Alkamal sudah mencetak goal kedua tim Demisioner. Dengan goal tersebut, Demisioner menang atas skor 2-0 melawan EKA 12 dan melenggang ke pertandingan berikutnya.

Turnamen Himaka Sport Olympics (HISO) 2016 telah berlangsung selama  10 hari sejak resmi dibuka di Zidane Futsal (2/4/2016) lalu, dan final sepak bola serta penutupan akan diselenggarakan ekslusif di Stadion H. Dimurthala pada tanggal 23 April 2016 mendatang. (Dimas)