E-Learning : Siapkah digunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

E-Learning : Siapkah di Gunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

Darussalam – Pemanfaatan elektronik learning (e-learning) dalam pendidikan merupakan salah satu sarana penunjang dalam meningkatkan efektifitas proses pembelajaran di kelas. Pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran juga dapat meningkatkan keterampilan teknologi informasi, kedisiplinan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, dan memudahkan komunikasi dengan dosen matakuliah yang bersangkutan. Namun, bukan berarti pemanfaatan e-learning tak memiliki hambatan sama sekali, terutama pada saat pertama sekali menggunakannya. Hambatan-hambatan teknis merupakan hal yang pada umumnya dihadapi oleh mahasiswa selama menggunakan media elektronik learning. Hambatan ini menjadikan tantangan tersendiri bagi mereka dalam menggunakan media elektronik ini.

Penerapan e-learning dalam pendidikan mengikut-sertakan beberapa komponen. Komponen pertama adalah infrastruktur e-learning. Infrastuktur berupa personal komputer, jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia lainnya. Pada infrastruktur saat pembelajaran terjadi maka terkadang timbul kendala, yakni tidak semua pembelajaran efektif dalam menggunakan media komputer. Banyak pembelajaran yang lebih efektif bila dilakukan secara kooperatif atau pun kolaboratif.

Kendala lain juga muncul, yaitu ketersedian dan kelayakan infrastruktur e-learning itu sendiri. Dalam kenyataannya tidak semua mahasiswa memiliki perangkat yang memadai untuk menjalankan e-learning. Maksud dari perangkat yang memadai yaitu berupa android yang mudah untuk melakukan koneksi internet, dan tentunya tidak semua mahasiswa berada di tempat yang memiliki jangkauan mudah dalam penggunaan internet. Kendala terbesar adalah di zaman milenial seperti saat ini masih ada beberapa mahasiswa yang kurang pengetahuan dalam ilmu teknologi (gaptek).

Dalam penggunaan e-learning sangat dibutuhkan perhatian di mata kuliah manakah yang sesuai digunakan, banyak permasalahan seperti ada mata kuliah yang membutuhkan waktu lebih lama dalam penyelesaian tugasnya contohnya seperti pelajaran yang mencakup cara menghitung, pembuatan grafik atau tabel dan materi lainnya yang tidak sesuai. Tugas tersebut bisa saja diberikan apabila dalam jangka waktu yang lebih lama.

“e-learning itu tidak sesuai untuk beberapa orang karena tidak semua orang bisa belajar melalui media elektronik atupun otodidak, sebagian mahasiswa harus belajar secara langsung atau dalam bentuk visual” tutur Raihanum.

Disisi lain Wiwid berpendapat bahwa penggunaan e-learning berguna sesuai dengan jenis pelajaran yang akan dikerjakan, jika penggunaan dalam bentuk tulisan maka e-learning dapat bermanfaat namun jika dalam pelajaran seperti akuntansi dan matematika sepertinya lebih baik digunakan dengan secara langsung saja.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu ketika mahasiswa Jurusan Manajemen melakukan Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah akuntansi melalui e-learning, banyak dari mereka mengalami kegagalan dalam manajemen waktu untuk mengerjakan soal. Saat ditanya, salah satu mahasiswi bernama Ridha mengatakan bahwa kegiatan ujian tidak berlangsung efektif karena waktu banyak terbuang untuk membuat tabel. Mahasiswi lain bernama Dian turut mengalami kegagalan disebabkan oleh jaringan yang seketika terkendala karena kerusakan sehingga waktu yang tersedia untuk mengirim jawaban soal tersebut habis.

Beberapa pendapat tersebut memiliki alasan tertentu baik dari cara belajar maupun fasilitas e-learning itu tersendiri. Sebenarnya jika kendala itu disebabkan oleh jaringan maka cara terbaik adalah mencari tempat-tempat penyedia wi-fi, akan tetapi dosen juga harus menentukan waktu penugasan dengan sewajarnya dan tidak terlalu larut malam atau jam penugasan mahasiswa tersebut bentrok dengan mata kuliah lain. Permasalahan lain seperti kekurangan pengetahuan menggunakan teknologi dapat disiasati dengan pembelajaran atau belajar dengan teman terdekat. Seorang mahasiswa adalah jiwa yang dituntut belajar dan mengasah kemampuannya menuju jenjang kedewasaan dan kemandirian.(Anggi)

Parkiran Dosen diserobot Mahasiswa

Parkiran Dosen di Serobot Mahasiswa (foto : Perspektif)

Darussalam–  Parkiran mobil yang terletak dipekarangan antara gedung Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Masjid Al-Mizan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah merupakan parkiran yang diperuntukkan khusus bagi para dosen. Namun, belakangan ini terlihat parkiran tersebut sering ditempati oleh mahasiswa yang membawa kendaraan roda empat.

Hal ini tentu sangat mengganggu dosen apabila hendak memarkirkan kendaraannya, seperti yang disampaikan oleh Jalaludin, SE., Ak,, MBA selaku dosen FEB. Beliau menuturkan bahwa dosen dosen kerap merasa terganggu akibat ulah mahasiswa yang sering menyerobot lahan parkir mereka, padahal sudah jelas tertulis bahwa lahan tersebut diperuntukkan bagi dosen.

“Seharusnya mereka (mahasiswa) mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh kampus dan bagi yang melanggar agar dikenakan sanksi berupa pencabutan KTM. Apabila masih ada yang melanggar berarti mahasiswa tersebut tidak bisa membaca,” tambahnya.

Dilain sisi terdapat alasan tersendiri bagi mahasiswa mengapa memarkirkan kendaraan roda empatnya diparkiran dosen. Satu diantaranya ialah mereka waspada bahkan takut apabila harus memarkirkan mobilnya dibelakang gedung D III, karena tidak ada yang mengawasi dan menjaga kendaraan mereka. Selain karena merasa lebih aman, kendaraan yang berada dilingkungan kampus terus dipantau oleh satpam melalui cctv.

Menurut informasi yang telah didapatkan dari pihak Wakil Dekan II FEB untuk masalah parkiran dosen rencananya tahun depan akan diberikan stiker khusus untuk mobil para dosen. Hal ini pula dijadikan sebagai ‘tanda’ yang membedakan mobil dosen dengan mobil mahasiswa. Sehingga apabila ditemukan ada mobil yang terdapat diparkiran dosen tanpa stiker akan dikenakan sanksi berupa penarikan KTM.

Terkait parkiran yang berada di belakang gedung Diploma III, Wakil Dekan II juga berencana menugaskan satpam yang akan berjaga disana. Dengan adanya satpam maka mobil mahasiswa akan lebih aman. Tentu hal ini diharapkan agar mahasiswa tidak memarkirkan lagi mobilnya di parkiran dosen. (Aldi)

UKM PA-LH Metalik Kembali Selenggarakan Pendidikan Dasar Untuk Angakatan Muda

Acara pelepasan peserta pendidikan dasar UKM PA-LH Metalik (Foto:Uzzla S)

Darussalam – UKM PA-LH Metalik (Mahasiswa Ekonomi Pencinta Alam dan Lingkungan) kembali mengadakan pendidikan dasar (diksar) untuk angkatan XXIX. Acara ini berlangsung selama enam hari dimulai dari tanggal 06 s/d 11 november 2018 yang berlokasi di Indrapuri, Aceh Besar.

Acara yang diikuti oleh lima belas orang peserta ini bertujuan untuk merekrut kader-kader baru guna berlangsungnya roda organisasi dan juga  meningkatkan minat pemuda-pemudi yang peduli terhadap lingkungan terutama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Sebelumnya UKM PA-LH metalik telah membuka open recruitment dari tanggal 5 september – 10 Oktober 2018. Jumlah total peserta yang mendaftar sebanyak 78 orang, dan yang sudah lulus tahap Adm sebanyak  48 orang. Setalah melalui serangkaian tahapan, seperti wawancara dan materi lokal, peserta yang lolos seleksi sebanyak 15 orang (6 orang laki-laki dan 9 orang perempuan).

Fikri ramadhana selaku ketua panitia berpesan semoga semua materi lokal yang telah diberikan dapat di aplikasikan di lapangan nantinya dan dapat berguna untuk para peserta.

Acara pelepasan yang dilaksanakan pada hari ini (06 November 2018) dihadiri oleh wakil dekan III, yaitu Murkhana, SE,MBA., Perwakilan UKM di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan juga seluruh anggota UKM PA-LH metalik.

“Harapan kedepan gak muluk-muluk, mungkin bisa membawa kembali nama metalik khususnya nama fakultas ekonomi keranah kompetisi tingkat nasional seperti yang terakhir kali kita lakukan di tahun 2014.” ujar ketua umum UKM PA-LH Metalik, Yoland Dirga Oktaviano. (Uz)

Mahasiswi FEB Raih Juara 3 Duta Wisata Aceh

 

Mahasiswi FEB Raih Juara 3 Duta Wisata Aceh ( Foto : Perspektif)

Darussalam – Cindy Alfirdausi, mahasiswi Program Studi Manajemen FEB Unsyiah berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Duta Wisata Aceh 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di gedung AAC Dayan Dawood pada (27/10) lalu. Gelar ini juga menjadikan ia dinobatkan sebagai Wakil II Duta Wisata Aceh tahun 2018.

Ia meraih gelar ini setelah melewati proses seleksi dimulai dari pemilihan di tingkat kota, hingga akhirnya bisa berkompetisi di tingkat provinsi dan bersaing dengan 23 duta wisata perwakilan dari berbagai kota/kabupaten di Provinsi Aceh.

“Awalnya saya mengikuti pemilihan Inong Banda Aceh dan alhamdulillah dapat juara 1, lalu dipercaya untuk mewakili Banda Aceh dalam pemilihan Duta Wisata Aceh. Alhamdulillah bisa diberi kesempatan menjadi juara 3.” ujarnya

Menurut penuturannya, sebelum dinobatkan menjadi Inong Banda Aceh, ia mengikuti serangkaian proses penilaian, seperti tes tulis, wawancara, serta banyak tahapan yang bertujuan untuk menggali potensi dan wawasan tentang pariwisata. Kemudian pada tahap pemilihan Duta Wisata Aceh, ia dan kontestan lainnya sempat bergabung dalam karantina selama 4 hari.
“Di karantina itu kami mendapat banyak ilmu. Masuk ke kelas ini dan kelas itu. Pokoknya seru deh. Hingga pada malam puncak juga banyak kegiatan yang kami lakukan, seperti pertunjukan budaya dan seni,” jelasnya.

Selain gelar, pengalaman ini memberikan banyak hal bagi Cindy. Berkat keikutsertaannya dalam kompetisi ini, ia dapat menjalin relasi dengan para duta wisata dari berbagai daerah dan mendengar cerita-cerita menarik tentang daerah mereka masing-masing.

Sebagai juara 3 Duta Wisata Aceh, ia pun ingin mengajak pemuda-pemudi Aceh khususnya di Banda Aceh untuk turut mengambil bagian menjadi duta wisata dengan caranya masing-masing dan memanfaatkan setiap media yang ada saat ini.

“Sebenarnya semua orang bisa menjadi duta wisata bagi daerahnya. Semua orang bisa mempromosikan pariwisata daerahnya. Aku sebenarnya sangat menginginkan pemuda-pemudi di Aceh sadar bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang penting bagi pembangunan daerah.” harapnya.

Meski dalam waktu dekat ia akan disibukkan dengan banyak kegiatan seputar promosi pariwisata Aceh, namun ia juga tak ingin melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia juga berpesan kepada mahasiswa lainnya agar lebih aktif dan bijak menggunakan waktu baik untuk kegiatan didalam maupun diluar kampus. (Abi)

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif (foto:Ayu)

Darussalam – Memasuki era revolusi industri 4.0, perkembangan teknologi semakin canggih dan terdepan. Menghadapi tantangan tersebut, dunia industri harus menjadi semakin kreatif. Menghadapi fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala mengusung tema, “Creative Industry in Digital Business Era” dalam seminar yang diselenggarakan pada acara Management Creativity Festival (MCF) 2018, Rabu (24//10).

Seminar yang diadakan di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah ini menghadirkan tiga tamu istimewa diantaranya  Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt.  sebagai Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Zainal Arifin Lubis sebagai Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, dan Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng yang merupakan Rektor Universitas Syiah Kuala.

Dalam kesempatannya, Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. selaku Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia menyampaikan materi tentang industri kreatif di Indonesia serta peran pemerintah untuk menyukseskan perekonomian dalam masyarakat. Ia mengharapkan dengan adanya kemajuan teknologi yang berkembang pesat dalam masyarakat dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri, dan juga pemikiran kreatif yang harus ditumbuhkan guna mendukung kemajuan industri di Indonesia.

“Kami sangat mendukung seminar ini, dan hasil dari seminar ini akan disampaikan ke DPR Aceh.” Ungkap Zainal Arifin pada pidato sambutannya. Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh tersebut mendukung penuh seminar yang diadakan oleh HMM FEB Unsyiah dengan harapan isu industri kreatif yang diangkat dalam seminar ini mampu membuka pikiran masyarakat perihal pentingnya peran industri kreatif dalam meningkatkan perekonomian bangsa kedepannya. (Mev)

 

Mewujudkan ekonomi enklusifness

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk 264 juta jiwa. Jumlah penduduk yang sedemikian banyak merupakan tantangan yang berat bagi perekonomian Indonesia.

Pada  Industri Digital saat ini, kehidupan kita menjadi lebih mudah dan serba computarized. Namun, kita yang berada di era ini harus teliti dalam menghadapi kompleksivitas yang dibawa serta. Dengan tantangan yang kompleks, kita harus menyelaraskan perekonomian dan menciptakan inovasi baru.

Kemiskinan adalah musuh yang patut diperangi. Masih ada keparahan dalam kemiskinan kita. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. menyampaikan bahwa, salah satu cara mengatasi kemiskinan adalah dengan mewujudkan ekonomi enklusifness melalui pengembangan ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif berdampak sangat luas bagi perekonomian, selain tidak membutuhkan modal yang besar, ekonomi kreatif juga tidak membutuhkan tenaga manusia yang terlalu banyak. Inovasi dan kreativitas paling dibutuhkan dalam ekonomi kreatif yang merupakan karakteristik utama di Revolusi Digital atau Digital Era. Menariknya, ekonomi kreatif ini ternyata di dominasi oleh perempuan sebagai pelaku utama sebanyak 54,96%.

Bapak Mardiasmo juga memaparkan  bahwa ada 16 subsektor ekonomi kreatif. Fashion, kuliner dan kriya menjadi tiga unggulan utama. Kuliner menjadi daya tarik utama karena menggambarkan peradaban dan kebudayaan Indonesia. Namun, ada tiga subsektor lainnya yang mulai menjadi perhatian. Aplikasi dan pengembangan permainan, film dan diikuti musik yang sedang dikembangkan. (Sul)

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital!

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital! (Gambar:Google)

Darussalam – Tak dapat dipungkiri, peradaban dunia semakin berkembang dengan pesat. Tanpa kita sadari, kini teknologi menjadi raja dari kehidupan. Semua pekerjaan yang dulunya sulit dijangkau kini menjadi mudah dan sangat cepat. Hal ini juga membawa banyak manfaat dan kebaikan. Salah satu yang paling terasa adalah terjalinnya hubungan internasional baik dari bidang pendidikan dan juga merambah hingga dunia bisnis. Lapangan kerja semakin terbuka lebar. Peluang untuk belajar ke luar negeri pun semakin terbuka.

Namun, digitalisasi juga melahirkan ancaman. Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi dengan basis cyber physical system. Dimana robot dengan kecerdasan buatan atau artifisial mulai menyebar dan merebut posisi manusia di kancah pekerjaan.

Menilik dari banyaknya tenaga robot atau mesin yang dipakai, menambah rumit kriteria karyawan yang dipekerjakan di perusahaan. Jika beberapa tahun yang lalu tenaga jasa masih berfokus pada soft skill yang biasa, pada era digital ini penguasaan software dan kemampuan pengolahan data serta kreativitas lebih dilirik oleh perusahaan industri.

Tentu saja perkembangan yang terjadi di dunia bisnis menjadi sorot utama bagi calon sarjana ekonomi. Tujuan utama dari calon sarjana adalah menemukan pekerjaan yang tepat untuk menunjang hidup di masa mendatang. Namun,  hanya menguasai ilmu ekonomi tidak cukup meskipun gelar sarjana pun sudah disandang.

Melirik Amazon dan Alibaba yang mulai membuka pusat perbelanjaan atau supermarket tanpa kasir dan pegawai. Bahkan mereka memiliki sistem warehouse yang fully-automated. Di Indonesia sendiri, konsep digital lounge mulai digalakkan oleh perusahaan perbankan. Tanpa harus berhadapan dengan teller, orang dapat membuka tabungan sendiri.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, kita akan menghadapi digitalisasi. Maka dari itu, meningkatkan potensi diri adalah tugas utama bagi seluruh calon sarjana. Pekerjaan dengan keterampilan tinggilah yang masih membutuhkan tenaga kerja manusia.

Bagi calon sarjana, wajib mengetahui dan menganalisis jenis pekerjaan yang akan di apply nantinya.  Hal ini dikarenakan oleh adanya beberapa jenis pekerjaan yang akan hilang seperti teller,  driver,  kasir,  resepsionis dan beberapa lainnya.  Menentukan target pekerjaan yang tidak dapat dijangkau oleh mesin adalah kunci utama menghadapi digitalisasi atau revolusi industri 4.0.

Selain itu,  mengetahui bakat sendiri juga penting.  Dengan mengenal bakat yang dimiliki, maka dapat membantu ke depannya yakni dengan mengasah skill ataupun menambah skill baru dengan mengikuti berbagai pelatihan terkait soft skill atau pekerjaan di era digital.

Dilansir dari okezone.com, Laporan World Economic Forum 2016 yang bertajuk The Future Job telah memaparkan bahwa ada 10 skill yang akan dibutuhkan pada tahun 2020 mendatang. Diantaranya adalah pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen sumber daya manusia, koordinasi, kecerdasan emosional, penilaian dan pengambilan keputusan.

Dari sepuluh skill tersebut, semuanya berorientasikan mental. Maka, untuk calon sarjana ekonomi mulai dari sekarang harus dapat meningkatkan potensi diri bertajuk mental. Dengan mengikuti berbagai organisasi dan menjadi pemikir kritis, maka persaingan di era digital menjadi lebih mudah. ( Sulthana )

Luthfi Aulia Chandra : “Jadi Kreatif Gak Perlu Drama”

Luthfi Aulia Chandra : “Jadi Kreatif Gak Perlu Drama” (foto:Perspektif)

Darusalam –  Luthfi Aulia Chandra, Youtuber sekaligus Musisi ini berkesempatan hadir untuk pertama kalinya ke Aceh,  melalui Seminar Nasional Expo Inkubator 2018 yang digelar oleh UKM Inkubator FEB Unsyiah, Sabtu 22 september 2018 di AAC Dayan Dawood, luthfi hadir untuk mengisi seminar sekaligus menyapa para fans khususnya yang berada di Aceh.

Kali ini, luthfi hadir diacara tersebut sebagai pemateri dengan topik ‘creativepreneur’. Sebagai Anak muda yang memiliki kreatifitas di bidang Film Makers dan musik, luthfi banyak memberikan tips dan trik untuk menjadi anak muda yang berfikir kreatif dan memaanfaatkan media sosial dengan baik dan bijak. Salah satunya yaitu dengan fokus terhadap bidang yang disukai.

“Misal kalian sukanya film makers, kalian bisa tekuni hal itu, tetapi tetap fokus, jangan bawa pada hal yang lain, jadinya tidak setengah-setengah, yang penting tekuni” ucapnya.

Luthfi juga menceritakan awal dirinya berkarier hingga menjadi seperti sekarang ini, berawal dari kesukaannya terhadap film makers , pada tahun 2010 luthfi terjun ke dunia youtube sebagai content creator film pendek dan musik video, namun pada tahun 2015 luthfi di beri tawaran oleh Kevin Aprillio untuk bergabung dengan band garapannya yang diberi nama Kevin and The Red Rose, sejak saat itu luthfi mulai berkarier hingga seperti saat ini.

Banyak hal yang disampaikan luthfi kepada masyarakat khususnya kaum muda, salah satunya untuk menjadi kreatif itu tidak sulit asal mampu berfikir dan terus berusaha, banyak hal yang bisa dilakukan saat kita masih muda seperti  manjadi : content creator, youtubers, pengusaha, ataupun musisi. Tetapi semua kembali lagi mau atau tidaknya  untuk berusaha.

“ Untuk kaum muda kurangin drama, atau hidup dengan drama, tetapi mulailah berfikir kreatif, yang betul-betul kreatif, jangan suka cari sensasi dan drama, tapi buatlah ide dan kreatifitas sendiri, yang penting tetap be yourself” Ungkapnya.(alma)

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’

 

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’ (foto: google)

Banda Aceh – “Lebih asik ngomong di warung kopi ketimbang kampus ekonomi”

Mungkin kalimat di atas begitu menggambarkan dengan jelas tentang kondisi terkini di kampus tertua di universitas Syiah Kuala ini.

Menyedihkan memang, melihat kampus yang diisi oleh ratusan akademisi dan digadang-gadang punya segudang prestasi, bahkan tidak menyediakan ruang diskusi bagaimana kondisi terkini ekonomi nasional.

Seingat saya, terakhir kali kampus membuka diskusi tentang ekonomi adalah di awal tahun 2018 ketika sedang marak-maraknya isu dana Otsus begitu menggema di Aceh.

Dalam sesi diskusi yang diberi nama Komunitas Pemikir Ekonomi (KOPI), mereka turut menghadirkan Dr. Chenny S.E. M.Si. yang merupakan Sekretaris Jurusan Program Studi Ekonomi Pembangunan Unsyiah.

Namun begitu disayangkan, hasil diskusi yang telah dilaksanakan di Balai Sidang Ekonomi ternyata hanya bergema dalam ruangan saja, tidak ada publikasi lebih lanjut.

Poin-poin pernyataan hasil diskusi (notulensi) mungkin hanya sekedar pertanggal bagi mereka pernah melakukan diskusi ilmiah yang pertama setelah sekian tahun lamanya.

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’ (foto: google)

Dan di pertengahan 2018, ketika nilai tukar dolar menyentuh Rp. 15.047 (data grafik kurs dollar.net), kampus tetangga yang berslogan “kampus pejuang rakyat” bergerak cepat untuk membuka ruang pendapat untuk membahas isu ini pada Minggu di pelataran masjid Jami’ Unsyiah (9/9).

Seakan berbanding terbalik, kampus yang punya kapasitas terbesar untuk membahas kurs rupiah terlihat adem ayem tanpa pergerakan.

Lantas kemanakah mahasiswa? Kemana para pemikir ekonomi? Mari kita doakan semoga mereka dapat kembali ‘pulang’ ke kampus ini.

M. Jauhar Ihsan (Pemimpin Umum LPM Perspektif FEB Unsyiah)

Economic Student Market, akan Terealisasi Semester Depan

Economic Student Market, akan Terealisasi Semester Depan (Foto : Ayu/Perspektif)

Darussalam – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah memiliki beberapa kantin yang menjadi tempat tongkrongan bagi mahasiswa/i di sela-sela jadwal perkuliahan. Beberapa kantin itu tersebar di dua sisi fakultas ekonomi yakni pada Gedung EKP, bagian samping gedung KPMG dan bagian belakang gedung Student Center.

Namun beberapa waktu belakangan ini Kantin Pojok Ekonomi yang berposisi di bagian belakang gedung Student Center tampak terbengkalai. Tak ada kegiatan aktivitas yang tampak seperti beberapa waktu sebelumnya.

Sejak awal semester kemarin sudah ada wacana bahwa akan ada pembaharuan tentang kantin pojok ekonomi ini, yaitu “Economic Student Entrepreneur Market” Yang dipelopori oleh BEM FEB-Unsyiah dan UKM Inkubator serta di dukung penuh oleh pihak dekanan. Namun sampai saat ini rencana ini masih belum terealisasi.

Dijumpai Rabu (2/05/18) Rais, ketua BEM FEB Unsyiah mengakui memang sedang gempar dalam mewujudkan Economic Student Entrepreneur Market, yang mendapat dukungan penuh dari Dekanan yang mengharapkan agenda ini dapat menghidupkan kembali kantin belakang kesekretariatan mahasiswa yang sudah tidak terpakai dan tampak terbengkalai.

Namun untuk saat ini Rais mengatakan bahwa Ia dan pihak UKM Inkubator masih terkendala dalam pemilihan konsep apa yang nantinya akan diwujudkan di Economic Student Entrepreneur Market ini.

“Saat ini masih terkendala dikonsepnya, tapi dari pihak Inkubator sendiri sudah berusaha membicarakannya ke beberapa alumni Inkubator dan beberapa dosen dalam hal menentukan konsep. Pihak dekanan hanya tinggal menunggu konfirmasi konsep dari kitanya aja, dengan begitu baru bisa kembali berjalan agenda ini.” terang Rais.

Economic Student Market, akan Terealisasi Semester Depan (Foto : Ayu/Perspektif)

Agenda Economic Student Entrepreneur Market ini nantinya akan dilaksanakan pada semester depan dan pihak dekanan juga mempunyai harapan yang sama, “Kami juga mengatakan kepada pihak Dekan yang dimana bahwasannya program ini bentuknya jangka panjang, dan diharapkan akan berjalan seterusnya dikepengurusan selanjutnya.”

Dari pihak dekanan sendiri mengharapkan nantinya para mahasiswa yang berpartisipasi didalamnya menjual barang asli buatan sendiri, semacam Handmade, Creating Product dan Merchandise  atas nama mereka sendiri dalam brand.

“ini mengambil contoh disalah satu universitas di Malaysia, seperti mahasiswa disana yang memproduksi air mineral dengan label mereka sendiri. Diharapkan tidak cuman membeli barang dari luar lalu dijual kembali, karena dekanan mengharapkan mahasiswa sekarang bisa lebih berinovasi dan mampu bersaing dalam berbisnis.” tegas Qamarul sebagai Direktur Inkubator.

Pihak dekanan juga menginginkan mahasiswa dapat memproduksi barang sendiri dikarenakan dilingkungan Unsyiah ini juga ada UPT.Kewirausahawan yang dimana banyak kegiatannya disortir langsung oleh KEMENRISTEKDIKTI, hal ini juga di harapkan dapat menambah minat mahasiswa di lingkungan FEB dalam melakukan kegiatan bisnis tanpa mengganggu jadwal perkuliahan.(ijah)

Berani Menertawakan Diri Sendiri

Dok: Psychopathic Writing (Istimewa)

Dewasa ini sebagian orang lebih senang menertawakan orang lain dan enggan untuk menertawakan dirinya sendiri. Entah karena takut dianggap gila atau mungkin menganggap hidupnya terlalu serius untuk ditertawakan. Padahal, menghindar untuk menertawakan diri sendiri justru dapat menghambat perkembangan.

Banyak  yang mengatakan ‘jika tertawa dapat menyehatkan pikiran dan menyingkirkan emosi negatif,’ namun hal tersebut dilakukan tidak untuk menertawakan orang lain karena terdapat emosi negatif didalamnya. Menertawakan orang lain nantinya akan menjadikan seseorang terlihat sombong karena merasa lebih baik dari orang lain.

Oleh karena itu menertawakan diri sendiri lebih baik daripada menertawakan orang lain. Dengan menertawakan diri sendiri, seseorang tak perlu khawatir akan munculnya emosi negatif karena yang ditertawakan adalah diri sendiri. Menertawakan diri sendiri juga dapat membantu seseorang mengintrospeksi diri dan menemukan kesalahan yang perlu diperbaiki tanpa harus tersinggung oleh komentar orang lain.

Hal ini juga didukung oleh sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences yang menyatakan bahwa salah satu indikator individu yang memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi adalah dengan sering menjadikan dirinya sendiri sebagai lelucon.

Menjadikan diri sendiri sebagai lelucon juga termasuk ke dalam kriteria individu yang telah mengaktualisasikan diri dari teori yang dikemukakan oleh Abraham H. Maslow, yaitu rasa humor yang filosofis. Dikatakan bahwa individu yang telah mengaktualisasikan diri akan lebih sering menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan candaan.

Mereka menjadikan setiap kebodohan dan kekurangan mereka sebagai candaan yang disampaikan secara filosofis agar orang lain berpikir terlebih dahulu, baru kemudian bisa mendapatkan joke dari humornya dan tertawa untuk membantu mereka menjadi lebih cerdas dalam berpikir dan menyampaikan sesuatu.

Selain dapat mengintrospeksi diri dan menyingkirkan emosi negatif, menertawakan diri sendiri juga dapat menjernihkan pikiran, membantu diri berdamai dengan masa lalu, dan membuat orang disekeliling kita bahagia.

Suksesnya seseorang menertawakan dirinya sendiri akan merubah sudut pandang dan cara seseorang melihat dunia. Seseorang tak lagi fokus kepada hal-hal negatif tetapi pada hal-hal positif yang bisa didapatkan meski hari yang dilalui kurang menyenangkan. Dengan begitu, seseorang akan terhindar dari perasaan stres. (Sulthanul Y)