Himaka selenggarakan Seminar Bank on Campus

Deputi BI Aceh Sebagai Pembicara Seminar Bank on Campus (Nel/Perspektif)

Darussalam – Senin (30/4/18) Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKA) menyelenggarakan acara Bank Seminar On Campus. Acara yang diadakan di aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini berlangsung sejak pukul 08.00 s/d siang tadi mengusung tema“Peran Sektor Moneter Dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Ekonomi Negara”.

Seminar diisi oleh Sunarso selaku Deputi Bank Indonesia Perwakilan Aceh sebagai pembicara. Sunarso menyampaikan materi tentang tugas-tugas bank sentral dalam mengawasi tingkat keseimbangan uang yang beredar, seperti pada Bank Komersil yang mengontrol agar tidak terjadinya inflasi.

Acara seminar yang  diketuai oleh Umar ini  bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa tentang bagaimana sistem Kerja Bank Indonesia selaku Bank Sentral di Indonesia.  “Harapan saya dengan terselengaranya acara seminar ini agar  mahasiswa paham dan mengerti atas kebijakan, peraturan, yang dibuat oleh bank Indonesia, dan dapatmenerapkannya,” tambah Umar.

Mahasiswa yang mengikuti seminar ini terlihat begitu antusias. Hal ini dilihat dari dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan mengenai materi tersebut khususnya tentang peraturan yang dibuat oleh Bank Sentral (Bank Indonesia).

Bank Seminar On Campus berlangsung dengan sukses dan diharapkan kepada seluruh mahasiswa dapat lebih antusias dan berpartisipasi lagi dalam acara yang diadakan kampus. (Nel,Frz)

Pererat Solidaritas Internal Mahasiswa EKI Gelar iESA CUP

Pererat Solidaritas Internal Mahasiswa EKI Gelar iESA CUP (Luthfi/Perspektif)

Darussalam – Islamic Economic Students Association (IESA) kembali mengadakan iESA CUP yang ke-III. Acara ini berlangsung dari tanggal 29 april 2018 hingga 6 mei 2018. Adapun cabang olahraga yang diperlombakan antara lain; Futsal, Basket, Badminton, dan Tarik Tambang.

Acara internal ini bertujuan untuk meningkatkan solidaritas, kekeluargaan, kekompakan dan juga agar keluarga iESA sehat semua pastinya. Tahun ini iESA CUP mengusung tema “Keep Spirit, Keep Health, and Keep Solidarity.”

“Adapun makna nya yakni berbagi pengalaman, berbagi perasaan atau bisa di bilang berbagi kebahagian dan menjaga solidaritas antar sesama mahasiswa/i  Ekonomi Islam,” ungkap Win Irvan Syahputra selaku Ketua Panitia.

Pererat Solidaritas Internal Mahasiswa EKI Gelar iESA CUP (Luthfi/Perspektif)

Opening Ceremony dilaksanakan hari ini (29/4/18). Kali ini, iESA membuat Konsep pembukaan acara berbeda dari yang sebelumnya karna diacara Opening Ceremony ini mereka membuat upacara penaikan bendera iESA CUP. Hal ini merupakan gebrakan baru yang dilaksanakan oleh iESA.

Pada saat upacara berlangsung ketua jurusan ekonomi islam Dr. Eddy Gunawan M.Ec selaku Pembina Upacara menyampaikan bahwa begitu senang bila iESA aktif, karna kita dapat menunjukkan kualitas, sportifitas,dan excellent dalam berprestasi dan kita harus menanamkan nilai nilai yang ada pada moto ekonomi Islam yaitu menjadikan insan-insan yang islami.

Selain ketua Jurusan Ekonomi islam, acara ini turut dimeriahkan oleh Dosen, Dimisioner, Presidium, perwakilan dari HMJ/UKM yang ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan juga Anggota iESA sendiri.

“Banyak bakat terpendam yang dimiliki mahasiswa EKI, jadi marilah kita asah bersama, kita latih bersama agar nantinya dapat membanggakan Ekonomi Islam ke depannya. Pemenang dari setiap cabang olahraga yang diperlombakan akan dipromosikan ke dispora,” ucap Ketua himpunan iESA Abthal Aufar dalam kata sambutannya

Win Irfan berharap bahwa seluruh mahasiswa/i ekonomi islam dapat menjalin persaudaraan yang lebih erat lagi, menjalin silaturahmi yang lebih baik lagi, selalu menjaga kekompakkan dan yang paling penting nantinya tidak ada kecurangan satu sama lain dalam acara iESA CUP yang ke-III ini. (KZ,LH)

Dibalik Perjalanan Mawapres Wilsen Yungnata

Dok: Istimewa

Darussalam – Wilsen Yungnata, mahasiswa brilliant jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala ini berhasil meraih juara harapan 1 pada pemilihan mahasiswa berprestasi (mawapres) tingkat Universitas tahun 2018. Prestasi gemilang yang ia raih ini telah membawa harum nama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Berbagai persiapan yang matang telah dijalankan oleh Wilsen untuk mencapai hasil yang optimal. Tak hanya sekedar mengikuti pembekalan, Wilsen sendiri juga memantapkan persiapan pada karya ilmiah yang akan dipresentasikannya.

“Penilaian paling besar kalau saya tidak salah itu di karya tulis ilmiahnya, dikarenakan kalau untuk prestasi waktunya sudah mepet, jadi kami tidak dapat melakukan banyak hal, yang kami dapat berjuang adalah pada karya tulis ilmiah ini kami usahakan dengan sebaik mungkin,” ujarnya.

Ini bukan kali pertama Wilsen mendapatkan prestasi. Sebelumnya juga banyak prestasi lain yang berhasil ditorehkan olehnya. Ia handal dalam bidang debat, oleh karena itu banyak prestasi yang ia raih dalam bidang ini. Prestasi-prestasi tersebut antara lain seperti, National University Debating Championship (NUDC) yang diadakan oleh menristekdikti selama dua tahun berturut-turut, juara 1 di tingkat universitas dan prestasi lainnya.

Ia merasa senang untuk segala prestasi yang telah diraihnya. Kesan bangga yang ia rasakan karena dapat menjadi salah satu mahasiswa yang membawa harum nama fakultas. Pengalaman dan wawasan baru  juga didapatkan olehnya, dimana ia bertemu dengan mahasiswa berprestasi dari fakultas lainnya.

“Saya merasa bangga, sangat senang mendapat juara harapan 1 dalam universitas. Juga saya membawa nama Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Karena kebetulan dalam 7 besar, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan itu merupakan saya. Pesan saya bahwa Fakultas Ekonomi dan Bisnis merupakan fakultas yang besar yang memiliki banyak mahasiswa berprestasi, harapannya untuk tahun-tahun kedepan mahasiswa FEB dapat berprestasi setidaknya dalam tingkat universitas bahkan juga berprestasi di  tingkat nasional,” harapnya. (Rj)

PMOM Sebagai Basic Untuk Menciptakan Kader FEB Yang Berkarakter

PMOM Sebagai Basic Untuk Menciptakan Kader FEB Yang Berkarakter (La/Perspektf)

Darussalam – Sabtu (28/4) Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala kembali mengadakan acara Pelatihan Manajemen Organisasi Mahasiswa (PMOM). Tema yang diusung pada tahun ini ialah “Terwujudnya Organisatoris Kampus Kuning Yang Memiliki Karakter Kepemimpinan Kreatif, Progresif dan Religius”.

Berbeda dengan tahun yang lalu, acara PMOM yang diadakan oleh DPM kali ini hanya dilaksanakan dalam satu hari saja dengan jumlah registrasi terakhir 93 peserta yang terdiri dari berbagai lembaga di kampus.  Setiap lembaga diwajibkan untuk mengirimkan orang-orang terpilih dari lembaganya yaitu minimal 5 peserta dan maksimal 8 peserta.

“Tujuan dalam acara ini adalah melahirkan mahasiswa yang tidak kupu-kupu (kuliah-pulang) dan meningkatkan kesadaran kepada mahasiswa bahwasanya peran mahasiswa bukan hanya mendapatkan ipk yang bagus, tetapi peran mahasiswa juga sangat dibutuhkan oleh kampus,” tutur Muhammad ikram selaku ketua panitia PMOM 2018.

Di Fakultas Ekonomi sendiri, syarat untuk menjadi seorang ketua lembaga adalah mengikuti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa atau yang dikenal dengan sebutan LKMM, dengan syarat sebelumnya harus mengikuti PMOM terlebih dahulu.

Pemateri dalam acara ini diisi oleh Prof. Dr. Nasir Azis S.E., MBA yang membawakan materi mengenai kepemimpinan seperti sifat Rasulullah. Beliau mengungkapkan bahwa Rasulullah adalah pemimpin yang paling utama dan paling sukses diantara pemimpin-pemimpin di dunia. Setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin harus mempunyai tanggung jawab. Seseorang tidak dapat memimpin orang lain jika ia belum bisa memimpin dirinya sendiri.

Tidak hanya Dekan FEB saja yang diundang sebagai pembicara dalam acara ini, Kautsar, S.Hi selaku anggota DPR Aceh, Said munirruddin, SE,.M.Sc  sebagai rector the zawiyah spiritual leadership dan Rizki Okta Bina selaku CEO coffee farm juga diundang untuk menyampaikan materi yang berhubungan dengan manajemen organisasi.

Dalam penyampaian materinya  Kautsar, S.Hi mengungkapkan sifat kreatif,  progresif, dan religius adalah tiga karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Beliau menekankan kepada mahasiswa untuk selalu berfikir secara kritis dan progresif karena setiap pergerakan yang dilakukan bertumpu dari cara berfikir seseorang.

“Seorang pemimpin harus memiliki sifat saling menghargai dan saling memberikan apresiasi terhadap usaha yang telah di lakukan oleh orang lain. Jika kita ingin segala sesuatu diwujudkan oleh Allah SWT maka kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memuji-Nya,” pungkas Said munirruddin, SE,.M.Sc  yang juga ikut sebagai pembicara kala itu.

Rizki Okta Bina juga menambahkan bahwa setiap mahasiswa harus mempunya mental yang kuat dan tidak takut untuk bermimpi menjadi pemimpin yang hebat.

Muhammad ikram berharap mahasiswa yang sudah berpatisipasi dalam acara PMOM tahun ini tidak hanya duduk, dengar dan mendapatkan sertifikat. Tetapi mereka sebagai calon-calon penerus FEB Unsyiah  dapat menerapkan hal-hal yang sudah mereka dapatkan pada hari ini karena hanya orang-orang terpilih dari lembaganya yang bisa ikut andil dalam acara ini. (La,Ghrn)

Antusiasme Mahasiswa Terhadap Wacana Kelas Internasional EKI

Antusiasme Mahasiswa Terhadap Wacana Kelas Internasional EKI (Sul/Perspektif)

Masih hangat dalam benak mahasiswa Ekonomi Islam (EKI) FEB Unsyiah akan isu mengenai pengadaan kelas internasional untuk program studi EKI. Respon positif bermunculan dari mayoritas mahasiswa jurusan EKI. Antusiasme mahasiswa bahkan sudah ada sejak IAP dikembangkan menjadi IBEP dan sudah menggaet serta program studi Ekonomi Manajemen (EKM) dan Ekonomi Pembangunan (EKP).

Yusri T Yaudullah salah seorang mahasiswa EKI 2017 mengungkapkan bahwa kelas internasional cukup penting. Mengingat bahwa cakupan ekonomi berbasis syariah telah memiliki peran penting dalam roda perekonomian. Sehingga perlu adanya wadah untuk mengajarkan dan menyesuaikan perekonomian dunia saat ini dengan ekonomi berbasis syariah. Dengan adanya rencana dibukanya kelas internasional ini akan membuka peluang mahasiswa untuk mengubah, membentuk, serta menyesuaikan diri dengan global tetapi tetap berlandaskan dengan ketentuan islam.

Mahasiswa IBEP 2017 juga merespon positif kabar ini. Salah satunya adalah Alyanur dari IBEP Manajemen, Menurutnya, ini adalah keputusan yang sangat tepat karena Ekonomi islam sedang berkembang pesat terutama di Eropa. Bahkan beberapa Negara Eropa sudah menerapkan system ekonomi islam. Ini sangat memudahkan bagi mahasiswa EKI FEB Unsyiah untuk dapat bersaing langsung dengan mahasiswa luar negeri. Apalagi dengan adanya peluang student exchange atas kerjasama Unsyiah dengan beberapa universitas di luar negeri seperti Taiwan misalnya.

“Dengan adanya kelas Internasional EKI, maka ekonomi islam akan going globally dan akan mengalahkan sistem-sistem konvensional serta akan menambah peringkat FEB di Nasional dan Internasional,” tambah Rais Al-Fathan selaku Komting IBEP 2017.

Sejauh ini, minat mahasiswa terhadap kelas internasional terus bertambah. Hal ini tentu saja bernilai baik bagi pihak kampus dan mahasiswanya sendiri. (Sul)

IBEP akan Gaet EKI pada 2019 Mendatang

IBEP akan Gaet EKI pada 2019 Mendatang (Foto:Lala/Perspektif)

Darussalam- International Business and Economic Program atau dikenal dengan sebutan IBEP adalah program unggulan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sejak tahun 2011. Dulunya IBEP lebih familiar dengan nama International Accounting Program (IAP) setelah sempat menyandang nama Pre International Class (PIC) selama beberapa tahun. Hal tersebut dikarenakan Akuntasi satu-satunya program studi yang menjadi program unggulan kelas Internasional saat itu.

Seiring berjalannya waktu, IAP mengalami perkembangan dengan menambahkan dua program studi lainnya yaitu Ekonomi Manajemen (EKM) dan Ekonomi Pembangunan (EKP) pada tahun 2017. Pada saat yang bersamaan pula IAP berganti nama menjadi IBEP. Selama masa pengembangan IBEP, muncul pertanyaan dari beberapa mahasiswa. Apakah EKI akan ada juga kelas internasional?

“Target kita, semua prodi di S1 akan dibuat kelas internasional. Kalau memungkinkan tahun 2019 akan dibuka untuk EKI.” Ujar Dr. Abd. Jamal, SE., M.Si selaku Wakil Dekan 1 bagian Akademik saat dijumpai di ruangannya (24/04).

Namun beliau juga menambahkan bahwasanya perlu persiapan yang matang terlebih dahulu terutama pada bagian pengajar, agar dapat terwujudkan di tahun 2019 mendatang. Selagi menunggu persiapan, beliau juga mengatakan akan ada indikator tertentu agar dapat masuk ke kelas internasional. Salah satunya adalah mampu mempertahankan ip di tingkat yang baik.

“Tanggapan terkait antusiasme, tentu positif sekali, mereka ingin jadi unggul. Kita sambut positif, maka kita coba tahun berikut ini.” Papar Abd. Jamal terhadap antusiasme mahasiswa EKI dalam menyambut kelas internasional EKI.

Belajar di kelas internasional tentu saja harus memiliki kemampuan berbahasa inggris yang baik. selain itu, kompetensi dalam belajar juga diutamakan. Maka, IBEP membuat sistem eliminasi agar program kelas internasional benar-benar menjadi kelas unggulan terlebih dari segi kemampuan bersaing mahasiwa di kancah internasional nantinya. IP menjadi tolak ukur utama setelah kemampuan berbahasa inggris. Bagi mahasiswa yang tidak mampu bersaing nantinya, diberikan izin untuk mengundurkan diri.

Bagi mahasiswa tahun 2017 yang tertarik belajar di kelas internasional, peluang terbuka lebar. Karena kelas internasional bukanlah program studi namun berupa kelas. Maka, dibolehkan kepada mahasiswa tahun 2017 atau yang bersemester 3 atau 4 untuk ikut mendaftarkan diri di kelas internasional asalkan tidak sendirian. Dalam artian, ada beberapa yang mendaftarkan diri baru akan dibuka kelas.

Untuk gedung atau ruangan sendiri, IBEP diberikan ruang belakang atas dan sedang direnovasi. Dengan pengadaan fasilitas yang semakin diperbaharukan dan konfirmasi dari Wakil Dekan Bagian Akademik menjadi harapan tersendiri bagi mahasiswa EKI agar kelas internasional untuk EKI akan segera terwujud di tahun 2019 mendatang.(Sul)

SIABANK Gelar Seminar Pegadaian Syariah

Dok: Istimewa

Darussalam – Silaturrahmi Aneuk Perbankan (SIABANK) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah kembali menggelar Seminar Pegadaian Syariah dengan mengusung tema “Membeli Masa Depan Dengan Harga Hari Ini”. Bertepatan di Balai Sidang FEB acara yang digelar sepekan yang lalu, kamis (19/4) turut menghadirkan Fery Heriawan selaku Deputy Bisnis Area Banda Aceh dan Syamsulsyah Rizal selaku Pemimpin Cabang Pegadaian (PERSERO) Syariah Banda Aceh.

Harapan dari Dimas Ramadhandi selaku Ketua Panitia atas terselenggaranya Seminar Pegadaian Syariah ialah agar banyak gerakan dari mahasiswa berpikir tentang pentingnya berinvestasi dimasa sekarang. Tentunya dimasa muda yang sedang kuliah dan mencari kinerja serta mengejar cita-cita.

Dalam menyampaikan materi Syamsulsyah Rizal memamparkan tentang Investasi yang tepat pada zaman sekarang ini adalah EMAS. Alasannya cukup mauk akal mengingat emas unsurnya awet, tahan inflasi, dapat dengan mudah dijual atau dijadikan jaminan bebas pajak, nilainya jarang turun bahkan cenderung terus naik, sangat pribadi perlindungan Universal dan diakui oleh semua Negara.

Selain itu, Fery Heriawan juga menegaskan bahwa ada beberapa hal yang juga menjadi kesalahan dalam berinvestasi Emas. “Masyarakat tidak pernah taucara mengecek kualitas emas, tidak tahu jenis emas, dan terlalu percaya penjual. Hal ini tentu menjadi masalah besar,” ujarnya. (Nel)

“New Traditional: Look Good, Taste Good” Menjadi Tema Utama Aceh Culinary Festival 2018.

Festival Kuliner yang telah menjadi agenda tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh ini adalah salah satu unggulan dalam 100 event wisata wonderful Indonesia yang diluncurkan oleh Kementerian Pariwisata.

#AcehCulinaryFestival2018 diharapkan dapat menjadi katalisator dalam industri kuliner khususnya di Aceh, sehingga kekayaan cita rasa lokal bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.
Hal ini mengacu pada pesatnya perkembangan trend kuliner yang menunjukkan dominasi international food.

Lebih dari 100 pelaku usaha kuliner, pengamat serta komunitas penikmat dan hobi, akan berpartisipasi dalam perayaan kuliner Aceh ini.
Semuanya akan berkontribusi dalam pelestarian budaya kuliner Aceh serta meciptakan berbagai menu inovasi yang menggabungkan cita rasa Aceh dengan berbagai unsur kuliner dunia.

Banyak kegiatan menarik yang akan mengisi acara yang digelar pada tanggal 4 – 6 Mei 2018 di Lapangan Blang Padang Kota Banda Aceh. Sederet Chef ternama akan unjuk kebolehan inovasi dan kreasinya dalam mengolah kuliner khas Aceh menjadi sajian yang memiliki tampilan yang lebih premium dalam balutan konsep fine dining. Skil memasak ala chef dengan kemampuan gastronomy molecular hingga standar Michelin Star (penghargaan di bidang kuliner kelas dunia) akan disuguhkan.

Workshop Food Stylist, Food Photography, dan Foodpreneur menghadirkan pakar serta praktisi yang ahli di bidangnya akan digelar secara gratis bagi para pengunjung yang mendaftar.

Selain itu, khanduri tetap menjadi suguhan wajib. Bagi pengunjung yang beruntung, aneka ragam hidangan khas Aceh dapat dinikmati secara gratis, selama persediaan ada.
Bagi anda yang ingin menjajal kemampuan food photography dan food stylist jangan lewatkan berbagai kompetisi food photography tematik dan food styling challenge yang akan digelar di lokasi acara setiap hari dengan hadiah jutaan rupiah.

Tahun ini para tenant pengisi stand pameran juga akan memperebutkan gelar tenant terbaik pelestari budaya kuliner dan tenant dengan inovasi kuliner terbaik berhadiah total Rp. 10 juta.

Festival 3 hari ini semakin meriah karna akan menampilkan berbagai pertunjukan seni budaya Aceh, para penyanyi dan penulis lagu berbakat Indonesia, hingga kelompok musik Fusion Ethnic yang kiprahnya telah sampai ke panggung Java Jazz.

Jadi segera agendakan kunjungan Anda ke #AcehCulinaryFestival2018, food festival for everyone!

Pergub Baru 2018, Mahasiswa FEB Unsyiah Turut Berkomentar

 

Dok: Google Image

Aceh merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang di berikan hak untuk menerapkan peraturan berdasarkan hukum syariat Islam. Secara istimewa Aceh mendapatkan status provinsi dengan otonomi khusus dengan izin untuk menerapkan peraturan sesuai syariat Islam sebagai hukum formal dan undang-undang yang menerapkannya disebut Qanun Jinayat atau hukum Jinayat

Bicara mengenai peraturan, akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan isu tentang Peraturan Gubernur (Pergub) yang terbaru. Pasalnya, dalam Pergub No. 5 tahun 2018 ini membahas mengenai pelaksanaan Uqubat jinayah cambuk yang harus dilaksanakan di Lembaga Permasyarakatan (LP). Hal ini justru menuai pro dan kontra bagi masyarakat.

Tepatnya (20/04) Sidang paripurna DPRA yang membahas tentang pergub tersebut. Menunjukkan bahwa kebanyakan Anggota DPRA menolak adanya peraturan ini.

Namun, bagaimana dengan tanggapan mahasiswa Aceh sebagai tokoh intelektual muda yang memegang peranan penting untuk kemajuan Aceh.?

Reza Zulfianda yang merupakan Ketua DPM FEB Unsyiah. dalam tanggapannya  yang kontra terhadap pergub Aceh, Ia mengatakan seharusnya pelaksanaan uqubat jinayah ini lebih baik dilakukan di Mesjid atau tempat yang terbuka, agar pelaku yang berbuat maksiat tersebut merasa lebih jera dan yang masyarakat setempat yang menyaksikan pelaksanaan juga sebagai renungan kedepannya agar tidak melakukan hal demikian.

Apabila pelaksanaan uqubat tersebut bertempatan di lapas, kemungkinan besar mereka yang dikenakan cambuk tidak merasa malu dan jera karena aksesnya terbatas. Dan sebagian orang menanggapi dengan pro mengenai kasus ini. Sebut saja hani, ia  mengatakan pelaksanaan uqubat dilakukan dilapas ada sisi positifnya juga. “Barangkali dibuat pergub seperti itu, agar anak anak dibawah 18 tahun tidak boleh menyaksikan hukuman tersebut, dan pengawasannya kurang sekali untuk penonton apalagi yang dibawa umur,” tanggapnya.

Pro dan kontranya suatu pendapat adalah hak setiap manusia, ada sisi positif dan sisi buruknya pula. Hukuman cambuk seperti itu juga tidak akan menyadarkan seseorang jika pada dasarnya yang berbuat ingin melakukan dengan kehendaknya dan senang melakukanya. Semua tergantung pada diri manusia itu sendiri. Kiasannya, jangan kamu bermain api kalau tak mau terkena api. Begitu pula dengan pelaku yang melakukan kaidah diluar syariat islam. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Karena risiko melakukan suatu perbuatan muslihat akan lebih besar dampaknya.

Dalam harap, Reza menyampaikan pesannya terhadap mahasiswa. “Sebagai mahasiswa, kita harus menghindari segala perbuatan yang berdampak buruk bagi diri kita, isi hari dengan hal yang lebih bermanfaat, lebih kritis, jangan apatis, reaktif serta lebih respon terhadap lingkungan sekitar,” pungkasnya. (Wal)

Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus

Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus (Foto:Syawal/Perspektif)

Darussalam – Manusia pada dasarnya menginginkan hidup bersih dan bebas dari semaknya tumpukan sampah.  Sebab “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”. Begitulah kalimat yang menjadi motivasi manusia untuk terus hidup sehat dengan lingkungan yang bersih.

Berbicara mengenai kebersihan, minggu (08/04) UKM PA-LH METALIK FEB Unsyiah mengadakan kegiatan yang bernama “DARLING” atau Sadar Lingkungan”.  Acara ini merupakan agenda runtin, untuk tahun ini acara tersebut dilaksanakan diseputaran kampus Ekonomi dan Gedung PDPK. Pada pukul 10.00 WIB acara resmi dibuka oleh Bapak Murkhana,SE.,MBA selaku wakil dekan III FEB Unsyiah.

“Kegiatan ini yang penting dilakukan secara beretika dan bermoral dan tidak melakukan sesuatu yang mencemari kampus ini, Kami bangga dan kami dukung kegiatan ini,” papar beliau dalam sambutannya.

Dengan mengusung tema “Menjadikan FEB Unsyiah Bersih dan bebas sampah” turut mengundang keluarga besar FEB yang berasal dari UKM dan HMJ serta DPM dan BEM. Darling merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan pada kegiatan Economic Student Day.

Keluarga Besar Ekonomi Bersama Bersihkan Kampus (Foto:Syawal/Perspektif)

Kegiatan ini bertujuan untuk menyambung silahturahmi antar seluruh keluarga besar FEB Unsyiah serta menumbuhkan rasa peduli lingkungan pada kampus tercinta ini. Dikarenakan terlalu banyak sampah yang berserakan di kampus kuning. Hal tersebut pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mahasiswa/i dan civitas akademik yang juga berada dilingkungan kampus. Diyakini bahwa Darling merupakan wadah yang tepat dalam mewujudkan kampus yang lebih bersih, rapi, dan nyaman.

“Dengan keadaan kampus seperti ini, Kami sebagai UKM pecinta alam tidak nyaman. Karena kampus ini bukan hanya tempat belajar saja, Juga tempat kita tinggal apalagi kami mapalanya. Yang sering beraktifitas dengan alam maka kami juga harus menjaga alam kami,” pungkas syahrial selaku ketua panitia.

Dalam harapnnya, Ia mengatakan setelah berlangsungnya kegiatan Darling ini, mahasiswa-mahasiswa lebih sadar akan lingkungannya. Sebab jika bukan kita yang menjaga siapa lain. Jika lingkungan kotor akan menghambat terhadap keberlangsungan proses belajar dan akan terciptanya kondisi tidak nyaman.

Sadar lingkungan kuncinya. Mulai dari kita dan untuk kita. Sampah harus diminimalisir. Karena sanpah bukan warisan anak cucu kita. (Wal,Spm)