Pemerintah Aceh Cabut Rekomendasi Eksplorasi PT EMM

 (Foto : DA/perspektif)

Banda Aceh –  Pemerintah Aceh akhirnya mencabut Rekomendasi Gubernur Provinsi Aceh Nomor 545/12161 yang dikeluarkan pada 6 Juni 2006 tentang Pemberian Rekomendasi Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Emas Mineral Murni (EMM).

Surat yang dikeluarkan pada Kamis, 18 April 2019 dan ditandatangani oleh Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah itu ditujukan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Sebelumnya,  aksi Tolak PT.EMM ini ditujukan kepada Plt.Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Aksi ini dilakukan oleh massa yang sebagian besar dari mahasiswa di Kantor Gubernur Aceh, dan berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak tanggal 09 s.d 11 april 2019.

Berikut isi lengkap surat tersebut sesuai yang diperoleh aceHTrend, Senin (22/4/2019):

1. Sehubungan dengan penyampaian aspirasi masyarakat Aceh pada tanggal 9 s.d 11 April 2019 tentang tuntutan pencabutan Rekomendasi Kuasa Pertambangan Eksplorasi PT. Emas Mineral Murni kepada Pemerintah Aceh dapat kami sampaikan bahwa:
  • Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dengan Keputusan Nomor 29/DPRA/2018 tentang Izin Usaha Produksi PT. Emas Mineral Murni di Kecamatan Beutong dan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya serta di Kecamatan Celala dan Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah yang menyatakan izin usaha pertambangan operasi produksi yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (BKPM RI) Nomor 66/1/IUP/PMA/2017 tanggal 19 Desember 2017 bertentangan dengan kewenangan Aceh sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 dan merekomendasikan kepada Kepala BKPM RI untuk mencabut/membatalkan izin tersebut yang diberikan kepada PT. EMM untuk melakukan eksploitasi di Kecamatan Beutong dan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya serta di Kecamatan Celala dan Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah.
  • Bupati Nagan Raya dengan suratnya Nomor 180/54/2018 tanggal 2 Oktober 2018 perihal Mohon Penyelesaian Permasalahan PT. EMM Beutong Ateuh Banggalang, mengharapkan kepada kami untuk memediasi,memfasilitasi, dan mengevaluasi kembali seluruh izin PT. EMM agar keseluruhan permasalahan tersebut dapat diselesaikan secara komprehensif di kemudian hari.
  • Untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem lingkungan hidup di wilayah eksplorasi dan eksploitasi tambang oleh PT. EMM di Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh, agar izin Nomor 66/1/IUP/PMA/2017 tanggal 17 Desember 2017 yang dikeluarkan oleh BKPMRI untuk ditinjau kembali.

2. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, dengan ini kami mencabut Rekomendasi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 545/12161 tanggal 8 Juni 2006 tentang Pemberian Rekomendasi Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT. EMM.

3. Demikian untuk Bapak Menteri maklumi dan terima kasih.

Plt. Gubernur Aceh

Ir. Nova Iriansyah, MT

Sumber : ACEHTREND.COM

Pak PLT Gubernur, Mahasiswa Rindu Kehadiranmu

Pak PLT Gubernur, Mahasiswa Rindu Kehadiranmu (foto:Auzan/Perspektif)

Banda Aceh – Mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat kembali datang berunjuk rasa di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (11/4). Aksi ini adalah aksi di hari ketiga secara berturut-turut. Mereka melakukan unjuk rasa untuk bertemu dengan Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah guna menolak izin tambang PT Emas Mineral Murni (PT EMM). Namun memasuki hari ketiga, tuntutan belum juga dikabulkan.

Pada hari pertama aksi, massa tidak berhasil menemui Nova Iriansyah karena berada di Takengon, Aceh Tengah untuk menghadiri acara peresmian Gardu Induk PLN Bersama Menteri ESDM, Ignasius Jonan. Kemudian, pada hari kedua aksi (10/4), ribuan mahasiswa kembali menduduki Kantor Gubernur Aceh, namun Nova juga tak kunjung hadir karena berada di Hotel Hermes Banda Aceh untuk membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Pemerintah Aceh 2020.

Sorak peserta aksi makin menjadi, penantian mereka untuk menjumpai orang nomor 1 di Aceh saat ini tak kunjung kesampaian. Lantas bagaimana dengan hari ini? Akankah ia bernyali untuk menjumpai pendemo yang sudah tiga hari menanam rindu untuk bertemu dengannya? Apakah ia mau menampung semua keluh kesah mahasiswa dan masyarakat?

Sepanjang dua hari aksi unjuk rasa yang diikuti ribuan mahasiswa dan masyarakat tersebut, tak sedikitpun terlihat itikad baik dari Nova untuk turun langsung menemui para pendemo. Walaupun Humas Pemerintah Aceh telah mengunggah video pernyataan terhadap masalah izin PT EMM. Menurut Nova, izin bukan dikeluarkan oleh Pemerintah Aceh. Alhasil, kekecewaan pun dilampiaskan dengan merusak fasilitas dalam area Kantor Gubernur.

Mulai dari ruas pagar yang sudah tercopot dari tempatnya, vas bunga yang rusak, hingga pavin block  yang disulap menjadi ‘kuburan untuk Nova’. Kini, tulisan “Kantor Gubernur” pun berubah menjadi “Kantor di Segel” oleh mahasiswa yang bertahan hingga pagi hari.

Seperti yang kita ketahui jarang sekali mahasiswa dan berbagai kalangan masyarakat aceh turun ke jalan untuk berdemo. Apalagi dalam skala besar seperti ini, jika memang taka da hal pelik yang harus di atasi.

Di hari ketiga, aksi masih terus berlanjut. Massa terus berdatangan dari berbagai kampus di luar Banda Aceh.  Mereka masih menutut pertanyaan yang sama, Bernyalikah Nova Iriansyah menjumpai aksi, mendengar tuntutan massa pendemo dan mencabut izin tambang di Tanah Syuhada? Kita lihat saja!

 

Penulis adalah Hasan Basri, Pemimpin Umum LPM Perspektif FEB Unsyiah