DPM FEB Unsyiah Adakan Parliamentary School

 

DPM FEB Unsyiah Berharap Dapat Mencetak Kader lewat Parliementary Shool (Razi)

Darussalam- Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala mengadakan acara Parliamentary School. Acara tersebut dilaksanakan pada  hari Sabtu, 13 Mei 2017 bertempat di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala.

Parliamentary School  sendiri merupakan acara kedua yang diselenggarakan oleh DPM FEB Unsyiah setelah Pelatihan Manajemen Organisasi Mahasiswa (PMOM) yang dilaksanakan pada beberapa minggu yang lalu. Acara ini  mengungsung tema “Born Young Future Legislator” yaitu melahirkan legislator muda. Maisarah (yang biasa disapa Anggi) selaku ketua panitia acara ini mengatakan bahwa tujuan di adakannya  Parliamentary School  sendiri ialah untuk membentuk legislator kampus yang berkepribadian efektif dalam mengimplementasikan fungsi-fungsi kepada lembaganya masing–masing.

Pemateri dalam acara tersebut adalah H. Muhammad Nasir Djamil, S.Ag., M.Si salah satu anggota DPR RI, T. Iskandar Daod, SE., M. Si, Ak anggota Badan Anggaran Aceh, dan Bardan Sahidi, M.Pd wakil Ketua Badan Legislasi DPR Aceh dan juga dibuka oleh Murkhana SE.MBA selaku Wakil Dekan III FEB Unsyiah yang mengungkapkan bahwa, “Organisasi itu sangat penting akan tetapi jangan sampai larut. Karena orang yang berorganisasi kemudian tamat secepat – cepatnya, maka seseorang itu  akan berhasil dan sukses didunia kerja. Sukses sendiri di dapat dari sebuah kedisiplinan yang berawal dari organisasi itu sendiri”.

DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara. Lembaga negara ini tentunya memiliki hak-hak. Adapun hak tersebut di antaranya adalah hak interpelasi, hak angket, dan hak untuk menyatakan pendapat. Dalam pemaparannya, H. Muhammad Nasir Djamil  membahas tentang kekuasaan DPR yang didalamnya terdapat lembaga legislatif yang bertugas untuk membuat undang-undang, lembaga eksekutif yang bertugas menerapkan atau melaksanakan undang- undang, serta lembaga yudikatif bertugas untuk mengadili masyarakat bagi yang melanggar undang-undang tersebut. Sedangkan fungsi DPR ada 3 (tiga) yaitu, fungsi legislasi , fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan.

Menurut T. Iskandar Daod, SE., M.Si, Ak , Anggaran Pendapatan Belanja Aceh ( APBA) pada tahun 2017 mencapai 14,675 Triliun yang merupakan APBA tertinggi di Sumatera. Sedangkan tingkat kemiskinan sekitar 5,7 % dengan diikuti pengangguran tertinggi di Sumatera. Dalam sesi diskusi dengan ketua komisi VI ini, sedikit menyinggung tentang pengobrak-abrikan tanaman petani yang ada di PENAS Aceh kemarin. Ia mengungkapkan bahwa insiden yang terjadi pada beberapa hari yang lalu itu merupakan hal yang sangat merugikan. Mengingat tanaman yang berada di acara tersebut sangat luar biasa dan juga bisa dijadikan sebagai sebuah area tempat wisata.

Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB sampai sore ini di hadiri oleh mahasiswa Universitas Syiah kuala, UIN Ar-Raniry dan masyarakat umum lainnya. Menurut  Reka Wati yang merupakan salah satu dari beberapa  mahasiswa dari Fakultas Pertanian Unsyiah yang hadir mengatakan“ kami kurang mengerti tentang politik karena selama ini belajarnya tentang pertanian, akan tetapi untuk seminar ini kami lebih mendapatkan wawasan yang lebih luas” akunya.

Dalam sesi acara terakhir Muhammad Fahrozi mengatakan bahwa “Saya berharap kepada kawan- kawan semua agar yang telah mengikuti Parliamentary School  ini dapat menjadi diri lebih baik lagi untuk kampus tercinta kita khususnya. Jadi apa yang kita dapatkan hari ini dapat diterapkan dan direalisasikan dirumah masing-masing” ungkap ketua DPM FEB Unsyiah  ini. (Lis)

 

OJK Sosialisasikan Pasar Modal di Kalangan Akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah

OJK Sosialisasikan Pasar Modal di Kalangan Akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah

OJK Sosialisasikan Pasar Modal di Kalangan Akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah

Darussalam – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menggelar seminar pada Rabu(7/9) yang bertempat di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala dalam rangka mensosialisasikan Pasar Modal Indonesia kepada seluruh kalangan akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Seminar diahdiri lebih dari 200 peserta yang sangat antusias mulai dari dibukanya pendaftaran. Hal ini terlihat pada saat registrasi, peserta seminar memuat antrian yang panjang mulai pukul 08.12 WIB. Selain dari kalangan akademika kampus sendiri, seminar ini juga dihadiri oleh beberapa siswa/i Sekolah Menengah Atas.

Darmawan, Kepala bagian Pengaturan Emiten, Perusahaan Publik, dan Pasar Modal Syariah Aceh mengajak mahasiswa atau seluruh peserta yang hadir untuk mencoba berinvestasi dalam dunia saham. Ia juga menegaskan membuka atau membeli saham bukanlah datang membawa uang kepada kantor OJK, tapi cukup dengan mendaftar dan melengkapi administrasi hanya melalui gadget.

OJK 2016

Darmawan memaparkan materi mengenai Pasar Modal Indonesia. (7/9) (Foto: Dimas/Perspektif)

Dalam seminarnya ia juga memamaparkan bahwa peran OJK dalam pengawasan pasar modal Indonesia dan juga hasil survey nasional Literasi Keuangan yang menunjukkan bagaimana tingkat pemahaman dan pemanfaatan dari Perbankan, Asuransi, Pegadaian, Pembiayaan, Dana Pensiun, dan Pasar modal.

Dalam kesempatan ini, juga hadir pembicara dari akademisi internal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah yaitu Said Musnadi dengan bahasan tentang peranan dari capital market dalam membangun ekonomi. “Ada hipotesis yang menjelaskan bahwa dengan adanya instrument investasi modal dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja semakin luas, pendapatan semakin besar. oleh sebab itulah ekonomi kita menjadi lebih baik”. Ungkapnya.

Bagi yang sudah membuka akun saham, mereka akan mendapat user ID dan password yang tidak bisa diakses oleh orang lain. “Biaya yang harus dikeluarkan untuk membuka account saham cukup denagn membayar Rp.100.000. Dalam hal jual dan beli saham, OJK memaparkan kemudahan dalam bertransaksi yaitu melalui aplikasi bagi yang sudah memiliki ID dan password. (Feby)

Editor: (Ftrdafya)

Alween Ong Ajak Mahasiswa Menjadi Enterpreneur

Alween Ong ajak mahasiswa menjadi entrepreneur sejak dini (sumber: Tabloid imaji)

Alween Ong ajak mahasiswa menjadi entrepreneur sejak dini (sumber: TabloidImaji.com)

Darussalam – Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (HIMADIPA) menggelar Seminar yang mengusung tema “Open Your Mind To Be A Young Entrepeneur” yang mengambil tempat di Balai Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah, Senin, 23/5/2016. Seminar ini bertujuan untuk memotivasi kawula muda khususnya mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Unsyiah agar menjadi pengusaha muda, tidak terpaku dalam mencari pekerjaan di masa akan datang.

Menghadirkan pembicara ternama yang berkompeten di bidangnya yaitu Alween Ong, seorang wanita muda di daerah Belawan, Sumatera Utara, seorang anak nelayan yang menjabat sebagai Ketua Forum Kewirausahaan Pemuda Indonesia. Pemateri kedua yaitu Said Muhammad Iqbal, pengusaha sukses asal Aceh, owner Hadrah Group yang bergerak di bidang properti, EO, dan pangkalan gas.

“Sesuatu itu tidak ada yang tidak mungkin jika ingin meraih kesuksesan seperti yang ia gapai sekarang. Jangan takut gagal dan hadapi setiap risiko, karena jika semua diusahakan dengan sungguh-sungguh akan berbuah manis”, kata Said sebagai motivasi untuk para audience.

Berbeda dengan Said, Alween Ong seorang pengusaha yang bergerak di bidang souvenir dalam kesempatannya lebh menekankan pada kemampuan setiap individu dalam menjalani kewirausahaannya. Menurutnya, setiap orang pasti memiliki jiwa entrepreneur, tinggal bagaimana orang tersebut memanfaatkannya. (Torus)

Editor: FAA

HMM Gelar Seminar Konsentrasi

Seminar Konsentrasi HMM (Toso/Perspektif)

Seminar Konsentrasi HMM (Toso/Perspektif)

Darussalam – Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Sabtu (16/4/2016) menggelar Seminar Konsentrasi yang mengusung tema “Know your path, know your future”, di Balai Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.
Acara yang dibuka langsung oleh Ketua Umum HMM, Thariq Faturrahman pada pukul 09.00 WIB berlangsung dengan khidmat. Pemateri dari masing-masing bidang konsentrasi diantaranya, yaitu Dr.Permana Hornita Lubis, S.E., MM sebagai pemateri Pemasaran, Drs.Saiful Bahri, MS sebagai pemateri Operasional, Fathurrahman, S.E., Mph sebagai pemateri Keuangan, dan Fairuz Abadi, S.E., Msj sebagai pemateri Sumber Daya Manusia (SDM).

Pemateri menyampaikan bagaimana cara pembelajaran dan prospek kedepan dalam konsentrasi tersebut.
Seminar ini difokuskan untuk leting angkatan tahun 2014 dan 2015 yang ingin mengambil konsentrasi di semester selanjutnya. “Semoga leting 14 dan 15 bisa dengan bulat menentukan jalannya sehingga masa depan lebih cerah, lebih teratur dalam memilih dan lebih mengetahui skil mereka”, papar Mirza Reziansyah selaku Sekretaris Panitia. (Toso)

 

Editor: FAA

Kementrian Keuangan Republik Indonesia Adakan Kuliah Umum

Kemenkeu Adakan Kuliah Umum

Kemenkeu Adakan Kuliah Umum (foto: Fitri/Perspektif)

Darussalam – Kementrian Keuangan Republik Indonesia beberapa waktu lalu (3/3/2016) mengadakan kuliah umum yang bekerja sama dengan Unsyiah kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB Unsyiah). Kuliah umum ini bertema “Pengelolaan Sukuk sebagai Sumber Pembiayaan Bangunan” yang diselenggarakan di Aula FEB Unsyiah, dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa S1, dosen, dan juga staff Kemenkeu.

Acara ini diisi oleh dua pemateri yaitu Eri Haryanto, S.E., M.SI. (Direktur Pembiayaan Syari’ah Kementrian Keuangan Republik Indonesia) yang memaparkan tentang Pengelolaan Sukuk di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Dr.M.Shabri Abd.Majid, S.E., M.Ec. (Ketua Program Studi Ekonomi Islam FEB Unsyiah) yang membahas terkait Pengelolaan Sukuk dari Sudut Pandang Islam dan Teori tentang Sukuk.

Mewakili Dekan FEB Unsyiah, Dr.Aliasuddin, S.E., M.Si. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dalam pembukaannya menyampaikan bahwa “Kuliah Umum ini merupakan kerja sama yang sangat dibutuhkan mahasiswa dan menjadi point dari Akreditasi. Salah satu kelemahan Indonesia saat ini adalah terlalu banyaknya uang deposito yang disebut uang mati dan bagi perekonomian sangat merusak. Karena uang tidak produktif berarti dia tidak bisa menunjang proses produksi, kalau dibeli ke Sukuk bisa merubah fungsinya menjadi lebih produktif.

“Di mata Internasional, Indonesia merupakan negara dengan penerbit Sukuk paling banyak, tapi Sukuk Korporasi di Indonesia tergolong sangat lambat dibandingkan dengan negara lainnya seperti Malaysia, Afrika Utara, dan Inggris. Juga masih banyaknya hambatan investor untuk berinvestasi, seperti permasalahan birokrasi dan infrastruktur” ujar Heri Aryanto dalam materinya.

Shabri Abd.Majid juga menjelaskan “Sukuk merupakan investasi yang sudah sesuai dengan prinsip syariah, karena dia bukan merupakan surat hutang. Bisnis dan Investasi haruslah terbebas dari unsur-unsur MAGRIB, yaitu: Maysir, Aniaya, Gharar, Haram, Riba, Iktinaz, Ikhtikar dan Batil. Karena semua unsur tersebut tidak sesuai syari’ah.
Pada acara kuliah umum ini, juga Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Kementrian Keuangan Indonesia diberikan kesempatan untuk memberikan pemaparan mengenai proses dan prosedur untuk mendapatkan peluang kerja di lingkungan Kemenkeu dan juga menyediakan booth khusus untuk para mahasiswa yang ingin bertanya lebih jauh, salah satunya mengenai program beasiswa dari pemerintah Indonesia yakni Kementrian Keuangan Indonesia, yaitu beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) (FAA).

Editor: Dimas

IDX Berikan Sosialisasi Pasar Modal Kepada Mahasiswa

IMG_20151211_104457_HDR

Kepala Divisi Edukasi IDX Indonesia, Djoko Saptono memaparkan perbandingan investasi saham dengan investasi lainnya. (11/12/2015) (Dimas/Perspektif)

Darussalam – Jumat (11/12/2015) IDX kembali melakukan Sosialisasi Pasar Modal yang menyediakan sarana bagi mahasiswa untuk lebih mengenal mengenai bagaimana pasar modal di Indonesia di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Menghadirkan Djoko Saptono (Kepala Divisi Edukasi IDX Indonesia) dan Ananta Wiyogo (Presiden Direktur BNI Securities), sosialisasi kali ini memberikan pemaparan mengenai bagaimana investasi pasar modal di Indonesia.

Menariknya, tidak hanya para peserta yang hadir saja yang semangat, namun Said Musnadi, selaku moderator juga tak kalah semangat menanggapi soal pasar modal yang ada di Indonesia saat ini. Sembari menunjukkan tabel perbandingan investasi saham dengan investasi lainnya, Djoko Saptono mengatakan, “Pemahaman yang kurang pada masyarakat, membuat potensi investasi saham di Indonesia saat ini masih tergolong sedikit dibandingkan dengan negara lain meski sudah mulai berkembang. Namun ini tidak menjadi pengahalang untuk berkembangnya potensi bertambahnya investor-investor yang ada di Indonesia.”

Menyambung paparan Djoko, Presiden Direktur BNI Securities Ananta Wiyogo menambahkan mengenai menjadi investor saham, “sebagai investor, yang sangat dibutuhkan adalah informasi mengenai saham-saham yang beredar, serta kendali penuh akan informasi saham perusahaan yang kita miliki. Jika kita tidak tahu laporan resmi transaksi keluar masuknya saham dan dana sebagaimana fakta yang terjadi. Bisa saja ada transaksi-transaksi yang menguntungkan investor, tapi tidak dilaporkan oleh perusahaan sekuritas. Dan hal itu tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Dengan kartu AKSes inilah hak dan kepentingan investor dilindungi,” umbarnya.

Mahasiswa yang hadir sangatlah antusias, sebanyak lima pertanyaan terlontar untuk pemateri yang memberikan edukasi bagi mahasiswa-mahasiswa mengenai pasar modal di Indonesia. (DA)

Keenan Pearce; Act Local, Think Global

Keenan Pearce (Mizla/Perspektif)

Darussalam – Pada kegiatan “National Business Seminar” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) beberapa waktu lalu (24/10/2015), Keenan Pearce selaku keynote speaker sempat memperbincangkan mengenai keadaan pengusaha muda Indonesia pada saat ini.

Mengapa banyak usaha yang menjadi sebuah trend namun tak sedikit pula yang kemudian gulung tikar? Sebut saja jika di Aceh sendiri adalah usaha yang berhubungan dengan kopi, baik itu produksi langsung maupun usaha retail dalam bentuk warung kopi (warkop) ataupun cafe.

Hal itu disebabkan karena kebanyakan dari mereka tidak menerapkan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) secara efektif. Rata-rata berhenti pada tahap meniru tanpa adanya modifikasi dan pencarian sebuah jati diri sebagai ciri khas.

Namun di antara banyaknya usaha tersebut, masih ada yang tetap bertahan dan berkembang, seperti Komos Coffee yang sudah melanglang buana hingga ke luar negeri. Bahkan semenjak tahun 2014, pemiliknya telah membuka sebuah cafe dengan ciri khas kopi arabica, yaitu Harvies Coffee House. Produknya, KOMOS Coffee sendiri telah berdiri sejak tahun 2010 yang merupakan usaha perseorangan yang didirikan oleh Tommy Harvie. Pada awal mulanya produksi kopi hanya dikhususkan untuk konsumsi pribadi dan dibagikan ke beberapa kolega terdekat. Namun seiring berjalannya waktu ternyata banyak mendapat apresiasi positif sehingga diputuskan untuk memulai usaha produksi lebih intensif.

Inilah salah satu wujud nyata dari ungkapan yang dijabarkan pemateri saat seminar nasional di acara Management Creativity Festival, lakukan sesuatu yang bersifat lokal namun berpikirlah secara global. Mulai dari bagaimana cara memasarkan produk hingga membuat nya special berbeda dari produk yang lain.

Alumnus Universitas Pelita Harapan ini juga mengatakan, “Bloom where you’re planted”. Berkembanglah dimana kamu ditanam. Ungkapan ini cocok sekali dengan fenomena yang sudah terjadi di kalangan pengusaha muda Aceh, yaitu memanfaatkan segala potensi asli daerah yang ada untuk memajukan perekonomian masyarakat sekitar dan mengurangi tingkat angka pengangguran.

Dapat disimpulkan bahwa pengusaha muda aceh saat ini telah melakukan beberapa tahapan yang baik dalam memulai bisnis namun masih kurang berinovasi dalam hal mepertahankan eksistensi usahanya.

“Bisnis yang kita jalankan sekarang itu bukan hanya untuk sekarang namun juga harus diperhitungkan mau jadi apa bisnis ini 3-5 tahun ke depan. Apakah bisinsi ini masih menarik minat masyarakat? Apakah ia masih menghasilkan profit yang mumpuni ?” ungkap pengusaha tampan yang akrab disapa Keen ini.

Dalam akhir sesi wawancara, kakak kandung dari aktris Pevita pearce ini mengungkapkan harapannya agar dapat kembali menginjakkan kakinya di bumi serambi mekkah ini “not for bussiness but for travelling” tutupnya. (Mia)

Besok, Community Festival Hadirkan Seminar dan Forum Komunitas

Seminar MEA dan Forum  KomunitasBanda Aceh – Komunitas @iloveaceh bekerjasama dengan BEM FISIP Unsyiah dan ASD Cooperative – Microfinance menggelar Community Festival 2015 yang akan dilaksanakan besok, Sabtu (30/5/2015) bertempat di Aula FISIP Unsyiah Darussalam, Banda Aceh.

Pada tahun ini, #CommFest2015 berupaya untuk mengumpulkan banyak input serta masukan dari sejumlah perwakilan atau lintas komunitas untuk membangun potensi kreativitas dan inovasi bagi kota/kabupaten yang ada di Aceh.

“Dengan adanya event komunitas ini, kita harapkan menjadi medium baru dalam mengembangkan ide-ide maupun semangat untuk berkarya baik melalui online/offline yang tentunya bermanfaat bagi masyarakat serta kemajuan Aceh kedepan,” sebut Ketua Pelaksana, Dara Elvia RS.

Dengan mengangkat tema “The Creativity of ASEAN Economic Community in Tourism for Social Movement”, #CommFest2015 akan menghadirkan dua agenda utama, yakni seminar Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Forum Komunitas.

“CommFest2015 kali ini menjadi bentuk pergerakan sosial komunitas agar bisa menggali secara lebih spesifik sektor ekonomi kreatif dan peluang usaha dari setiap komunitas dalam menyiapkan mental untuk pemberlakuan MEA akhir tahun mendatang, serta melihat sektor pariwisata yang luput untuk dikemas dan dipromosikan oleh komunitas lewat keunikan dari masing-masing identitas komunitas itu sendiri,” ujar Dara.

Ada sekitar 13 jenis komunitas yang akan dilibatkan dalam perhelatan #CommFest2015 ini, meliputi Komunitas Media Sosial & IT; Komunitas Wirausaha; Komunitas Lingkungan & Alam; Komunitas Fotografi & Sinematografi; Komunitas Sosial Kemanusiaan & Pendidikan; Komunitas Seni Tari dan Budaya; Komunitas Musik Tradisional & Modern; Komunitas Kampus; Komunitas Fans Club; Komunitas Olahraga; Komunitas Lifestyle; Komunitas Wisata dan Sejarah; dan Komunitas Minat Khusus.

Selain menghadirkan sejumlah narasumber muda dan akademisi pada sesi seminar MEA, #CommFest2015 juga akan menghadirkan keynote speaker sebagai pembuka dalam seminar, yakni Tgk Nasruddin Ahmad yang kini menjadi pimpinan Dayah Entrepreneur Aceh.

Adapun sejumlah narasumber yang akan mengisi seminar, terdiri Direktur UKM Center FE Unsyiah Dr. Iskandarsyah Madjid, SE, MM, Presiden Wirausaha Muda Mandiri Chapter Aceh Mulya Khan, dan Inisiator Gampong Wisata Rencong Aceh Besar Ramadhan.

Dara menambahkan, selain dikhususkan untuk komunitas, acara yang terbatas untuk 150 peserta ini juga terbuka bagi kalangan umum dan mahasiswa yang tidak dipungut biaya alias gratis. Serta bagi yang ingin mendaftar untuk tempat bisa melalui nomor panitia dengan cara SMS.

“Bisa langsung SMS kami dengan format Nama (spasi) Nama Komunitas (spasi) Asal/Daerah ke nomor +6285277722011 sebagai bentuk keikutsertaan dalam seminar dan forum,” imbuh Dara.[]

Nangkring Kompasiana, Gerakan Nasional Non Tunai

Foto bersama Kompasianer (Foto: @iloveaceh)

 

Banda Aceh – Bank Indonesia dan Kompasiana mengadakan seminar Gerakan Nasional Nontunai yang bertemakan “Jelajah Nontunai” pada tanggal (25/4/2015) lalu di Kantor Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh. Gerakan yang mendorong dan meningkatkan kesadaran masyarakat melakukan transaksi pembayaran yang diyakini dapat mendukung sistem pembayaran yang aman, efisien dan lancar.

Seminar nontunai yang diselenggarakan oleh Kompasiana ini juga dimeriahkan dengan adanya live twitter, blog competition serta photo competition. Seminar yang diadakan di 5 kota besar yaitu Surabaya, Ambon, Banjarmasin, Makasar dan Banda Aceh ini merupakan salah satu sosialisasi untuk menggunakan nontunai. Pada seminar ini peserta yang hadir terdiri 70 orang blogger, 40 orang GENBI (Generasi Bank Indonesia), asosiasi, Pemerintah Daerah dan juga dari perwakilan bank umum lainya.

Sebelum seminar dimulai, para perserta menikmati coffee break yang telah disediakan oleh panitia Bank Indonesia. Kemudian seminar berlanjut dengan menggundang narasumber Trefiantoni mewakili DEP, Susanti Dewi mewakili BI, M.Sandi Pratama mewakili ASPI dan T. Munandar yang mewakili Kompasiana. Dalam Seminar tersebut jelaskan bagaimana Indonesia merupakan negara yang rendah menggunakan uang nontunai dan yang paling tinggi menggunakan uang tunai,yaitu sebanyak 99,4% yang padahal memiliki banyak kelemahan dalam melakukan transaksi. Serta menjelaskan apasaja keuntungan dalam menggunakan uang nontunai yang akan membuat masrakat lebih praktis aman dan cepat. Adapun instrumen pembayaran uang tunai yang itu bisa menggunakan APMK (Alat Pembayaran Menggunakan Kartu) atau bisa dengan menggunakan uang eletronik yang telah disediakan oleh penerbit.

Tantangan dalam mengubah sistem pembayaran menggunakan nontunai bukanlah sedikit adapun yang sangat sulit itu adalah mengubah perilaku masyarakat agar lebih percaya dengan pembayaran nontunai, lalu masih belum memahami keberadaan instrumen nontunai dan juga interkoneksi yang masih sangat terbatas. Oleh sebab itu Gerakan Nasional Nontunai melakukan sosialiasi yang melibatkan LKD, ASPI serta blogger untuk dapat memberikan informasi atau pemahaman tentang nontunai kepada masyarakat. Dengan begitu, akan banyak orang akan menggunakan uang nontunai, sehingga kegunaan uang tunai yang sekarang dapat diminimumkan.

Gerakan Nasional Nontunai juga telah banyak melakukan upaya agar sosialisai serta target pencanpaian agar Indonesia bisa menggunakan uang nontunai. Upaya yang telah dilakukan adalah peningkatan instrumen dan infrastruktur, menguatkan kelembagaan serta mekanisme. Adapun upaya yang lebih lanjut kedepannya antara lain mendorong agar kartu dari penerbit dapat dibaca oleh penerbit lain, pengembangan standar, koordinasi dengan pemerintah untuk penyediaan sarana pendukung, edukasi dan sosialisai lebih lanjut kepada masyarakat. Sehingga akan lebih memudahkan masyarakat dalam menggunakan uang nontunai. [Miftah]

Aceh Siap Hadapi Tantangan Global ASEAN Economic Community 2015

Banda Aceh – Pada saat ini, Negara-negara di Asia Tenggara tengah mengalami suatu kondisi dimana di tahun 2015 akan menghadapi ASEAN Economic Community dimana  tujuan pembentukan ASEAN Community tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota ASEAN sehingga mampu menghadapi persaingan pada lingkup regional dan global. Hal ini merupakan suatu kemajuan yang sangat signifikan sebagai respons terhadap care of human security yang mencakup keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan, keamanan individu, keamanan komunitas, dan keamanan politik.

IMG_1580

Dasrul Chaniago sedang memaparkan materi seminar (13/10/2014)

Seminar nasional Pekan Ilmiah Akuntansi (PIA) XVII yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Syiah Kuala pada hari Senin (13/10/2014) yang membicarakan mengenai “Meningkatkan Kapabilitas Akuntan sebagai Solusi Menghadapi Tantangan Global ASEAN Economic Community 2015” kembali mengajak publik untuk segera mempersiapkan diri sehingga Indonesia akan siap menghadapi tantangan global tersebut.

Suasana seminar yang aktif membuat para peserta sangat antusias dalam mengikuti jalannya acara. Dasrul Chaniago selaku CFO General Electric Indonesia dan narasumber utama seminar mengatakan disela-sela presentasi nya, “Tantangan kita untuk menghadapi persaingan ini adalah dengan bagaimana kita merespon dan bereaksi secara profesional di persaingan dunia global. Dapat dengan 4 poin yang dominan dalam bekerja professional seperti Excellent in Education, Business Argument, Soft Skills & Leadership atau dengan menjadi inovatif, penuh ide kreatif, dan menjadi seorang pemimpin yang membuat perubahan.”

Dr. Nadirsyah, S.E., M.Si., Ak selaku narasumber mewakili akademisi unsyiah mengatakan bahwa sekarang Kementerian Keuangan Indonesia telah menerbitkan peraturan tentang Akuntan Beregister Negara (PMK Akuntan). Tujuannya adalah untuk mewujudkan terciptanya akuntan yang professional dan memiliki daya saing di tingkat global.

Suasana Peserta Semianr PIA XVII

Suasana seminar nasional

Seminar yang diikuti oleh lebih dari 400 peserta ini diakhiri dengan penyerahan piagam kepada para narasumber serta moderator seminar. Acara ini bekerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dinas Keuangan Provinsi Aceh, Perusahaan Listrik Negara (PLN), Bank Aceh, KAP Rizal Yahya Registered Public Accountant, Hadrah Wedding Organizer, Super Bimbel GSC, 94.5 Three FM Banda Aceh, DJ Gallery Digital Printing, LPM Perspektif, @ILoveAceh, The Globe Journal, dan Palang Merah Indonesia. []