Tasya Kamila, Mahasiswa Ekonomi yang Berprestasi

Tasya Kamila, Mahasiswa Ekonomi yang Berprestasi (foto : Panitia FIEL)

DarussalamMemulai karir keartisannya dari kecil sebagai bintang iklan dan penyanyi cilik, membuat Shafa Tasya Kamila atau yang lebih akrab disapa Tasya Kamila dikenal banyak orang. Terutama orang – orang yang sejak kecilnya sudah diisi oleh berbagai lagu anak dari Tasya. Namun siapa sangka ternyata Tasya sendiri adalah seorang mahasiswa berprestasi lulusan Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia, dan berhasil menyandang gelar Master of Public Administration  Columbia University, AS pada usianya yang ke 26 tahun.

Ketika diwawancarai pada Jum’at malam ( 30/11 ) di AAC DAYAN DAWOOD pada acara Fiel Gathering night & Talkshow, Tasya membagikan sedikit pengalamannya selama menjadi mahasiswa ekonomi di UI, juga beberapa cerita menarik kenapa ia bisa memilih dan tertarik kepada fakultas ekonomi.

Jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi UI merupakan pilihan Tasya untuk pendidikan sarjananya adalah karena influence dari Alm. Ayahnya yang ternyata seorang auditor dan memiliki kantor akuntan publik. Juga menurut Tasya, ilmu ekonomi adalah ilmu yang bisa diterapkan di banyak bidang dan related dengan berbagai hal. Sehingga ia bisa mengerti pemasalahan yang dihadapi negara dan dalam dunia bisnis.

Selama menjadi mahasiswa ekonomi, rupanya Tasya Kamila juga aktif di berbagai kegiatan di luar kampus, seperti bermain film, peluncuran album barunya beserta kegiatan promosi, juga menjadi Duta Lingkungan Hidup yang mengharuskannya untuk berkampanye di seluruh Indonesia. Sebab itu pula Tasya mengaku bahwa ia tidak punya cukup waktu untuk menjadi aktif juga di keorganisasian kampus, dan mungkin hanya sesekali bisa membantu temannya menjadi pengisi acara apabila ada event di kampus.

Tasya Kamila tidak ingin ilmunya hanya berbatas di dunia entertainment saja, karena menurutnya ia sudah cukup belajar dan mendapatkan pengalaman selama menjadi artis dengan bekerja bersama orang – orang profesional di bidang entertain. Oleh sebab itu ia memilih meluaskan pendidikan formalnya di luar dunia keartisan.

Kepintarannya dalam mengatur waktu antara belajar dan bersosialisasi memang patut diacungi jempol. Dan kegigihannya untuk memperjuangkan pendidikannya wajib dicontoh oleh mahasiswa – mahasiswa yang ada di seluruh Indonesia.

Dengan aktivitas seorang Tasya Kamila yang begitu padatnya, ia tetap bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi. Bahkan Tasya bisa mendapatkan beasiswa LPDP yang persaingannya sungguh ketat.

Beasiswa S2 LPDP ( Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ) yang ia dapatkan tidak datang begitu saja. Sudah tentu Tasya telah berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa tersebut hingga akhirnya usahanya membuahkan hasil dengan dia menjadi lulusan S2 di Columbia University dengan IPK di atas 3,7.

Tasya mengungkapkan bahwa begitu banyak rintangan yang di jalaninya sebagai mahasiswa di luar negeri,dan semua itu dapat diatasi dengan baik. Apalagi kehidupan mahasiswa S1 di Indonesia dan di luar negeri itu sangatlah berbeda. Metode belajar dan standar pendidikannya berbeda, dan rata – rata mahasiswa di sana adalah mahasiswa yang kompetitif, ambisius, rajin belajar, dan berani untuk mengutarakan pendapatnya.

“ Tapi selain itu, kualitas yang mungkin kalian perlu punya adalah rasa semangat nasionalisme dan gimana kalian memiliki visi juga untuk menggunakan ilmu yang nanti di dapat, baik itu S2 dan S3, di dalam ataupun luar negeri, untuk berkontribusi di Indonesia.” Ujar Tasya Kamila seorang penyanyi cilik yang kini meraih kesuksesannya di dunia pendidikan.(mola)

E-Learning : Siapkah digunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

E-Learning : Siapkah di Gunakan Saat Kuis, Midterm ataupun Final Tes ?

Darussalam – Pemanfaatan elektronik learning (e-learning) dalam pendidikan merupakan salah satu sarana penunjang dalam meningkatkan efektifitas proses pembelajaran di kelas. Pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran juga dapat meningkatkan keterampilan teknologi informasi, kedisiplinan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, dan memudahkan komunikasi dengan dosen matakuliah yang bersangkutan. Namun, bukan berarti pemanfaatan e-learning tak memiliki hambatan sama sekali, terutama pada saat pertama sekali menggunakannya. Hambatan-hambatan teknis merupakan hal yang pada umumnya dihadapi oleh mahasiswa selama menggunakan media elektronik learning. Hambatan ini menjadikan tantangan tersendiri bagi mereka dalam menggunakan media elektronik ini.

Penerapan e-learning dalam pendidikan mengikut-sertakan beberapa komponen. Komponen pertama adalah infrastruktur e-learning. Infrastuktur berupa personal komputer, jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia lainnya. Pada infrastruktur saat pembelajaran terjadi maka terkadang timbul kendala, yakni tidak semua pembelajaran efektif dalam menggunakan media komputer. Banyak pembelajaran yang lebih efektif bila dilakukan secara kooperatif atau pun kolaboratif.

Kendala lain juga muncul, yaitu ketersedian dan kelayakan infrastruktur e-learning itu sendiri. Dalam kenyataannya tidak semua mahasiswa memiliki perangkat yang memadai untuk menjalankan e-learning. Maksud dari perangkat yang memadai yaitu berupa android yang mudah untuk melakukan koneksi internet, dan tentunya tidak semua mahasiswa berada di tempat yang memiliki jangkauan mudah dalam penggunaan internet. Kendala terbesar adalah di zaman milenial seperti saat ini masih ada beberapa mahasiswa yang kurang pengetahuan dalam ilmu teknologi (gaptek).

Dalam penggunaan e-learning sangat dibutuhkan perhatian di mata kuliah manakah yang sesuai digunakan, banyak permasalahan seperti ada mata kuliah yang membutuhkan waktu lebih lama dalam penyelesaian tugasnya contohnya seperti pelajaran yang mencakup cara menghitung, pembuatan grafik atau tabel dan materi lainnya yang tidak sesuai. Tugas tersebut bisa saja diberikan apabila dalam jangka waktu yang lebih lama.

“e-learning itu tidak sesuai untuk beberapa orang karena tidak semua orang bisa belajar melalui media elektronik atupun otodidak, sebagian mahasiswa harus belajar secara langsung atau dalam bentuk visual” tutur Raihanum.

Disisi lain Wiwid berpendapat bahwa penggunaan e-learning berguna sesuai dengan jenis pelajaran yang akan dikerjakan, jika penggunaan dalam bentuk tulisan maka e-learning dapat bermanfaat namun jika dalam pelajaran seperti akuntansi dan matematika sepertinya lebih baik digunakan dengan secara langsung saja.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu ketika mahasiswa Jurusan Manajemen melakukan Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah akuntansi melalui e-learning, banyak dari mereka mengalami kegagalan dalam manajemen waktu untuk mengerjakan soal. Saat ditanya, salah satu mahasiswi bernama Ridha mengatakan bahwa kegiatan ujian tidak berlangsung efektif karena waktu banyak terbuang untuk membuat tabel. Mahasiswi lain bernama Dian turut mengalami kegagalan disebabkan oleh jaringan yang seketika terkendala karena kerusakan sehingga waktu yang tersedia untuk mengirim jawaban soal tersebut habis.

Beberapa pendapat tersebut memiliki alasan tertentu baik dari cara belajar maupun fasilitas e-learning itu tersendiri. Sebenarnya jika kendala itu disebabkan oleh jaringan maka cara terbaik adalah mencari tempat-tempat penyedia wi-fi, akan tetapi dosen juga harus menentukan waktu penugasan dengan sewajarnya dan tidak terlalu larut malam atau jam penugasan mahasiswa tersebut bentrok dengan mata kuliah lain. Permasalahan lain seperti kekurangan pengetahuan menggunakan teknologi dapat disiasati dengan pembelajaran atau belajar dengan teman terdekat. Seorang mahasiswa adalah jiwa yang dituntut belajar dan mengasah kemampuannya menuju jenjang kedewasaan dan kemandirian.(Anggi)

Parkiran Dosen diserobot Mahasiswa

Parkiran Dosen di Serobot Mahasiswa (foto : Perspektif)

Darussalam–  Parkiran mobil yang terletak dipekarangan antara gedung Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Masjid Al-Mizan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah merupakan parkiran yang diperuntukkan khusus bagi para dosen. Namun, belakangan ini terlihat parkiran tersebut sering ditempati oleh mahasiswa yang membawa kendaraan roda empat.

Hal ini tentu sangat mengganggu dosen apabila hendak memarkirkan kendaraannya, seperti yang disampaikan oleh Jalaludin, SE., Ak,, MBA selaku dosen FEB. Beliau menuturkan bahwa dosen dosen kerap merasa terganggu akibat ulah mahasiswa yang sering menyerobot lahan parkir mereka, padahal sudah jelas tertulis bahwa lahan tersebut diperuntukkan bagi dosen.

“Seharusnya mereka (mahasiswa) mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh kampus dan bagi yang melanggar agar dikenakan sanksi berupa pencabutan KTM. Apabila masih ada yang melanggar berarti mahasiswa tersebut tidak bisa membaca,” tambahnya.

Dilain sisi terdapat alasan tersendiri bagi mahasiswa mengapa memarkirkan kendaraan roda empatnya diparkiran dosen. Satu diantaranya ialah mereka waspada bahkan takut apabila harus memarkirkan mobilnya dibelakang gedung D III, karena tidak ada yang mengawasi dan menjaga kendaraan mereka. Selain karena merasa lebih aman, kendaraan yang berada dilingkungan kampus terus dipantau oleh satpam melalui cctv.

Menurut informasi yang telah didapatkan dari pihak Wakil Dekan II FEB untuk masalah parkiran dosen rencananya tahun depan akan diberikan stiker khusus untuk mobil para dosen. Hal ini pula dijadikan sebagai ‘tanda’ yang membedakan mobil dosen dengan mobil mahasiswa. Sehingga apabila ditemukan ada mobil yang terdapat diparkiran dosen tanpa stiker akan dikenakan sanksi berupa penarikan KTM.

Terkait parkiran yang berada di belakang gedung Diploma III, Wakil Dekan II juga berencana menugaskan satpam yang akan berjaga disana. Dengan adanya satpam maka mobil mahasiswa akan lebih aman. Tentu hal ini diharapkan agar mahasiswa tidak memarkirkan lagi mobilnya di parkiran dosen. (Aldi)

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah?

Polemik Larangan Bercadar di Kampus, Bagaimana dengan FEB Unsyiah? (Foto : google)

Bercadar merupakan suatu hal yang sudah tidak asing lagi terutama di kalangan civitas akademika FEB Unsyiah. Tak sedikit pula dari jumlah mahasiswi yang menggunakan cadar. Tentunya bagi mereka yang menggunakan cadar punya alasan dan tujuan yang kuat.

Tujuan utama mereka bercadar ialah untuk menutup aurat. Melindungi diri dari tindak asusila serta terhindar dari fitnah. Jika ditinjau dari tujuannya menggunakan cadar merupakan suatu hal yang positif dan merupakan salah satu anjuran menurut agama Islam. Namun mengapa sebagian masyarakat masih saja beranggapan bahwa mereka yang bercadar tergolong kaum radikal.

Seperti halnya kejadian yang baru-baru ini terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dimana pihak kampus sendiri mengeluarkan peraturan yang melarang mahasiwanya untuk bercadar. Tentu hal  ini menuai banyak aksi protes dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi mahasiswa (Ormawa), organisasi masyarakat (Ormas), ulama, serta MUI.

Aturan yang dibuat ini dinilai sebagai bentuk tindakan preventif untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme, “Kami melihat gejala itu, kami ingin menyelamatkan mereka, jangan sampai mereka didoktrin sehingga mereka menjadi korban dari gerakan-gerakan radikal itu,” ujar Yudian Wahyudi selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga. (Sumber: BBCIndonesia)

Tak itu saja, selain alasan pencegahan dari radikalisme terdapat pula alasan lain, yaitu Pedagogis. Mahasiswi yang menggunakan cadar dianggap mempersulit kegiatan pengajaran di kampus, dosen pengajar mendapati kesulitan dalam mengenal identitas mereka karena wajah mereka yang tertutup.

Lantas bagaimana dengan universitas lain yang tidak melarang mahasiswinya untuk bercadar, bukankah sejauh ini tidak ada masalah yang muncul terkait penggunaan cadar?

Untuk Unsyiah khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri yang terletak jelas di provinsi yang merupakan mayoritasnya penduduk kaum muslim, tidak ada aturan khusus yang mengatur penggunaan cadar selagi itu tidak mengganggu kenyamanan bersama.

Menanggapi permasalahan larangan penggunaan cadar ini, pihak kampus sendiri tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga. Karena sadar bahwa bercadar merupakan salah satu bentuk dari menutup aurat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana dosen FEB  yang ikut berkomentar.

“Saya pribadi tidak pernah melarang mahasiswi untuk bercadar karena itu adalah hak mereka dan berkaitan dengan agama jadi sama sekali tidak bisa kita sentuh,” jelas salah satu Dosen Ekonomi Pembangunan, Fitriani,S.E.,M.Sc.

Sampai saat ini dosen FEB  mengaku tidak pernah mendapati kesulitan yang disebabkan oleh mahasiswi yang bercadar. Apalagi sampai kesulitan dalam hal berinteraksi serta tidak pernah menemukan salah satu dari mereka pengguna cadar yang menganut paham radikal,

Dapat dikatakan bahwa anggapan mereka yang memakai cadar adalah anggota teroris atau kelompok radikal merupakan suatu anggapan yang salah dan tidak mendasar.

“Jika tindakan pencegahan radikalisme dijadikan sebuah alasan maka kalau begitu kelompok radikal ini bisa dari siapa saja, tak hanya dari yang bercadar ini, dan juga saya mempunyai mahasiswa yang bercadar dan juga beberapa dosen lainnya, Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah dalam berkomunikasi maupun lainya, karena walaupun mereka bercadar saya tetap bisa mengenali mereka melalui suara,” tambahnya. (Sal, AH)

ASENeT 2018 : Berangkat dari Ekonomi Kreatif

ASENeT 2018 : Berangkat dari Ekonomi Kreatif (Foto: Susilo/Perspektif)

Darussalam – Asean Student Entrepreneurship Network (ASENeT) sukses dihelat di gedung AAC Dayan Dawood (15/3). Acara bertaraf Internasional yang diselenggarakan dua kali tersebut resmi dibuka oleh Dr. Iskandarsyah, S.E., MM. diikuti Rektor Universitas Syiah Kuala, dan Dr. Muhammad Dimyati.

“ASENeT adalah sebuah kegiatan dibidang kewirausahaan yang sudah kita mulai pada 2016 di Universitas Sains Malaysia dan di acara kedua kali ini kita berkesempatan menjadi tuan rumahnya,” ucap Iskandarsyah selaku ketua panitia ASENeT 2018.

Dalam pidato pembukaannya Rektor Universitas Syiah kuala menegaskan bahwa kita harus mendorong Entrepreneur agar menjadi bagian yang mempunyai kontribusi dalam membangun ekonomi. “Ekonomi Kreatif harus menjadi sorotan untuk ASEAN,” tambahnya.

“Pesan pak Jokowi kita harus menjadi pisat pendidikan teknologi dan peradaban di dunia, semua itu berangkat dari ekonomi kreatif”. Sambung Dr. Muhammad Dimyati, perwakilan dari Menristekdikti.

Acara pembukaan konferensi diikuti oleh mahasiswa baik lokal dan Internasional serta beberapa masyarakat lainnya. Di balik kegiatan tersebut, Expo yang telah dibuka terlebih dahulu (14/3) makin terlihat ramai oleh pengunjung. Deretan stan yang diisi oleh berbagai Universitas dan instansi seperti Inkubator, Universitas Sains Malaysia, Universitas Andalas, SOS children Village, BQ Darul Mizan, Universitas Negeri Riau, Universitas Teuku Umar, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret, dan lain-lain.

“ASENeT tahun ini sangat meriah, so boleh kenal negara orang di Aceh dan boleh kenal dekat lagi dengan usahawan-usahawan Indonesia. First impression saya, yang menarik yang buat saya kagum ialah dia punya sistem sangat cepat dalam tangani kebutuhan acara,” ucap Siti Nurul Aishah Awang yang merupakan delegasi dari Malaysia.

ASENet kedua tahun ini diharapkan dapat membawa pengaruh positif yang besar bagi semua kalangan dalam berwirausaha. Kini saatnya menjalin relasi dengan teman-teman internasional. (Mev, lo).

DEA 14 Rebut Gelar Juara Umum HISO 2016

H. Aminullah Usman,S.E.,M.M. Menyerahkan Piala Kepada Juara Umum HISO 2016 (Dokumentasi Himaka)

H. Aminullah Usman,S.E.,M.M. Menyerahkan Piala Kepada Juara Umum HISO 2016 (Dokumentasi Himaka)

Tim Demisioner Menangkan Laga Final Sepakbola HISO 2016 (Dokumentasi Himaka)

Tim Demisioner Menangkan Laga Final Sepakbola HISO 2016 (Dokumentasi Himaka)

Perhelatan Akbar HISO (Himaka Sport Olimpic), Sabtu (30/4), ditutup secara resmi oleh Alumni Akuntansi H. Aminullah, Usman, SE., Ak., MM. di Stadion Mini Lambhuk dan dilanjutkan dengan kata-kata sambutan oleh ketua panitia Muhammad Ferdy Joely dan ketua Himaka Mujinarko Praja Manggala. Tak hanya mahasiswa, dosen dan para alumni juga turut berpartisipasi sebagai peserta dan pendukung suksesnya acara ini HISO (Himaka Sport Olimpic) ini.

HISO (Himaka Sport Olimpic) merupakan pekan olahraga tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAKA) yang menghimpun mahasiswa/i tiga program studi, yaitu S1 Akuntansi, D3 Akuntansi dan D3 Perpajakan. Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 2 hingga 23 April 2016 ini berjalan dengan sukses dan meriah.

Penutupan Pekan Olahraga ini dimeriahkan dengan penyelengaan Final Sepak Bola di Stadion Mini Lambhuk sore tadi. Para suporter yang memadati stadion Mini Lambhuk turut larut dalam keseruan partai final yang memertemukan Tim Demisioner dan DEF 14 yang begitu semarak dengan teriakan para penonton.Cabang Olahraga Sepak Bola ini dimenangkan oleh Demisioner yang diperkuat oleh Romy, Kautsar, Mufied, H. Aminullah Usman dengan skor 3:0 gol pertama oleh Fuad, gol kedua oleh Rully dan gol ketiga oleh Dika. Adapun juara II sepakbola dimenangkan oleh DEF 14 dan juara III disabet oleh tim EKA 14.

Pembagian Hadiah Kepada Salah Satu Pemenang HISO (dokumentasi Himaka)

Pembagian Hadiah Kepada Salah Satu Pemenang HISO (dokumentasi Himaka)

Sekretaris Panitia HISO (Himaka Sport Olimpic) Muhammad Fachrizal, melaporkan bahwa seluruh rangkaiaan Pekan Olahraga Mahasiswa Akuntansi tahun 2016 telah sukses terselenggarakan dimana berbagai kegiatan perlombaan terlaksana dengan baik dan sukses.

DEA 14 yang keluar sebagai juara umum, merupakan satu-satunya tim dari D-III yang pernah menjadi juara umum di turnamen olahraga HISO 2016.

“Selamat saya ucapkan untuk yang menjuarai Cabor di HISO 2016 ini, tetap jaga solidaritas dan mari membantu Himaka lebih jaya lagi Himaka Jaya!” tutup Muyassir sebagai Sekretaris Umum Himaka 2016. (Kasmaliza/Himaka)

Pameran Foto di Area Hijau Fakultas Ekonomi

Reza Erfiandes

Foto Campus Life menghiasi Area Hijau Fakultas Ekonomi Unsyiah. (Reza/Perspektif)

Banda Aceh | Rabu (02/04/2014) Fakultas Ekonomi Unsyiah dihiasi oleh foto-foto yang menggambarkan sisi kehidupan kampus. Pameran foto yang bertema Campus Life ini merupakan agenda dari kegiatan fotografi LPM Perspektif. Acara yang dibuka oleh Pembantu Dekan III, Nashrillah Anis, S.E., M.M. ini memamerkan kegiatan serta kehidupan di sekitar Fakultas Ekonomi. Ini merupakan acara tahunan dengan tujuan merekam sejarah Fakultas Ekonomi dalam foto, juga dipamerkan foto pemenang lomba foto Campus Life lalu yang berjudul “Alih Fungsi Trotoar Ancam Pejalan Kaki” oleh M. Roestian.

Reza Erfiandes (8)

Seorang mahasiswa tampak menikmati foto yang dipamerkan. (Reza/Perspektif)

Mizla Sadrina selaku Pemimpin Umum LPM Perspektif berkata, ”Dalam kegiatan ini kami ingin seluruh mahasiswa tahu bahwa ‘Ini lho Ekonomi itu’, dengan seluruh komponen dan unsur-unsur didalamnya sehingga orang-orang yang sebelumnya hanya mengetahui Fakultas Ekonomi itu hanya kampus, sekarang mengetahui bahwa Fakultas Ekonomi bukanlah hanya kampus, tetapi menjadi rumah bagi mahasiswa/i nya.” (02/04). “Pameran ini akan berlangsung selama 3 hari kedepan, sampai hari Jumat. Kami harap dengan adanya kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya datang ke kampus hanya untuk mengikuti kelas saja, tetapi juga berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan kampus yang telah disediakan.” tambah Muammar Ilyas selaku Ketua Panitia Pameran Foto (02/04)

Pameran yang mengambil tempat di area hijau Fakultas Ekonomi ini mendapat respon positif, ini terlihat dari voting ‘Like or Dislike’ yang menampilkan lebih banyaknya ‘Like’ ketimbang ‘Dislike’. [dimas]