Wahyu Nyatakan Siap Dedikasikan Diri sebagai Presma Unsyiah 2019

Wahyu Nyatakan Siap Dedikasikan Diri sebagai Presma Unsyiah 2019 (Foto : Ayu/Perspektif)

Darussalam – Pemilihan Raya merupakan Pesta Demokrasinya Mahasiswa setiap Univesitas yang ditunggu-tunggu di penghujung tahun.

Tak ketinggalan Unsyiah pun turut merayakannya. Berbagai nama pun andil dalam mewarnai pesta demokrasi mahasiswa terbesar di unsyiah ini.

Wahyu Rezky Annas merupakan salah satu nya, di usung oleh Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Ekonomi, Mahasiswa S1 Manajemen angkatan 2015 FEB ini, ikut mendaftarkan diri sebagai Presma Universitas Syiah Kuala.

Selain aktif di Akademik, wahyu juga merupakan mahasiswa yang aktif berorganisasi, ia pernah menjabat sebagai Sekbid Kesma (2016), Kabid Hual IMPKL (2017-2019), Anggota Komisi C DPMU Unsyiah 2017, dan Ketua MPM Unsyiah (2017).

Dalam pandangan nya, banyak Mahasiswa Unsyiah yang sudah tidak memiliki minat ‘mengetahui keadaan rumahnya’, atau yang biasa kita sebut ‘Mahasiswa Apatis’ dan tidak ada lagi niat tawar kepada para birokrat kampus dalam memperjuangkan hak-hak mahasiswa.

“BEM Unsyiah harus menjadi milik bersama, dan bisa bersinergi dengan 12 Fakultas lainnya agar terciptanya kondisi kampus sesuai dengan fitrah perguruan tinggi negeri.” Tutur Wahyu.

Menurutnya , kondisi mahasiswa di kampus Unsyiah saat ini sedang tidak baik-baik saja, banyak permasalahan yang muncul baik mengenai Transparansi Anggaran, Intervensi Biokrasi Kampus dan masih banyak lagi, dan point penting tujuannya  adalah banyaknya Pelayanan Kampus yang tidak mendukung aktifitas Mahasiswanya.

Kini, Wahyu Rezky Annas siap mencalonkan diri sebagai calon Ketua BEM Universitas Syiah  Kuala didampingi Wakilnya, Mohammad Assad yang berasal dari Fakultas Hukum.

Terlepas itu, Wahyu dan Assad mengharapkan Pemira tahun ini dapat berjalan dengan aman, damai dan pastinya saling menghargai perbedaan satu sama lain.

“Kami juga mengajak kepada seluruh mahasiswa Unsyiah untuk memilih pada hari pencoblosan. Karena partisipasi politik sangat mempengaruhi Iklim demokrasi dan demi pelaksanaan pemerintah BEM Unsyiah kedepan.” Tutup calon Ketua BEM Unsyiah nomor urut 2 tersebut. (Van-Nur)

Tasya Kamila, Mahasiswa Ekonomi yang Berprestasi

Tasya Kamila, Mahasiswa Ekonomi yang Berprestasi (foto : Panitia FIEL)

DarussalamMemulai karir keartisannya dari kecil sebagai bintang iklan dan penyanyi cilik, membuat Shafa Tasya Kamila atau yang lebih akrab disapa Tasya Kamila dikenal banyak orang. Terutama orang – orang yang sejak kecilnya sudah diisi oleh berbagai lagu anak dari Tasya. Namun siapa sangka ternyata Tasya sendiri adalah seorang mahasiswa berprestasi lulusan Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia, dan berhasil menyandang gelar Master of Public Administration  Columbia University, AS pada usianya yang ke 26 tahun.

Ketika diwawancarai pada Jum’at malam ( 30/11 ) di AAC DAYAN DAWOOD pada acara Fiel Gathering night & Talkshow, Tasya membagikan sedikit pengalamannya selama menjadi mahasiswa ekonomi di UI, juga beberapa cerita menarik kenapa ia bisa memilih dan tertarik kepada fakultas ekonomi.

Jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi UI merupakan pilihan Tasya untuk pendidikan sarjananya adalah karena influence dari Alm. Ayahnya yang ternyata seorang auditor dan memiliki kantor akuntan publik. Juga menurut Tasya, ilmu ekonomi adalah ilmu yang bisa diterapkan di banyak bidang dan related dengan berbagai hal. Sehingga ia bisa mengerti pemasalahan yang dihadapi negara dan dalam dunia bisnis.

Selama menjadi mahasiswa ekonomi, rupanya Tasya Kamila juga aktif di berbagai kegiatan di luar kampus, seperti bermain film, peluncuran album barunya beserta kegiatan promosi, juga menjadi Duta Lingkungan Hidup yang mengharuskannya untuk berkampanye di seluruh Indonesia. Sebab itu pula Tasya mengaku bahwa ia tidak punya cukup waktu untuk menjadi aktif juga di keorganisasian kampus, dan mungkin hanya sesekali bisa membantu temannya menjadi pengisi acara apabila ada event di kampus.

Tasya Kamila tidak ingin ilmunya hanya berbatas di dunia entertainment saja, karena menurutnya ia sudah cukup belajar dan mendapatkan pengalaman selama menjadi artis dengan bekerja bersama orang – orang profesional di bidang entertain. Oleh sebab itu ia memilih meluaskan pendidikan formalnya di luar dunia keartisan.

Kepintarannya dalam mengatur waktu antara belajar dan bersosialisasi memang patut diacungi jempol. Dan kegigihannya untuk memperjuangkan pendidikannya wajib dicontoh oleh mahasiswa – mahasiswa yang ada di seluruh Indonesia.

Dengan aktivitas seorang Tasya Kamila yang begitu padatnya, ia tetap bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi. Bahkan Tasya bisa mendapatkan beasiswa LPDP yang persaingannya sungguh ketat.

Beasiswa S2 LPDP ( Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ) yang ia dapatkan tidak datang begitu saja. Sudah tentu Tasya telah berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa tersebut hingga akhirnya usahanya membuahkan hasil dengan dia menjadi lulusan S2 di Columbia University dengan IPK di atas 3,7.

Tasya mengungkapkan bahwa begitu banyak rintangan yang di jalaninya sebagai mahasiswa di luar negeri,dan semua itu dapat diatasi dengan baik. Apalagi kehidupan mahasiswa S1 di Indonesia dan di luar negeri itu sangatlah berbeda. Metode belajar dan standar pendidikannya berbeda, dan rata – rata mahasiswa di sana adalah mahasiswa yang kompetitif, ambisius, rajin belajar, dan berani untuk mengutarakan pendapatnya.

“ Tapi selain itu, kualitas yang mungkin kalian perlu punya adalah rasa semangat nasionalisme dan gimana kalian memiliki visi juga untuk menggunakan ilmu yang nanti di dapat, baik itu S2 dan S3, di dalam ataupun luar negeri, untuk berkontribusi di Indonesia.” Ujar Tasya Kamila seorang penyanyi cilik yang kini meraih kesuksesannya di dunia pendidikan.(mola)

Kali Ke-3 iESA Selenggarakan Festival Ilmiah Ekonomi Islam (FIEL)

Kali Ke-3 iESA Selenggarakan Festival Ilmiah Ekonomi Islam (FIEL) (foto:Panitia FIEL)

Darussalam – Setelah sukses di selenggarakan beberapa kali, iESA (Islamic Economic Student Association) kembali mengadakan acara terbesarnya, Festival Ilmiah Ekonomi Islam (FIEL) pada 27-30 november kemarin di Aula FEB Unsyiah dan di buka secara langsung oleh Walikota Banda Aceh, H.Aminullah Usman, SE.Ak, MM. , Rektor Universitas Syiah Kuala,Prof.Dr.Ir.Samsul Rizal, M.Eng , dan Ketua Himpunan mahasiswa ekonomi islam Iesa, Abthal Aufar.

Ada beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan diantaranya Seminar Nasional, Workshop & training, Berbagai Perlombaan seperti Penulisan opini, Video Contest, dan Debat Revolusi Ekonomi Nasional, serta Gathering Night and Talkshow. Serta turut diramaikan oleh berbagai Bazar Expo stand makanan dan minuman serta askesoris lainnya.

Dalam Seminar Nasional FIEL 2018 mengusung tema yaitu “ Revolusi Industri 4.0 , kemana arah Ekonomi Syariah?” seminar ini di isi oleh pemateri dari penasehat mentri pertahanan RI yaitu Bapak Dr (H.C) Adnan Ganto, MBA serta Rektor Universitas Syiah Kuala, dan Bapak Ridwan Nurdin yang merupakan Pembina Iesa serta dosen FEB Unsyiah.

“Revolusi Industri 4.0 sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan dunia. Di satu sisi, Revolusi ke-4 ini dapat meningkatkan produktivitas dalam sebuah industri serta meningkatkan pendapatan dunia. Namun di sisi lain, juga bisa mendatangkan berbagai dampak negatif seperti hilangnya privasi seseorang akibat penyebaran data digital,kurangnya permintaan terhadap tenaga kerja,serta memperburuk hubungan antar manusia.” Ujar sang Penasehat Menteri Pertahanan, Adnan Ganto.

Pada akhir seminar nasional FIEL 2018 ini iESA juga membuat suatu gebrakan baru yaitu “1000 tanda tangan Hijrah menuju Ekonomi Syariah” yang di tanda-tangani oleh Para pemateri, Tamu undangan, Dosen FEB Unsyiah, Panitia, Peserta lomba, serta para pengunjung di acara FIEL 2018. Nantinya 1000 TTD ini akan dijadikan sebagai sebuah saksi nyata untuk aceh beralih ke ekonomi berbasis syariah.

Selain seminar nasional, Workshop and Training yang digelar turut mengundang berbagai pemateri nasional yaitu Raden Nanta Teguh Prakasa selaku Owner aplikasi SYARQ , Andry Wicaksono selaku Kepala Pasar Modal OJK Pusat, Kepala Bursa Efek Indonesia dan Bank Indonesia.  Serta hadirnya Tasya Kamila yang turut memeriahkan Gathering Night and Talkshow di penghujung acara  FIEL 2018 (Lal,Sin)

Parkiran Dosen diserobot Mahasiswa

Parkiran Dosen di Serobot Mahasiswa (foto : Perspektif)

Darussalam–  Parkiran mobil yang terletak dipekarangan antara gedung Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Masjid Al-Mizan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah merupakan parkiran yang diperuntukkan khusus bagi para dosen. Namun, belakangan ini terlihat parkiran tersebut sering ditempati oleh mahasiswa yang membawa kendaraan roda empat.

Hal ini tentu sangat mengganggu dosen apabila hendak memarkirkan kendaraannya, seperti yang disampaikan oleh Jalaludin, SE., Ak,, MBA selaku dosen FEB. Beliau menuturkan bahwa dosen dosen kerap merasa terganggu akibat ulah mahasiswa yang sering menyerobot lahan parkir mereka, padahal sudah jelas tertulis bahwa lahan tersebut diperuntukkan bagi dosen.

“Seharusnya mereka (mahasiswa) mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh kampus dan bagi yang melanggar agar dikenakan sanksi berupa pencabutan KTM. Apabila masih ada yang melanggar berarti mahasiswa tersebut tidak bisa membaca,” tambahnya.

Dilain sisi terdapat alasan tersendiri bagi mahasiswa mengapa memarkirkan kendaraan roda empatnya diparkiran dosen. Satu diantaranya ialah mereka waspada bahkan takut apabila harus memarkirkan mobilnya dibelakang gedung D III, karena tidak ada yang mengawasi dan menjaga kendaraan mereka. Selain karena merasa lebih aman, kendaraan yang berada dilingkungan kampus terus dipantau oleh satpam melalui cctv.

Menurut informasi yang telah didapatkan dari pihak Wakil Dekan II FEB untuk masalah parkiran dosen rencananya tahun depan akan diberikan stiker khusus untuk mobil para dosen. Hal ini pula dijadikan sebagai ‘tanda’ yang membedakan mobil dosen dengan mobil mahasiswa. Sehingga apabila ditemukan ada mobil yang terdapat diparkiran dosen tanpa stiker akan dikenakan sanksi berupa penarikan KTM.

Terkait parkiran yang berada di belakang gedung Diploma III, Wakil Dekan II juga berencana menugaskan satpam yang akan berjaga disana. Dengan adanya satpam maka mobil mahasiswa akan lebih aman. Tentu hal ini diharapkan agar mahasiswa tidak memarkirkan lagi mobilnya di parkiran dosen. (Aldi)

Mahasiswi FEB Raih Juara 3 Duta Wisata Aceh

 

Mahasiswi FEB Raih Juara 3 Duta Wisata Aceh ( Foto : Perspektif)

Darussalam – Cindy Alfirdausi, mahasiswi Program Studi Manajemen FEB Unsyiah berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Duta Wisata Aceh 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di gedung AAC Dayan Dawood pada (27/10) lalu. Gelar ini juga menjadikan ia dinobatkan sebagai Wakil II Duta Wisata Aceh tahun 2018.

Ia meraih gelar ini setelah melewati proses seleksi dimulai dari pemilihan di tingkat kota, hingga akhirnya bisa berkompetisi di tingkat provinsi dan bersaing dengan 23 duta wisata perwakilan dari berbagai kota/kabupaten di Provinsi Aceh.

“Awalnya saya mengikuti pemilihan Inong Banda Aceh dan alhamdulillah dapat juara 1, lalu dipercaya untuk mewakili Banda Aceh dalam pemilihan Duta Wisata Aceh. Alhamdulillah bisa diberi kesempatan menjadi juara 3.” ujarnya

Menurut penuturannya, sebelum dinobatkan menjadi Inong Banda Aceh, ia mengikuti serangkaian proses penilaian, seperti tes tulis, wawancara, serta banyak tahapan yang bertujuan untuk menggali potensi dan wawasan tentang pariwisata. Kemudian pada tahap pemilihan Duta Wisata Aceh, ia dan kontestan lainnya sempat bergabung dalam karantina selama 4 hari.
“Di karantina itu kami mendapat banyak ilmu. Masuk ke kelas ini dan kelas itu. Pokoknya seru deh. Hingga pada malam puncak juga banyak kegiatan yang kami lakukan, seperti pertunjukan budaya dan seni,” jelasnya.

Selain gelar, pengalaman ini memberikan banyak hal bagi Cindy. Berkat keikutsertaannya dalam kompetisi ini, ia dapat menjalin relasi dengan para duta wisata dari berbagai daerah dan mendengar cerita-cerita menarik tentang daerah mereka masing-masing.

Sebagai juara 3 Duta Wisata Aceh, ia pun ingin mengajak pemuda-pemudi Aceh khususnya di Banda Aceh untuk turut mengambil bagian menjadi duta wisata dengan caranya masing-masing dan memanfaatkan setiap media yang ada saat ini.

“Sebenarnya semua orang bisa menjadi duta wisata bagi daerahnya. Semua orang bisa mempromosikan pariwisata daerahnya. Aku sebenarnya sangat menginginkan pemuda-pemudi di Aceh sadar bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang penting bagi pembangunan daerah.” harapnya.

Meski dalam waktu dekat ia akan disibukkan dengan banyak kegiatan seputar promosi pariwisata Aceh, namun ia juga tak ingin melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia juga berpesan kepada mahasiswa lainnya agar lebih aktif dan bijak menggunakan waktu baik untuk kegiatan didalam maupun diluar kampus. (Abi)

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif

Selenggarakan MCF, Himpunan Mahasiswa Manajemen Angkat Isu Industri Kreatif (foto:Ayu)

Darussalam – Memasuki era revolusi industri 4.0, perkembangan teknologi semakin canggih dan terdepan. Menghadapi tantangan tersebut, dunia industri harus menjadi semakin kreatif. Menghadapi fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala mengusung tema, “Creative Industry in Digital Business Era” dalam seminar yang diselenggarakan pada acara Management Creativity Festival (MCF) 2018, Rabu (24//10).

Seminar yang diadakan di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah ini menghadirkan tiga tamu istimewa diantaranya  Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt.  sebagai Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Zainal Arifin Lubis sebagai Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, dan Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng yang merupakan Rektor Universitas Syiah Kuala.

Dalam kesempatannya, Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. selaku Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia menyampaikan materi tentang industri kreatif di Indonesia serta peran pemerintah untuk menyukseskan perekonomian dalam masyarakat. Ia mengharapkan dengan adanya kemajuan teknologi yang berkembang pesat dalam masyarakat dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri, dan juga pemikiran kreatif yang harus ditumbuhkan guna mendukung kemajuan industri di Indonesia.

“Kami sangat mendukung seminar ini, dan hasil dari seminar ini akan disampaikan ke DPR Aceh.” Ungkap Zainal Arifin pada pidato sambutannya. Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh tersebut mendukung penuh seminar yang diadakan oleh HMM FEB Unsyiah dengan harapan isu industri kreatif yang diangkat dalam seminar ini mampu membuka pikiran masyarakat perihal pentingnya peran industri kreatif dalam meningkatkan perekonomian bangsa kedepannya. (Mev)

 

Mewujudkan ekonomi enklusifness

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk 264 juta jiwa. Jumlah penduduk yang sedemikian banyak merupakan tantangan yang berat bagi perekonomian Indonesia.

Pada  Industri Digital saat ini, kehidupan kita menjadi lebih mudah dan serba computarized. Namun, kita yang berada di era ini harus teliti dalam menghadapi kompleksivitas yang dibawa serta. Dengan tantangan yang kompleks, kita harus menyelaraskan perekonomian dan menciptakan inovasi baru.

Kemiskinan adalah musuh yang patut diperangi. Masih ada keparahan dalam kemiskinan kita. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. menyampaikan bahwa, salah satu cara mengatasi kemiskinan adalah dengan mewujudkan ekonomi enklusifness melalui pengembangan ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif berdampak sangat luas bagi perekonomian, selain tidak membutuhkan modal yang besar, ekonomi kreatif juga tidak membutuhkan tenaga manusia yang terlalu banyak. Inovasi dan kreativitas paling dibutuhkan dalam ekonomi kreatif yang merupakan karakteristik utama di Revolusi Digital atau Digital Era. Menariknya, ekonomi kreatif ini ternyata di dominasi oleh perempuan sebagai pelaku utama sebanyak 54,96%.

Bapak Mardiasmo juga memaparkan  bahwa ada 16 subsektor ekonomi kreatif. Fashion, kuliner dan kriya menjadi tiga unggulan utama. Kuliner menjadi daya tarik utama karena menggambarkan peradaban dan kebudayaan Indonesia. Namun, ada tiga subsektor lainnya yang mulai menjadi perhatian. Aplikasi dan pengembangan permainan, film dan diikuti musik yang sedang dikembangkan. (Sul)

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital!

Persiapkan Mental Berkompetisi di Era Digital! (Gambar:Google)

Darussalam – Tak dapat dipungkiri, peradaban dunia semakin berkembang dengan pesat. Tanpa kita sadari, kini teknologi menjadi raja dari kehidupan. Semua pekerjaan yang dulunya sulit dijangkau kini menjadi mudah dan sangat cepat. Hal ini juga membawa banyak manfaat dan kebaikan. Salah satu yang paling terasa adalah terjalinnya hubungan internasional baik dari bidang pendidikan dan juga merambah hingga dunia bisnis. Lapangan kerja semakin terbuka lebar. Peluang untuk belajar ke luar negeri pun semakin terbuka.

Namun, digitalisasi juga melahirkan ancaman. Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi dengan basis cyber physical system. Dimana robot dengan kecerdasan buatan atau artifisial mulai menyebar dan merebut posisi manusia di kancah pekerjaan.

Menilik dari banyaknya tenaga robot atau mesin yang dipakai, menambah rumit kriteria karyawan yang dipekerjakan di perusahaan. Jika beberapa tahun yang lalu tenaga jasa masih berfokus pada soft skill yang biasa, pada era digital ini penguasaan software dan kemampuan pengolahan data serta kreativitas lebih dilirik oleh perusahaan industri.

Tentu saja perkembangan yang terjadi di dunia bisnis menjadi sorot utama bagi calon sarjana ekonomi. Tujuan utama dari calon sarjana adalah menemukan pekerjaan yang tepat untuk menunjang hidup di masa mendatang. Namun,  hanya menguasai ilmu ekonomi tidak cukup meskipun gelar sarjana pun sudah disandang.

Melirik Amazon dan Alibaba yang mulai membuka pusat perbelanjaan atau supermarket tanpa kasir dan pegawai. Bahkan mereka memiliki sistem warehouse yang fully-automated. Di Indonesia sendiri, konsep digital lounge mulai digalakkan oleh perusahaan perbankan. Tanpa harus berhadapan dengan teller, orang dapat membuka tabungan sendiri.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, kita akan menghadapi digitalisasi. Maka dari itu, meningkatkan potensi diri adalah tugas utama bagi seluruh calon sarjana. Pekerjaan dengan keterampilan tinggilah yang masih membutuhkan tenaga kerja manusia.

Bagi calon sarjana, wajib mengetahui dan menganalisis jenis pekerjaan yang akan di apply nantinya.  Hal ini dikarenakan oleh adanya beberapa jenis pekerjaan yang akan hilang seperti teller,  driver,  kasir,  resepsionis dan beberapa lainnya.  Menentukan target pekerjaan yang tidak dapat dijangkau oleh mesin adalah kunci utama menghadapi digitalisasi atau revolusi industri 4.0.

Selain itu,  mengetahui bakat sendiri juga penting.  Dengan mengenal bakat yang dimiliki, maka dapat membantu ke depannya yakni dengan mengasah skill ataupun menambah skill baru dengan mengikuti berbagai pelatihan terkait soft skill atau pekerjaan di era digital.

Dilansir dari okezone.com, Laporan World Economic Forum 2016 yang bertajuk The Future Job telah memaparkan bahwa ada 10 skill yang akan dibutuhkan pada tahun 2020 mendatang. Diantaranya adalah pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen sumber daya manusia, koordinasi, kecerdasan emosional, penilaian dan pengambilan keputusan.

Dari sepuluh skill tersebut, semuanya berorientasikan mental. Maka, untuk calon sarjana ekonomi mulai dari sekarang harus dapat meningkatkan potensi diri bertajuk mental. Dengan mengikuti berbagai organisasi dan menjadi pemikir kritis, maka persaingan di era digital menjadi lebih mudah. ( Sulthana )

Luthfi Aulia Chandra : “Jadi Kreatif Gak Perlu Drama”

Luthfi Aulia Chandra : “Jadi Kreatif Gak Perlu Drama” (foto:Perspektif)

Darusalam –  Luthfi Aulia Chandra, Youtuber sekaligus Musisi ini berkesempatan hadir untuk pertama kalinya ke Aceh,  melalui Seminar Nasional Expo Inkubator 2018 yang digelar oleh UKM Inkubator FEB Unsyiah, Sabtu 22 september 2018 di AAC Dayan Dawood, luthfi hadir untuk mengisi seminar sekaligus menyapa para fans khususnya yang berada di Aceh.

Kali ini, luthfi hadir diacara tersebut sebagai pemateri dengan topik ‘creativepreneur’. Sebagai Anak muda yang memiliki kreatifitas di bidang Film Makers dan musik, luthfi banyak memberikan tips dan trik untuk menjadi anak muda yang berfikir kreatif dan memaanfaatkan media sosial dengan baik dan bijak. Salah satunya yaitu dengan fokus terhadap bidang yang disukai.

“Misal kalian sukanya film makers, kalian bisa tekuni hal itu, tetapi tetap fokus, jangan bawa pada hal yang lain, jadinya tidak setengah-setengah, yang penting tekuni” ucapnya.

Luthfi juga menceritakan awal dirinya berkarier hingga menjadi seperti sekarang ini, berawal dari kesukaannya terhadap film makers , pada tahun 2010 luthfi terjun ke dunia youtube sebagai content creator film pendek dan musik video, namun pada tahun 2015 luthfi di beri tawaran oleh Kevin Aprillio untuk bergabung dengan band garapannya yang diberi nama Kevin and The Red Rose, sejak saat itu luthfi mulai berkarier hingga seperti saat ini.

Banyak hal yang disampaikan luthfi kepada masyarakat khususnya kaum muda, salah satunya untuk menjadi kreatif itu tidak sulit asal mampu berfikir dan terus berusaha, banyak hal yang bisa dilakukan saat kita masih muda seperti  manjadi : content creator, youtubers, pengusaha, ataupun musisi. Tetapi semua kembali lagi mau atau tidaknya  untuk berusaha.

“ Untuk kaum muda kurangin drama, atau hidup dengan drama, tetapi mulailah berfikir kreatif, yang betul-betul kreatif, jangan suka cari sensasi dan drama, tapi buatlah ide dan kreatifitas sendiri, yang penting tetap be yourself” Ungkapnya.(alma)

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’

 

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’ (foto: google)

Banda Aceh – “Lebih asik ngomong di warung kopi ketimbang kampus ekonomi”

Mungkin kalimat di atas begitu menggambarkan dengan jelas tentang kondisi terkini di kampus tertua di universitas Syiah Kuala ini.

Menyedihkan memang, melihat kampus yang diisi oleh ratusan akademisi dan digadang-gadang punya segudang prestasi, bahkan tidak menyediakan ruang diskusi bagaimana kondisi terkini ekonomi nasional.

Seingat saya, terakhir kali kampus membuka diskusi tentang ekonomi adalah di awal tahun 2018 ketika sedang marak-maraknya isu dana Otsus begitu menggema di Aceh.

Dalam sesi diskusi yang diberi nama Komunitas Pemikir Ekonomi (KOPI), mereka turut menghadirkan Dr. Chenny S.E. M.Si. yang merupakan Sekretaris Jurusan Program Studi Ekonomi Pembangunan Unsyiah.

Namun begitu disayangkan, hasil diskusi yang telah dilaksanakan di Balai Sidang Ekonomi ternyata hanya bergema dalam ruangan saja, tidak ada publikasi lebih lanjut.

Poin-poin pernyataan hasil diskusi (notulensi) mungkin hanya sekedar pertanggal bagi mereka pernah melakukan diskusi ilmiah yang pertama setelah sekian tahun lamanya.

Rupiah Melambung, Kampus Ekonomi ‘Masih Liburan’ (foto: google)

Dan di pertengahan 2018, ketika nilai tukar dolar menyentuh Rp. 15.047 (data grafik kurs dollar.net), kampus tetangga yang berslogan “kampus pejuang rakyat” bergerak cepat untuk membuka ruang pendapat untuk membahas isu ini pada Minggu di pelataran masjid Jami’ Unsyiah (9/9).

Seakan berbanding terbalik, kampus yang punya kapasitas terbesar untuk membahas kurs rupiah terlihat adem ayem tanpa pergerakan.

Lantas kemanakah mahasiswa? Kemana para pemikir ekonomi? Mari kita doakan semoga mereka dapat kembali ‘pulang’ ke kampus ini.

M. Jauhar Ihsan (Pemimpin Umum LPM Perspektif FEB Unsyiah)

Fakultas Ekonomi Sukses Selenggarakan SAFE 2018

Fakultas Ekonomi Sukses Selenggarakan SAFE 2018 (Perspektif/Hasan)

Banda aceh-Pendidikan Karakter Mahasiswa Baru bertajuk Silaturrahmi Aneuk Fakultas Ekonomi (SAFE) berjalan sukses dan lancar. Hal ini diketahui dari minimnya kendala yang dialami oleh panitia penyelenggara selama 2 (dua) hari kegiatan berlangsung. Euforia pada akhir acara juga turut menjadi perhatian akan suksesnya acara ini.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Rais Mukhayar menegaskan bahwa ada 3 (tiga) tujuan yang menjadi target di acara SAFE 2018 yaitu transisi, organisasi dan loyalitas. “Jadi diharapkan mereka dapat beradaptasi dengan baik di dunia perkuliahan ini, dan mereka loyal terhadap organisasi dan juga kampus.” Jelas Rais

Bertempat di Aula FEB Unsyiah, sebanyak 724 peserta pakarmaru mendapatkan berbagai materi diantaranya pengenalan lingkungan kampus, pemaparan materi seputar kegiatan akademis dan pengenalan organisasi mahasiswa serta pembentukan karakter.

Peserta dikelompokkan dengan sistem mentoring. Dimana peserta yang terdiri dari mahasiswa baru ini dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 20 mahasiswa dan diasuh oleh 2 orang mentor

“Kami baru mulai mempersiapkan sejak bulan Juni. Waktu ini rasanya pas-pasan, namun dari kepanitian dan mentoring siap. Sejauh ini insyaallah 85% nya sukses lah,” jelas Muhammad Ikram Irwan selaku ketua panitia SAFE 2018.

Murkhana SE. MBA selaku wakil dekan 3 bidang kemahasiswaan mengatakan bahwa pakarmaru tahun ini berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. “Saya melihat mereka selama dua hari ini dangan serius (mengikuti pakarmaru) dan saya harap mereka menjadi mahasiswa yang rajin, berdisiplin, dan berprestasi bisa membawa nama harum fakultas,” tambahnya.

Selain mendampingi mahasiswa baru, para mentor juga bertindak sebagai konseptor untuk mengkuningkan mahasiswa baru FEB serta mengajak mereka untuk lebih mencintai serta bangga dan mampu menjadi kader terbaik yang mampu mengharumkan nama kampus kuning.

Dengan terselenggaranya acara ini, ketua BEM FEB memiliki harapan agar mahasiswa baru yang kini telah sah menjadi keluarga besar FEB Unsyiah bisa aktif di kampus dan di luar kampus serta dapat mengharumkan nama fakultas dengan prestasi.

Selamat datang di kampus kuning, Kader terbaik bangsa!(HangTuah)