Categories
Berita opini

Pelayanan Akademik Tak Gesit, Mahasiswa Sulit

ilustrasi: Akmalia

Darussalam – Kegiatan penyelenggaraan pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi selayaknya memberikan kualitas layanan terbaik kepada siswanya. Lembaga pendidikan selain menjadi wadah penyampaian ilmu pengetahuan juga menjadi penyelenggara pelayanan teknis administrasi. Kualitas pelayanan administrasi kampus dapat dinilai dari daya tangkap, kepastian serta tingkat empati yang diberikan oleh pihak akademik.

 

Seringkali yang terbayang oleh mahasiswa ketika mendengar kata “administrasi” adalah sistem pelayanan berbelit-belit, sikap dan perilaku yang belum baik dan birokratis dari pihak akademik. Belakangan ini, pelayanan administrasi dan akademik mendapat banyak keluhan dari mahasiswa USK dikarenakan sering memperlambat dan mempersulit urusan administrasi mahasiswa. Terkuaknya berita mengenai alumni FEB USK menggugat pimpinan kampus ke Pengadilan Negeri  Banda Aceh menuai banyak kritikan kepada pihak kampus Universitas Syiah Kuala. Tidak terdatanya alumni  tersebut sebagai mahasiswa di dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) memberikan dampak kerugian bagi alumni tersebut dalam perjalanan jenjang karirnya setelah lulus. Tanggapan pihak administrasi akademik kampus hanya mengatakan “mohon bersabar” katanya. Tetapi, disisi lain, pihak kampus telah memberikan respon mengenai penjelasan  administrasi tersebut, dikutip dari laman https://anteroaceh.com, menurut bapak Darmawan selaku Koordinator Bidang Pendidikan Biro Akademik Universitas Syiah Kuala (USK), permasalahan ini terjadi karena pada tahun ajaran 2016/2017 proses pendataan di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) masih manual. Sehingga lanjutnya, mungkin saja pada saat itu beberapa data yang bersangkutan tidak masuk pada saat proses transfer data, seperti nomor NIK pada PDDikti kosong, nomor NIK tidak sesuai format, dan lainnya. Ia juga mengatakan bahwa “USK sudah mengantisipasi permasalahan ini dengan menginformasikan kepada setiap mahasiswa untuk menverifikasi datanya melalui laman KRS Online, mahasiswa juga diminta untuk memastikan datanya apakah sudah terdaftar di laman PDDIKTI https://pddikti.kemdikbud.go.id/,”.

 

Tetapi, disisi lain beberapa mahasiswa USK juga pernah mendapatkan pelayanan yang kurang baik dari akademik. Diantaranya beberapa mahasiswa yang merasakan lamanya pelayanan akademik yang membuat kebutuhan terkait akademik mahasiswa tersebut terhambat. “Saya melewatkan kesempatan untuk mendaftar program MBKM dikarenakan staff administrasi prodi susah untuk dihubungi dan menyepelekan urusan administrasi dengan proses pengerjaan yang bisa sampai berhari-hari,” ujar mahasiswa FEB USK angkatan 2019.

 

Mahasiswa program studi lain juga menyebutkan keluhan yang sama terkait pelayanan administrasi akademik ini, “Sampai sekarang nama saya masih typo di PPDIKTI karena kelalaian admin USK dalam menginput data. Udah urus perbaikan dari beberapa bulan yang lalu sampai sekarang belum diperbaiki juga,” keluh salah satu mahasiswa di laman Instagram @duaspasi.id.

 

Diperlakukan berbeda atau merasakan diskriminasi tentulah hal yang tidak menyenangkan bagi seseorang. Diskriminasi yang biasanya terjadi dalam kampus ialah antara kelompok berpenampilan menarik dan kelompok berpenampilan biasa-biasa saja. Sayangnya perlakuan ini masih ada dalam pihak layanan administrasi. “Hal yang paling sering saya rasakan saat mengurus urusan dengan akademik prodi saya ialah adanya perbedaan perlakuan antara saya yang biasa-biasa saja dengan kaum yang goodlooking, urusan saya dikerjakan lambat sedangkan mereka urusannya langsung di kerjakan,” ujar salah satu mahasiswa FEB USK angkatan 2019.

 

Lalu kesulitan mahasiswa juga terjadi saat musim pergantian semester yaitu dengan pengisian perubahan KRS yang jadwalnya bentrok maupun kelas yang sudah penuh. Seringkali pihak mahasiswa bolak-balik ke akademik prodi untuk membetulkan jadwal KRS tetapi staff administrasi telat datang ataupun kerap tidak mau dihubungi via WhatsApp. “ Pada minggu pertama perkuliahan biasanya masih banyak yang ngantri menunggu kejelasan dari akademik prodi tentang perbaikan KRS biasanya ngantri dari pagi sampai siang, kalau terlalu ramai kadang-kadang di suruh datang besok lagi tidak diterima sama staffnya,” ujar mahasiswa FEB USK angkatan 2019.

 

Sebagai  peringkat delapan PTN terbaik di Indonesia versi Webometrics, sangat perlu dilakukan perbaikan dalam hal pelayanan administrasi. Perlunya untuk  memperbaiki aspek-aspek kualitas pelayanan seperti masalah efektivitas, diskriminasi serta  sikap  staff administrasi. Masalah ini perlu diperhatikan oleh kampus dikarenakan struktur bawah menjadi tumpuan untuk struktur atas agar tetap kokoh. Semoga kedepannya kualitas pelayanan akan semakin meningkat.

(Perspektif / PM & Rina)

Categories
Berita opini

Fatwa Terbaru MUI : Menjawab pertanyaan Kebolehan Vaksinasi di Bulan Puasa

Ilustrasi: Astri Rahma

Darussalam – Di tengah situasi Pandemi yang kian merajalela dengan berbagai variannya, masyarakat terus menerus disuguhi vaksin yang tak kunjung selesai, membuat sebagian masyarakat lelah dan mulai malas, terlebih saat ini sudah memasuki bulan Ramadhan. Bagi umat muslim tentu saja harus melaksanakan ibadah puasa. Lantas, bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah vaksin membatalkan puasa? bagaimana pelaksanaan vaksin dibulan Ramadhan? kiranya mulai banyak terdengar.

Di satu sisi, semua orang tentu saja tahu bahwa vaksin merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk mencegah penularan virus dan membentuk daya tahan tubuh. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan vaksin baik dosis 1, 2, maupun booster. Di sisi lain mereka juga kerap mempertanyakan fatwa kehalalannya dan apakah berdampak pada ibadah puasa yang dijalani.

Semua keraguan yang ada kini sudah dijawab tuntas oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Mengingat akan terjadi banyak interaksi di bulan Ramadhan  ini, WHO menyarankan semua orang harus tetap melakukan vaksin sehingga bisa menjalankan puasa dengan tenang.

Terkait hukum vaksinasi di bulan Ramadhan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, telah menjelaskan perihal puasa dan pelaksanaan vaksinasi tetap bisa dilakukan dan tidak membatalkan puasa, keputusan ini masih mengacu pada Fatwa Nomor 13 Tahun 2021 lalu.

Berikut ketentuan hukum vaksinasi saat puasa yang disebutkan dalam Fatwa Nomor 13 Tahun 2021:

“Vaksinasi Covid-19 yang dilakukan dengan injeksi intramuscular tidak membatalkan puasa.”

“Melakukan vaksinasi Covid-19 bagi umat Islam yang berpuasa dengan injeksi intramuscular hukumnya boleh sepanjang tidak menyebabkan bahaya (dlarar).”

Menurut Fatwa MUI, vaksinasi yang dilakukan menggunakan metode injeksi intramuscular tidak membatalkan puasa, karena injeksi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat atau vaksin melalui otot, tidak melalui pembuluh darah.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi dari umat Islam yang sedang berpuasa. Selain itu, jika sekiranya di siang hari tidak memungkinkan karena kondisi fisik terlalu lemah  dan akan menghambat ibadah puasa, dianjurkan untuk melakukan vaksinasi pada malam hari bulan Ramadhan .

“Untuk pelaksanaan vaksinasi di malam hari kami mendorong koordinasi yang dilakukan oleh para pengurus masjid bersama Puskesmas melalui RT/RW, Lurah setempat untuk menjadwalkan pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan setelah pelaksanaan ibadah puasa di siang hari,” terang dr. Nadia selaku jubir vaksinasi Covid-19 pada Konferensi Pers secara virtual, senin (12/4).

Terkait keraguan apakah sistem kekebalan tubuh akan tetap terbentuk, telah ditanggapi oleh, dr. Yoana Periskila, MKK selaku Ketua Gugus Covid-19 Primaya Hospital Bekasi Barat, dalam keterangannya mengatakan bahwa seseorang yang melakukan Vaksinasi Covid-19 pada saat bulan puasa akan tetap memiliki kekebalan tubuh yang sama jika dibandingkan dengan seseorang yang melakukannya ketika tidak berpuasa.

Dikutip dari Kompas.com, Dokter sekaligus Direktur RS PKU Muhammadiyah Prambanan, Dien Kalbu Ady, juga menuturkan, meski sedang berpuasa, seseorang dibolehkan menerima vaksinasi Covid-19 sebab, tidak ada perbedaan kondisi imunitas tubuh selama berpuasa dan tidak berpuasa.

Beberapa tips yang dapat dilakukan agar tidak lemas saat melakukan vaksin ialah istirahat yang cukup dan kurangi begadang, cukupi kebutuhan cairan dengan memperbanyak minum air putih saat berbuka dan sahur, jangan melewatkan sahur serta konsumsi makanan yang bergizi dan nutrisi yang seimbang, hindari minuman yang mengandung kafein seperti kopi atau teh.

Jadwal vaksinasi bisa ditunda apabila mengalami kondisi tertentu saat hendak disuntik. Kondisi penerima akan di skrining secara detail oleh tenaga kesehatan di sentra vaksinasi, guna menentukan apakah orang tersebut layak untuk disuntik saat ini atau harus ditunda. Jika manfaat yang didapat lebih besar daripada resikonya, dr.Nadia menyarankan masyarakat untuk tetap di vaksin.

Perlu diingat, meskipun sudah melakukan vaksin bukan berarti kita boleh mengabaikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Apalagi pergerakan masyarakat di Ramadhan  mulai meningkat kembali, tidak seperti tahun kemarin yang segala aktivitas terbatas. Belum lagi kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka. Sudah sepatutnya kita sama-sama menjaga protokol yang ada agar situasi bisa semakin membaik.

(Perspektif / Shatila & Savina)

 

Categories
Berita opini

Opini : Kebijakan Larangan Mudik, Pemerintah Harus Konsisten

Berdasarkan Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 No.13 Tahun 2021, pemerintah melarang mudik pada Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 H. Pelarangan itu terhitung sejak 6 Mei hingga 17 Mei 2021. Pemerintah menyatakan secara tegas untuk melarang mudik demi menjaga keselamatan dan juga melindungi masyarakat dari penyebaran Covid-19 di Indonesia . Hal ini dilakukan pemerintah Indonesia dikarenakan Kasus Covid-19 di Indonesia yang tak kunjung menurun. Peta persebaran kasus Covid-19 selama 14 hari terakhir di Indonesia tercatat sebanyak 71.384 kasus. Terhitung per anggal 8 Mei 2021, data penularan Covid di wilayah Aceh sendiri mengalami tren kenaikan. Terdapat 11.802 kasus positif di Aceh.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat mengenai larangan mudik sebenarnya patut diindahkan karena pemerintah mempunyai alasan yang jelas untuk menjaga dan melindungi masyarakat dari penyebaran Covid-19 . Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa budaya  masyarakat Aceh maupun Indonesia yang mayoritas beragam Islam adalah melakukan mudik di masa menjelang Lebaran. Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang ideal untuk situasi seperti saat ini.

Di balik itu, ada beberapa hal yang menjadi kejanggalan mengenai tidak konsistennya kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Aceh terkait mudik. Salah satu contoh kebijakan yang mendapatkan sorotan dan kontroversi dari masyarakat Aceh adalah per tanggal 3 Mei sampai dengan 17 Mei 2021, Dirlantas Polda Aceh Kombes Pol. Dicky Sondani mengatakan Angkutan Umum dan Angkutan Pribadi yang melakukan perjalanan antar kota / kabupaten di Aceh wajib membawa surat hasil tes swab antigen.

Namun, pernyataan Kombes Pol. Dicky Sondani tersebut bertolak belakang dengan pernyataan dari Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Wahyu Widada. Kapolda Aceh sendiri menyatakan dirinya tidak pernah menerbitkan aturan berupa kewajiban swab antigen terhadap pemudik antar kota / kabupaten di provinsi Aceh.

Kejanggalan Berikutnya adalah pada Surat Edaran Dinas Perhubungan Aceh No.551/616 mengenai Himbauan Teknis Operasional Angkatan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh meminta angkutan umum untuk menghentikan operasional pelayanan di Wilayah Aceh. Tentu saja kebijakan ini mendapatkan respon dari beberapa pihak yang terkena dampak dari kebijakan tersebut. Salah satunya adalah Organisasi Angkutan Darat (Organda). Pemerintah dianggap tidak melirik dampak kebijakan ini pada supir angkutan umum atau perusahaan angkutan umum.

Surat edaran ini menjadi sebuah dilema yang berdampak kerugian yang mengakibatkan angkutan umum tidak bisa beroperasional . Jika memang angkutan umum tidak bisa beroperasi, maka ada beberapa masyarakat yang memiliki pekerjaan seperti supir angkutan umum dan pekerjaan sejenisnya akan merasakan penurunan dalam pendapatan. Sehingga itu juga memberikan dampak dalam kesejahteraan ekonominya.

Di tengah situasi pandemi seperti ini, masyarakat Aceh mengalami kesulitan dari segi ekonomi. Covid-19 memberikan dampak yang sangat signifkan terhadap daya beli masyarakat menengah ke bawah. Jika daya beli Masyarakat Aceh menurun, Maka perekonomian Aceh akan kacau.”

Saya berharap, Pemerintah Aceh ke depannya harus lebih teliti dalam mengambil kebijakan. Pemerintah Aceh sudah melakukan tugasnya dengan sangat bagus dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Aceh. Namun, sebelum mengeluarkan kebijakan yang cukup krusial seperti larangan mudik, Pemerintah Aceh harus melihat dan mengkaji dampak dari berbagai sektor, terutama sektor perekonomian Aceh. Selain itu pemerintah Aceh juga harus menjaga komunikasi dan koordinasi antar lembaga, agar kebijakan yang dihasilkan tidak saling berseberangan.

Demikian opini yang bisa saya sampaikan. Jikalau ada kekurangan dari saya mohon dimaafkan . Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Aceh! Hidup Perempuan Indonesia! Hidup Pers Mahasiswa! Jaya terus Perspektif FEB USK!

Warm Regards,
Arief Ramadhan
Ketua BEM FEB USK 2021

 

 

 

Categories
opini

Setengah Semester Berlalu, Apa Kabar Perkuliahan Hybrid?

DarussalamSetahun lebih mewabah, pandemi Covid-19 masih terus berlanjut hingga saat ini. Tentu saja hal ini membuat banyak kegiatan perlu penyesuaian dengan kondisi ketat protokol kesehatan yang dicanangkan. Begitu pula dengan sistem perkuliahan di masa pandemi, memasuki semester genap lalu mahasiswa sudah diperkenankan untuk menjalani kuliah tatap muka. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK) juga telah melangsungkan kuliah tatap muka sesuai dengan surat edaran rektor. Meski hanya dua angkatan saja yakni angkatan 2019 dan angkatan 2020 yang diperbolehkan untuk melaksanakan kuliah luar jaringan (luring), hal ini disambut dengan antusias oleh berbagai pihak. Pasalnya setelah hampir setahun menjalani perkuliahan daring, cukup banyak keluh kesah yang muncul, baik dari pihak dosen maupun dari pihak mahasiswa sendiri.

Pada surat edaran yang dikeluarkan oleh pihak rektorat USK telah dijelaskan mengenai sistem perkuliahan yang akan dijalani selama satu semester ke depan. FEB USK sendiri menjalani perkuliahan dengan mengikuti berbagai ketentuan yang terdapat pada surat edaran rektor tersebut. Melalui surat edaran Dekan FEB USK nomor B/530/UN11.1.1/PK.01/2021 dijelaskan bahwa pelaksanaan kuliah untuk angkatan 2019 dan 2020 dilakukan dengan sistem hybrid atau campuran antara luring dan daring. Terdapat juga surat keterangan jika ada orang tua mahasiswa yang tidak setuju dengan dilaksanakannya kuliah tatap muka, maka diperbolehkan untuk memilih kuliah secara daring.

Setengah semester berlalu, sistem perkuliahan yang baru ini dinilai kurang efektif dan cukup memberatkan dosen apabila harus membagi fokus karena melaksanakan perkuliahan secara luring dan daring sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Terlebih lagi sarana dan prasarana terkait dengan pelaksanaan kelas daring yang belum sempurna juga menjadi salah satu alasan dari sistem hybrid antara luring dan daring ini menjadi kurang efektif untuk diterapkan.

“Kita tetap mengacu pada surat edaran yang dikeluarkan rektor, namun jika adanya keraguan dengan perkuliahan seperti ini dan takut dengan adanya ancaman covid, maka akan disesuaikan dengan kesepakatan antara dosen dan mahasiswa untuk melaksanakan perkuliahan antara luring ataupun daring,” jelas Bapak Murkhana, S.E., M.B.A. selaku Wakil Dekan 3 FEB USK saat ditanyai mengenai sistem perkuliahan semester ini.

Terkait sarana dan prasarana yang belum sempurna, beliau juga menjelaskan bahwa pihak FEB USK pasti akan terus berbenah diri untuk menyediakan segala kebutuhan serta melakukan perbaikan fasilitas-fasilitas terkait dengan kebutuhan mahasiswa maupun dosen selama masa perkuliahaan sistem hybrid ini.

Ada kemungkinan pada bulan Juli kita semua bisa kembali untuk melaksanakan perkuliahaan secara luring,namun hal ini juga akan dipertimbangkan dengan meninjau kondisi yang akan terjadi ke depannya terkait dengan Covid-19” Jelas beliau.

Seperti yang kita ketahui, masih belum ada keputusan resmi baik dari pihak universitas maupun pihak fakultas terkait dengan proses perkuliahan untuk semester selanjutnya. Namun, dengan selalu mematuhi protokol kesehatan dan aturan-aturan lain terkait dengan Covid-19 kita semua berharap bahwa pandemi Covid-19 ini dapat segera berakhir dan proses perkuliahan di kampus dapat kembali normal seperti sedia kala.

Apalagi dalam beberapa bulan ke depan Universitas Syiah Kuala termasuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis akan kembali menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2021. Dengan dimulainya sistem perkuliahan secara normal, tentu saja kita berharap agar mahasiswa baru dapat beradaptasi dengan lingkungan kampus serta mahasiswa maupun dosen dapat melaksanakan perkuliahan secara kondusif dan minim kendala. (Dwi/Daffa/Jams)

Categories
Berita opini

Karena Kita, Angkatan Corona

Ilustrasi : Max

Darussalam – Sudah hampir 7  bulan lamanya kita mendekam dalam ketidakpastian perihal kepergiannya, Corona. Mungkin terhantam oleh gesitnya persaingan merebut “doi” sudah biasa kita jalani, lain halnya dengan yang satu ini. Ia menghantam segala sektor kehidupan terutama pendidikan secara brutal tak termaafkan sampai-sampai melahirkan generasi baru yang kini dinamai Angkatan Corona.

Dunia perkuliahan merupakan salah satu tahap paling atas dalam proses pendidikan. Tidak sedikit yang menganggap perkuliahan menjadi bagian terpenting dalam menyusun masa depan. Begitupun yang ada dalam pikiran para siswa yang duduk pada tingkat akhir Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat. Mereka pastinya telah mempersiapkan diri dan hal-hal lain yang bersangkutan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang diimpikan. Namun, bagaimana nasib mereka menjadi mahasiswa baru di tengah pandemi Covid-19 ini.

~Baru ganti status jadi mahasiswa tapi engga bisa merasakan masa orientasi asik yang ala-ala, huhu sedih deh~

Mahasiswa baru atau yang biasa dikenal dengan sebutan “Maba” pada umumnya harus melewati masa orientasi di Universitas pilihannya masing-masing. Sama seperti di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang terletak di tanah Rencong ini, para maba-nya telah melewati tahapan awal yakni  Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (Pakarmaru) pada pertengahan September yang lalu. Tapi sayangnya kegiatan ini harus dilaksanakan secara daring.

~yaah… Gabisa menikmati drama masa orientasi dan motivasi dari para petinggi di kampus secara live dong

Walaupun dilakukan secara daring, masa orientasi ini tetap dijalankan guna mempersiapkan mahasiswa baru agar siap menjalani kehidupan perkuliahan yang penuh dengan derita tantangan.

“Kesannya untuk pakarmaru daring biasa aja, karena pakarmaru tetap harus dijalanin walaupun secara daring mengingat kita semua masih ada di tengah pandemi covid-19. Kalau ada Pakarmaru secara langsung pasti bakal lebih seru, asik, dan bisa kenalan langsung sama teman-teman baru,” ungkap Renada Maghfira Meisyla, mahasiswa FEB jurusan Ekonomi Pembangunan angkatan 2020.

Tidak hanya pakarmaru daring, mahasiswa baru tahun ini juga harus mengikuti saat-saat pertamanya perkuliahannya secara daring. Siap tidak siap, mereka dihadapkan pada segala bentuk hiruk-pikuk tentang perkuliahan daring. Pastinya hal ini akan berbanding terbalik dengan apa yang sudah dipikirkan sebelumnya oleh mereka. Pandangan tentang dunia perkuliahan yang akan lebih melegakan dari pendidikan tingkat sekolah menegah seakan harus segera disingkirkan. Karena pada kenyataannya dunia perkuliahan tidaklah semudah apa yang dibayangkan.

~Rasanya seperti soundtrack sinetron Indosiar.. Kumenangiiis… Membayangkan…

Banyak keluh-kesah yang dirasakan oleh para mahasiswa yang menjalaninya ditambah dengan situasi sekarang ini yang seakan mempersulit. Namun tidak sedikit juga yang sudah bisa berdamai dengan keadaan dan mencoba bodo amat membiasakan diri pada perkuliahan daring ditengah pandemi. Untuk menghibur diri, sebagian dari mereka menganggap kuliah daring sebagai kuliah sambil liburan. Tetapi pada dasarnya kuliah daring tetaplah kuliah sebagaimana yang harus dijalankan oleh para mahasiswa.

Nggak pernah kepikiran sih bakal jadi mahasiswa baru angkatan Corona. Ekspektasinya kalau jadi mahasiswa itu ya bakal asik, duduk di kelas bisa di mana aja, ga bawa buku waktu kuliah juga ngga masalah kayak yang di film-film, dan pastinya bisa pakai baju bebas ala OOTD gitu kalau ke kampus. Eh Tapi malah zonk…” Tutup seorang pendemo anonim yang resah, rindu, dan fakir kuota.  (Wik, Ika, Mv)

Categories
Berita opini Politik

Selamat Datang UU Omnibus Law & Cipta Kerja!

Jakarta ― Apa kabar Indonesia? Sudah lama ya tidak bersua lagi tentang Politik, setelah sekian lamanya kita dibungkam oleh Corona, ya. Bagaimana keadaan Politik saat ini? Ah, rupanya sedang ramai-ramainya media sosial, khususnya netizen Indonesia yang sedang bergolak menghadapi sebuah isu, yang bernama “Omnibus Law”.

Apa sih “Omnibus Law” itu? Berbicara mengenai hal tersebut, dapat kita tarik kebelakang, ketahun 2019. Pada 20 Oktober 2019 lalu, Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo dalam pidato pertamanya setelah dilantik menyampaikan gagasan terkait Omnibus Law.

Jokowi mengatakan bahwasanya Omnibus Law ini bakal menyederhanakan kendala regulasi yang dianggap terlalu berbelit dan rumit. Lalu, apakah benar demikian? Nanti akan dibahas. Sekarang kita kumpulkan dulu beberapa pertanyaan yang sedang muncul dibenak sebagian masyarakat Indonesia saat ini. Pay Schedule Calendar

Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja telah disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada sidang paripurna, Senin (5/10) kemarin. RUU ini katanya disiapkan untuk memperkuat perekonomian nasional dalam menghadapi ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.

Lantas benarkah Omnibus Law adalah solusi untuk situasi saat ini?

Ingatkah pada 20 Januari 2020 lalu, serikat buruh menggelar aksi unjuk rasa, ribuan buruh tumpah ruah di gedung DPR RI? Mari sedikit kita nostalgia, dalam unjuk rasa tersebut, ribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Indonesia (SPI) menentang keras pengesahan RUU Omnibus Law khususnya RUU Cipta Kerja karena dianggap justru akan merugikan para pekerja.

RUU yang katanya akan menyelesaikan permasalahan lapangan kerja, tapi kok diprotes oleh pekerja itu sendiri?

Omnibus Law Belum Padam?  https://persfe.com/omnibus-law-belum-padam/#.X3xGW8QxUrk

Kita cukupkan lah ya untuk mengenang masa lalu. Sekarang mari kita kembali ke masa saat ini,―dilansir dari CNBC Indonesia, pasar modal nasional pada Senin (5/10) menguat berkat sentimen positif dari Amerika Serikat (AS). Pasar berpeluang mendapat angin buritan untuk melaju lebih jauh ke zona hijau menyusul pengesahan Undang-Undang Omnibus Law.

Proses yang panjang sejak bulan Januari, kini kabar pembahasan RUU Omnibus Law didalam sidang paripurna mendadak dimajukan dan dimulai pada pukul 16:00 WIB kemarin (5/10) yang berujung pada keputusan pengesahan menjadi UU baru. Satu catatan, proses RUU ini sangat minim partisipasi publik. Ya seolah Omnibus Law ini mengetuk palu sendirian.

Tagar #DPRRIKhianatiRakyat trending di media sosial, khususnya di platform cuitan burung biru atau twitter. Bahkan bersamaan dengan tagar lainnya yang terdengar seperti jeritan masyarakat Indonesia, “Gagalkan Omnibus Law!”, “Jegal sampai Gagal!”, “Tolak Omnibus Law!”, dan masih banyak lainnya yang tidak bisa disebutkan,―takut ada tukang bakso bawa talkie-walkie, ck.

Lantas, mari kita kenalan timeline Omnibus Law edisi 2020!

Ingin tahu lebih dalam draf UU Omnibus Law? Silahkan, mengunjungi thread berikut, semoga bermanfaat! https://twitter.com/Cittairlanie/status/1313117687900372997?s=19

(Van/Perspektif)

Categories
Berita opini

Spekulasi New Normal dan Beragam Dampaknya

Ilustrasi : Max

Kini tiap-tiap negara di dunia, benar-benar merasakan dampak wabah pandemi ini, ada negara yang berangsur-angsur membaik adapula negara-negara yang bahkan semakin memburuk, banyak kebijakan yang telah diterapkan untuk menekan wabah pandemi ini, dengan cara physical distancing, lockdown, bahkan di Indonesia sendiri disebut dengan Peraturan Sosial Berskala Besar (PSBB), maka kemudian kita akan bertanya-tanya, apakah dengan berbagai kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah dapat menekan wabah pandemi ini?

Sudah hampir 6 bulan lamanya virus Covid-19 menjangkit Indonesia, berbagai cara telah ditempuh untuk memberikan semangat perjuangan melawan wabah pandemi ini, akan tetapi nyatanya, ketika pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan untuk menekan wabah pandemi ini, alih-alih semakin membaik malah kini korban terdampak wabah pandemi ini semakin meningkat tercatat jumlah korban terjangkit (01/10/2020) mencapai angka 287.008, dengan angka kematian mencapai 10.740.

Kemudian beredar narasi bahwasannya pemerintah akan melakukan Herd Immunity, diketahui bahwa Herd immunity adalah kondisi ketika sebagian besar kelompok atau populasi manusia kebal terhadap suatu penyakit karena sudah pernah terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut.

Untuk mencapai herd immunity, setidaknya 70 persen dari populasi harus terinfeksi terlebih dahulu. Apabila penduduk Indonesia dianggap sebanyak 270 juta, maka sedikitnya 189 juta harus terinfeksi untuk mendapatkan herd immunity.Kemudian, dari angka tersebut kemungkinan orang yang meninggal bisa mencapai satu juta orang.

Sungguh realita yang mengejamkan jikalau pemerintah benar-benar ingin menerapkan kebijakan ini, akan tetapi kepastian yang didapatkan sekarang ini ialah pemerintah membantah spekulasi tersebut, hal tersebut pernah disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, “Pertanyaannya apakah kita pakai itu? Jawabannya tidak,” ujar Yuri seperti yang dilansir oleh Kompas.com, Rabu (13/5/2020).

Setelah kita mengetahui fakta tersebut, tentunya masih terlintas di benak kita mengenai pemerintah yang kini berangsur-angsur melonggarkan kebijakan PSBB, seperti dengan mulai aktif kembalinya berbagai macam transportasi umum dengan ketentuan menerapkan Physical Distancing.

Sekarang ini spekulasi yang benar-benar bergulir di masyarakat adalah diterapkannya kebijakan new normal, pemerintah menjelaskan bahwa new normal berbeda dengan herd immunity, dimana new normal sendiri dikatakan bahwasannya akan terjadi pelonggaran dengan macam-macam persyaratan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, cuci tangan yang teratur serta lainnya.

Akan tetapi seharusnya pemerintah sedari awal menyadari berbahayanya penyebaran wabah pandemi ini, alih-alih bersiaga pemerintah malah masih membuka jalur transportasi penerbangan baik Internasional maupun Domestik, karena awal memang telah diketahui virus ini menyebar begitu cepat di berbagai negara di dunia ini, untuk itu pula memang diketahui saat ini sektor ekonomi memang terdampak begitu parah, dan ditakutkan akan terjadi resesi di perekonomian di Indonesia disebabkan wabah pandemi ini.

Untuk itu pemerintah mengantisipasi jikalau wabah pandemi ini terus menjangkiti masyarakat Indonesia, ditambah dengan lesunya laju ekonomi maka ditakutkan nantinya akan terjadi depresiasi di perekonomian Indonesia.

Sehingga di tengah-tengah wabah pandemi ini, pemerintah menyiapkan skenario new normal yang dikatakan kebijakan tersebut pemerintah akan menggandeng seluruh pihak terkait termasuk tokoh masyarakat, para ahli dan para pakar untuk merumuskan protokol atau SOP untuk memastikan masyarakat dapat beraktivitas kembali, tetapi tetap aman dari Covid-19.

Protokol ini bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga pendidikan dan keagamaan, tentu bergantung pada aspek epidemologi dari masing-masing daerah, sehingga penambahan kasus positif bisa ditekan.

Akan tetapi ada baiknya pemerintah fokus terlebih dahulu untuk menyelesaikan wabah pandemi ini, karena memang diketahui korban positif terus bertambah, ini artinya kebijakan yang telah dilaksanakan pemerintah sebelumnya, belum terlaksana dengan optimal maka untuk seharusnya pemerintah lebih tegas lagi dalam membuat kebijakan agar masyarakat menjadi disiplin dan menjaga kesehatan mereka.

Maka, hal yang seharusnya kita ketahui ialah kebijakan-kebijakan tersebut hanyalah alat semata, agar kebijakan tersebut terlaksana haruslah kita mentaati protokol yang telah dikeluarkan pemerintah, dan pemerintah juga telah melakukan berbagai macam stimulus ekonomi demi mendorong jalannya roda perekonomian.

Harapnya, mogalah wabah pandemi ini hilang dari negeri kita, dan kita dapat melaksanakan kegiatan kita seperti sedia kala, untuk mewujudkan hal tersebut memang dibutuhkan kerja ekstra serta komitmen dari kita dan pemerintah agar wabah pandemi ini hilang selama-lamanya dari negeri ini. (Yodi & Fahmi / Perspektif)

Editor : Abi Rafdi

Categories
Berita Kampus mahasiswa opini Straight News Tulisan Unsyiah

Testimoni Mahasiswa Akhir Atas Nama Sidang Skripsi Via Daring

Cover by team Grafis/Perspektif

Darussalam – Pandemi Covid-19 membuat seluruh dunia berinteraksi sosial secara daring, termasuk negara Indonesia. Semua aktivitas dilakukan melalui aplikasi-aplikasi modern, baik dalam kegiatan pekerjaan maupun proses belajar-mengajar.

Selain kebijakan proses belajar-mengajar yang dilakukan via daring, kebijakan ini juga berlaku untuk sidang skripsi bagi mahasiswa tingkat akhir. Tentu terasa berbeda, baik dari suasana maupun proses pelaksanaannya. Pelaksanaan sidang skripsi secara daring sepatutnya memberi kesan yang berbeda-beda bagi setiap mahasiswa.

Tidak berbeda dengan kampus lain di Indonesia, pelaksanaan sidang skripsi via daring juga turut dirasakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Syiah Kuala. Aplikasi yang kerap digunakan berupa video conference yaitu aplikasi Zoom. Dengan aplikasi video conference memungkinkan dilakukannya komunikasi jarak jauh dan semua pesan dapat disampaikan secara langsung tanpa harus bertemu.

“Sedikit gugup, perlu mengumpulkan keberanian penuh untuk bertatapan via daring,” Ungkap Putri Aprilia, mahasiswi Fakultas Pertanian jurusan Agroteknologi. Rasa gugup masih terus meliputinya, meskipun pelaksanaan sidang skripsi dilakukan secara daring.

Proses pelaksanaan sidang skripsi via daring tidak selalu mudah untuk dilakukan. Mahasiswa harus siap menghadapi beberapa kendala dalam proses sidang skripsi. Kendala yang sering dirasakan hampir semua mahasiswa tingkat akhir pada saat sidang skripsi via daring, yaitu jaringan internet yang tidak selalu bagus, sehingga komunikasi antara dosen penguji dan mahasiswa ikut terganggu.

“Jaringan antara dosen dan mahasiswa kadang tidak terlalu bagus, sehingga apabila ada hal penting yang disampaikan dosen tidak dapat didengar jelas oleh mahasiswa,” Jelas Sarah Marisi Manurung.

Kendala tersebut sangat umum terjadi, mengingat mahasiswa berada di tempat tinggal yang berbeda-beda dengan kondisi jaringan yang berbeda pula. Pelaksanaan sidang skripsi secara daring juga memiliki batasan dalam waktu, sehingga pelaksanaannya harus dipercepat dan dosen hanya memberikan beberapa saran dan pertanyaan yang singkat dan penting saja.

Sidang skripsi dikenal dengan sidang penuh drama di setiap pelaksanaannya. Sehingga banyak mahasiswa akhir yang gugup saat akan menghadapi sidang skripsi. Drama sidang skripsi terkadang meninggalkan kesan mendalam dan menjadi kenang-kenangan yang tak bisa dilupakan begitu saja.

Namun bagaimana dengan sidang skripsi via daring? Apakah penuh drama seperti biasanya?

Terbatasnya waktu pelaksanaan membuat proses sidang skripsi tidak dipenuhi drama yang panjang. Hal ini membuat sebagian mahasiswa tingkat akhir merasa lega karena tak harus menghadapi sulitnya drama dari pertanyaan menjebak dalam sidang skripsi. Namun, sebagian mahasiswa lainnya merasa sedikit kecewa karena drama yang terjadi dalam sidang skripsi dianggap sebagai kesan mendalam dan momen berharga yang sulit dilupakan dalam hidupnya.

Sebagian mahasiswa yang telah dinyatakan lulus dalam sidang skripsi via daring merasakan kebahagiaan dan rasa puas tersendiri, mengingat perjuangannya yang begitu sulit dan banyaknya hambatan serta rintangan hingga dinyatakan lulus dalam sidang skripsi.

Ada pula beberapa mahasiswa merasa sedikit kecewa karena tidak bisa merayakannya bersama teman-teman. Tetapi dibalik itu semua, mahasiswa tingkat akhir bersyukur karena disetiap kejadian pasti ada hikmah yang dapat diambil dan di setiap perjuangan pasti ada akhir bahagia yang akan dirasakannya.

“ Usaha tidak akan mengkhianati hasil. ” (Azka & Jannah/Perspektif)

Categories
Berita opini

Selama #DiRumahAJa, PDF Ilegal kok Merajalela?

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Darussalam – Sudah sebulan lebih sejak Indonesia melaporkan adanya kasus pertama pasien virus corona pada 2 Maret 2020, hingga kini jumlahnya kian meningkat. Tak dapat dipungkiri, pandemi Covid-19 ini memang banyak mengacaukan jalannya kehidupan dalam berbagai aspek. Ia pun tak pandang bulu, semua Negara habis dijajahnya, tak terkecuali Indonesia.

Akibat dari adanya virus ini menyebabkan aktivitas sehari-hari menjadi terhenti dan memaksa orang-orang untuk berdiam diri di rumah. Banyak orang yang mencoba untuk beradaptasi dengan hal ini, dari yang biasanya sibuk kerja melulu di kantor kini hanya berdiam diri di rumah sambil scroll timeline media sosial hingga kuota internet ludes dalam sekejap. Dari yang awalnya saat kuliah hobi titip absen,

~eh absen online ya sekarang, hehe.

Sampai akhirnya beneran kuliah online di rumah ditemani tugas yang tak punya hati  makin banyak. Akan tetapi, ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan di dalam rumah selain yang menyebalkan tadi. Contohnya seperti: membantu orang tua, olahraga ringan, belajar menjahit, mengaduk Dalgona sampai lebaran, hingga mengembalikan minat literasi dengan membaca di sela-sela waktu kosong.

Ngomong-ongomong soal membaca, belakangan ini membaca memang menjadi hal yang paling sering dilakukan di rumah. Baik itu membaca jurnal untuk tugas kuliah, berita-berita, caption tetangga, story yang dipenuhi kata-kata puitis melankolis, hingga buku-buku bajakan.

~Wopp…. Buku kok dibajak, memangnya sawah?!!

Tentu tidak ada salahnya dalam membaca dong, toh kini banyak buku yang di-pdf-kan (elektronik) dan dapat diunduh secara cuma-cuma bahkan ada yang sampai membagikannya ke banyak orang. Terus salahnya di mana? Bukannya biar makin produktif selama #dirumahaja ?

Pembajakan buku jelas merugikan penulis. Secara ekonomi jangan ditanya lagi, setiap ekslempar buku bajakan ada royalti yang ‘dicuri’ oleh oknum pembajak. Padahal royalti penulis tidak terlalu besar dimana standar umumnya di Indonesia hanya sebesar 10% dari penjualan buku.

Kalau digali lagi lebih luas, tidak hanya penulis saja yang dirugikan. Namun, penyunting naskah, pendesain sampul buku, penata letak, hingga penerbit buku juga ikut dirugikan. ‘Profesi’ yang satu ini jelas mematikan banyak pihak dalam satu pukulan telak, mirisnya ada yang sampai muncul secara terang-terangan di lokapasar daring (online marketplace).

~Sampai sini bisa paham?

Yang pasti tindakan ini akan menuai kritikan tajam, terutama bagi para penulis buku. Kebanyakan buku yang di-download itu adalah buku-buku yang sebenarnya tidak disediakan oleh penerbit dalam bentuk PDF, alias bajakan. Menanggapi hal ini banyak penulis seperti Jerome Polin, Fiersa Besari, Boy Candra, dan masih banyak lagi yang merasa kesal dengan adanya buku pdf bajakan.

“Pada ngerasa jagoan ya saat ada orang yang butuh baca buku, terus ngirim PDF ilegal, lalu banyak yang berterima kasih gitu? Merampas hak penulis dan semua orang yang terlibat dalam pembuatan karya kok bangga. Hadeh”, cuit akun twitter @JeromePolin.

Dilansir dari akun twitter milik Rintik Sedu, @ntsana_. Melalui cuitannya menanggapi hal yang  sama perihal buku PDF bajakan mengatakan “lu yang nyebar buku gw versi bajakan di whatsapp dengan alesan “amanah” lu tuh ya lu tuh menjijikkan”.

Sama halnya dengan penulis lainnya, Boy Candra juga mengutarakan perasaanya melalui akun twitter.

Dari beberapa unggahan penulis buku tersebut dapat kita berfikir sejenak bahwa setiap penulis pasti sudah bersusah payah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran mereka dalam menciptakan suatu karya yaitu buku. Menulis buku dengan ratusan hingga ribuan halaman itu tidaklah instan dan enak, seperti mie instan kesukaan kita semua.

Penulis juga manusia biasa yang tidak sesakti Bandung Bondowoso yang bisa membuat 1000 candi dalam satu malam. Bahkan, percaya tidak percaya, ada kasus di mana bajakannya rilis sebelum buku aslinya terbit.

~Ini kan sudah sangat konyol T_T

Seperti yang dilansir dalam salah satu akun twitter penerbit buku di bawah ini :

Bukankah tugas kita harus menghargai kerja keras mereka selama ini dengan tidak men-download ataupun men-share PDF secara cuma-cuma lagi?

Ada banyak cara untuk dapat membaca buku best seller tapi tidak dengan memberikan tautan PDF secara ilegal. Jika kita belum mampu untuk membeli buku aslinya, kita dapat meminjam milik teman terlebih dahulu sembari menabung menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli buku tersebut. Kita juga bisa menunggu promo ataupun membeli buku bekasnya.

Bukankah itu hal yang baik sekaligus mendukung kerja keras dari penulis? Yuk bersama-sama kita bantu untuk bisa mengatasi ini serta saling mendukung dan bukan saling menikung. Stop mengunduh dan men-share PDF bajakan. Jangan mengangkat narasi masalah ekonomi untuk membeli bku bajakan.

~Tapi kalau sudah terlanjur, mari bertaubat. [Var, Han, Malfoy]

Editor : Abi Rafdi

Categories
Berita opini

Produktif di Tengah Pandemi, Emang Bisa?

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Sistem kuliah online yang sedang dijalani sekarang merupakan salah satu upaya mencegah penyebaran Covid-19 yang sedang marak menginfeksi banyak orang di dunia. Sistem perkuliahan online yang diperuntukkan untuk mahasiswa Unsyiah tentunya membawa dampak negatif maupun positif. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa jenuh akibat sistem kuliah online yang dinilai kurang efektif dibanding kuliah tatap muka karena tugas yang  diberikan oleh sang dosen terlalu banyak dan akses internet yang kurang memadai. Namun, tidaklah mungkin jika tetap dilakukannya perkuliahan tatap muka, karena resiko yang ditimbulkan sangat besar.

Terkait bagus atau tidaknya sistem perkuliahan online ini, efek yang ditimbulkan oleh physical distancing bagi mahasiswa yang merasa bosan pun pastinya mencari cara untuk menghilangkan rasa jenuh tersebut. Jangan salah, buka tutup kulkas membayangkan sekotak eskrim vienetta di dalamnya, cukup membuat anda tidak dicap sebagai kaum rebahan saja. Tapi tak ada salahnya juga menjadi kaum rebahan, toh ga ngerugiin siapa siapa kan?. Namun, melakukan sesuatu yang produktif jauh lebih baik dibandingkan hanya duduk diam menunggu notif dari sang pujaan hati.

Tak tanggung-tanggung, berada di dalam rumah sambil mengerjakan tugas menumpuk terus-menerus pastinya membuat banyak mahasiswa merasa stress dan jenuh. Di lain sisi, ada mahasiswa yang merasa sistem kuliah online (kulon) membuat mereka bisa melakukan banyak kegiatan di luar perkuliahan meski berada di rumah. Lalu, aktifitas apa saja yang mereka lakukan selain kulon dan mengerjakan tugas?

“Nah, kalau aku dari SD sampai sekarang, hobinya nulis prosa, tapi kertas yg aku tulis selalu hilang, karena ga ada media ya, buat nyalurinnya. Makanya aku buat channel YouTube (rumpun cerita) buat nyalurin tulisan aku dan cerita orang-orang di luar sana, untuk menginspirasi yang nonton. Ada kesenangan sendiri pas nulis dan didengerin banyak orang pokonya. Ditambah sekarang lagi #dirumahaja pas kali ni lebih banyak waktu buat ngelakuin hal positif kaya gini,” ujar Muhammad Haikal Gunarya, mahasiswa jurusan teknik Geofisika.

Sama halnya dengan Haikal, Diego Putra Permana juga mempunyai hobi yang serupa yaitu menulis prosa. Namun bedanya, mahasiswa kelahiran 12 April tahun 2000 ini lebih aktif untuk menuangkan karyanya melalui story di akun instagram pribadinya.

“Selain menyicil tugas yang diberikan, aku juga suka menulis. Melalui tulisan ini aku mau mengenalkan ke banyak orang bagaimana cerita dan penyelesaian masalah dari sudut pandang orang lain. Tulisan-tulisan yang dibuat juga dari pengalaman pribadi teman dekat yang percaya untuk cerita sama aku. Dari situ aku belajar memahami sudut pandang orang lain, memposisikan diri menjadi diri mereka dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Saat kebijakan physical distancing dan kuliah online sedang diterapkan seperti saat ini, tentu lebih banyak tulisan yang aku hasilkan. Biasanya juga aku upload di story Instagram alhamdulillah banyak juga yang suka,” jelas Diego, mahasiswa jurusan Akuntansi.

Berbeda dengan Nabilah Sri Muthia, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan Manajemen ini mengungkapkan bahwa dirinya lebih senang melakukan hobi yang positif seperti memasak. “Sekarang kan lagi masanya physical distancing, jadi ini emang waktu emas buat aku bikin kue yang udh masuk list baking. kadang sambil nugas juga bawaannya laper, kan? dari situlah aku suka bikin cemilan sendiri”. Tak hanya sampai di situ, nabilah yang akrab disapa dengan nab juga menambahkan, “Intinya, physical distancing ini waktu yang tepatlah untuk memperdalam skill memasak. Ga ada salahnya kan, malah bisa nambah ilmu,” sambung nab.

Lain lagi penuturan salah seorang mahasiswa FISIP jurusan Ilmu Politik yang satu ini. Ia malah tak kalah untuk menghabiskan waktu luang disela perkuliahan untuk berolahraga “Kegiatanku selama pemerintah Indonesia mengeluarkan statement ‘darurat corona’ dan anjuran untuk work from home, aku isi dengan melakukan olahraga untuk meningkatkan imunitas tubuh seperti jogging, push-up, sit-up dan sebagainya, disamping itu setelah melakukan olahraga di pagi hari biasanya aku lanjutkan dengan memasak, mendengar musik, dan nonton film di YouTube dan NetFlix,” ungkap Muhammad Irfan Fadillah.

Di tahun 2020 kini hadir aplikasi yang marak digunakan oleh banyak orang mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang tua juga menggunakannya. Tak sedikit orang yang menjadikan aplikasi tiktok sebagai media hiburan penghapus jenuh. Salah satunya Zharifah, mahasiswa jurusan teknik komputer.

“Jenuh juga dengan sistem kulon dan tugas yang diberikan banyak. Tiktok adalah media hiburan yang lagi hype sekarang, aku coba main dan ternyata asik juga hafal gerakan yang gak terlalu ribet. Terus siap merekam gerakannya dan melihat hasilnya yang bagus malah menjadi salah satu hal yang menyenangkan hati, jadinya lupa deh sama capeknya ngerjain tugas” ujar Zharifah.

Jadi, buat kalian yang punya hobi ngelukis, bernyanyi, masak, menulis, belajar, dan hal positif lainnya, masa physical distancing yang diterapkan oleh pemerintah ini adalah waktu yang cocok untuk kalian menyalurkan hobi tersebut. Karena, bukan berarti hanya diam di rumah saja, menjadi halangan untuk mencoba hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Stay safe everyone, and do something Productive! (Ika & Caca)

Editor : Abi Rafdi