Categories
Malam Jumat Pojok Tulisan

Ketika Dia Menyapa di Penghujung Malam Hari

“Krincing… Krincing… Krincing…” suara yang mengganggu tidur malamku itu lagi dan lagi terus berbunyi, tapi aku tak tau dari mana sumber suara itu.

Hampir beberapa malam ini aku terjaga dari tidur malamku, karena mendengar suara kerincing yang aneh.

Awalnya aku berpikir itu sebuah ilusi alam bawah sadarku saja karena saat ini aku sedang mengunjungi atau bisa dikatakan menghadiri acara sunatan saudaraku dari luar daerah tempat tinggalku. Karena tempatnya jauh dari rumahku alhasil kami menginap beberapa hari ditempat yang telah disediakan oleh saudaraku.

Biar kugambarkan keadaan sekitar rumah ini. Rumah yang tidak terlalu besar, namun memiliki kamar yang cukup banyak dan dapat menjadi tempat menampung aku beserta saudaraku yang lain. Memiliki ruang tamu yang lumayan luas, kamar mandi yang terletak di luar rumah dan memiliki sumur yang aku pikir itu sudah tua. Rumah ini tak terlihat istimewa karena tak ada barang di dalamnya, kecuali tempat tidur di beberapa kamar saja.

Sejak aku datang ke rumah ini, kesan pertamaku “Menakutkan” meskipun aku tau tak bakal ada kejadian apapun karena di sini sangat ramai, ditambah saudaraku lebih banyak anak kecil. Akupun mulai mengemas barang yang kubawa, dan beristirahat sebentar sebelum bergabung dengan keluarga yang lain.

“Drett… Drett…” bunyi handphone yang membuatku tersadar dari tidurku, ketika kubuka ternyata sudah mendekat magrib dan aku terlalu pulas tidur, tanpa berlama-lama aku bergegas mandi. Saat aku mandi ada rasa takut dan tidak nyaman, tapi aku terus meyakinkan diriku kalau tak ada yang perlu ditakutkan dan aku pun melanjutkan mandi.

Setelah mandi aku berkumpul dengan keluarga sambil makan malam yang diiringi canda tawa, membuat aku lupa dengan rasa takut yang tadi kurasakan. Ketika jarum jam menunjuk ke angka sembilan, kami semua memutuskan untuk bubar dan masuk ke kamar masing-masing. Tentu saja satu kamar diisi beberapa orang, termasuk aku yang sekamar dengan adik perempuanku.

Kulihat adikku sudah tertidur lelap, sementara aku masih kesulitan tidur karena tadi sudah cukup tidur. Aku memejamkan mata, namun aku mendengar sesuatu. Samar-samar tapi tetap masih dapat kudengar suara itu.

“Krincing… Krincing… Krincing…” untuk pertama kali aku mendengar suara itu dan seingatku meskipun banyak anak kecil tapi mana mungkin mereka dibiarkan main sampai selarut ini.

Malam yang sunyi dengan hawa sekitar yang dingin, kulihat jam dan benar saja ini masih pukul dua pagi. Aku kembali memejamkan mata dan tidak ingin memikirkannya, mungkin khayalanku saja.

Ketika aku membuka mata ternyata sudah pagi, sinar matahari terlihat jelas dari jendela kamar ini. Aku mulai membersihkan diri dan bergabung kembali dengan keluarga yang lain. Saat kutanya adikku mungkin dia mendengar, tapi jelas saja dia tak mendengar-kan dia semalam tidur.

Dan ini malam kedua, aku berharap kejadian malam kemarin tidak ada lagi. Aku tertidur malam itu, tapi aku terbangun karena mendengar lagi suara yang kemarin. Kembali samar-samar suara itu ditelingaku, meski tetap dapat kudengar. Kali ini aku yakin, ini sambutan hangat dari penghuni rumah ini. Aku berusaha tidur dan tak mau memikirkan ini lagi.

Pagi cerah datang kembali, aku berhela napas lega karena dapat melewati malam yang membuatku merinding. Masih seperti rutinitas yang sama, aku membersihkan diri lalu bergabung dengan keluarga yang lain.

Malam ketiga ini aku memutuskan untuk tidur lebih dekat dengan adikku. Adikku juga sudah tau, aku menceritakan tentang kejadian kemarin dan responnya sedikit terkejut lalu berkata “Kalau kamu takut, aku akan lebih takut lagi,” yayaya akupun berpikir begitu sih, dan memilih tidur dalam harapan tidak ada terjadi yang tak diinginkan.

Namun lagi-lagi aku mendengarnya, suara itu seperti berjalan di lorong luar kamar ini. Aku berusaha membangunkan adikku, tapi dia tidur seperti orang mati. Suara itu dekat dan semakin mendekat, kurasakan detak jantungku semakin cepat sampai aku rasa atmosfer sekitarku semakin menipis.

“Krincing… Krincing… Krincing…” suara itu terus kudengar tepat jam dua pagi. Ada apa? Mengapa hanya aku yang mendengarnya? Kudengar suara ketukan pintu dan kuyakin ini jelas pintu kamarku.

“Tok… Tok… Tok…” aku diam mendengarkan dan tak berani sekalipun bergerak.

“Tok… Tok… Tok…” aku masih tetap diam dan berusaha membangunkan adikku yang susah sekali bangun. Dan sesaat setelah suara ketukan pintu itu hilang, aku sedikit merasa lega.

“Ceklek…” suara pintu terbuka, kulihat gagang pintu kamarku seperti ada yang membukanya. Tapi seingatku sebelum tidur aku sudah mengunci pintu itu dan aku sudah mengeceknya berulang kali.

Ada seseorang dan aku menunggu siapa yang masuk, tapi lama sekali. Sampai ketika dia masuk, dia memakai gelang kaki dan aku yakin suara yang selama ini kudengar berasal dari gelang kaki itu. Menunggu responku? Sudah jelas badanku mati rasa, dari ujung rambut hingga kaki tak satupun bisa ku gerakkan bahkan mulutku serasa dikunci.

Jika dilihat lebih saksama, yang dihadapanku ini merupakan perempuan pucat dengan kaki pincang dan wajah yang hancur.

Dia menatapku dengan tatapan dingin, seolah tak suka melihatku. Aku berusaha berpikir apa yang harus kulakukan. Dengan sekuat tenaga aku memukul badan adikku tapi masih tidak ada respon, aku berusaha membuka suara dan berteriak memanggilnya tapi tetap hasilnya nihil.

Aku mengumpulkan niat dan mulai membaca ayat yang terlintas di kepalaku, aku ingin sekali membaca Surat Yasin yang aku yakin itu mampu mengusirnya. Namun sial aku mendadak lupa apa awalan dari surat itu, aku berusaha yakin dan membaca doa apapun untuk melindungiku.

“Jdarr…” tiba-tiba suara keras mengejutkanku, dan lebih mengherankan lagi kuliat cahaya yang membentuk kaca tepat diantara aku dan perempuan itu. Aku yakin ini merupakan bantuan, dan aku semakin berani untuk membaca doa.

Aku tak tau harus berkata apa, perempuan itu berusaha menghancurkan kaca itu dengan mencakarnya. Namun ia tak berhasil, kaca itu mungkin lebih kuat.

Sampai akhirnya, ia menyerah dan berbalik badan. Berjalan ke arah pintu lalu menembusnya, seketika kaca itu hilang tanpa aku sadari. Aku memberanikan diri untuk berjalan ke arah pintu untuk memeriksa apa sebenarnya yang barusan kualami.

Kulihat pintu itu masih seperti semalamsaat aku menguncinya. Kembali aku berjalan ke tempat tidur dan aku memejamkan mata sambil berterimakasih dalam hati. Sebab pertolongan yang tak pernah kubayangkan datang di saat aku membutuhkan.

Pagi hari kembali, dan aku menceritakan kepada adikku pengalaman yang aku alami semalam. Adikku jelas sangat terkejut sampai ia merasa antara percaya atau tidak dengan ceritaku. Aku tak perduli tapi menurutku itu merupakan teguran bagiku untuk lebih banyak bersyukur.

Beberapa kali aku melihatnya di pojok kamar, tapi aku hanya tersenyum sambil berkata tolong jangan ganggu, karena kami di sini gak ganggu. Kami numpang sebentar yaa..

Dan setelah itu aku tidak diganggu lagi, sampai acara sunatan ini selesai dan aku pulang ke tempat asalku bersama dengan keluarga yang lain. (C/Perspektif)

Categories
Malam Jumat Pojok Tulisan

Perkara Mistis, Hasut Kabur dari Ibadah Terakhir

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Darussalam – Ini merupakan pengalaman setahun yang lalu, tepatnya terjadi pada bulan suci Ramadhan yang mana mewajibkan semua umat Islam yang mampu melaksanakan puasa, maka laksanakan begitupun shalat tarawih, meskipun sunnah namun Rasulullah menganjurkannya.

Heh, tapi di sini aku bukan mau membahas tentang hukum mengenai bulan Ramadhan dan puasanya, namun lebih ke pengalaman mistis yang aku alami dengan kakak perempuanku. Mari siap-siap dulu.

Kala itu kami sedang melaksanakan shalat tarawih. Sesaat sebelum shalat witir, kami malah memilih untuk meninggalkan masjid alias kabur, padahal hanya tiga rakaat saja.

Keberadaan masjid yang kami datangi tak jauh dari rumahku, cukup dekat. Jalan menuju ke rumahku dari arah masjid selalu sepi, ditambah tidak ada penerangan jalan, begitulah kira-kira keadaan sekitar pada malam hari. Ada satu bangunan rumah yang sedang dibangun, letaknya diantara masjid dengan rumahku.

Rumor yang tersebar dari mulut ke mulut masyarakat sekitar yang mengatakan ada pohon besar persis di belakang masjid, yakni yang ada di jalan ke arah rumahku. Konon katanya di bawah pohon, tepatnya ada bekas kuburan lama seorang perempuan yang baru saja menikah, namun tragisnya ia meninggal. Memang umur tidak ada yang tahu.

Rumor mengatakan lagi bahwa sesosok arwahnya selalu bergentayangan di sekitaran pohon tersebut. Pernah ada yang bercerita, orang yang tinggal di belakang rumahku itu adalah seorang wanita paruh baya. Setiap sekitaran jam lima pagi ia selalu pergi ke sumurnya, lalu ia melihat ada sesosok perempuan berbaju putih sedang bermain ayunan.

Sontak membuatnya terkejut dan ketakutan melihat penampakan itu. Namun dengan segenap keberanian yang penuh, ia berjalan menghampiri sumur yang dekat dengan ayunan berpenghuni itu, sambil berkata, “Jangan ganggu saya,” dan benar saja sosok makhluk halus tersebut menghilang dari pandangannya.

Kembali kepada cerita sehabis shalat tarawih. Kami baru saja keluar dari masjid, dan aku merasa aura di sekitar mulai berubah menjadi tidak mengenakkan, angin yang bertiup menjadi terasa sangat dingin. Hanya kami berdua yang keluar dari masjid dan hanya kami pula yang melewati jalan tersebut untuk menuju ke rumah.

Kami berusaha untuk tidak memperdulikan keadaan sekitar, niatan pulang awal untuk dapat menonton serial televisi secepatnya. Saat perjalanan pulang, tidak sengaja kami berdiri tepat di bawah pohon yang katanya “angker” itu, dan lebih tepatnya lagi di atas kuburan lamanya.

Saat sedang berjalan tiba-tiba kakakku berhenti, lalu menoleh ke arahku sambil berkata, “Ngapain cubit-cubit aku!” tegasnya. Aku bingung dengan perkataan kakakku, ya mana ada sambil jalan aku mencubiti dia, kurang kerjaan sekali aku.

Berhubung pohon ini masih di sekitaran masjid dan kami masih di tempat ini, angin bertiup semakin kencang, terlihat ada keranda jenazah yang sedikit bergerak, seketika kami ketakutan dan berlari sampai rumah. Sesampainya dirumah, kakakku mengecek keadaan kakinya, dan betul saja di area yang terasa cubitan tadi membiru.

Berlanjut pada pagi hari, setelah selesai sahur biasanya aku bangun lebih awal. Sekitaran pukul enam pagi, karena rumahku dekat kaki gunung membuat hawanya selalu terasa dingin. Biasanya setelah bangun dan keluar dari kamar aku merebahkan diri di ruang tamu sambil memperhatikan jam dinding menunggu jam setengah tujuh.

Sebelum keluar kamar, aku memastikan kakakku masih tertidur. Tapi aku jelas melihat seorang perempuan dengan gaya ala 90-an dan rambut panjangnya sebahu, berjalan melewatiku. Saat aku tersadar mungkin salah satu kakakku yang lainnya, tapi arahnya berasal dari kamar orang tuaku dan menuju ke arah dapur.

Sesosok itu memandang keluar dari dapur yang arahnya menghadap ke jalan pulang dari masjid. Untuk memastikannya aku berusaha memanggil nama di antara kedua kakakku, namun tak kunjung mendapat jawaban, ya sudahlah pikir ku.

Aku tidak mau terlalu berpikir pada pagi hari ini, aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar, menyambung waktu tidurku. Kedua bola mata ini menangkap sosok kedua kakakku masih tertidur terlelap, tentu aku menjadi bertanya-tanya, “Lalu siapa tadi?”, ternyata dia bukan seseorang yang ku kenal. Mungkin mba ayunan  tadi hihihihi. (J/Perspektif)

Categories
Featured Features Malam Jumat Pojok Tulisan

Radio Malam; Kepulangan Tragedi Bintaro

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Perspektif – Mendengarkan radio kala malam memang tidak ada tandingannya. Bersamaan dengan suguhan lagu Tompi atau Rossa tak kalah membawa suasana malam terasa tambah sendu. Namun, bagaimana bila radio malam yang biasanya sendu berubah menjadi menakutkan seiring dengan narasi para pemain radio melakoni cerita horor?

“Nama gua Tara. Gua adalah seorang pekerja di sebuah restoran siap saji di daerah Bintaro, Jakarta,” ucap suara berat lelaki dalam radio yang menggunakan sudut pandangnya sendiri Ketika memperkenalkan dirinya.

Tara bercerita,“Malam itu seperti biasanya saya sedang berada di stasiun Kereta Api (KA) daerah Bintaro, yakni Stasiun Sudimara. Mengingat saya didalam perjalanan pulang sembari menunggu Kereta Api menuju Rangkasbitung, tempat dimana saya tinggal.”

Paragraf berikutnya hingga terakhir dituturkan melalui sudut pandang Tara.

Teruntuk kalian yang sudah tidak asing lagi dengan Tragedi Bintaro memang bukanlah hal yang unik lagi. Saya mempercayai mitos atau yang menyatakan bahwa semenjak kecelakaan pada tahun 1987 ini, membuat stasiun manapun dekat Bintaro menjadi cukup menegangkan malam hari. Ditambah cerita-cerita yang mengaku tentang keberadaan makhluk halus dari wujud 156 korban tewas dalam tragedi tersebut.

Malam itu, saya sangat merasakan lelah yang amat sangat, meskipun hari Senin baru dimulai. Saya melihat malam itu di stasiun ini cukup ramai, semua orang dengan tas yang di posisi depan guna mencegah kriminalitas kemalingan barang―bersamaan wajah mereka yang lelah penat akan bekerja.

Sebuah kereta sampai, terlihat berisikan banyak orang didalamnya, dengan duduk dibangku masing-masing dan tidak berdesak-desakkan, “Tumben.” sahut ku dalam hati. Tentu saya maju dan berdiri di batas menuju masuk gerbong keretanya, hanya saja merasa cuman saya yang antusias untuk naik kereta ini, sekitar saya semua orang acuh seperti tidak mau naik kereta ini.

Tapi mengapa? Apa hanya saya yang menuju Rangkasbitung? Tapi kan kereta ini tidak hanya ke tempat saya, banyak stasiun yang akan di hampirinya. Ah sudahlah.

Tak mau ambil pusing, saya langsung naik kepada kereta tersebut, dan duduk disalah satu bangku yang kosong. Karena sudah lelah, yang terlintas oleh saya adalah dapat duduk sejenak di kereta dan sampai ke Rangkasbitung.

Sejenak memejamkan mata, saya merasakan hawa dingin didalam gerbong ini, mata saya pun kembali terbuka. Hening sekali gerbong ini, tidak biasanya. Wajah yang berhadapan dengan ku pun terlihat putih pucat sambil menunduk, ah tidak hanya dia, namun sekeliling saya sama. Belum ada pikiran aneh terlintas, “Mungkin mereka sama lelahnya dengan ku”.

Saya merogoh tas saya demi mendapatkan earphone untuk saya gunakan demi membunuh keheningan ini dengan memutar musik yang ada di dalam playlist lagu saya. Pada tahun itu, masih tahun 2015, belum ada Spotify atau Joox ya.

Mungkin ada beberapa menit lamanya, saya merasakan mulai keanehan lagi, mengapa tidak ada suara pemberhentian dari stasiun yang dilewati oleh kereta yang saya naiki, bukannya stasiun Serpong sudah lewat seharusnya.

Karena takut terlewatkan stasiun Rangkasbitung, saya memilih mencopot earphone yang sejak tadi lamanya saya gunakan, agar dapat mendengarkan suara pemberitahuan mengenai pemberhentian pada stasiun yang mau saya turunin.

Sebab tak ada kegiatan lainnya, saya mulai mengedarkan pandangan saya kepada sekitar. Mulai nampak aneh bagi saya, semua terdiam dengan muka pucatnya, dan tak ada orang satu pun yang berpakaian seperti orang sehabis pulang kerja seperti saya dan membawa tas. Tentunya ini membuat saya bertanya-tanya “Apa saya salah masuk kereta?”.

Kejanggalan ini membuat saya memberanikan bertanya pada sesosok bapak-bapak disamping saya yang tengah membaca koran. “Pak ini keretanya betulkan ya menuju Rangkasbitung juga?”, yang ditanya hanya mengangguk, “Oh syukurlah. Saya kira saya salah naik gerbong. Bapak turun dimana nanti?” tanya saya lagi.

“Pondok Betung”, sahutnya, lalu mendapat anggukan dari saya. Kemudian bapak yang tadinya sejenak membaca koran itu berdiri dan memberikan korannya kepada saya, seraya mau pergi, “Ini untuk mas aja, dibaca, mungkin mas bosan, saya mau ke toilet dulu”. Saya mengangguk, “Mana ada orang yang mau baca koran malam-malam Pak” kata saya sambil menggelengkan kepala saya.

Saya memegang koran ini dengan tanpa membacanya, namun saya mulai tertarik dengan koran yang saya pegang. “Kuno sekali gaya korannya” memang, kertas korannya saja sudah menguning tua begitu, kemudian saya berniat mau membacanya. Namun, tiba-tiba kereta berhenti mendadak, sontak membuat saya  tersentak cukup keras, alhasil lampu didalam kereta padam begitu saja.

Tentu saya panik bukan main, dengan cepat saya menyalakan lampu yang berasal dari ponsel saya, dan mengedarkannya kedepan. Pintu gerbong kereta terbuka, saya langsung ngeh “Pasti ada kesalahan” dan saya langsung menuju keluar pintu gerbong, mendapati berada distasiun yang cukup sepi.

Disini saya kebingungan, namun tiba-tiba ada yang mengarahkan cahaya kepada saya, sekilas seperti kondektur dari Kereta Api tentunya.

“Mohon maaf mas, sedang apa ya mas disini?”

“Ini kereta-” kalimat saya terputus begitu saja ketika mengarah balik ke belakang dengan niatan menunjuk kereta yang saya tumpangi rupanya sudah tidak ada, saya pun terdiam sejenak.

“Mas? Kesini naik kereta?”

“Kemana kereta yang saya tumpangi tadi?” tanya saya dalam hati.

Kondekturnya kembali mengajak saya ke pos tempat Ia berjaga dan mulai memberikan air putih untuk saya minum.

“Mas-nya tidak apa-apa?”

Saya mengangguk, namun mencerna dengan baik tentang apa yang terjadi tadi.

“Mas, naik keretanya dari stasiun mana?”

“Sudimara Pak.” kemudian saya langsung melanjutkan perkataan saya, “Tapi yang saya naiki keretanya benar kok, ada manusia didalamnya, ramai. Nah buktinya ada bapak-bapak duduk disamping saya yang memberikan koran hari ini.”

Kondektur atau petugas KA pun terlihat bingung dengan ucapan saya, beliau langsung berkata, “Boleh saya lihat mas korannya?”.

Saya mengangguk dan memberikannya.

“Mas-nya beneran enggak apa-apa?” tanyanya lagi, namun dengan raut wajah yang bingung.

“Iya Pak, memangnya ada apa?” saya mulai mengecek diri sendiri, takut ada akan hal yang aneh pada saya.

“Anu…mas, ini koran bulan Oktober tahun 1987, bukan koran hari ini.”

Saya terdiam membeku, tidak tahu harus mencerna perkataan kondektur yang saya temui ini bagimana.

“Maaf ya mas bukan mau menakuti, tapi mas baru aja menaiki kereta bekas kecelakaan Bintaro tahun 1987. Tapi gapapa mas, setidaknya mas selamat, alhamdulillah.”

“B-erarti…”

“Nanti sesampainya dirumah, membersihkan diri mas, terus minum lagi air ini mas, sudah saya doakan, terus korannya di bakars ajaya mas.”

Meremehkan suatu hal memang bukanlah hal yang baik, apalagi mitos. Kita tidak perlu mempercayainya, hanya saja cukup mengetahuinya, tidak usah menantangkan kebenaran dengan meremehkannya, sebab bisa sewaktu-waktu kita ditunjukkanya, untuk menggertak alam sadar. (V/Perspektif)

Categories
Malam Jumat Pojok

Penumpang Gelap Mobil Jenazah

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Selalu ada cerita dari mereka yang pekerjaannya berkelut dekat dengan jenazah.

Fahri adalah pemuda Masjid yang sudah 5 tahun bekerja menjadi karyawan lepas di sebuah Puskesmas di gampongnya. Selama bekerja di sana, ia selalu menolak untuk mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan kematian. Terutama seperti matinya kutu orang-orang yang disebabkan oleh kecelakaan. Maka itu Fahri ditempatkan di bagian pelayanan ibu dan anak, ia lebih sanggup menerima kerempongan dan teriakan balita-balita unyu nan mengesalkan ketimbang suara-suara desis aneh yang kerap kali menyelimuti jenazah.

Hari itu, Fahri harus lembur hingga malam guna menyiapkan obat dan vaksin untuk kegiatan Posyandu esok pagi. Malam itu adalah malam Selasa, tidak terlalu menyeramkan bagi Fahri karena ia percaya bahwa malam yang paling seram ialah malam Jum’at bukan yang lainnya.

Tiitt, Tiiit, suara klakson mobil jenazah tiba-tiba muncul. Fahri terkejut setengah hati mati, ia pun bergegas mengintip melalui jendela ke arah depan. Rupanya Hadi, ia adalah supir Puskesmas gampong yang biasa  kerjaannya mengangkut mayat dari rumah sakit di kota untuk dibawa ke rumah keluarga si mayat.

“Ngapain ko transit di sini? Itu ada isinya gak?” tanya Fahri sambil menununjuk ke mobil jenazah.

“Haus aku bang, lupa bawa dompet makanya ke sini mau minta sama abang. Tenang, hari ini ga ada bang,” jawab Hadi santai.

“Yaudah ko kawani aku ya malam ni masukkan obat ke dalam plastik untuk imunisasi besok. Ada lebih kubuat kopi tadi, ambil aja,” ujar Fahri.

Setengah jam berlalu, hujan deras pun datang tanpa permisi. Suasana yang awalnya normal seketika berubah menjadi ganjil. Hujan terus mengguyur deras malam itu, lampu puskesmas yang mulanya memang redup kini seakan benar-benar mau mati. Fahri dan Hadi pun saling bertatap melempar senyum ganjil dan terus bekerja tanpa obrolan apapun, berharap pekerjaan mereka cepat selesai hingga dapat pulang kerumah.

Hujan berhenti tanpa pamit, pekerjaan mereka pun selesai. Namun telepon Hadi tiba-tiba berdering

“Iya pak? Di mana? Harus malam ini dijemput ya pak? Baik pak, segera.” Hadi menutup teleponnya dengan wajah kecewa dan kembali menatap Fahri dengan penuh harapan.

“Apa ko? Tak mau aku kawani, banyak kerjaanku masih. Mau kusambung di rumah,” jawab Fahri ketus.

“Bang, pengertianlah. Balas kebaikan itu budaya kita,” rayu Hadi dengan mata berkaca-kaca.

“Alah, mampuslah aku. Jangan ko ucap macam itu, tak enak aku. Yasudah ku sini kawani, cepat-cepat kau bawa jangan lambat,” pungkas Fahri dengan terpaksa.

Mereka berdua pun segera pergi ke rumah sakit di Kota secepat kilat, dan membawa jenazah yang baru meninggal tersebut ke rumah keluarganya di gampong sebelah. Begitu masuk perkampungan rumah duka, Hadi segera memarkir mobil jenazah di depan pintu rumah. Harapannya, agar jenazah bisa dengan mudah diangkut oleh pihak keluarga untuk dibawa ke dalam rumah.

Suasana cukup lengang, meski tenda dan beberapa kursi untuk pelayat keesokan harinya sudah disiapkan tetangga. Beberapa tetangga keluarga almarhum sepertinya sudah tidak di lokasi. Hanya sedikit kerabat-kerabat yang masih bertahan “menyambut” kedatangan almarhum dikarenakan malam sudah cukup larut.

Setelah mengantarkan jenazah, Hadi dan Fahri pun bergegas pamit untuk pulang. Di perjalanan pulang sambil menyulut rokok, Fahri pun mulai membuka obrolan perihal pengalaman pertamanya mengantar jenazah bersama Hadi. Ia sungguh tak menyangka bahwa mengantar jenazah tidaklah seseram yang ia pikirkan, ia pun lega karena hal yang selama ini ia takutkan tidak terjadi.

“Ngomong-ngomong, ini malam Selasa bang,” ucap Hadi.

“Kenapa memangnya? Yang seram itu kan Jum’at Kliwon,” jawab Fahri sambil mengisap rokoknya

“Salah bang, Selasa Kliwon yang paling seram. Konon, menurut primbon jawa orang yang meninggal tepat di malam Selasa Kliwon kuburannya bakal diburu pencari jimat untuk diambil beberapa bagian tubuhnya, atau kain kafannya yang dipakai sebagai mahar pesugihan. Dan itu malam ini bang, Malam Selasa Kliwon,” Hadi menerangkan.

“Sialan, cukuplah! Mana ada itu, lagipula jenazahnya sudah kita antar ke rumahnya. Tak mungkin dia masuk lagi ke mobil, karena gamau dikuburkan malam ini,” tutup Fahri dengan tegas namun cemas.

Suasana dalam mobil jenazah pun berubah, dalam keadaan sepi dan gelap gulita, Hadi mulai merasa ada yang tak beres. Apalagi di jok belakang sopir, Hadi  merasa mobilnya masih mengangkut muatan. Kecurigaan ini muncul karena saat tanjakan, mobil jenazah yang dia bawa terasa cukup berat. Padahal, normalnya, jika dalam keadaan muatan kosong, mobil harusnya jalan lancar. Apalagi hanya membawa Fahri yang beratnya tidak seberapa itu.

Saat mereka melewati jalur perbukitan, kemudian di belakang terdengar suara…

“Gedebuk…..!!111!!11!”

Sontak Hadi dan Fahri pun diam dan tak berani menoleh ke belakang, mereka hanya melirik ke spion tengah mobil berharap tidak terjadi apa-apa.

Karena keadaan semakin tidak kondusif, Hadi mempercepat laju mobil jenazahnya. Agar tidak merasa sepi-sepi amat, Fahri berinisiatif  menyalakan lagu-lagu rolling stone agar suasana tidak terlalu mencekam.

Tapi suara benda besar yang jatuh semakin terdengar dalam mobil. Kali ini Hadi dan Fahri tidak berani menengok kebelakang, bahkan melirik kaca spion tengah juga tidak. Beruntung jarak mereka ke Puskesmas tidak jauh lagi, mereka terus jalan hingga akhirnya sampai ditempat mereka bekerja.

Setelah sampai, Hadi pun membuka pintu mobil belakang. Betapa terkejutnya Hadi ketika melihat…

Sesosok tubuh berbaring mengenakan kain putih. Posisinya sudah bukan di atas ranjang di dalam mobil, melainkan sudah jatuh ke lantai mobil.

Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata itu jenazah.Ya jenazah yang tadi mereka antar. Fahri yang mengetahui hal tersebut melirik Hadi dengan wajah pucat pasi.

“Dia kok masih di sini ya? Hehehe”

(M/Perspektif)

Editor : Abi Rafdi

Categories
Malam Jumat Pojok

Ajakan Main Si Bayangan Hitam Kala Mati Lampu

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Perspektif – Malam itu aku ingat betul keadaan Perumahan Kranggan, Cibubur sedang ada pemadaman listrik untuk daerah kami, cukup lama kalau diingat-ingat sejak sore hingga dini hari. Waktu itu aku masih berumur tiga belas tahun, dan masih duduk di bangku SMP.

Kejadiannya saat setelah maghrib, tiba-tiba hujan deras mengguyur perumahan kami dengan dibarengi oleh sambaran petir yang menjadi-jadi. Mengandalkan beberapa lilin yang dinyalakan, sambil khawatir menunggu kepulangan Ayahanda dari kantornya, soalnya beliau belum pulang, entah mengapa rasanya belum aman.

Pertama, diawali bunyi gesekkan yang kuat dari ayunan lama di lantai tiga, yang seakan-akan tergeser oleh tiupan angin, cukup kuat terdengar gesekkan bunyi besi tua yang berhasil membuat abangku mengurungkan niatnya untuk mandi di lantai tiga, “Temenin yok Yu,” sahutnya.

Abangku ini meskipun anak pertama, ketakutannya ngikut yang pertama pula. Akhirnya aku pun menemaninya untuk ke lantai dua, sambil menunggu di anak tangga, sekilas ada sesuatu yang membuat aku melirik sejenak ke arah atas lantai tiga, agak samar-samar aku mendapati sesosok bayangan hitam, berbadan kecil sedang mondar-mandir.

“Oke, ini sudah mulai larut,” kataku di dalam hati yang sudah mulai merasa tidak enak dengan situasi mati lampu ini. Setelah abangku selesai dengan urusannya, kami memutuskan untuk kembali ke lantai satu atau bawah, berkumpul bersama Ibunda dan adik laki-lakiku sambil menunggu menyalanya listrik.

Ibunda menceritakan sebuah cerita Kancil yang entah sudah berapa kali Ia ulang semasa hidupnya demi menenangkan anak-anaknya. Mengingat waktu sudah larut malam, Ibuku memutuskan untuk tidur di ruang tamu bersamaan dengan aku dan adikku, aku yang masih asik menulis sebuah cerita di handphone, kala itu masih zamannya membuat notes.

Abangku sudah terlelap duluan di kamar utama dengan pintu terbuka menghadap kami di ruang tamu. Berhubung tidak tenang makanya aku menunggu kepulangan Ayah dulu, meskipun sedikit merasa bosan memang, ditengah hujan deras gini dengan keadaan mati lampu.

Angin bertiup cukup kencang, hingga memadamkan lilin yang ada dihadapanku. Di saat aku ingin menyalakanya kembali namun, sekilas ada sesuatu yang melewati di depanku, seperti bayangan terlintas yang tadi kulihat di lantai tiga, dan menghilang ketika dibawah kursi ruang tamu.

Aku pun dibuat penasaran dengan apa yang baru saja melintas, tapi mengingat tidaklah lucu kalau aku sendirian nanti di seret seperti film Paranormal Activity. Ide konyol pun terbesit, aku mengikat kaki Ibu dengan kaki ku sendiri, berjaga-jaga jika aku di tarik nanti tidak sendirian ketarik oleh setannya.

Di sini aku mencoba mengalihkan fokus malam ini, sayangnya hujan mereda, dan lebih sialnya ini membuat suasana malam malah menghening. Tak ada suara yang sahut-sahutan lagi, seperti hujan dan petir. Ketika keheningan menyeruak, tiba-tiba ada suara ketukan tiga kali, aku mengingatnya dengan jelas sumber suara berasal dari bawah kursi ruang tamu.

“Sial,” umpatku. Bayangkan saja yang terjaga saat itu, hanyalah aku, tidak ada orang lain. Apalagi mitos-mitos orang Jawa selalu mengatakan untuk tidak menanggapi suara yang bunyinya hanya sampai tiga kali, bisa aja itu bukan manusia, melainkan mahkluk ghaib.

Kalau begini sih aku percaya bukan manusia, ya memangnya siapa yang bersembunyi dibawah kursi ruang tamuku saat ini. Keberanian menciut ketika sebuah bayangan hitam bergerak keluar dari kursi tamu, dan ternyata… sesosok kecil, entah bisa disebut tuyul atau enggak tapi layaknya anak kecil tersenyum lebar ke arahku.

“Oh betapa tidak beruntungnya aku saat ini,”

Namun sebuah bunyi ‘klek’ yang berasal dari pintu pagar rumah layaknya sedang diusahakan terbuka, ternyata kedatangan Ayahanda, setelah lama menunggu. “Akhirnya,” Sambutku, lalu sekilas melihat ke arah kursi ruang tamu, tak ada lagi, si sosok kecil yang sepertinya berusaha mengajakku bermain.

Dia si bayangan, baik yang terlintas dan tak kasat mata, nyatanya keberadaanya ada bersamaan dengan kita, bukan masalah ada atau tidak, namun bagaimana sebuah ketidaksengajaan mengajarkan bahwasannya kita ini hidup berdampingan & bersamaan. Mereka yang tak terlihat nyatanya keberadaanya bahkan ada disekitar kita. Sekian. (V/Perspektif)

Categories
Malam Jumat Pojok

Sensasi Nonton Film Horor Ditemani mba Kuntilanak; Memang Tiada Banding!

Ewing HD

PerspektifBayangkan kamu lagi tegang-tegangnya nonton film horor sendirian tiba-tiba ada suara tertawa dan tangisan yang ga asing dari lantai atas rumahmu. Dan di lantai atas rumahmu itu tidak ada siapa-siapa. HAYOLOH.

Sepuluh tahun yang lalu, saya lupa bulannya, yang jelas saat itu saya masih berumur 10 tahun dan masih mengenyam bangku Sekolah Dasar (SD) di Cilangkap, Jakarta Timur. Kebetulan saya sendiri dari dulu memang suka apapun yang berbau horor atau seram-seram kayak setan gitu. Aneh ya saya. 

Tetapi saya tidak mempunyai mata batin kok atau sejenisnya, cuman saya cukup peka mengenai keberadaan mereka, ehe mungkin karena terbiasa.

Sebelum saya bercerita, mari bangun imajinasi kalian dulu sebagai pembaca cerita berikut. Rumah orangtua saya yang di Jakarta itu rumah terdahulu seseorang dan kata Ayah saya, pemilik dulu sempat mengalami stress hingga berujung melompat dari lantai tiga, tapi saya gatau ini Ayah saya yang usil cuman mau nakutin saya atau memang benar-benar adanya.

Memang sih keadaan lantai tiga rumah kami cuman separuh ruangan biasa yang diisi dengan barang-barang lama tak terpakai, ya abis itu setengahnya lagi lapangan, biasa saya dan abang saya gunakan untuk bermain basket, atau sebagai tempat Mamah saya untuk mencuci baju dan menjemur. Malam-nya sepi.

Ceritanya, malam itu sedang malam Jum’at, kebetulan salah satu channel televisi favorit selalu akan menayangkan film horor barat di pukul 22.15 WIB dan saya betul ingat nama filmnya ‘1408’, yang dimana menceritakan kamar bernomor 1408 adalah kamar yang telah membunuh puluhan orang penghuninya, sekilas begitu.

Mamah saya sangat melarang untuk menonton film horor, soalnya, nanti saya parnoan sendiri, padahal yang paling pemberani di rumah adalah saya sama Ayah saya. Akhirnya saya ngerengek meminta bantuan Ayah untuk diizinkan nonton film horor dengan ditemani Ayah saya, ga sendirian ya eheh.

Kemudian di saat sudah berada di pertengahan film, saya mendengar sesuatu dan saya merasakan yang aneh, tapi saya memberanikan diri untuk menoleh ke arah sumber suara yang berada tepat di samping saya, rupanya……suara ngorok dari Ayah saya yang sudah tertidur lelap. Owalah bikin takut saja.

Saya kembali melanjutkan aktifitas menonton filmnya lagi, namun hawa mulai terasa dingin, dan bulu kuduk saya pun merinding, ternyata……16 celcius derajat AC-nya. Owalah lagi. Baiklah serius. Saya masih serius dengan film ini, dan tak terasa seingat saya sudah sangat larut malam, malah mau nunjukkan pukul dini hari, ya maklum kebanyakkan iklan.

Tak lama dari itu, tiba-tiba saya merasa mendengar dengan jelas suara tertawa yang agak cempreng khasnya milik perempuan, oktafnya cukup kuat, saya pun menoleh kebelakang, arah dimana ruang tangga berada, gelap, memang tak ada cahaya yang menerangi tangganya.

Karena masih anak SD, saya beranggapan suara tersebut adalah suara tetangga yang dekat bangunannya arah tangga. Tapi kalau dipikir-pikir kok bisa menembus ke rumah saya, dan masa ketawa di pukul dini hari, apa kurang kerjaan banget.

Tak lama lagi dari suara tertawa mba-mba ini, disusul lagi suara seperti barang berat jatuh, “BUK!”. Kan ga mungkin orang jatuh, toh di lantai dua sedang tidak ada abang saya. Lagi-lagi saya gak fokus sama tontonan yang sedang saya nonton.

“Itu apaan sih.” Sebal saya, kemudian memberanikan diri ke arah ruangan tangga yang cukup gelap, soalnya dulu saya lebih takut maling, ketimbang hantu. Cukup lama saya memperhatikan tangga ini ke arah atas sambil bertanya-tanya.

“Suara apa sih?” tapi nihil.

Karena merasa tidak ada yang aneh, saya kembali duduk di samping kasur lantai yang di mana Ayah saya pun sedang tertidur di sana. Tiba-tiba terdengar suara tangisan yang cukup kencang, dan gak lain memang suara perempuan. Di sini saya baru panik, “Masa ya kuntilanak yang ketawa terus jatuh abistu nangis,” sial saya makin takut.

“Ayah,” entah sudah berapa kali saya berusaha membangunkan Ayah saya tapi beliau ga bangun-bangun, namun masih ngorok. Mau ga mau, saya musti memastikan lagi, soalnya ga mungkin kalau ada suara tapi gaada wujudnya, yakan?

Kembali saya berdiri di hadapan tangga dan menilisik tajam kedepan serta arah atas tangga berhasil mengejutkan. Biasanya saya melihat mba-mba Kuntilanak ini di film horor Indonesia dengan baju panjang putih serta rambut hitam lurus yang terurai begitu saja, namun saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri.

Sensasinya memang tiada banding! Melihat secara langsung, saya cuman bisa terdiam, otak saya tidak dapat mengelola visual apa yang baru saya liat dengan baik. Paling kongkretnya yang saya liat memang tak ada kaki yang menapak, Ia mengambang terbang.

Pingsan tidak, tapi saya gabisa tertidur walaupun sudah memasuki kamar orangtua saya dan memeluk Mamah saya. Namun keesokannya saya demam dan terdiam berhari-hari, serta merasa kosong, sampai akhirnya saya beranikan menceritakan kepada Mamah saya, malah beliau ikutan takut. Yasudahlah, sekian dulu cerita Malam Jum’at ala Perspektif! (V/Perspektif)