Categories
Berita Kampus mahasiswa Unsyiah

Setelah Dua Tahun Daring, Kampus Kuning Kembali Sambut Mahasiswa Baru Melalui Pakarmaru Fakultas

Foto : Hayyun

Darussalam – ‘Menciptakan Semangat Mahasiswa Baru Dengan Nilai Integritas, Moralitas dan Solidaritas Untuk Kemajuan Akademik dan Non-Akademik Kampus FEB USK‘ merupakan tema yang diusung untuk Pendidikan Karakter Mahasiswa Baru (PAKARMARU) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala tahun 2022. Kegiatan Pakarmaru Fakultas tahun ini dilaksanakan secara tatap muka selama dua hari berturut-turut yaitu pada tanggal 06 dan 07 Agustus 2022 dengan jumlah peserta sebanyak 812 mahasiswa baru FEB USK tahun 2022. Pada kegiatan ini peserta dibagi menjadi 30 kelompok yang masing-masing kelompoknya beranggotakan 25-30 mahasiswa dan setiap kelompok diasuh oleh 2 orang mentor.

Pelaksanaan kegiatan ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan dengan do’a. Lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Universitas Syiah Kuala, dan Mars Ekonomi. Setelahnya, Wakil Dekan 3 FEB USK Dr. Abdul Jamal, S.E, M.SI yang juga sebagai Ketua Pelaksana memberikan kata sambutan dan disusul oleh Dekan FEB USK Dr. Faisal, S.E, M.Si yang memberikan kata sambutan dan mengenalkan Kepala Jurusan dan Ketua Prodi yang ada di FEB USK. Rangkaian acara selanjutnya disambung dengan pemberian materi oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik, Wakil Dekan II Bidang Administrasi dan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan. Kemudian ada juga pengenalan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Pakarmaru FEB USK ini telah dipersiapkan selama kurang dari 2 bulan. Meski dengan waktu yang terbilang singkat, kegiatan ini berjalan dengan lancar. Ketua Pelaksana Pakarmaru FEB USK 2022, Muazir berharap dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa baru FEB USK 2022 dapat mengambil hal-hal penting yang bisa diterapkan dalam kegiatan perkuliahan dan semoga kegiatan ini juga bisa menghasilkan output yang bermanfaat bagi kehidupan perkuliahan kedepannya. Abi Rafdi Nasution selaku Ketua BEM FEB USK juga memberikan ucapan selamat datang dan selamat bergabung kepada seluruh mahasiswa baru Fakultas Ekonomi USK. Ia juga memberikan pesan agar kegiatan Pakarmaru fakultas kedepannya berjalan sesuai dengan perkembangan masanya.

Hayyun,Dua,Cayo

Categories
Berita Kampus mahasiswa opini Straight News Tulisan Unsyiah

Testimoni Mahasiswa Akhir Atas Nama Sidang Skripsi Via Daring

Cover by team Grafis/Perspektif

Darussalam – Pandemi Covid-19 membuat seluruh dunia berinteraksi sosial secara daring, termasuk negara Indonesia. Semua aktivitas dilakukan melalui aplikasi-aplikasi modern, baik dalam kegiatan pekerjaan maupun proses belajar-mengajar.

Selain kebijakan proses belajar-mengajar yang dilakukan via daring, kebijakan ini juga berlaku untuk sidang skripsi bagi mahasiswa tingkat akhir. Tentu terasa berbeda, baik dari suasana maupun proses pelaksanaannya. Pelaksanaan sidang skripsi secara daring sepatutnya memberi kesan yang berbeda-beda bagi setiap mahasiswa.

Tidak berbeda dengan kampus lain di Indonesia, pelaksanaan sidang skripsi via daring juga turut dirasakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Syiah Kuala. Aplikasi yang kerap digunakan berupa video conference yaitu aplikasi Zoom. Dengan aplikasi video conference memungkinkan dilakukannya komunikasi jarak jauh dan semua pesan dapat disampaikan secara langsung tanpa harus bertemu.

“Sedikit gugup, perlu mengumpulkan keberanian penuh untuk bertatapan via daring,” Ungkap Putri Aprilia, mahasiswi Fakultas Pertanian jurusan Agroteknologi. Rasa gugup masih terus meliputinya, meskipun pelaksanaan sidang skripsi dilakukan secara daring.

Proses pelaksanaan sidang skripsi via daring tidak selalu mudah untuk dilakukan. Mahasiswa harus siap menghadapi beberapa kendala dalam proses sidang skripsi. Kendala yang sering dirasakan hampir semua mahasiswa tingkat akhir pada saat sidang skripsi via daring, yaitu jaringan internet yang tidak selalu bagus, sehingga komunikasi antara dosen penguji dan mahasiswa ikut terganggu.

“Jaringan antara dosen dan mahasiswa kadang tidak terlalu bagus, sehingga apabila ada hal penting yang disampaikan dosen tidak dapat didengar jelas oleh mahasiswa,” Jelas Sarah Marisi Manurung.

Kendala tersebut sangat umum terjadi, mengingat mahasiswa berada di tempat tinggal yang berbeda-beda dengan kondisi jaringan yang berbeda pula. Pelaksanaan sidang skripsi secara daring juga memiliki batasan dalam waktu, sehingga pelaksanaannya harus dipercepat dan dosen hanya memberikan beberapa saran dan pertanyaan yang singkat dan penting saja.

Sidang skripsi dikenal dengan sidang penuh drama di setiap pelaksanaannya. Sehingga banyak mahasiswa akhir yang gugup saat akan menghadapi sidang skripsi. Drama sidang skripsi terkadang meninggalkan kesan mendalam dan menjadi kenang-kenangan yang tak bisa dilupakan begitu saja.

Namun bagaimana dengan sidang skripsi via daring? Apakah penuh drama seperti biasanya?

Terbatasnya waktu pelaksanaan membuat proses sidang skripsi tidak dipenuhi drama yang panjang. Hal ini membuat sebagian mahasiswa tingkat akhir merasa lega karena tak harus menghadapi sulitnya drama dari pertanyaan menjebak dalam sidang skripsi. Namun, sebagian mahasiswa lainnya merasa sedikit kecewa karena drama yang terjadi dalam sidang skripsi dianggap sebagai kesan mendalam dan momen berharga yang sulit dilupakan dalam hidupnya.

Sebagian mahasiswa yang telah dinyatakan lulus dalam sidang skripsi via daring merasakan kebahagiaan dan rasa puas tersendiri, mengingat perjuangannya yang begitu sulit dan banyaknya hambatan serta rintangan hingga dinyatakan lulus dalam sidang skripsi.

Ada pula beberapa mahasiswa merasa sedikit kecewa karena tidak bisa merayakannya bersama teman-teman. Tetapi dibalik itu semua, mahasiswa tingkat akhir bersyukur karena disetiap kejadian pasti ada hikmah yang dapat diambil dan di setiap perjuangan pasti ada akhir bahagia yang akan dirasakannya.

“ Usaha tidak akan mengkhianati hasil. ” (Azka & Jannah/Perspektif)

Categories
Berita Featured Features Kampus mahasiswa Unsyiah

Imbas Pandemi, Penerimaan Mahasiswa Baru 2020 Juga Secara Daring

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Darussalam – Pandemi virus corona atau yang kerap disebut covid-19 memang telah menjadi titik permasalahan dalam segala aspek, tak terkecuali dalam aspek pendidikan. Kecilnya ruang lingkup untuk beraktivitas serta menurunnya daya ekonomi masyarakat akibat virus corona ini, yang membuat sejumlah kampus ikut merasakan efek dari covid-19, termasuk PTN di seluruh Indonesia.

Salah satu kampus yang merasakan efek pandemi covid-19 yaitu Universitas Syiah kuala.

Hal ini menyebabkan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan kampus dilakukan secara daring, termasuk penerimaan mahasiswa baru.

“Penerimaan mahasiswa baru harus dilakukan semuanya secara daring mulai dari berkas sampai tahap akhir nantinya, mengingat juga kita mahasiswa sebagai social control harus mengikuti dan mengindahkan instruksi dari pemerintah, mengenai keefektifan dilakukan secara daring tentu ada nilai plus dan minusnya, tidak bisa kita pungkiri karena ini sudah termasuk international disaster yang sudah menyeluruh ke seluruh penjuru dunia dan itu merupakan konsekuensi yang harus kita terima,” jelas Iqbal selaku Wakil Ketua 1 DPM Unsyiah.

Dikutip dari laman  web Unsyiah www.unsyiah.ac.id. Terlampir hasil lulusan SNMPTN 2020 Universitas Syiah Kuala serta verifikasi data akademik bagi calon mahasiswa yang lulus seleksi SNMPTN 2020.

Dalam lampiran Pengumuman Nomor : B/1758/UNl1/TM.00.02/2020 tersebut menyatakan bahwa penerimaan mahasiswa baru Universitas Syiah Kuala dimana mahasiswa yang dinyatakan lulus oleh LTMPT 2020 untuk dapat mengikuti beberapa tahapan penting berupa verifikasi data akademik yang sudah diunggah pada saat pendaftaran SNMPTN dan pelaksanaan disesuaikan dengan Surat Edaran Rektor Nomor B/1491/UN11/KP.11.00/2020 tentang protokol Pelaksanaan Kegiatan Akademik, Non-Akademik, Tenaga kependidikan, Satuan Tugas, Pusat Krisis dalam mencegah Penyebaran Virus Covid-19 di lingkungan Unsyiah.

Salah satu upaya Universitas Syiah Kuala dalam mencegah penyebaran Covid-19 yaitu verifikasi dan penyerahan berkas mahasiswa yang dinyatakan lulus SNMPTN 2020 dapat dikirim melalui jasa pengiriman tercatat seperti PT Pos Indonesia, TIKI, JNE, J&T dan lain-lain.

Menindaklanjuti penyebaran Covid-19 yang belum berhenti, Universitas Syiah Kuala kembali mengeluarkan pengumuman perpanjangan verifikasi dan klasifikasi berkas akademik SNMPTN 2020 mengingat banyaknya kendala akibat virus Covid-19.

Dalam lampiran pengumuman Nomor : B/2018/UN11/TM.00.02/2020, bagi calon mahasiswa yang dinyatakan lulus seleksi SNMPTN 2020 di Unsyiah namun belum bisa menyerahkan berkas pada periode sebelumnya, maka penyerahan berkas masih diterima sampai dengan hari Senin 4 Mei 2020 (jam kantor).

Pengumuman hasil verifikasi dan klasifikasi data akademik dan jadwal pendaftaran ulang bagi mahasiswa yang dinyatakan lulus verifikasi dan klasifikasi data akademik dapat dilihat pada laman web Unsyiah pada tanggal 11 Mei 2020.

Tahun ini kemungkinan pelaksanaan Pakarmaru juga dilakukan secara daring, dikarenakan pandemi yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

“Untuk pelaksaan Pakarmaru sendiri saya rasa bergantung pada keadaan. Jika keadaan nantinya dibulan tujuh sudah kondusif maka Pakarmaru akan dilaksanakan seperti seharusnya. Namun jika kondisinya tidak seperti yang kita harapkan bersama, maka saya rasa mau tidak mau harus dilaksanakan secara daring. Misal, streaming Youtube dengan catatan didukung oleh sarana dan prasarana. Saya rasa lebih efektif karena substansi dari Pakarmaru itu sendiri adalah pembinaan sebelum mahasiswa memasuki dunia perkuliahan,” tutur Shandoya, anggota Koomisi D DPM Unsyiah bidang Advokasi.

Terhalang pandemi covid-19 tak menghambat setiap orang untuk kembali menuntut ilmu. Perjalanan masih terlalu panjang untuk ditempuh. Ini bukan akhir, namun awal dari kebangkitan terutama dalam aspek pendidikan.

“ Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju pelaksanaan cita-cita” – Soekarno ( Presiden pertama Republik Indonesia)

(Ana&Jannah/Perspektif)

Categories
Berita Indepth Kampus mahasiswa Tulisan Unsyiah

Semester Pandemi, IPK Tergantung Koneksi

Ilustrasi by team Grafis/Perspektif

Darussalam – Keluh kesah yang semakin hari semakin meluap dari mahasiswa terus berlanjut hingga kini. Ditilik dari banyaknya curahan hati mahasiswa, mereka kerap merasa frustasi dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen.

Semua ini bermula sejak diumumkan masa perkuliahan tatap muka dialihkan menjadi melalui daring, para mahasiswa mulai disibukkan dengan berbagai tugas yang terus disodorkan oleh dosen. Aplikasi meeting pun menjadi sasaran utama untuk kegiatan belajar-mengajar. Hal ini merupakan bentuk pelaksanaan dari physical distancing, yang mana memaksa para dosen dan mahasiswa untuk tidak bertatap muka secara langsung.

Kentara jelas perbedaan semester ini. Ketika pada semester sebelumnya kita dapat merasakan bertatap langsung dengan dosen, kali ini kita hanya dapat bertatap muka melalui alat teknologi. Para dosen juga turut menyesuaikan mekanisme pembelajaran pada semester ini.

Dalam bentuk meminimalisir interaksi antar dosen dan mahasiswa, tentu saja ini menjadi suatu hal yang baru, mengingat ini bukan rancangan kampus melainkan sebuah musibah. Meskipun begitu, untuk sebagian mahasiswa mungkin tak terasa asing dengan kuliah online, karena sebelum pandemi ini mahasiswa sudah sering menggunakan e-learning.

Hal kontras tersebut juga dirasakan oleh Puji, seorang mahasiswi Manajemen FEB Unsyiah yang ikut merasakan kebijakan dari kuliah daring tersebut. Ia mengatakan bahwa semester ini pastinya semua terasa berbeda. Tambahnya, ia baru pertama kali mengikuti kuliah dan kegiatan kampus melalui daring.

Masih menurut Puji, ketika jam perkuliahan biasanya berbeda dosen, berbeda pula metode yang digunakan untuk mengisi kelasnya. Ada yang menggunakan aplikasi meeting, ada yang menyarankan melalui aplikasi suara, ada yang berdiskusi melalui chat grup, ada pula dosen yang hanya memberikan pemahaman dengan memberikan tugas dan materi yang dapat di akses melalu ebook.

Jika melihat secara sekilas, ada baiknya semester kali ini dilakukan secara online. Mahasiswa dapat mempelajari teknologi yang selama ini belum pernah mereka kuasai, namun hal ini tentu menyenangkan bagi mereka yang memiliki berbagai fasilitas dan kondisi yang memungkin untuk mereka menjalani masa kuliah daring ini. Sayangnya masih ada mahasiswa yang masih merasa kesulitan dengan keadaan ini.

Sebagian mahasiswa kurang dapat merasakan masa perkuliahan, karena bisa jadi faktor lokasi tempat tinggal yang membuat sulitnya akses internet. Dan lagi, mereka belum tentu dapat memahami dan menguasai materi yang dipaparkan dosen. Jika tugas yang menumpuk membuat para dosen yakin mahasiswa dapat menyelesaikannya, maka mahasiswa juga akan terus mengeluh.

Walaupun demikian, beberapa dosen mendengarkan dan memaklumi keadaan dari para mahasiswa ini. Ada dosen yang terus berkomunikasi dengan mahasiswanya agar dapat menciptakan suasana yang nyaman dalam proses belajar-mengajar. Ada pula dosen yang meringankan tugas mahasiswa dengan memperpanjang waktu deadline dari setiap tugas yang diberikan.

Hal-hal semacam ini cukup membantu mahasiswa dalam menjalani masa kuliah daring ini. Kelonggaran yang diberikan mampu membuat mahasiswa menyelesaikan tugas dengan santai namun pasti.  Para mahasiswa juga dapat merampungkan tugas di luar perkuliahan.

Namun, ada sesuatu yang mengusik pikiran para mahasiswa, yakni tata cara penilaian dalam sistem kuliah daring ini. Banyak mahasiswa yang terus berspekulasi jika nilai semester ini tergantung dengan sinyal dan koneksi jaringan internet. Menduga-duga bagaimana nasib nilai semester ini, terutama bagi mereka yang kesulitan mengakses internet, yang mengakibatkan kurang aktifnya mereka selama masa perkuliahan.

Muhammad Akbar Ariandi, selaku Mahasiswa FEB Unsyiah 2019 juga menyampaikan bahwa dengan hal ini, banyak sekali mahasiswa yang masih ragu dalam penilaian IPK semester ini. Menurutnya, hal tersebut wajar karena sampai saat ini tidak ada saling keterbukaan  mengenai penilaian kuliah secara online.

“Mungkin ada beberapa kelas saya yang dosennya tidak peduli mengenai sistem perkuliahan online ini, hanya absen online saja, tanpa ada penjelasan dan materi selama perkuliahan. Hal ini membuat kami sendiri merasa bingung dan tidak mendapatkan apa-apa di mata kuliah tersebut, dan pastinya ada juga yang peduli mengenai sistem perkuliahan ini, dengan melalui aplikasi zoom/google meet atau dengan pembekalan materi dari ppt serta dengan rekaman suara.” tambah Akbar.

‘’Oleh karena itu, ada baiknya dosen memiliki keterbukaan dengan para mahasiswa  mengenai penilaian kuliah secara online ini, karena yang kita ketahui bersama ketika kuliah tatap muka, penilaian bisa kita pahami melalui keaktifan kita di kelas, melalui nilai kuis, lalu tugas harian, etika kita di kelas, kehadiran tepat waktu, dan lain – lain juga, dan itu sudah jelas dibagi–bagi tingkat persennya dari dosen masing–masing kelas, jadi mahasiswa sudah mempunyai target dari awal perkuliahan berlangsung, dan pastinya dosen harus membedakan bagaimana Antara sistem kuliah online dengan sistem perkuliahan offline. Dan saat ini banyak sekali mahasiswa semakin acuh tak acuh dikarenakan perkuliahan online ini, dan itu jadi sebuah pekerjaan bersama para pengurus Unsyiah, agar memberikan jaminan dan sistem peraturan yang jelas agar mahasiswa mempunyai tujuan,’’ tegas Akbar dengan berapi-api.

Jika diperhatikan, kuliah tatap muka sudah pasti sangat berbeda dari kuliah daring. Mulai dari ketika jam perkuliahan, mengerjakan tugas sampai apa saja yang kita lakukan ketika saat kuliah daring berlangsung.

Kerap merasa terbebani oleh setumpuk tugas, justru dengan itu dosen memberikan penilaian terhadap mahasiswa pada semester ini. Para dosen memberikan tugas bukan semata-mata ingin menyusahkan mahasiswa. Namun semua itu karena tanpa adanya tugas, dosen tidak dapat membagikan nilai pada semester ini.

Menanggapi banyaknya keluhan dari mahasiswa, Muhammad Haris Riyaldi sebagai dosen FEB Unsyiah memberi penjelasan mengenai sistem penilaian semester ini. Menurutnya sistem penilaian semester ini dipastikan berbeda dari sebelumnya mengingat situasi yang sedang kita jalani saat ini.

Beberapa hal juga menjadi pertimbangan, mungkin saat ini penilaian dilakukan dengan memberikan penugasan kepada mahasiswa menjadi jalan yang paling efektif.

Jika terus beranggapan sulit untuk menjalani masa perkuliahan ini, maka sulit pula prosesnya. Tetapi, sebagai mahasiswa ini merupakan tantangan yang menuntut untuk terus bergerak aktif meski kondisi mengharuskan di rumah saja. Sudah saatnya mahasiswa perlu memanajemen waktu untuk melakukan perubahan pada dirinya. Jika mahasiswa menerapkannya tanpa perlu mengeluh, dapat dipastikan tugas seberat apapun dapat diselesaikan.

Pada Akhirnya, komunikasi dan tindakan adalah kunci utama. Kebijakan sistem perkuliahan online ini tentu saja membutuhkan kerjasama yang baik antara pihak dosen dengan pihak mahasiswa agar pertemuan kelas dan ilmu yang hendak disampaikan berlangsung dengan baik selama pandemi ini.  (Refdi & Cynthia/Perspektif)

 

Editor: Jamaludin Darma

Categories
Berita Kampus mahasiswa opini Unsyiah

Ketika Kuliah Daring Bikin Ketar-Ketir Mahasiswa

Ilustrasi : Max/Perspektif

Darussalam – COVID-19 atau yang dikenal dengan virus corona kini kian merebak. Tentu di kondisi sekarang di rumah aja adalah pilihan yang tepat agar kita terhindar dari virus corona ini. Lalu bagaimana dengan perkuliahan yang biasanya dilaksanakan dengan tatap muka langsung?

Sebagai upaya antisipasi penyebaran virus corona di lingkungan kampus, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sudah melaksanakan pembelajaran dengan sistem online atau kuliah daring.

Sesuai yang disampaikan Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng IPU, melalui surat edaran pada Senin lalu yang salah satu isinya adalah “Perkuliahan tidak diliburkan, namun metode pelaksanaan tatap muka digantikan dengan metode lain seperti fasilitas e-learning Unsyiah, video conference, pemberian bahan ajar via e-mail dan media sosial, atau media daring lainnya,” Lalu seberapa efektifkah sistem ini dijalankan dan bagimana tanggapan dosen dan mahasiswa?

Jawabannya sudah pasti ada pihak yang setuju dan tidak setuju terhadap sistem kuliah online yang sedang dijalankan oleh Universitas Syiah Kuala. Sebenarnya metode pembelajaran melalui sistem online adalah satu-satunya pilihan yang dapat dilakukan sekarang ini, mengingat virus corona yang mudah sekali tertular melalui kontak langsung atau juga melalui benda-benda yang ada disekitar kita.

Meski zaman tergolong sudah canggih seperti saat ini, tetap saja cara manual seperti kuliah tatap muka dianggap lebih cocok bagi sebagian mahasiswa. Kuliah yang diterapkan selama kasus corona ini, membuat sejumlah  mahasiswa semakin acuh tak acuh dengan kuliah yang sedang ia jalani, bahkan ada mahasiswa yang kuliah hanya absen sambil disuguhkan snack di sebelahnya. Ada pula mahasiswa yang menghabiskan waktu dengan tugas yang kian hari semakin bertambah.

”Metode perkuliahan online menjadi jalan alternatif yang tepat karena kita tidak bisa melakukan perkuliahaan secara tatap muka. Tidak mungkin kuliah dijalankan dalam jangka waktu yang lama,” jelas Syahrul selaku dosen Fakultas Pertanian Unsyiah.

Berbagai tanggapan dari mahasiswa pun muncul silih berganti, beberapa mahasiswa mengganggap ini sebuah ajang kuliah sekaligus liburan. Mahasiswa dapat mengerjakan setiap tugas di atas tempat tidur mereka, bahkan melakukan proses perkuliahan tidak perlu mandi atau berias diri, ketika bangun tidur mereka dapat langsung melakukan kuliah daring.

“Sebenarnya ini bukan waktunya memilih, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, ini lebih ke suatu keharusan yang kita lalui, di kondisi ini kita perlu paham dan memaklumi, dan jangan banyak mengeluh! Berdoa saja itu sudah lebih dari cukup,“ ungkap Siti Hajar mahasiswa Fakultas Teknik ketika menyampaikan pendapatnya.

Jika ditinjau kembali mengenai kebijakan kuliah daring ini, ada kelebihan dan kelemahan dari proses belajar mengajar dengan cara tersebut. Kelebihan yang dapat terlihat ialah mahasiswa dan dosen dapat saling komunikasi satu sama lain tanpa perlu khawatir tertular virus corona. Kuliah pun hanya membutuhkan koneksi jaringan yang cukup maka kuliah daring dapat dilaksanakan.

Sayangnya tetap saja ada kelemahan dari kebijakan ini, mulai dari koneksi jaringan, jadwal dosen dan mahasiswa yang bentrok karna kesibukan selama di rumah masing-masing, bahkan ada yang bermasalah karena kelupaan kalau ada jadwal kuliah pada hari itu.

Namun, balik lagi jika dilihat dari sisi lain sistem perkuliahan secara online memiliki keterbatasan dalam pelaksanaannya. Keterbatasan jaringan internet menjadi masalah utama dalam perkuliahan dengan sistem online ini.

“Susahnya kuliah online itu jaringannya yang kurang memumpuni belum lagi kalau ujian melalui e-learning terlalu banyak orang yang mengakses sehingga membuat sistem ini menjadi error,” tangkas Siti Hajar.

Pengalaman kuliah daring pun menjadi buah bibir dikalangan mahasiswa, pasalnya mahasiswa acap kali merasa kesal dengan tugas dosen yang terus bertambah setiap harinya. Bukan tanpa alasan mahasiswa mengeluh, berkaca dari pengalaman Aula seorang mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang mengeluhkan dosen memberi tugas di luar jadwal mata kuliah yang seharusnya.

“Benar-benar sangat merepotkan kuliah daring ini, jika masih bisa diberikan pilihan, lebih baik kuliah tatap muka dan mendengarkan penjelasan dosen secara langsung. Dan lagi pun, bukannya jadwal kuliah sudah ditentukan dari awal semester, maka harusnya kuliah manual maupun kuliah daring tetap dilakukan sesuai jadwalnya,” Jelas Aula ketika membagikan pengalamannya.

Sebenarnya kebijakan sistem kuliah daring ini butuh kerjasama yang baik antar dosen dengan mahasiswa, komunikasi adalah kunci utama. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa banyak mahasiswa lebih senang kuliah tatap muka ketimbang daring. Sistem daring tidaklah efisien untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama, maka dari itu harapannya kondisi ini normal kembali. (Farhana, Dwik & Cyn/Perspektif)

Categories
Berita Dosen Kampus mahasiswa Straight News Unsyiah

Pandemi Virus Corona, Apa Langkah Unsyiah?

Ilustrasi : Perspektif

Darussalam – Mulai merebak di akhir tahun 2019, virus corona jadi pandemi mengerikan yang tidak bisa disepelekan. Tercatat, Indonesia menjadi salah satu negara yang ikutterjangkit virus ini sejak tanggal 2 Maret lalu. Hingga 26 Maret 2020, terhitung 893 orang didiagnosa positif, 35 orang sembuh, serta 78 orang meninggal akibat virus yang disinyalir merupakan kerabat dari virus SARS ini.

Menindaki hal ini, upaya Pemerintah dalam ranah pendidikan pun tak bisa dihiraukan. Sejak 17 Maret lalu, himbauan untuk melaksanakan kegiatan ajar melalui metode selain tatap muka pun langsung digalakkan. Senada dengan hal tersebut, melalui Surat Edaran Nomor B/1491/UN11/KP.11.00/2020, Rektor Unsyiah juga menghimbau untuk menggalakkan hal serupa.

Sependapat dengan kebijakan penerapan kelas tanpa tatap muka langsung, salah satu mahasiswi teknik perwilayahan kota bernama Kyasatina, menyampaikan bahwa tindakan yang diambil pihak kampus sudah benar. Tambahnya, setiap individu memang perlu dihindarkan dari keadaan yang ramai, mengingat setiap kelas pasti diisi oleh 30-40 orang yang tanpa kita sadari dari interaksi tersebut bisa menyebarkan virus.

Setelah kebijakan tersebut digalakkan, sayangnya ke-efektif-an sistem ajar tanpa tatap muka dipertanyakan. Dalam penerapannya, segelintir dosen hanya memberikan tugas tanpa pemaparan yang memadai.

“Beberapa dosen hanya memberikan tugas online saja. Itupun rasanya kurang wajar, padahal pihak kampus menyampaikan kuliah online ini diisi dengan pemaparan materi, diskusi, tanya jawab dan baru diakhiri dengan tugas,” Ujar Syarifah Khairunnisa, Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsyiah.

Senada dengan Syarifah, Ratu yang merupakan mahasiswa Kedokteran Unsyiah juga mengalami kesulitan. Sebagai Mahasiswa Kedokteran, kuliah praktikum merupakan hal yang utama. Sayang, karena peniadaan kelas tatap muka praktikum pun tidak bisa dimaksimalkan.

“Kuliah praktikum ini digantikan dengan berdiskusi melalui videocall atau membaca slide yang dikirimkan oleh dosen, tentu ini sangat tidak efektif karena kami sebagai mahasiswa tidak dapat mencoba langsung apalagi kami masih berada di skill dasar yang tentu harus memiliki effort lebih dalam memahami mata kuliah ini,akan tetapi praktikum ini tetap dijalankan hanya saja metode pembelajarannya melalui video. Dan tentu ini menjadi kesulitan saat diberlakukannya kuliah online. Harapannya kuliah online ini hanya berlangsung 2 minggu saja,karena ini cukup menyulitkan,walaupun dirumah lebih banyak waktu istirahat tapi ini tidak efektif,”Tegas Ratu.

Berbanding terbalik dengan apa yang Ratu alami. Rosi Safriana, Mahasiswi Biologi FMIPA ini harus merasakan kuliah tanpa praktikum di laboratorium. Padahal, praktikum merupakan bagian terpenting dalam program studi yang kini tengah ia tempuh.

“Karena hal ini, praktikum dikosongin. Nah, karena kosong jadi masih mengganjal kedepannya. Jadi nanti kedepannya kami gatau bakal ngulang semester atau dipadatkan di semester selanjutnya. Sampai saat ini memang belum kebijakan dari dekanan, tapi semoga apapun yang keluar hasilnya yang terbaik buat kami,” Terang Rosi dengan penuh pengharapan.

Ada juga dosen yang tidak memberikan kabar mengenai kejelasan perihal mata kuliah tersebut, dan yang terjadi justru kelas diliburkan tanpa kepastian.

Kini, hampir dua pekan kuliah tanpa tatap muka diselenggarakan. Lika-liku proses yang membingungkan masih saja menghantui mahasiswa. Tugas yang menumpuk tanpa penjelasan dahulu, praktikum yang jauh dari kata memadai, serta ketidakefektifan kuliah yang kian dirasakan adalah segelintir keresahan yang nyatanya tidak bisa dinafikan.

Kedepan, semoga kebijakan yang dirilis pihak kampus makin mantap dan jelas prosedurnya, supaya keresahan dan kekhawatiran mahasiswa dapat terobati tanpa menimbulkan tanya berpanjangan. (Jamal & Jihan/Perspektif)

Categories
Berita Features Kampus Kantin mahasiswa Tulisan Unsyiah

Lewat Surat Edaran, Dekanan FEB Unsyiah Larang Penggunaan Kemasan Plastik

Darussalam – Fakultas Ekonomi dan Bisnis adalah salah satu kampus yang tertua dan cukup terkenal di ruang lingkup Unsyiah. Tak hanya terkenal akan prestasinya, baru-baru ini FEB Unsyiah dikategorikan sebagai Kampus peringat kedua terakhir dari list Kampus terbersih alias terkotor nomor dua, desas-desusnya.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. Nasir, S.E., MBA., selaku Dekan FEB Unsyiah segera mengeluarkan surat edaran tentang larangan penggunaan kemasan makanan/minuman berbahan plastik sekali pakai dan/atau kantong plastik di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala.

Salah satu penerapan dari surat edaran tersebut, yakni dekanan FEB sendiri telah melarang penggunaan botol minum berbahan plastik sekali pakai pada acara kampus yang diselenggarakan baik di aula, balai sidang, maupun tempat lainnya di lingkungan FEB Unsyiah.

Dengan demikian, semua peserta acara kegiatan di lingkungan FEB Unsyiah dihimbau untuk membawa botol minum pribadi. Peraturan ini bukan hanya berlaku untuk mahasiswa saja, namun juga staff, hingga dosen di lingkungan FEB Unsyiah.

Berkaitan dengan hal itu, pihak kampus FEB Unsyiah kini telah menyediakan galon di setiap sisi kampus yang sering dikunjungi oleh mahasiswa dengan harapan mahasiswa yang membawa botol minuman pribadi atau tumbler dapat mengisi ulang serta tidak perlu membeli minuman dengan kemasan plastik sekali pakai. Hal ini tentu saja dapat membantu mengurangi penggunaan botol plastik di lingkungan kampus ekonomi.

Mengingat kondisi bumi yang sekarang cukup memprihatinkan, peraturan baru di lingkungan FEB Unsyiah ini tentu akan memberikan dampak baik bagi kelangsungan lingkungan, terutama di lingkungan kampus kuning kita tercinta.

Setelah dikeluarkannya surat edaran tersebut, tak sedikit mahasiswa FEB Unsyiah sendiri mendukung penuh langkah yang di lakukan oleh pihak dekanan.

“Setuju. Lagipun memang harus mulai dibenahi sedikit demi sedikit, ini kan bukan hanya penerapan sehari atau dua hari, tapi dalam jangka panjang, ya semoga aja kita semua mahasiswa bisa beradaptasi ke arah yang lebih baik dalam menjaga lingkungan.” terang Farah.

Berbincang mengenai perihal menjaga keindahan dan kebersihan. Kampus kuning yang tertua di Unsyiah memang belum maksimal sepenuhnya terjaga, tapi bukankah kedua hal itu penting dalam suasana pendidikan? Bayangkan betapa nyamanya kita saat menuntut Ilmu tatkala lingkungan pun terasa memberi kesan teduh.

Menjaga kebersihan, keindahan, kenyamanan lingkungan tidaklah sangat merugikan, malah memberi dampak yang sangat baik untuk jangka waktu yang panjang.

Maka mulai dari sekarang, mari kita mulai lebih membuka mata dan peduli pada lingkungan, dari hal yang sederhana saja dan dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, lalu tebarkan positif untuk kampus kuning yang tercinta ini.

Pepatah mengatakan, “Alam kita jaga, maka alam akan menjaga kita. Alam kita rusak, maka alam akan merusak kita”. Go green? Now or never! (Dara & Rezi/Perspektif)

Categories
Berita Dosen Events Kampus mahasiswa Straight News Tulisan Unsyiah

HMI FEB Unsyiah Gelorakan Membangun Darussalam Sejahtera Melalui SAHABAD Festival

Darussalam – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah untuk pertama kalinya menyelenggarakan sebuah event yaitu Said Hasan Ba’abud (SAHABAD) Festival. Nama Said Hasan Ba’abud sendiri diambil dari nama salah seorang tokoh pelopor HMI di Aceh. “Said Hasan Ba’abud sendiri merupakan alumni dari ekonomi pembangunan FEB Unsyiah, dan ia juga menjadi ketua pertama HMI yang dibentuk pada tanggal 2 Februari 1960 ini,” jelas Naufal Siregar selaku Ketua Umum HMI FEB Unsyiah.

SAHABAD Festival yang berlansung selama empat hari terhitung mulai tanggal 19-22 Februari 2020 ini mengangkat tema“Bekerjasuka dharma membangun Darussalam sejahtera”.

“Acara SAHABAD Festival ini juga nantinya akan diadakan setiap tahun oleh HMI,” ujar Muhammad Azwar sebagai ketua panitia pelaksana SAHABAD Festival tahun 2020 kali ini. Adapun beberapa agenda yang juga diselenggarakan dalam acara ini yaitu diskusi publik, talkshow, seminar dan expo bazaar.

Salah satu rangakaian kegiatannya berupa diskusi publik yang diselenggarakan pada Kamis 20 Februari 2020 lalu mengusung tema“Eksplorasi Migas Aceh Arun Jilid II”. Alasan di usungnya tema tersebut yaitu mahasiswa dan masyarakat harus tahu dan juga berpedoman dengan kejadian Arun dahulu. Saat masa-masa berjayanya Arun, terjadinya dua ketimpangan social; pertama ya itu kesejahteraan untuk para masyarakat dalam kompleks dan kedua ketimpangan ekonomi bagi masyarakat luar kompleks.

“Kita berharap semoga hasil dari migas ini dapat diterima dan dirasakan oleh masyarakat di Aceh dengan cara semua steakholder harus mendukung itu termasuk kita sebagai mahasiswa. Maka dengan adanya diskusi ini kita sebagai agent of control dapat melakukan pengawasan terhadap migas tersebut agar tidak terulangnya kasus-kasus yang sama seperti kasus yang terjadi di Arun,” jelas Martunis selaku penanggungjawab acara diskusi publik.

Diskusi public ini mendatangkan beberapa narasumber penting seperti Ir. Mahdinur (Kadis ESDM Provinsi Aceh), H. Ihsanuddin MZ SE, MM (Anggota DPR Aceh), Dr. Muhammad IrhamS.Si, M.Si (Akademisi Unsyiah), Muhammad Mulyawan (Kepala Divisi Perencanaan Evaluasi dan Pengembangan Lapangan). Acara ini juga mendapat dukungan dari Diskom Info dan Sandi, Humas Protokol Sekda Aceh, Dinas SDM, dan para alumni HMI yang sekarang berprofesi sebagai birokrasi dan akademisi Unsyiah. (Dwik & Ana/Perspektif)

Categories
Berita Hobi Kampus mahasiswa opini Tips Tulisan Unsyiah

Masuk Organisasi, Untuk Apa?

Ilustrasi by Perspektif

Darussalam – Sudah tidak asing lagi jika kita mendegar kata organisasi yang digeluti banyak orang. Mulai dari SMP, SMA, hingga ke dunia perkuliahan, organisasi telah menjadi sebuah kata yang sangat lazim ditemui di berbagai kesempatan. Namun, apa sih sebenarnya organisasi itu? Apa manfaatnya untuk kita? Dapatkah sebuah organisasi menampung berbagai aspirasi yang bermunculan? Mari kita bahas.

Organisasi merupakan sebuah wadah bagi sekelompok orang guna mencapai sebuah tujuan yang sama. Organisasi juga ditujukan bagi orang yang ingin memulai mengembangkan diri serta meningkatkan sumber daya yang dimiliki.

Jadi, intinya organisasi merupakan sebuah perkumpulan yang diisi pribadi-pribadi untuk mewujudkan suatu tujuan. Bener gak?

Di FEB Unsyiah sendiri, terdapat banyak organisasi mahasiswa yang dapat diikuti oleh mahasiswa. Mulai dari organisasi himpunan kampus seperti HIMAKA, HIMADIPA, HMM, dan IESA. Selain itu, mahasiswa juga dapat memilih bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Inkubator, LDF Al-Mizan, Metalik, Bestek, LPM Perspektif, dan EOC.

Lalu juga ada Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Terlepas dari perbedaan pendapat tentang ada atau tidaknya manfaat bergabung organisasi, kita harus mengakui banyak niat dan tujuan baik yang dapat terealisasi ketika seorang mahasiswa bergabung dengan organisasi.

Lantas apa yang melatarbelakangi mahasiswa untuk bergabung di organisasi? Kalau kata Maudy Ayunda sih; “Untuk apa?~~~”

“Ada beberapa faktor yang meletarbelakangi saya untuk masuk disebuah organisasi, salah satu yang utama yaitu untuk melatih softskill dan meningkatkan minat bakat saya. Serta untuk menambah relasi dari teman-teman diberbagai jurusan,” jelas Irfan,yang saat ini menjabat sebagai ketua UKM Bestek.

Lalu, Muammar Iqram selaku ketua HIMADIPA juga turut memberikan pendapat perihal keorganisasian, “Organisasi itu adalah wadah kita untuk berkreativitas mengenai apapun yang kita inginkan, dan mendapat banyak hal-hal selain seputar dunia pendidikan,” katanya.

Artinya, begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil ketika bergabung dengan organisasi, diantaranya :

  1. Percaya Diri

Percaya diri adalah satu hal yang diinginkan semua orang, tidak semua orang bisa memiliki kemampuan seperti itu. Kepercayaan diri merupakan suatuhal yang tidak mudah dilakukan, dan membutuhkan sebuah proses pengembangan diri untuk memiliki kemampuan tersebut. Di dalam organisasi, kepercayaan diri sangat dibutuhkan dalam menghadapi suatu masalah, seorang anggota dituntut untuk percaya diri ketika mengambil keputusan yang terbaik.

  1. Dapat Membangun Relasi

Dengan  membangun banyak relasi dapat dipastikan wawasan seseorang dapat bertambah luas. Relasi yang banyak membuat kita bisa mendapatkan ilmu dari teman-teman yang lain dan berbagi pola pikir sehingga menambah wawasan yang ada di dalam hidup kita, sehingga jangkauan pertemanan kita jauh lebih luas.

  1. Manajemen Waktu

Waktu sangat penting dalam kehidupan seseorang, dan orang sukses adalah orang yang bisa mengatur waktunya dengan baik. Di dalam organisasi, belajar menghargai waktu adalah salah satu hal yang dapat dipelajari. Agar kita bisa selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan bisa mengatur jadwal antara berorganisasi dan diluar organisasi.

  1. Berani dalam Memecahkan suatu masalah

Dalam organisasi, sebuah masalah sudah menjadi makanan sehari-hari. Setiap hari adalah masalah, hahaha. Baik itu karena berselisih pendapat antar anggota, kurangnya kerjasama yang baik kepada sesama anggota, dll. Di dalam organisasi,kita bisa mempelajari bagaimana kita bisa menyikapi masalah tersebut, ‘’Karena semakin banyak masalah,itu membuat kita semakin berkembang dan berpikir lebih dewasa dari sebelumnya,’’ ujar Iqram.

  1. Melatih Kemampuan Public Speaking

Bagi kebanyakan orang, berbicara di depan umum bukanlah hal yang mudah. Butuh keberanian dan waktu untuk melatih hal tersebut sehingga menjadi pembicara yang baik. Organisasi adalah tempat yang tepat untuk mendalami hal tersebut.

Melalui berbagai kegiatan dan kepanitiaan yang ada, membuat kita lebih sering berinteraksi dengan orang lain dan membuat kita menjadi terbiasa berbicara dalam forum. Dalam organisasi,komunikasi yang baik adalah salah satu kunci kesuksesan dalam organisasi tersebut.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat melihat banyak manfaat positif yang didapatkan ketika berorganisasi. Namun, meski begitu, tetap saja masih ada mahasiswa yang masih memilih zona nyamannya menjadi “kupu-kupu” alias kuliah pulang-kuliah pulang.

Terkadang  ada juga yang membuat mindset bahwa masuk organisasi itu tidak penting, menghabiskan waktu, dan sebagainya. Namun, mindset itu nampaknya terbantahkan dengan penjelasan di atas, bahwa di dalam organisasi pasti banyak ilmu dan pengalaman yang bisa didapatkan.

Ya…kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan, toh pikiran orang berbeda-beda , kemauan orang berbeda-beda tergantung kesadaran sendiri masing-masing. Jika kita tidak berani mengambil langkah untuk mencoba, kapan kita bisa? Mau sampai kapan jadi “kupu-kupu”? It’s your choice. (Azka & Refdi/Perspektif)

Categories
Berita Kampus mahasiswa Sosok Tulisan Unsyiah

Dear Mahasiswa Akhir, Kami Hadir sebagai Solusi bukan Masalah – Unsyiah Press

Darussalam Unsyiah Keluarkan Surat Cinta 2020 Teruntuk Mahasiswa Akhir, ternyata bukanlah sebuah gombalan semata dari birokrasi Unsyiah. Namun bukti cinta nyata dari Unsyiah untuk mahasiswa akhir yang menempuh skripsweet.

Menanggapi banyaknya reaksi mahasiswa Unsyiah di beragam media sosial, Kepala UPT Percetakan & Penerbitan atau disebut Unsyiah Press ingin menjelaskan maksud dari surat cinta milik Unsyiah yang tengah beredar dan ramai sampai di Instagram dan Twitter. Asyik Viral nih.

“Sebenarnya ini sudah direncanakan dua tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasikan tahun ini. Soalnya mesinnya saja baru datang akhir bulan November 2019 lalu. Oh ya, kebijakan ini hadir untuk menolong mahasiswa-mahasiswa Unsyiah agar mudah dalam hal mencetak skripsi, yang di mana mahasiswa tidak perlu susah payah lagi untuk pergi ke tempat lain ketika adanya kesalahan dalam skripsinya.” terang Taufiq Abdul Gani, Kepala UPT Percetakan & Penerbitan Unsyiah.

Nah, berbicara mengenai kebijakan ini, banyak mahasiswa Unsyiah yang memprotes tentang kebijakan yang terbilang mendadak dan tidak ada sosialisasinya terlebih dahulu kepada mahasiswa Unsyiah. Beragam reaksi bernada negatif pun berseliweran di media sosial.

Namun, menurut Pak Taufiq, sosialisasi sudah dilakukan secara menyeluruh sejak beberapa bulan lalu.

“Sosialisasi sudah dilakukan sejak September kepada perangkat-perangkat Birokrasi, seperti Rektor, Wakil Rektor, Dekanan, Wakil Dekanan, Kepala Jurusan, Dosen, dan yang pada akhirnya nanti informasinya akan menyebar kepada mahasiswanya.” Katanya.

Artinya, beliau menyatakan bahwa peraturan ini memang sudah menyebar di kalangan birokrasi. Tapi kok ya, mahasiswa ga diberitahu? Yang skripsi siapasih?

Sepertinya beliau menggunakan social media sebagai bentuk sosialisasinya, atau bahasa gaulnya, forward message kepada mahasiswa Unsyiah.

Mantan Kepala Perpustakaan Unsyiah ini juga hendak meluruskan tentang perdebatan di twitter yang mempermasalahkan harga cetak yang dikeluarkan oleh pihak Unsyiah Press, “Harga ini sudah kami sesuaikan dengan harga percetakaan lainnya di pasaran, serta sudah dikoordinasi dengan pihak Rektorat Unsyiah sendiri, agar tidak memberatkan mahasiswanya.”.

Lah, terus yang diributkan banyak mahasiswa, katanya harga cetak skripsi yang cukup mahal. Namun, katanya lagi sudah sesuai dengan harga pasarannya? Hmmmm, mari kita lihat.

Mumpung menyinggung soal harga, tahukah kamu? Sistem pembayaran yang akan diterapkan oleh pihak Unsyiah Press adalah sistem cashless, yang artinya anda wajib membayar biaya cetak skripsi di sini langsung ke rekening Unsyiah via Bank.

“Soalnya sistem cashless ini kan sedang di galakkan kepada masyarakat oleh pemerintah, maka kami mendukung dengan cara ini. Karena uang yang masuk ke dalam rekening Unsyiah nantinya, tidak bisa di ambil oleh sembarang orang, musti ada izin sertakan dari pihak Menteri Keuangan, makanya lebih aman lah menjaga mata biar ga hijau.” Wah, Pak Taufiq ini memang mantul, mantap betul.

Eh, tapi Pak kalau ada mahasiswa yang ga punya ATM gimana cara bayarnya? Gabisa cash nih?

“Dulu sewaktu saya menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Unsyiah tak ada mahasiswa Unsyiah yang tidak bisa bayar denda melalui ATM, semua bisa kok. Maka, saya rasa tidak ada kesalahan dengan menerapkan sistem pembayaran yang melewati ATM ini. Toh, malah aman nantinya.”

Berbicara mengenai surat edaran lanjutan tersebut, nomor 7 dalam persyaratan di nilai memberatkan mahasiswa, masa iya?

“Hal ini dilakukan agar mahasiswa yang belum memiliki dana untuk cetak bisa terlebih dahulu memberikan file yang berbentuk PDF, agar setelah ada dana nantinya bisa mencetak skripsi dengan memiliki kualitas yang tinggi. Tenang saja, pasti kami bantu, apalagi masalah dana, tidak ada universitas yang mau menyulitkan mahasiswanya.” tutup Pak Taufiq.

Kesimpulannya yang bisa kita petik, eh sudah kayak kultum saja. Gini bung, apabila kita pahami lebih dalam tanpa mengambil persepsi negatif secara langsung, maka kita bisa memahami mengapa kebijakan ini diterapkan di tahun 2020.

“Kalau bukan sekarang, ya kapan lagi?” Mirip separuh tagline salah satu capres beberapa periode lalu.

Mungkin tahun 2020, adalah langkah pertama bagi Unsyiah Press memajukan dirinya sebagai salah satu lembaga Unsyiah. Bukankah sebaiknya kita sebagai mahasiswa Unsyiah sendiri mendukung untuk Unsyiah lebih maju?

“Kalau bukan kita, ya siapa lagi?” lengkap sudah tagline yang tadi. (EZN/Perspektif)