Hei Millennials, Fast Food Yey Or Nay?

Ilustrasi by Vannamrgn

Darussalam- Enak dan cepat disajikan. Siapa tak tergiur? Fast food, kian hari jadi idaman. kini kepopulerannya mengalahkan panganan pokok. Bahkan, kandungan gizi didalamnya bukan lagi jadi permasalahan. Mulai mendominasi dunia pada era 2000-an, makanan siap saji itu kian hari semakin fenomenal. Namun, tahukah kamu bahwa fast food sudah muncul sejak zaman romawi kuno?

Fast food dikenalkan pertama kali oleh restoran cepat saji White Castle pada tahun 1916 di Kansas, Amerika Serikat. Pada masa itu yang dijual hanya Hamburger saja. Kian hari dunia kuliner berbasis cepat saji makin berkembang dengan penambahan layanan drive true untuk pertama kalinya di Sacramento, California oleh restoran cepat saji A&W yang didirikan oleh Roy W. Allen dan Frank Wright pada tahun 1919. Hingga kini, fast food tetap eksis dan kian populer menjadi panganan berbagai kalangan. Tak terkecuali kalangan mahasiswa. Bahkan disinyalir, kalangan mahasiswa merupakan segmen konsumen terbesar bagi gerai makanan cepat saji.

“ Rasanya enak, sesuai dengan lidah orang Indonesia. Harganya juga terjangkau kantong mahasiswa”. Ucap Sabarina, salah seorang mahasiswa prodi akuntansi yang kerap kali mengkonsumsinya untuk makanan sehari-hari.

Kalimat tersebut semakin menegaskan bahwa fast food telah menggantikan posisi makanan bergizi yang seharusnya di konsumsi oleh semua orang. Harga dan cita rasa dari makanan itu sendiri terus menarik perhatian berbagai kalangan untuk mencicipi dan mencoba mengkonsumsi.

“ Sekali mencicipi fast food langsung buat ketagihan.” Ungkap Nurul perihal makanan cepat saji itu.

Namun taukah kamu ? Fast food mengandung lemak tinggi, rendah serat, kaya akan gula dan garam, tinggi kalori namun rendah nutrisi, vitamin dan mineral. Tak ayal fast food bisa saja memicu penyakit berbahaya semacam hipertensi, diabetes, stroke, obesitas, jantung, bahkan kanker.

Memang, tak semua makanan cepat saji mengandung hal-hal demikian. Keberadaanya tak jauh jauh dari yang namanya  junk food. Nah,  ketika fast food yang tidak mengandung hal demikian di konsumsi bersamaan dengan junk food yang nirnutrisi, efeknya akan sama saja. Asupan gizi tidak seimbang, dampaknya kesehatan dipertaruhkan.

Sabarina menambahkan, ia pernah merasakan efek buruk dari terlalu sering mengkonsumsi fast food. Mulai dari wajahnya yang tampak kusam dan berjerawat hingga sering merasakan sakit pada perutnya.

Efek yang dirasakan ketika sering mengkonsumsi makanan cepat saji itu memang tidak secara langsung terjadi. Perlahan lahan namun akan dirasakan di kemudian hari. Maka, mengurangi fast food adalah langkah tepat untuk investasi masa depan. (James,Jannah/perspektif)