Kuliah Daring, Mahasiswa Ekonomi Cenderung “Lockdown” di Rumah

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Darussalam – Wabah virus corona kini telah mengubah wajah dunia. Sejak ia menjadi isu serius ‘pembunuh’ umat manusia, berbagai kampus yang ada di seluruh Indonesia melakukan sistem pembelajaran dengan media daring. Begitu juga kampus kuning Universitas Syiah Kuala, yang sudah berjalan dua minggu perkuliahan dengan media daring. Dimulai pada tanggal  16 Maret 2020 sampai 31 Maret 2020 sesuai dengan keluarnya Surat Edaran dari Rektor Universitas Syiah Kuala, lalu dilanjutkan hingga 29 Mei 2020 sesuai surat edaran terbaru. Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah terkait wabah virus corona di lingkungan Unsyiah. Seiring dengan berlakunya kuliah secara daring, mahasiswa Ekonomi lebih banyak menghabiskan waktu dengan menetap di rumah.

Menetap di rumah seharian dapat bisa dikatakan merupakan perubahan Lifestyle ekstrim yang dialami oleh mahasiswa Ekonomi sendiri. Seperti Windi Jufri Febriata, seorang mahasiswi dari jurusan Ekonomi Islam yang tetap stay di kos akibat wabah virus corona.

“Berbicara soal corona, saya sendiri sebelum adanya corona udah bawa Hand Sanitizer juga sih kalau kemana-mana, nah apalagi setelah adanya corona saya lebih sering mencuci tangan. Terus yang sebelumnya sering keluar sekarang jadi gak kemana-mana stay dikos aja,” ujar Windi.

Meski dianjurkan untuk tetap selalu berada di rumah, tetapi hal ini tidak berlaku bagi mahasiswa Ekonomi yang berstatus merantau di kota Banda Aceh. Dikarenakan adanya keterbatasan hal lain, memaksa mereka untuk tetap masih membeli makanan di luar.

“Saya sendiri sih sampai saat ini masih membeli makanan diluar, yang sebelum corona saya sering berolahraga seperti jogging pagi dan sore tapi untuk sementara ini saya tidak berolahraga dulu karena pemerintah menyuruh kita dirumah aja gitu,” terang Muhammad Ihsan, mahasiswa jurusan Akuntansi.

Akibat kuliah secara daring juga muncul beberapa permasalahan baru yang dialami oleh mahasiswa. Salah satunya, kuota internet yang terbatas dan cepat habis menjadi kesulitan baru bagi mahasiswa untuk belajar materi kuliah. Hal ini dirasakan langsung oleh mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam bernama Putri Nadya.

“Apalagi dengan kondisi yang lagi diisolasi gini, apa apa susah gitu, biasanya suka nyari makan diluar tapi sekarang sering makan makanan yang sehat, terus saya biasanya sering bikin tugas diluar seperti di perpustakaan atau di kafe sekarang udah di rumah aja. Kuota yang sebelumnya lumayan hemat sekarang kayak boros gitu. Karena kan udah kuliah daring,” ungkap Putri.

Sebagai mahasiswa, perilaku yang paling menonjol adalah kebiasaan untuk duduk di warkop. Akan tetapi, seiring penyebaran wabah virus corona ini, mereka patuh untuk tidak menghabiskan waktu di warkop dan tetap di rumah.

“Yang kemarinnya sering nongkrong sekarang saya beli kopinya aja diluar terus bawak pulang kerumah. Sekarang sih lebih sering dirumah aja,” jelas Farhan salah satu mahasiswa Akuntansi.

Meski begitu, dengan berbagai permasalahan akibat wabah virus corona ini, kita juga bisa mendapat beberapa hal positif lainnya seperti, kita jadi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, memulai hal baru dengan belajar memasak atau menghabiskan serial film yang tertunda kita tonton akibat kesibukan kuliah. Terutama akan lebih banyak waktu untuk beribadah.

Diharapkan juga wabah virus corona ini akan segera menghilang dan kita dapat beraktivitas seperti semula kembali. Jadi, untuk saat akan lebih baik kita stay home saja, tetap Physical Distancing, dan jaga kebersihan. (Ana, Fahmi, Syaf/Perspektif)

Editor : Abi Rafdi