Ilustrasi by Vannadisme

Darussalam – Bidikmisi merupakan program yang di laksanakan pada masa pemerintahan mantan presiden Indonesia ke-6 ini memang terbukti telah membantu banyak anak dari berbagai daerah untuk masuk perguruan tinggi di Indonesia. Banyak pula mahasiswa berprestasi yang telah mendapatkan gelar sarjana dengan nilai IPK rata-rata yang sangat memuaskan bahkan sempurna. Tidak hanya baik didalam bidang akademisi saja mereka juga termasuk mahasiswa yang aktif serta berprestasi pada organisasi yang terdapat di dalam Universitas masing-masing.

 

Universitas Syiah Kuala salah satunya yang menerapkan sistem wajib asrama selama dua semester sebagai bahan ajar karakter bagi pemerima Bidikmisi namun terjadi kesenjangan antara slogan bidikmisi “Jangan Menjadi Mahasiswa Kupu-Kupu” dengan aturan asrama yang dijalankan selama ini.  Organisasi sebenarnya adalah jawaban dari penggerak slogan bidikmisi tersebut. Bagaimana tidak? Organisasi mengajarkan apa yang tidak didapat dalam bangku perkuliahan. Kemampuan, keinginan sampai hal-hal kecil lainnya didapat hanya dalam berorganisasi.

 

Akan tetapi, slogan hanya akan menjadi slogan.  Karena dirasa tak sebanding  oleh penerima Bidikmisi, curahan demi curahan pun terlontar dari bibir mahasiswa semester awal yang tinggal di Asrama putri Unsyiah. “Kami diminta sebagai mahasiswa aktif  di akademik juga organisasi tapi ada aja larangan untuk ikut kegiatan kampus karena tabrakan dengan jadwal asrama” lugas Anita mahasiswa Manajemen Unsyiah ini.  “iya benar, asrama juga sering mewajibkan acara-acara di hari libur bagi mahasiswa bidikimisi yang tinggal diasrama. Kalo acaranya penting sih gak masalah kayak seminar, nambah ilmu. Tapi ini bagi saya terkadang kami dipanggil hanya untuk meramaikan acara aja” tambah Sinta teman satu lantai asramanya.

 

Hal lainnya pun dirasakan mahasiswa bidikmisi dalam keikutsertaan aksi mahasiswa yang secara tidak langsung dilarang dengan berbagai macam alasan seperti berbahaya maupun dianggap tidak mendukung kebijakan pemerintah yang telah membiayai mahasiswa untuk kuliah secara gratis, sungguh berbanding terbalik dengan kegiatan yang diadakan pemerintah mahasiswa justru menjadi ajang tamu undangan wajib guna memperlihatkan bahwa mahasiswa bidikmisi merupakan boneka pemerintah dinegara ini.

 

Tujuan adanya kegiatan bidikmisi adalah untuk meningkatkan jalur serta menyeimbangkan peluang anak bangsa menuntut ilmu di perguruan tinggi yang terhambat dikarenakan kekurangan secara ekonomi namun mampu secara kecerdasan intelektual yang ia miliki. Namun, apakah mahasiswa bidikmisi hanya dapat mengembangkan kemampuan akademik saja? Apakabar kalau begitu untuk kemampuan non akademiknya? Skill dan kemampuan yang dimilikinya sebenarnya harus di asah dengan cara mengikuti organisasi kampus yang telah tersedia. Tapi, keterbatasan oleh perizinan dan aturan lainnya  membuat mereka menciut dengan organisasi yang akan diikutinya.

 

Menurut salah satu penerima beasiswa Bidikmisi, Anggi, ia mengatakan bahwa adanya aturan tertentu didalam beasiswa Bidikmisi adalah resiko yang sudah seharusnya dihadapi, walaupun begitu tidak seharusnya aturan tersebut membuat bimbang penerima beasiswa untuk mengikuti kegiatan kampus contohnya seminar yang diadakan oleh universitas dan jadwal seminar tersebut bertabrakan dengan jadwal kuliah mereka, banyak para mahasiswa yang bimbang antara harus mengikuti seminar ataupun mengikuti jadwal kuliah mereka, ia juga berharap bahwa dimudahkan jalan bagi penerima beasiswa Bidikmisi dalam beroganisasi, baik itu dalam perizinan kegiatan maupun aturan yang berlaku. (Tuty/ Sundari)