Mahasiswa Dalam Toleransi Antar Agama

Foto by Puan Hayati

Darussalam – Keberagaman  suku, ras dan agama memang sudah mengakar dan mengurat nadi di dalam sejarah kehidupan  rakyat  Indonesia khususnya  Aceh.  Dalam halnya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis  Unsyiah yang hadir sejak 1959  di jantong rakyat Aceh ini diisi oleh segenap mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, etnis,, ras, budaya serta agama. Sikap toleransi yang kuat pun membuat tidak adanya belas kasih tertentu atau rasisme dalam proses belajar mengajar.

Menjadi seorang mahasiswa tidak hanya dituntut untuk  akademisnya saja,  tetapi menjadi mahasiswa juga harus memiliki sikap toleransi sebagai wujud mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya.  Layaknya semboyan NKRI “Bhineka Tunggal Ika” ; berbeda – beda tetapi tetap satu jua. Maka dari pada itu, membangun sikap toleransi beragama bagi mahasiswa adalah sebuah hal yang penting karena toleransi bertujuan untuk membangun persatuan dan kesatuan dalam hidup beragama.

Lalu perihal mewujudkan sikap toleransi, apa yang seharusnya dilakukan mahasiswa? Dapat kita ketahui bahwa, sikap toleransi itu merupakan sikap yang mampu dan mau menerima serta menghargai segala perbedaan yang ada. Dalam hal ini juga sikap menerima dan menghargai akan keberagaman agama.

Mengenai toleransi agama, ada hadits yang seringkali dipakai sebagai rujukan islam untuk mendukung  toleransi atas agama- agama lain. Sebuah hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata : ditanyakan kepada Rasulullah SAW. “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: Al-Hanafiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran).”

Selanjutnya, sikap toleransi dapat dilakukan dengan menumbukan rasa nasionalisme dalam diri yang dibuktikan dengan adanya sila pertama pada pancasila .Kemudian   yang terpenting adalah menjalin silaturahmi antar umat beragama.

Bahasan mengenai toleransi agama pun kian menyorotkan pandangan pada mahasiwa non muslim di FEB Usnyiah. “ bergaul dan berinteraksi dengan mahasiswa lain yang mayoritasnya adalah muslim bukan sesuatu yang berat.” Ujar Cindy.  Selain ia mendapatkan pengalaman baru, toleransi beragama yang dilakukan antar sesama mahasiswa tidak membuatnya merasa berbeda. Cindy juga tidak sungkan untuk saling mengingatkan teman muslimnya melaksanakan ibadah shalat.  “semoga toleransi agama,suku, dan  ras kedepannya agar lebih baik dan tetap menjaga agar tidak ada kubuh di antara sesama.”  Harapnya. (Abir,Azka/Perspektif)