Ajakan Main Si Bayangan Hitam Kala Mati Lampu

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Perspektif – Malam itu aku ingat betul keadaan Perumahan Kranggan, Cibubur sedang ada pemadaman listrik untuk daerah kami, cukup lama kalau diingat-ingat sejak sore hingga dini hari. Waktu itu aku masih berumur tiga belas tahun, dan masih duduk di bangku SMP.

Kejadiannya saat setelah maghrib, tiba-tiba hujan deras mengguyur perumahan kami dengan dibarengi oleh sambaran petir yang menjadi-jadi. Mengandalkan beberapa lilin yang dinyalakan, sambil khawatir menunggu kepulangan Ayahanda dari kantornya, soalnya beliau belum pulang, entah mengapa rasanya belum aman.

Pertama, diawali bunyi gesekkan yang kuat dari ayunan lama di lantai tiga, yang seakan-akan tergeser oleh tiupan angin, cukup kuat terdengar gesekkan bunyi besi tua yang berhasil membuat abangku mengurungkan niatnya untuk mandi di lantai tiga, “Temenin yok Yu,” sahutnya.

Abangku ini meskipun anak pertama, ketakutannya ngikut yang pertama pula. Akhirnya aku pun menemaninya untuk ke lantai dua, sambil menunggu di anak tangga, sekilas ada sesuatu yang membuat aku melirik sejenak ke arah atas lantai tiga, agak samar-samar aku mendapati sesosok bayangan hitam, berbadan kecil sedang mondar-mandir.

“Oke, ini sudah mulai larut,” kataku di dalam hati yang sudah mulai merasa tidak enak dengan situasi mati lampu ini. Setelah abangku selesai dengan urusannya, kami memutuskan untuk kembali ke lantai satu atau bawah, berkumpul bersama Ibunda dan adik laki-lakiku sambil menunggu menyalanya listrik.

Ibunda menceritakan sebuah cerita Kancil yang entah sudah berapa kali Ia ulang semasa hidupnya demi menenangkan anak-anaknya. Mengingat waktu sudah larut malam, Ibuku memutuskan untuk tidur di ruang tamu bersamaan dengan aku dan adikku, aku yang masih asik menulis sebuah cerita di handphone, kala itu masih zamannya membuat notes.

Abangku sudah terlelap duluan di kamar utama dengan pintu terbuka menghadap kami di ruang tamu. Berhubung tidak tenang makanya aku menunggu kepulangan Ayah dulu, meskipun sedikit merasa bosan memang, ditengah hujan deras gini dengan keadaan mati lampu.

Angin bertiup cukup kencang, hingga memadamkan lilin yang ada dihadapanku. Di saat aku ingin menyalakanya kembali namun, sekilas ada sesuatu yang melewati di depanku, seperti bayangan terlintas yang tadi kulihat di lantai tiga, dan menghilang ketika dibawah kursi ruang tamu.

Aku pun dibuat penasaran dengan apa yang baru saja melintas, tapi mengingat tidaklah lucu kalau aku sendirian nanti di seret seperti film Paranormal Activity. Ide konyol pun terbesit, aku mengikat kaki Ibu dengan kaki ku sendiri, berjaga-jaga jika aku di tarik nanti tidak sendirian ketarik oleh setannya.

Di sini aku mencoba mengalihkan fokus malam ini, sayangnya hujan mereda, dan lebih sialnya ini membuat suasana malam malah menghening. Tak ada suara yang sahut-sahutan lagi, seperti hujan dan petir. Ketika keheningan menyeruak, tiba-tiba ada suara ketukan tiga kali, aku mengingatnya dengan jelas sumber suara berasal dari bawah kursi ruang tamu.

“Sial,” umpatku. Bayangkan saja yang terjaga saat itu, hanyalah aku, tidak ada orang lain. Apalagi mitos-mitos orang Jawa selalu mengatakan untuk tidak menanggapi suara yang bunyinya hanya sampai tiga kali, bisa aja itu bukan manusia, melainkan mahkluk ghaib.

Kalau begini sih aku percaya bukan manusia, ya memangnya siapa yang bersembunyi dibawah kursi ruang tamuku saat ini. Keberanian menciut ketika sebuah bayangan hitam bergerak keluar dari kursi tamu, dan ternyata… sesosok kecil, entah bisa disebut tuyul atau enggak tapi layaknya anak kecil tersenyum lebar ke arahku.

“Oh betapa tidak beruntungnya aku saat ini,”

Namun sebuah bunyi ‘klek’ yang berasal dari pintu pagar rumah layaknya sedang diusahakan terbuka, ternyata kedatangan Ayahanda, setelah lama menunggu. “Akhirnya,” Sambutku, lalu sekilas melihat ke arah kursi ruang tamu, tak ada lagi, si sosok kecil yang sepertinya berusaha mengajakku bermain.

Dia si bayangan, baik yang terlintas dan tak kasat mata, nyatanya keberadaanya ada bersamaan dengan kita, bukan masalah ada atau tidak, namun bagaimana sebuah ketidaksengajaan mengajarkan bahwasannya kita ini hidup berdampingan & bersamaan. Mereka yang tak terlihat nyatanya keberadaanya bahkan ada disekitar kita. Sekian. (V/Perspektif)