Mengenal Konsep Ramah Disabilitas di Desa Wisata Lubuk Sukon

Foto : Hafiz

Darussalam – Pada bulan Ramadhan ini, Dizain studio yang merupakan startup aceh yang bergerak di bidang arsitektur, interior dan furniture, telah menggelar kegiatan Aksi Arsi Peduli (AAP) bertajuk “Memahami Respon Ruang Teman Teman Tuli”. Kegiatan AAP ini dilaksanakan pada 21 April 2022 di Mushola Desa Wisata Gampong Lubuk Sukon dan dihadiri oleh warga setempat, termasuk Kepala Desa dan Perangkat Desa lainnya, seorang Dosen Arsitektur, teman-teman tuli dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin), dan juga beberapa Ormawa dan media lainnya.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh T. Muhammad Rifky sebagai Master of Ceremony (MC) pada pukul 16.30 WIB. Selanjutnya kata-kata sambutan diberikan oleh Yusrivai Khatami sebagai Ketua Panitia (Kepan) sekaligus Founder Dizain Studio. Setelah Kepala Desa Lubok Sukon memberi kata-kata sambutan nya, acara pun dimulai.

Setelah selesai pemberian kata-kata sambutan, Pak Zulfikar Taqiuddin, S.Sn., M. T. selaku Dosen Arsitektur, dengan antusias memaparkan materinya kepada para peserta. Kemudian para peserta kembali mendengarkan presentasi sejarah singkat mengenai Desa Lubuk Sukon dan diskusi tentang deaf space yang dipaparkan oleh Fahry Purnama selaku Ketua Pengelola Wisata Desa Lubuk Sukon dan Yusrivai Khatami.

“Sejarah asal mula penamaan Desa Lubuk Sukon yaitu kata “Lubuk” bermakna dalam atau dalam bahasa Aceh disebut dengan lhok, sedangkan “Sukon” diambil dari nama pohon sukun yang disebut Sukon (dalam bahasa Aceh), ketika itu pohon tersebut banyak tumbuh di desa ini. Berdasarkan penjelasan di atas maka diberikan nama desa ini adalah Lubok Sukon,” papar Fahry Purnama.

“Melalui konsep ruang deaf space yang merupakan prinsip pengaplikasian pada bangunan atau ruang, sehingga mendukung teman-teman tuli agar dapat berinteraksi dengan ruang,” tutur Yusrifai Khatami.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung pariwisata Lubok Sukon, menjadikan Lubok Sukon sebagai desa wisata yang terkenal di Aceh, dan mengedukasi tentang budaya tuli dan konsep deaf kepada masyarakat. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Yusrivai Khatami.

Selanjutnya peserta diarahkan untuk melihat-lihat langsung desa nya dan mengunjungi salah satu rumah adat Aceh tertua di sana. Sepanjang jalan peserta juga dapat melihat rumah-rumah adat Aceh lainnya yang dibangun dari masa yang berbeda-beda

“Bagi anak Arsitektur, ini bakalan jadi pengalaman yang sangat bermanfaat, karena kalian dapat melihat perubahan-perubahan yang dialami rumah adat Aceh dari masa ke masa di desa ini,” ujar Fahry Purnama.

Berakhir sudah rangkaian acara AAP dengan selesainya sesi ini, peserta selanjutnya kembali ke Masjid menunggu waktu berbuka puasa untuk menyantap makanan yang telah disajikan dan berkumpul untuk foto bersama.

Yusrivai Khatami, sebagai Ketua Panitia sekaligus Founder Dizains Studio menyampaikan rasa puasnya karna kegiatan AAP ini telah mencapai target yaitu terjadi kolaborasi antar media, agensi perusahaan, desa, teman-teman tuli, dan Himpunan Mahasiswa. Pesan yang ingin disampaikan melalui acara ini pun dapat dirasakan peserta.

“Harapan buat gampong ini adalah agar bisa jadi gampong yang ramah disabilitas, teman-teman tuli bisa berkerja di sini, dan untuk Lubuk Sukun bisa di upgrade dari segi pariwisata nya,” tutup Yusrivai Khatami dengan penuh harapan dan rencana untuk mengembangkan Desa Lubuk Sukon.

(Perspektif / Hafiz & Hayyun)