MENGENANG MUNIR DAN 17 TAHUN KEMATIANNYA

Gambar : google.com

Nama Munir Said Thalib atau lebih dikenal dengan Munirtidak terdengar asing dalam politik Indonesia, beliau adalah sesosok napas aktivis HAM Indonesia yang sangat keras memperjuangkan hak asasi rakyat Indonesia. Beliau dikenal sebagai sosok yang berani menentang pelanggaran hak asasi yang terjadi di Aceh 2004 silam. Munir pernah berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan sering dikenal sebagai sosok aktivis kampus yang kemudian mengantarkannya menjadi ketua senat mahasiswa fakultas hukum Unibraw pada tahun 1998.

Namun naas, jeritan hak asasi yang beliau gaungkan terhenti 17 tahun silam. Kematian sosok Munir konon yang diracun di Pesawat Garuda GA-974 kursi 40- kala ia hendak bertolak ke  Amsterdam untuk melanjutkan studinya di Universitas Ultrecht meninggalkan tanda tanya besar dalam benak publik. Konon katanya, kematian Munir juga melibatkan Institusi Inteligen Negara.

Penyelesaian kasus Munir bahkan hingga kini tidak menemui titik terangnya. Pollycarpus Budihari Prijanto, seorang pilot Pesawat Garuda yang juga dinaiki Munir kala itu dinyatakan sebagai pembunuhnya dengan memasukkan racun Arsenik pada tubuh Munir. Dalam amar putusan PK, Oktober 2013, MA menghukum Pollycarpus dengan 14 tahun penjara dan bebas murni pada Rabu, 29 Agustus 2018. Presiden Jokowi pernah berjanji untuk mengusut tuntas kasus ini, namun hingga kini janji tersebut hanyalah isapan jempol belaka.

Kiprah Munir dalam memperjuangkan HAM tidak dianggap remeh dan kerap mendapat ancaman dari berbagai pihak. Bahkan kediaman Munir di Jakarta pernah diteror bom pada Agustus 2003. Tidak hanya itu, kegigihannya dalam memperjuangkan hak asasi mendapat apresiasi dari pemerintah Swedia “ The Right Livelihood Award” pada tahun 2000. Bahkan keberanian beliau diabadikan menjadi museum di Malang, Jawa Timur pada 2013 silam, Museum Hak Asasi Manusia Omah Munir. Dalam museum ini menampilkan sejumlah catatan sejarah perjuangan beliau dalam bidang HAM seperti pelanggaran Hak Asasi di Aceh, Timor Timur dan lainnya. Bak kata pepatah mati satu tumbuh seribu, kematian sosok munir diharapkan tidak menjadi akhir dari cerita perjuangan HAM di Indonesia, kelak akan ada sosok sosok Munir baru yang tulus dan gigih memperjuangkan HAM di Indonesia. (PutriA/Perspektif)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.