Radio Malam; Kepulangan Tragedi Bintaro

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Perspektif – Mendengarkan radio kala malam memang tidak ada tandingannya. Bersamaan dengan suguhan lagu Tompi atau Rossa tak kalah membawa suasana malam terasa tambah sendu. Namun, bagaimana bila radio malam yang biasanya sendu berubah menjadi menakutkan seiring dengan narasi para pemain radio melakoni cerita horor?

“Nama gua Tara. Gua adalah seorang pekerja di sebuah restoran siap saji di daerah Bintaro, Jakarta,” ucap suara berat lelaki dalam radio yang menggunakan sudut pandangnya sendiri Ketika memperkenalkan dirinya.

Tara bercerita,“Malam itu seperti biasanya saya sedang berada di stasiun Kereta Api (KA) daerah Bintaro, yakni Stasiun Sudimara. Mengingat saya didalam perjalanan pulang sembari menunggu Kereta Api menuju Rangkasbitung, tempat dimana saya tinggal.”

Paragraf berikutnya hingga terakhir dituturkan melalui sudut pandang Tara.

Teruntuk kalian yang sudah tidak asing lagi dengan Tragedi Bintaro memang bukanlah hal yang unik lagi. Saya mempercayai mitos atau yang menyatakan bahwa semenjak kecelakaan pada tahun 1987 ini, membuat stasiun manapun dekat Bintaro menjadi cukup menegangkan malam hari. Ditambah cerita-cerita yang mengaku tentang keberadaan makhluk halus dari wujud 156 korban tewas dalam tragedi tersebut.

Malam itu, saya sangat merasakan lelah yang amat sangat, meskipun hari Senin baru dimulai. Saya melihat malam itu di stasiun ini cukup ramai, semua orang dengan tas yang di posisi depan guna mencegah kriminalitas kemalingan barang―bersamaan wajah mereka yang lelah penat akan bekerja.

Sebuah kereta sampai, terlihat berisikan banyak orang didalamnya, dengan duduk dibangku masing-masing dan tidak berdesak-desakkan, “Tumben.” sahut ku dalam hati. Tentu saya maju dan berdiri di batas menuju masuk gerbong keretanya, hanya saja merasa cuman saya yang antusias untuk naik kereta ini, sekitar saya semua orang acuh seperti tidak mau naik kereta ini.

Tapi mengapa? Apa hanya saya yang menuju Rangkasbitung? Tapi kan kereta ini tidak hanya ke tempat saya, banyak stasiun yang akan di hampirinya. Ah sudahlah.

Tak mau ambil pusing, saya langsung naik kepada kereta tersebut, dan duduk disalah satu bangku yang kosong. Karena sudah lelah, yang terlintas oleh saya adalah dapat duduk sejenak di kereta dan sampai ke Rangkasbitung.

Sejenak memejamkan mata, saya merasakan hawa dingin didalam gerbong ini, mata saya pun kembali terbuka. Hening sekali gerbong ini, tidak biasanya. Wajah yang berhadapan dengan ku pun terlihat putih pucat sambil menunduk, ah tidak hanya dia, namun sekeliling saya sama. Belum ada pikiran aneh terlintas, “Mungkin mereka sama lelahnya dengan ku”.

Saya merogoh tas saya demi mendapatkan earphone untuk saya gunakan demi membunuh keheningan ini dengan memutar musik yang ada di dalam playlist lagu saya. Pada tahun itu, masih tahun 2015, belum ada Spotify atau Joox ya.

Mungkin ada beberapa menit lamanya, saya merasakan mulai keanehan lagi, mengapa tidak ada suara pemberhentian dari stasiun yang dilewati oleh kereta yang saya naiki, bukannya stasiun Serpong sudah lewat seharusnya.

Karena takut terlewatkan stasiun Rangkasbitung, saya memilih mencopot earphone yang sejak tadi lamanya saya gunakan, agar dapat mendengarkan suara pemberitahuan mengenai pemberhentian pada stasiun yang mau saya turunin.

Sebab tak ada kegiatan lainnya, saya mulai mengedarkan pandangan saya kepada sekitar. Mulai nampak aneh bagi saya, semua terdiam dengan muka pucatnya, dan tak ada orang satu pun yang berpakaian seperti orang sehabis pulang kerja seperti saya dan membawa tas. Tentunya ini membuat saya bertanya-tanya “Apa saya salah masuk kereta?”.

Kejanggalan ini membuat saya memberanikan bertanya pada sesosok bapak-bapak disamping saya yang tengah membaca koran. “Pak ini keretanya betulkan ya menuju Rangkasbitung juga?”, yang ditanya hanya mengangguk, “Oh syukurlah. Saya kira saya salah naik gerbong. Bapak turun dimana nanti?” tanya saya lagi.

“Pondok Betung”, sahutnya, lalu mendapat anggukan dari saya. Kemudian bapak yang tadinya sejenak membaca koran itu berdiri dan memberikan korannya kepada saya, seraya mau pergi, “Ini untuk mas aja, dibaca, mungkin mas bosan, saya mau ke toilet dulu”. Saya mengangguk, “Mana ada orang yang mau baca koran malam-malam Pak” kata saya sambil menggelengkan kepala saya.

Saya memegang koran ini dengan tanpa membacanya, namun saya mulai tertarik dengan koran yang saya pegang. “Kuno sekali gaya korannya” memang, kertas korannya saja sudah menguning tua begitu, kemudian saya berniat mau membacanya. Namun, tiba-tiba kereta berhenti mendadak, sontak membuat saya  tersentak cukup keras, alhasil lampu didalam kereta padam begitu saja.

Tentu saya panik bukan main, dengan cepat saya menyalakan lampu yang berasal dari ponsel saya, dan mengedarkannya kedepan. Pintu gerbong kereta terbuka, saya langsung ngeh “Pasti ada kesalahan” dan saya langsung menuju keluar pintu gerbong, mendapati berada distasiun yang cukup sepi.

Disini saya kebingungan, namun tiba-tiba ada yang mengarahkan cahaya kepada saya, sekilas seperti kondektur dari Kereta Api tentunya.

“Mohon maaf mas, sedang apa ya mas disini?”

“Ini kereta-” kalimat saya terputus begitu saja ketika mengarah balik ke belakang dengan niatan menunjuk kereta yang saya tumpangi rupanya sudah tidak ada, saya pun terdiam sejenak.

“Mas? Kesini naik kereta?”

“Kemana kereta yang saya tumpangi tadi?” tanya saya dalam hati.

Kondekturnya kembali mengajak saya ke pos tempat Ia berjaga dan mulai memberikan air putih untuk saya minum.

“Mas-nya tidak apa-apa?”

Saya mengangguk, namun mencerna dengan baik tentang apa yang terjadi tadi.

“Mas, naik keretanya dari stasiun mana?”

“Sudimara Pak.” kemudian saya langsung melanjutkan perkataan saya, “Tapi yang saya naiki keretanya benar kok, ada manusia didalamnya, ramai. Nah buktinya ada bapak-bapak duduk disamping saya yang memberikan koran hari ini.”

Kondektur atau petugas KA pun terlihat bingung dengan ucapan saya, beliau langsung berkata, “Boleh saya lihat mas korannya?”.

Saya mengangguk dan memberikannya.

“Mas-nya beneran enggak apa-apa?” tanyanya lagi, namun dengan raut wajah yang bingung.

“Iya Pak, memangnya ada apa?” saya mulai mengecek diri sendiri, takut ada akan hal yang aneh pada saya.

“Anu…mas, ini koran bulan Oktober tahun 1987, bukan koran hari ini.”

Saya terdiam membeku, tidak tahu harus mencerna perkataan kondektur yang saya temui ini bagimana.

“Maaf ya mas bukan mau menakuti, tapi mas baru aja menaiki kereta bekas kecelakaan Bintaro tahun 1987. Tapi gapapa mas, setidaknya mas selamat, alhamdulillah.”

“B-erarti…”

“Nanti sesampainya dirumah, membersihkan diri mas, terus minum lagi air ini mas, sudah saya doakan, terus korannya di bakars ajaya mas.”

Meremehkan suatu hal memang bukanlah hal yang baik, apalagi mitos. Kita tidak perlu mempercayainya, hanya saja cukup mengetahuinya, tidak usah menantangkan kebenaran dengan meremehkannya, sebab bisa sewaktu-waktu kita ditunjukkanya, untuk menggertak alam sadar. (V/Perspektif)