Selama #DiRumahAJa, PDF Ilegal kok Merajalela?

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Darussalam – Sudah sebulan lebih sejak Indonesia melaporkan adanya kasus pertama pasien virus corona pada 2 Maret 2020, hingga kini jumlahnya kian meningkat. Tak dapat dipungkiri, pandemi Covid-19 ini memang banyak mengacaukan jalannya kehidupan dalam berbagai aspek. Ia pun tak pandang bulu, semua Negara habis dijajahnya, tak terkecuali Indonesia.

Akibat dari adanya virus ini menyebabkan aktivitas sehari-hari menjadi terhenti dan memaksa orang-orang untuk berdiam diri di rumah. Banyak orang yang mencoba untuk beradaptasi dengan hal ini, dari yang biasanya sibuk kerja melulu di kantor kini hanya berdiam diri di rumah sambil scroll timeline media sosial hingga kuota internet ludes dalam sekejap. Dari yang awalnya saat kuliah hobi titip absen,

~eh absen online ya sekarang, hehe.

Sampai akhirnya beneran kuliah online di rumah ditemani tugas yang tak punya hati  makin banyak. Akan tetapi, ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan di dalam rumah selain yang menyebalkan tadi. Contohnya seperti: membantu orang tua, olahraga ringan, belajar menjahit, mengaduk Dalgona sampai lebaran, hingga mengembalikan minat literasi dengan membaca di sela-sela waktu kosong.

Ngomong-ongomong soal membaca, belakangan ini membaca memang menjadi hal yang paling sering dilakukan di rumah. Baik itu membaca jurnal untuk tugas kuliah, berita-berita, caption tetangga, story yang dipenuhi kata-kata puitis melankolis, hingga buku-buku bajakan.

~Wopp…. Buku kok dibajak, memangnya sawah?!!

Tentu tidak ada salahnya dalam membaca dong, toh kini banyak buku yang di-pdf-kan (elektronik) dan dapat diunduh secara cuma-cuma bahkan ada yang sampai membagikannya ke banyak orang. Terus salahnya di mana? Bukannya biar makin produktif selama #dirumahaja ?

Pembajakan buku jelas merugikan penulis. Secara ekonomi jangan ditanya lagi, setiap ekslempar buku bajakan ada royalti yang ‘dicuri’ oleh oknum pembajak. Padahal royalti penulis tidak terlalu besar dimana standar umumnya di Indonesia hanya sebesar 10% dari penjualan buku.

Kalau digali lagi lebih luas, tidak hanya penulis saja yang dirugikan. Namun, penyunting naskah, pendesain sampul buku, penata letak, hingga penerbit buku juga ikut dirugikan. ‘Profesi’ yang satu ini jelas mematikan banyak pihak dalam satu pukulan telak, mirisnya ada yang sampai muncul secara terang-terangan di lokapasar daring (online marketplace).

~Sampai sini bisa paham?

Yang pasti tindakan ini akan menuai kritikan tajam, terutama bagi para penulis buku. Kebanyakan buku yang di-download itu adalah buku-buku yang sebenarnya tidak disediakan oleh penerbit dalam bentuk PDF, alias bajakan. Menanggapi hal ini banyak penulis seperti Jerome Polin, Fiersa Besari, Boy Candra, dan masih banyak lagi yang merasa kesal dengan adanya buku pdf bajakan.

“Pada ngerasa jagoan ya saat ada orang yang butuh baca buku, terus ngirim PDF ilegal, lalu banyak yang berterima kasih gitu? Merampas hak penulis dan semua orang yang terlibat dalam pembuatan karya kok bangga. Hadeh”, cuit akun twitter @JeromePolin.

Dilansir dari akun twitter milik Rintik Sedu, @ntsana_. Melalui cuitannya menanggapi hal yang  sama perihal buku PDF bajakan mengatakan “lu yang nyebar buku gw versi bajakan di whatsapp dengan alesan “amanah” lu tuh ya lu tuh menjijikkan”.

Sama halnya dengan penulis lainnya, Boy Candra juga mengutarakan perasaanya melalui akun twitter.

Dari beberapa unggahan penulis buku tersebut dapat kita berfikir sejenak bahwa setiap penulis pasti sudah bersusah payah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran mereka dalam menciptakan suatu karya yaitu buku. Menulis buku dengan ratusan hingga ribuan halaman itu tidaklah instan dan enak, seperti mie instan kesukaan kita semua.

Penulis juga manusia biasa yang tidak sesakti Bandung Bondowoso yang bisa membuat 1000 candi dalam satu malam. Bahkan, percaya tidak percaya, ada kasus di mana bajakannya rilis sebelum buku aslinya terbit.

~Ini kan sudah sangat konyol T_T

Seperti yang dilansir dalam salah satu akun twitter penerbit buku di bawah ini :

Bukankah tugas kita harus menghargai kerja keras mereka selama ini dengan tidak men-download ataupun men-share PDF secara cuma-cuma lagi?

Ada banyak cara untuk dapat membaca buku best seller tapi tidak dengan memberikan tautan PDF secara ilegal. Jika kita belum mampu untuk membeli buku aslinya, kita dapat meminjam milik teman terlebih dahulu sembari menabung menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli buku tersebut. Kita juga bisa menunggu promo ataupun membeli buku bekasnya.

Bukankah itu hal yang baik sekaligus mendukung kerja keras dari penulis? Yuk bersama-sama kita bantu untuk bisa mengatasi ini serta saling mendukung dan bukan saling menikung. Stop mengunduh dan men-share PDF bajakan. Jangan mengangkat narasi masalah ekonomi untuk membeli bku bajakan.

~Tapi kalau sudah terlanjur, mari bertaubat. [Var, Han, Malfoy]

Editor : Abi Rafdi