Semester Pandemi, IPK Tergantung Koneksi

Ilustrasi by team Grafis/Perspektif

Darussalam – Keluh kesah yang semakin hari semakin meluap dari mahasiswa terus berlanjut hingga kini. Ditilik dari banyaknya curahan hati mahasiswa, mereka kerap merasa frustasi dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen.

Semua ini bermula sejak diumumkan masa perkuliahan tatap muka dialihkan menjadi melalui daring, para mahasiswa mulai disibukkan dengan berbagai tugas yang terus disodorkan oleh dosen. Aplikasi meeting pun menjadi sasaran utama untuk kegiatan belajar-mengajar. Hal ini merupakan bentuk pelaksanaan dari physical distancing, yang mana memaksa para dosen dan mahasiswa untuk tidak bertatap muka secara langsung.

Kentara jelas perbedaan semester ini. Ketika pada semester sebelumnya kita dapat merasakan bertatap langsung dengan dosen, kali ini kita hanya dapat bertatap muka melalui alat teknologi. Para dosen juga turut menyesuaikan mekanisme pembelajaran pada semester ini.

Dalam bentuk meminimalisir interaksi antar dosen dan mahasiswa, tentu saja ini menjadi suatu hal yang baru, mengingat ini bukan rancangan kampus melainkan sebuah musibah. Meskipun begitu, untuk sebagian mahasiswa mungkin tak terasa asing dengan kuliah online, karena sebelum pandemi ini mahasiswa sudah sering menggunakan e-learning.

Hal kontras tersebut juga dirasakan oleh Puji, seorang mahasiswi Manajemen FEB Unsyiah yang ikut merasakan kebijakan dari kuliah daring tersebut. Ia mengatakan bahwa semester ini pastinya semua terasa berbeda. Tambahnya, ia baru pertama kali mengikuti kuliah dan kegiatan kampus melalui daring.

Masih menurut Puji, ketika jam perkuliahan biasanya berbeda dosen, berbeda pula metode yang digunakan untuk mengisi kelasnya. Ada yang menggunakan aplikasi meeting, ada yang menyarankan melalui aplikasi suara, ada yang berdiskusi melalui chat grup, ada pula dosen yang hanya memberikan pemahaman dengan memberikan tugas dan materi yang dapat di akses melalu ebook.

Jika melihat secara sekilas, ada baiknya semester kali ini dilakukan secara online. Mahasiswa dapat mempelajari teknologi yang selama ini belum pernah mereka kuasai, namun hal ini tentu menyenangkan bagi mereka yang memiliki berbagai fasilitas dan kondisi yang memungkin untuk mereka menjalani masa kuliah daring ini. Sayangnya masih ada mahasiswa yang masih merasa kesulitan dengan keadaan ini.

Sebagian mahasiswa kurang dapat merasakan masa perkuliahan, karena bisa jadi faktor lokasi tempat tinggal yang membuat sulitnya akses internet. Dan lagi, mereka belum tentu dapat memahami dan menguasai materi yang dipaparkan dosen. Jika tugas yang menumpuk membuat para dosen yakin mahasiswa dapat menyelesaikannya, maka mahasiswa juga akan terus mengeluh.

Walaupun demikian, beberapa dosen mendengarkan dan memaklumi keadaan dari para mahasiswa ini. Ada dosen yang terus berkomunikasi dengan mahasiswanya agar dapat menciptakan suasana yang nyaman dalam proses belajar-mengajar. Ada pula dosen yang meringankan tugas mahasiswa dengan memperpanjang waktu deadline dari setiap tugas yang diberikan.

Hal-hal semacam ini cukup membantu mahasiswa dalam menjalani masa kuliah daring ini. Kelonggaran yang diberikan mampu membuat mahasiswa menyelesaikan tugas dengan santai namun pasti.  Para mahasiswa juga dapat merampungkan tugas di luar perkuliahan.

Namun, ada sesuatu yang mengusik pikiran para mahasiswa, yakni tata cara penilaian dalam sistem kuliah daring ini. Banyak mahasiswa yang terus berspekulasi jika nilai semester ini tergantung dengan sinyal dan koneksi jaringan internet. Menduga-duga bagaimana nasib nilai semester ini, terutama bagi mereka yang kesulitan mengakses internet, yang mengakibatkan kurang aktifnya mereka selama masa perkuliahan.

Muhammad Akbar Ariandi, selaku Mahasiswa FEB Unsyiah 2019 juga menyampaikan bahwa dengan hal ini, banyak sekali mahasiswa yang masih ragu dalam penilaian IPK semester ini. Menurutnya, hal tersebut wajar karena sampai saat ini tidak ada saling keterbukaan  mengenai penilaian kuliah secara online.

“Mungkin ada beberapa kelas saya yang dosennya tidak peduli mengenai sistem perkuliahan online ini, hanya absen online saja, tanpa ada penjelasan dan materi selama perkuliahan. Hal ini membuat kami sendiri merasa bingung dan tidak mendapatkan apa-apa di mata kuliah tersebut, dan pastinya ada juga yang peduli mengenai sistem perkuliahan ini, dengan melalui aplikasi zoom/google meet atau dengan pembekalan materi dari ppt serta dengan rekaman suara.” tambah Akbar.

‘’Oleh karena itu, ada baiknya dosen memiliki keterbukaan dengan para mahasiswa  mengenai penilaian kuliah secara online ini, karena yang kita ketahui bersama ketika kuliah tatap muka, penilaian bisa kita pahami melalui keaktifan kita di kelas, melalui nilai kuis, lalu tugas harian, etika kita di kelas, kehadiran tepat waktu, dan lain – lain juga, dan itu sudah jelas dibagi–bagi tingkat persennya dari dosen masing–masing kelas, jadi mahasiswa sudah mempunyai target dari awal perkuliahan berlangsung, dan pastinya dosen harus membedakan bagaimana Antara sistem kuliah online dengan sistem perkuliahan offline. Dan saat ini banyak sekali mahasiswa semakin acuh tak acuh dikarenakan perkuliahan online ini, dan itu jadi sebuah pekerjaan bersama para pengurus Unsyiah, agar memberikan jaminan dan sistem peraturan yang jelas agar mahasiswa mempunyai tujuan,’’ tegas Akbar dengan berapi-api.

Jika diperhatikan, kuliah tatap muka sudah pasti sangat berbeda dari kuliah daring. Mulai dari ketika jam perkuliahan, mengerjakan tugas sampai apa saja yang kita lakukan ketika saat kuliah daring berlangsung.

Kerap merasa terbebani oleh setumpuk tugas, justru dengan itu dosen memberikan penilaian terhadap mahasiswa pada semester ini. Para dosen memberikan tugas bukan semata-mata ingin menyusahkan mahasiswa. Namun semua itu karena tanpa adanya tugas, dosen tidak dapat membagikan nilai pada semester ini.

Menanggapi banyaknya keluhan dari mahasiswa, Muhammad Haris Riyaldi sebagai dosen FEB Unsyiah memberi penjelasan mengenai sistem penilaian semester ini. Menurutnya sistem penilaian semester ini dipastikan berbeda dari sebelumnya mengingat situasi yang sedang kita jalani saat ini.

Beberapa hal juga menjadi pertimbangan, mungkin saat ini penilaian dilakukan dengan memberikan penugasan kepada mahasiswa menjadi jalan yang paling efektif.

Jika terus beranggapan sulit untuk menjalani masa perkuliahan ini, maka sulit pula prosesnya. Tetapi, sebagai mahasiswa ini merupakan tantangan yang menuntut untuk terus bergerak aktif meski kondisi mengharuskan di rumah saja. Sudah saatnya mahasiswa perlu memanajemen waktu untuk melakukan perubahan pada dirinya. Jika mahasiswa menerapkannya tanpa perlu mengeluh, dapat dipastikan tugas seberat apapun dapat diselesaikan.

Pada Akhirnya, komunikasi dan tindakan adalah kunci utama. Kebijakan sistem perkuliahan online ini tentu saja membutuhkan kerjasama yang baik antara pihak dosen dengan pihak mahasiswa agar pertemuan kelas dan ilmu yang hendak disampaikan berlangsung dengan baik selama pandemi ini.  (Refdi & Cynthia/Perspektif)

 

Editor: Jamaludin Darma