Spekulasi New Normal dan Beragam Dampaknya

Ilustrasi : Max

Kini tiap-tiap negara di dunia, benar-benar merasakan dampak wabah pandemi ini, ada negara yang berangsur-angsur membaik adapula negara-negara yang bahkan semakin memburuk, banyak kebijakan yang telah diterapkan untuk menekan wabah pandemi ini, dengan cara physical distancing, lockdown, bahkan di Indonesia sendiri disebut dengan Peraturan Sosial Berskala Besar (PSBB), maka kemudian kita akan bertanya-tanya, apakah dengan berbagai kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah dapat menekan wabah pandemi ini?

Sudah hampir 6 bulan lamanya virus Covid-19 menjangkit Indonesia, berbagai cara telah ditempuh untuk memberikan semangat perjuangan melawan wabah pandemi ini, akan tetapi nyatanya, ketika pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan untuk menekan wabah pandemi ini, alih-alih semakin membaik malah kini korban terdampak wabah pandemi ini semakin meningkat tercatat jumlah korban terjangkit (01/10/2020) mencapai angka 287.008, dengan angka kematian mencapai 10.740.

Kemudian beredar narasi bahwasannya pemerintah akan melakukan Herd Immunity, diketahui bahwa Herd immunity adalah kondisi ketika sebagian besar kelompok atau populasi manusia kebal terhadap suatu penyakit karena sudah pernah terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut.

Untuk mencapai herd immunity, setidaknya 70 persen dari populasi harus terinfeksi terlebih dahulu. Apabila penduduk Indonesia dianggap sebanyak 270 juta, maka sedikitnya 189 juta harus terinfeksi untuk mendapatkan herd immunity.Kemudian, dari angka tersebut kemungkinan orang yang meninggal bisa mencapai satu juta orang.

Sungguh realita yang mengejamkan jikalau pemerintah benar-benar ingin menerapkan kebijakan ini, akan tetapi kepastian yang didapatkan sekarang ini ialah pemerintah membantah spekulasi tersebut, hal tersebut pernah disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, “Pertanyaannya apakah kita pakai itu? Jawabannya tidak,” ujar Yuri seperti yang dilansir oleh Kompas.com, Rabu (13/5/2020).

Setelah kita mengetahui fakta tersebut, tentunya masih terlintas di benak kita mengenai pemerintah yang kini berangsur-angsur melonggarkan kebijakan PSBB, seperti dengan mulai aktif kembalinya berbagai macam transportasi umum dengan ketentuan menerapkan Physical Distancing.

Sekarang ini spekulasi yang benar-benar bergulir di masyarakat adalah diterapkannya kebijakan new normal, pemerintah menjelaskan bahwa new normal berbeda dengan herd immunity, dimana new normal sendiri dikatakan bahwasannya akan terjadi pelonggaran dengan macam-macam persyaratan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, cuci tangan yang teratur serta lainnya.

Akan tetapi seharusnya pemerintah sedari awal menyadari berbahayanya penyebaran wabah pandemi ini, alih-alih bersiaga pemerintah malah masih membuka jalur transportasi penerbangan baik Internasional maupun Domestik, karena awal memang telah diketahui virus ini menyebar begitu cepat di berbagai negara di dunia ini, untuk itu pula memang diketahui saat ini sektor ekonomi memang terdampak begitu parah, dan ditakutkan akan terjadi resesi di perekonomian di Indonesia disebabkan wabah pandemi ini.

Untuk itu pemerintah mengantisipasi jikalau wabah pandemi ini terus menjangkiti masyarakat Indonesia, ditambah dengan lesunya laju ekonomi maka ditakutkan nantinya akan terjadi depresiasi di perekonomian Indonesia.

Sehingga di tengah-tengah wabah pandemi ini, pemerintah menyiapkan skenario new normal yang dikatakan kebijakan tersebut pemerintah akan menggandeng seluruh pihak terkait termasuk tokoh masyarakat, para ahli dan para pakar untuk merumuskan protokol atau SOP untuk memastikan masyarakat dapat beraktivitas kembali, tetapi tetap aman dari Covid-19.

Protokol ini bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga pendidikan dan keagamaan, tentu bergantung pada aspek epidemologi dari masing-masing daerah, sehingga penambahan kasus positif bisa ditekan.

Akan tetapi ada baiknya pemerintah fokus terlebih dahulu untuk menyelesaikan wabah pandemi ini, karena memang diketahui korban positif terus bertambah, ini artinya kebijakan yang telah dilaksanakan pemerintah sebelumnya, belum terlaksana dengan optimal maka untuk seharusnya pemerintah lebih tegas lagi dalam membuat kebijakan agar masyarakat menjadi disiplin dan menjaga kesehatan mereka.

Maka, hal yang seharusnya kita ketahui ialah kebijakan-kebijakan tersebut hanyalah alat semata, agar kebijakan tersebut terlaksana haruslah kita mentaati protokol yang telah dikeluarkan pemerintah, dan pemerintah juga telah melakukan berbagai macam stimulus ekonomi demi mendorong jalannya roda perekonomian.

Harapnya, mogalah wabah pandemi ini hilang dari negeri kita, dan kita dapat melaksanakan kegiatan kita seperti sedia kala, untuk mewujudkan hal tersebut memang dibutuhkan kerja ekstra serta komitmen dari kita dan pemerintah agar wabah pandemi ini hilang selama-lamanya dari negeri ini. (Yodi & Fahmi / Perspektif)

Editor : Abi Rafdi

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.