press release

Women Empowerment Hub Dorong Perempuan Muda Tumbuh sebagai Pemimpin Masa Depan

×

Women Empowerment Hub Dorong Perempuan Muda Tumbuh sebagai Pemimpin Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Darussalam — Upaya membangun kepemimpinan perempuan tidak hanya membutuhkan kecakapan intelektual, tetapi juga keberanian, kemampuan berkomunikasi, kematangan karakter, serta ruang yang memungkinkan perempuan untuk terus bertumbuh. Semangat itulah yang menjadi salah satu gagasan yang dibawa dalam Women Empowerment Hub Batch 1, program intensif yang diselenggarakan Ammar Academy bagi perempuan muda di Banda Aceh. Program yang berlangsung selama empat pekan, sejak 27 September hingga 18 Oktober 2026 tersebut diikuti oleh 38 peserta.

Setiap pekannya, peserta mengikuti rangkaian pembelajaran yang mengangkat tema pengembangan diri, kepemimpinan, komunikasi, hingga penguatan karakter perempuan. Tidak hanya mendengarkan pemaparan materi, para peserta juga dilibatkan dalam diskusi kelompok, presentasi, simulasi, serta praktik berbicara di depan umum. Pola tersebut memberi ruang bagi peserta untuk tidak sekadar memahami konsep, tetapi juga melatih kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan akademik, organisasi, maupun profesional.

Dari rangkaian pembelajaran tersebut, salah satu sesi yang digelar pada Minggu (4/10/2026) mengangkat tema “Communication Skill for The Future Women Leader” bersama Dr. Ir. Syaifullah Muhammad, S.T., M.Eng. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa kemampuan seorang pemimpin tidak hanya bergantung pada kecerdasan dan kapasitas analisis. Seorang pemimpin juga perlu memiliki kreativitas, semangat, kemampuan membangun hubungan, serta kecakapan dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain.

Kemampuan komunikasi menjadi penting karena sebuah gagasan yang baik tidak akan memberikan pengaruh maksimal apabila tidak mampu disampaikan secara tepat. Peserta kemudian diperkenalkan pada berbagai aspek komunikasi, mulai dari membangun argumentasi, melakukan presentasi, hingga memahami peran komunikasi nonverbal seperti kontak mata, ekspresi, gestur, postur, dan intonasi.

Selain aspek komunikasi tersebut, peserta juga diperkenalkan pada nilai-nilai komunikasi dalam perspektif Islam melalui prinsip komunikasi Qurani, seperti qaulan sadidan, qaulan balighan, qaulan layinan, qaulan kariman, qaulan ma’rufan, dan qaulan maysuran.

Sementara itu, rangkaian Women Empowerment Hub juga menghadirkan sesi penguatan karakter bersama Hj. Dr. Kamisah, M.Ag. Dalam sesi itu, peserta diajak melihat bagaimana perempuan dapat terus meningkatkan kapasitas dirinya, mengambil peran di berbagai ruang kehidupan, dan pada saat bersamaan tetap memiliki landasan nilai yang kuat.

Ketua Panitia Women Empowerment Hub Batch 1, Jihan Latifah, S.E., melihat bahwa proses pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan pengetahuan. Perempuan muda juga perlu memiliki keberanian untuk mengenali kemampuan dirinya, mencoba pengalaman baru, dan tidak membiarkan keraguan menjadi penghalang untuk berkembang.

Isu seperti rendahnya kepercayaan diri hingga imposter syndrome turut menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang meragukan kompetensi maupun pencapaiannya sendiri meskipun sebenarnya memiliki kemampuan yang memadai. Karena itu, ruang pengembangan seperti Women Empowerment Hub diharapkan dapat menjadi tempat bagi para peserta untuk saling belajar dan membangun kepercayaan diri.

Jihan sendiri bukan sosok yang asing bagi lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK). Ia merupakan alumni Ekonomi FEB USK yang juga pernah berproses bersama LPM Perspektif. Kini, pengalaman berorganisasi dan proses yang dilalui selama masa perkuliahan berlanjut dalam bentuk keterlibatan pada ruang pemberdayaan perempuan.

Keterlibatan alumni dalam kegiatan seperti ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran selama berada di kampus tidak selalu berhenti ketika masa studi selesai. Pengalaman mengelola organisasi, berkomunikasi, membangun jejaring, serta bekerja bersama orang lain dapat berkembang menjadi modal untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Namun, Women Empowerment Hub tidak berhenti pada perjalanan satu orang. Di dalamnya terdapat puluhan perempuan muda dengan latar belakang dan pengalaman berbeda yang dipertemukan dalam satu ruang pembelajaran. Mereka didorong untuk saling bertukar pandangan, membangun keberanian, dan mengenali bentuk kontribusi yang dapat diberikan melalui kapasitas masing-masing.

Pada akhirnya, tantangan terbesar sebuah kegiatan pemberdayaan bukan hanya seberapa banyak materi yang dapat disampaikan selama program berlangsung. Dampaknya justru akan terlihat ketika pengetahuan, kepercayaan diri, serta keterampilan yang diperoleh para peserta mampu diterjemahkan menjadi tindakan setelah mereka kembali ke lingkungan masing-masing.

Press Release

Editor: Intan Dwi Yanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *