Berita

Bisnis yang Membunuh Idealisme : Hideo Kojima dan Konami

×

Bisnis yang Membunuh Idealisme : Hideo Kojima dan Konami

Sebarkan artikel ini

Darussalam – Seorang perancang video game terkenal dari Jepang, pelopor genre action-stealth, serta Bapak dari Franchise Metal Gear Solid begitulah dunia mengenal Hideo Kojima. Namanya mencuat pada tahun 2015 ketika dikabarkan hengkang dari perusahaan video game yang membesarkannya yaitu Konami. Ketidakhamonisan antara ambisi bisnis Konami dan idealisme Kojima dikabarkan menjadi latar belakang perseteruan tersebut.

Terlahir di Prefektur Setagaya, Tokyo, Jepang pada 24 Agustus 1963. Sejak kecil Kojima tertarik dengan cerita dan dunia fiksi. Ia juga memiliki kecintaan yang tinggi pada film dan buku. Dibesarkan oleh novel-novel karya Philip K. Dick, film-film seperti Blade Runner dan karya seni lainnya. Pengaruh inilah yang telah membantunya dalam mengembangkan visi artistiknya dan juga membentuk perspektif idealisnya terhadap kreasi dan narasi. Pada masa perkuliahan Kojima belajar di Universitas Nihon, Jurusan Ekonomi dan Bisnis, namun minatnya pada video game mengantarkannya masuk ke dunia industri. Pengalaman kerjanya di Konami sejak tahun 1986 memberinya kesempatan untuk berkembang sebagai seorang designer video game dan mengeksplorasi ide-ide kreatifnya.

Pada masa awal karirnya di Konami, Kojima menciptakan banyak terobosan dan prestasi luar biasa yang turut melambungkan nama besar Konami. Pada tahun 1998 dengan ide dan visi kreatifnya Kojima merilis Metal Gear Solid pertama dan langsung membuat banyak kritikus menobatkannya sebagai “Video Game Terbaik Sepanjang Masa”. Seketika Kojima menjadi international superstar dan Metal Gear Solid menjadi  andalan Konami.

Awal dari perseteruan Kojima dan Konami dimulai pada tahun 2010 ketika Konami merilis sebuah video game berjudul Dragon Collection, sebuah game mobile dengan mekanisme kartu yang cukup sederhana sehingga mudah dipahami dan dimainkan berbagai kalangan. Tak butuh waktu lama banyak orang yang memainkan permainan tersebut. Dragon Collection bukan hanya menjadi sebuah kesuksesan tapi sebuah sensasi yang luar biasa bagi Konami.

Para eksekutif Konami seperti baru menyadari sesuatu bahwa mereka tidak perlu membuat video game AAA untuk menghasilkan banyak keuntungan, membuat AAA seperti Metal Gear Solid pastinya membutuhkan waktu yang lama dan biaya besar. Pada tahun 2014 Kojima menjabat sebagai Executive Content Officer dari Konami artinya dia memiliki hak suara terhadap video game yang ia produksi, walaupun begitu Hideo Kojima sepertinya memiliki pandangan yang sangat berseberangan dengan para mayoritas eksekutif di Konami. Hal ini ditunjukkan dengan pengumuman pada awal tahun 2015, salah satu proyek video game AAA yang akan menjadi karya terakhir Kojima di perusahaan Konami yaitu Metal Gear Solid 5.

Seiring berlajannya waktu. Sebuah kanker ibarat tumbuh dari jantung perusahaan Konami, dengan pengalaman mereka dalam memperoleh keuntungan secara singkat tanpa modal yang besar menumbuhkan keegoisan dan ketamakan pada mayoritas eksekutif Konami. Hal tersebut mulai menggeser arah dari perusahaan ini. Bukan lagi Nilai-nilai seni, ide, bahkan kreativitas, namun ambisi dan ekspansi akan bisnis seolah-olah menjadi satu-satunya orientasi utama. Tentu hal tersebut cukup berlawanan pada idealisme yang dipegang erat oleh Kojima.

Di tengah bersuka citanya para fans dengan pengumuman kehadiran Metal Gear Solid 5, satu hal yang belum ada satupun orang menyadari hingga semuanya menjadi terlambat. Pada Maret 2015, Konami mengumumkan bahwa mereka akan melakukan restrukturisasi perusahaan dari yang sebelumnya berbasis studio yang mana setiap developer bebas dalam mengatur proyeknya masing-masing menjadi tersentralisasi dan menjadikan kantor pusat memiliki hak untuk mengontrol segala studio di bawah naungan Konami. Selain itu Konami juga meluncurkan dewan eksekutif baru yang tidak terdapat nama Hideo Kojima diantaranya.

Pada tanggal 16 Maret 2015, hari yang sama ketika restrukturisasi Konami dimulai, Konami menghilangkan nama Kojima dari semua hal yang dikontrolnya. Namanya di hapus dari situs Metal Gear Solid 5 dan semua materi promosi yang terkait. Studio miliknya yang berbasis di Amerika Serikat, Kojima Productions Los Angeles, berganti nama menjadi Konami Los Angeles Studio. Tidak hanya itu, Kojima dan seluruh stafnya diturunkan menjadi karyawan kontrak, di mana kontrak tersebut akan berakhir ketika Metal Gear Solid 5 dirilis.

Penghinaan tersebut tidak berhenti disitu, pada masa 6 bulan pembuatan Metal Gear Solid 5, Kojima dikurung di ruangan terpisah dan terpaksa bekerja  terpisah dengan stafnya yang lain dengan bermodalkan proxy untuk berkomunikasi satu sama lain. Semua persekusi terhadap Kojima, seorang maestro yang telah melambungkan nama Konami bertahun-tahun belakangan tidak lepas pada pergeseran strategi bisnis. President Konami, Hideki Hayakawa mengatakan bahwa mobile game adalah masa depan gaming, hal tersebut tidak lepas dari keuntungan mobile game sebelumnya. Jelas pada saat ini Konami menganggap seolah-olah idealisme seorang Kojima tidak dibutuhkan lagi.

Dalam perspektif yang berbeda, idealisme seorang Kojima juga berperan dalam menimbulkan perpecahan dalam Konami sendiri. Seorang komposer Metal Gear Solid yaitu Rika Muranaka mengungkapkan bahwa Kojima cukup sulit diajak bekerja sama. Kojima sering meminta Rika untuk membuat lagu yang pada akhirnya ditolak dan tidak digunakan sama sekali. Kojima juga dikenal sangat perfeksionis pada proyeknya, ia sering menghamburkan uang untuk eksperimen dan berkreatifitas dalam pembuatan fitur-fitur ekstra yang berujung pada pemborosan biaya. Hal tersebut tentu dianggap Konami menggerus keuangan dari perusahaan.

Di sisi lain walaupun fakta dan sejarah mengatakan bahwa idealisme seorang Kojima tetap dapat menghasilkan karya-karya yang menguntungkan. Konami ibarat terbutakan dengan ambisi untuk menguasai keuntungan pada pasar mobile gaming. Ketimbang memberikan Kojima memiliki cabang perusahaan dengan strategi terpisah yang akan ia pimpin sendiri, Konami tetap memilih membuang Kojima dengan segala visi dan ide kreatifnya.

Selepas dibuang dari Konami, Kojima merasa tidak lagi memiliki tempat, tidak memiliki staf, kantor ataupun wadah untuk menuangkan ide kreatifnya lagi. Namun, hal tersebut tidak menghentikan langkah Kojima. Dengan hubungan baik dengan perusahaan Sony Computer Entertaiment. Kojima dan para staf yang membersamainya selama di Konami mengumumkan kelahiran kembali studio barunya yaitu Kojima Production di Tokyo, Jepang. Andrew House President dan Chief Executive Officer Global Sony Computer Entertainment menyatakan kalau pihaknya siap mendukung berbagai karya-karya Kojima yang akan datang.

Di sisi lain, perusahaan Konami semakin kehilangan arah, mulai kehilangan orang kreatif yang membesarkan nama mereka. Judul-judul yang dulunya memiliki nama besar seperti Silent Hill, Castlevania, bahkan Metal Gear Solid justru beralih menjadi mesin judi Pachinko.

Dengan kelahiran Kojima Production, Kojima dapat lebih mandiri dalam bereksperimen dan mengeplorasi berbagai ide kreatif yang ia miliki tanpa campur tangan Konami. Kemandirian dari Kojima Production sendiri tidak lepas dari dukungan berbagai kalangan yang berhubungan baik dengan Kojima dari masa ke masa.

Pada awal kelahiran studio barunya Kojima merilis karya pertamanya yaitu Death Stranding. Dengan konsep yang unik, desain karakter yang mendalam, visual yang memukau, dan narasi yang emosional, permainan ini menawarkan pengalaman yang melebihi batas tradisional. Meskipun mungkin kontroversial, Death Stranding memberikan pengalaman seni yang kuat dan menggugah pemikiran yang mengukuhkan posisi Kojima sebagai pembuat game dengan visi yang luar biasa.

Melalui data finansial yang dirilis oleh publisher versi PC-nya, yaitu 505 Games, Death Stranding versi PC berhasil mencapai pendapatan sekitar 27 juta Dolar atau hampir mencapai angka 400 Miliar Rupiah. Keberhasilan ini menempatkan Death Stranding sebagai salah satu game terlaris di bawah naungan 505 Games.  Dalam prosesnya Kojima mengalami berbagai persekusi dan penghinaan tetapi ia juga membuktikan di dunia yang mayoritas halnya diatur oleh uang, tetap memberikan harapan bahwa idealisme seseorang akan bersinar dan menemukan tempat yang tepat.

Keegoisan Konami pada ambisi bisnis yang beroirietansikan hanya pada uang membawa Konami pada arah yang semakin tidak jelas. Tidak ada prinsip yang mengatur sehingga membenarkan mereka dalam melangkahi hal yang kotor sekalipun untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini justru menjadi bumerang yang berbalik membunuh karakter perusahaan Konami sendiri. Di sisi lain idealisme seorang Kojima terkadang juga menghambatnya dalam menerima ide dan visi dari orang lain, sehingga menimbulkan perpecahan bahkan sampai persekusi oleh pihak diatasnya.  Terkadang justru keselarasan antara ambisi bisnis dan idealisme dapat memberikan hasil yang diinginkan antara keuntungan dan kepuasaan secara emosional.

 

(Perspektif/Teuku Arief Hidayat)

Editor: Astri Rahma Deyta