Darussalam – Perkembangan teknologi dan arus globalisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Munculnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, serta perubahan pola kerja menandai masuknya dunia ke era disrupsi global.Perubahan ini tidak hanya memengaruhi cara manusia beraktivitas, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi berbagai sektor, termasuk sistem perpajakan Indonesia. Jika tidak diantisipasi dengan baik, perubahan ini dapat mengancam keberlanjutan penerimaan negara di masa depan.
Di tengah perubahan itulah Generasi Z hadir sebagai generasi yang kelak akan mendominasi usia produktif Indonesia. Tumbuh bersama teknologi, generasi ini memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan basis pajak nasional. Kesiapan mereka dalam menghadapi perubahan zaman sekaligus membangun kesadaran perpajakan menjadi kunci utama agar penerimaan negara tetap terjaga.
Bonus Demografi dan Potensi Pajak Generasi Muda
Saat ini, Indonesia sedang menikmati bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Kondisi ini menjadi peluang emas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat penerimaan negara. Dengan jumlah1 yang besar dan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, Generasi Z berpotensi menjadi tulang punggung basis pajak Indonesia. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh peningkatan literasi perpajakan sejak dini. Pemahaman tentang fungsi pajak dan manfaatnya bagi pembangunan nasional harus ditanamkan agar generasi muda memiliki kesadaran untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.
Adaptasi di Era Ekonomi Digital
Generasi Z juga menandai pergeseran pola kerja yang signifikan. Kemudahan akses internet dan digitalisasi mendorong banyak anak muda memilih jalur karier yang fleksibel, seperti menjadi pekerja lepas (freelancer), pembuat konten (content creator), hingga membuka usaha secara daring. Cara kerja yang cair dan tidak terikat ruang ini memang memberi kebebasan, namun sekaligus menantang sistem perpajakan konvensional yang selama ini terbangun untuk pola kerja tetap.
Kehadiran jenis pekerjaan dan sumber penghasilan baru memaksa pemerintah untuk terus menyesuaikan kebijakan perpajakan agar tidak tertinggal oleh zaman. Namun, tantangan terbesar sejatinya bukan terletak pada kecanggihan teknologi itu sendiri, melainkan pada kemampuan masyarakat, khususnya generasi muda dalam beradaptasi dengan perubahan tersebut. Rendahnya literasi dan kesadaran pajak di kalangan masynarakat menjadi celah yang dapat melemahkan penerimaan negara di masa depan.
Perkembangan ekonomi digital juga membuka peluang munculnya berbagai jenis usaha baru yang banyak digeluti Generasi Z. Fenomena content creator, affiliate marketer, streamer, hingga pelaku UMKM digital menunjukkan betapa beragamnya sumber penghasilan generasi kini.
Aktivitas ekonomi yang sebelumnya berlangsung secara konvensional kini banyak bertransformasi ke platform-platform digital. Kondisi ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk memperluas basis pajak sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi digital memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan negara.
Literasi Pajak sebagai Agenda Mendesak
Generasi Z memiliki satu modal penting yang tak dimiliki generasi sebelumnya: kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap perubahan. Karakter mereka yang akrab dengan teknologi dan cepat menyerap hal-hal baru menjadikan mereka aktor potensial dalam membangun sistem perpajakan yang lebih mmodern dan transparan. Jika kecakapan ini diimbangi dengan pemahaman utuh tentang urgensi pajak bagi pembangunan, Generasi Z tidak hanya akan menjadi penggerak ekonomi digital, tetapi juga penopang keberlanjutan fiskal negara.
Meskipun perubahan yang terjadi serba cepat, ia tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga membuka ruang peluang. Layanan perpajakan berbasis digital, misalnya, dapat mempermudah masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Dengan dukungan literasi yang memadai,Generasi Z bisa menjadi generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga sadar bahwa kontribusi pajak adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai warga negara.
Oleh karena itu, penguatan literasi perpajakan sejak dini menjadi agenda yang mendesak.Pendidikan tentang pajak bukan hanya relevan bagi pelaku usaha atau pekerja saat ini, tetapi juga bagi generasi muda sebagai calon wajib pajak masa depan. Dengan cara itu, Generasi Z tidak akan sekadar menjadi pengguna aktif teknologi, melainkan juga pilar utama yang menjaga keberlanjutan basis pajak Indonesia di tengah pusaran perubahan global.
Disrupsi global memang tak terelakkan, tetapi dapat dihadapi dengan kesiapan dan daya adaptasi.Di sinilah posisi Generasi Z berada di titik sentral: mereka akan mendominasi usia produktif sekaligus menanggung beban keberlanjutan penerimaan negara. Pada akhirnya, masa depan basis pajak Indonesia tidak semata-mata bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi sangat ditentukan oleh kesadaran dan partisipasi aktif generasi muda. Dengan kemampuan adaptasi yang mereka miliki serta pemahaman perpajakan yang kokoh, Generasi Z dapat menjadi kekuatan utama yang menjaga sistem perpajakan Indonesia tetap kokoh menghadapi zaman.







