KampusOpini

Dari Rekam Jejak ke Kursi Ketua: Akankah Kali Ini Berbeda?

×

Dari Rekam Jejak ke Kursi Ketua: Akankah Kali Ini Berbeda?

Sebarkan artikel ini

Darussalam- BEM FEB USK sedang berada di persimpangan jalan. Setelah sekian lama dianggap hanya muncul saat seremonial PKKMB atau sekadar menjadi birokrasi “titip surat”, kini lembaga eksekutif tertinggi di fakultas ini ditantang untuk membuktikan relevansinya. Di bawah kepemimpinan baru untuk periode 2026, ada janji untuk mengubah BEM menjadi lebih kontekstual dan hadir nyata di tengah mahasiswa.

Bukan rahasia lagi bahwa wajah BEM tahun ini berangkat dengan rekam jejak yang menjadi bahan perbincangan. Dalam dunia organisasi, reputasi adalah mata uang utama. Ketika sosok yang memegang kemudi memiliki catatan “pernah menjabat namun tidak menuntaskan” di masa lalu, wajar jika mahasiswa skeptis, bukan? Pertanyaan besarnya bukan lagi soal siapa yang menjabat, melainkan apakah pola lama akan kembali terulang? Atau haruskah kita optimis bahwa kali ini akan ada hasil yang lebih baik dari periode-periode sebelumnya?

Padahal, jika menilik rencana yang ada, harapan untuk perbaikan itu tertulis cukup rapi. BEM menjanjikan perubahan struktural melalui Departemen Diplomasi yang memisahkan urusan internal dan eksternal. Sebuah upaya untuk mendekatkan kembali BEM ke himpunan dan UKM. Begitu juga dengan rencana penggunaan policy brief dan forum “Sapa Dekanat” yang diharapkan menjadi “taring” baru bagi fungsi advokasi mahasiswa yang selama ini dinilai tumpul.

Namun, rencana sehebat apapun kini bergantung pada satu hal, yaitu konsistensi. Program yang dirancang berdasarkan kebutuhan akademik dan karier mahasiswa akan menjadi ujian sesungguhnya bagi sang ketua. Apakah ia sanggup menepis keraguan publik dengan membuktikan bahwa dirinya mampu melampui standar ketua-ketua sebelumnya? Ataukah janji-janji strategis ini nantinya akan kembali terhenti sebelum garis finish?

Dengan rekor yang menjadi sorotan, setiap gerak-gerik lembaga ini tentu akan diawasi dengan kacamata pembesar oleh mahasiswa. Aklamasi dan calon tunggal mungkin sudah menjadi kenyataan yang harus kita telan. Namun, membiarkan budaya tidak menuntaskan tanggung jawab adalah hal yang tidak boleh ditoleransi lagi.

BEM FEB 2026 harus membuktikan bahwa perubahan struktur bukan sekedar kosmetik untuk mempercantik CV, melainkan sebuah komitmen yang utama. Kini, bola ada di tangan mereka untuk membuktikan apakah kepemimpinan kali ini akan menjadi sebuah kegagalan yang berulang, atau justru sebuah pembuktian diri yang luar biasa. Karena pada akhirnya, mahasiswa tidak akan menilai seberapa mentereng grand design yang mereka rilis, melainkan siapa yang sanggup bertahan dan bekerja hingga akhir masa jabatan.

(Perspektif/ Princess)

Editor: Intan Dwi Yanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *