Darussalam- Di awal bulan Mei 2026, Pihak MCF (Management Creativity Festival) melalui akun Instagram resminya, menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan penyampaian informasi mengenai keputusan closing ceremony MCF 2025. Dalam pernyataan tersebut, panitia menyebut telah mempertimbangkan berbagai tanggapan dan masukan publik sebagai bagian dari proses evaluasi.
“Halo semuanya, kami menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan dalam penyampaian informasi terkait keputusan closing ceremony MCF 2025. Kami telah mempertimbangkan berbagai tanggapan, masukan, dan perhatian yang disampaikan terkait penyelenggaraan closing ceremony MCF 2025. Seluruh hal tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi yang kami lakukan. Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh, closing ceremony MCF 2025 akan tetap dilaksanakan. Saat ini, penyesuaian waktu dan administrasi sedang dalam proses.” Ujar salah satu pihak MCF 2025.
Ketua Panitia MCF menjelaskan bahwa banyaknya opini publik muncul karena masih adanya pertanyaan yang berkembang selama rentang waktu setelah pembatalan diumumkan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menilai panitia kurang terbuka dalam menyampaikan informasi.
Terkait transparansi dana dan permintaan pengembalian dana tiket, ia mengatakan bahwa tidak seluruh laporan keuangan dapat dipublikasikan ke umum. Ketua panitia membandingkan hal tersebut dengan sistem laporan pertanggungjawaban organisasi mahasiswa yang umumnya bersifat internal. “Kalau misalnya ada hal-hal yang tidak bisa diumbar, kami juga begitu,” ujarnya.
Sementara itu, pihak panitia menjelaskan tentang kelanjutan acara dengan memastikan closing ceremony MCF 2025 tetap diupayakan untuk diselenggarakan kembali.
“Insyaallah akan diselenggarakan kembali. Yang pasti kami pastikan semuanya berjalan sesuai prosedur,” jelasnya.
Mengenai berbagai tuntutan refund dari pembeli tiket, panitia menyebut keputusan lanjutan masih dalam tahap diskusi internal dan akan diumumkan melalui akun resmi MCF.
Di sisi lain, salah satu panitia non-inti menyatakan adanya keterbatasan informasi di tingkat internal. Ia mengungkapkan bahwa informasi pembatalan konser baru diterima pada hari H-1. Ia menilai alasan tersebut konsisten dengan yang disampaikan kepada publik.
“Kami dikumpulkan di Taman Budaya. Di situ panitia inti menyampaikan bahwa acara tidak dilanjutkan karena bertepatan dengan bencana,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. “Kami sama sekali tidak diberi tahu sebelumnya, tidak ada diskusi atau diminta pendapat. Jadi, memang keputusannya dari panitia inti,” katanya.
Selain itu, akses terhadap informasi lain, seperti kondisi keuangan kegiatan, juga dinilai tidak merata. “Saya tidak pernah melihat rincian atau penjelasan dari bendahara. Di grup juga tidak ada,” ungkapnya.
Setelah pembatalan diumumkan, komunikasi internal dinilai tidak berjalan secara berkelanjutan. “Setelah pengumuman pembatalan, tidak ada lagi kabar di grup. Bahkan, untuk pembaruan terbaru, saya justru mengetahui dari Instagram,” jelasnya.
Situasi ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat akses informasi, baik di dalam kepanitiaan maupun antara panitia dan publik. Di tengah berbagai pertanyaan yang berkembang, kejelasan informasi yang menyeluruh masih menjadi hal yang dinantikan, terutama pembeli tiket sebagai pihak yang terdampak langsung.
Penulis: Naila Qanita
Editor: Syasyi







