Darussalam – Di Baturiti, Tabanan, seekor ayam aduan cukup berat untuk menjatuhkan nyawa seseorang dalam hitungan jam. Di Jakarta, miliaran rupiah tunai dan emasseberat jasad manusia ternyata tidak cukup berat untuk membuat pemiliknya kehilangan sebutir keringat pun. Begitulah cara neraca hukum kita bekerja, ia hafal betul kepada siapa harus menghukum cepat, dan kepada siapa harus meminta maaf dulu sebelum menahan.
Jumat dini hari, 24 Juli 2026, pukul 01.30 WITA, seorang pria berinisial KD tertangkap tangan mencuri ayam di Banjar Juwuk Legi. Kampung itu sudah lama menahan geram, kandang mereka berkali-kali dibobol, dan seperti biasa, negara sibuk di tempat lain. Maka begitu KD tertangkap, warga tidak menunggu neraca resmi. Mereka membuat neraca sendiri, dan menimbangnya dengan tangan kosong, pelaku dikeroyok sampai tak sadarkan diri, bahkan motornya dibakar. Menurut keterangan Kasi Humas Polres Tabanan, Iptu Ni Luh Putu Wiwik Endrayani, petugas Polsek Baturiti baru tiba di lokasi sekitar pukul 02.00 WITA, setengah jam setelah warga bertindak sendiri, dan mendapati korban sudah tak bernyawa.Yang tersisa hanyalah sebuah jasad, sebilah golok, sebuah tang berisi tang dan ketapel, dan seorang anak yang akan seumur hidup mengingat malam ayahnya dihabisi di depanmatanya.
Malam yang sama, pukul 23.22 WIB, di halaman Gedung Merah Putih KPK, aparat penegak hukum justru sangat rajin dan sangat sopan. Febrie Adriansyah, bekas Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, turun dari mobil tahanan setelah resmi berstatus tersangka pencucian uang, menyusul temuan uang tunai senilai ratusan miliar rupiah dan 74 kilogram emas batangan di rumahnya di Sentul, Bogor. Ia turun tanpa menggunakan rompi, seolah rompi tahanan cuma pantas untuk orang yang tak pernah punya jabatan. Ia ditempatkan bukan di sel khusus, melainkan sel biasa, dengan alasan keamanan dan kenyamanannya sendiri, mengingat rekam jejaknya menangani perkara-perkara besar. Bahkan sanggahannya atas ketidakcukupan alat bukti untuk menahannya didengarkan dengan telaten, dicatat rapi, disiarkan ke publik dengan nada hormat, seolah penegak hukum sedang meminta maaf karena telah lancang menahannya.
Bandingkan dua adegan itu tanpa berkedip. Yang satu diadili oleh amuk massa dalam hitungan menit, tanpa pembelaan, tanpa proses, tanpa satu pun yang bertanya apakah alat buktinya cukup. Yang satu diadili oleh institusi penegak hukum dengan sangat berhati-hati sehingga protesnya sendiri pun ikut dipertimbangkan sebelum ia benar-benar ditahandengan neraca yang sama, katanya. Akan tetapi, anak timbangannya jelas sudah diatur secara diam-diam, satu untuk rakyat kecil yang datang dengan tangan kosong dan lambung lapar, satu lagi, jauh lebih ringan, hanya dikeluarkan untuk mereka yang datang dengan gelar, koneksi, dan pengacara yang tahu nomor telepon yang tepat.
Kementerian HAM datang mengecam pengeroyokan itu, meminta proses hukum yang profesional, transparan, dan akuntabel, serta pendampingan bagi anak korban yang trauma. Semua itu benar, dan mestinya diucapkan sejak lama, bukan sesudah nyawa seseorang menghilang. Namun sayangnya, begitulah pola yang berulang: kecaman negara selalu datang sebagai obituari, bukan sebagai pencegahan. Sementara untuk tersangka pencucian uang, kehati-hatian KPK dan Kejaksaan Agung sudah dipesan sejak sebelum ada yang perlu dijaga,jauh sebelum hakim mana pun sempat mengetuk palu, jauh sebelum ada yang bertanya, “mengapa perlindungan seistimewa ini tak pernah singgah ke kampung-kampung yang sudah bertahun-tahun berteriak minta tolong? “
Ini bukan pembelaan untuk pencuri ayam. Mencuri tetap kejahatan, dan mengeroyok sampai mati adalah kejahatan lain yang berdiri sendiri, bukan hukuman sah atas kejahatan pertama. Namun sayangnya, negara ini jauh lebih cekatan menjaga kenyamanan seorang tersangka korupsi ketimbang menjaga nyawa seorang pencuri ayam. Yang satu diberi ruang untuk protes. Yang satu tak diberi ruang untuk bernapas.
Barangkali begitulah rupa keadilan bila ditimbang sungguh-sungguh di negeri ini: bukan neraca bermata tertutup yang adil pada siapa saja, melainkan neraca yang matanya melek lebar-lebar, dan tahu betul kepada siapa ia harus tunduk. Berat sebelah bukan karena kebetulan, tapi karena memang begitu cara kerjanya dirancang, diam-diam, dan dibiarkan begitu lama sampai kita lupa bertanya mengapa.
Anak KD kini menyimpan satu beban yang tak pernah ia pilih untuk ditimbang. Ayahnya mati dikeroyok karena seekor ayam, sementara di republik yang sama, ada anak pejabat yang tumbuh tanpa pernah menyaksikan neraca menjatuhkan apa pun dari ayahnya, selain, barangkali, sedikit rasa nyaman yang bahkan tak sempat hilang. Padahal yang ditimbang bukan ayam, melainkan emas. Dan di neraca negeri ini, rupanya, emas selalu lebih ringan daripada nyawa, selama yang menggenggamnya tahu cara meletakkannya di sisi yang tepat.









